Kamis, 06 Juni 2019

Ungkapan "Tak Ada yang Abadi" sebagai Penawar Lara

Juni 06, 2019 0 Comments
Saya menghabiskan beberapa menit di depan laptop untuk memulai tulisan ini. Sebelumnya, selamat lebaran, teman-teman. Semoga kita semua berlapang dada untuk menerima segala keputusan Tuhan dan memulai semuanya lagi dari awal dengan hati yang baru.

Ungkapan ‘tak ada yang abadi’ agaknya harus menjadi pedoman hidup bagi setiap kita. Agar ketika kita menghadapi hal-hal yang berbeda dari kebiasaan, kita tidak terkejut. Jika tahun ini ada dari kalian yang berlebaran berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, maka ingatlah pedoman bahwa ‘tak ada yang abadi’ di dunia ini.

Tahun lalu, kita masih bisa berlebaran bersama keluarga dan menikmati suasana hangat bersama mereka. Tapi tahun ini, kita harus abstain untuk berkumpul bersama keluarga saat lebaran karena harus menjalankan kewajiban pekerjaan.

Tahun lalu, kita masih bisa berlebaran bersama orang-orang terkasih dan bersenda gurau bersama sembari menikmati opor ayam. Tapi tahun ini, kita harus ikhlas melewati lebaran tanpa hadirnya orang-orang tekasih karena mereka harus ‘pulang’ lebih awal.

Tahun lalu, kita masih merayakan lebaran seorang diri. Belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hadir saat lebaran, sehingga menjadi ajang bully oleh handai taulan. Tapi tahun ini, kita patut bersyukur karena sudah bisa dengan bangga mengajak teman hidup untuk berlebaran bersama keluarga besar.

Tahun lalu, kita masih bisa berlebaran dengan fisik yang sehat, sehingga bisa mendatangi rumah tetangga dan saudara. Tapi tahun ini, kita harus berlapang dada dengan kondisi fisik yang lemah karena sakit saat hari raya.

Tahun lalu, kita masih merasakan suasana hangat berlebaran di rumah bersama keluarga. Tapi tahun ini, kita mesti menghadapi ujian dengan berlebaran di tempat seadanya karena rumah kita hangus terbakar atau rata oleh tanah karena bencana alam.

Tahun lalu, kita masih menerima yang namanya ampau lebaran. Tapi tahun ini, karena sudah bekerja dan berpenghasilan, kita bisa memberi adik-adik kecil kita ampau lebaran.

Segala kejadian tersebut membuat ungkapan ‘tak ada yang abadi’ menjadi benar adanya. Ia tak hanya kekal sebagai ungkapan, tapi menjadi hukum yang berlaku dalam semesta.

Tahun ini, saya harus bersyukur karena telah mampu memberi untuk orang-orang dari hasil kerja saya. Hasil dari pekerjaan yang sangat saya cintai. Hasil dari pekerjaan yang membuat saya selalu merasa cukup.

Disisi lain, saya harus bersedih hati karena lebaran tahun ini kondisi fisik bapak tidak sebugar lebaran tahun lalu. Saat mengunjungi rumah saudara di Kedunen, bapak tidak ikut. Selama bertahun-tahun kami selalu keluar rumah bersama saat lebaran. Dari yang dulu satu motor berempat (sebelum ada Fahri) hingga sekarang kami butuh dua motor untuk pergi. Setiap lebaran kami selalu bersama. Bapak, ibu, saya, Ardi, Fahri. Namun, ketika tahun ini saya harus disadarkan oleh fakta kesehatan bapak yang tidak lagi seperti dulu, saya agak tidak terima.

Kenapa harus bapak saya? Bertahun-tahun keluarga kami tidak apa-apa. Tidak ada yang sakitnya sampai seperti sakit bapak saya saat ini, yang setiap saya melihat beliau membersihkan luka-lukanya, hati saya hancur.

Kemudian saya ingat hukum yang berlaku dalam semesta itu, dan kesedihan saya berangsur hilang. Hal-hal seperti ini harusnya sudah tidak perlu diratapi. Tuhan memberikan sesuatu pada kita, di sisi lain sudah tentu ada sesuatu yang lainnya yang Dia ambil. Tahun ini mungkin Tuhan memberikan kepada saya kecukupan finansial sehingga bisa berbagi, tapi Tuhan juga mengambil nikmat sehat kepada bapak saya sebagai ujian.

Siapa yang tidak ingin kehidupannya di dunia lancar-lancar saja? Baik-baik saja? Tentu semua orang menginginkan hal tersebut. Hidup berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan. Tapi, kan, tidak begitu. Tentu setiap dari kita memiliki persoalan hidupnya masing-masing.

Tidak cukup sampai pada bapak saja saya dibuat sedih. Ketika datang ke rumah Mbah Ji (kakak kandung mbah saya dari pihak ibu) hati saya kembali dibuat hancur. Mbah Ji, satu-satunya kakek yang saya miliki saat ini, harus kehilangan nikmat sehat juga. Beliau telah pikun. Tidak ada lagi guyonan yang kerap beliau lontarkan pada saya dan keluarga ketika datang. Fisiknya memang terlihat baik-baik saja, tapi tidak dengan jiwanya.

Ketika saya duduk di depan beliau dan mencium tangannya, pandangan matanya kosong. Beliau memang menyambut setiap tamu yang datang dengan senyum, tapi tidak ada satu pun orang yang ia kenali. Bahkan, saya sampai berucap “Diana, mbah” dengan harapan beliau bisa mengenali saya, karena salah satu cucunya ada yang namanya sama dengan saya, Diana.

Tapi beliau hanya berujar lirih, “Diana”, sambil tetap tidak mengingat saya. Saya yang hanya cucu jauhnya ini saja sedih melihat kenyataan orang-orang yang kita sayangi ini lupa terhadap kita. Apalagi istri, anak-anak dan cucunya. Mbah Ji memberikan kenangan yang baik di ingatan saya dan keluarga. Dari tahun ke tahun di masa lampau (sebelum beliau pikun), saat keluarga kami datang, beliau selalu menyambut kami penuh hangat, tidak lupa tawanya yang selalu terpasang di wajahnya.

Kembali lagi saya menyadari bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Orang-orang harus bersiap diri untuk menerima perubahan, menerima kenyataan, menerima keputusan Tuhan. Susah memang, tapi pasti bisa.

Sekali lagi, selamat merayakan Idulfitri dengan cara masing-masing. Mari saling memaafkan, mari saling menguatkan.

Sumber: @turkey_home