Sabtu, 17 Januari 2015

I Have Tried My Best

Januari 17, 2015 2 Comments
Aku pernah bercerita tentang mimpi yang kualami?
Belum ya?
Baiklah. Beberapa waktu yang lalu sebelum menjalani UAS aku pernah bermimipi bahwa nilai indeks prestasiku turun. Dalam mimpi aku dapat IP 3,99.
Setelahnya, aku juga bermimpi aku tidak lulus mata kuliah Statistik. Oh ... :'(

Entahlah, sebelumnya aku tidak pernah begini.
Aku tidak pernah sampai harus mengalami mimpi tentang penurunan nilaiku.
Aku juga merasa selama ini aku tidak begitu memikirkannya.
Benarkah aku tidak memikirkannya?
Memikirkan nilai-nilaiku di semester ini?
Aku rasa aku hanya berusaha membesarkan hati, padahal sebenarnya aku sering memikirkan bagaimana nilaiku di semester-semester yang akan datang.

Aku sudah berusaha untuk tidak memikirkannya.
Yang terpenting adalah aku sudah menjalani prosesnya dengan baik.
Aku sudah berusaha melapangkan hati dengan tetap belajar dan konsisten.
Namun tetap saja, bayang-bayang nilai menghantuiku.

Ini bukan masalah aku kuliah hanya mementingkan nilai.
Sama sekali bukan.
Ini tentang mereka yang sudah begitu baik terhadapku.
Tentang mereka yang sudah sepantasnya kuberi persembahan terbaikku berupa nilai kuliah.
Tentang mereka yang sudah membuatku dapat melanjutkan kuliah.
Ini tentang mereka.

Aku pun selalu berfikir sejauh mana sebenarnya pengetahuan yang kudapat dari perkuliahan.
Sejauh mana kemampuanku memahami apa yang kudapat dari para dosen.
Aku selalu tidak bisa mengukur kemampuanku sendiri.

Jika aku mau, sebenarnya aku bisa saja kuliah dengan seenaknya.
Datang, duduk, diam, pulang.
Kuliah dengan tidak terbebani sama sekali.
Tapi aku tidak bisa.
Aku tidak bisa melakukan itu?
Aku tidak bisa dengan seenaknya membuang waktuku hanya untuk bersenang-senang?
Menghamburkan uang mereka yang sudah menguliahkanku.
Semua orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Memang. Siapa yang tidak jenuh berkutat pada tugas-tugas?
Siapa yang tidak bosan dengan rutinitas kuliah?
Siapa yang tidak lelah dengan segala macam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan?

Aku jenuh. Aku bosan. Aku lelah.

Tapi semua itu, semua kejenuhan, kebosanan dan kelelahan itu menjadi renungan untukku.
Itu semua adalah proses Mey. Proses yang akan membuatmu semakin matang. Proses yang akan membuatmu semakin kuat. Proses yang harus kamu lalui sebagai manusia.

Aku hanya terlalu khawatir dengan nilai Administrasi Kepegawaian.
Aku hanya terlalu khawatir dengan nilai WasBang.
Aku hanya terlalu khawatir dengan nilai Statistik.
Aku hanya terlalu khawatir dengan nilai Bahasa Inggris.
Aku hanya terlalu khawatir dengan nilai Perencanaan Partisipatif.
Aku hanya terlalu khawatir dengan nilai Administrasi Keuangan Negara.
Aku hanya terlalu khawatir dengan nilai Antropologi.
Aku hanya terlalu khawatir dengan nilai Organisasi & Manajemen.
Aku hanya terlalu khawatir dengan tugas Demografi yang sedang kukerjakan malam ini.

Aku hanya terlalu khawatir dengan semua mata kuliah di semester ini.

Besok adalah ujian terakhirku. Demografi.
Setelahnya, aku hanya akan menikmati masa liburan yang sudah tercium wanginya. Aku rindu tidur siang. Aku rindu berkebun. Aku rindu main badminton dengan Ardi. Aku rindu menyapu halaman rumah sore hari. Ah, banyak sekali yang kurindukan.

I have tried my best so far. Apapun hasilnya nanti, berapapun nilai yang kudapat, itu adalah persembahan terbaikku untuk kalian.
Bukankah sebuah proses tidak pernah mengkhianati hasil?


Senin, 12 Januari 2015

Menjadi Pendengar Yang Baik

Januari 12, 2015 0 Comments
Pernahkah kita sadari mengapa Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga?
Ya, seperti judul diatas.
Manusia hendaknya lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.
Dengan mendengar dua kali lebih banyak harapan yang timbul adalah kita bisa berbicara dengan baik.

Belajar tidak hanya di sekolah.
Dari sekitar kita juga bisa mendapat pelajaran.

Aku bukan seorang pemberi solusi yang baik.
Aku bukan seorang psikolog.
Aku baru 19 tahun menjalani pahit manis kehidupan.
Namun, aku selalu berusaha untuk menjadi pendengar yang baik untuk kalian.
Kawan-kawanku.

Bahkan mungkin kalian tahu aku sama sekali tidak memiliki pengalaman atas apa yang kalian curhatkan padaku.
Tapi aku tahu, kalian hanya butuh seseorang yang mau mendengar keluh kesah kalian.
Yang mau mendengar isi hati kalian.
Kalian harus bercerita agar perasaan kalian terasa lebih lega dari sebelumnya.

Hari ini Raju menumpahkan segala perasaan bimbangnya padaku.
Dia masih belum mendapat jawaban atas pertanyaannya selama ini.
Kenapa Rinda memutuskan dia?

Aku teman baik Rinda. Raju juga temanku.
Kalian berdua temanku.
Aku senang Rinda mendapat laki-laki yang benar-benar menyayangi dia seperti Raju.
Tapi, mungkin Rinda belum bisa melihat keseriusan mantan pacarnya itu.

Guys, ketika kalian berdua mendatangiku dengan perasaan-perasaan galau aku sebenarnya bingung harus berbuat apa?
Aku bingung harus melakukan apa?
Dan aku bingung harus memberi kalian nasihat yang seperti apa?
Aku hanya membiarkan kalian bercerita hingga tiba giliranku untuk berbicara.

Ketika giliran itu tiba?
Aku juga masih bingung harus berkata apa.

Aku hanya memberikan kalian semangat.
Memberikan kalian advice yang aku rasa semua orang akan memberikannya.
Seperti "Ya sabar aja, kalo jodoh pasti nggak kemana kok."
That's it.

Ini permasalahan yang rumit.
Tentang hubungan dua anak manusia.
Tentang kalian yang berpacaran

Setidaknya, dengan kejadian yang menimpaku beberapa waktu yang lalu, aku bisa sedikit merasakan hal yang sama seperti kalian.

Tidak hanya Rinda dan Raju.

Beberapa hari yang lalu Inda juga datang padaku dengan masalahnya yang jauh lebih rumit daripada dua temanku diatas.
Masalah antara dirinya, pacarnya, dan masa lalu sang pacar alias mantan.

Tuhanku, terima kasih sudah Kau kirim mereka dengan latar belakang masalah yang berbeda untuk membuatku mengerti bagaimana harus bersikap.
Untuk memahami bagaimana naik turunnya sebuah hubungan.
Untuk merasakan bagaimana sakit, senang, bahagia.

Kadang aku juga capek lhoo pas lagi enak-enak istirahat terus kalian bbm.
Ngetiknya ini lhoo rek yang males. Hehehe #kidding

Tapi terima kasih banyak kalian sudah mau percaya dan berbagi masalah kalian denganku.
Terima kasih untuk kalian yang sudah memberikan pelajaran hidup yang istimewa.


Sabtu, 03 Januari 2015

Ayo, Moving On

Januari 03, 2015 0 Comments
Sudah 2015 yaa ^^

Huaaah, dunia sudah semakin tuwir yaa hahaha ...
Oh iya, topik yang selalu diperbincangkan di awal tahun sudah pasti dan tidak lain tidak bukan adalah RESOLUSI.

Mey, apa Resolusimu tahun ini?

Sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya.
Semoga tahun ini aku jadi lebih baik.

2014 adalah tahun yang istimewa bagiku.
Tahun 2014 aku merasa menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia.
Aku menemukan passionku di tahun 2014.
Aku merasa bermanfaat di tahun ini.
Aku mendapat banyak hal yang sangat unpredictable.
Lihat, semua itu karena Dia Yang Maha Keren, gaes :-)

Terimakasih Allah ...
Thanks for the chance you give to me. Lafyuu sooo much :-D

Tahun 2014 juga merupakan tahun-tahun yang membuat moodku benar-benar naik turun layaknya lift.
Aku dipertemukan dengan mata kuliah super yang sepaket dengan dosennya yang juga superrr.
Mata kuliahnya serius dosennya juga nggak mau kalah seriusnya.
Aaaa Tuhaaan, kenapa dua serius ini harus berkumpul jadi satu??? Kan serius udah bubar?
Akhirnya I'm not enjoyed -_-

Ya tapi mau bagaimana lagi.
Aku harus dan tetap kuliah, kan?

Tahun 2014 ini pokoknya nano-nano rasanya.
Ada asem, asin, manis, pahit :D

Merasakan apa yang belum pernah aku rasakan di tahun-tahun sebelumnya.
Merasakan sesuatu yang diluar dugaan.
Bertemu dengan orang-orang keren.
Bertemu dengan banyak orang hebat.
Dan akhirnya aku bertemu dengan orang keren yang selama ini hanya mampir di mimpiku.
Mbak Iraa :D (ketemunya di penghujung tahun) Oh Desember, lafyuuuu :D
Ah Tuhan, terima kasih untuk semuanya.
Untuk mereka yang sudah mewarnai hari-hariku di tahun 2014.

Untuk dia, aku juga berterima kasih.
Kamu sudah mengajarkanku banyak hal.
Keikhlasan, kesederhanaan, kesabaran.
Terima kasih sudah menjadi teman yang mau belajar bersama.
Terima kasih sudah menjadi motivatorku.
Terima kasih untuk segala advice.

Aku menghirup kehidupan baru.
Aku berdiri pada lembaran baru di tahun 2015.
Ada banyak lembar putih yang siap aku gores.
Ada banyak kesempatan baru yang siap kita jemput.

Saatnya bangkit. Ini hidup baru.
Aku, Meydiana Isfandari yang baru.
Lupakan masa lalu. Maafkan kesalahan diri sendiri.
Mulai menerima kenyataan dengan lapang dada.
Jangan mengungkit-ungkit kisah lama.
Simpan saja sebagai kenangan yang patut kita kenang di saat yang tepat.

Ayo, moving on.