Sabtu, 17 Juli 2021

PERTEMUAN-PERTEMUAN KECIL MENYENANGKAN

Juli 17, 2021 0 Comments

Semakin bertambah usia, peristiwa bertemunya kembali kita dengan kawan baik di masa lalu menjadi begitu istimewa. Duduk bersama, berbagi cerita, menertawakan masa lalu dan pulang ke rumah masing-masing dengan hati yang hangat.

Hari ini aku mengalami hal tersebut. The day when I met my precious old friends. Aku bahkan tidak pernah membayangkan hari ini akan ada. Bercengkerama dengan teman-teman zaman sekolah dasar dulu.

Semua berawal dari sebuah foto yang aku jadikan status WhatsApp tempo hari. Aku berpose dua jari di sebuah halaman sekolah yang tentu bisa dengan mudah ditebak oleh kawanku yang juga bersekolah di sekolah yang sama, SD N 1 Taman Baru (sekarang SD N Taman Baru). Dua orang teman memberi komentar dan singkat cerita kami berakhir pada sebuah agenda.

Sebuah agenda yaitu bertemu di sebuah kafe tempat salah seorang kawan kami, yang berada di dekat SD kami itu. Kebetulan pemilik kafe ini juga adalah kawan SD. Coincidence? Of course not. Hehehe.

Selesai siaran aku langsung menuju Tjiebon –nama kafe tersebut– yang ternyata Bimo sudah duduk manis di sana. Dari belakang aku ragu-ragu menyapa pria berbaju hitam yang memunggungiku itu. Ini Bimo bukan, ya? Well, karena sudah lamaaa sekali aku tidak bertemu dia.

Setelah memastikan bahwa dia benar Bimo dan kami bertukar kabar, muncul sebuah pertanyaan. Kapan terakhir kali kita ketemu? Yo SD, jawab dia. Kami tertawa. Tapi, seingatku tidak. Kami pernah bertemu tapi lupa dimana. Entah di UNTAG atau di tempat lain.

Selama ini aku mengira Bimo berkarir di luar Banyuwangi. Tapi, ternyata tidak. Dia sudah empat tahun ada di Banyuwangi. Itu kenapa aku berani mengajaknya bertemu. Ngobrol sebentar dengan Bimo aku rasa kami satu gelombang frekuensi. Kenapa? Ketika kami bahas soal menikah rasanya hal itu masih jauh sekali. Aku sik ngeroso koyok arek cilik, Bim, kataku. Podo, Mey. Aku yo koyok ngeroso sek SMA, katanya. Kemudian kami tertawa lagi. Etdah ketawa mulu.

Setelah melepas rindu dengan Bimo aku akhirnya bertemu dengan pemilik Tjiebon. Sumpah demi apapun aku kangen banget dengan kawan-kawan lamaku, Adjie tentu saja salah satunya. Adjie adalah kawan yang baiiiiiiiiiik sekali. Saking baiknya aku kasih sepuluh i di kata baik, itu menunjukkan kalau dia emang baik banget. Enggak percaya? Itung aja.

Dia adalah kawan sebangkuku dulu. Kami sering bertengkar, marahan, sok-sokan pindah duduk, tapi ujung-ujungnya tetap duduk sama dia lagi. Dulu, kalau aku belum punya buku paket dan dia punya duluan, dia enggak segan buat berbagi. Dia baik deh pokoknya, tapi juga tengil.

Dan, ini yang selalu membuat hatiku senang, dia masih tetap memanggilku Diana di saat yang lain Mey. Sebenarnya awal masuk SD nama panggilanku Diana, entah kelas berapa kemudian ada yang mulai panggil Mey, hingga akhirnya terbawa sampai hari ini. Over all, aku senang dia sehat dan baik-baik saja.

Kawan lama lainnya yang bergabung hari ini adalah Desy, Dimas dan Dicky. Guys, kalian enggak mau bikin grup lawak aja? Namanya ... Tri D. Jiaaaaa~

Sepanjang bertemu kami ngobrol banyak sekali (kecuali Bimo karena durasi dia nelpon sama durasi ngobrol sama kami panjangan durasi nelpon, mana ursan kerjaan lagi, kan jadi enggak enak ya ngajak Bimo pas lagi sibuk-sibuknya kerja, mana nelponnya enggak sekali dua kali tapi berkali-kali, wkwk). Kami nostalgia, kami bertanya kabar kawan-kawan lain, kami foto-foto, kami dapat jamur juga dari Adjie. Ya ampun. Tuh, kan, dia tuh emang baik bangettt.

Aku menyadari hal lain lagi hari ini. Old friends are best, itu benar adanya. Merawat sirkel pertemanan sehat sungguh enggak ada ruginya. Jadi, buat kalian yang masih punya pertemanan yang baik dan sehat, dijaga, ya. Bener, deh, enggak akan ada ruginya.

Akhir kata, thank you for today, guise. Semoga kalian selalu sehat, selalu dalam lindungan Tuhan, selalu dimudahkan segala urusannya. Buat Adjie dan Dicky, semoga kehidupan rumah tangga kalian selalu diberkati.

Sampai ketemu di pertemuan-pertemuan kecil menyenangkan lainnya, ya.