Kamis, 07 April 2022

PENYIAR RADIO DI HALAMAN BELAKANG ALBUM FOTO

April 07, 2022 0 Comments

Pada tahun 1994, seorang perempuan membuka sebuah kado pernikahan yang berisi album foto. Album foto berwarna hitam dengan gambar perempuan asing di sampul depan. Perempuan yang sangat jelita. Album foto itu lantas digunakan untuk meletakkan beberapa dokumentasi pernikahan si perempuan. Tidak hanya foto-foto pernikahan, tapi juga foto-foto masa muda dan beberapa dokumentasi potret dirinya sebelum pernikahan.

Di balik sampul depan album foto, si perempuan meletakkan beberapa foto yang ia gunting dari sebuah koran. Potret satu keluarga yang amat ia kagumi, hingga hari ini. Ia beri keterangan di atas gambarnya, keluarga bahagia. Keluarga itu adalah keluarga Muchsin Alatas. Ada juga guntingan koran yang menampakkan wajah Desy Ratnasari ketika muda. Entah dua foto itu dari koran apa dan edisi tahun berapa.


Di halaman belakang, perempuan tersebut meletakkan foto seorang penyiar radio yang sedang berada di ruang siaran. Terdapat wadah kaset berwarna biru di dekatnya dan juga terlihat mixer serta mic siaran, khas studio radio. Penyiar bernama Anik itu memakai baju berwarna pink, rambutnya indah tergerai sebatas punggung. Anik terlihat sedang duduk di kursi plastik berwarna putih. Darimana saya tahu penyiar itu bernama Anik? Karena si perempuan juga menggunting beberapa keterangan yang kemudian ia tempel di sisi-sisinya.

Radio Kasihku Bumiayu. PT Radio Kelana Sumbangsihku yang lebih populer dengan sebutan Radio Kasihku di Kotif Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menangkap bulan Ramadhan sebagai peluang. Begitu keterangan yang saya baca di halaman belakang album foto itu. Keterangan yang lain juga mencantumkan tulisan: Penyiar Anik sedang bertugas di studio satu, juga mencantumkan keterangan lain, yaitu: Kompas, Rabu, 29 Januari 1997.

Dari sana saya tahu bahwa koran yang digunting oleh perempuan itu adalah koran Kompas edisi 29 Januari 1997 (jika merujuk pada keterangan ini bisa jadi foto keluarga Muchsin Alatas dan Desy Ratnasari di sampul depan itu juga dari koran edisi yang sama). Dan, perempuan itu adalah ibu saya.

Sampai hari ini jika saya bertanya apa alasan ibu menempel foto penyiar radio tersebut, jawabannya selalu sama, “Enggak tahu, bagus aja, keren gitu.” Hingga akhirnya, dua puluh dua tahun kemudian anaknya menjadi seorang penyiar radio.

Saya seperti dibukakan jalan oleh Tuhan. Sejak kecil akrab dengan yang namanya radio, sejak kecil akrab dengan suara penyiar yang keluar dari radio, sejak kecil juga sudah terbiasa berkirim atensi ke radio. Dan, sejak kecil saya sudah melihat gambar yang ibu tempel di halaman belakang album foto itu. Entah merasa tersugesti atau bagaimana, saya juga mau kelak menjadi seperti Penyiar Anik.

Long story short, beberapa waktu yang lalu saya dan ibu bernostalgia dengan melihat-lihat album foto tersebut. Hingga sampai di halaman belakang itu saya iseng memeriksa apakah Radio Kasihku Bumiayu itu masih mengudara atau tidak. Saya ambil handphone dan mulai mengetikkan namanya di google.

Surprisingly, radionya masih mengudara hingga hari ini. Saya dan ibu speechless. Tidak menyangka bahwa kami bisa mendengarkan radio yang selama ini hanya tersimpan rapi di halaman belakang album foto, tanpa pernah mendengarkan suaranya. Waktu kami mendengarkan, Radio Kasihku Bumiayu sedang memutar lagu-lagu tanah Hindustan.

Dulu, tentu mustahil bagi ibu untuk bisa mendengarkan radio yang jauh sekali, terpisah provinsi. Tapi, sekarang dengan kemajuan teknologi, kami bisa mendengarkan Radio Kasihku Bumiayu. Bahkan saya bisa melihat aktivitas mereka lewat instagram.

Rasanya seperti menelusuri waktu. Disadari atau tidak, Radio Kasihku memiliki history yang berarti dalam perjalanan profesi saya sebagai penyiar radio. Mungkin jika dulu ibu tidak menempel potongan koran Kompas itu, saya pun tidak punya naluri untuk menekuni dunia siaran. Mungkin jika dulu ibu menempel foto petugas pemadam kebakaran, bisa jadi hari ini saya sudah menjadi pengendali api yang pantang pulang sebelum padam. Mungkin jika dulu ibu menempel foto Nia Daniaty sedang konser, bisa jadi hari ini saya sudah menjadi pengusaha gelas kaca. Wallahua’lam.

Saya berdoa agar Radio Kasihku Bumiayu terus mengudara hingga nanti saya punya kesempatan untuk datang langsung ke radio yang membuat saya mau menjadi seorang penyiar radio itu. Syukur-syukur jika saya bisa bertemu juga dengan Penyiar Anik.