Minggu, 30 April 2017

Betapa Mendadak Itu Menyebalkan

April 30, 2017 0 Comments
Semalam, bertepatan dengan Malam Minggu, Pak Ahmadi menyiarkan pengumuman lewat toa di mushola Nurud Dakwah. Waktu itu saya sedang nonton Defendant dan Ibu saya sudah hampir tidur. Waktu itu kira-kira pukul setengah delapan malam. Manusia macam apa yang rapat di Malam Minggu seperti itu.

Saya sudah was-was ketika Pak Ahmadi mengucapkan salam lewat toa. Yaaa, you know lah, pengumuman di jam segitu biasanya ya berita duka. Tapi dari nada bicaranya, saya yakin itu bukan berita duka. Benar saja. Dalam pengumumannya, beliau memberitahukan bahwa besok pagi akan diadakan Car Free Day (CFD) di sepanjang Jalan Kepodang, juga Isra’ Miraj akan diadakan Senin malam Selasa di Mushola Nurud Dakwah, masing-masing KK diharap memberi ancak unntuk kelancaran acara tersebut.

Saya entah kesambet apa tiba-tiba bilang ke Ibu, “Ayo, ikut.” Ibu saya setengah sadar setengah tepar mengiyakan ajakan saya. Akhirnya, Minggu pagi saya, Ibu dan Fahri keluar rumah dengan seperangkat alat tempur. Setelah berjalan menerobos satu gang ke gang yang lain, kami ketemu Mamia. Mamia adalah sebutan untuk Ibunya Ratna, saya juga nggak ngerti kenapa beliau dipanggil seperti itu.

Firasat nggak pernah bisa bohong. Mamia langsung nodong saya, “Diana, koyok biasane yo, ngemc.” Saya hanya bisa meringis. Setelah pengumuman semalam saya juga sudah feeling akan dipakai lagi.

Setelah mengikuti serangkaian acara CFD, kami pulang. Dari rumah Ibu saya bilang, “Pake baju apa, Kak?” saya yang lagi mengkhatamkan Defendant episode 15 langsung rehat sejenak. Pertanyaan Ibu saya tuh simpel sebenarnya, tapi lumayan bikin mikir. Ibu saya buka lemari, melototin satu-satu baju saya. “Ini?” kata Ibu, saya geleng-geleng. Ibu menunjuk rok motif bunga-bunga waktu itu. Pakai rok itu akan menimbulkan satu masalah lagi, atasannya apa? Dan saya nggak mau ribet dua kali.

Hingga malam ini saya menulis tulisan ini, saya belum tahu besok mau pakai baju yang mana. Ya Allah, ya kadang saya nggak ngerti juga sama perempuan. Padahal baju mereka ada buanyak di lemari. Apa-apa yang mendadak begini kadang tepat kadang juga tidak tepat. Duhai para manusia, ketahuilah bahwa perempuan adalah makhluk yang suka sekali well-prepared, janganlah engkau suka tiba-tiba memberikan sesuatu secara mendadak. Untuk masalah mc, oke, ain’t gonna say that I’m an expert, but InshaAllah I can, meskipun dadakan. Tapi untuk baju? Uh, itu hal yang berbeda, gaes. Perempuan tuh butuh mix and match yang pas.

Pernah satu hari, saya dah siapin baju yang akan saya pakai ke suatu acara, lha kok pas datang ke acaranya saya pakai baju yang berbeda dari yang sudah saya siapkan. Wkwkwk, ya begitulah, perempuan denga segala kerumitannya.


Selasa, 25 April 2017

Talkshow: Perempuan Untuk Peradaban

April 25, 2017 0 Comments
Usai sudah acara talkshow yang dilaksanakan oleh PAC IPPNU Banyuwangi siang tadi. Beberapa hari yang lalu Fitria sempat DM saya via Instagram. Dia menanyakan apakah saya kosong di tanggal 24 April. Saya ingat kalau tanggal itu adalah tanggal merah karena peringatan Isra’ Mi’raj. Saya jawab sepertinya kosong, pikir saya akan diajak kegiatan isra’ mi’raj. Tapi ternyata saya diminta untuk jadi moderator talkshow bertajuk “Perempuan Untuk Peradaban”. Seketika saya langsung mengiyakan ketika tahu bahwa narasumbernya adalah Ning Nia, Bu Fat dan Kak Iraa. Nggak tahu, saya merasa rugi aja kalau sampai tidak hadir bersama mereka.

Hari ini pun tiba. Saya berangkat pukul 08.00 dari rumah, diantar the most handsome man in the world, Bapak saya. Sampai di PCNU sudah banyak peserta yang ngerubung di parkiran. Bapak saya bilang, “Wes akeh arek ngono.” Saya segera turun dari boncengan, salim ke Bapak, cium Fahri yang tadi ikut mengantar saya, lalu menyebrang jalan. Saya langsung ke atas, ke aula. Dan alangkah kagetnya saya ketika sudah banyak peserta yang datang.

Saya menemui Fitria, wajahnya sumringah. Kemarin saya sempat ke rumahnya untuk membahas konsep acara. Dia sempat mengkhawatirkan jumlah peserta yang nanti akan hadir. Kekhawatiran yang selalu melanda dalam tiap kegiatan organisasi. Namun, segala kekhawatirannya tersingkir sudah. Jumlah peserta yang hadir diluar perkiraan. Bahkan panitia sampai harus menyiapkan konsumsi tambahan karena jumlah peserta yang membludak.

Sekarang, giliran saya yang khawatir. Nggak tahu, saya selalu seperti ini. Kalau sudah hari H baru saya nderedeg nggak jelas. Sampai semalam, saya masih oke-oke saja. Melihat antusias peserta tadi pagi lumayan membuat lutut saya lemas. Sampai akhirnya datang Kak Iraa, yang lumayan membuat nderedeg saya berkurang. Kami ngobrol sambil Kak Iraa memamerkan koleksi bukunya yang pagi tadi beliau bawa. Ah, Kak Iraa selalu membuat saya merasa tidak terintimidasi dengan pengetahuannya yang jempolan. Kemampuan rendah hatinya juara.

Tidak lama kemudian datang Ning Nia. Saya yang memang sama sekali belum kenal beliau, mencoba untuk berkomunikasi. Saya tahu sedikit tentang aktivis beliau dari Fitria. Semalam saya minta Fitria cerita sedikit tentang Ning. Yah, biar saya nggak buta-buta amat, lah.

Lalu, giliran Bu Fatma. Beliau datang agak lama dari dua narasumber yang lain. Beda dengan Ning Nia, meskipun saya belum mengenal Bu Fat secara personal, namun saya telah mengetahui bagaimana sepak terjang Bu Fat dalam dunia pendidikan. Beliau menginspirasi banyak wanita Banyuwangi.

Tema acara ini menarik, yakni “Perempuan Untuk Peradaban”. Dalam dunia patriarki, perempuan telah ditentukan masa depannya. Dari kecil hingga dewasa, ia diarahkan untuk menjadi seorang istri sekaligus ibu. Tugasnya jelas, mengurus suami, anak, dan urusan domestik. Perempuan akan lebih dihargai apabila ia pandai memasak, daripada menulis jurnal-jurnal akademik. Ia akan dicintai oleh keluarga karena membahagiakan ayah dan suami dengan tidak membangkang. Ia akan dikagumi karena kepura-puraan tingkah laku yang anggun dan pribadi yang halus. Perempuan dinarasikan sebagai sosok yang bungkam, tak dapat bicara, dan tak bisa berpendapat. Ia layaknya properti yang harus disimpan dengan baik. Pikiran dan tubuhnya harus dijaga agar tidak menjadi pembangkang. Begitulah logika patriarki bekerja. Perempuan terkurung dalam pelabelan. Tak ada kesetaraan dan keadilan gender.

Dalam perempuan dan agama, Ning Nia menjelaskan banyak hal. Gender bukan sekedar perbedaan kelamin. Gender merupakan konsep yang memandang laki-laki dan perempuan dari sisi peran, fungsi, hak, kewajiban serta tanggungjawab dalam masyarakat. Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Siang malam, matahari bulan, bumi langit, laki-laki perempuan. Semua itu menjadi tanda kebesaran Allah bagi hambaNya yang pandai berfikir. Mereka diciptakan agar mampu melengkapi satu sama lain. Atas dasar itulah Allah membedakan derajat manusia tidak dari jenis kelaminnya, melainkan atas dasar taqwanya. Islam sangat memuliakan perempuan. Kedudukan mereka sungguh istimewa. Saat jadi anak, ia membukakan pintu surga bagi kedua orangtuanya. Saat jadi istri, ia menyempurnakan separuh agama suaminya. Dan saat jadi ibu, surga ada dibawah telapak kakinya.

Dalam Islam sendiri masalah gender sejak 15 abad yang lalu, Islam telah menghapuskan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dan memberikan posisi serta kedudukan kepada kaum laki-laki dan perempuan. Karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan itu sama, seperti dalam surat An-Nisa ayat pertama.

Ada sahabat Rasul dari kalangan perempuan yang patut kita jadikan tauladan. Saya lupa waktu itu Ning Nia mencontohkan siapa. Yang jelas, sahabat Rasul itu ikut ke medan pertempuran dan menjadi relawan kesehatan bagi sahabat-sahabat Rasul lainnya yang terluka. Semoga beliau adalah Rufaidah binti Sa’ad. Kita tahu bahwa pada zaman dahulu perang adalah sesuatu yang luar biasa, karena terjadi secara face to face. Menjadi perawat bukan tugas yang mudah pada saat itu. Beliau (sahabat perempuan Rasul) harus berlari ke tengah medan pertempuran untuk membawa korban yang terluka ke pinggir. Zaman sekarang pekerjaan seperti itu banyak dilakukan oleh laki-laki dengan bantuan ambulance.

Perempuan menurut Islam diperbolehkan untuk aktif dengan tetap memperhatikan kepantasan dan kepatutan. Laki-laki dan perempuan secara bersama memegang peranan penting dalam segala segi kehidupan, tidak ada yang paling super, karena memang demikian Islam menggariskan.

Dalam perempuan dan pendidikan sosial, Bu Fat menjelaskan apa sih sebenarnya pendidikan itu? Bagaimana efek yang diberikan akibat pendidikan? Mengutip pendapat Plato bahwa pendidikan itu adalah pembebasan. Pembebasan dari ketidaktahuan, ketidakbenaran dan pendidikan merupakan pembaharuan untuk membentuk manusia yang utuh. Bu Fat banyak bercerita tentang kisah hidupnya sebagai pendidik dari anak-anak dengan berkebutuhan khusus. Saya heran bagaimana bisa ada perempuan dengan hati yang mulia seperti Bu Fat. Pesan Bu Fat dalam acara talkshow kemarin adalah, jangan pernah meremehkan apapun yang kecil. Bu Fat juga membagikan rumus kehidupan bagi para peserta talkshow, yakni: Aku sopo? Kowe sopo? Aku kon ngopo? Itu adalah falsafah Jawa yang artinya Saya siapa? Kamu siapa? Saya harus bagaimana? Bu Fat juga mengingatkan agar kita selalu melakukan renungan/muhasabah agar kita menjadi pendidik yang lebih baik lagi.

Dalam perempuan dan media, Kak Iraa adalah pilihan yang tepat. Kak Iraa adalah salah satu orang yang sempat saya ajukan untuk jadi narasumber dalam acara “Perempuan di Era Kekinian” di Untag kemarin. Kak Iraa menjelaskan stereotipe-stereotipe yang melekat pada perempuan. Bahwa perempuan itu rapuh, mudah menangis, baperan, tidak mandiri. Perempuan juga selalu diidentifikasi pada ranah rumah tangga.

Ada satu percakapan antara Kak Iraa dan entah siapa yang sangat saya suka. Kemarin dipaparkan oleh Kak Iraa.

"Teteh....apakah Islam mengenal emansipasi?", dia tersenyum
" Islam tidak mengenal emansipasi Mbak Ira. Karena Islam telah mengatur detail hak dan kewajiban dari laki-laki dan perempuan.
 Emansipasi adalah sebuah pemikiran dari sebuah golongan yang dipaksakan secara general pada semua golongan terutama perempuan Islam. Hanya Islam yang memuliakan perempuan. Bayangkan jika berbicara kesetaraan. Tidak ada cuti hamil untuk perempuan. Mempunyai peran ganda sebagai penanggung jawab keluarga yang membuat suami juga melupakan peran mereka. Itu hanya bagian kecil Mbak........“
"Lalu kartini......?"
"Dia hanya 'korban' sebuah konspirasi. Seandainya Kartini tidak mati muda. Seandainya Kartini masih meneruskan kajiannya tentang Al-Quran. Seandainya dia menuliskan juga bagian pemikran dia tentang Islam. Dia pasti sama dengan tokoh-tokoh yang Mbak Ira sebutkan. Kartini hanya butuh persamaan untuk akses pendidikan dan informasi di jamannya. Bukan untuk melupaakn kodrat sebagai perempuan"
"Kodrat sebagai perempuan"
"Iya...Kodrat sebagai perempuan. Istri dari suaminya dan ibu dari anak-anaknya“ Bukan hanya bicara emansipasi tapi juga inspirasi.

Dari percakapan itu, ada salah satu pintu dalam pikiran saya yang seakan terbuka. Pintu yang selama ini tertutup dan mungkin gagang pintunya sudah karatan.

Terlahir menjadi perempuan merupakan keistimewaan. Perempuan harus ‘cantik’, baik akal maupun budinya. Perempuan harus berpendidikan, karena ia adalah pendidik generasi terbaik yang paling baik, dan ia adalah sekolah pertama bagi anak-anak mereka. Perempuan sekolah tinggi bukan untuk menyaingi para lelaki, tetapi membangu generasi.

Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada PAC IPPNU Banyuwangi atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk belajar lagi. Kalian adalah perempuan-perempuan hebat yang Tuhan kirim agar saya senantiasa berkaca. Sekali lagi terimakasih Fitria dan kawan-kawan. Semoga segala sesuatu yang telah kita kerjakan menjadi manfaat dan tentunya barokah.





Rabu, 19 April 2017

Congraduation, Dim.

April 19, 2017 0 Comments
Selamat wis-sudah, Dimas. Selamat bernafas lega setelah selama ini ditempa berupa-rupa cobaan. Selamat bernafas lega setelah akhir-akhir ini berjibaku dengan tugas akhir yang sungguh luar biasa.

Dimas adalah kawanku saat sekolah dasar. Tentu sebagian dari kalian sudah tahu. Karena aku pernah menulis tentangnya dulu. Kali ini pun sama, tulisan ini khusus untuk dia di hari istimewanya.

Dimas adalah satu-satunya kawan SD-ku yang hingga saat ini berkomunikasi dengan baik. Ya, bisa dibilang begitu. Aku lupa bagaimana kenangan kami bersama kawan-kawan dulu. Karena itu sudah lama sekali terjadi.

Dimas dulu juga sempat menjadi teman curhat. Biasalah anak muda. Saat ini pun masih sama. Kami tetap berhubungan baik. Beberapa waktu yang lalu Inda kirim pesan, “Mbel, Dimas wisuda tanggal 19. Sudah tahu kan kamu?” kujawab belum. Karena memang aku belum tahu. Iya, Inda mengenal Dimas. Dimas pun mengenal Inda. Bagaimana mereka bisa saling kenal? Ah, ceritanya panjang, toh, tulisan ini juga tentang wisuda Dimas, bukan tentang bagaimana Inda dan Dimas akhirnya saling mengenal.

Setelah sekian panjang pendidikan yang telah dia lalui, akhirnya hari ini pun tiba. Aku masih ingat bagaimana dia bercerita tentang pengalamannya terombang-ambing di lautan yang entah itu laut mana. Ceritanya tentang tidak ada sinyal dan mendapatakan hiburan dari apa saja di atas kapal. Hingga pengalaman rohaninya yang tak bisa selalu sholat Jum’at. Aku mengerti.

Dimas adalah salah satu kawan yang selalu mensupportku untuk terus menulis. Aku masih ingat bagaimana dulu dia bilang bahwa blogku menjadi hiburan tersendiri selama dia ada di atas kapal. Tentu selama dia mendapat sinyal. Aku sangat menghargai apresiasi yang dia berikan. Dia tak lelah memberi semangat.

Hari ini, di hari istimewanya, aku akan mengucapkan selamat, meskipun sudah kuucapkan tadi di Whatsapp. Selamat wisuda, Dim. Semoga segala ilmu yang kau dapat saat pendidikan berkah dan bermanfaat. Selamat datang di kehidupan yang sesungguhnya. Selamat datang di masa dimana pertanyaan ‘Kapan nikah’ akan datang silih berganti. Hahaha.
 
Semoga kau mendapat pekerjaan yang baik. Tetap semangat, dan terus banggakan orang tua. Bahagiakan mereka selagi ada. Sekali lagi, selamat.

Hayoooo tebak, Dimas yang mana?

Senin, 17 April 2017

Panitia Aksi GenRe

April 17, 2017 0 Comments
Beberapa waktu yang lalu saya sempat komen story WA-nya Bunda Anggie. Waktu itu beliau lagi ngeMC wisuda di Stikom dan lagi foto sama Mbak Ucik, kakak kelas saya SMK. Dari komen itu, lalu Bunda bilang “Kebetulan WA. Ada tugas buat Mey.” Lah, belum apa-apa dah ada tugas aja. Lalu Bunda kirim surat pemberitahuan dari BPPKB Kab. Banyuwangi. (Oh ya, buat yang belum tahu kenapa kok Bunda bisa ngirimin saya surat itu, sekarang Bunda jadi Ka. Humas di kampus merah putih. Ngerti Ka. Humas kan, ya?) Isinya adalah mengundang 10 orang mahasiswa untuk berpartisiasi dalam acara Aksi GenRe di Taman Blambangan. Di lembar disposisi, dibawah kolom apa gitu saya lupa, ada tulisan tangan, hubungi Suryanto/Meydiana Isfandari mhs Fisip. Saat itu, saya langsung kirim foto surat tersebut ke Suryanto. Ternyata Sur dah tahu, jadilah komunikasi kita akhirnya mudah. PR kita adalah mencari 8 lagi mahasiswa.

Saya lumayan excited ketika dapat surat itu. Ada perasaan yang susah dijelaskan. Retrouvailles, gitu, deh. Saya jadi ingat pengalaman saya bersama tiga adik-adik saya yang hebat saat di Malang dulu. Kangen juga dengan kegiatan-kegiatan dari BPPKB. Sabtu sore, ada briefing dan pembagian kaos untuk peserta acara. Ketika kami dah pada kumpul, ada sedikit briefing yang diberikan pada kami. Orang-orang yang datang pada sore itu diminta tolong untuk menjadi panitia. Sudah sa duga.

Oh ya, di pertemuan itu saya jadi ketemu sama Zaka lagi. Zaka ini mahasiswa Unair yang dulu sempat satu acara dengan saya di Jambore Pemuda di UBI. Dulu barengan dengan Tifal, Hastiyan, Nilam, sama siapa lagi, ya? Lupa saya. Jadilah, reuni tipis-tipis.

Setelah diberikan briefing dan pembagian tupoksi, kami semua foto bersama. Ada pamflet yang diberikan oleh panitia dari BKKBN pusat. Disana tertera acara-acara yang akan digelar, anak muda banget acaranya. Ada permainan tradisional, stand up comedy, acapella, dan special guest star ‘Jikustik’. Saya jadi ngebayangin ada Mas Pongky Barata datang ke Banyuwangi, tapi, kan, sekarang bukan beliau lagi vokalisnya. Sekarang siapa? Saya nggak tahu siapa.

Ada hal yang menarik yang dikatakan Bibeh di sela-sela acara kumpul Sabtu sore kemarin. “Di, lu kenapa ngajakin gue?” Ya elah, Woh, penting nggak sih itu ditanyain? Saya jawab sambil ketawa, “Ya kamu orang kedua yang ada di pikiranku pas pertama kali dapat surat itu.” Saya lupa sebenarnya Bibeh itu orang kedua atau ketiga, karena yang jadi orang pertama pada waktu itu adalah Mega. Setelah Mega, saya memikirkan Irfan dan Bibeh. Ya, deh, kayaknya, Bibeh adalah orang kedua yang saya pikirkan, baru setelah itu Irfan.

Ah, masa bodoh siapa yang duluan, Irfan atau Bibeh, yang penting mereka berdua bisa ikutan. Hehehe. Terus setelah saya bilang gitu ke Bibeh, dia mulai rangkul-rangkul saya sambil meracau kata-kata terimakasih yang yaaaah bikin geli gitu, lah. Wkwkwkwk.

Sampai sini dulu cerita untuk hari Sabtu. Hari H-nya saya tulis di beda postingan, ya.
Oh, ya, bagi yang nggak tahu apa itu GenRe, GenRe adalah kependekan dari Generasi Berencana. Dah, sisanya silahkan gugling sendiri.


Ituuuu, jodohku :D


Sabtu, 08 April 2017

A Day with Melanie Subono

April 08, 2017 2 Comments
Akhirnya saya bisa bernafas lega dan tidur dengan nyenyak. Hari dimana saya tidak bisa konsentrasi dengan baik dan bolak balik mules itu telah terlewati. Ya, acara yang mengundang Melanie Subono dan Indah Catur serta menjadikan saya sebagai moderator itu akhirnya usai sudah.

Saya bingung harus cerita dari mana, gaes. Begitu banyak cerita yang ingin saya sampaikan, jadi baca aja dulu, meski ceritanya lompat sana-sini, saharapkaliantakbosan.

Jadi, beberapa minggu yang lalu, saya dan kawan-kawan BEM rapat persiapan seminar perempuan, yang memang sudah masuk program kerja kita. Setelah duduk bareng, makan bareng, guyon bareng, akhirnya kita sepakati tema yang diambil adalah Peranan Perempuan di Era Kekinian. Pertama-tama alot tuh, ada yang nggak setuju, apalagi para lalaki cerewetnya naudzubillah, ngalah-ngalahin perempuan. Tapi yah, toh akhirnya mufakat juga. Banyak pertimbangan serta filosofi-filosofi yang terlontar dibalik makna tema tersebut, yang sa rasa tak perlu dijabarkan disini, karena akan membuat tulisan ini bertambah tak asyique. Atau perlu? Ah, tak perlu lah, ya?

Setelah tema di tentukan, mulailah kami diskusi perihal who’s the speaker? Mulai dari Mbak Ika (yang dulu presma Untag pada masanya), Bunda Anggie (yang ini adalah rekomendasi dari saiyyah), Mbak Ira Rachmawati tukang bikin baper karena tulisannya (ini juga rekomendasi dari saiyyah), sampai Bu Anas (yang hanya tinggal wacana, karena nggak komunikasi-komunikasi ke beliau). Dan semua nama yang sa sebut itu tidak ada yang terwujud. Ndilalah, di tengah-tengah rapat yang disertai hujan pembawa kenangan itu, Mas Sunan menawarkan bagaimana jika kita undang Melanie Subono. Mak glek, ndane? batin saya waktu itu. Memang, beberapa bulan lalu Mas Sunan sempat mengirim screen capture percakapannya dan Mbak Melani di twitter. Isinya tentang tweet Mas Sunan yang berbunyi, “Kapan nih Melanie ke Banyuwangi” dan di reply oleh Mbak Mel “Kalo niat, pasti udah hubungin nomor di CP.” Kurang lebih begitulah bunyinya. Screen capture itu dikirim Mas Sunan ke grup WA. Ya waktu itu kebanyakan anggota hanya merespon dengan biasa saja. Karena memang belum bisa menempatkan momen yang tepat untuk mengundang Melanie. Dan ndilalah lagi, pada waktu itu juga (pada saat rapat) Bang Rohim mencoba menghubungi nomor manajer Mbak Melanie, Teh Dian.

Singkat kata singkat cerita aku dan dia jatuh cinta, beberapa hari setelah rapat, Bang Rohim kirim screen capture juga ke grup. Isinya tentang obrolan dia dan Teh Dian masalah jadwal Melanie. Beliau (Mbak Mel) bisanya tanggal 7 kalau nggak 8 April. Nah, waktu itu kita sudah sepakat tanggal seminarnya 31 Maret. Tapi, berhubung ada sinyal baik dari pihak Melanie, akhirnya kita reschedule. Ada untungnya juga, kita bisa mematangkan konsep. Dan, saya masih geleng-geleng nggak percaya. Beneran Melanie Subono, nih? Melanie Subono, aktivis yang biasa saya lihat di tipi-tipi kelir itu? Yang eyangnya adalah presiden ketiga RI itu? Berapa duit, tuh. Wkwkwk.

Dan setelah kemarin Sudjiwo Tejo, hari ini Melanie Subono. Daebak!!! Saya nggak ngerti lagi harus dengan kata apa saya mengekspresikan rasa bangga saya ke BEM Untag Banyuwangi. Keren, kece, hebat, ada lagi yang lebih dari itu? Mas Sunan pernah guyon, “Setelah ini siapa lagi ya yang kita undang?” saya mbatin, Fedi Nuril, bisa, Mas??? Hwehehehehe ...

Setelah komunikasi antara Bang Rohim dan Teh Dian yang berlangsung selama beberapa hari, akhirnya fix hari dan tanggal acara. Hingga kami pun merilis poster resmi seminar perempuan tersebut. Sempat ada beberapa kendala yang hampir membuat kita maju mundur. Di saat urusan dengan pihak Melanie sudah selesai, kondisi kampus yang beberapa hari belakangan ini sempat hot lagi, hampir membuat kami pikir-pikir ulang jadi atau tidak. Gundah gulana dah tuh. Karena ini ada hubungannya dengan anggaran.

Saya yang pada saat rapat ditunjuk sebagai moderator secara paksa dan tak mufakat, langsung spaneng beberapa menit. Pulang ke rumah, saya langsung korek semua informasi tentang Melanie Subono. Saya buka youtube, artikel, website Rumah Harapan. Saya tonton sebagian besar acara talkshow beliau yang ada di internet. Saya baca berita-berita seputar Melanie Subono. Saya follow segala akun sosial medianya. Saya buka lagi catatan-catatan saya tentang peempuan. Saya ulas lagi buku-buku yang membahas perempuan yang saya miliki. Lama kelamaan, saya jadi mikir, saya ini ngapain sih sebenernya? Kok kayak anak SMA mau UAN gini? Semakin saya memikirkan harus bicara apa nanti, saya semakin grogi, semakin mules, semakin nggak bisa mikir. Akhirnya yang bisa saya lakukan adalah menyusun daftar-datar pertanyaan untuk nanti saya tanyakan.

Saya dah membayangkan bagaimana sosok Melanie Subono, gimana kira-kira orangnya, enak nggak sih diajak sharing. Saya takut kejadian seperti Mbah Tejo dulu terulang lagi. Bisa-bisa saya semaput di atas stage. Dari percakapan di grup yang memantau keberadaan Melanie, saya terus komat-kamit nggak jelas. Bang Rohim yang bertugas menjemput Mbak Mel selalu update lokasi mereka. Semakin mereka mendekati kampus, saya makin nggak keruan. Satu chat yang membuat saya agak tenang adalah ketika Bang Rohim bilang, “Aku tadi juga canggung, tapi Mel asyik guyonan.” Fix, urat-urat grogi di tubuh saya yang tadi singset luar biasa jadi kendor.

Hal itu terbukti ketika pertama kali Mbak Melani, Pak Rektor, dan Mbak Indah masuk aula. Ketika yang lain lewat tengah, Mbak Mel justru melipir ke pinggir. Duh, saya nggak bisa nahan ketawa. Saya sempat bilang, “Ngapain lewat situ Mba Mel?”, belio jawab, “Malu” sambil menunjukkan sikap yang emeshin banget.

Begitu juga dengan Mbak Indah. Saya cari info tentang aktivitas beliau dari teman-teman. Saya juga kepoin facebooknya. Namun, tidak banyak yang saya dapat dari sana. Akhirnya setelah Bara mengirim profil beliau, saya sedikit memiliki gambaran. Profil kedua narasumber ini bikin saya geleng-geleng. Dalam hati nggak henti-hentinya bilang ‘Luar biasa’. Pertama kali saya bertemu Mbak Indah juga saat hari H. Saya sempat sampaikan ke Bara, kira-kira Mbak Indah datang ke kampus jam berapa, karena saya butuh sedikit chit-chat dengan beliau.

Akhirnya saya bisa bertemu dengan Mbak Indah di saat aula masih lengang. Benar-benar di luar dugaan, saya sempat tidak mengenali beliau, karena sebelumnya memang belum kenal. Hanya melihat fotonya di banner. Mbak Indah itu imut luar biasa. Kecil-kecil cabe rawit lah pokoknya. Dan kabar baiknya lagi, belio orangnya sealiran sama saya, sama-sama seneng guyon. Semesta tengah berpihak pada saya.

Acara inti pun tiba. Seminar dan talkshow yang saya pandu dengan pembicara Melanie Subono dan Indah Catur Cahyaningtyas. Setelah opening speech yang saya berikan, lalu saya mempersilakan kedua narasumber naik stage. Saya masih antara sadar dan tidak, sepanggung dengan Melanie, begitu dekat dengan Melanie. Setelah salaman, yang itu agak norak, tapi ya sudahlah ya, kesempatan nggak datang dua kali, wkwkwk, Mbak Indah pun memberikan speechnya terlebih dahulu dan disusul oleh Mbak Mel.

Lagi-lagi Mbak Mel membuat semua orang nggak habis pikir dengan tingkahnya. Setelah duduk santai di kursi kayu, kali ini beliau mengajak saya dan Mbak Indah untuk kelesotan di undakan stage. Biar lebih dekat dengan peserta katanya. Saya mah iya-iya aja. Sedari tadi, saya masih terus terpaku dengan sosok Melanie Subono. Saya lihatin Mbak Mel dari atas sampai bawah. Saat seorang peserta bertanya tentang bagaimana tanggapan tentang perempuan yang tidak bisa dipisahkan dengan air mata dan cara menumbuhkan kesadaran untuk bergerak, ketika giliran Mbak Indah memberikan jawaban, Mbak Mel malah ngomong ke saya, “Gue sih ngeliatnya nggak ada hubungan antara air mata sama perubahan”, saya disebelahnya hanya ngangguk takzim, belio lanjut lagi, “Kalo mau nangis ya nangis aja, bagus lagi buat kesehatan. Apa gunanya coba Tuhan ngasih emosi tapi nggak digunakan.” Saya lagi-lagi ngangguk. “Image aktivis memang kuat kali, Mbak. Kelihatannya nggak pernah nangis” Belio jawab, “Iya kali yak”. Ih, luar biasa nih orang, two thumbs up for you, Mbak. Humble banget.

Berdasarkan rundown acara, Mbak Melanie akan memberikan pertunjukan akustik, tapi berhubung tangan kirinya patah, jadi akustik batal. Beliau hanya membawakan lagu Tanah Air. Selesai acara, mulai ramai peserta yang ngerubung minta foto. Saya ngeri ngelihat Mbak Melanie dirubung banyak orang begitu. Naluri mak-mak saya keluar, bukannya Teh Dian yang cerewet ngasih tahu orang-orang agar hati-hati sama tangannya Melanie, justru saya yang sedari tadi berik-berik, “Hati-hati yaa tangan Kak Mel patah. Awas, hati-hati.” Biar dah saya di sewotin orang. Habis ngeri banget, Mbak Mel-nya saya lihat sibuk mengamankan tangan kirinya ke belakang.

Sesi foto kelar, kami keluar kampus kurang lebih pukul 18.00 wib. Sesuai jadwal yang sudah ditentukan, selepas seminar kami akan mengantar Mbak Mel dan Teh Dian makan. Sama seperti Mbah Sujiwo dulu, kami makan di Mbok Wah. Nasi tempong yang membuat Teh Dian huh-hah-huh-hah. FYI, Mbak Melanie adalah vegan. Sudah setahun lebih, dulunya beliau vegetarian.

Di Mbok Wah itulah kami ber-enam ngobrol secara intens. Saya, Bibeh, Bara, Mbak Afi, Teh Dian, dan Mbak Melanie. Ada Mas Riko sih, tapi nggak gabung sama perempuan-perempuan ini. Belio duduk di dekat Mbak Kasir.

Awalnya rada kaku, tapi akhirnya obrolan mengalir dengan lancar. Dari obrolan itu juga saya akhirnya tahu kalau Teh Dian juga seseorang yang suka banget sama Drama Korea. Wohooo, dah kayak nemu teman hidup. Saya tanya drama apa yang lagi di tonton, belio menyebut satu judul drama yang saya nggak ngerti, dan Goblin. Saya bisa lihat ekspresi Mbak Melanie dan Bara seperti ‘hmmm mereka bahas apaan sih’. Saya, Bibeh dan Mbak Afi sih para penggemar drakor, jadi ya nyambung aja.

Ada untungnya juga saya kepoin segala aktivitas Mbak Mel. Hal itu bisa jadi bahan obrolan kami malam itu. Ada banyak cerita saat kami makan. Mulai dari kegiatan-kegiatan Mbak Mel, Mbak Mel jadi Vegan dah berapa lama, gimana ceritanya ketemu sama Teh Dian, terus saya yang nggak percaya kalau ternyata Teh Dian dah bersuami dan beranak (kucing kali, ah, beranak) aktivitas Mbak Melanie terlibat dalam film Wiji Thukul, ketakutannya sama ayam yang sekarang udah mulai nggak takut, hingga saya tanya, “Tuh tangan patah kenapa, Mbak?” diawab dengan santainya, “Panggung roboh. Ya gitu deh.”

Sebenernya sama dokter dah disuruh pakai gips kalo ke tempat umum. Bukan apa-apa, biar orang tahu tuh tangan lagi sakit. Tapi emang dasar Mbak Mel-nya begitu, nggak bebas kalo pakai gips katanya. Dan, itu lah yang menyebabkan saya berik-berik kayak orang gila di aula tadi. Peserta seminar dah pasti nggak tahu kalau tangan kiri Mbak Mel sakit. Jadinya weh saya teriak-teriak. Padahal Teh Dian aja selaw -___-

Lumayan lama kami selonjoran di Mbok Wah. Setelah Mbak Melanie menghabiskan dua batang rokok, baru kami berangkat ke Radio Mandala. Jadwal setelah makan Mbak Melanie akan live talkshow di Mandala. Baru kali ini saya masuk ke ruang siarannya Mandala. Dulu hanya sebatas duduk di ruang tamunya aja. Baru kali ini juga saya ketemu Mbak Dyna yang ternyata aduhai syekali itu. Duh, bagian Mbak Dyna akan saya bikin tulisan sendiri aja. Khusus Mbak Dyna.

Selesai sudah kegiatan seharian yang sungguh menguras tenaga. Saya dan Bibeh berpisah dengan Mbak Melanie dan Teh Dian di Mandala. Kami nggak ikut acara dialog yang akan dilakukan Mbak Melanie dengan para aktivis lingkungan. Biasa, alasan klise, jam malam.

Satu kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan dari sosok Melanie Subono. Keluar dari ruang siaran, dengan innocentnnya dan wajah lelah, beliau manggil-manggil Teh Dian, dah kayak anak nyari ibunya, “Mbak Dian, Mbak Dian mana?” duh, nggak bakal ditinggal kali Mbak, Teh Dian nunggu di ruang tamu noh. Saya hendak tertawa, namun apa daya, lelah mengalahkan segalanya.

Terimakasih, Mbak Melanie, Teh Dian, atas diskusinya. Terimaksih banyak.


Tim heboh

Thanks, puan.

Saus Tiramku

April 08, 2017 0 Comments
Dibalik segala kegiatan yang saya lakukan, setidaknya selalu ada teman yang selalu support saya. Entah mereka support dengan cara menghadiri acara atau support dengan cara terlibat juga dalam acara tersebut. Pada acara seminar perempuan kemarin, saya dan Bibeh sempat melihat daftar nama-nama peserta yang sudah di rekap. Bibeh menanyakan nama-nama para sahabatnya yang sudah tak asing lagi di telinga saya. Dia bilang, “Aku tuh kalo ada acara, mesti gengges tak suruh datang wes Mey. Kamu gitu juga?”

Saya hanya tersenyum, “Nggak sih, Woh. Ya gimana ya, nggak pernah sih.” Lalu kami terdiam dalam kesibukan masing-masing. Kemarin, di saat saya sedang sibuk rekap nama-nama peserta yang dikirim oleh Bara, saya melihat nama-nama orang yang sudah saya kenal. Dari sana, saya sudah senang. Meskipun saya tidak meminta mereka datang, mereka datang.

Sesaat sebelum acara dimulai, Bibeh memanggil saya, “Di, tuh kawan-kawanmu.” Saya menoleh ke arah yang ditunjuk Bibeh. Ada Donat rasa permen blaster (waktu itu dia pakai baju loreng-loreng biru putih) yang datang bersama cabe kering. Saya sumringah. Lantas saya menghampiri mereka, ketemu, ceriwis, dan yaaah gitu lah pokoknya.

Saat sedang umek kesana-kemari saya juga sempat melihat Mbak Rodiah, kawan sekelas saya. Lalu, saat mengunjungi tempat re-registrasi saya juga bertemu dengan beberapa kawan FISIP angkatan 2014. Saya juga ketemu Rinda, teman senasib sepenanggungan saat PMAD. Tuh, dengan melihat mereka-mereka yang datang tanpa saya minta saja, saya sudah bahagia luar biasa.

Balik lagi ke Donat dan Lia. Saya melihat mereka masuk bersama. Dah bisa di tebak, kapan hari Lia sempat bilang ke grup, “Melebune bareng yo.” Ya ampun, Kak. Situ kuliah dah berapa tahun? Masuk aula aja pake barengan. Emang situ maba? Pake malu-malu segala. Susah sih jadi artisnya kampus, banyak haters keliaran. Wkwkwkwk.

Saya duduk menemani Donat dan Lia hanya sebentar, sesaat sebelum saya kembali ke tugas, saya bilang ke Lia, “Rungokno seminare, perempuan kekinian bukan cabe-cabean loh.” Lia seperti biasa, ekspresinya meringis minta ditabok. Ah, sudahlah, gaes, saya nggak bisa lagi berkata-kata.

Kehadiran mereka berdua merupakan vitamin bagi saya. Setidaknya, meskipun mereka nggak bilang ‘Semangat yaa, Kak’ tapi semua itu tersirat langsung dalam perbuatan. Saya yang mules sedari pagi, melihat mereka datang, jadi makin mules. Hahahaha.

Terimakasih, saus tiram atas kehadirannya. Kalian perempuan-perempuan luar biasa yang saya kenal. Kalian perempuan-perempuan era kekinian yang hebat. Saya tahu, kalian datang ke seminar kemarin tak lain dan tak bukan hanya karena Melanie Subono dan tentunya selembar sertifikat, saya tahu. Kalian kan mahasiswa semester tuwa yang tengah berburu sertifikat demi persyaratan sidang skripsi. *kasih emot ngakak sampai nangis

Once again, thanks for support me as always. Plis, nggak usah terharu.

Senin, 03 April 2017

Memahami Hidup

April 03, 2017 0 Comments
Dalam hidup, kita senantiasa dihadapkan pada berbagai macam karakter manusia. Berupa-rupa sifat manusia bertebaran di muka bumi ini. Dari yang keras kepala, hingga sabar luar biasa. Semuanya ada. Semuanya tersedia.

Kita tidak bisa menentukan bagaimana seseorang harus bersikap. Kita tidak bisa menyuruh seseorang harus bersikap seperti yang kita kehendaki. Hidup tidak berjalan seperti itu. Manusia dengan segala sifatnya menghiasi bumi ini seperti pelangi. Tersusun dari warna-warna yang berbeda, namun indah.

Saya telah bertemu dengan macam-macam watak manusia melalui sebuah hubungan bernama teman. Mereka tak hanya memberi pelajaran, lebih dari itu, mereka memberi pemahaman, mereka mendewasakan.

Kita harus paham bahwa hidup tidak selalu tentang memberi, tidak selalu tentang mencintai, tidak selalu tentang mendengarkan, tidak selalu tentang melihat, tidak selalu tentang membenci. Ada saatnya kita berada pada posisi diberi, dicintai, didengarkan, dilihat dan dibenci. Because, everything has two side.

Mungkin selama ini kita biasa di dengarkan, hingga kita lupa, kita juga butuh mendengarkan. Kita lupa, karena terlalu sering di dengarkan, akhirnya kita egois. Karena terlalu sering di dengarkan kita menjadi manusia yang tak peka. Karena terlalu sering di dengarkan kita menjadi manusia yang menganggap remeh segala hal. Ada saat dimana kita harus mendengarkan. Jangan maunya hanya di dengarkan saja. Dengan mendengarkan, kita akan tahu hal-hal yang sebelumnya tidak kita tahu. Bukankah itu gunanya kenapa Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga? Agar kita lebih banyak mendengarkan daripada di dengarkan.

Mungkin selama ini kita biasa mencintai, hingga kita lupa, kita juga berhak untuk dicintai. Kita lupa, karena terlalu dalam mencintai, kita jadi tak mencintai diri kita sendiri. Untuk apa kita mencintai namun kita tidak dicintai? Bukankah hanya sakit dan lelah yang akan kita terima?

Kita habiskan waktu untuk membenci manusia-manusia lain. Tidakkah kita sadar bahwa suatu hari nanti kita juga akan dibenci? Terlalu berharga waktu yang kita buang hanya untuk membenci orang yang telah melukai kita. Bukankah hal itu hanya akan membuat pekat hati? Kita tidak bisa jadi bijak dan dewasa dengan hati yang pekat.

Hal-hal sepele yang sering kita sepelekan. Hidup itu terus berputar. Jika hari ini kita dibawah, suatu saat pasti kita diatas. Jika kita diatas, suatu saat nanti pasti kita akan jatuh kebawah.
 
Sumber : Instagram