Minggu, 27 Desember 2020

Kung, met Natal.

Desember 27, 2020 0 Comments
Natal tahun ini dunia dilanda pandemi covid-19. Aku membuat catatan ini sebagai pengingat bagi tahun-tahun mendatang. Bahwa tahun 2020 seluruh umat tak bisa merayakan Natal semeriah biasanya. Bahwa dalam kejadian tersebut ada banyak pelajaran yang bisa umat ambil.

Hari ini aku mengunjungi salah satu manusia favoritku, Antonius Sunaryo. Orang yang telah merawat ibuku sejak usia tiga tahun dengan penuh kasih dan sayang. Ia berikan semua yang dimiliki pada ibuku. Ia penuhi hak-hak ibuku dengan baik, termasuk hak beragama.

Ia yang aku panggil Kakung tak memaksa ibuku harus meyakini apa yang ia yakini. Justeru Kakung memasukkan ibuku ke MI dan membiarkan ibuku belajar mengaji di langgar.

Aku mengunjungi tempat peristirahatan terakhirnya dalam perjalanan menuju rumah Veni. Betapa berat sekali rindu pada orang yang sudah mati. Tidak ada yang bisa dilakukan selain berdoa dalam hati.

Jadi, sudah cerita apa saja hari ini dengan Bapa di surga? Ceritakan soal aku yang kini sudah menjadi penyiar di radio favoritmu semasa hidup, ya. Kadang, aku selalu ingin tahu bagaimana reaksimu ketika tahu bahwa aku sekarang adalah seorang penyiar di Radio Mandala.

Kakung, ingatkah saat kau bertanya padaku apakah aku bisa mengaji? Waktu itu kujawab aku sudah pandai membaca Al-Qur'an. Lantas kau masuk ke dalam kamarmu dan keluar dengan membawa sajadah. Kau hadiahkan sajadah itu untukku, kau bilang itu pemberian tetangga yang baru saja pulang dari Mekah.

Kakung, ingatkah saat aku menemanimu duduk di teras rumah sambil memandang jalan raya? Waktu itu kesehatanmu sudah mulai menurun. Tatapan matamu pun sudah tak seperti biasanya. Kau diam saja, tak banyak bicara. Aku pun tidak berani mengajak bicara, hanya diam saja.

Jika aku tahu bahwa waktu itu adalah kebersamaan terakhir kita, sumpah demi Tuhan aku akan bercerita banyak hal tanpa harus kau jawab. Aku tak peduli kau mendengarkan aku atau tidak. Jika aku tahu waktu itu adalah kebersamaan terakhir kita, maka aku ingin minta pada Tuhan agar tak lekas. Mengapa terburu-buru?

Selamat Natal, Antonius Sunaryo. Sampaikan salamku pada Bapa agar terus menjagamu di surga. Selamat Natal, Kakungku tercinta.

Aku menulis catatan ini dengan berderai-derai air mata mengenang almarhum. Betapa aku sangat merindukan beliau.

Saus Tiram Reunian

Desember 27, 2020 0 Comments
Hari ini aku dan Lia pergi ke rumah Veni. Veni baru pulang ke Banyuwangi setelah kerja kerja kerja di Bali sana. Setelah janjian via grup whatsapp jadilah aku dan Lia berangkat satu jam lebih dari yang disepakati di awal. Harusnya berangkat jam delapan, kami malah berangkat jam sembilan.

Terakhir kami main ke tempat Veni ya tahun lalu. Persis bulan Desember tahun lalu kami ke Balokan. Karena Veni hanya bisa pulang ke Banyuwangi saat musim liburan sekolah seperti ini.

Akhirnya kami bisa bertemu lagi bertiga. Makan, cerita, ketawa lalu pulang lagi dengan keadaan yang sama seperti tahun lalu. Karena ini Desember maka setiap selepas dhuhur langit Genteng selalu mendung. Persis seperti tahun lalu.

Kami pun terjebak di Lontang-lantung Genteng. Hujan deras yang mengguyur Genteng membuat kami malas pulang. Selain hujan yang masih sangat deras, tentu saja.

Aku senang masih bisa bertemu mereka meski tak setiap hari. Justeru, aku pikir beginilah cara terbaik untuk merawat pertemanan. Terima kasih untuk hari ini, Saus Tiram. Sampai jumpa dalam sesi poto esok.

Selasa, 01 Desember 2020

Satu Desember

Desember 01, 2020 0 Comments
Menulis catatan satu Desember ini dengan keadaan badan bersih dan segar setelah mandi. Mandi yang sangat terlambat setelah menonton Ikatan Cinta bersama ibu di bale depan. Sekira jam sembilan malam aku baru mandi setelah sebelumnya memakai masker kopi dan beras.

Tidak terasa sudah masuk ke bulan terakhir di tahun dua ribu dua puluh. Dimana harapan orang-orang sepertinya sama, pagebluk segera berakhir. I'm so sick of this pandemic.

Tidak banyak harapan yang aku semogakan. Keadaan menjadi pulih dan semakin membaik saja sudah sangat bersyukur. Pekerjaan lancar, kesehatan baik, itu dulu cukup.

Pagi tadi aku mengawali siaran pagi di satu Desember dengan lancar. Sarapan mi gelas sebelum Mandala Aktualita. Edit berita untuk Suara Surabaya. Semuanya lancar dan berjalan seperti biasanya.

Pulang ke rumah dan menikmati tidur siang yang cukup nyenyak. Melewatkan kesempatan untuk bertemu tanaman dan senam seperti kemarin sore di halaman. Tapi, tak apa. Besok aku libur siaran dan akan berada di rumah seharian. Sehingga bisa melunasi semua hal yang tidak bisa aku lakukan hari ini.

Tetap waras di tengah situasi yang tidak menentu ini tentu sebuah kemewahan. Saat berita semakin tidak jelas, kelakuan beberapa orang yang sungguh membuat malu, kejadian-kejadian ekstrim yang membuatku mau pindah saja ke Timbuktu, semuanya membuatku merasa dunia semakin jauh. Jauh dari ramah, jauh dari aman, jauh dari harapan.
                    Mi gelas satu Desember