Rabu, 09 Oktober 2019

Satu Lagi Pencapaian Hidup Meydiana

Oktober 09, 2019 2 Comments
Sebenarnya keinginan untuk menuliskan pengalaman nyetir sendirian dari rumah ke Siliragung ini sudah dari kemarin-kemarin, sejak mendaratkan diri di rumah sepulang dari Siliragung.

Jadi, (benerin posisi duduk) beberapa waktu yang lalu saya pergi ke Siliragung, lebih tepatnya hari Minggu 06 Oktober 2019. Ngapain? Datang ke acara IPPNU, Go-Write. Long short story, saya berangkat jam satu kurang dari rumah, acaranya mulai jam dua siang. Ini pertama kalinya saya pergi jauh sendirian. Benar-benar sendiri, nggak ada teman yang saya bonceng atau teman yang membersamai saya di belakang atau di depan saya (maksudnya motoran bareng-bareng gitu, ribet dah kalimatnya).

Biasanya kalau pergi jauh ke acara NU gini kalau nggak sama Bibeh, Fiya, Fida, ya Mbabila. Nah, kali ini benar-benar budal dewe. Sampai di lampu merah Benculuk saya berhenti dan ngabarin Ulil, minta share loc. Di jalan ini lah saya sering banget bingung harus lurus atau belok kiri. Sebelumnya saya sudah tanya ke Mbabila kalau ke Siliragung ini lewatnya mana? Blio jawab, lewat Purwoharjo atau Jajag aja, Mbamey. Mampus lah aing mana tau jalan.

Setelah dapat map dari Ulil dan mencoba membacanya, saya meyakinkan diri untuk belok kiri dan lurus saja. Toh, saya sudah akrab dengan jalan yang ini (arah Purwoharjo maksudnya). Saya memang agak kurang percaya diri bepergian sendiri seperti ini. Selain mengidap Dorry Syndrome alias lalian, ya tapi masih parah Dorry, sih, saya suka parno kalau pergi jauh sendiri.

Akhirnya saya mendapatkan kembali keprcayaan diri saya saat berkendara di jalan yang benar sesuai arah map. Di salah satu perempatan saya sempat bingung. Harusnya belok kanan, eh saya malah belok kiri, diomelin deh akhirnya sama mbak-mbak peta. Perjalanan menuju lokasi Go-Write lumayan melelahkan, disamping harus nyetir pelan-pelan saya juga berkali-kali ngintip panah di map, memastikan saya tidak salah jalan.

Long short story (again), saya sampai di tempat pelatihan. Tempatnya di pinggir jalan raya. Saya sempat kelewatan dikit, karena letak kafenya di kanan jalan, jadi saya harus putar balik. Saat sudah duduk dan salaman sama Mas Eko (suaminya Holip, kali ini pemateri kita adalah Holip) saya mengambil napas dalam-dalam. Saya sampai pukul setengah tiga sore lebih dikit kalau nggak salah ingat. Dua jam saya keliaran di jalanan. Buat saya yang nggak pernah jalan jauh sendirian ini (apalagi ke daerah Selatan), ini adalah sebuah pencapaian hidup luar biasa (monangis saya ngetik bagian ini, i'm proud of my self, astagaaa).

Selayaknya manusia normal pada umumnya, Mas Eko bertanya dengan siapakah saya datang ke tempat nun jauh sekali ini? Tentu sendirian, wahai manten anyar, apakah anda tidak melihat saya datang sendiri? (tentu saya nggak jawab begitu, gaes)

Sebenarnya saya nggak masalah ya pergi sendiri, hanya saja ada perasaan tidak tenang selama perjalanan. Yang paling saya khawatirkan adalah kendala pada kendaraan (ban bocor, motor mogok, bensin habis, ban lepas, rante pedhot, dll). Iya kalau bocornya di tempat ramai, banyak orang, kalau di tengah-tengah bulak? OMG I can't imagine that :(

Setelah mengatur napas sedemikian rupa saya mulai ngobrol sama Mas Eko dan Holip. Saya bersyukur sekali punya teman yang bisa diandalkan saat butuh pemateri gini. Kok ya kebetulan juga Minggu itu Holip ada acara arisan sekolah dari pagi sampai siang di Cluring. Jadi bablas, langsung ke Siliragung ngisi acara IPPNU. Terima kasih, Holip :')

Sekarang kemana-mana ada temannya ya, Mas? kataku ke Mas Eko. Belio tertawa lebar sekali sambil ngangguk-ngangguk. Yang saya salut ke Mas Eko adalah belio bisa menahan diri untuk nggak tanya balik ke saya dengan pertanyaan "Kamu kapan? Biar kemana-mana nggak sendirian." sungguh Mas Eko pandai sekali menjaga mood biar nggak melorot.

Gimana kehidupan setelah menikah? tanyaku ke Holip. Kami bercerita panjang lebar. Hhhh, obrolan dua perempuan hampir menginjak dua puluh lima tahun ini sudah beda, sedikit agak berbobot, wkwk. Saya jadi salah satu orang yang bahagia sekali ketika tahu Mas Eko kembali lagi ke kehidupan Holip. Dulu, satu kelas akuntansi 2 angkatan tahun 2013 hapal betul kisah asmara Holip dan Mas Eko. Berawal dari Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yang kami jalani semasa sekolah. Holip cinta lokasi dengan Mas Eko di Giant (dulu Giant, terus ganti Hardys, terus sekarang dah tutup permanen, hiks). Saya nggak ingat berapa lama mereka pacaran, kemudian mereka putus.

Setelah itu saya tidak pernah tahu lagi kabar Mas Eko. Bertahun-tahun kemudian saya tahu Holip sedang menyimpan perasaan pada seorang laki-laki di tempatnya menempuh pendidikan strata satu (waktu itu Holip cerita panjang lebar di kamar Inda). Memang hidup susah ditebak. Satu waktu saya mendapati Mas Eko datang ke rumah Holip saat saya juga berada di rumah Holip untuk mengantar buku bersama Mbabila. Saya yang melihat kedatangan Mas Eko langsung melihat Holip. Saya nggak bisa untuk nggak menahan rasa bahagia. Sinyal clbk terendus tajam.

Dan, voila! Sekarang mereka menjadi suami istri. Jarak saat mereka putus hingga akhirnya bertemu kembali tentu panjang. Hidup, ya? Benar-benar unpredictable, apalagi soal jodoh.

Acara selesai sekitar pukul setengah lima sore. Saya sedikit tenang karena perjalanan pulang kali ini ada Holip dan Mas Eko. Paling tidak saya nggak merasa sendirian lagi. Ada mereka berdua.

Tapi memang sungguh nasib. Saya yakin Mas Eko ini dulu cita-citanya jadi pembalap. Nek numpak sepeda bantere jan ora umum. Saya susah ngejar, tapi bersyukur karena masih bisa melihat jejak mereka meski agak jauh.

Dan di sini lah ingatan saya di uji, sodara-sodara. Sampai di salah satu perempatan, saya mulai bingung. Lurus atau belok kanan, nih? Di sebelah kiri saya ada Indomaret, saya nggak tahu itu daerah mana. Yang jelas saya ingat betul kalau mau nurut jalan yang awal tadi saya belok kanan. Tapi saya mikir lagi kalau lurus pasti juga ujung-ujungnya ke arah Banyuwangi. Holip dan Mas Eko sudah tidak terdeteksi. Saya putuskan untuk belok kanan, menyusuri jalan awal saat berangkat tadi. Gini, dah, saya lemah di perempatan.

Perjalanan pulang kali ini lebih plong rasanya. Saya nggak perlu cek-cek ponsel lagi untuk lihat map. Saya jadi bisa menikmati pemandangan sore yang tersaji sepanjang jalan. Dari spion motor saya bisa melihat matahari yang mulai berwarna oranye.

Saya bisa bernapas lega ketika saya sampai di jembatan Purwoharjo, itu tandanya saya nggak nyasar dan sebentar lagi sampai di lampu merah Benculuk. Sampai lampu merah Benculuk hampir maghrib, tapi masih belum adzan. Apa, sih, namanya? Tahrim, ya?

Perjalanan pulang memang terasa lebih cepat dari pada perjalanan pergi. Sudah bukan rahasia lagi. Mengapa bisa begitu? Nggak tahu juga.

Itu lah pengalaman saya nyetir sendirian ke Siliragung yang bikin deg-degan. Tapi paling nggak sekarang jadi tahu jalan, meski bentar lagi juga bakal lupa ingatan.