Sabtu, 06 Februari 2021

Semangat, Mbak Nia.

Februari 06, 2021 0 Comments

Ketika hidup di zaman serba cepat, teknologi semakin di depan (yamaha kali ah), dunia terasa semakin jauh, dan pandemi nggak selesai-selesai, dunia maya kita selalu penuh dengan huru-hara. Setiap hari tidak ada kejadian yang luput dari sorotan. Ada saja hal-hal yang viral.

Seperti waktu itu yang dialami Nia Ramadhani. Potongan video dia ketika memandu Tik-tok Awards mendapat banyak sorotan, karena dianggap tidak profesional. Aku tidak berkomentar sebelum melihat sendiri versi penuh videonya. Jadi, aku putuskan untuk melihatnya sendiri di youtube.

Setelah selesai nonton baru aku berani memberikan pendapat. Aku mencuitkan pendapatku dan mendapat banyak respon dari netizen.

Jadi begini, menjadi master of ceremony itu sesuatu yang bisa dilatih. Kemampuan memandu acara tidak datang secara tiba-tiba. Lahir procot bisa cuap-cuap, enggak. Nangis mungkin iya. Dari Nia Ramadhani kita belajar bahwa menjadi MC itu tidak mudah.

Kecerdasan bicara kadang tidak dianggap sebagai sesuatu yang sudah sepatutnya mendapat value yang lebih. Aku menyadari hal ini ketika diminta untuk memandu acara sekaligus menjadi moderator di sebuah acara. Honorku lumayan besar pada waktu itu.

Aku sempat bertanya pada salah satu panitia yang kebetulan memang kawan sendiri. Dia bilang, yang akan terus aku kenang, bahwa kecerdasan bicara itu sudah sepatutnya dinilai lebih. Nggak bisa hanya dinilai dengan terima kasih. Tentu konteks acara yang kita bahas adalah acara besar. Kalau aku di hire secara profesional ya honornya juga harus profesional.

Kembali ke Nia Ramadhani. Ada banyak sekali yang bisa kita diskusikan soal kenapa Nia Ramadhani bisa seperti itu di atas panggung. Bahkan ada pengamat yang menilai apa yang dialami Nia itu adalah sebuah kecemasan. It’s natural. Siapa yang nggak nerveous ada di sebuah panggung besar dan ditonton seluruh Indonesia. Siapa yang nggak deg-degan memandu sebuah acara yang disiarkan langsung di tv nasional.

Ini bukan soal merendahkan sesama perempuan. Aku benar-benar mengambil pelajaran dari kejadian itu. Bahwa menjadi MC itu enggak mudah. Dan meski tidak mudah tapi masih banyak yang tidak benar-benar menganggapnya sebagai kemampuan yang layak mendapat apresiasi lebih.

Aku sadar semua butuh yang namanya proses. Pertama kali ngemc juga aku tidak langsung tampil memukau. Pertama kali ngemc juga aku tidak langsung mendapat imbalan atas apa yang sudah aku lakukan. Ada banyak sekali panggung yang aku lalui sebagai ajang aktualisasi diri. Menaklukan banyak panggung untuk mendapat pengalaman dan mematangkan kemampuan.

Percayalah, tidak mudah menjadi seorang pembawa acara. Tidak mudah membuat acara menjadi hidup dan memberikan kesan mendalam pada audience. Tidak mudah menjadi sorotan di atas panggung. Tidak mudah memikul tanggung jawab “berhasil atau tidaknya acara bergantung pada MC-nya.”

Dah begitu kalian tetep minta MC gratisan dengan dalih “konco dewe”. Kalau ngaku konco tuh mbok ya berkontribusi terhadap keberlangsungan hidup konconya. Kapan lagi kamu berkontribusi terhadap hidup temanmu? Bukan begitu?

Semangat terus, Mbak Nia Ramadhani. Jangan biarkan cocote netizen membuatmu berhenti belajar.