Minggu, 20 November 2016

Mini Reuni

November 20, 2016 0 Comments

Seperti yang telah disepakati kemarin, hari ini saya dan Lutfi hang out bareng. Sekedar menyegarkan pikiran dan temu kangen.

Sebenarnya rumah saya dan Lutfi tidak terlalu jauh. Tidak sampai lima menit jika ditempuh menggunakan motor. Namun, jarang sekali kami mengunjungi satu sama lain. Ah, manusia macam apa kami ini.

Sore ini kami keluar tanpa tujuan hingga motor berhenti di lampu merah perliman. Di lampu merah itulah akhirnya kami sepakat untuk pergi ke Taman Blambangan.

Sampai di sekitaran Telkom, secara tidak sengaja saya ngecek ponsel. Ada pemberitahuan BBM. Missed BBM Call dari Inda. Di atasnya ada pesan dari dia: Mbel. Dimana? Hayuk nongkrong. Aku otw ke bwi ini.
Saya langsung membalas untuk menunggunya di Blambangan bersama Lutfi.

Sembari menunggu Inda datang, saya dan Lutfi jalan-jalan di sekitar taman. Kami menuju panggung pertunjukan yang sedang penuh oleh orang-orang. Ada gladi resik. Saya kurang paham acara apa yang akan dilaksanakan. Hanya saja Lutfi bilang itu adalah kelanjutan acara semalam. Oh, mungkin festival pesisir selatan itu. Mungkin.

Dari pengisi-pengisi acara yang sedang GR, ada satu lagu yang dibawakan dengan musik yang sangat unik menurut saya. Semacam perpaduan musik melayu, india, dan musik-musik khas Indonesia Timur. Saya tidak tahu liriknya, tapi yang jelas musiknya membuat siapa saja ingin goyang.

Setelah hiburan gratis yang saya dan Lutfi dapatkan, Inda datang. Kami bertiga saling melepas rindu. Setelah cekrak-cekrek kesana kemari, kami jama'ah maghrib di MAB.

Dari MAB, seperti yang sudah saya dan Lutfi rencanakan, kami menuju Mie Pitik Mbok Gendhis. Yang tidak lain dan tidak bukan CEO nya adalah kawan kami sendiri. Jadi, sekali temu kangen, empat orang terobati. Hehehe.

Saat kami tiba, seperti yang sudah kami duga, Mila tengah sibuk dengan oven dan teman-temannya. Sempat juga kami mencicipi Ogura-nya yang tengah jadi primadona warga. Yah, meskipun itu Ogura produk gagal, tapi rasa dan teksturnya warbiyaaaaaaza. Tiga Ogura sukses hijrah ke perut saya. Hahaha.

Selesai makan kami menuju Boom. Target kami berikutnya yakni tahu walek. Kami beli dua bungkus dan memakannya di dekat pantai. Kenapa harus ke Boom? Karena Bunda kami (Inda) sedang ngidam, pingin semilir anginnya pantai.

Sambil menikmati tahu walek, yang sebenarnya tidak terasa begitu nikmat (karena kami kekenyangan Mie Pitik) keluarlah segala keluh kesah yang ada. Malam ini saya akhirnya jadi tahu, ternyata teman tomboy saya satu itu baru saja putus cinta. Hubungan mereka hanya bertahan dua bulan lebih. Alasannya? Ah, itu dokumen negara. Sangat rahasia. Hahaha.

Dan Inda. Sejak kejadian bioskop lalu, ini pertama kalinya saya bertemu dengannya. Banyak cerita yang dia tumpahkan pada kami (Saya dan Lutfi). Tentang kondisi kesehatannya akhir-akhir ini. Hingga tentang kabar asmaranya.

Yang jelas, malam ini saya bersyukur masih dapat berkumpul dengan teman-teman lama. Di tengah kesibukan kerja mereka. Kami saling berbagi cerita dan juga mengenang masa-masa SMK.

Kadang pertemuan yang tidak direncanakan itu jadi lebih berkualitas. Cerito ngetan ngulon sampek elek. Suwun, rek.

Semangat menghadapi Senin yang padat.

Kepang Rambut

November 20, 2016 0 Comments

Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya waktu itu tiba. Waktu dimana saya bisa ngepang rambut. Akhirnyaaa ...

Jadi, ceritanya semalam saya minta tolong ke Ibu untuk ngepang rambut saya. Dari jaman saya sekolah dulu (tk - smp) ibu adalah hair stylist andalan saya. Mulai dari kuncir tengah, kuncir semua, sampai pinti urang.

Saya juga selalu menikmati saat-saat dimana tangan ibu dengan cekatan mentreatment rambut saya. Penuh kasih dan sayang *eaaa
Dari kegiatan ngepang rambut itu pula, saya dan ibu biasanya terlibat curhat-curhat colongan, wkwkwk.

Lalu tiba-tiba saja, sebenarnya ini bukan pertama kalinya, ibu bilang "Belajaro ngepang, mosok gak iso-iso." Saya hanya bisa manyun dan ngangguk-ngangguk.
"Mbesok piye lek ngepang anak e, mosok nggak iso."
"Kan enek ibuk e." Saya jawab.
"Opo-opo kok ibuk e ae."
-_____-

Dan semalam, pertama kalinya saya belajar ngepang. Saya belajar ngepang rambut ibu saya, tentu dengan bimbingan beliau. Sebenarnya semalam itu kami banyak guyonnya daripada belajarnya. Apa'an, baru juga tahap pertama, ibu saya tiba-tiba ngikik nggak jelas. Saya kan jadinya juga ikut ketawa.

Rambut ibu saya juga pendek dan licin, jadi agak susah untuk dibentuk-bentuk. Tapi karena hanya ada dua perempuan di rumah kami, mau tidak mau ya hanya ibu saya yang bisa jadi objek percobaan. Ngepang rambut sendiri? Ya nggak mungkin juga.

Setelah instruksi-instruksi yang diberikan ibu, akhirnya saya bisa menyelesaikan langkah-langkah selanjutnya dengan "apa adanya".
Yah, meskipun baru belajar, tapi hasil kepangan saya lumayanlah. Lumayan berantakan, hahahaha.

Ibu bilang, "Nggak apa-apa, namanya juga belajar."
Yup, betul sekali. Masih harus banyak latihan agar hasil kepangan saya lebih sedap dipandang mata.

Dan juga, masih buaaaaaanyak hal-hal yang harus saya pelajari (untuk jadi orang tua) selain daripada ngepang rambut.

Minggu, 13 November 2016

"Ngambang" Ending

November 13, 2016 0 Comments
Bagi mereka penggemar drama korea tentu sudah jadi santapan sehari-hari untuk cemas menunggu bagaimana akhir dari drama yang sedang mereka ikuti. Ditambah lagi dengan banyaknya spoiler yang berkeliaran di sosial media, menambah rasa penasaran ingin tahu kelanjutan cerita tiap episodenya.

Semalam saya buka twitter seperti biasa, lalu mendapati retweet-an yang di quote oleh Donat. Setelah saya buka, ternyata tweet tersebut bersisi tentang polling yang dilakukan oleh akun @TheDramaKorea. Dengan memberi caption ‘Ending The K2 gak bahagia’ ada beberapa pilihan yang diberikan untuk di vote. Antara lain:

1.      Bodo amat!!!
2.      Bakar tvN!
3.      Kim Je Ha sayaaang + emot crying
4.      Jung Hwan ada temennya + emot laughing

Kemudian saya tanya siapa itu Jung Hwan pada Donat (maklum lah ya, saya newcomer di dunia KDrama), Donat bilang sepertinya itu drakor lain yang endingnya tidak bahagia alias sad ending. Saya hanya ber-oooo ria di dalam hati.

Lalu saya scroll lagi twitter, melihat reaksi para netizen (yang kebanyakan perempuan) pada pollingan tersebut. Ada satu reaksi yang membuat saya menahan tawa, dari akun bernama @ayuseptia, dia bilang ‘aku pecinta happy ending garis keras!’ buset, ngeri bener mbaknya.

@safirasas_yl : gpplah ending di drama g bahagia, asal ending di dunia nyata bahagia adanya #eakkk baper! + emot lope lope (kalau yang ini, sudah jelas nge-ship pemainnya, dia nggak peduli gimana ending dramanya, yang penting ending kisah nyata pemainnya, hmmm leh uga, mbak e)

@bitaBee : emang ending #YongPal bahagia min? (nah, mbak e pasti tukang ngulik-ngulik masa lalu, mbok ya hang uwes yo uwes, mbak)

@wienbiey_netnot : beneran nih endingnya sdih? *kekhawatiranku berbuah jd nyata* (cieee, cenayang ya, mbak?)

@ctrdewi : I VOTED BURN TVN BURN BURN BURN BAHAHAHA (waini, ayu-ayu anarkis, wkwkwk)

Dan masih banyak reaksi-reaksi lucu lainnya yang tidak mungkin saya tulis –dan saya nyinyirin- semuanya. Hingga saat saya menulis tulisan ini, polling tertinggi diraih oleh pilihan ‘Bakar tvN!’ dengan perolehan suara 37 %. Penggemar drakor kita ternyata akhlaknya ngamukan gitu, ya? Wkwkwk, guyon, gaes.

Sejatinya dalam kehidupan itu kita mengenal dua sisi yang saling berlawanan. Seperti ada siang dan malam. Perempuan dan Laki-laki. Baik dan Buruk. Begitu pun film, ada Sad dan Happy Ending. Seharusnya ya gitu. Kalau nggak sad ending, ya happy ending.

Namun kenyataannya kan tidak. Ada satu lagi jenis ending yang paling tidak disukai oleh kdrama lovers. Ngambang Ending. Ending seperti ini sejenis dengan Ngegantung Ending, dimana sedih segan bahagia tak mau. Dan drama yang paling mewakili ngambang ending ini adalah Moon Lovers. Drama yang akhir-akhir ini menjadi bahan gossip saya dan Donat, dikarenakan endingnya yang ngambang itu.

Beneran, deh. Saya juga tidak habis pikir kenapa akhirnya jadi seperti itu. Sempat beredar kabar bahwa akan ada episode tambahan untuk Moon Lovers. Namun, kenyataannya sampai hari ini tidak ada spoiler apapun di sosial media.

Ending Yong Pal masih lumayan lah, bisa saya terima meskipun tidak sepenuhnya. Lha Moon Lovers? Susah, gaes, untuk menerimanya. Seriusan. Ya, mudah-mudahan The K2 tidak mengalami akhir kisah yang ngambang. Duh, ribet bener dah perempuan! Dikasih sad ending nggak terima, baper berbulan-bulan. Maunya happy ending melulu.

Ya gimana. Namanya juga perempuan …

Cie, Nikah #2

November 13, 2016 0 Comments
Satu lagi gadis yang akhirnya melepas masa lajangnya di kelas saya. Gadis luar biasa yang setiap harinya berjuang pergi pulang Glenmore-Banyuwangi untuk gelar S.Sos-nya. Glenmore-Banyuwangi loh ya, bukan Pakis-Banyuwangi.  Nurhaini, namanya. Mereka yang berbudi pekerti luhur memanggilnya Mbak Heni, dan mereka yang budi pekertinya pas-pasan, memanggilnya Henot. Nah, saya memanggil beliau “Mbak Henot”. Silahkan nilai sendiri, dah, saya termasuk golongan yang mana. Wkwkwkwk …

Saya melihat Mbak Heni pertama kali saat perkuliahan berlangsung tiga tahun yang lalu. Waktu itu dia masih glondongan gitu, alias nggak berjilbab. Kami saling mengenal pun bukan lewat kenalan di kelas seperti teman-teman baru pada umumnya. Kami kenalan lewat Facebook waktu itu. Hingga waktu terus berjalan, kami sekelas akhirnya tahu dimana gadis mungil tersebut tinggal.

Mengetahui bahwa Mbak Heni PP dari Glenmore-Banyuwangi, saya takut membayangkan perjalanannya setiap hari. Apalagi dulu, saat semester-semester muda, kuliah selalu berakhir pukul 9 malam. Saya jadi bersyukur lagi. Rumah saya hanya selemparan tronton. Ya kalo selemparan batu, mah, rumah saya di depan kampus, alias deket banget.

Saya juga ingat Bapak dan Ibu pernah bertanya perihal teman-teman baru di kampus. Ya saya cerita kalau saya memiliki teman yang rumahnya Glenmore. Dan dia perempuan. Dan dia PP tiap hari. Orang tua saya kaget, dan refleks selalu mengkhawatirkan Mbak Heni setiap kuliah berakhir pukul 9. Pernah suatu malam ketika saya sudah sampai rumah, Bapak bilang, “Iki koncomu sing Glenmore iku sek ning dalan, yo?” saya mencebik dalam hati, “Iyalah. Gitu kok saya yang pulang telat semenit aja diomelinnya sejam. Lalu apa kabar Mbak Heni yang sampai rumah bisa jam 11-an?” tapi ya hanya bisa ngedumel dalam hati , gaes. -___-

Hingga pada tanggal 12 November kemarin, gadis yang body-nya se-aliran dengan saya (sama-sama beraliran kurus) akhirnya menikah. Menikah, gaes. Resmi jadi istri. Padahal nggak ada kabar apa-apa sebelumnya. Padahal Mbak Heni ini, salah satu penghuni timeline sosmed yang statusnya nggalau melulu. Lha kok tiba-tiba ngasih undangan nikah? Nampol bener ke hati para jomblo macam eyke, gaes. Hahahaha …

Seperti nikahan Mbak Lela dulu, saya tidur di rumah Donat. Tiga hawa dan satu adam. Sabtu pagi, dengan segala hiruk pikuk yang terjadi, kami berangkat. Sampai rumah mempelai pukul 08.38. Beruntung akad nikah belum mulai. Kira-kira pukul 09.00 barulah sampai pada peristiwa dimana mempelai pria menjabat tangan Pak Penghulu, kemudian mengucap sumpah yang disaksikan Allah, para malaikat, para saksi, dan tentu disaksikan oleh ayah dari mempelai putri. Saya, seperti biasa, mewek.

Di sepanjang jalan menuju rumah Mbak Heni saya selalu berdoa semoga tidak telat. Semoga masih sempat melihat prosesi ijab qabul. Karena peristiwa ijab qabul-lah yang menjadi part paling seru sekaligus menegangkan dan mengharukan dalam pernikahan. Bukan begitu?

Akhirnya peristiwa sakral itu terlewati dengan khidmat serta lancar. Senyum tak henti-henti menghiasi wajah ayu Mbak Heni. Suasana bahagia pun menyeruak kemana-mana. Kami, para squad Fisip A, segera duduk kembali bergabung dengan undangan lainnya. Tidak lama setelahnya, mempelai keluar kembali dengan kostum yang berbeda. Dalam balutan pink pastel, Mbak Heni looks like a princess, so cetar pokoknya.

Baiklah, selamat menempuh hidup baru Mbak Heni dan Mas Wahyu. This is not happy ending, it’s just beginning. Pernikahan adalah pintu gerbang menuju kehidupan selanjutnya. Selamat mewarnai kehidupan, Mbak, Mas. Bahu-membahu lah dalam segala keadaan. Saling mengasihi satu sama lain. Semoga kehidupan kalian berdua senantiasa diberkahi Allah dan dilimpahi kebaikan.

Barakallaahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khair …

Donat, ente ngapain? wkwk

Kamis, 10 November 2016

Welcome Skripsweet

November 10, 2016 0 Comments
Sore yang sendu ini saya habiskan untuk mengetik beberapa postingan untuk blog. Di temani oleh murotalnya Ahmed Saoud, segelas teh manis panas, dan kamu smartphone di sebelah saya. Akhirnya saya bisa melakukan ini setelah info libur kuliah yang saya dapat secara telat melalui grup bbm kelas. Ya begitulah jika pemberitahuan chat di grup saya off-kan. Saya jadi lemot.

Baiklah. Hari ini saya akan sedikit bercerita tentang perkembangan perjalanan skripsi saya. Astaga, rasanya tidak percaya pembahasan mengenai skripsi sampai juga pada saya. Setelah kejadian malam itu, saya mulai mengumpulkan apa-apa saja yang akan saya butuhkan. Seperti data, referensi, dan tentunya kuota. *krik

Jadi, malam itu, setelah sorenya saya mengajukan tiga matriks judul skripsi saya kepada Wakil Dekan 1, ada pesan masuk ke ponsel saya.

“Kamu pilih judul yang mana, menurut kamu yang gampang.”
From : Pak Supurdi
Sent : October 26, 18:24

Ketika membaca pesan tersebut, saya sedang di sekretariat. Waktu itu sekret sedang sibuk mempersiapkan acara Sujiwo Tedjo. Gaes, membaca pesan seperti ini di malam hari yang sibuk dan penat, rasanya seperti mandi di Jagir di siang hari yang panas dan terik. Bayangkan segarnya.

Senyum tak bisa lepas dari wajah saya malam itu. Jemari sempat bingung ingin membalas apa. Akhirnya, dengan kebahagiaan yang membuncah di dada malam itu, saya membalas:
“Bapak dimana? Saya sedang di kampus, Pak.”
Terkirim pada pukul 18.33.

Memang, saya baru membaca pesan Pak Supurdi pada pukul 18.33. Agak menyesal kenapa sedari tadi ponsel saya silent. Semenit kemudian beliau membalas sedang berada di C2. Tanpa a b c, saya langsung keluar sekret, memakai sepatu, dan lari menuju C2. Mirip film-film India gitu, deh.

Sampai di depan C2, nafas saya tidak teratur. Lari dari sekret ke C2 lumayan ternyata. Akhirnya setelah mengatur nafas sedemikian rupa, saya masuk. Di dalam beliau sedang bertugas sebagai pengawas UTS. Para maba nan polos yang ketika ujian masih belum memakai almamater itu, serentak melihat ke arah saya. Saya melihat Pak Purdi. Pak Purdi melihat matriks judul teman-teman yang lain. -___-

Saya duduk di sebelah beliau, salim, dan memasang wajah bego-lah akhirnya.

“Gimana, Mey?”

Saya masih nderedeg. “Iya, Pak.”

Bayangin, ditanya gimana, malah jawab iya. “Yang sekiranya menurut kamu gampang, yang mana?” kata beliau. “Ya, dari awal yang saya seriusin yang PUS itu, Pak.” Saya bingung kalau disuruh memilih yang gampang. Padahal, sebenarnya referensi untuk PUS itu saya masih belum yakin. Hanya teori untuk indikator variabel x saja yang tersedia. Sedangkan untuk indikator variabel y? Saya belum benar-benar dapat. Ya sudah lah ya, haqqul yaqin saya, mah, orangnya. Hahaha.

“Ya sudah, ini saja. Soalnya juga belum ada yang ngangkat tentang PUS. Ada kan, bukunya?” Saya hanya nyengir dan mengangguk takzim. Padahal, mah ...

Setelah chit-chat sedikit mengenai matriks teman-teman yang lain, serta konsultasi mengenai kelulusan yang semoga bisa 3,5 tahun, saya pamit. Tidak bisa saya gambarkan bagaimana perasaan saya malam itu. Bungah pokoknya. Keluar dari C2, refleks saya lompat-lompat mirip Fahri yang diberi hadiah SGM oleh Abah. Kemudian saya lihat sekeliling, sepi, aman. Paling tidak tingkah saya barusan tidak ada yang melihat, wkwkwk.

Saya kembali ke sekret dengan perasaan yang luar biasa baik. Saya jalani rapat pemantapan malam itu dengan sepenuh hati (bukan berarti rapat-rapat sebelumnya tidak sepenuh hati ^_^). Pulang ke rumah, kabar itu langsung saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu. Ibu tidak henti-henti mengucap syukur. Bapak saya hanya swante dan kalem, sambil tetap fokus pada Haji Muhidin di tipi. Beda ketika nyeramahain saya pas pulang malem, cerewet mirip Feni Rose pas jadi host acara “Rumpi. No secret.”

Tapi, ketika saya keluar dari kamar mandi dan hendak masuk kamar, Bapak mendadak kultum. Beliau bilang “Nggak perlu sing susah-susah wes skripsi iku. Pokok e lulus tepat waktu, kamu dapat gelar, sudah. Sing penting ilmune bermanfaat.”

Ya Allah, saya di ceramahain mahasiswa yang DO *peace, Bah :D

Oke. Saya setuju dengan bagian yang skripsi nggak perlu buledyan seperti kisah asmara kamu dan dia. Kalau kata Pak Purdi, skripsi nggak perlu yang idealis-idealis banget, yang penting di acc, sudah. Terpenting adalah, ilmu yang kita dapat. Implementasinya kepada masyarakat.

Sekarang, yang paling penting bagi saya adalah Bapak dan Ibu saya selalu sehat. Mereka tidak perlu tahu bagaimana jatuh bangunnya saya selama berkuliah, karena jatuh bangun mereka lebih hebat hingga bisa menempatkan saya dalam posisi hari ini, dan karena saya juga yakin doa mereka selalu menyertai. Biarkan saja mereka mempersiapkan diri mereka sebaik mungkin untuk mendampingi saya wisuda kelak. Saya juga bersyukur, saya bersama teman-teman yang senantiasa menyemangati satu sama lain. Meskipun untuk nyemangatin diri sendiri, susahnya minta ampun. :v

Gerbang sudah dibuka. Lalu apa? Ya jalani jalan yang ada. Mau itu beraspal, berkerikil, berpasir, berlubang, tetap jalani hingga sampai pada tujuan. Semangat skripsi, Mey.

@meyyshaan

Selasa, 08 November 2016

Dear, Sutradara Drama Korea

November 08, 2016 0 Comments
Annyeong haseyooooo ….

Tumben ya salam pembukanya pake Bahasa Korea, biasanya kan nyelonong aja gitu kaya kamu yang tiba-tiba nyelonong masuk kedalam hatiku … eaaaa *apa sih

Tulisan kali ini sesuai dengan mukaddimah di atas, gaes. Tidak lain tidak bukan tulisan yang akan nyentil tentang Korea. Lebih tepatnya lagi tentang Drama Korea. Mmmm yang paling tepat lagi tentang Sutradara Drama Korea. Oke, simak baik-baik.

Beberapa hari yang lalu saya terlibat dalam perbincangan bersama dua perempuan pecinta Korea. Perbincangan via komentar facebook itu memberiku inspirasi untuk membuat tulisan ini. Ah, benar-benar luar biasa. Bahkan perbincangan yang nggak begitu penting banget itu bisa mendatangkan inspirasi untukku. Sampai akhirnya Donat bilang “Jiwa penulis e bangkit dari kubur???” Hahahahaha, saya ngakak demi membaca komentar itu.

Oke. Hari itu kami ngerasani drama Korea terbaru yang saat ini sedang tayang di Korea sana. Judulnya “Descendants of The Sun”. Bagi mereka yang KPOP buanget sudah pasti tahu drama menggemaskan yang satu ini. Yeah, you’re right. Yang main Suryo dan Nurul. Tunggu, gaes, jangan buru-buru naik pelaminan pitam. Saya sungguh tidak bermaksud untuk mengubah secara semena-mena nama mereka. Karena saya sadar saya tidak turut dalam tasyakuran jenang merah untuk mengubah nama mereka. Nanti, nanti akan kuberitahu kalian kenapa saya memanggil mereka Suryo dan Nurul.

Tampaknya DOTS menjadi perbincangan yang tiada akhir bagi para pecinta Drama Korea. Sampai-sampai ada artikel yang berisi tentang para Dokter sungguhan yang iri oleh kecantikan dr. Kang di drama tersebut. Dan bagaimana bisa dr. Kang menolak seorang tentara yang cakepnya ugal-ugalan seperti Kapten Si Jin? Aduuuh ampun, jadi para Dokter asli itu ngiri sama Nurul??? Hmmmm, nganan aja nganan.

Saya adalah perempuan yang sebenarnya buta Drama. Walaupun dulu sempat nonton Drama Korea yang sedang hitzzz pada masanya, seperti “Boys Before Flowers” atau “He’s Beautiful”. Dua drama itu saya tonton di televisi. Kalau tidak salah waktu itu saya masih kelas X. BBF benar-benar menjadi trending topikk di sekolah, terlebih di kelasku, terlebih lagi karena saya berteman dengan perempuan jadi-jadian yang gila Korea, sebangku lagi -___-

Aih, sepertinya hidupku berjodoh dengan teman-teman KPOP.  Waktu itu saya masih ingat bahkan saya memiliki sebuah buku yang berisi lirik lagu soundtrack BBF yang saat ini entah kemana hijrahnya buku itu. Saya hanya remaja 15 tahun yang waktu itu terhipnotis oleh ketampanan Mas Lee Min Ho dan kawan-kawannya. Lha memang ada yang bilang Mas Min Ho itu nggak tampan?

Nah, gaes … Waktu itu saya belum mengenal dengan baik dunia Drama Korea. Saya nggak paham kalau drama Korea itu beda sama sinetron kita. Saya sempat bertanya-tanya kemanakah gerangan hilangnya wajah rupawan Mas Min Ho yang biasanya nongol di sore hari itu? Usut punya usut, baru saya tahu kalau ternyata filmnya sudah tamat. Saya bahkan tidak menyebutnya drama, tapi film. Kan, betapa polosnya diriku ini -__-

Dari sana saya ya tetap belum ngerti bagaimana aturan main sebuah drama. Pokoknya saya ini katrok lah kalau masalah begituan. Baru setelah saya kuliah, tepatnya ketika semester …. aduh, maaf, gaes, saya lupa semester berapa :D

Waktu itu saya diberi sebuah drama oleh Donat. Sepertinya waktu itu kami sedang menikmati liburan UAS. Sepertinya …

Drama pertama yang saya lihat saat saya sudah memiliki laptop adalah “Pinochio”. Saya kesemsem sama aktingnya Park Shin Ye yang natural banget. Dan saya juga kepincut sama perubahan penampilannya Choi Dal Po. Siapa yang nggak kepincut sama Uncle Choi Dal Po pas dia sudah di permak oleh si Kakek? Setelah nonton Pinochio saya langsung minta lagi drama yang recommended. Alhamdulillah, saya punya Donat yang selalu menjadi penyuplai tetapku dalam urusan drama, hahahaha.

Yang membuatku angkat topi dengan drama korea adalah alur cerita yang disuguhkan. Benar-benar unpredictable. Dan, itu jauh sekali jika ingin disamakan dengan sinetron-sinetron kita. Heran sih, apa iya sutradara-sutradara kita nggak bisa bikin drama yang seperti drama korea? Kita mah yang ada suka kebablasan, pinginnya bikin drama yang cuma beberapa episode aja, eeeh malah nyampe ratusan episode, bahkan ribuan. Jatohnya bukan drama, tapi sinetron. Dah gitu ceritanya mbulet. Persis kisah cintamu dengan si gebetan yang mbulet nggak kelar-kelar.

Ya bayangin aja, dari mulai Tukang Bubur Naik Haji sampai Anak Jalanan julan bubur, episodenya sudah berapa, gaes??? Padahal tokoh Haji Sulam dalam TBNH yang notabene tokoh utama sudah almarhum (skenarionya begitu).

Atau jangan-jangan kita memang ditakdirkan untuk tidak bisa memproduksi sebuah drama seperti mereka? Karena para perempuan Indonesia sudah banyak yang dikutuk untuk kepincut dengan drama Korea yang ditunjang dengan penampilan rupawan para pemainnya. Dan pada akhirnya kita akan bersikap underestimate dengan kemampuan bangsa kita sendiri. Dan pada akhirnya (lagi) kita akan membanding-bandingkan kualitas dunia sinetronan kita dengan Korea. Hmm, padahal dibanding-bandingkan itu rasanya ndak enak. *krik

Harus diakui, drama Korea benar-benar mampu menghipnotis tidak hanya perempuan Indonesia, tapi seluruh perempuan di belahan dunia ini. Saya juga tidak mengerti kenapa Drama Korea memiliki magnet luar biasa yang mampu membuat para perempuan akhir zaman ini baper berkepanjangan. DOTS misalnya, di hari pertama penayangannya saja atmosfer kebaperan sudah melanda saya, gimana enggak? Pemainnya ini loh gaes, cantik dan gantengnya absolut. Song Hye Kyo itu kalau kita ibaratkan artis Indonesia sudah pasti Dian Sastro, kita sepakat untuk itu. Song Joong Ki? Ya kalau Song Hye Kyo saja Dian Sastro, sudah pasti Song Joong Ki itu ya Nicholas Saputra, masa Mas Agus Mulyadi?

Wis, sekarang kita ke sutradara drama Korea.

Kenapa saya menulis tentang sutradara drama korea? Karena banyak drama-drama korea yang membuatku gemas karena episodenya yang nanggung. Saya heran kenapa para sutradara ini seperti sengaja menggantung perasaan para penonton. Tidak hanya di gantung, tapi juga meninggalkan baper yang berbulan-bulan lamanya.

Yong Pal misalnya, drama se-kece ini harus tuntas dalam delapan belas episode. Ya Rabb, Pak Sutradara, kenapa nggak di genapin dua puluh episode sekalian, sih, Pak? Waeee??? Wis gitu endingnya begitu doang. Adegan Yeo Jin selesai di operasi, terus Tae Hyun bilang “Yeo Jin, kau bisa mendengarku?”, perlahan Yoe Jin membuka mata, terus Tae Hyun bilang lagi “Kamu tahu siapa saya?”, Yeo Jin nyahut dari dalam hati, “Yong Pal.” Dah. Kelar. The end. Apa nggak ngehek ending seperti itu?

Tapi di sisi lain Yong Pal memang drama luar biasa. Cerita tentang seorang dokter yang mencari tambahan uang dengan melanggar kode etik seorang dokter. Melakukan kunjungan rumah yang illegal. Adegan-adegan saat membedah tubuh manusia diperlihatkan dengan begitu jelas, sehingga mampu membuat siapa saja yang menontonnya nggak akan kolu untuk makan. Huweeek …

Ya tapi tetep saja, endingnya itu loh, mbloooo …

Saya juga harus tabah dengan episode DOTS yang hanya sampai pada angka 16. Saya mah bisa apa, gaes. Maksud hati ingin lanjut sampai 20 episode, apa daya Pak Sutradara berkata tidak. Ya, akhirnya kami (drakor lovers) harus senantiasa bersabar terhadap jumlah-jumlah episode yang tak tentu ini. Ada drama yang menurut saya biasa, tapi jumlah episodenya banyak. Drama yang menurut saya luar biasa, justru hanya 16 episode.

Saya menyelesaikan tulisan ini lumayan lama. Harusnya tulisan ini sudah terposting delapan bulan yang lalu. Bayangin, de la pan bu lan. Lama lho itu. Baru-baru ini saya juga kepincut oleh drama yang recommended. Namun sekali lagi, saya harus kecewa dengan endingnya yang kurang greget. Judulnya Moon Lovers Scarlet Heart Ryeo. Drama yang mengisahkan tentang kehidupan di masa kerajaan Georyeo. Baru kali ini saya nonton drakor sejarah, dan langsung cinta. Tapi ya gitu, cinta saya dipatahakan (lagi-lagi) oleh endingnya. -__-

Saya hanya berharap drama yang sedang saya ikuti kali ini memiliki akhir yang klimaks. Istilahnya yang endingnya ngelegain penontonnya lah. Biar kami para ciwi-ciwi ini nggak ngedumel siang malam, mengutuki ending yang tak sesuai harapan.

Oh ya, untuk alasan kenapa saya memanggil dua pemain utama DOTS Suryo dan Nurul. Gaes, sejujurnya saya nggak bisa ngehapalin nama asli para artis-artis Korea. Jadi saya memanggil mereka dengan nama khas Indonesia yang mudah untuk saya ingat. Begitulah pokoknya.

Sekian dulu tulisan saya tentang Drama Korea. Nanti disambung lagi jika ada sesuatu (tentang drakor) yang saya rasa perlu untuk saya tulis.

Jadi, pesan saya untuk Pak Sutradara drakor. Tolonglah, berikan pada kami ending drama yang bisa masuk ke akal kami, para perempuan akhir zaman ini. Oh, saya rasa hal ini bisa dijadikan masukan untuk penulis skenario drakor juga. Warbiyasa lho penulis naskah ini. Belio-belio mampu membuat dialog yang berkualitas. Apalagi dialog-dialog dalam drama Another Miss Oh, Pinochio, Signal, The K2, etc. Wes pokoknya saya kasih semua jempol yang saya punya untuk para penulis naskah itu.

@meyyshaan

Selasa, 01 November 2016

The Power of PMS

November 01, 2016 0 Comments
Bukan main kuasa Tuhan atas kami. Hari ini Donat menginap di tempatku. Hari ini juga, sepulang dari seminar #internetBAIK kami menerima “tamu bulanan” bersama-sama. Kenapa chemistry kami hingga pada hal-hal yang intim begini? Menstruasi aja barengan. :D

Baiklah, bisa kalian bayangkan dua perempuan PMS sedang bersama? Jangan coba-coba mendekat jika tidak ingin kena semprot. Saya tidak mengerti kenapa PMS ini identik dengan perasaan marah, kesel, dan sensi.

Seperti yang kami lakukan saat perjalanan dari kampus menuju Perpusda. Begitu banyak pengendara motor maupun mobil yang kena semprot oleh kami berdua. Nggak ngerti sih, padahal mereka juga nggak salah apa-apa, cuma kami aja yang mencari pelampiasan atas kemarahan nggak beralasan ini.

Atau momen yang membuat kami berada pada situasi awkward. Saat kami berdua merasakan sakit karena menstruasi. Kami berdua hanya diam dan merasakan sakit masing-masing. Dari sakit itu kemudian terbit kalimat-kalimat racau yang Donat ucapkan “Wong wedok iki dilep iyo, ngono kok isih dilarani atine.”

Sama seperti kalimat yang pernah saya ucapkan dalam hati saat saya mengalami dilep yang luar biasa menyakitkan. Perempuan itu sakit bulanan iya, sakit melahirkan iya, kenapa kau tambah lagi dengan menyakiti hatinya? *eaaaa

Laki-laki mah nggak pernah tahu gimana rasanya dilep, nggak pernah tahu gimana rasanya melahirkan. Apa? Kejepit reslesting? Itu nggak ada apa-apanya dari rasa sakit karena dilep dan melahirkan. Jadi tolong, jangan kau sakiti hati kami yang lemah lembut ini, ya? *krik krik krik

Oke, sudahlah. Dari tulisan ini, saya tidak akan memberikan tips untuk para laki-laki yang tengah mengahadapi pacarnya yang sedang PMS. Ya jelas, wong saya nggak pernah punya pengalaman kencan sama pacar pas saya lagi PMS, gaes. *hiks

Sumber : Google