Jumat, 20 Desember 2013

STOP! Stigma dan Diskriminasi Terhadap ODHA

Desember 20, 2013 0 Comments
Apa itu Odha? Odha adalah sebutan untuk mereka yang mengidap HIV/Aids. Odha memiliki arti Orang Dengan HIV/Aids. Sebutan ini dianggap lebih baik dan manusiawi daripada harus menyebut mereka penderita/pengidap. Sebutan ini juga terkesan lebih halus dan diharapkan dapat membuat para Odha tidak merasa tersudutkan.

Kita semua tahu bahwa penularan HIV semakin meningkat di Indonesia. Hal ini secara otomatis juga meningkatkan jumlah Odha. Bukan lagi hanya peran pemerintah dan Dinas Kesehatan yang terus kita pertanyakan. Mulai dari diri sendiri untuk saling peduli terhadap sesama manusia. Membekali diri sendiri tentang apa itu HIV, cara menanggulanginya, dan cara penularannya. Sehingga dengan demikian diharapkan tidak ada lagi pemuda yang tidak tahu apa itu HIV.

Odha tidak sepatutnya mendapat stigma dan diskriminasi dari masyarakat. Mereka justru sangat membutuhkan motivasi dan dukungan dari orang-orang terdekat. Apalagi dukungan dari keluarga, itu sangat berarti bagi Odha. Kita tidak bisa menilai bahwa semua Odha adalah orang yang buruk. Karena bisa jadi mereka adalah korban. Jadi, jauhi virusnya bukan orangnya.

Kamis, 19 Desember 2013

Advokasi Desa

Desember 19, 2013 0 Comments
Nah, kalo yang ini terkait acara kampus :) PMAD namanya. Pelatihan Mahasiswa & Advokasi Desa. Keren yaa^^


Dari advokasi yang di ikuti di Dusun Andong, kami harusnya bisa mendapat banyak informasi yang belum banyak kami ketahui. Tentang masyarakatnya, kehidupan sosial maupun kebudayaannya. Di Dusun Andong saya tinggal bersama keluarga Bapak Sumantri. Karena terbatasnya waktu yang diberikan, saya hanya mendapat sedikit informasi mengenai Andong. Saya juga mendapat informasi berdasarkan apa yang saya lihat di sana. Dusun Andong merupakan dusun yang terletak di Desa Taman Suruh Kecamatan Glagah. Dusun ini memiliki 6 Rukun Tetangga (RW) dan 2 Rukun Warga (RW) dengan ± 500 jumlah penduduk.

Dalam pendampingan ini banyak permasalahan sosial yang timbul. Mulai dari aspek ekonomi, kesehatan, pendidikan maupun birokrasinya. Masyarakat Andong yang mayoritas bekerja sebagai petani hampir semuanya menanam padi di lahan mereka. Berdasarkan cerita dari pengalaman Pak Sumantri yang sudah empat kali gagal panen, saya mencoba untuk memberikan solusi dengan mencoba menanam semangka atau cabai. Namun, kata Bapak tanah di dusun Andong ini tidak cocok untuk menanam tanaman itu. Hal ini yang mungkin dapat menjadi perhatian kita, mencoba memberi pengetahuan kepada warga seperti Pak Sumantri tentang pemanfaatan tipe tanah yang ada di Andong. Sehingga warga Andong pun bisa mendapat hasil lain selain dari hasil menanam padi.

Fasilitas kesehatan di dusun ini juga masih perlu perhatian. Sebagian besar warga tidak mandi di kamar mandi, mereka lebih memilih mandi di sungai. Karena memang sungai di Andong ini masih sangat bersih. Tapi warga juga tidak mungkin selamanya akan mandi di sungai, jika kelak ada pembangunan di atasnya tentu sungai tidak lepas dari dampak pembangunan itu. Sungai menjadi kotor dan tercemar. Di Andong juga masih banyak keluarga yang belum memiliki sanitasi. Hal ini disebabkan karena letak geografis yang menyulitkan untuk membuat sanitasi. Tanah disana jika digali beberapa puluh senti saja sudah mengeluarkan air. Sedangkan ukuran ideal untuk membuat sanitasi adalah ± 2 meter. Fasilitas kesehatan lainnya yang patut mendapat perhatian adalah bangunan Posyandu. Bangunan itu kurang mendapat perhatian yang layak. Fasilitas di dalamnya pun sudah banyak yang tidak berfungsi. Hal ini justru akan membuat warga kurang nyaman ketika datang ke Posyandu.

Pendidikan di Andong saya rasa sama seperti pendidikan di desa pada umumnya. Bangunan sederhana dengan fasilitas seadanya. Hanya saja di sini banyak didominasi pemuda yang putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena mereka lebih memilih bekerja. Ada hal menarik yang membuat saya salut dengan salah satu pemuda disini. Bapak Sumantri memiliki cucu yang masih memiliki semangat untuk menempuh pendidikan hingga Perguruan Tinggi. Namanya Lia Apri Lina, dia duduk di kelas satu di salah satu SMK Negeri yang ada di Banyuwangi. Ketika teman-teman seusianya tidak lagi memikirkan pendidikan yang lebih tinggi, Lia justru sebaliknya. Menurutnya, pendidikan adalah segalanya. Lia tidak ingin seperti teman-temannya yang lain. Walaupun keinginan Lia ini bertolak belakang dengan Kakek dan Neneknya. Kakek Lia (Bapak Sumantri) tidak sampai hati jika harus melepas Lia untuk kuliah di luar kota. Dan juga Bapak Sumantri masih memikirkan darimana biaya untuk kuliah, sedangkan dirinya hanya bekerja sebagai petani.

Dari situlah kemudian saya berbicara pada keluarga ini bahwa pemerintah kita sudah memberikan banyak peluang untuk anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi. Pemerintah kita membuka banyak beasiswa yang bisa di manfaatkan. Pemerintah Banyuwangi juga memiliki besiswa “Banyuwangi Cerdas”. Lia bisa kuliah tanpa harus memikirkan biaya, justru dia yang akan di bayar oleh pemerintah setiap bulannya. Di sekolah juga ada fasilitas BK (Bimbingan Konseling) yang menyediakan informasi mengenai beasiswa. Saya menyarankan Lia untuk sering-sering berkunjung ke ruang BK dan konsultasi kepada petugas layananan. Apalagi sekolah Lia –yang dulu juga almamater saya- adalah salah satu sekolah yang paling getol untuk menginformasikan beasiswa kepada murid-muridnya. Sekarang semua kembali pada siswa, mereka yang memiliki kemauan pasti akan mendapat hasil yang memuaskan.


Itulah pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Pengalaman yang membuat saya lebih mandiri, disiplin, menghargai hidup, bertanggung jawab, menjadikan saya lebih dewasa dan bijaksana dalam menjalani kehidupan. Melalui kegiatan ini saya tidak hanya sekedar mendapat penglaman, tapi juga mendapat ilmu dan juga mendapat keluarga baru. Keluarga yang selalu ramah dan rendah hati. Keluarga sederhana, keluarga biasa tapi bagi saya mereka luar biasa.

This is it^^



Waktunya pulaang. Sedih :(

Merdeka!

Minggu, 01 Desember 2013

My Pict

Desember 01, 2013 0 Comments
Lagi pingin post foto-foto. Tulisannya nanti dulu :D

Salah satu bentuk rasa peduli terhadap lingkungan. Bersih-bersih air terjun di desa Kampung Anyar. Sebenernya lebih banyak eksisnya daripada bersih-bersihnya :D Hahaha

Dan juga mengimplementasikan semboyan "Hablum minannas Hablum minAllah"





Diana dan Dwi. Mereka berperan sebagai Tour guide :D





Yang di belakang saya imut banget :D


Dimanapun dan kapanpun tetep eksis. #selama masih ada kamera :D