Jumat, 30 Desember 2016

Terimakasih, HTI

Desember 30, 2016 2 Comments
Seharusnya saya menulis ini sudah lama, sejak tanggal 18 Desember lalu. Tapi tak apa, karena saya menulis berdasarkan mood. Jadi mohon di maklumi apabila akhir-akhir ini blog saya jadi sepi. Yang terpenting nggak angker, dah, gitu aja.

Baiklah, 18 Desember lalu saya mengikuti salah satu acara. Acara seminar. Emm, bukan. Lebih tepatnya Kongres. Ya, Kongres Ibu Nusantara.

Yup, betul sekali. Ini acara yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia. Acara tersebut digelar di aula Rumah Sakit Fatimah. Sehari sebelum acara, Intan mengirim pesan melalui WA. Dia menanyakan apakah saya free Ahad besok. Waktu itu, sebenarnya Ahad saya harus ke Gintangan untuk beberapa urusan. Namun, ketika saya menerima pesan ajakan Intan yang disertai dengan poster KIN, saya lebih memilih ikut Kongres.

Sejak saya menerima kiriman poster itu, saya belum tahu bahwa itu adalah acara yang di selenggarakan oleh HTI. Baru ketika Ahad pagi, saya cek timeline twitter, saya lihat Kongres Ibu Nusantara menjadi trending topic. Saya penasaran, apa sebenarnya KIN ini? Saya cukup kaget ketika akun official HTI memproklamirkan acara Kongres Ibu Nusantara. Perasaan saya tiba-tiba jadi aneh.
Ah, kepalang tanggung. Saya sudah mandi, sudah rapi, sudah wangi, sudah cantik, masa iya nggak jadi berangkat? Saya juga menghargai Intan sebagai adik, kawan, sahabat yang sudah meminta saya untuk datang. Selain karena Intan, saya juga tertarik dengan tema yang dipaparkan “Negara Soko Guru Ketahanan Keluarga”. FYI, akhir-akhir ini saya begitu tertarik dengan seminar-seminar berbau parenting. Kata teman, “Wes wayae kowe iku, Ka.” Iya, waktunya move on saya, mah.

Akhirnya setelah memantapkan hati dan pamitan ke Abah (Abah aja, karena Ibu lagi nginap di rumah Mak e) saya keluar rumah dengan anggunnya. “Jalan?” kata Abah. Lailahaillallah, Fatimah doang masa iya naik pesawat?
 
Ahad pagi itu jalanan lengang, saya jalan kaki melewati sisa-sisa kenangan genangan hujan semalam. Tidak sampai sepuluh menit, saya sampai. Di pelataran rumah sakit saya bisa melihat Intan yang cantik dengan gamis hitam dan jilbab putihnya. Sayangnya, Intan nggak bisa melihat saya yang gorgeous ini masuk pelataran rumah sakit, dia minus. Hmmm -__-

Setelah cipika-cipiki, kami naik ke atas, tempat aula bersemayam. Dari bawah saya sudah bisa mendengar lagu-lagu islami yang di putar. Saya patut memberikan apresiasi kepada muslimah-muslimah HTI. Cara mereka menyapa dan mempersilahkan saya, sungguh luar biasa. Senyum selalu menghiasi wajah mereka. Intinya, mereka mampu membuat siapa saja betah dan nyaman berada di sisi mereka. Deuuuuuuh, istri-able banget sih Mbak-mbaknya.

Masuk ke aula, aura bahagia juga menyeruak. Saya pikir sih ini efek lagu yang di putar. Lagunya enak, bikin betah. Hanya saja saya tidak tahu judul lagu yang di putar, yang saya tahu penyanyinya Opick.

Saya duduk paling depan. You know me so well, lah ya, nggak suka duduk belakang. Sembari menunggu acara dimulai, saya membaca handout yang diberikan oleh panitia di tempat registrasi tadi. Saya sempat mendokumentasikan cover handout tersebut dan menjadikannya DP BBM, yang pada akhirnya nanti menjadi bahan interogasi seseorang.

Setelah membaca selembar dua lembar bacaan tersebut, saya sedikit mengerti kemana arah Kongres ini nanti bermuara. Dalam buku bersampul putih itu dijelaskan pokok-pokok permasalahan yang melanda generasi muda negeri ini. Pergaulan bebas, narkoba, kekerasan seksual, aborsi, prostitusi, dan tindakan-tindakan amoral lainnya. Bagaimana kerusakan generasi kita yang disebabkan oleh persoalan sistemik. Kerusakan generasi muda hakikatnya disebabkan oleh beberapa faktor yang berjalin berkelendian, tak bisa dipisahkan. Bukan sekedar masalah keluarga atau pendidikan saja, melainkan juga melibatkan faktor-faktor lain seperti sosial, ekonomi, budaya dan politik yang menjadi lingkungan bagi keluarga dan institusi pendidikan.

Pendidikan menjadi fokus utama para aktivis HTI untuk dibenahi. Menurut mereka ada tiga pilar yang saling mendukung dalam dunia pendidikan, yaitu pendidikan di dalam keluarga, pendidikan di masyarakat (edukasi publik) dan pendidikan dalam institusi pendidikan. Salah satu pilar itu rapuh, akan berakibat pada kerapuhan secara keseluruhan dalam sistem pendidikan. Di masa sekarang, tiga pilar itu rapuh, dan tidak bisa diperbaiki hanya dengan sekedar tambal sulam, melainkan harus membongkarnya dan membangun ulang dari dasarnya.

Saya terhenyak. Membangun ulang dari dasarnya? Saya simpan segala rasa penasaran hingga acara dimulai. Jujur saja, saya mengetahui apa itu HTI, bagaimana tujuan mereka, dan apa ideologi mereka, sebenarnya belum lama ini. Mungkin saat itu saya duduk di awal semester tiga. Waktu itu tidak sengaja kami (saya dan seseorang yang saya kenal) ngobrol tentang organisasi mahasiswa ekstra kampus. Seperti GMNI, PMII, HMI, KAMMI, PII, dan lainnya. Lantas beliau menyinggung soal HTI. Saya juga nggak ngerti, dari sekian banyak orang yang menganggap saya lulusan pondok pesantren, hanya beliau yang bilang saya pantas jadi kader HTI. Ditambah pula, di Untag tempat saya kuliah hanya ada tiga bendera yang cukup besar. GMNI, PMII, HMI. Jadi saya kurang paham dengan ormek-ormek yang biasa hadir di tengah kampus-kampus negeri di kota besar sana.

Akhirnya saya di beri penjelesan mengenai apa itu HTI dan segala tetek bengeknya. Saya juga pernah mencari informasi mengenai pendiri HTI dan persebarannya di dunia melalui internet. Dan lucunya juga, saya sempat mengidolakan salah satu kader HTI yang menjadi ustadz, hanya karena status-statusnya mengenai islam sangat kekinian. Apalagi mengenai pacaran, waktu itu saya menjadi perempuan yang merasa memiliki banyak pendukung. Entah bagaimana ceritanya, saya akhirnya tahu bahwa beliau adalah kader HTI. Perlahan saya berhenti mengikuti tweet-tweet beliau, yang saya rasa semakin ekstrim.

Jika mengingat masa-masa itu, saya bersyukur sekali. Istilahnya, saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk merasakan dan melihat bagaimana mereka. Saya lihat ceramah beliau, saya juga baca buku karangan beliau. Dari itu semua saya belajar. Pengetahuan tentang mereka jadi bertambah.
Kembali lagi ke acara KIN. Satu lagi hal yang patut saya apresiasi kepada HTI. Cara mereka mengorganisir kegiatan/acara begitu baik. Mereka menyiapkan dengan baik setiap detail kebutuhan acara. Hanya ada satu hal yang tidak mereka lakukan dengan baik. Molor. Saya rasa hampir semua organisasi tidak bisa menghindar dari yang namanya molor ini. Hahaha.

Seorang moderator yang juga merupakan pegawai di Kemenag mempersilakan ketiga narasumber untuk duduk di tempat yang telah disediakan. Semuanya perempuan. Mereka mmemanggilnya ustadzah. Satu seorang guru MTs, dua lainnya praktisi kesehatan. Saya suka narasumber yang pertama. Beliau adalah guru di salah satu MTs, saya lupa MTs mana, nama beliau saja saya lupa. -__-
Pembawaannya kalem, cara menyampaikan materi sangat jelas, guru banget lah pokoknya. Beda lagi pemateri kedua, gimana ya? Kadang saya kaget sendiri ketika di tengah-tengah penjelasan beliau meninggikan suara, mirip orang orasi.

“75 juta penduduk yang belum mendapatkan rumah! Padahal tanah kita ini sangat luas, dan itu diberikan secara cuma-cuma oleh Allah!”

Saya yang tadi kendor tiba-tiba jadi duduk tegak. Luar biasa sekali ustadzah kita ini.

Saya ikuti pemaparan hingga sampai pada pernyataan beliau yang mengeluarkan data bahwa, “Kurang lebih 500 janda baru lahir di Banyuwangi setiap bulannya.” Oke, noted. Beliau kembali memaparkan materi. Menurut beliau salah satu faktor dari kehancuran keluarga adalah solusi salah arah yang banyak dilakukan orang-orang di negara demokrasi ini. Hari ini manusia bekerja tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja. Mereka bekerja untuk mencukupi kepuasan mereka terhadap hal-hal duniawi. Perilaku yang semakin hedonis membuat wanita juga bekerja/mencari nafkah. Di dalam islam sudah menjadi kewajiban laki-laki/suami untuk bekerja/mencari nafkah.

Nah, kembali kepada sifat manusia yang hedonis tadi. Karena kebutuhan yang semakin meningkat, akhirnya para istri juga ikut bekerja (dengan alasan kesetaraan gender). Ketika si Ibu saja bekerja, akhirnya si anak juga tak masalah jika ikut bekerja. Begitu seterusnya. Andai saja negara ini menjadi negara khilafah, pasti tidak akan ada fenomena-fenomena seperti itu. Istri bekerja, anak bekerja. Hal seperti itu lah yang akhirnya bermuara pada kehancuran keluarga.

Saya terkesiap ketika slide selanjutnya di tampilkan. Disana tertulis jelas kalimat “Memberdayakan Perempuan Bukan Solusi”. Karena akan ada berbagai dampak yang di akibatkan. Pelecehan perempuan meningkat. Perceraian meningkat. Anak mencari pelarian (miras, narkoba). Problem sosial (kriminalitas) meningkat.

Bagaimana bisa memberdayakan perempuan bukan solusi ketika beliau saja telah menunjukkan data bahwa 500 janda baru lahir tiap bulannya? Lantas mau diapakan para janda-janda ini jika tidak diberdayakan? Janda itu perempuan, kan? Sekarang begini, tidak ada saya rasa perempuan yang mau menjadi janda. Setiap perempuan pasti ingin memiliki keluarga yang harmonis, yang bahagia, sehingga tidak perlu ada perceraian yang mengakibatkan dirinya janda. Ada banyak faktor perceraian. Nah, ketika sudah jadi janda seperti itu, lalu perempuan ini tidak memiliki keahlian apa-apa karena tidak pernah diberdayakan, apa yang akan kita lakukan?

Saya tahu para aktivis HTI pasti akan menunjukkan saya Pasal 156 Rancangan UUD Khilafah oleh Hizbut Tahrir yang menyatakan bahwa: Negara menjamin biaya hidup bagi orang yang tidak memiliki harta dan pekerjaan atau jika tidak ada orang yang wajib menanggung nafkahnya.

Duh, saya kenapa jadi mikir terlalu jauh dan dalam gini. Mbok ya proposal skripsi aja yang dipikirin dalam-dalam.

Sederhana saja sebenarnya, jika memang mereka menginginkan negera khilafah berdiri di Indonesia, seharusnya mereka bisa memberi contoh dulu. Lha untuk apa ceramah tentang perempuan tidak boleh bekerja tapi mereka sendiri (narasumber) adalah apoteker dan guru?

Omong-omong, terimakasih atas ilmunya hari itu. Terimakasih juga Intan yang telah sudi mengajak saya ke acaranya. Saya belajar lagi, wawasan saya bertambah lagi. Saya tertarik loh dengan HTI, seriusan. Tapi saya nggak siap kalau harus ngelus dodo all day long. Lain kali saja, yaa. Lagi pula kepribadian saya yang njelimet ini nggak cocok dengan kalian yang sungguh anggun indah mempesona. Wis lah, saya jadi warga Nahdliyin ajah. Heuheueheueheu ...


Senin, 12 Desember 2016

Janu's Wedding

Desember 12, 2016 0 Comments
Akhirnya selesai sudah segala ritual pernikahan Mas Janu dan Novia. Segala doa dan harapan untuk pengantin baru meluncur dari setiap ucapan para tamu. Perayaan pernikahan yang bernuansa abu-abu itu berlangsung khidmat di Gedung Korpri.

Di hari berbahagia ini saya dan para sepupu lainnya berkesempatan untuk turut menjadi bagian dari kebahagiaan mempelai. Empat jam sebelum acara, saya dan Nia sudah tiba di rumah Mas Wiwin, yang merupakan pusat dari segala macam aktivitas rias merias.

Ini merupakan pertama kali saya di rias setebal dan seserius ini lagi setelah tiga tahun yang lalu, ketika karnaval saat SMK. Setelah membersihkan wajah, mulailah tangan si ibu perias yang ternyata adalah teman dari istri dosen saya, memoles segala macam benda yang saya tidak tahu apa namanya.
Sejak pada polesan pertama saya sudah merasakan beban yang amat berat pada wajah saya. Apalagi ketika sampai pada bagian pemasangan bulu mata, lailahaillallah rasanya ini mata belekan, gaes.

Kurang lebih setengah jam saya berada dalam posisi duduk bersila, yang menyebabkan kaki kesemutan pada akhirnya. -____-
Selesai dirias, saya berganti pakaian yang dibantu oleh seorang ibu. Dengan segala kerepotan dan keruwetan yang terjadi, akhirnya selesai lah saya dengan pakaian abu-abu itu.

Wajah selesai. Pakaian selesai. Kini saatnya jilbab. Saya menghampiri seorang ibu yang bertugas memakaikan jilbab. Dari sana saya tahu bahwa jilbab yang terpasang manis di kepala saya ini membutuhkan 16 jarum, 2 jepit konde, 1 peniti besar dan 1 bross. Bukan main sodara-sodara. Jelas membutuhkan kesabaran yang ekstra joss untuk melepas jilbab itu dalam keadaan tubuh yang sudah teramat lelah. Kalau nggak sabar, bisa-bisa saya kesirep dengan tetap pakai jilbab. Shooting film, kali ah.

Akhirnya setelah selesai semuanya, pukul 18.00 para penerima tamu berangkat ke Gedung Korpri, tempat acara dihelat.
Oh ya, gaes. Hari ini pula saya baru tahu jika istri Mas Janu itu ternyata adik kelas saya ketika di SMK. Benar-benar kuasa Tuhan, ya. Saya tidak menyangka sama sekali bahwa perempuan yang saya ketahui, yang tengah dirias di rumah Mas Wiwin tadi adalah mempelai wanita. Saya pikir ya dia juga penerima tamu, sama seperti saya dan sepupu saya lainnya. Wkwkwk, maaf ya, Nov.

Sejak dapat undangan saya memang tidak tahu bahwa Novia yang tertulis di undangan adalah Novia adik kelas saya. Di samping saya tidak tahu bahwa perempuan itu bernama Novia, di sekolah dulu saya hanya sebatas tahu wajahnya, tidak namanya. Ah, dunia memang tak lebih lebar dari daun kelor, ya.

Jadilah akhirnya malam itu ajang reuni bagi saya dan beberapa adik kelas AK 3 yang saya kenal. Mereka juga tidak menyangka jika akhirnya saya dan Novia menjadi saudara sekarang. Ya kadang kejutan Tuhan itu semengejutkan ini, gaes.

Dan di akhir acara, ketika akan pulang barulah akhirnya Novia menyapa saya. Mungkin dia baru sadar bahwa saya ini adalah kakak kelasnya dulu. Hmmm, ya gini deh nasib siswi yang dulunya kuper dan nggak famous di sekolah, wkwkwkwk.

Sebenarnya saya ingin ngobrol panjang lebar dengan Novia semalam. Biasa lah ya naluri perempuan, naluri kepo. Berhubung hari sudah malam dan harus pulang, yaa gagal sudah keinginan ngobrol.
Pada akhirnya saya hanya bisa mendoakan semoga kehidupan rumah tangga mereka selalu dirahmati keberkahan. Dijauhkan dari segala fitnah, iri dan dengki. Masing-masing mempelai dapat menjaga kebaikan nama keluarga. Dan semoga diberikan keturunan yang baik serta shalih shalihah. Aamiin 

Kamis, 01 Desember 2016

Hari Aids Sedunia 2016

Desember 01, 2016 0 Comments

Alhamdulillah masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk turut berperan kembali dalam peringatan Hari Aids Sedunia pagi ini. Sejak tahun 2013, tiap tahun saya selalu bertemu dengan para relawan dan pegiat HIV dari berbagai elemen. Dari yang wajah itu-itu saja, hingga wajah-wajah baru yang bermunculan.

Sejak subuh hari, sejak saya dengan tergesa-gesa menyelesaikan santap sahur, hingga beberapa menit kemudian terdengar adzan berkumandang. Mandi, menyelesaikan pekerjaan rumah, lalu tepat pukul setengah 6 saya berangkat. KPA masih lengang ketika saya sampai. Hanya beberapa rombongan anak sekolah, beberapa petugas keamanan, serta sound system yang sudah memutar lagu-lagu dengan dangdut-nya, eh, meriahnya.

Atmosfer yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Banyak orang kesana-kemari, lalu lintas yang masih lengang, dan tentunya semangat para relawan. Saya sedih ketika mendapati kenyataan bahwa kuantitas KMPA semakin tahun semakin menurun. Entah itu KMPA Untag ataupun KMPA Banyuwangi. Hari ini wajah yang saya temui ya itu lagi itu lagi. Mbak Aiz, Mas Habib, Mas Fauzi, Mbak Mariana. Mbak Aiz bilang, “Perasaan tiap tahun yo iki-iki tok KMPA-ne.” Saya nggak nyahut. Lha wong bener.

Pukul 06.00 pagi rombongan berangkat dari depan KPA. Iring-iringan berjalan dengan tertib dan lancar. Saya dan Mbak Aiz mengambil posisi sebagai salah satu penyebar virus, eh, leaflet. Membagikan ke tiap-tiap masyarakat yang sedang antusias menonton kami di pinggir jalan. Beragam ekspresi yang saya terima, ada yang dengan ramahnya menyambut pemberian saya, ada pula yang dengan cueknya ngelihat saya aja enggak. Hiks ...
Sampai akhirnya saya tiba di sebelah dealer Yamaha. Seperti sudah ter-set secara otomatis, memori masa lalu saya terputar kembali. HAS tahun lalu ada yang namanya #HugChallenge, dimana saya harus meyakinkan masyarakat untuk berkenan memeluk saya (yang pada waktu itu saya memakai kalung dengan bertuliskan “Saya HIV+”. Hal ini dilakukan semata-mata untuk meyakinkan masyarakat bahwa HIV tidak menular melalui pelukan). Dan di dealer Yamaha ini lah saya mendapat pelukan kedua saya waktu itu, kalau tidak salah. Nah, berhubung hari ini tidak ada challenge yang harus kami lakukan, ya kami hanya membagikan leaflet saja.

Di sebelah delaer saya menghampiri Ibu-Ibu yang sudah segar, cerah ceria di Kamis pagi yang manis ini. Dengan penuh ceria pula saya memberikan beberapa leaflet untuk beliau-beliau. Betapa senang diriku ketika disambut senyum sumringah mereka, makin semangat lah saya ngomporin mereka. Hahaha . . .

Ada beberapa kejadian lucu yang menghiasi HAS pagi tadi. Sempat saya menghampiri siswi Madrasah Aliyah yang sedang berhenti untuk melihat rombongan aksi. Saya hampiri dan mulai basa-basi, “Tahu nggak hari ini hari apa?”, dia dengan ragu-ragu menjawab “Mmm world aids day.” Saya tahu sebenarnya dia jawab itu, hanya saja nggak kedengeran karena suaranya yang pelaaaaaaan sekali. “Apa?” | “Nggg, nggak tahu deh, Mbak.” Saya tertawa, dia pun ragu-ragu ikut tertawa. Yah, mayan lah pagi-pagi ngerjain anak gadis orang. Wkwkwkwk.

Sama halnya ketika sampai di depan Dinas Koperasi. Saya melihat dua dedek-dedek lagi PSG sedang menonton rombongan aksi. Sama halnya seperti yang saya lakukan pada siswi Madrasah Aliyah tadi. “Dek, tahu nggak sekarang ini hari apa?” salah satu dari mereka menjawab dengan polosnya, “Hari Kamis, Mbak.”

____ Hening ____

Minggu, 20 November 2016

Mini Reuni

November 20, 2016 0 Comments

Seperti yang telah disepakati kemarin, hari ini saya dan Lutfi hang out bareng. Sekedar menyegarkan pikiran dan temu kangen.

Sebenarnya rumah saya dan Lutfi tidak terlalu jauh. Tidak sampai lima menit jika ditempuh menggunakan motor. Namun, jarang sekali kami mengunjungi satu sama lain. Ah, manusia macam apa kami ini.

Sore ini kami keluar tanpa tujuan hingga motor berhenti di lampu merah perliman. Di lampu merah itulah akhirnya kami sepakat untuk pergi ke Taman Blambangan.

Sampai di sekitaran Telkom, secara tidak sengaja saya ngecek ponsel. Ada pemberitahuan BBM. Missed BBM Call dari Inda. Di atasnya ada pesan dari dia: Mbel. Dimana? Hayuk nongkrong. Aku otw ke bwi ini.
Saya langsung membalas untuk menunggunya di Blambangan bersama Lutfi.

Sembari menunggu Inda datang, saya dan Lutfi jalan-jalan di sekitar taman. Kami menuju panggung pertunjukan yang sedang penuh oleh orang-orang. Ada gladi resik. Saya kurang paham acara apa yang akan dilaksanakan. Hanya saja Lutfi bilang itu adalah kelanjutan acara semalam. Oh, mungkin festival pesisir selatan itu. Mungkin.

Dari pengisi-pengisi acara yang sedang GR, ada satu lagu yang dibawakan dengan musik yang sangat unik menurut saya. Semacam perpaduan musik melayu, india, dan musik-musik khas Indonesia Timur. Saya tidak tahu liriknya, tapi yang jelas musiknya membuat siapa saja ingin goyang.

Setelah hiburan gratis yang saya dan Lutfi dapatkan, Inda datang. Kami bertiga saling melepas rindu. Setelah cekrak-cekrek kesana kemari, kami jama'ah maghrib di MAB.

Dari MAB, seperti yang sudah saya dan Lutfi rencanakan, kami menuju Mie Pitik Mbok Gendhis. Yang tidak lain dan tidak bukan CEO nya adalah kawan kami sendiri. Jadi, sekali temu kangen, empat orang terobati. Hehehe.

Saat kami tiba, seperti yang sudah kami duga, Mila tengah sibuk dengan oven dan teman-temannya. Sempat juga kami mencicipi Ogura-nya yang tengah jadi primadona warga. Yah, meskipun itu Ogura produk gagal, tapi rasa dan teksturnya warbiyaaaaaaza. Tiga Ogura sukses hijrah ke perut saya. Hahaha.

Selesai makan kami menuju Boom. Target kami berikutnya yakni tahu walek. Kami beli dua bungkus dan memakannya di dekat pantai. Kenapa harus ke Boom? Karena Bunda kami (Inda) sedang ngidam, pingin semilir anginnya pantai.

Sambil menikmati tahu walek, yang sebenarnya tidak terasa begitu nikmat (karena kami kekenyangan Mie Pitik) keluarlah segala keluh kesah yang ada. Malam ini saya akhirnya jadi tahu, ternyata teman tomboy saya satu itu baru saja putus cinta. Hubungan mereka hanya bertahan dua bulan lebih. Alasannya? Ah, itu dokumen negara. Sangat rahasia. Hahaha.

Dan Inda. Sejak kejadian bioskop lalu, ini pertama kalinya saya bertemu dengannya. Banyak cerita yang dia tumpahkan pada kami (Saya dan Lutfi). Tentang kondisi kesehatannya akhir-akhir ini. Hingga tentang kabar asmaranya.

Yang jelas, malam ini saya bersyukur masih dapat berkumpul dengan teman-teman lama. Di tengah kesibukan kerja mereka. Kami saling berbagi cerita dan juga mengenang masa-masa SMK.

Kadang pertemuan yang tidak direncanakan itu jadi lebih berkualitas. Cerito ngetan ngulon sampek elek. Suwun, rek.

Semangat menghadapi Senin yang padat.

Kepang Rambut

November 20, 2016 0 Comments

Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya waktu itu tiba. Waktu dimana saya bisa ngepang rambut. Akhirnyaaa ...

Jadi, ceritanya semalam saya minta tolong ke Ibu untuk ngepang rambut saya. Dari jaman saya sekolah dulu (tk - smp) ibu adalah hair stylist andalan saya. Mulai dari kuncir tengah, kuncir semua, sampai pinti urang.

Saya juga selalu menikmati saat-saat dimana tangan ibu dengan cekatan mentreatment rambut saya. Penuh kasih dan sayang *eaaa
Dari kegiatan ngepang rambut itu pula, saya dan ibu biasanya terlibat curhat-curhat colongan, wkwkwk.

Lalu tiba-tiba saja, sebenarnya ini bukan pertama kalinya, ibu bilang "Belajaro ngepang, mosok gak iso-iso." Saya hanya bisa manyun dan ngangguk-ngangguk.
"Mbesok piye lek ngepang anak e, mosok nggak iso."
"Kan enek ibuk e." Saya jawab.
"Opo-opo kok ibuk e ae."
-_____-

Dan semalam, pertama kalinya saya belajar ngepang. Saya belajar ngepang rambut ibu saya, tentu dengan bimbingan beliau. Sebenarnya semalam itu kami banyak guyonnya daripada belajarnya. Apa'an, baru juga tahap pertama, ibu saya tiba-tiba ngikik nggak jelas. Saya kan jadinya juga ikut ketawa.

Rambut ibu saya juga pendek dan licin, jadi agak susah untuk dibentuk-bentuk. Tapi karena hanya ada dua perempuan di rumah kami, mau tidak mau ya hanya ibu saya yang bisa jadi objek percobaan. Ngepang rambut sendiri? Ya nggak mungkin juga.

Setelah instruksi-instruksi yang diberikan ibu, akhirnya saya bisa menyelesaikan langkah-langkah selanjutnya dengan "apa adanya".
Yah, meskipun baru belajar, tapi hasil kepangan saya lumayanlah. Lumayan berantakan, hahahaha.

Ibu bilang, "Nggak apa-apa, namanya juga belajar."
Yup, betul sekali. Masih harus banyak latihan agar hasil kepangan saya lebih sedap dipandang mata.

Dan juga, masih buaaaaaanyak hal-hal yang harus saya pelajari (untuk jadi orang tua) selain daripada ngepang rambut.

Minggu, 13 November 2016

"Ngambang" Ending

November 13, 2016 0 Comments
Bagi mereka penggemar drama korea tentu sudah jadi santapan sehari-hari untuk cemas menunggu bagaimana akhir dari drama yang sedang mereka ikuti. Ditambah lagi dengan banyaknya spoiler yang berkeliaran di sosial media, menambah rasa penasaran ingin tahu kelanjutan cerita tiap episodenya.

Semalam saya buka twitter seperti biasa, lalu mendapati retweet-an yang di quote oleh Donat. Setelah saya buka, ternyata tweet tersebut bersisi tentang polling yang dilakukan oleh akun @TheDramaKorea. Dengan memberi caption ‘Ending The K2 gak bahagia’ ada beberapa pilihan yang diberikan untuk di vote. Antara lain:

1.      Bodo amat!!!
2.      Bakar tvN!
3.      Kim Je Ha sayaaang + emot crying
4.      Jung Hwan ada temennya + emot laughing

Kemudian saya tanya siapa itu Jung Hwan pada Donat (maklum lah ya, saya newcomer di dunia KDrama), Donat bilang sepertinya itu drakor lain yang endingnya tidak bahagia alias sad ending. Saya hanya ber-oooo ria di dalam hati.

Lalu saya scroll lagi twitter, melihat reaksi para netizen (yang kebanyakan perempuan) pada pollingan tersebut. Ada satu reaksi yang membuat saya menahan tawa, dari akun bernama @ayuseptia, dia bilang ‘aku pecinta happy ending garis keras!’ buset, ngeri bener mbaknya.

@safirasas_yl : gpplah ending di drama g bahagia, asal ending di dunia nyata bahagia adanya #eakkk baper! + emot lope lope (kalau yang ini, sudah jelas nge-ship pemainnya, dia nggak peduli gimana ending dramanya, yang penting ending kisah nyata pemainnya, hmmm leh uga, mbak e)

@bitaBee : emang ending #YongPal bahagia min? (nah, mbak e pasti tukang ngulik-ngulik masa lalu, mbok ya hang uwes yo uwes, mbak)

@wienbiey_netnot : beneran nih endingnya sdih? *kekhawatiranku berbuah jd nyata* (cieee, cenayang ya, mbak?)

@ctrdewi : I VOTED BURN TVN BURN BURN BURN BAHAHAHA (waini, ayu-ayu anarkis, wkwkwk)

Dan masih banyak reaksi-reaksi lucu lainnya yang tidak mungkin saya tulis –dan saya nyinyirin- semuanya. Hingga saat saya menulis tulisan ini, polling tertinggi diraih oleh pilihan ‘Bakar tvN!’ dengan perolehan suara 37 %. Penggemar drakor kita ternyata akhlaknya ngamukan gitu, ya? Wkwkwk, guyon, gaes.

Sejatinya dalam kehidupan itu kita mengenal dua sisi yang saling berlawanan. Seperti ada siang dan malam. Perempuan dan Laki-laki. Baik dan Buruk. Begitu pun film, ada Sad dan Happy Ending. Seharusnya ya gitu. Kalau nggak sad ending, ya happy ending.

Namun kenyataannya kan tidak. Ada satu lagi jenis ending yang paling tidak disukai oleh kdrama lovers. Ngambang Ending. Ending seperti ini sejenis dengan Ngegantung Ending, dimana sedih segan bahagia tak mau. Dan drama yang paling mewakili ngambang ending ini adalah Moon Lovers. Drama yang akhir-akhir ini menjadi bahan gossip saya dan Donat, dikarenakan endingnya yang ngambang itu.

Beneran, deh. Saya juga tidak habis pikir kenapa akhirnya jadi seperti itu. Sempat beredar kabar bahwa akan ada episode tambahan untuk Moon Lovers. Namun, kenyataannya sampai hari ini tidak ada spoiler apapun di sosial media.

Ending Yong Pal masih lumayan lah, bisa saya terima meskipun tidak sepenuhnya. Lha Moon Lovers? Susah, gaes, untuk menerimanya. Seriusan. Ya, mudah-mudahan The K2 tidak mengalami akhir kisah yang ngambang. Duh, ribet bener dah perempuan! Dikasih sad ending nggak terima, baper berbulan-bulan. Maunya happy ending melulu.

Ya gimana. Namanya juga perempuan …

Cie, Nikah #2

November 13, 2016 0 Comments
Satu lagi gadis yang akhirnya melepas masa lajangnya di kelas saya. Gadis luar biasa yang setiap harinya berjuang pergi pulang Glenmore-Banyuwangi untuk gelar S.Sos-nya. Glenmore-Banyuwangi loh ya, bukan Pakis-Banyuwangi.  Nurhaini, namanya. Mereka yang berbudi pekerti luhur memanggilnya Mbak Heni, dan mereka yang budi pekertinya pas-pasan, memanggilnya Henot. Nah, saya memanggil beliau “Mbak Henot”. Silahkan nilai sendiri, dah, saya termasuk golongan yang mana. Wkwkwkwk …

Saya melihat Mbak Heni pertama kali saat perkuliahan berlangsung tiga tahun yang lalu. Waktu itu dia masih glondongan gitu, alias nggak berjilbab. Kami saling mengenal pun bukan lewat kenalan di kelas seperti teman-teman baru pada umumnya. Kami kenalan lewat Facebook waktu itu. Hingga waktu terus berjalan, kami sekelas akhirnya tahu dimana gadis mungil tersebut tinggal.

Mengetahui bahwa Mbak Heni PP dari Glenmore-Banyuwangi, saya takut membayangkan perjalanannya setiap hari. Apalagi dulu, saat semester-semester muda, kuliah selalu berakhir pukul 9 malam. Saya jadi bersyukur lagi. Rumah saya hanya selemparan tronton. Ya kalo selemparan batu, mah, rumah saya di depan kampus, alias deket banget.

Saya juga ingat Bapak dan Ibu pernah bertanya perihal teman-teman baru di kampus. Ya saya cerita kalau saya memiliki teman yang rumahnya Glenmore. Dan dia perempuan. Dan dia PP tiap hari. Orang tua saya kaget, dan refleks selalu mengkhawatirkan Mbak Heni setiap kuliah berakhir pukul 9. Pernah suatu malam ketika saya sudah sampai rumah, Bapak bilang, “Iki koncomu sing Glenmore iku sek ning dalan, yo?” saya mencebik dalam hati, “Iyalah. Gitu kok saya yang pulang telat semenit aja diomelinnya sejam. Lalu apa kabar Mbak Heni yang sampai rumah bisa jam 11-an?” tapi ya hanya bisa ngedumel dalam hati , gaes. -___-

Hingga pada tanggal 12 November kemarin, gadis yang body-nya se-aliran dengan saya (sama-sama beraliran kurus) akhirnya menikah. Menikah, gaes. Resmi jadi istri. Padahal nggak ada kabar apa-apa sebelumnya. Padahal Mbak Heni ini, salah satu penghuni timeline sosmed yang statusnya nggalau melulu. Lha kok tiba-tiba ngasih undangan nikah? Nampol bener ke hati para jomblo macam eyke, gaes. Hahahaha …

Seperti nikahan Mbak Lela dulu, saya tidur di rumah Donat. Tiga hawa dan satu adam. Sabtu pagi, dengan segala hiruk pikuk yang terjadi, kami berangkat. Sampai rumah mempelai pukul 08.38. Beruntung akad nikah belum mulai. Kira-kira pukul 09.00 barulah sampai pada peristiwa dimana mempelai pria menjabat tangan Pak Penghulu, kemudian mengucap sumpah yang disaksikan Allah, para malaikat, para saksi, dan tentu disaksikan oleh ayah dari mempelai putri. Saya, seperti biasa, mewek.

Di sepanjang jalan menuju rumah Mbak Heni saya selalu berdoa semoga tidak telat. Semoga masih sempat melihat prosesi ijab qabul. Karena peristiwa ijab qabul-lah yang menjadi part paling seru sekaligus menegangkan dan mengharukan dalam pernikahan. Bukan begitu?

Akhirnya peristiwa sakral itu terlewati dengan khidmat serta lancar. Senyum tak henti-henti menghiasi wajah ayu Mbak Heni. Suasana bahagia pun menyeruak kemana-mana. Kami, para squad Fisip A, segera duduk kembali bergabung dengan undangan lainnya. Tidak lama setelahnya, mempelai keluar kembali dengan kostum yang berbeda. Dalam balutan pink pastel, Mbak Heni looks like a princess, so cetar pokoknya.

Baiklah, selamat menempuh hidup baru Mbak Heni dan Mas Wahyu. This is not happy ending, it’s just beginning. Pernikahan adalah pintu gerbang menuju kehidupan selanjutnya. Selamat mewarnai kehidupan, Mbak, Mas. Bahu-membahu lah dalam segala keadaan. Saling mengasihi satu sama lain. Semoga kehidupan kalian berdua senantiasa diberkahi Allah dan dilimpahi kebaikan.

Barakallaahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khair …

Donat, ente ngapain? wkwk

Kamis, 10 November 2016

Welcome Skripsweet

November 10, 2016 0 Comments
Sore yang sendu ini saya habiskan untuk mengetik beberapa postingan untuk blog. Di temani oleh murotalnya Ahmed Saoud, segelas teh manis panas, dan kamu smartphone di sebelah saya. Akhirnya saya bisa melakukan ini setelah info libur kuliah yang saya dapat secara telat melalui grup bbm kelas. Ya begitulah jika pemberitahuan chat di grup saya off-kan. Saya jadi lemot.

Baiklah. Hari ini saya akan sedikit bercerita tentang perkembangan perjalanan skripsi saya. Astaga, rasanya tidak percaya pembahasan mengenai skripsi sampai juga pada saya. Setelah kejadian malam itu, saya mulai mengumpulkan apa-apa saja yang akan saya butuhkan. Seperti data, referensi, dan tentunya kuota. *krik

Jadi, malam itu, setelah sorenya saya mengajukan tiga matriks judul skripsi saya kepada Wakil Dekan 1, ada pesan masuk ke ponsel saya.

“Kamu pilih judul yang mana, menurut kamu yang gampang.”
From : Pak Supurdi
Sent : October 26, 18:24

Ketika membaca pesan tersebut, saya sedang di sekretariat. Waktu itu sekret sedang sibuk mempersiapkan acara Sujiwo Tedjo. Gaes, membaca pesan seperti ini di malam hari yang sibuk dan penat, rasanya seperti mandi di Jagir di siang hari yang panas dan terik. Bayangkan segarnya.

Senyum tak bisa lepas dari wajah saya malam itu. Jemari sempat bingung ingin membalas apa. Akhirnya, dengan kebahagiaan yang membuncah di dada malam itu, saya membalas:
“Bapak dimana? Saya sedang di kampus, Pak.”
Terkirim pada pukul 18.33.

Memang, saya baru membaca pesan Pak Supurdi pada pukul 18.33. Agak menyesal kenapa sedari tadi ponsel saya silent. Semenit kemudian beliau membalas sedang berada di C2. Tanpa a b c, saya langsung keluar sekret, memakai sepatu, dan lari menuju C2. Mirip film-film India gitu, deh.

Sampai di depan C2, nafas saya tidak teratur. Lari dari sekret ke C2 lumayan ternyata. Akhirnya setelah mengatur nafas sedemikian rupa, saya masuk. Di dalam beliau sedang bertugas sebagai pengawas UTS. Para maba nan polos yang ketika ujian masih belum memakai almamater itu, serentak melihat ke arah saya. Saya melihat Pak Purdi. Pak Purdi melihat matriks judul teman-teman yang lain. -___-

Saya duduk di sebelah beliau, salim, dan memasang wajah bego-lah akhirnya.

“Gimana, Mey?”

Saya masih nderedeg. “Iya, Pak.”

Bayangin, ditanya gimana, malah jawab iya. “Yang sekiranya menurut kamu gampang, yang mana?” kata beliau. “Ya, dari awal yang saya seriusin yang PUS itu, Pak.” Saya bingung kalau disuruh memilih yang gampang. Padahal, sebenarnya referensi untuk PUS itu saya masih belum yakin. Hanya teori untuk indikator variabel x saja yang tersedia. Sedangkan untuk indikator variabel y? Saya belum benar-benar dapat. Ya sudah lah ya, haqqul yaqin saya, mah, orangnya. Hahaha.

“Ya sudah, ini saja. Soalnya juga belum ada yang ngangkat tentang PUS. Ada kan, bukunya?” Saya hanya nyengir dan mengangguk takzim. Padahal, mah ...

Setelah chit-chat sedikit mengenai matriks teman-teman yang lain, serta konsultasi mengenai kelulusan yang semoga bisa 3,5 tahun, saya pamit. Tidak bisa saya gambarkan bagaimana perasaan saya malam itu. Bungah pokoknya. Keluar dari C2, refleks saya lompat-lompat mirip Fahri yang diberi hadiah SGM oleh Abah. Kemudian saya lihat sekeliling, sepi, aman. Paling tidak tingkah saya barusan tidak ada yang melihat, wkwkwk.

Saya kembali ke sekret dengan perasaan yang luar biasa baik. Saya jalani rapat pemantapan malam itu dengan sepenuh hati (bukan berarti rapat-rapat sebelumnya tidak sepenuh hati ^_^). Pulang ke rumah, kabar itu langsung saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu. Ibu tidak henti-henti mengucap syukur. Bapak saya hanya swante dan kalem, sambil tetap fokus pada Haji Muhidin di tipi. Beda ketika nyeramahain saya pas pulang malem, cerewet mirip Feni Rose pas jadi host acara “Rumpi. No secret.”

Tapi, ketika saya keluar dari kamar mandi dan hendak masuk kamar, Bapak mendadak kultum. Beliau bilang “Nggak perlu sing susah-susah wes skripsi iku. Pokok e lulus tepat waktu, kamu dapat gelar, sudah. Sing penting ilmune bermanfaat.”

Ya Allah, saya di ceramahain mahasiswa yang DO *peace, Bah :D

Oke. Saya setuju dengan bagian yang skripsi nggak perlu buledyan seperti kisah asmara kamu dan dia. Kalau kata Pak Purdi, skripsi nggak perlu yang idealis-idealis banget, yang penting di acc, sudah. Terpenting adalah, ilmu yang kita dapat. Implementasinya kepada masyarakat.

Sekarang, yang paling penting bagi saya adalah Bapak dan Ibu saya selalu sehat. Mereka tidak perlu tahu bagaimana jatuh bangunnya saya selama berkuliah, karena jatuh bangun mereka lebih hebat hingga bisa menempatkan saya dalam posisi hari ini, dan karena saya juga yakin doa mereka selalu menyertai. Biarkan saja mereka mempersiapkan diri mereka sebaik mungkin untuk mendampingi saya wisuda kelak. Saya juga bersyukur, saya bersama teman-teman yang senantiasa menyemangati satu sama lain. Meskipun untuk nyemangatin diri sendiri, susahnya minta ampun. :v

Gerbang sudah dibuka. Lalu apa? Ya jalani jalan yang ada. Mau itu beraspal, berkerikil, berpasir, berlubang, tetap jalani hingga sampai pada tujuan. Semangat skripsi, Mey.

@meyyshaan

Selasa, 08 November 2016

Dear, Sutradara Drama Korea

November 08, 2016 0 Comments
Annyeong haseyooooo ….

Tumben ya salam pembukanya pake Bahasa Korea, biasanya kan nyelonong aja gitu kaya kamu yang tiba-tiba nyelonong masuk kedalam hatiku … eaaaa *apa sih

Tulisan kali ini sesuai dengan mukaddimah di atas, gaes. Tidak lain tidak bukan tulisan yang akan nyentil tentang Korea. Lebih tepatnya lagi tentang Drama Korea. Mmmm yang paling tepat lagi tentang Sutradara Drama Korea. Oke, simak baik-baik.

Beberapa hari yang lalu saya terlibat dalam perbincangan bersama dua perempuan pecinta Korea. Perbincangan via komentar facebook itu memberiku inspirasi untuk membuat tulisan ini. Ah, benar-benar luar biasa. Bahkan perbincangan yang nggak begitu penting banget itu bisa mendatangkan inspirasi untukku. Sampai akhirnya Donat bilang “Jiwa penulis e bangkit dari kubur???” Hahahahaha, saya ngakak demi membaca komentar itu.

Oke. Hari itu kami ngerasani drama Korea terbaru yang saat ini sedang tayang di Korea sana. Judulnya “Descendants of The Sun”. Bagi mereka yang KPOP buanget sudah pasti tahu drama menggemaskan yang satu ini. Yeah, you’re right. Yang main Suryo dan Nurul. Tunggu, gaes, jangan buru-buru naik pelaminan pitam. Saya sungguh tidak bermaksud untuk mengubah secara semena-mena nama mereka. Karena saya sadar saya tidak turut dalam tasyakuran jenang merah untuk mengubah nama mereka. Nanti, nanti akan kuberitahu kalian kenapa saya memanggil mereka Suryo dan Nurul.

Tampaknya DOTS menjadi perbincangan yang tiada akhir bagi para pecinta Drama Korea. Sampai-sampai ada artikel yang berisi tentang para Dokter sungguhan yang iri oleh kecantikan dr. Kang di drama tersebut. Dan bagaimana bisa dr. Kang menolak seorang tentara yang cakepnya ugal-ugalan seperti Kapten Si Jin? Aduuuh ampun, jadi para Dokter asli itu ngiri sama Nurul??? Hmmmm, nganan aja nganan.

Saya adalah perempuan yang sebenarnya buta Drama. Walaupun dulu sempat nonton Drama Korea yang sedang hitzzz pada masanya, seperti “Boys Before Flowers” atau “He’s Beautiful”. Dua drama itu saya tonton di televisi. Kalau tidak salah waktu itu saya masih kelas X. BBF benar-benar menjadi trending topikk di sekolah, terlebih di kelasku, terlebih lagi karena saya berteman dengan perempuan jadi-jadian yang gila Korea, sebangku lagi -___-

Aih, sepertinya hidupku berjodoh dengan teman-teman KPOP.  Waktu itu saya masih ingat bahkan saya memiliki sebuah buku yang berisi lirik lagu soundtrack BBF yang saat ini entah kemana hijrahnya buku itu. Saya hanya remaja 15 tahun yang waktu itu terhipnotis oleh ketampanan Mas Lee Min Ho dan kawan-kawannya. Lha memang ada yang bilang Mas Min Ho itu nggak tampan?

Nah, gaes … Waktu itu saya belum mengenal dengan baik dunia Drama Korea. Saya nggak paham kalau drama Korea itu beda sama sinetron kita. Saya sempat bertanya-tanya kemanakah gerangan hilangnya wajah rupawan Mas Min Ho yang biasanya nongol di sore hari itu? Usut punya usut, baru saya tahu kalau ternyata filmnya sudah tamat. Saya bahkan tidak menyebutnya drama, tapi film. Kan, betapa polosnya diriku ini -__-

Dari sana saya ya tetap belum ngerti bagaimana aturan main sebuah drama. Pokoknya saya ini katrok lah kalau masalah begituan. Baru setelah saya kuliah, tepatnya ketika semester …. aduh, maaf, gaes, saya lupa semester berapa :D

Waktu itu saya diberi sebuah drama oleh Donat. Sepertinya waktu itu kami sedang menikmati liburan UAS. Sepertinya …

Drama pertama yang saya lihat saat saya sudah memiliki laptop adalah “Pinochio”. Saya kesemsem sama aktingnya Park Shin Ye yang natural banget. Dan saya juga kepincut sama perubahan penampilannya Choi Dal Po. Siapa yang nggak kepincut sama Uncle Choi Dal Po pas dia sudah di permak oleh si Kakek? Setelah nonton Pinochio saya langsung minta lagi drama yang recommended. Alhamdulillah, saya punya Donat yang selalu menjadi penyuplai tetapku dalam urusan drama, hahahaha.

Yang membuatku angkat topi dengan drama korea adalah alur cerita yang disuguhkan. Benar-benar unpredictable. Dan, itu jauh sekali jika ingin disamakan dengan sinetron-sinetron kita. Heran sih, apa iya sutradara-sutradara kita nggak bisa bikin drama yang seperti drama korea? Kita mah yang ada suka kebablasan, pinginnya bikin drama yang cuma beberapa episode aja, eeeh malah nyampe ratusan episode, bahkan ribuan. Jatohnya bukan drama, tapi sinetron. Dah gitu ceritanya mbulet. Persis kisah cintamu dengan si gebetan yang mbulet nggak kelar-kelar.

Ya bayangin aja, dari mulai Tukang Bubur Naik Haji sampai Anak Jalanan julan bubur, episodenya sudah berapa, gaes??? Padahal tokoh Haji Sulam dalam TBNH yang notabene tokoh utama sudah almarhum (skenarionya begitu).

Atau jangan-jangan kita memang ditakdirkan untuk tidak bisa memproduksi sebuah drama seperti mereka? Karena para perempuan Indonesia sudah banyak yang dikutuk untuk kepincut dengan drama Korea yang ditunjang dengan penampilan rupawan para pemainnya. Dan pada akhirnya kita akan bersikap underestimate dengan kemampuan bangsa kita sendiri. Dan pada akhirnya (lagi) kita akan membanding-bandingkan kualitas dunia sinetronan kita dengan Korea. Hmm, padahal dibanding-bandingkan itu rasanya ndak enak. *krik

Harus diakui, drama Korea benar-benar mampu menghipnotis tidak hanya perempuan Indonesia, tapi seluruh perempuan di belahan dunia ini. Saya juga tidak mengerti kenapa Drama Korea memiliki magnet luar biasa yang mampu membuat para perempuan akhir zaman ini baper berkepanjangan. DOTS misalnya, di hari pertama penayangannya saja atmosfer kebaperan sudah melanda saya, gimana enggak? Pemainnya ini loh gaes, cantik dan gantengnya absolut. Song Hye Kyo itu kalau kita ibaratkan artis Indonesia sudah pasti Dian Sastro, kita sepakat untuk itu. Song Joong Ki? Ya kalau Song Hye Kyo saja Dian Sastro, sudah pasti Song Joong Ki itu ya Nicholas Saputra, masa Mas Agus Mulyadi?

Wis, sekarang kita ke sutradara drama Korea.

Kenapa saya menulis tentang sutradara drama korea? Karena banyak drama-drama korea yang membuatku gemas karena episodenya yang nanggung. Saya heran kenapa para sutradara ini seperti sengaja menggantung perasaan para penonton. Tidak hanya di gantung, tapi juga meninggalkan baper yang berbulan-bulan lamanya.

Yong Pal misalnya, drama se-kece ini harus tuntas dalam delapan belas episode. Ya Rabb, Pak Sutradara, kenapa nggak di genapin dua puluh episode sekalian, sih, Pak? Waeee??? Wis gitu endingnya begitu doang. Adegan Yeo Jin selesai di operasi, terus Tae Hyun bilang “Yeo Jin, kau bisa mendengarku?”, perlahan Yoe Jin membuka mata, terus Tae Hyun bilang lagi “Kamu tahu siapa saya?”, Yeo Jin nyahut dari dalam hati, “Yong Pal.” Dah. Kelar. The end. Apa nggak ngehek ending seperti itu?

Tapi di sisi lain Yong Pal memang drama luar biasa. Cerita tentang seorang dokter yang mencari tambahan uang dengan melanggar kode etik seorang dokter. Melakukan kunjungan rumah yang illegal. Adegan-adegan saat membedah tubuh manusia diperlihatkan dengan begitu jelas, sehingga mampu membuat siapa saja yang menontonnya nggak akan kolu untuk makan. Huweeek …

Ya tapi tetep saja, endingnya itu loh, mbloooo …

Saya juga harus tabah dengan episode DOTS yang hanya sampai pada angka 16. Saya mah bisa apa, gaes. Maksud hati ingin lanjut sampai 20 episode, apa daya Pak Sutradara berkata tidak. Ya, akhirnya kami (drakor lovers) harus senantiasa bersabar terhadap jumlah-jumlah episode yang tak tentu ini. Ada drama yang menurut saya biasa, tapi jumlah episodenya banyak. Drama yang menurut saya luar biasa, justru hanya 16 episode.

Saya menyelesaikan tulisan ini lumayan lama. Harusnya tulisan ini sudah terposting delapan bulan yang lalu. Bayangin, de la pan bu lan. Lama lho itu. Baru-baru ini saya juga kepincut oleh drama yang recommended. Namun sekali lagi, saya harus kecewa dengan endingnya yang kurang greget. Judulnya Moon Lovers Scarlet Heart Ryeo. Drama yang mengisahkan tentang kehidupan di masa kerajaan Georyeo. Baru kali ini saya nonton drakor sejarah, dan langsung cinta. Tapi ya gitu, cinta saya dipatahakan (lagi-lagi) oleh endingnya. -__-

Saya hanya berharap drama yang sedang saya ikuti kali ini memiliki akhir yang klimaks. Istilahnya yang endingnya ngelegain penontonnya lah. Biar kami para ciwi-ciwi ini nggak ngedumel siang malam, mengutuki ending yang tak sesuai harapan.

Oh ya, untuk alasan kenapa saya memanggil dua pemain utama DOTS Suryo dan Nurul. Gaes, sejujurnya saya nggak bisa ngehapalin nama asli para artis-artis Korea. Jadi saya memanggil mereka dengan nama khas Indonesia yang mudah untuk saya ingat. Begitulah pokoknya.

Sekian dulu tulisan saya tentang Drama Korea. Nanti disambung lagi jika ada sesuatu (tentang drakor) yang saya rasa perlu untuk saya tulis.

Jadi, pesan saya untuk Pak Sutradara drakor. Tolonglah, berikan pada kami ending drama yang bisa masuk ke akal kami, para perempuan akhir zaman ini. Oh, saya rasa hal ini bisa dijadikan masukan untuk penulis skenario drakor juga. Warbiyasa lho penulis naskah ini. Belio-belio mampu membuat dialog yang berkualitas. Apalagi dialog-dialog dalam drama Another Miss Oh, Pinochio, Signal, The K2, etc. Wes pokoknya saya kasih semua jempol yang saya punya untuk para penulis naskah itu.

@meyyshaan