Rabu, 29 Mei 2024

NAMA ADALAH DOA

Mei 29, 2024 0 Comments

Hari ini aku dan ibu nonton live IG Tasmi’ Al-Qur’an Juz 30 kelasnya Ai. Karena hari ini giliran kelompoknya Ai tampil. Enggak sia-sia anak-anak madin sejak kelas 5, sekarang mereka sudah hapal juz 30 dengan baik.

Live IG dimulai jam tujuh pagi. Aku dan ibu lumayan sedikit mellow pas ustazah mereka memberikan pengantar dan nasihat, Bu Sarah namanya. Anak-anak memanggil beliau Umma Sarah.

Tapi, sebetulnya tulisan ini bukan tentang Tasmi’ Al-Qur’an. Ketika nonton live mereka aku lihat satu akun bergabung. Akun yang sudah bisa kutebak adalah akun ustazah Sarah. Nama akunnya Sarah Iswandari. Aku klik akun tersebut dan muncul beberapa postingan terkait kegiatan beliau di sekolah.

Aku bilang ke ibu soal nama beliau yang mirip denganku. “Buk, Namanya umma sarah itu Sarah Iswandari.”

“Lek kakak e Isfandari yo, Isfan. Beda satu huruf aja.”

Kemudian ibu bercerita soal bagaimana dulu beliau bingung memberikan nama panggilan buatku. Hampir saja ibu memangilku Fanda, tentu saja diambil dari Isfandari.

“Tapi kok mirip Panda, ojok wes, engko malah digawe lok-lokan.” Tentu aku bersyukur ibuku berpikir jauh sebelum memanggilku dengan nama Fanda itu. Karena kalau benar terjadi, kayaknya sekarang namaku sudah diplesetkan ke Panda, alih-alih Fanda. Dan tentu saja jokes yang keluar adalah “Gak makan nasi dong ya, makannya bambu.”

Aku dan imajinasiku ini astagaaa. Entah kenapa aku suka membayangkan hal-hal yang bisa saja mungkin tidak terjadi.

Aku langsung teringat cerita ibu soal bapak yang dulu hampir saja menamaiku Hijriyanti. Untung saja, sekali lagi ibu menyelamatkanku dari masa depan diolok-olok teman. Bukannya enggak bagus, tapi bapakku tuh memang orangnya begitu. Apa yang dipikirin ya itu aja yang dikeluarin.

Anyway, kasih nama anak tuh memang harus dipikirin, ya. Selain karena nama adalah doa, nama ini bakal jadi bulan-bulanan di masa depan atau enggak itu juga penting. Wkwkwk.

Yah, paling enggak kelak anak bangga sama nama yang dikasih orangtuanya. Minimal enggak malu lah. Belum menikah, belum punya anak, tapi aku sudah kepincut sama beberapa nama yang kelak akan aku berikan pada anakku. Insyaallah. Duh, membayangkan aku memanggil nama itu saja aku sudah berbinar-binar.

Jumat, 24 Mei 2024

SAYANG SI GEMPAL

Mei 24, 2024 0 Comments

Setelah selesai acara seminar kemuslimahan yang diadakan di aula Poliwangi, aku dan De Lilis pergi ke Mi Nyonyor Rogojampi untuk makan. Aku belum makan sejak pagi dan hanya mengisi perut dengan kue-kue yang disuguhkan oleh panitia. Di beberapa momen aku sedikit oleng, meski tidak parah seperti ngemc beberapa waktu yang lalu. Entah kenapa aku tidak terbiasa sarapan, apalagi kalau pagi itu ada kegiatan.

Selesai acara sekitar setengah lima sore. Aku dan Lilis tiba di Mi Nyonyor kurang lebih jam lima. Setelah pesan kami duduk berhadapan di pojokan. Kami menyambung cerita yang tadi sempat terputus karena situasi yang tidak memungkinkan untuk deeptalk.

Sejak dulu aku selalu mengagumi kegigihan Lilis dalam berorganisasi. Anaknya tabah, kuat, berani. Ketika kemarin Bibeh bikin story bahwa dia lamaran, aku kaget bukan main. Setahuku dia sedang melanjutkan S2-nya. Dan, dulu dia pernah bilang kalau tidak mau terburu-buru menikah. Prioritasnya masih banyak yang lain.

Tapi, takdir Allah lain. Aku enggak bisa enggak menangis mendengar cerita Lilis. Anak ini betul-betul menerima ketetapan Tuhan dengan hati yang luas. Kalau aku di posisinya belum tentu mampu. Segala hal yang menghimpitnya dihadapi dengan tenang.

Ada satu ucapannya yang membuatku nelangsa. Kalau sudah begitu aku enggak bisa lagi berkata-kata selain misuhi pemerintah. Sudah lah, semua ini memang salah pemerintah. Enggak bisa memberikan perlindungan pada rakyatnya, pejabatnya korup enggak karu-karuan. Apa sih yang dicari? Enggak takut ya sama Tuhan?

Kembali ke Lilis. Perempuan ceria di depanku ini sebentar lagi menikah. Menikah dengan lelaki yang siap mendampingi Lilis dalam suka maupun duka. Lelaki yang tidak saja baik, tapi juga pemberani. Dia bahkan dengan bangga mendukung Lilis menyelesaikan S2-nya, meski dia sendiri tidak sekolah setinggi Lilis.

Dude, ini lho. Mestinya memang tidak ada laki-laki yang musti minder ketika berhadapan dengan perempuan yang berpendidikan. Tidak perlu rendah diri, tidak perlu malu, tidak perlu merasa tidak pantas. Dukung dia, dampingi dia, rangkul, berikan semangat. Kelak, anak-anakmu juga akan menerima pendidikan pertamanya dari sang ibu, kan?

Semoga segala hal baik terjadi dalam kehidupan Lilis setelah ini. Setelah semua badai yang dia lalui. Setelah guncangan hebat yang dia hadapi.