Kamis, 27 Juli 2017

She did well ...

Juli 27, 2017 0 Comments
And then Bibeh did well.

Jam 22.01 dia wassap saya. It was a short messages, “Di. Hati gw.” Saya baru balas di jam 22.57. Wah, nih anak kenapa, batin saya. Centang satu sampai tadi subuh. Baru dibalas sekitar jam lima pagi. Dia bilang nggak dibalas oleh doi. Saya bilang juga, tunggu aja, dia masih shock kali. Bibeh balas, “Di, ya Allah. Semalem gw gelisah bener di. Lega dah. Masih pusing nih gue, dan gak nyangka gue.”

Saya tersenyum dengan sedikit ngikik ketika baca pesan Bibeh subuh tadi. I knoooooow that feel, Woh. One of the most embarrassing moment in life and the awkward thing we did ever! Hahaha. Saya dan Bibeh akhirnya bertemu di Ikhtiar Surya, menghadiri acara sosialisasi peduli HAM yang diadakan oleh Bakesbangpol. Sampai di tempat, dia segera memberikan ponselnya untuk kemudian saya baca pesan yang telah dia kirim kepada...nya.

Saya terharu. Gini bener sahabat eug. You did well, Woh. You did well. Pesan yang dia sampaikan nggak panjang. Singkat saja, tapi jelas. Perlu sa tulis disini pesan tersebut? Perlu? Huwaaaa, pesan itu terlalu sweet dan berharga untuk kusebarkan, gaes. Jadi, bersabarlah hingga si pemilik pesan bersedia ungkapan hatinya saya publish. Sabar, ya?

Saya baca itu sambil mata saya menghangat. Diksinya kelas banget sahabat eug, nih. Bikin siapa aja yang baca jadi melted. Dan dan daaaaan, balasan si dia pun tak kalah membuat saya mengharu biru. Dari awal Bibeh memang tidak berharap balasan yang sama atas perasaannya. Yang penting dia tahu, dia baca, dan syukur-syukur dibalas pesan tersebut.

Begitu banyak kata maaf yang terlontar. Begitu banyak penyesalan yang terucap. Dia sadar, dia telah mengusik bagian tersensitif seorang wanita. Lalu, dia pergi, tanpa sepatah katapun. Dia bilang dia pecundang. Dia bilang dia tak pantas buat sahabat saya. Dan akhirnya hanya “Maafkan aku” yang mampu dia katakan. Ya kadang laki-laki sebajigur itu. Bajigur ngetz.

Dia bilang sahabat saya luar biasa. Sahabat saya tetaplah sahabat saya. Wanita luar biasa yang dia kenal, selalu berani, seperti pesan sahabat saya padanya semalam. Tbh, dia tidak tahu bahwa semalam suntuk sahabat saya tidak tenang. Sahabat saya bingung, gelisah. Belum lagi setelah dia memutuskan mengirim pesan tersebut. “Malu banget gue, Di. Taruh mana nih muka.”

Perempuan yang kau bilang kuat, luar biasa, dan lain-lain itu tetaplah seorang perempuan yang memiliki sisi sensitif. Sekuat-kuatnya perempuan, dia akan selalu kalah dalam satu hal. Mencintai seseorang. 

Hiyeeeeek, ngomong apa, sih, eug. Hih hih hih.

Sepulang dari Ikhtiar Surya, saya dan Bibeh makan nasi kotak yang disangoni oleh kesbangpol di lapangan GOR. Tadinya, sih, mau makan di taman yang ada di area GOR. Cuma banyak dedeq-dedeq sekolah lagi kongkow. Jadinya kita melipir ke area lapangan.

Setelah mengisi paketan dan perut, kami duduk-duduk di tribun. Memulai sesi curhat yang sedari tadi di pendam. Nggak tahu kenapa cuaca siang tadi mirip banget sama suasan hati Bibeh. Mendung-mendung sok tegar gitu. Dia ngakak. Seharusnya pantai menjadi jujugan kami. Biar bisa berik-berik sepuas hati. Ah, tapi tadi walaupun nggak di pantai Bibeh juga masih bisa teriak-teriak, kok.

Sekali lagi Bibeh menyatakan kelegaannya. Emang, Woh. Ibaratnya tuh bisul yang dah lama mengganggu, akhirnya pecah. Empat tahun hidup dengan bayang-bayang si dia. Empat tahun bleeeeeh, empat tahun. Apa nggak udah waktunya di wisuda, tuh, Woh. Hahahaha. Akhirnya telah ditemukan penyebab skripsi nggak kelar-kelar.

Kami duduk berdua dalam diam. Menertawai diri masing-masing. “Jadi gini, ya, Woh, perasaan laki-laki yang cintanya ditolak ama perempuan yang mereka sayang?” Dia menoleh lantas nyengir. “Dari kejadian ini kita bisa belajar. Belajar menghargai perasaan orang, Woh.”

Benar katanya. Waktu akan membawa kita pada lupa. Entah seberapa dalam, atau seberapa jauh ingatan itu, waktu akan selalu punya cara membuat kita sembuh.

"Ya untung ngomongnya pas dia belum nikah." | "Iya, ya, Di. Coba kalo dia dah nikah. Atau kita mau nikah, terus dianya mau."

Waduuuuuuuuh ... Kami histeris bersama.

Rabu, 26 Juli 2017

Urusan Skripsi Hingga Hati

Juli 26, 2017 0 Comments
Malam ini begitu luar biasa bagi saya. Terlebih bagi kami, saya dan Bibeh. Entah bagi Bibeh luar biasa atau tidak, tapi bagi saya ini luar biasa. Oke, saya akan mulai bercerita.

Hari ini kami melakukan kunjungan ke kawan-kawan BEM-U yang tengah melaksanakan KKN. Berawal dari ujung utara, tempat KKN Bang Rohim di Bangsring. Lalu ke tempat Junet di Ketapang, dan berakhir di tempat bosque di Olehsari. Sepulang dari Olehsari, kami berenam –saya, Bibeh, Kang Sandi, Bara, Gus Umam, Bang Rohim– makan nasi goreng di daerah Sasak Perot. Nah, kisah ini berawal dari perjalanan pulang saya dan Bibeh.

Di sepanjang jalan menuju pulang, kami bercerita. Saat makan nasi goreng tadi, kami semua bertemu Bu Yovita. Seorang dosen di Fakultas Ekonomi. Bisa ditebak bagaimana mahasiswa tingkat akhir bertemu dengan dosennya. Yes, pertanyaan “Sudah selesai?” akan bermunculan. Tentu, yang saya maksud adalah sudah selesai skripsinya?

Bibeh yang berada di belakang saya cerita bagaimana perkembangan skripsinya. Seperti biasa, kami akan bertukar cerita. Saya bilang ke dia, “Ndilalah kok aku nih seringnya keluar sama kamu, Woh. Yang sama-sama nggak bakal bahas skripsi pas ketemu. Kita sering banget ngeluyur gini, padahal skripsi belum beres-beres.” | “Iya, ya, Di. Temen-temen gue pada kemana, gak ada kabar sama sekali. Kadang gue tuh bingung, mereka tuh ngapain aja sih kok sampe gak bisa keluar, piknik, ribet ama skripsi.”
Idk why, tapi itu benar. Saya tahu tidak semua orang memiliki karakter seperti saya dan Bibeh. Saya dan Bibeh juga memiliki karakter yang tidak sama dengan mereka. Bahkan saya dan Bibeh saja karakternya beda. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, persoalan skripsi memang menjadi santapan sehari-hari. Persoalan yang kadang saya sendiri bosan membahasnya. Saya bilang ke Bibeh, “Bener kata temenku, Woh. Kadang kita tuh hanya butuh nggak ngurusin hidup orang lain dimulai dari nggak nanya-nanya skripsi udah nyampe mana, kapan menikah, dll.”

Sampai di depan rumah saya, Bibeh masih sempat mampir. Kami melanjutkan cerita. Bibeh bercerita tentang orang-orang terdekatnya yang sama sekali nggak usil nanya skripsinya sampai mana. Mulai dari Bapak, Ibu, Cak Ulum, hingga Ustadnya. Itu melegakan. Bibeh tahu, meskipun mereka tidak pernah bertanya, pasti mereka mendoakan. Saya pun sama. Bapak Ibu saya sama sekali nggak pernah usil bertanya mengenai skripsi. Sekalinya tanya, “Kapan wisuda? Ibuk e nganggo kelambi opo, yo?” Sesimpel itu beban pikiran Ibu saya. Apa yang harus dia pakai di hari wisuda saya. Subhanallah ...

Namanya perempuan, ada banyak sekali bahasan yang sebisa mungkin di bahas. Semalam percakapan kami tidak hanya sebatas skripsi. Jika sudah bicara dari hati ke hati dengan Bibeh, saya akan mendapat pelajaran berharga. Kami belajar memahami kehidupan dari hidup masing-masing. Sebagai manusia yang telah hidup lebih dulu daripada saya, Bibeh telah melewati banyak hal. Kisah hidupnya selalu menginspirasi saya.

Hingga akhirnya entah bagaimana awalnya, kami bicara urusan hati. Urusan yang akan selalu menarik untuk dipahami. Saya tahu seseorang dari masa lalu mampu membuat kita hidup berkalang nestapa. Perasaan yang tidak pernah tersampaikan membuat kita menutup hati untuk lainnya. Itu yang terjadi pada kawan saya, Uwoh. Dulu saya sempat bercerita pada Bibeh tentang bagaimana saya mengungkapkan perasaan pada seorang laki-laki. Dia histeris alay. Tidak menyangka saya berani melakukan itu. Saya ngakak, saya juga nggak ngerti kenapa bisa begitu.

Nah, persoalan Bibeh adalah persoalan yang sama dengan saya. Urusan hati yang mengusik bertahun-tahun itu harus segera di selesaikan. “Bilang aja, Beh. Suratin. Urusan dia bales apa enggak, itu urusan lain. Kak Iraa dulu pernah bilang kan, belio kalo suka ama orang, langsung bilang, terserah tuh orang mau suka balik apa enggak. Nggak apa-apa, biar lega, Woh.” Bibeh yang sudah ada di atas motor pasti campur aduk hatinya.

Tanpa kita sadari, hal itulah yang membuat kita susah melangkah maju dari kenangan masa lalu. Perasaan yang tak pernah tersampaikan. Sebagai perempuan yang mengimplementasikan emansipasi wanita, saya tahu betul hal tersebut susah dilakukan oleh wanita. Bilang suka duluan??? Iyuuuuh, apa kata Caca Handika???

Tapi serius, girls, bilang suka duluan bukanlah sebuah kejahatan. Bilang suka duluan adalah hak setiap perempuan. Kalin boleh melakukannya. Berat memang. Aneh. Memalukan. Mau taruh mana muka kita yang syantik ini? Bukan begitu?

I used to love someone, I said to him although by a letters. At least, I told him. Right? But you know what, gaes, everything suddenly changes. And it was hurt me. Kadang saya juga bingung apa iya yang begituan dibilang cinta? Aih. Tapi setelah saya tahu kenyataan yang cukup menyakitkan itu, di sisi lain saya merasa lega. Langkah saya jadi ringan. Hal-hal mengganjal satu per satu sirna. Tidak satu bulan dua bulan selesai. Lupa, ingat lagi. Lupa, ingat lagi. Lupa, ingat lagi. Gitu mulu sampe akhirnya Gio-Angel putus dan (katanya) pacaran ama Irish Bella.

Adakah saya menyesal? Sama sekali tidak. Karena dari awal saya memang hanya mengungkapkan perasaan, tidak menunggu jawaban. Di awal-awal memang berat sekali. Saya sedih, sakit. Tapi lantas saya mengapresiasi diri saya sendiri, saya memafkan diri saya sendiri dari segala rupa perasaan. Bayangkan jika saya tidak pernah mengungkapkan perasaan saya padanya? Sampai kapan saya harus harap-harap cemas? Sampai kapan saya harus hidup dengan harapan-harapan yang hanya tertuju padanya?

Begitulah akhirnya cerita yang bisa Bibeh dengar dari saya. Perempuan yang sepertinya nggak akan bisa melakukan hal seperti itu. Nggak apa kali nyatain perasaan duluan. Dulu Ibu Khadijah juga nembak Rasul duluan, kok. Meskipun lewat perantara sahabat.

Nah eug nih berarti agresif, yak? Nyelonong aja nggak pake perantara. Wqwqwq.

Minggu, 16 Juli 2017

Menjadi Tua Sebelum Waktunya

Juli 16, 2017 0 Comments
Selesai mengantar Rara dan Lintang berbelanja tas sekolah, mereka ingin sekali melihat lebih dekat patung kuda di Taman Tirtawangi. Kebetulan, saya bisa sekalian ke rumah Intan. Intan sudah balik ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya di Thailand. Sebelum main di patung kuda, saya mengajak Rara dan Lintang ke rumah Intan. Tadinya ketika mereka bermain di taman, saya berniat ke rumah Intan sendiri, tapi mereka berdua nggak mau ditinggal, takut di culik katanya. -__-

Jadilah saya membawa mereka bertamu ke Intan. Suasana khas lebaran masih terasa di sana, banyak tamu. Pertama kali bertemu gembel satu itu saya sempat kesel. Minusnya semakin parah, saya rasa. Saya yang dari jauh melihat Intan sudah ekspresif banget, tapi dia malah pasang tampang bego dengan ekspresi “Sopo iku?” Ya elah, ekspresifku sia-sia.

Setelah cipika-cipiki dengan dia yang peliket banget karena belum mandi, kami akhirnya cerita-cerita. Momen bercerita waktu itu kurang tepat karena situasi agak ramai. Banyak tetangga yang datang hanya demi menemui Intan yang mendadak artis itu. Akhirnya cerita kami banyak tersendat.

Saat Intan sedang sibuk di belakang, datanglah Umi yang merupakan teman sebangku saya saat di SMP dulu. Umi merupakan tetangga sekaligus teman Intan bermain. Waktu itu rumah Intan menjadi ajang silaturahmi kami, karena tidak lama kemudian squad Karangente lainnya juga datang, Titin dan Elyn. Saya, Titin dan Umi dulu sekelas saat SMP. Intan, Titin dan Elyn dulu satu sekolah saat SD. Dan Intan, Umi, Elyn dan Titin adalah kawan sepermainan di lingkungan Karangente. Begitulah, gaes, teman mereka adalah temanku juga.

Intan akhirnya pergi mandi di saat teman-temannya sudah berkumpul. Mengantisipasi banyaknya tamu yang akan datang lagi, kan tidak mungkin di sambut dengan keadaan lusuh bin kusam seperti itu. Kami menikmati bakso yang disuguhkan tuan rumah. Rara dan Lintang menikmati bakso mereka, sehingga mereka aman tidak buru-buru minta pulang. Saat sedang menikmati bakso tersebut, Titin tiba-tiba nyeletuk, “Awakmu kok seneng sih Mey ngemong arek.” Saya yang sedang mengunyah lontong segera menelannya. Lumayan mikir sejenak. Saya lupa waktu itu menjawab bagaimana.

Tulisan ini bukan tentang silaturahmi saya ke rumah Intan, karena itu sudah saya bahas di tulisan sebelumnya. Tulisan ini membahas pertanyaan Titin, teman SMP saya yang dulu lemot banget kayak Asri Welas di sitkom Suami-suami Takut Istri.

Kadang saya disadarkan tentang siapa saya sebenarnya justru dari lingkungan sekitar. Contohnya adalah pertanyaan Titin tadi. Kenapa saya suka ngemong anak-anak? Kalian yang tidak tahu ngemong, dalam Bahasa Indonesia ngemong itu ...... duh, kok saya jadi bodoh gini? Apa, ya, Bahasa Indonesianya? Yah, istilahnya ngejagain anak-anak, lah.

Saat masih kecil dulu, saya dan Ardi sering diajak keluar oleh Bapak dan Ibu. Mereka setidaknya seminggu sekali selalu mengajak kami, anak-anaknya, untuk berinteraksi dengan dunia luar. Ingatan saya masih bagus saat Bapak mengendarai motor dan pergi ke jantung kota Banyuwangi dengan melewati jalan-jalan blusukan yang susah sekali untuk saya titeni waktu itu. Bapak dan Ibu kami adalah orang tua yang akan selalu menyenangkan anak-anaknya dengan cara-cara sederhana. Menikmati Taman Sritanjung yang dulu saya ingat rindang betul dengan Beringin raksasa di tengahnya. Berlarian kesana-kemari melihat para pedagang mainan hingga pedagang makanan ringan di trotoar taman. Saya yakin, semua orang tua selalu menginginkan anak-anaknya berbahagia. Begitupun Bapak dan Ibu saya. Kenangan masa kecil itu selalu tersimpan rapi dalam memori saya. Saya adalah anak kecil yang mendapat kesempatan untuk bahagia sesuai usia saya.

Saya percaya karakter seorang anak adalah andil dari seorang Ibu. Saya tumbuh menjadi perempuan yang terlalu perasa, saya yakin Ibu juga. Saya tumbuh menjadi perempuan yang senang menyimpan keluh kesah, saya yakin Ibu juga. Saya tumbuh menjadi perempuan yang terlalu enggan berbagi masalah dengan orang lain, saya yakin Ibu juga. Saya adalah Ibu saya. Ibu saya adalah saya. Segala sifat yang membuat saya menjadi saya sekarang adalah bentukan dari orang tua serta lingkungan. Saya tidak akan jumawa dengan mengatakan saya dibesarkan dalam lingkungan yang baik. Namun, realitanya memang demikian. Lingkungan tempat kami tinggal alhamdulillah selalu dikelilingi hal-hal baik.

Semua itu, mulai dari pembentukan karakter hingga pengaruh lingkungan, membuat saya menjadi who I am today. Jika Titin bertanya kenapa saya suka ngemong anak-anak, saya akan jawab tidak tahu. Semua itu adalah hal normal bagi saya. Hal ini bukan pertama kali bagi saya. Sejak Fahri hadir dalam keluarga kami, di usianya yang kedua tahun, saya sudah sering membawa Fahri pergi naik motor, sekedar mengantar Mbah pulang atau bermain di taman-taman kota Banyuwangi. Bahkan Fahri sering ketiduran di atas motor sehingga saya harus nyetir pakai satu tangan.

Karena itu adalah hal normal that’s why saya tidak menganggap itu sebuah keanehan. Jika orang-orang memandang lain, itu urusan mereka. Jika dengan kemana-mana saya selalu membawa Fahri dan kemudian saya dianggap tua (ibu-ibu) saya juga nggak masalah. Toh, kelak saya juga akan menjadi ibu-ibu (insyaallah).

Setidaknya ada satu sifat dalam diri saya yang bisa dijadikan pertimbangan untuk diperistri. Kuy bilang “eaaaaak”.

Pantai Cemara

Minggu, 09 Juli 2017

Semua Ada Masanya

Juli 09, 2017 0 Comments
Hujan yang turun sedari pagi tak jua reda hingga hampir pukul setengah sepuluh siang. Padahal hari ini Ima harus ke Dinas Pendidikan untuk menghadiri acara bersama kawan-kawan PBC-nya. Jadwal acara sebenarnya pukul delapan pagi, namun Ima baru berangkat pukul 9 lebih. Ima mengajakku untuk menemaninya hari ini. Dan karena aku sedang tidak ada kegiatan, ikutlah aku dengannya. (Kali ini aku kamu dulu, ya. Capek pake ‘saya’ mulu)

Sampai diknas hujan turun lagi dengan derasnya, kami segera melipir masuk ke aula. Dengan keadaan setengah basah, kami masuk aula yang telah dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa Unej dan UIN Jember yan mengikuti Program Banyuwangi Cerdas (PBC). Acara semacam ini rutin dilaksanakan tiap tahunnya.

Baiklah, aku skip saja bagian dialog-dialog yang terjadi di dalam aula. Sebagai orang asing, aku tidak terlalu menyimak apa yang mereka bahas. Sesekali saja aku mengamati dialog mereka.

Tulisan ini bukan tentang PBC ataupun tentang mahasiswa-mahasiswa PBC yang ada di dalam aula diknas. Tulisan ini lebih kepada Ima dan kawan-kawannya –yang kini juga menjadi kawanku. Selesai acara, mereka berencana untuk sekedar nongkrong bersama. Salah satu dari mereka mengusulkan untuk nongkrong di ‘Basecamp’. Aku yang tidak asing dengan tempat itu segera saja mengiyakan.

Waktu itu jika aku tidak salah, ada enam laki-laki dan enam perempuan termasuk aku. Kami menikmati angin laut yang nggak ada sejuk-sejuknya –karena waktu itu dingin banget– dan beberapa kudapan serta minuman hangat. Mereka membicarakan banyak hal terkait perkuliahan. Aku yang minoritas ini hanya bisa diam dan menyimak dengan seksama sambil memainkan ponselku.

Mereka bercakap-cakap ringan. Saling lempar joke, bergurau, dan sesekali wefie. Aku senang berada di tengah-tengah mereka. Tidak ada sekat, mereka juga sangat ramah terhadapku. Aku yang memang suka guyon waktu itu menemukan orang yang satu spesies. Dicky namanya (entah Diki, Dicky atau Dicki). Dia itu lucu bwanget, gaes. Gara-gara dia aku tidak bosan ketika yang lain pergi ke dermaga untuk berfoto-foto.

Selang beberapa jam kemudian kami memutuskan untuk pulang. Ada beberapa kawan Ima yang memilih pulang terlebih dahulu –dikarenakan satu alasan. Dalam perjalanan pulang, aku bertanya pada Ima tentang salah satu kawannya, “Ma, Dodi iku seneng awakmu ta?” (nama disamarkan) | “Ketoro ta, Ka?” | “Banget.” Ima mengiyakan tebakanku. Dia bercerita bahwa Dodi memang menyukainya. Aku juga menanyakan beberapa kawan laki-lakinya seperti Budi dan Todi (nama juga disamarkan). Dan, lagi-lagi tebakanku benar. Ketiga orang tersebut memang pernah dan sedang menyukai Ima.

Aku menjelaskan beberapa hal kepada Ima. Tentang gerak-gerik laki-laki yang tengah menyukai seorang wanita. Aku jelaskan dengan Bahasa Indonesia, gaes, agar kalian pembaca dari luar Banyuwangi paham. (yaelah, emang paling jauh pembaca blogmu dari mana, sih, Mey?)

“Ma, laki-laki jika sedang menyukai perempuan dapat terlihat dari beberapa hal. Yang pertama, dia akan grogi berada di dekat wanita yang dia sukai, sehingga cara bicaranya terbata-bata. Yang kedua, mereka akan menghindari kontak mata. Mereka akan salah tingkah ketika kalian berbicara dan kamu menatap langsung ke matanya. Yang ketiga, mereka akan mengeluarkan sepik-sepik garing dan terkesan norak.”

Untuk yang ketiga ini terlihat sekali pada diri si Todi. Sejak di aula diknas hingga basecamp, dia mengeluarkan sepik guyonan yang mengarah langsung pada Ima, tanpa basa-basi. Contohnya, saat di basecamp, Todi sempat mengajak Ima, “Ma, ayo melok.” Dijawab oleh Ima, “Neng ndi?” Todi membalas, “KUA” yang disambut grrr oleh teman-temannya, aku cuma bisa nyengir karena itu garing bangetzzz.

Gerak-gerik Todi yang sudah ku amati sedari tadi, memunculkan sebuah konklusi yang terlalu mudah di tebak. Todi menyukai Ima. Todi tipe orang yang to the point, tidak perlu basa-basi. Berbeda lagi dengan Dodi. Aku memberikan nilai plus pada kawan Ima yang satu ini. Pertama dia manis. Kedua dia manis. Ketiga dia manis. Dan keempat, dia manis. Fix! (diabetes, diabetes, dah).

Pertama kali aku melihat Dodi di aula, aku mengira dia sudah berumur jauh di atasku. Ternyata tidak, kami semua seumuran. Aku tidak begitu memperhatikan Dodi saat di aula tadi. Namun, ketika kami duduk berhadapan di basecamp, aku sadar Dodi memang manis seperti kataku tadi. He has wajah yang nggak mboseni. Caranya berbicara dengan Ima sungguh membuatku ingin menyeret mereka berdua ke KUA terdekat. Caranya tersenyum pada Ima sungguh membuatku ingin garuk-garuk pasir pantai. (lah, yang di senyumin siapa yang gregeten siapa). Dan caranya nyepik juga sungguh membuatku ingin bilang “Singsetin Maseeee. Jangan kasih kendoooooor.” Ndeso ya aku ~

Sepik Dodi yang membuatku salah tingkah adalah ketika ia ditawari mampir ke rumah Ima. Dia menolak dengan halus. “Ayo gpp.” | “Gak ah, Nanti ketemu orangtuamu.” | “Loh, ya kenapa? Gpp.” | “Aku yang kenapa-kenapa.” (Cuih, eneg BGT aku menerjemahkan obrolan mereka ke Bahasa Indonesia).

Di bagian Dodi bilang, “Aku yang kenapa-kenapa.” Rasanya ada yang berdesir di hatiku, gaes. Ingin ku salto sambil teriak “Eaaaaak, eaaaaak, eaaaaaak.” Alhamdulillahnya, aku gabisa salto. Hanya bisa eaaak eaaak dalam hati. Ah, bukan main anak manusia ini. Dodi memiliki pesona yang seharusnya mampu meluluhkan hati sahabatku, Ima. Sayang seribu sayang, Ima tak luluh.

Nur Halimah. Gadis polos yang kukenal tujuh tahun silam. Gadis yang saat sekolah dulu hanya berkutat dengan buku. Gadis yang saat sekolah dulu tak pernah terlihat menyukai lawan jenis. Gadis dengan ambisi belajar amat tinggi. Hari ini, aku melihat gadis yang berbeda. Gadis itu lebih dewasa. Gadis itu telah tumbuh menjadi pribadi yang bertambah menyenangkan. Bahkan, gadis itu kini telah memiliki mantan kekasih.

Kami pernah saling bercerita, kenapa ketika masuk dunia kampus kita jadi dipusingkan dengan urusan sekian hati yang datang? Dulu ketika sekolah, boro-boro satu hati, dilirik juga kagak. Kadang aku tertawa jika mengingat masa sekolah yang beda jauh dengan masa kuliah. Aku paham sekarang. Tuhan itu adil. Dulu saat sekolah, kami belajar dengan rajin. Kami berkutat dengan materi-materi kompetensi keahlian. Kami galau karena tugas, UKK, UNAS. Tak mengerti apa itu patah hati karena cinta.

Hari ini, ketika kami sudah mulai dewasa, Tuhan memberikan satu mata pelajaran lagi. Manage perasaan. Aku masih ingat betul ketika pertama kali kuliah lantas ada laki-laki yang bilang dia menyukaiku. Apa yang kuperbuat? Aku malah tidak sengaja menyakiti perasaannya. Terkesan tidak menghargai apa yang telah dia usahakan.

Begitulah. Tuhan memberikan pelajaran tersebut berkali-kali padaku dan pada Ima. Tuhan membagi konsentrasi kami dari urusan belajar hingga perasaan. Sampai suatu hari, Tuhan patahkan hati kami. Agar apa? Agar kami bisa belajar dan mengambil hikmah dari setiap sakit yang kami rasakan.

Sumber: Google

Kamis, 06 Juli 2017

Ijen, I'm Coming #1

Juli 06, 2017 0 Comments
Rencana pergi ke Ijen yang telah di bahas dua hari yang lalu itu jadi kenyataan. Yes, today I went to Ijeeeeeen. Huwaaah, I am very very very very Maryadi excited. Jika bukan karena Ardi yang pergi ke Ijen Selasa lalu, mungkin saya tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk pergi ke Ijen. Selasa pagi, secara tiba-tiba Ferdi dan Dela (kakaknya) datang ke rumah menjemput Ardi, hendak pergi ke Ijen katanya. Tentu kami sekeluarga agak kaget, karena Ardi tidak pamit malam harinya. Dia pergi secara mendadak, pamitan pun juga serba mendadak di Selasa pagi. Mau tidak mau Bapak saya mengijinkan, karena sudah terlanjur di jemput oleh kawannya.

Singkat cerita, Ardi pulang ke rumah sekitar pukul empat sore. Selepas maghrib Bapak kami baru pulang. Selesai Bapak membersihkan diri, kami sekeluarga berkumpul nonton tv. Saat itu lah Bapak menanyakan perjalanan Ardi ke Ijen tadi. Ardi sempat memperlihatkan foto-fotonya saat berada di puncak. Bapak juga menanyakan perubahan apa saja yang terjadi di Ijen. Karena dulu Bapak dan Ardi pernah bermalam di Ijen saat malam tahun baru 2013. It was four years ago. Momen itu saya jadikan bahan protes ke Bapak. Saya bilang, “Aku ta Bah ke Ijen. Aku gak pernah ag.” Sambil pasang wajah masam, kecut, mecucu, dan sederet ekspresi wajah jelek lainnya. Bapak saya yang masih melihat-lihat foto di ponsel Ardi menjawab, “Yo merono o wes. Ambek Ardi kok.” Unbelievable! I’m surprised. Saya langsung teringat obrolan dengan Bibeh beberapa waktu yang lalu. Saat itu juga saya kirim pesan WA. Saya menanyakan apakah Bibeh jadi ke Ijen atau tidak Kamis ini, dia jawab iya dan merajuk mengajak saya. Saya yang telah memiliki surat perizinan dari Bapak segera mengiyakan. Tidak saya sangka jurus ngambul saya ke Bapak ternyata ampuh juga. Heuheu...

Rabu malam saya kembali mengingatkan Ardi perihal acara besok pagi. Bapak sempat mendengar ketika saya meningatkan Ardi di kamarnya, dan beliau bilang, “Arep neng ndi?”. Saya yang mencium gelagat mencurigakan segera menjawab, “Ijen, lah. Abae kan wes ngomong boleh.” Skak mat. Bapak saya hanya pasrah. Saya bersyukur Ardi mau menemani kakaknya ini untuk naik Ijen. Padahal Selasa lalu dia baru saja dari puncak. Demi melihat saya yang nggak pernah ke Ijen ini, dan Ardi mungkin kasihan kalau saya nanti di bully orang-orang sumbu pendek yang bilang “Wong Banyuwangi kok gak tau nang Ijen”, (yaelah, emang landmark Banyuwangi cuma Ijen?) maka akhirnya dia muncak lagi. Uwuwuwu, he’s so adorable.

Kami berangkat pukul 06.00 pagi, mundur satu jam dari waktu yang telah di sepakati. Lha gimana, wong jam lima Bibeh baru siap-siap. Beberapa kawan yang tahu bahwa saya akan naik Ijen sempat mengkhawatirkan cuaca pagi itu. Mereka kirim pesan agar berhati-hati. I’m totally blessed having friend like you, guys. Saat berangkat memang kami sempat diguyur hujan di daerah Olehsari. Kami berteduh di salah satu bengkel yang masih tutup. Saya dan Bibeh sempat bersitatap, seolah mata kami berbicara. Sejauh mata memandang ke Barat, yang terlihat hanya gumpalan awan abu-abu monyet pekat. Padahal di tempat kami berteduh itu fajar muncul dengan sinarnya yang lumayan menghangatkan kami. Ardi bergumam, “Udan sarangan iki.” Saya, Bieh dan Nana hanya diam. Tak lama kami berteduh, setelah dirasa cukup terang kami melanjutkan perjalanan.

Sepanjang jalan saya berdoa agar cuaca cerah. Agar awan mendung itu menyingkir berganti langit biru. Semakin ke Barat cuaca semakin membaik. Saya bersorak demi melihat langit yang mulai terlihat biru dan matahari makin merekah. Saya teringat pesan WA Bibeh pagi tadi, “Yakin dalem hati, langit cerah.” Betapa the power of keyaqinan hqq itu luar biasa. Wkwk.

Akhirnya saya memilih untuk menikmati pemandangan selama perjalanan dalam diam. Ini bukan pertama kalinya saya menyusuri jalan menuju Ijen. Namun, saya tetap dibuat terpukau oleh ciptaan-Nya. Indah tanpa cacat. Saya juga sering menengok ke belakang, bukan nengokin masa lalu, tapi saya melihat Bibeh dan Nana. Kali aja mereka tertinggal jauh.

Ada satu kejadian yang tidak akan saya lupakan hari itu. Saya tidak tahu persisnya dimana, yang saya ingat di sekeliling kami waktu itu adalah areal perkebunan yang ditanami semacam tanaman rambat. Apakah itu kentang atau kubis, saya nggak tahu. Jadi, di jalan yang penuh belokan itu Ardi memberi tahu saya sesuatu, “Kak, mari ngene enek barongsai kek.” Saya nggak tahu maksud dia apa. Hingga saya melihat rombongan bapak-bapak bermotor yang membawa tumpukan rumput serta dedaunan (ngeramban). Jumlah mereka empat kalau tidak salah. Bentuk rumput yang begitu lebar dan ukuran yang besar serta berjalan berarakan itulah yang Ardi maksud dengan barongsai. Nggak nyambung, sih. Tapi saya tetep ngakak karena ketika berpapasan dengan bapak-bapak tersebut Ardi mengiringinya dengan melodi khas barongsai. Tek dung tek dung cesss. Ah, susah, gaes, saya jelasinnya. Gitu deh pokoknya. Saya melihat iring-iringan mereka hingga tubuh saya terputar ke belakang. Ndilalah, pas saya nengok ke belakang saya nggak melihat Bibeh dan Nana.

Lalu tiba-tiba .... (menuju klimaks).

Ketika saya bertanya pada Ardi, “Mbak Bibeh endi, Di?” Lha kok tiba-tiba saya dan Ardi sudah nyusrug ke sebelah kiri. Saya berteriak memanggil nama Ardi. Antara kaget, nggak siap, dan bingung. Ya Allah, gaes ... hiks, sedih kalo di ceritain, mah. Jadi ternyata ban motor Ardi masuk ke pinggiran aspal yang terkikis, pas tikungan. Jadilah saya, Ardi, dan si satria terguling-guling di rerumputan. Sumpah saya kaget banget. Karena rumput itu lumayan dalam saya mikirnya jatuh ke jurang. Ya untung kami jatuhnya ke sisi kiri, dan disana ada rerumputan, jadi nggak begitu syaqit. Bayangin kalau kami nyusrug ke sisi kanan dan dari atas ada kendaraan melintas. Betul kata spanduk-spanduk itu, jatuh ke aspal taq seindah jatuh cinta. Dan di momen kami terjatuh itu, kalimat pertama yang di keluarkan Ardi adalah, “Gak opo-opo, Kak?” huwaaaaa, saya yang baperan ini langsung pingin nangis. It was so so so soooooooo touching. Alay, sih. Tapi ya gimana.

Ketika saya, Ardi dan si satria telah berdiri tegak barulah Bibeh dan Nana berhenti tepat di belakang kami. Bibeh yang melihat tubuh bagian kiri saya pada kotor kena rumput menuntut penjelasan. Ekspresi bingung di wajah Bibeh sungguh membuat saya pingin ngakak. “Habis nyusrug, Woh.” Kata saya. Dia sempat bego beberapa detik. “Abis jatooooh.” Saya menegaskan. “He, yang bener??? Iya, Di???” si kampret itu berusaha nahan ketawa. Ah, elu, coba aja tadi dia lihat aksi saya jatuh, sudah pasti bakal ngakak all day long. “Entar cerita, ya.” Setdah, sempetnya bilang begitu.

Kami melanjutkan perjalanan dengan gulatan perasaan masing-masing. Ardi terus memastikan apakah saya baik-baik saja? Hmmm, adik saya nih, udah ganteng, humoris, perhatian pula. Sayang masih jomblo. Saya baik-baik saja, hanya saja masih sedikit gemetar dan kaget. Beberapa meter perjalanan setelah kejadian tersebut mata saya kunang-kunang, perut enek, dan kepala sempat pusing. Pingin muntah tapi nggak bisa. Wah, gawat nih kalau sampai saya kenapa-kenapa pas mendaki nanti, pikir saya.

Tapi alhamdulillah mata saya normal kembali beberapa kilometer kemudian. Musibah yang menimpa saya dan Ardi tidak sampai di situ saja, gaes. Sampai di jalan yang lumayan menanjak, tiba-tiba si satria mogok. Bayangin motor mogok di medan yang nanjak. Motor sempat mundur hingga akhirnya ditahan oleh Ardi. Saya turun dari motor. Saya yang masih gemeteran karena insiden jatuh tadi jadi nggak bisa mikir jernih, saya mondar-mandir ngeliatin Ardi yang masih berusaha menguasai satria. Saya ngeri melihat Ardi yang terus-terusan kepleset karena mencoba mengurangi gigi si staria namun gagal. Ban motor serasa nempel ke aspal, dan satria tidak bisa di apa-apakan. Maju nggak kena, mundur juga nggak mungkin. Ardi berusaha memiringkan posisi satria. Saya benar-benar nggak bisa nahan perasaan saya. Emosi saya benar-benar campur aduk. Mau nangis rasanya. Beruntung (lagi-lagi beruntung) tidak ada kendaraan yang meilntas dari atas. Ardi terus berkutat dengan satria hingga akhirnya motor hitam itu dapat di kendalikan. Saya yang terlanjur lemas memilih untuk berjalan hingga ke medan yang agak datar. Bibeh menunggu kami dari atas. Saya kembali duduk di jok belakang dengan terus-terusan merapal berbagai doa-doa. Kali ini saya mulai cemas, karena kami belum melewati Erek-Erek. Medan yang terkenal telah memakan banyak korban karena tingkat kecuramannya sangat tinggi.

Saya terus bertanya pada Ardi apa Erek-Erek masih jauh? Hingga akhirnya tibalah kami pada jalan yang menukik tajam itu. Setelah memastikan satria bergigi satu, Ardi mulai tancap gas. Saya yang meringkuk di balik punggungnya hanya bisa merem. Alhamdulillah Erek-Erek kami lalui dengan selamat. Melewati Erek-Erek seperti telah melepas beban berton-ton. Sisa perjalanan dapat kami nikmati dengan perasaan lega. Segala mual dan tetek bengek yang tidak mengenakkan badan saya juga hilang.

To be continued ...