Semakin bertambah usia, peristiwa bertemunya kembali kita dengan kawan baik di masa lalu menjadi begitu istimewa. Duduk bersama, berbagi cerita, menertawakan masa lalu dan pulang ke rumah masing-masing dengan hati yang hangat.
Hari ini aku mengalami hal
tersebut. The day when I met my precious
old friends. Aku bahkan tidak pernah membayangkan hari ini akan ada. Bercengkerama
dengan teman-teman zaman sekolah dasar dulu.
Semua berawal dari sebuah foto
yang aku jadikan status WhatsApp tempo hari. Aku berpose dua jari di sebuah
halaman sekolah yang tentu bisa dengan mudah ditebak oleh kawanku yang juga bersekolah
di sekolah yang sama, SD N 1 Taman Baru (sekarang SD N Taman Baru). Dua orang
teman memberi komentar dan singkat cerita kami berakhir pada sebuah agenda.
Sebuah agenda yaitu bertemu di
sebuah kafe tempat salah seorang kawan kami, yang berada di dekat SD kami itu. Kebetulan
pemilik kafe ini juga adalah kawan SD. Coincidence?
Of course not. Hehehe.
Selesai siaran aku langsung menuju
Tjiebon –nama kafe tersebut– yang ternyata Bimo sudah duduk manis di sana. Dari
belakang aku ragu-ragu menyapa pria berbaju hitam yang memunggungiku itu. Ini Bimo
bukan, ya? Well, karena sudah lamaaa
sekali aku tidak bertemu dia.
Setelah memastikan bahwa dia
benar Bimo dan kami bertukar kabar, muncul sebuah pertanyaan. Kapan terakhir
kali kita ketemu? Yo SD, jawab dia. Kami
tertawa. Tapi, seingatku tidak. Kami pernah bertemu tapi lupa dimana. Entah di
UNTAG atau di tempat lain.
Selama ini aku mengira Bimo
berkarir di luar Banyuwangi. Tapi, ternyata tidak. Dia sudah empat tahun ada di
Banyuwangi. Itu kenapa aku berani mengajaknya bertemu. Ngobrol sebentar dengan
Bimo aku rasa kami satu gelombang frekuensi. Kenapa? Ketika kami bahas soal
menikah rasanya hal itu masih jauh sekali. Aku
sik ngeroso koyok arek cilik, Bim, kataku. Podo, Mey. Aku yo koyok ngeroso sek SMA, katanya. Kemudian kami
tertawa lagi. Etdah ketawa mulu.
Setelah melepas rindu dengan Bimo
aku akhirnya bertemu dengan pemilik Tjiebon. Sumpah demi apapun aku kangen
banget dengan kawan-kawan lamaku, Adjie tentu saja salah satunya. Adjie adalah
kawan yang baiiiiiiiiiik sekali. Saking baiknya aku kasih sepuluh i di kata
baik, itu menunjukkan kalau dia emang baik banget. Enggak percaya? Itung aja.
Dia adalah kawan sebangkuku dulu.
Kami sering bertengkar, marahan, sok-sokan pindah duduk, tapi ujung-ujungnya
tetap duduk sama dia lagi. Dulu, kalau aku belum punya buku paket dan dia punya
duluan, dia enggak segan buat berbagi. Dia baik deh pokoknya, tapi juga tengil.
Dan, ini yang selalu membuat
hatiku senang, dia masih tetap memanggilku Diana di saat yang lain Mey. Sebenarnya
awal masuk SD nama panggilanku Diana, entah kelas berapa kemudian ada yang
mulai panggil Mey, hingga akhirnya terbawa sampai hari ini. Over all, aku senang dia sehat dan
baik-baik saja.
Kawan lama lainnya yang bergabung
hari ini adalah Desy, Dimas dan Dicky. Guys,
kalian enggak mau bikin grup lawak aja? Namanya ... Tri D. Jiaaaaa~
Sepanjang bertemu kami ngobrol
banyak sekali (kecuali Bimo karena durasi dia nelpon sama durasi ngobrol sama
kami panjangan durasi nelpon, mana ursan kerjaan lagi, kan jadi enggak enak ya
ngajak Bimo pas lagi sibuk-sibuknya kerja, mana nelponnya enggak sekali dua
kali tapi berkali-kali, wkwk). Kami nostalgia, kami bertanya kabar kawan-kawan
lain, kami foto-foto, kami dapat jamur juga dari Adjie. Ya ampun. Tuh, kan, dia
tuh emang baik bangettt.
Aku menyadari hal lain lagi hari
ini. Old friends are best, itu benar
adanya. Merawat sirkel pertemanan sehat sungguh enggak ada ruginya. Jadi, buat
kalian yang masih punya pertemanan yang baik dan sehat, dijaga, ya. Bener, deh,
enggak akan ada ruginya.
Akhir kata, thank you for today, guise. Semoga kalian selalu sehat, selalu
dalam lindungan Tuhan, selalu dimudahkan segala urusannya. Buat Adjie dan
Dicky, semoga kehidupan rumah tangga kalian selalu diberkati.
Sampai ketemu di pertemuan-pertemuan kecil menyenangkan lainnya, ya.

