Rabu, 11 Desember 2019

Salah Kaprah Meme yang katanya Menjunjung Martabat Muslimah

Desember 11, 2019 0 Comments

Berdiri dan bergerak untuk melawan patriarki memang luar biasa berat. Medannya tidak pernah mulus, selalu terjal menanjak.

Saya kembali terhenyak dengan sebuah unggahan yang beredar di twitter. Sebenarnya ini unggahan lama tapi di up kembali dan saya rasa akan di up berulang kali untuk mendoktrin para muslimah.

“Setinggi apapun pendidikan perempuan, karir terbaiknya adalah diam di rumah. Bayaran termahalnya adalah ridha suami. Prestasi terbesarnya adalah ketika mampu mencetak anak yang salih dan salihah.”

Saya penasaran dengan orang yang berpendapat demikian. Laki-laki, kah? Perempuan, kah?

Jika laki-laki, saya kok yakin sekali kalau dia ini adalah tipe mas-mas nggak asyik di tongkrongan, yang ingin relasi kuasa berada di tangannya, sepenuhnya. Jangan sampai derajatnya sebagai laki-laki jatuh. Padahal kata Tuhan derajat manusia sama, laki-laki maupun perempuan, yang membedakan hanya ketaqwaan mereka.

Jika yang berpendapat demikian adalah perempuan, tentu ada alasan mengapa mereka menempatkan diri mereka pada posisi tersebut.

Mari kita bedah kalimat per kalimat.

Setinggi apapun pendidikan perempuan, karir terbaiknya adalah diam di rumah.

Kalimat ini jelas menunjukkan bahwa pilihan perempuan untuk berkarir di luar rumah bukan pilihan yang baik. Usaha perempuan untuk berpendidikan dan berproses (menyerap ilmu, menuangkan pemikirannya dalam diskusi, mengaktualisasikan dirinya) hanya dipandang sebagai sesuatu yang biasa saja atau bahkan sia-sia untuk hidupnya. Buat apa sekolah tinggi sampai S3 kalau ujung-ujungnya di rumah saja? Sebuah pernyataan yang tentu saja membuat jengah. Adalah hak perempuan untuk memilih menjadi ibu pekerja atau ibu rumah tangga.

Kalimat karir terbaiknya adalah diam di rumah ini seolah menunjukkan bahwa perempuan adalah sesuatu yang tidak layak berada di luar rumah. Alasannya? Bisa jadi karena perempuan selalu dianggap sesuatu yang membawa fitnah, pokoknya segala kerusakan akarnya ya perempuan.

Padahal bekerja ini adalah hak dasar laki-laki maupun perempuan sebagi seorang manusia. Seperti kata Kiai Faqihuddin Abdul Kodir dalam bukunya yang berjudul 60 hadis hak-hak perempuan dalam Islam (Teks dan Interpretasi), dalam agama Islam perempuan sama sekali tidak dihalangi untuk memiliki aktivitas ekonomi yang bisa mendatangkan pendapatan untuk dirinya maupun keluarganya. Seringkali, banyak fatwa atas nama agama melarang perempuan memiliki aktivitas ekonomi tertentu dengan asumsi bahwa mereka ini diberi nafkah oleh laki-laki bukannya malah mencari nafkah.

Kembali lagi, bekerja adalah hak dasar bagi perempuan dalam Islam, maka status dia diberi nafkah tetap tidak menghalangi hak dasar ini. Apalagi pada faktanya, kalau kita ambil contoh, seringkali pendapatan laki-laki juga tidak mencukupi kebutuhan seluruh anggota keluarga. Bahkan tidak sedikit juga keluarga yang tidak memiliki anggota laki-laki yang bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.

Orang bekerja untuk apa, sih? Untuk memenuhi kebutuhannya, kan? Apalagi untuk mereka yang sudah berkeluarga, ada banyak sekali kebutuhan yang musti dipenuhi. Bayar kreditan tiap bulan, bayar uang sekolah anak, bayar uang kebersihan, tagihan listrik, pdam, belum lagi biaya berobat ketika anggota keluarga sakit. Kalau pendapatan laki-laki tidak bisa mengcover itu semua tapi masih menuntut perempuan untuk tidak boleh memiliki aktivitas ekonomi padahal niatnya untuk membantu si laki-laki memenuhi kebutuhan keluarga, dan akhirnya keluarganya menderita, apa tidak dholim namanya?

Terlepas dari itu semua, bekerja adalah hak dasar yang tidak bisa dicabut begitu saja ketika masuk dalam lembaga perkawinan. Mentang-mentang perempuan sudah menikah dan sudah ada yang memberi nafkah lantas haknya untuk bekerja bisa dirampas. Yang diperlukan adalah negosiasi dan pembagian peran yang bisa diterima oleh kedua belah pihak, relasi kesalingan.

Kalimat selanjutnya bayaran termahalnya adalah ridha suami. Lantas bagaimana dengan ridha istri? Seolah suami berhak melakukan apa saja meski tanpa ridha istri. Seolah ridha suami adalah di atas segala-galanya.

Prestasi terbesarnya adalah ketika mampu mencetak anak yang salih dan salihah. Bagaimana jika tidak mampu mencetak anak yang salih dan salihah? Apakah kemudian perempuan tidak memiliki prestasi besar dalam hidupnya? Ada perempuan-perempuan yang diberi kekhususan oleh Tuhan sehingga dia tidak bisa hamil atau perempuan-perempuan yang kehilangan bayi mereka saat masih di kandungan maupun saat melahirkan, lantas apakah mereka gagal menjadi perempuan?

Bahwa dibalik hanya mampu mencetak anak, ada sesuatu yang lebih besar dan berat tanggung jawabnya, yaitu mampu mendidik anak dengan baik. Kita bisa saja mampu mencetak anak, kita mampu mendidik anak tidak? Jangan sampai karena salah pergaulan atau keliru memahami sesuatu kita menjadi orang tua yang memiliki pendapat seperti ini: anak kita tidak perlu pintar matematika, fisika, bahasa dan pelajaran yang lain, yang penting saleh atau saleha.

Kata Kalis Mardiasih, untuk menjadi salih dan saliha orang harus menyerap keilmuan dengan baik, mengartikulasi output dengan efektif, dan mengekspresikannya kepada sesama dengan strategi yang benar. Untuk apa rajin mengaji, rajin salat, tapi tidak pernah tersenyum kepada kawan atau tetangga, misalnya.

Opini-opini seperti dalam meme ini harus terus dikritisi. Karena hal tersebut mampu membuat perempuan tidak mau berdaya, tidak bisa berkembang, membuat perempuan berpikir bahwa mereka adalah kasta terbawah dalam kehidupan. Nah, kerja-kerja demikian tentu tidak maksimal jika dikerjakan sendirian. Laki-laki baru tidak akan melihat hal ini sebagai sebuah ancaman, melainkan gagasan yang harus disuarakan untuk peradaban kemanusiaan.

Rabu, 09 Oktober 2019

Satu Lagi Pencapaian Hidup Meydiana

Oktober 09, 2019 2 Comments
Sebenarnya keinginan untuk menuliskan pengalaman nyetir sendirian dari rumah ke Siliragung ini sudah dari kemarin-kemarin, sejak mendaratkan diri di rumah sepulang dari Siliragung.

Jadi, (benerin posisi duduk) beberapa waktu yang lalu saya pergi ke Siliragung, lebih tepatnya hari Minggu 06 Oktober 2019. Ngapain? Datang ke acara IPPNU, Go-Write. Long short story, saya berangkat jam satu kurang dari rumah, acaranya mulai jam dua siang. Ini pertama kalinya saya pergi jauh sendirian. Benar-benar sendiri, nggak ada teman yang saya bonceng atau teman yang membersamai saya di belakang atau di depan saya (maksudnya motoran bareng-bareng gitu, ribet dah kalimatnya).

Biasanya kalau pergi jauh ke acara NU gini kalau nggak sama Bibeh, Fiya, Fida, ya Mbabila. Nah, kali ini benar-benar budal dewe. Sampai di lampu merah Benculuk saya berhenti dan ngabarin Ulil, minta share loc. Di jalan ini lah saya sering banget bingung harus lurus atau belok kiri. Sebelumnya saya sudah tanya ke Mbabila kalau ke Siliragung ini lewatnya mana? Blio jawab, lewat Purwoharjo atau Jajag aja, Mbamey. Mampus lah aing mana tau jalan.

Setelah dapat map dari Ulil dan mencoba membacanya, saya meyakinkan diri untuk belok kiri dan lurus saja. Toh, saya sudah akrab dengan jalan yang ini (arah Purwoharjo maksudnya). Saya memang agak kurang percaya diri bepergian sendiri seperti ini. Selain mengidap Dorry Syndrome alias lalian, ya tapi masih parah Dorry, sih, saya suka parno kalau pergi jauh sendiri.

Akhirnya saya mendapatkan kembali keprcayaan diri saya saat berkendara di jalan yang benar sesuai arah map. Di salah satu perempatan saya sempat bingung. Harusnya belok kanan, eh saya malah belok kiri, diomelin deh akhirnya sama mbak-mbak peta. Perjalanan menuju lokasi Go-Write lumayan melelahkan, disamping harus nyetir pelan-pelan saya juga berkali-kali ngintip panah di map, memastikan saya tidak salah jalan.

Long short story (again), saya sampai di tempat pelatihan. Tempatnya di pinggir jalan raya. Saya sempat kelewatan dikit, karena letak kafenya di kanan jalan, jadi saya harus putar balik. Saat sudah duduk dan salaman sama Mas Eko (suaminya Holip, kali ini pemateri kita adalah Holip) saya mengambil napas dalam-dalam. Saya sampai pukul setengah tiga sore lebih dikit kalau nggak salah ingat. Dua jam saya keliaran di jalanan. Buat saya yang nggak pernah jalan jauh sendirian ini (apalagi ke daerah Selatan), ini adalah sebuah pencapaian hidup luar biasa (monangis saya ngetik bagian ini, i'm proud of my self, astagaaa).

Selayaknya manusia normal pada umumnya, Mas Eko bertanya dengan siapakah saya datang ke tempat nun jauh sekali ini? Tentu sendirian, wahai manten anyar, apakah anda tidak melihat saya datang sendiri? (tentu saya nggak jawab begitu, gaes)

Sebenarnya saya nggak masalah ya pergi sendiri, hanya saja ada perasaan tidak tenang selama perjalanan. Yang paling saya khawatirkan adalah kendala pada kendaraan (ban bocor, motor mogok, bensin habis, ban lepas, rante pedhot, dll). Iya kalau bocornya di tempat ramai, banyak orang, kalau di tengah-tengah bulak? OMG I can't imagine that :(

Setelah mengatur napas sedemikian rupa saya mulai ngobrol sama Mas Eko dan Holip. Saya bersyukur sekali punya teman yang bisa diandalkan saat butuh pemateri gini. Kok ya kebetulan juga Minggu itu Holip ada acara arisan sekolah dari pagi sampai siang di Cluring. Jadi bablas, langsung ke Siliragung ngisi acara IPPNU. Terima kasih, Holip :')

Sekarang kemana-mana ada temannya ya, Mas? kataku ke Mas Eko. Belio tertawa lebar sekali sambil ngangguk-ngangguk. Yang saya salut ke Mas Eko adalah belio bisa menahan diri untuk nggak tanya balik ke saya dengan pertanyaan "Kamu kapan? Biar kemana-mana nggak sendirian." sungguh Mas Eko pandai sekali menjaga mood biar nggak melorot.

Gimana kehidupan setelah menikah? tanyaku ke Holip. Kami bercerita panjang lebar. Hhhh, obrolan dua perempuan hampir menginjak dua puluh lima tahun ini sudah beda, sedikit agak berbobot, wkwk. Saya jadi salah satu orang yang bahagia sekali ketika tahu Mas Eko kembali lagi ke kehidupan Holip. Dulu, satu kelas akuntansi 2 angkatan tahun 2013 hapal betul kisah asmara Holip dan Mas Eko. Berawal dari Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yang kami jalani semasa sekolah. Holip cinta lokasi dengan Mas Eko di Giant (dulu Giant, terus ganti Hardys, terus sekarang dah tutup permanen, hiks). Saya nggak ingat berapa lama mereka pacaran, kemudian mereka putus.

Setelah itu saya tidak pernah tahu lagi kabar Mas Eko. Bertahun-tahun kemudian saya tahu Holip sedang menyimpan perasaan pada seorang laki-laki di tempatnya menempuh pendidikan strata satu (waktu itu Holip cerita panjang lebar di kamar Inda). Memang hidup susah ditebak. Satu waktu saya mendapati Mas Eko datang ke rumah Holip saat saya juga berada di rumah Holip untuk mengantar buku bersama Mbabila. Saya yang melihat kedatangan Mas Eko langsung melihat Holip. Saya nggak bisa untuk nggak menahan rasa bahagia. Sinyal clbk terendus tajam.

Dan, voila! Sekarang mereka menjadi suami istri. Jarak saat mereka putus hingga akhirnya bertemu kembali tentu panjang. Hidup, ya? Benar-benar unpredictable, apalagi soal jodoh.

Acara selesai sekitar pukul setengah lima sore. Saya sedikit tenang karena perjalanan pulang kali ini ada Holip dan Mas Eko. Paling tidak saya nggak merasa sendirian lagi. Ada mereka berdua.

Tapi memang sungguh nasib. Saya yakin Mas Eko ini dulu cita-citanya jadi pembalap. Nek numpak sepeda bantere jan ora umum. Saya susah ngejar, tapi bersyukur karena masih bisa melihat jejak mereka meski agak jauh.

Dan di sini lah ingatan saya di uji, sodara-sodara. Sampai di salah satu perempatan, saya mulai bingung. Lurus atau belok kanan, nih? Di sebelah kiri saya ada Indomaret, saya nggak tahu itu daerah mana. Yang jelas saya ingat betul kalau mau nurut jalan yang awal tadi saya belok kanan. Tapi saya mikir lagi kalau lurus pasti juga ujung-ujungnya ke arah Banyuwangi. Holip dan Mas Eko sudah tidak terdeteksi. Saya putuskan untuk belok kanan, menyusuri jalan awal saat berangkat tadi. Gini, dah, saya lemah di perempatan.

Perjalanan pulang kali ini lebih plong rasanya. Saya nggak perlu cek-cek ponsel lagi untuk lihat map. Saya jadi bisa menikmati pemandangan sore yang tersaji sepanjang jalan. Dari spion motor saya bisa melihat matahari yang mulai berwarna oranye.

Saya bisa bernapas lega ketika saya sampai di jembatan Purwoharjo, itu tandanya saya nggak nyasar dan sebentar lagi sampai di lampu merah Benculuk. Sampai lampu merah Benculuk hampir maghrib, tapi masih belum adzan. Apa, sih, namanya? Tahrim, ya?

Perjalanan pulang memang terasa lebih cepat dari pada perjalanan pergi. Sudah bukan rahasia lagi. Mengapa bisa begitu? Nggak tahu juga.

Itu lah pengalaman saya nyetir sendirian ke Siliragung yang bikin deg-degan. Tapi paling nggak sekarang jadi tahu jalan, meski bentar lagi juga bakal lupa ingatan.

Jumat, 27 September 2019

Menjadi Bagian Dari yang Tidak Diperjuangkan Dik Fathur

September 27, 2019 0 Comments
Kemunculan ketua BEM UGM, Fathur, ke layar kaca membuat kita semua kagum luar biasa. Pertama kali saya menyadari kehadirannya di sebuah unggahan salah satu akun di twitter. Waktu itu Fathur sedang bicara di program Indonesia Lawyers Club (ILC). Kita semua tentu tahu mengapa kawan-kawan mahasiswa ini rajin menghiasi layar televisi kita. Mereka semua berada pada satu tujuan yang sama, menggugat Dewan Perwakilan Rakyat.

Viralnya sosok Fathur membawa saya pada satu fakta baru. Fathur ternyata menolak RUU-PKS, teman-teman. Ya, RUU yang selama ini kita perjuangkan ternyata tidak menjadi bagian dari perjuangannya. Sebelum saya tahu fakta ini, beberapa kawan saya memuja-muji dia, and ya, Fathur deserved it. Bahkan sekelas Awkarin saja sampai ngetwit “hari jatuh cinta sedunia sama Mas Fathur.”

Fakta tersebut saya ketahui dari berita-berita yang berseliweran di timeline twitter. Salah satu dosen yang juga penulis di Mojok pun menguatkan fakta tersebut. Saya tentu patah hati mendapati kenyataan itu. Bagaimana bisa sosok yang sempat jadi kebanggaan saya ini ternyata menolak RUU-PKS? Kok bisa? Kenapa? Dik Fathur, tolong jelaskan~

Ada satu alasan yang saya temukan. Fathur adalah anggota dari salah satu organisasi ekstra mahasiswa yang berafiliasi dengan partai tertentu.

Terlepas dari bagaimana latar belakang Fathur, mau dia anggota ini, anggota itu, saya sedih meliat anak muda sebagus dia harus menjadi bagian dari mereka yang menolak RUU PKS. Apalagi kalau sampai alasannya menolak RUU PKS hanya karena menganggap RUU tersebut melegalkan zina. (Sejauh ini saya belum tahu pasti apa alasannya menolak RUU PKS)

Rancangan undang-undang ini dibuat untuk  melindungi hak perempuan di Indonesia. Kok bisa? Ya, bisa. Sekarang ini kita hidup di zaman semua serba mudah. Kita bisa cari info mengenai mengapa RUU PKS penting sekali untuk disahkan. Sok atuh cari di internet, semuanya ada.

Sebelum saya bahas lebih jauh lagi, mari kita satukan pemahaman dulu tentang apa itu RUU PKS. Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) lahir akibat kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang kian hari kian meningkat. Untuk data tentang jumlah kekerasan seksual terhadap perempuan tiap tahunnya bisa kalian akses di sini.

Ide ini juga berawal dari banyaknya pengaduan kekerasan seksual yang tidak ditangani dengan baik. Karena apa? Karena tidak ada payung hukum yang jelas yang bisa memahami dan memiliki substansi yang tepat terkait kekerasan seksual. Bisa baca selengkapnya di artikel ini.

Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan ini seperti fenomena gunung es. Kasus yang tidak tercatat dan tidak mendapat penanganan ada banyak sekali. Tidak semua perempuan korban kekerasan seksual berani bersuara, berani melaporkan kasusnya. Kadang saat sudah lapor saja penanganannya masih jauh dari harapan. Bahkan, tidak jarang justru perempuan yang disalahkan.

Lantas, mengapa RUU PKS ini harus segera disahkan? Kok, kesannya buru-buru sekali? Loh, ya jelas, ini sesuatu yang sifatnya penting. Paham ora, Son? Nek ra paham nyoh woconen iki.

Saya juga sempat menonton video yang dibuat oleh kawan-kawan di islami.co yang juga mendukung segera disahkannya RUU PKS. Hanya saja saya merasa video tersebut masih kurang greget, kurang dapat feel-nya. Semoga saya tidak merasa sendiri saja. Cek di sini videonya.

Saya memang tidak bisa turun ke jalan untuk ikut aksi bersama kawan-kawan mahasiswa untuk memperjuangkan RUU PKS. Tapi percayalah doa saya tak putus-putus untuk kalian semua, untuk kita.

Kepada mas-mas atau bapak-bapak yang menjadi bagian dari orang-orang yang menolak RUU ini, plis jadi manusia sekali ini saja. Saya nggak bakal kasih contoh “gimana kalau kekerasan seksual itu kejadian sama ibu/saudara perempuanmu?” Nope. Terlepas dari jenis kelamin apapun, laki-laki maupun perempuan, kita ini manusia. Sudah selayaknya kita memperlakukan manusia selayaknya manusia. Nggak ada yang boleh melakukan kekerasan seksual kepada siapapun. Mau itu laki-laki ke perempuan atau perempuan ke laki-laki.

Bahkan kepada kaum saya yang juga menolak, mari lihat lagi RUU ini dari sisi kemanusiaan. Tolong, jangan buru-buru menelan semua informasi yang beredar tentang RUU PKS. Rancangan undang-undang ini tidak seperti yang kalian tuduhkan (pro zina, pro sex bebas, dll).

Salah satu cara saya mendukung disahkannya RUU ini adalah dengan membuat story whatsapp yang bisa dibaca oleh banyak kawan. Ada satu kawan yang memberikan reaksi “bahas juga dong RUU KPK dan RKUHP”

Duh, gimana, ya. Bukannya nggak mau. Tapi, dua RUU itu nggak seperti RUU PKS. Rata-rata orang setuju untuk nggak disahkan, banyak yang berjuang buat dua RUU itu. Nah, kalau RUU PKS ini nggak semua orang memperjuangkan.

Termasuk kamu, Dik Fathur~

Sumber: Twitter

Kamis, 06 Juni 2019

Ungkapan "Tak Ada yang Abadi" sebagai Penawar Lara

Juni 06, 2019 0 Comments
Saya menghabiskan beberapa menit di depan laptop untuk memulai tulisan ini. Sebelumnya, selamat lebaran, teman-teman. Semoga kita semua berlapang dada untuk menerima segala keputusan Tuhan dan memulai semuanya lagi dari awal dengan hati yang baru.

Ungkapan ‘tak ada yang abadi’ agaknya harus menjadi pedoman hidup bagi setiap kita. Agar ketika kita menghadapi hal-hal yang berbeda dari kebiasaan, kita tidak terkejut. Jika tahun ini ada dari kalian yang berlebaran berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, maka ingatlah pedoman bahwa ‘tak ada yang abadi’ di dunia ini.

Tahun lalu, kita masih bisa berlebaran bersama keluarga dan menikmati suasana hangat bersama mereka. Tapi tahun ini, kita harus abstain untuk berkumpul bersama keluarga saat lebaran karena harus menjalankan kewajiban pekerjaan.

Tahun lalu, kita masih bisa berlebaran bersama orang-orang terkasih dan bersenda gurau bersama sembari menikmati opor ayam. Tapi tahun ini, kita harus ikhlas melewati lebaran tanpa hadirnya orang-orang tekasih karena mereka harus ‘pulang’ lebih awal.

Tahun lalu, kita masih merayakan lebaran seorang diri. Belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hadir saat lebaran, sehingga menjadi ajang bully oleh handai taulan. Tapi tahun ini, kita patut bersyukur karena sudah bisa dengan bangga mengajak teman hidup untuk berlebaran bersama keluarga besar.

Tahun lalu, kita masih bisa berlebaran dengan fisik yang sehat, sehingga bisa mendatangi rumah tetangga dan saudara. Tapi tahun ini, kita harus berlapang dada dengan kondisi fisik yang lemah karena sakit saat hari raya.

Tahun lalu, kita masih merasakan suasana hangat berlebaran di rumah bersama keluarga. Tapi tahun ini, kita mesti menghadapi ujian dengan berlebaran di tempat seadanya karena rumah kita hangus terbakar atau rata oleh tanah karena bencana alam.

Tahun lalu, kita masih menerima yang namanya ampau lebaran. Tapi tahun ini, karena sudah bekerja dan berpenghasilan, kita bisa memberi adik-adik kecil kita ampau lebaran.

Segala kejadian tersebut membuat ungkapan ‘tak ada yang abadi’ menjadi benar adanya. Ia tak hanya kekal sebagai ungkapan, tapi menjadi hukum yang berlaku dalam semesta.

Tahun ini, saya harus bersyukur karena telah mampu memberi untuk orang-orang dari hasil kerja saya. Hasil dari pekerjaan yang sangat saya cintai. Hasil dari pekerjaan yang membuat saya selalu merasa cukup.

Disisi lain, saya harus bersedih hati karena lebaran tahun ini kondisi fisik bapak tidak sebugar lebaran tahun lalu. Saat mengunjungi rumah saudara di Kedunen, bapak tidak ikut. Selama bertahun-tahun kami selalu keluar rumah bersama saat lebaran. Dari yang dulu satu motor berempat (sebelum ada Fahri) hingga sekarang kami butuh dua motor untuk pergi. Setiap lebaran kami selalu bersama. Bapak, ibu, saya, Ardi, Fahri. Namun, ketika tahun ini saya harus disadarkan oleh fakta kesehatan bapak yang tidak lagi seperti dulu, saya agak tidak terima.

Kenapa harus bapak saya? Bertahun-tahun keluarga kami tidak apa-apa. Tidak ada yang sakitnya sampai seperti sakit bapak saya saat ini, yang setiap saya melihat beliau membersihkan luka-lukanya, hati saya hancur.

Kemudian saya ingat hukum yang berlaku dalam semesta itu, dan kesedihan saya berangsur hilang. Hal-hal seperti ini harusnya sudah tidak perlu diratapi. Tuhan memberikan sesuatu pada kita, di sisi lain sudah tentu ada sesuatu yang lainnya yang Dia ambil. Tahun ini mungkin Tuhan memberikan kepada saya kecukupan finansial sehingga bisa berbagi, tapi Tuhan juga mengambil nikmat sehat kepada bapak saya sebagai ujian.

Siapa yang tidak ingin kehidupannya di dunia lancar-lancar saja? Baik-baik saja? Tentu semua orang menginginkan hal tersebut. Hidup berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan. Tapi, kan, tidak begitu. Tentu setiap dari kita memiliki persoalan hidupnya masing-masing.

Tidak cukup sampai pada bapak saja saya dibuat sedih. Ketika datang ke rumah Mbah Ji (kakak kandung mbah saya dari pihak ibu) hati saya kembali dibuat hancur. Mbah Ji, satu-satunya kakek yang saya miliki saat ini, harus kehilangan nikmat sehat juga. Beliau telah pikun. Tidak ada lagi guyonan yang kerap beliau lontarkan pada saya dan keluarga ketika datang. Fisiknya memang terlihat baik-baik saja, tapi tidak dengan jiwanya.

Ketika saya duduk di depan beliau dan mencium tangannya, pandangan matanya kosong. Beliau memang menyambut setiap tamu yang datang dengan senyum, tapi tidak ada satu pun orang yang ia kenali. Bahkan, saya sampai berucap “Diana, mbah” dengan harapan beliau bisa mengenali saya, karena salah satu cucunya ada yang namanya sama dengan saya, Diana.

Tapi beliau hanya berujar lirih, “Diana”, sambil tetap tidak mengingat saya. Saya yang hanya cucu jauhnya ini saja sedih melihat kenyataan orang-orang yang kita sayangi ini lupa terhadap kita. Apalagi istri, anak-anak dan cucunya. Mbah Ji memberikan kenangan yang baik di ingatan saya dan keluarga. Dari tahun ke tahun di masa lampau (sebelum beliau pikun), saat keluarga kami datang, beliau selalu menyambut kami penuh hangat, tidak lupa tawanya yang selalu terpasang di wajahnya.

Kembali lagi saya menyadari bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Orang-orang harus bersiap diri untuk menerima perubahan, menerima kenyataan, menerima keputusan Tuhan. Susah memang, tapi pasti bisa.

Sekali lagi, selamat merayakan Idulfitri dengan cara masing-masing. Mari saling memaafkan, mari saling menguatkan.

Sumber: @turkey_home

Selasa, 28 Mei 2019

Bukankah Tuhan Sesuai Prasangka Hambanya?

Mei 28, 2019 0 Comments
Saya percaya bahwa setiap perkataan atau prasangka kita suatu saat akan menjadi sebuah kenyataan. Hanya waktunya yang tidak bisa kita pastikan. Dulu, saya sempat berujar pada ibu bahwa kelak saya hanya akan memberi sangu/nyangoni keponakan yang saya dapat dari Ardi, yang saya pikir bakal menjadi satu-satunya adik saya. Sekian tahun kemudian Tuhan seperti membalas perkataan saya, ibu mengandung Fahri. Saya seperti terlempar ke masa dimana saya berkata hal di atas pada ibu. Dan kami, saya dan ibu, sempat juga membahas perkataan saya dulu ketika Fahri telah lahir. “Tuh, kan, sekarang ponakanmu nggak cuma dari Ardi, tapi Fahri juga. Mangkanya hati-hati kalau bicara.” Kata ibu yang kami susul dengan tawa.

Saya dan ibu selalu mengingat hal tersebut sebagai bentuk kuasa dari Tuhan. Bahwa manusia memang jangan sembarangan jika berucap atau berprasangka terhadap Tuhan. Mungkin saat itu konteks saya bicara memang hanya bercanda, tapi bukankah konon setiap ucapan-ucapan kita di-aamiin-kan oleh semesta? Sejak hari itu, saya sadar sesadar-sadarnya saya harus berhati-hati saat berbicara atau berprasangka.

Dulu juga, saya pernah membayangkan bekerja di sebuah radio. Menjadi seorang penyiar radio yang menyapa penggemarnya lewat suara. Bekerja di dunia penyiaran adalah salah satu mimpi yang entah sejak kapan datang pada saya. Hingga bertahun-tahun kemudian saya bertemu dengan kawan-kawan di Nahdlatul Ulama, dan lunaslah mimpi saya tersebut. Walau hitungannya adalah volunteer, tapi saya merasa Tuhan amat berbaik hati telah mengabulkan apa yang saya impikan. Setahun saya belajar menjadi penyiar radio, otodidak. Ya, saya tidak pernah belajar teknik siaran secara resmi. Saya tumbuh besar dalam keluarga yang senang mendengarkan radio. Saya sering mendengar para penyiar tersebut siaran, saya juga sering sms untuk sekadar request lagu atau salam-salam, dan ketika pesan saya dibaca, senangnya luar biasa. Ternyata perasaan senang saat pesan kita terbaca itu tidak bisa dijelaskan rasanya. Nah, perasaan seperti itu lah yang membuat saya jatuh hati pada profesi penyiar.

Atas izin Tuhan juga, saya mengenal Bunda Anggi. Seorang penyiar radio yang berbaik hati memberikan pengetahuannya tentang radio. Orang pertama yang saya temui ketika saya dapat tawaran untuk jadi penyiar di radio NU online ya beliau.

Hingga saat ini akhirnya saya menjadi bagian dari keluarga besar Radio Mandala Banyuwangi. Menyangka? Tidak sama sekali. Saya merasa Tuhan sedang mengabulkan setiap mimpi saya satu per satu. Dulu, ketika saya resign dari kantor lama yang hanya tiga bulan, saya tidak sengaja berucap bahwa 2019 dapat kerja lagi. Pada waktu itu sedang ramai hashtag 2019 ganti presiden, nah, saya pelintir hashtag tersebut menjadi 2019 kerja lagi. Dan, ya, alhamdulillah saya kembali bekerja.

Yang paling membuat saya takjub adalah pekerjaan saya yang sekarang sungguh pekerjaan yang saya idam-idamkan sejak dulu. Penyiar radio. Radio pertama di Banyuwangi pula. Saya teringat obrolan dengan salah satu senior, beliau berkata sebenarnya saya ini ingin pekerjaan yang seperti apa? Saya jawab dengan kelakar, pekerjaan yang bisa ditinggal pas lagi sayang-sayangnya ketika ada tawaran ngemc. Jawaban itu juga sebenarnya hanya bercanda. Karena di sisi lain saya berusaha menekan ego dengan mencoba menjadi realistis bahwa saya harus mendapat pekerjaan tetap yang ‘benar’. Saya harus menabung untuk masa depan. Mau sampai kapan saya hanya menjadi freelancer mc? Mau sampai kapan saya harus terus menerus izin dari tempat kerja (ketika masih kerja dulu) hanya agar bisa mengambil job mc yang masuk? Saya mengerti bahwa sebuah perusahaan tidak akan mau mengambil resiko dengan membiarkan karyawannya terus menerus meminta izin sehingga pekerjaan terbengkalai. Saya juga merasa tidak enak jika terlalu sering izin. Ya, tahu diri, lah.

Sekarang, saya justru diberi kewajiban untuk menggunakan nama Mandala di setiap event yang saya pandu. Sekarang, saya justru mendapat dukungan penuh untuk melebarkan sayap bersama Mandala. Saya masih ingat betul ketika akan memandu acara buka bersama yang diadakan oleh SiJum, programer saya, Mas Edwin, bilang: Kalau bisa pas ngemc sebutin nama embel2 Mandala, misal ‘bersama saya mey mandala’, saya yang waktu itu masih berusia satu bulan lebih satu hari di Mandala merasa kikuk. Ternyata boleh, to? Mas Edwin menjawab, “Lho, wajib itu, sambil promo Mandala.” Sungguh saya seperti Nemo yang kembali berkumpul bersama ayahnya, bahagia. Saya merasa menemukan apa yang saya cari selama ini.

Jika dulu setiap akan tidur dan menyadari esok harinya harus kembali ke kantor, saya langsung tidak enak hati, cemas, aras-arasen, dan terlelap dengan tidak nyenyak. Hari ini, saya mengakhiri hari dengan penuh kesyukuran, hati yang bahagia, dan siap menyambut mentari esok pagi. Sepenting itu ternyata membahagiakan diri sendiri. Menjaga agar kita tetap waras dan tetap berakal sehat. Pada tulisan sebelumnya saya bilang bahwa saya tidak ingin stres karena bertahan pada pekerjaan yang tidak membuat saya berkembang, yang membuat saya tertekan, yang membuat saya sakit pikiran, meski gaji besar. Sekarang ini rasanya nominal uang tidak lagi menjadi masalah ketika saya bisa melakukan hobi yang menjadi pekerjaan.

Jadi, mari kita berbicara dan berprasangka yang baik-baik. Ucapan adalah doa, itu benar adanya. Bukankah seperti kata kitab suci, bahwa Tuhan sesuai dengan prasangka hambanya?

I thank to God for all the blessings He gave to me. Ramadan ini menjadi bulan yang sebenar-benarnya penuh berkah. Atas kuasaNya job ngemc mengalir dengan tenang, Dia seperti tahu bahwa lebaran tahun ini ada begitu banyak keponakan yang sudah waktunya diberi sangu lebaran.

Senin, 18 Maret 2019

Korban Iklan

Maret 18, 2019 0 Comments
Saya tidak tahu siapa yang memulai jokes memanggil ala bis kecil ramah ini. Jokes yang bikin umat manusia kesal setengah modyar. Gimana nggak kesal, lha manggil ‘hay hey hay hey’ tibak e gur nyanyi lagu Tayo. Ya, kan, kita dah ge-er aja dipanggil-panggil.

Fenomena “Hey, Tayo” ini serupa dengan fenomena “Om, telolet, Om” atau fenomena “Masuk, Pak Eko” yang ngaudubilahnya musisi sekaliber Marshmellow sampai menjadikan kata itu caption di unggahan instagramnya.

Jika kita mundur ke belakang (yaiyalah namanya mundur ya ke belakang), dulu sempat ada iklan sebuah rokok tentang pertanyaan kapan kawin yang diperankan oleh one of my favourite family man, Ringgo Agus Rahman. Yang ketika ditanya kapan kawin, Ringgo jawabnya “May”. Ingat bagaimana lanjutannya? Yhaaaa, betuuuul. May be yes, may be no.

Nah, iklan itu booming ketika saya masih duduk di sekolah menengah pertama. Saya ingat betul dulu sering dipanggil oleh teman-teman “Mey, mey, mey” pas saya nengok mereka dengan tidak beradabnya cengengesan sambil bilang “may be yeees, may be nooo”, dilanjutkan dengan ngakak sampai jalur Gaza. Saya ya jelas snewen, lah. Udah capek-capek nengok lha malah jadi korban iklan begini.

Kalian bisa bayangkan betapa tersiksanya saya ketika SMP harus membedakan mana yang manggil beneran dan mana yang manggil tapi cuma buat dipleset-plesetin doang. Karena kalau misalnya saya dipanggil terus sengaja nggak nengok atau nggak nyahut pasti akan ada satu kampret yang bilang “Mey iki diceluk gak ngereken ag yooo, sombong.”

Kalau sudah begitu ya mau tidak mau saya harus nengok dan nyahut “Ada perihal apakah, wahai luwak batangan?” nah kalau sudah begitu mereka ini bakal kesenengan karena saya kepancing. Emosi jiwa nggak kalian pada?

Itulah mengapa kemudian ketika hari ini Hey Tayo sedang naik daun, saya auto ingat kenangan masa SMP. Celakanya sekarang saya juga sering jadi korban iklan Hey Tayo . Kalau iklan Ringgo dulu mungkin lebih spesifik, ya, karena tidak banyak anak di sekolah SMP saya yang bernama Mey. Nah, kalau Hey Tayo ini, kan, cuma modal manggil “Hey” doang, ya korbannya bisa siapa aja.

Hidup kok nggak jauh-jauh dari korban iklan iki pieeee. Bintang iklan, ora. Korban iklan, iya.

Sumber: Google

Minggu, 03 Maret 2019

Kekerasan Gender Berbasis Online

Maret 03, 2019 0 Comments
Hari Minggu saya kali ini sungguh menyenangkan. Saya mengikuti sebuah pelatihan yang diadakan oleh kawan-kawan Aji Jember dan Safenet. Pelatihan ‘Melindungi Diri Dari Kekerasan Onlie’ yang diselenggarakan di kafe Isun Ikai. Saya bertemu dengan empat belas perempuan yang sama sekali asing bagi saya, kecuali Bu Fatma, Mbabila dan Bibeh. Kami bertiga terlambat beberapa menit, saat kami datang, Mbak Ika (pemateri) sedang melakukan dialog dengan peserta terkait kekerasan online yang pernah mereka alami. Hampir semua peserta pernah memiliki pengalaman menerima kekerasan secara online. Semuanya bercerita, tidak ada yang tidak. Dan kasus yang mereka alami juga beragam. Mulai dari peretasan, penipuan, pemerasan, pelecehan seksual, pengancaman, dan lain sebagainya.

Saya yang mendengarkan secara langsung mereka bercerita kemudian menyadari bahwa hal-hal seperti itu tidak hanya saya lihat di televisi atau saya baca di berita. Teman-teman perempuan (yang tadi berkumpul dan duduk bersama saya) di Banyuwangi pun banyak yang mengalaminya. Dan fenomena ini juga seperti fenomena gunung es. Sedikit saja yang terlihat, yang tidak terlihat masih sangat banyak. Artinya juga masih sedikit perempuan yang berani bercerita dan berani untuk melapor kepada pihak yang berwajib. Sisanya mungkin justru mereka pendam sendiri karena merasa hal tersebut adalah sesuatu yang memalukan untuk dibagi.

Saya juga ingin berbagi sedikit pengalaman pelecehan seksual berbasis online yang pernah saya alami. Kejadiannya saat berada di Jogja bersama Komunitas Pegon tempo hari. Setelah tiba di Jogja dan mendapat tempat menginap saya mencuitkan twit di twitter, ya seperti biasa, ngetwit bahwa saya dan kawan-kawan sudah berada di Yogyakarta.

Tidak lama setelah saya ngetwit, ada DM masuk. Direct message dari akun yang saya yakini adalah boot. Model-model akun yang otomatis merespon ketika ada keywords yang muncul. Dan keywords saya adalah Yogyakarta. Akun ini menawarkan jasa pijat plus-plus di daerah Jogja, dengan poto sampulnya adalah kelamin laki-laki dan sudah bisa ditebak bagaimana isi timelinennya. DM tersebut tidak saya respon, langsung saya report. Sebenarnya kasus saya itu masih paling ringan dibanding dengan kasus-kasus saudari saya yang hadir pada saat itu. Kasus mereka sungguh membuat saya bergidik.

Kepada kami Mbak Ika memberikan materi tentang Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO) dan beberapa tips dan trik untuk mengamankan akun-akun media sosial kita. Saya tidak akan menjelaskan dengan sangat rinci apa saja materi yang kita dapat tadi, nanti akan saya bagikan saja kepada kawan-kawan link materi tadi siang, dan sila unduh sendiri. (materi pelatihan download di sini)

Berbicara tentang kekerasan pada perempuan saya teringat data yang disajikan oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) tentang laporan tahun 2018. Di sana disajikan sebuah presentase yang membuat saya ngelus dodo. Angka kematian perempuan yang berasal dari intimidasi pasangan sebesar 34%. Kemudian intimidasi dari anggota keluarga sebesar 24%.

Juga banyak data-data memprihatinkan yang bisa kita lihat di Komnas Perempuan dan Anak terkait angka kekerasan pada perempuan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar bagi kita. Bagaimana kita harus mengedukasi para perempuan agar mereka mau untuk speak up melawan kekerasan atau melawan ketidak adilan gender yang mereka alami. Perempuan di Indonesia ini, kan, terkotak oleh konstruksi sosial yang tidak ramah perempuan. Sejak zaman penjajahan kita sudah dinarasikan sebagai sosok yang bungkam, yang tidak memiliki akses pendidikan, yang tidak memiliki hak untuk bersuara atau menentukan pilihan, celakanya kemudian konstruksi sosial kita terbangun sedemikian rupa selama bertahun-tahun.

Perempuan dilabeli sebagai sosok yang lemah, bodoh, cengeng, sehingga para lelaki merasa memiliki superioritas terhadap perempuan dan merasa sah-sah saja merendahkan perempuan. Padahal tidak begitu. Jika mau belajar dan mau membaca lebih banyak lagi referensi, kita akan menemukan narasi-narasi dalam agama saya −yang kebetulan Islam− bahwa perempuan dan laki-laki itu sama. Bahkan ada satu surah dalam Qur’an yang menyebutkan bahwa yang paling mulia diantara manusia adalah mereka yang paling bertakwa. Dari surah ini kita bisa tahu bahwa Allah saja tidak membedakan umatnya, entah perempuan atau laki-laki. Karena yang membedakan kita hanyalah ketakwaan kita, keimanan kita.

Ini yang selalu ingin saya sebarkan kepada teman-teman perempuan saya. Menyebarkan semangat untuk melawan ketidak adilan terhadap gender. Kita sudah terlalu lama terpuruk atas nama patriarki. Perempuan direndahkan, dilecehkan, dijadikan dirinya bodoh, dijadikan dirinya gagap teknologi. Semata agar apa? Ya agar perempuan tunduk dalam lutut laki-laki pengecut, yang tidak ingin dirinya tersaingi, yang tidak ingin dirinya kalah unggul.

Minimal semua perempuan ini menyadari bahwa kekerasan terhadap kaumnya yang disebabkan oleh ketidak adilan gender, itu ada, banyak. Itu saja. Silahkan jika ingin berbicara bahwa porsi laki-laki dan perempuan itu berbeda. Ada hal-hal yang memang perempuan bergantung kepada laki-laki, dan sebaliknya. Kita bisa menyadari hal-hal seperti itu tapi juga harus menyadari bahwa tidak selamanya kita bisa bergantung pada laki-laki. Itulah sebabnya saya tak sepakat dengan ungkapan ‘di balik pria sukses terdapat perempuan hebat’. Kenapa kita harus ada di posisi di belakang laki-laki?

Memangnya kamu tahu apa tentang kekerasan seksual yang menimpa perempuan? Kamu tahu rasanya diperkosa? Kamu tahu rasanya diancam bakal disebarin poto-poto telanjang kamu oleh mantan pacar kalau kamu nggak mau bersetubuh lagi dengannya?

Kenapa saya harus menunggu diperkosa dulu untuk boleh speak up tentang kekerasan seksual pada perempuan? Kenapa saya harus menunggu diancam dulu baru boleh berempati pada kasus ini? Speak up tentang kekerasan yang menimpa kaum saya tidak perlu menunggu kita ‘jadi korban’ dulu, kan?

Masalah yang datang pada perempuan itu kompleks, tidak bisa sesederhana capek bekerja lantas menikah, dan wuuuuzzz, hilang semua masalah kita pada saat melajang dulu. Kita hidup dengan label-label sosial yang berlaku dalam masyarakat. Apabila kita tidak berlaku layaknya perempuan pada umumnya, kita akan dikritik. Apabila kita bertindak mendobrak kebiasaan-kebiasaan, kita akan dicibir. Menjadi perempuan tak pernah semudah itu. Tingkah laku kita diawasi dua puluh empat jam oleh cangkem masyarakat. Salah sedikit, habis kita dicaci maki.

Sebab itulah, karena menjadi perempuan tak pernah sesederhana itu, maka kita harus menyadari bahwa kita ini juga manusia yang dijamin haknya oleh Tuhan. Sesama perempuan mari saling menguatkan.

Rabu, 27 Februari 2019

Patah Hati dan Obatnya

Februari 27, 2019 0 Comments
Kemarin saya nonton vlog Raditya Dika yang bersama dengan Luna Maya. Sebagai pengangguran tak kasat mata, saya punya banyak waktu untuk selonjoran dan menonton video-video dari beberapa public figur di Indonesia yang mulai punya channel youtube sendiri. Raditya Dika salah satunya. Komika kesayangan saya sejak zaman sekolah SMK.

Pada video yang telah dilihat oleh 1,4 juta penonton sampai saya menulis catatan ini (padahal baru tiga hari yang lalu tuh video naik), ada satu pertanyaan yang ditanyakan Radit pada Luna Maya. Pertanyannya adalah:



 Kalian bisa melihat jawaban Luna Maya di video tersebut. Cek sendiri, ya, gaes~

Catatan ini sebenarnya juga akan menjawab pertanyaan Radit, tapi versi saya dan sobat-sobat WhatsApp.

Sebelum saya berbagi tentang pengalaman patah hati, ada baiknya kita luruskan terlebih dahulu konotasi patah hati ini patah yang disebabkan oleh apa? Nah, yang ingin saya bahas di catatan ini adalah patah hati secara umum. Ya bisa karena asmara, karena pertemanan, atau apapun, bebas. Yha terus ngapain dilurus-lurusin segala, Rehanaaa~

Sumber: Twitter

Tentu kita semua pernah mengalami yang namanya patah hati. Ya, nggak? Ya, dong. Ya, kan? Ya, laaah. Saya juga begitu, pernah mengalami segala rupa patah hati. Saya patah hati saat mengetahui bahwa sahabat SD saya tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMP yang sama dengan saya dan dua sahabat saya lainnya. Saya ingat betul waktu itu saya menangis. Memang pada dasarnya saya hobi menangis, sih. Hobi kok nangeees~

Saya patah hati ketika saya mengetahui adik saya sempat dihajar bapak habis-habisan karena tidak mau bersekolah. Saya patah hati melihat Ardi menangis histeris. Padahal waktu itu saya masih sekolah dasar, masih terlalu kecil untuk sanggup melihat kekerasan-kekerasan semacam itu.

Dan ini adalah patah hati terhebat saya yang sampai saat ini jika mengingat kejadian itu saya benar-benar merasa sakit hati, merasa bersalah dan menangis. Saat saya melihat Ardi terjatuh dari tangga rumah bude. Waktu itu saya seperti biasa sedang bermain di lantai dua, di rumah salah satu tetangga di Krasak, tetangga yang biasa saya panggil bude. Saya bermain bersama beberapa teman di sebuah kamar di lantai dua itu. Saya yang mengetahui bahwa Ardi datang menyusul, berusaha untuk bersembunyi. Saya mendengar Ardi mengetuk pintu kamar beberapa kali dan saya tidak membukanya. Waktu itu niatnya memang hanya bercanda. Kemudian setelah beberapa lama, saya tidak lagi mendengar ketukan. Saya berpikir bahwa Ardi pulang.

Saya memutuskan untuk menyudahi bermain dan keluar kamar. (ngetiknya sambil berurai air mata, gaes, saya sensitif banget dengan kejadian ini) Alangkah terkejutnya saya ketika akan turun dan melihat Ardi sudah terkapar di dasar lantai sana. Darah segar keluar dari hidung dan entah dari mana lagi. Tangga rumah bude itu memang tidak tinggi, tapi jarak antara satu anak tangga dengan anak tangga lainnya cukup tinggi. Saya membayangkan anak sekecil Ardi (waktu itu dia belum sekolah) harus menaiki tangga itu kemudian memutuskan untuk turun, karena dia tidak kunjung mendapati pintu kamar yang dia ketuk berulang kali tadi terbuka. Saya panik, takut, bingung, hingga kemudian bude mengetahui kejadian tersebut. Saya lupa persisnya setelah itu bagaimana, yang jelas saya tidak berani menghadap bapak ibu. Saya tidak mau pulang. Saya takut mereka marah. Saya bersembunyi entah berapa lama di sebuah undak-undakan dimana di bawahnya adalah aliran sungai yang deras. Undak-undakan itu berada dibalik pintu belakang rumah bude. Saya mendengar ibu saya menangis, tapi saya lupa bagaimana reaksi bapak.

Kejadian itu benar-benar melukai hati saya. Ardi banyak mendapatkan luka dalam, karena kecerobohan saya itu, tangan kanan atau kirinya saya lupa, menjadi bengkok. Ya, dia mengalami patah tulang. Bapak dan ibu membawa Ardi ke sangkal putung, Gintangan. Yang saya ketahui nama bapak yang mengobati Ardi adalah Bapak Jumali. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan kedua orang tua saya waktu melihat keadaan Ardi pertama kali. Berulang kali saya mengutuki diri saya sendiri. Andai saja waktu itu saya tidak bermain di lantai dua. Andai saja waktu Ardi mengetuk pintu saya segera membuka. Andai saja ...


Sumber: Twitter

Sampai hari ini saya terus menyesali kejadian itu. Dan, mungkin karena kejadian itu lah saya menjadi sangat protektif terhadap Fahri, adik kedua saya yang saat ini berusia tujuh tahun. Beberapa waktu yang lalu saat jemput Fahri sekolah saya mendengar salah seorang ibu yang juga sedang menunggu anaknya pulang sekolah berkata pada beberapa anak yang sudah keluar “Mau sopo sing nangis?” anak tersebut menjawab yang hanya samar saya mendengarnya “Fahriza”. Saya berusaha santai, karena di kelas satu ada dua anak yang bernama Fahri. Ah, paling Fahri yang lain, pikir saya. Saat sudah jam 10 lebih Fahri tak kunjung keluar, saya bertanya pada Damar, teman sekolahnya. Damar bilang Fahri ada di kantor sedang menangis karena bertengkar.

Deg. Saya sudah panik dan segera masuk ke sekolah. Saya datangi ruang kantor dan mendapati Fahri tengah duduk di sebelah wali kelasnya, Bu Eka, sambil makan keripik tempe. Ketika saya melongok ke ruangan itu dan mata saya dan Fahri bertatap, dia kembali menangis. Aduuuh, itu hati saya sudah nggak karu-karuan, gaes. Segera saya datangi Fahri dan Bu Eka menjelaskan kejadiannya secara jelas. Sambil Bu Eka menjelaskan, saya sambil berusaha menahan air mata yang rasanya mau tumpah. “Biasa, mbak, Fahriza ini kan anaknya sensitif, lha terus temannya itu memang suka usil,” kata Bu Eka menyelesaikan kalimatnya. Adik dan kakak sama-sama sensitif :(

Saya patah hati saat melihat anak-anak kecil berkelahi dengan kawan mereka. Seperti kejadian di Blambangan tempo hari. Waktu itu saya dan Donat sedang menunggu Lia. Sembari menuggu tersebut saya melihat gerombolan anak-anak yang sedang bermain. Tidak lama setelahnya salah satu anak menangis entah karena apa, saya kurang memerhatikan. Hati saya berontak melihat yang demikian, gaes. Saya orangnya nggak bisaan. Saya memutuskan untuk menghampiri anak-anak tersebut dan bertanya ada apa. Beberapa bocah menjawab pertanyaan saya, hingga kemudian saya tahu penyebabnya. Begitulah, akhirnya saya sok menjadi mbak-mbak yang menenangkan anak yang menangis ini dan menjinakkan teman yang kata teman-temannya ‘nakal’ sehingga membuat si anak tadi menangis. Dan akhirnya mereka baikan dan kembali bermain. Saya nggak tahu, tapi naluri itu muncul secara tiba-tiba.

Atau seperti kemarin saat menjemput Fahri ngaji, saya melihat beberapa anak terlibat pertengkaran. Saya dan salah seorang ibu-ibu yang juga menjemput anaknya ngaji berusaha untuk menghentikan pertikaian mereka. Saya nggak senang aja melihat kekerasan sesama teman begitu. Apalagi mereka masih kecil.

Saya juga patah hati apabila melihat ibu-ibu yang dengan mudahnya memarahi anak mereka di depan umum. Apalagi kata-kata yang keluar dari mulut si ibu ini nggak bisa dibilang halus. Ya saya mengerti tipikal ngomel-ngomelnya Wong Osing memang begitu, tapi tetap saja saya nggak bisa terima. Kalau mau ngomel-ngomel mending jangan di depan saya gitu, lho.

Jadi, ada dua kejadian yang masih membekas di ingatan saya. Yang pertama masih di area sekolah Fahri. Seperti biasa saya waktu itu sedang menunggu dia pulang. Ada salah satu anak yang keluar dari sekolah dan menghampiri ibunya yang menunggu di pos kamling depan sekolah. Lalu beberapa menit kemudian saya mendengar si ibu berkata dengan suara keras dan mulai memukul-mukul muka si anak (bahasa jawanya itu ditapuk gitu, gaes). Saya yang melihat jelas kejadian itu hanya bisa metek dodo. Saya melihat wajah si anak yang menahan tangis, dan pasti juga malu karena di sekitar kejadian banyak anak-anak yang lain. Masalahnya sepele, si anak meminta uang jajan lagi untuk membeli sesuatu. Bagi saya seorang anak meminta uang untuk jajan itu hal yang sepele, tapi menjadi tidak sepele ketika reaksi yang si ibu tunjukkan sedemikian rupa. Kenapa? Kenapa harus memukul-mukul anak? Jika memang tidak ada uang, atau tidak berkenan memberikan uang lagi, ya bilang saja secara baik-baik. Bujuk anak agar perhatiannya bisa teralih dari uang, bukankah itu skill yang memang harus dipunyai oleh orang tua?

Kejadian kedua di tempat Ai ngaji. Saya terbiasa menunggu Ai selesai ngaji di tempat Mbak Fitri berjualan. Nah, pernah satu hari saat sedang menunggu, saya melihat ada Candra di sekitar Mbak Fitri. Candra ini anak Mbak Fitri, dan usianya kira-kira masih empat tahunan, lah. Saya nggak paham apakah Mbak Fitri adalah tipe orang tua yang pilih kasih atau bagaimana, tapi yang saya lihat sikapnya ke Candra selalu kasar, berbeda dengan sikapnya ke anak yang terakhir, saya lupa namanya. Waktu itu Candra dan kakak sepupunya sedang menunggu Mbak Fitri berjualan. Saya nggak tahu, ya, kenapa Mbak Fitri bisa begitu keras terhadap Candra waktu itu. Saya melihat Mbak Fitri menjambak rambut Candra beberapa kali hingga tubuh anak kecil itu terduduk di tanah. Masalahnya sepele, benar-benar sepele. Candra waktu itu sedang main di tanah sambil jongkok, dia melukis-lukis tanah dengan ranting kecil. Saya tidak tahu apakah perbuatan Candra itu menyebabkan dagangan ibunya terkena debu, yang jelas sama sekali tidak, karena Candra hanya bermain dengan pelan, atau memang tabiat ibunya saja yang suka menghajar Candra. Saya melihat ekspresi Candra sama seperti saya melihat Ai mewek di kantor sekolah tempo hari. Candra langsung meringsek ke pelukan kakak sepupunya itu. Hati saya ambyaaaaar, gaes~

Saya tidak habis pikir kenapa ada orang tua yang ringan tangan seperti itu. Kenapa membuat anak merasa takut bahkan berada di dekapan orang tua mereka sendiri? Saya bisa melihat Candra itu takut pada ibunya. Patah hati saya melihat hal-hal seperti ini. Ya memang saya tidak tahu ada masalah apa dalam keluarga mereka, tapi saya rasa memukul anak bukan solusi yang benar untuk melampiaskan kekesalan kita pada problematika rumah tangga.

Nah, ini lah salah satu alasan kenapa saya tidak ingin menikah. Ralat, belum ingin menikah. Saya takut patah hati setiap hari pada diri saya sendiri.

Itu baru beberapa hal yang membuat saya patah hati. Masih ada beberapa, diantaranya saat saya melihat Mbah Sudjiwo Tedjo banting mic di auditorium Untag beberapa tahun lalu. Saya yang waktu itu jadi koordinator sie. acara nangis nggak bisa berhenti di pojokan. Merasa gagal aja gitu. Hiks.

Kemudian saya juga patah hati saat melihat video seorang ayah yang mengambil ijazah S1 anaknya dikarenakan si anak meninggal dunia sesaat setelah menyelesaikan sidang skripsinya. It was really broke my heart. Patah hati saat ditinggal selamanya oleh orang-orang terkasih memang sebenar-benarnya patah hati.

Saat saya tertolak oleh PT. KAI sebagai Station Announcer, itu juga saya patah hati (mana tiket berangkat ke Jember mahal banget lagi waktu itu). Hmm, pekerjaan yang saya idam-idamkan harus kembali bersabar menanti jalan yang lain. Saat gagal mengikuti tes CPNS, patah hati lagi. Saat aplikasi saya tidak bisa diproses lebih lanjut oleh Kominfo, patah hati lagi.

Patah hati saya yang lain adalah saat mendapat job ngemc tapi tidak mencapai performa terbaik saat melakukannya. Kita pasti bisa merasakan ketika kita mengerjakan sesuatu tapi kita tidak mencapai kepuasan tersendiri. Ada yang kurang. Saya juga sering seperti itu. Atau bisa juga ketika dapat tawaran jadi dubber, saya sering patah hati karena merasa saya bisa memberikan suara yang lebih baik dari itu. Ya meskipun kadang-kadang orang menilai suara saya sudah baik.

Saat mulai mengenal seorang laki-laki dan mengijinkan dia masuk ke dalam hati, saya juga patah hati dibuatnya. Pernah juga karena hal tersebut saya naik motor dari rumah ke pom bensin Karangente dengan berlinang lair mata ala ala film IndiaPatah hati karena asmara memang bangsatnya luar biasa. Dan setelah semua patah hati yang saya lalui itu, bagaimana cara saya untuk sembuh?

Saya membiarkannya begitu saja. Penolakan-penolakan, sakit dan patah hati seperti itu adalah sesuatu yang akan menguatkan kita. Saya pernah menulis perihal kerasnya kehidupan, maka kita tidak boleh lembek, harus lebih keras dan kuat. Bagaimana cara Tuhan menguatkan kita? Ya itu tadi, kita dihadapkan pada penolakan, sakit hati, patah hati.

Bagi saya, itu semua tergantung dari bagaimana kita mengatur diri kita menghadapi berbagai emosi yang datang. Nggak gampang memang untuk tetap berpikir positif di tengah cobaan hidup yang skalanya tidak tetap. Bisa jadi ringan, ringan sekali, sampai pada skala yang berat dan berat banget yawlaaa nggak kuat deh mau nikah ajaaa :(

Itulah kemudian saya lebih memilih untuk membiarkan saja, let it flow, sambil saya merenung. Gila, ternyata selama ini saya begitu kuat sehingga cobaan-cobaan yang telah lewat itu bisa saya lalui. Saya yakin cara orang untuk sembuh dari patah hati berbeda-beda. Seperti beberapa teman yang telah sharing bersama saya via WhatsApp pada malam hari ini.

Ini story WA saya malam ini

Sobat akhlakul karimah~


Pentolan BESAF emang game melulu :')



Monmaap, pak

Kalo saya nyanyi yang kesel bukan lambenya,
tapi tetangga dan anggota keluarga :')

Ngomong doang gampaaaaang :'(

Loveeeee

Tidak ada yang mudah melewati fase patah hati. Sakit yang ditimbulkan, trauma yang ditimbulkan, tidak ada yang mudah. Tapi yakinlah bahwa semua luka-luka itu akan membuat kita menjadi lebih dewasa.


School 2017

Saya tidak sedang patah hati, gaes. Bagi kalian yang menanyakan hal tersebut semalam, saya tegaskan lagi saya tidak sedang patah hati. Hati saya hanya satu dan sudah patah bolak-balik, wis kebaaal. Semalam saya hanya ingin tahu bagaimana cara kalian untuk sembuh dari patah hati, untuk kemudian saya tulis di blog tercinta saya ini. Heuheu~