Jumat, 19 Juni 2015

Nulis Everywhere

Juni 19, 2015 0 Comments
Marhaban Ya Ramadhan :)

Ini tulisan pertama di bulan Ramadhan.
Kali ini aku ndak akan bahas soal Ramadhan.

Sesuai judulnya.
Nulis everywhere ...

Saat ini kita hidup di abad 21.
Abad dimana tekhnologi sudah melesat sangat canggih.
Segala aspek dalam kehidupan kita tak pernah luput dari kecanggihan tekhnologi.

Dua tahun yang lalu ketika pertama kali punya blog aku begitu excited.
Tentu, karena memiliki blog pada saat itu rasanya keren.
Terlepas dari itu semua memang karena aku doyan ngetik ndak jelas.

Tapi ...
Tidak cukup dengan hanya puas sudah punya blog.
Aku harus memutar otak bagaimana caranya untuk mengisi blog secara rutin.
Minimal per bulan ada yang di posting lah.
Biar blognya ndak seperti kontrakan baru.
Kosong. Hampa. Sunyi. Pengap.

Kan nggak lucu pas buka blog ada sarang laba² dimana-mana.

Apalagi dulu kalau mau ngeblog yang namanya modem harus ada kuotanya dulu.
Nggak tanggung² ngisi kuotanya yang sebulan.
Ya kali, untuk ukuran anak sekolah isi kuota sebulan, duh Hayati nggak sanggup.

Alhasil ...
Blogku nggak terurus.
Dan sialnya, selama nggak ngeblog, adaaaa aja inspirasi buat nulis.
Heran.

Sekarang ...
Rasanya berbanding terbalik.
Semenjak gawai sudah mewabah seperti sekarang, kesulitan² untuk ngeblog rasanya sudah tidak ada.
Aku bisa nulis dimanapun dan kapanpun.
Aku menginstal aplikasi Blog pada Gawaiku.

Seperti tempo hari.
Saat menunggu Donat di Rogojampi aku asyik menulis di pinggir jalan.
Walaupun ndak sempat terposting karena ujug² Donat sudah datang.

Dan hari ini saat aku menulis tulisan ini, aku sedang tiduran di depan TV.
Memang benar ...

Sebagian Smartphone tidak membuat penggunanya semakin pintar, justru sebaliknya.
Oleh karena itu gunakan Gawaimu dengan bijak.
Ada banyak kemudahan yang bisa kita dapat.
Jangan sampai Gawai kita lebih pintar dari si empunya.

Selasa, 16 Juni 2015

Hikmah Dibalik Kekecewaan

Juni 16, 2015 0 Comments
Ketika segala sesuatu yang kita inginkan tidak sesuai dengan harapan, percayalah bahwa Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.
Aku sudah tidak menyesal tidak bisa belajar disana.
Aku sudah tidak menyesal tidak bisa menyandang gelar Akbid.
Aku sudah mengikhlaskan masa lalu itu.

Lihatlah sekarang …
Aku berada disini
Di tempat yang pernah ada dalam bayanganku dulu
Tempat yang menjadi bagian dari kenangan masa kecilku
Aku selalu percaya bahwa tidak ada yang namanya kebetulan
Segala sesuatu sudah diatur oleh Tuhan
Baik, buruk, semuanya sudah diatur
Ya, semuanya …

Jika disana …
Sudah pasti aku tidak bertemu dengan teman-temanku disini
Jika disana …
Aku tidak akan dihadapkan pada masalah organisasi yang ternyata pelik sekali
Jika disana …
Sudah pasti aku mengulang masa sekolah SMK, tidak memiliki teman laki-laki
Jika disana …
Aku tidak akan mengerti kenapa FISIP itu selalu penuh oleh para PNS, hehehe
Memang benar …
Tuhan akan memberi apa yang kita butuhkan
Bukan apa yang kita inginkan
Mungkin memang ini yang sedang aku butuhkan
Selalu ada hikmah dibalik sebuah kekecewaan

Kadang aku bingung harus bahagia atau sengsara bertemu dengan teman-teman macam mereka.
Teman-teman kuliah yang sungguh luar biasa noraknya kompaknya.
Dan hari itu, bertambah lagi kenyamananku terhadap mereka.
Benar-benar tim yang solid.

Study tour yang sudah kami lewati menyisakan banyak cerita.
Bahagia, haru, kecewa, bangga …
Semuanya jadi satu.

Ah Tuhan …
Kadang aku bertanya kenapa Kau ciptakan aku dengan bawaan yang sangat menyebalkan?
Aku ingin seperti mereka yang fine-fine saja pergi jauh dengan Bus.
Tapi aku tidak.
Keadaanku ini sungguh merepotkan.
Aku teler sepanjang perjalanan siang.
Dan akhirnya aku harus stay disebelah Pak Sopir all day long
Untung aku memiliki teman-teman yang pengertian, baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung. #bohong
Mereka berusaha menghiburku agar tidak mabuk.
Atau kalau sudah parah, mereka membantuku memijat leher agar aku segera muntah.
Tapi hasilnya nol besar, aku tidak muntah sama sekali.
Dari itu semua aku lebih membuka pandanganku terhadap mereka
Kepada mereka yang sudah dua tahun ini bersama …
Aku sangat bersyukur mengenal kalian
Aku dapat belajar banyak hal.
Terimakasih …
Atas kegilaan yang sudah kita buat bersama.
Atas harapan dan doa yang kita Aamiin-i bersama.
Atas masalah yang kita hadapi bersama, dan …
Atas perbedaan pendapat yang kita lalui bersama.

Kelak …
Jika kita sudah berdiri pada masing-masing pilihan yang kita pilih
Aku hanya berdoa semoga kenangan-kenangan indah ini tetap abadi.
Abadi di ingatan kalian.
Abadi disini …

Di hati …

Jumat, 05 Juni 2015

Sweet Seventeen

Juni 05, 2015 0 Comments
Hai adik, selamat hari lahir yaa …
Tidak terasa dia sudah 17 tahun.
Dia sudah semakin tinggi, melebihi aku.
Sepertinya baru kemarin dia mengayuh sepeda ke SMP.

Sekarang lihat …
Dia sudah melesat ke STM dengan motor.
Waktu memang berjalan sangat cepat, tanpa kita sadari.
Ada banyak hal yang rasanya aku lewatkan.
Aku sampai lupa, bagaimana bisa dia sudah selalu memboncengku saat ini?
Padahal dulu aku selalu didepan, dia dibelakang.

Begitu banyak momen yang aku lewatkan bersama dia.
Jika boleh aku bandingkan, rasa-rasanya tidak ada sepasang adik-kakak yang lebih gila dibanding kami.
Mungkin dia tidak bisa aku andalkan untuk terlihat manis di depan teman-temanku.
Tapi sejujurnya, dia adalah pribadi humoris yang sangat supel.
Ya, dia sangat humoris.
Sama seperti aku dan Abah.

Aku ingat bagaimana dulu aku dan dia sering bertengkar.
Aku ingat bagaimana dulu nakalnya dia sehingga Abah dan Ibu membawanya ke seorang Ustad.
Bagaimana dulu dia kekeuh tidak ingin sekolah.
Hal-hal seperti itu membuatku kembali tersadar bahwa waktu berjalan maju dan pasti.
Kami berdua adalah adik-kakak yang boleh dibilang rukun.
Eh, nggak juga sih …

Dia adalah adik yang luar biasa.
Tidak banyak bicara dan bertingkah.
Aku tidak tahu apakah di sekolah dia juga begitu atau tidak.
Dulu, saat dia masih SD aku masih bisa mendengar tentangnya dari Bu Ika yang kebetulan teman Ibuku.
Bu Ika sering bilang kalau Refangga itu anaknya lucu.
Punya banyak teman di sekolah.
Semua teman-teman cowok maupun ceweknya banyak yang suka berteman dengannya.
Terutama cewek, karena dia lucu.

Hahaha OMG, sudah kuduga akan seperti itu.
Dia memang humoris. Pantas saja.
Dia tidak hanya pintar ngelawak di depan teman-temannya.
Di depan Guru, bahkan di depan penjual baju didalam Pasar pun dia melucu.
Aku agak kaget ketika Pak Misrayu guruku SMP sangat mengenali dia.
Pak Misrayu justru lebih mengenal adikku ketimbang aku.
Kebetulan dia sekolah di SMP yang sama denganku dulu.
Aku berusaha menebak-nebak kesan apa yang ada pada Pak Misrayu tentang adikku yang satu ini.
Kesan nakalkah? Kesan pintar? Kesan baik? Atau kesan lucu?

Dia juga tumbuh menjadi pribadi yang cerdas.
Mungkin secara akademik dia standard.
Tapi kemampuan non-akademiknya jauh melebihi aku.
Dia sangat telaten bermain dengan Rubik.
Aku yang hanya bisa melongo melihat jemarinya cekatan memutar-mutar benda kubus itu.
Berkali-kali dia mencoba mengajariku bermain Rubik.
Berkali-kali itu pula aku mengecewakannya.
Aku benar-benar tidak bisa dan nggak omes.

Dia juga adalah partnerku dalam bermain game.
Walaupun lebih banyak dia yang selalu berhasil memecahkan misi-misi yang ada dalam sebuah game di Laptopku.
Dia akan dengan sabar mengutak-atik mouse untuk mencari apa yang harus diselesaikan.
Dia akan sangat telaten membaca petunjuk-petunjuk dalam Bahasa Inggris yang aku tahu sekali bahwa dia tidak paham dan selalu menyuruhku mengartikannya.
Hingga akhirnya dia akan berteriak, “Oooh ngene kek Kak carane. Iso wes aku."
Dan aku kembali hanya melongo dibuatnya.

Ah, kau ini. Kenapa aku nggak se omes dirimu.
Berjam-jam kita berdua bisa berada didepan Laptop untuk bermain game.
Sehingga kadang kami lupa bahwa kami juga memiliki satu lagi adik yang masih butuh diajak bermain, Fahri.

Hari ini genap usiamu 17 tahun.
Usia dimana gerbang kedewasaan mulai dibuka.
Selamat atas selembar kartu identitas yang akan kau miliki tahun ini.
Setelah kau memilikinya selamat berjuang sepertiku dulu.
Karena Abah pasti akan membawamu ke Polres untuk mengurus SIM.
Huwaah, pasti setelah SIM sudah ditangan aku tidak akan pernah memboncengmu lagi.
Sudah pasti kau akan terus mengambil alih kemudi.

Oke, selamat bertambah usia.
Semoga segala harapan dan cita-cita dapat terwujud.
Semakin bijak dan mendewasa.
Jangan suka ngebut kalau bawa motor.
Semakin sayang Abah, Ibu, Kakak, Fahri.
Menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat untuk sekeliling.

Satu lagi …
Bahasa Inggrismu, tingkatkan!

Selasa, 02 Juni 2015

Pesan Tak Sampai

Juni 02, 2015 0 Comments
Akhir² ini aku dibuat senewen karena masalah SMS.
Sms yang sering tidak masuk ke penerima pesan padahal ada laporan terkirim yang kuterima.
Menyebalkan sekali kan?
Aku tidak tahu apa masalahnya.
Yang jelas, hal ini sangat menyebalkan.
Aku sudah berulang kali me-restart ponsel.
Mengembalikannya ke setelan awal pabrik.
Yang itu berarti bahwa ponselku seperti baru lagi.
Tetap saja tidak ada pengaruh.

Memang saat ada pesan masuk aku dan si pengirim sms lancar saling membalas pesan.
Tapi saat sudah lumayan lama berkirim pesan, tiba² saja si pengirim tidak membalas lagi pesanku.
Awalnya aku hanya berfikir mungkin dia sedang sibuk atau apapun lah, sehingga telat membalas.
Karena dua tanda √ menunjukkan bahwa pesanku sudah terkirim.
Tapi ternyata tidak ada balasan hingga keesokan harinya.

Aku bingung.
Apa iya pesan yang kukirim tadi nyangkut di pohon²?
Atau pas dijalan si Pesan ini di begal?
#MulaiNgaco
Lalu kenapaaa???
Kenapa pesan itu tak sampai???
Kemana sampainya?

Yang paling bikin snewen adalah ketika aku sedang sms-an dengan dia.
Lalu tiba² dia tidak membalas lagi smsku.
Disitu saya kadang nelangsa.
Bingung, smsku yang tidak sampai atau dia memang belum membalas?

Duh Gusti ...
Kenapa begini sekali sih?
Saya hanya nggak mau dia berfikir yang tidak² seperti tempo hari.
Saya hanya ingin bertukar kabar dengan tenang, Gusti.
Tanpa halangan² seperti ini.
Kami berdua ini baru saja ingin memperbaiki sesuatu yang salah.
Tapi beneran deh kalau halangannya sms error seperti ini saya nggak kuat :(
Kesannya saya menjaga jarak sekali.

Saya benar² masih lelah dengan kesalahan² paham tempo hari.
Kemarin, ketika aku ulang tahun.
Dia mengirim ucapan pagi² sekali.
Aku sudah senyum² nggak jelas.
Mengetik balasan lalu mengirimnya.
Selesai. Terkirim.

5 menit.
10 menit.
20 menit.
30 menit.
45 menit.
1 jam.
2 jam.
4 jam.
8 jam.

Sehari.

Dua hari.

Tidak ada balasan!

Huwaaaa aku hampir gila karena terus²an melihat ponsel.
Kenapa sih???
Apa yang salah???
Kenapa tidak ada balasan???
Dua √ itu apa mungkin mereka berbohong???

Eh tunggu.
Mungkin saja balasanmu sudah dia terima.
Sudah dibaca.
Tapi tidak dia balas.
Mungkin saja kan?
Bisa jadi. Memang aku saja terlalu berharap.

Tapi kalaupun memang balasanku tidak masuk ke ponselnya itu berarti dia tidak menerima balasanku, kan? #Iyalah!
Nah, kalau memang itu benar terjadi aku bisa dianggap sudah berubah.
Aku pasti akan di anggap mempermainkan perasaan.
Aku bisa di anggap tidak menghargai.
Dia itu kan "pengambil kesimpulan secara tergesa-gesa" yang sangat handal yang dimiliki oleh negeri ini?
#MaafLebay

Gusti, mbok ya jangan seperti ini to.
Komunikasi kami memang tidak se intens dulu.
Tapi kalau akibat jarang berkomunikasi seperti ini, lalu tiba² dia muncul di hadapan saya dengan sudah menggandeng perempuan dan menggendong anak lha kan saya bisa semaput.

Jangan lah ...
Setidaknya beri aba-aba dulu.
Biar saya bisa persiapan.
Nah sekarang apa yang bisa kulakukan?
Ya hanya ini.
Nulis.

Dan semoga njenengan baca tulisan ini.
Seperti malam ini juga.
Adikku sms tentang pendaftaran di kampusku.
Lama sms-an tiba² dia ndak balas.
Hambohlah ...
Aku mangkel.
Tuh kan ada dua tanda √
Harusnya terkirim :(