Kamis, 25 Januari 2024

FEELING IS HEALING

Januari 25, 2024 0 Comments

Rasanya aku sudah menuliskan ini dimana-mana. Bahwa Desy adalah satu-satunya teman SD yang sampai saat ini masih rajin hangout bareng. Setelah lulus kuliah kami justru jadi semakin dekat. Ada saja celetukan perempuan itu yang membuatku tertawa. Desy ini tipe perempuan yang mudah mengekspresikan apapun yang dia rasakan.

Kemarin kami ke Seling. Tidak ada jadwal pasti untuk hangout sebetulnya, karena kami sama-sama tipe manusia mager. Kalau enggak janjian dulu, jarang kami mau keluar dadakan.

Seperti biasa, tidak banyak yang kami bahas. Pertemuanku dengan Desy bisa dibilang sebagai stress release. Hal-hal remeh temeh yang justru sering kami bahas. Dan, dia ini selalu akan mengungkit apa yang aku posting di twitterku. Adaaaaa aja bahan untuk menginterogasiku.

Seperti satu twit yang aku buat beberapa waktu lalu, yang tentu saja akhirnya membuatku mengingat lagi waktu dulu. Aku menceritakan sedikit bab patah hati yang pernah aku lalui. Des, gini gini aku juga pernah patah hati keleus.

"Tapi awakmu koyok gak pernah sedih, Mey."

Tuh, kan. Masih ingat yang aku bilang tadi? Soal Desy itu tipe manusia yang mudah mengekspresikan dirinya? Salah satunya ya hal-hal seperti itu. Hahaha.

Entah kenapa kemarin-kemarin aku sedang ingin nostalgia dengan membuka folder lama. Mulai dari foto sampai dokumen. Aku membukanya satu per satu. Kebanyakan adalah cerita-cerita pendek yang tidak pernah aku selesaikan. Hingga kemudian ada satu file berjudul HBD yang membuatku penasaran.

Ternyata isinya adalah tulisan hadiah ulangtahunku waktu itu. Membaca tulisan itu lagi saat ini membuatku tersenyum. Iya, ya, urusan hati ini ya ternyata seperti itu saja. Aku bisa membaca tulisan itu lagi dengan perasaan lega, tidak lagi sesak.

Bagaimana kita mau sembuh jika tidak berhadapan dengan luka itu sendiri? Tidak berusaha mengobati, justru malah membiarkannya. Sakit sudah jelas, tapi kan aku mau sembuh. Aku mau produktif lagi tanpa harus terganggu rasa sakit yang membuatku sekarat.

Kalau kata Marshanda, feeling is healing. Merasakan, menghadapi, itulah upaya yang mesti dilakukan kalau ingin sembuh. Sembuh dan siap merasakan jatuh-jatuh yang lainnya. Toh, kalaupun jatuh kita masih bisa bangkit lagi.

Sabtu, 20 Januari 2024

KUNANG-KUNANG ITU LAGI

Januari 20, 2024 0 Comments

Setelah insiden berkunang-kunang pas ngemc tempo hari, aku jadi lebih memerhatikan pola makanku. Berjanji pada diri sendiri untuk tidak suka telat makan lagi. Membayangkan insiden minggu lalu terulang lagi aku sudah ngeri sendiri.

Dulu kejadian yang mirip pernah aku alami ketika memandu acara Dinas PU Pengairan di Genteng. Aku ini memang tidak terbiasa sarapan, jadi ketika ada job ngemc pagi aku jarang sarapan terlebih dahulu. Waktu itu memang sama sekali belum terisi makanan, meskipun itu roti. Nah, acara PU Pengairan waktu itu cukup meriah. Karena memang acara seru-seruan, pembagian hadiah, acara semi formal lah.

Ada momen saat membacakan nomor pemenang aku diserang mulas. Perutku tiba-tiba melilit, aku secara otomatis berjongkok. Ada perasaan ingin muntah tapi saat yang bersamaan aku juga sadar perutku kosong jadi tidak ada yang bisa aku muntahkan. Aku berjongkok beberapa saat sambil mengatur napas dan minum air putih. Setelah agak lumayan, aku meminimalisir teriakan. Aku jadi paham kondisinya. Aku belum sarapan, tapi sudah langsung ngemc dengan penuh semangat. Begitulah jadinya.

Minggu lalu, kondisi yang sama terulang. Bahkan bisa dibilang ini lebih parah. Ditengah-tengah ngemc, benar-benar ditengah aku sedang bicara, tiba-tiba mataku berkunang-kunang, pandanganku kabur. Setelahnya perutku melilit sehingga membuatku harus membungkuk dan berjongkok.

Momen itu langsung mengingatkanku kejadian di Genteng. Setelahnya kepalaku mulai berat dan aku merasakan wajahku jadi dingin. Aku mencoba mengingat lagi kapan terakhir kali aku makan. Sarapan pagi, setelah itu aku belum makan lagi sampai di waktu aku ngemc, kurang lebih jam 7 malam.

Aku merasa benar-benar tidak enak pada klienku. Meskipun mereka fine-fine saja bahkan masih sempat memastikan aku baik-baik saja, tetap saja aku merasa tidak enak. Setelah itu aku segera mengambil makanan dan mulai mengisi perut. Minum sebanyak-banyaknya air putih. Sejak itu aku berjanji tidak akan telat makan lagi. Aku berjanji tidak akan ngemc dalam keadaan perut kosong lagi.

Kamis, 18 Januari 2024

HIDUP SERIBU TAHUN LAGI

Januari 18, 2024 0 Comments
Tuhan ini benar-benar Maha Membolak-balikkan hati. Baru juga kemarin kami sekeluarga diberikan perasaan gundah, perasaan tidak nyaman, perasaan yang bisa membuat manusia tidak bergairah, tidak semangat menjalani hidup. Besoknya alias malam ini, kami sekeluarga sudah bisa kembali tenang. Perasaan-perasaan negatif tadi berganti dengan perasaan nyaman yang tentu saja itu adalah perasaan positif.

Jika semalam kami tidur dengan membawa serta perasaan negatif, malam ini kami tidur dengan penuh perasaan baik. Sesignifikan itu kondisi hati memenaruhi kualitas tidur. Kalau ada yang bilang jangan tidur dalam keadaan marah, itu benar. Segala perasaan yang kita rasakan ini punya pengaruh pada tubuh kita.

Seperti spons, tubuh kita menyerap apa-apa saja yang masuk. Jika menyerap energi negatif, ya itu yang akan kita rasakan. Kita tidak pernah bisa melihat hal baik, merasakan hal baik, atau melakukan hal baik karena terlalu banyak hal negatif yang masuk.

Pernahkah kalian merasa semangat untuk hidup? Merasa mampu untuk hidup seribu tahun lagi? Meskipun itu hal mustahil. Tapi, aku sedang dalam fase itu. Fase bersemangat menjalani kehidupanku. Aku akan menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.


Minggu, 07 Januari 2024

AKHIRNYA, AKAL BUKU.

Januari 07, 2024 0 Comments

Besok paginya kami bertemu di depan DPRD DIY, di pelataran Jalan Malioboro. Bibeh dan Arinal jalan pagi, aku menyusul mereka sekitar pukul 7 karena memilih untuk rebahan lebih lama di kamar. Udara pagi di Jogja, jalan kaki, memerhatikan banyak orang berkegiatan, membuatku rileks. Jarak penginapan kami dengan Jalan Malioboro benar-benar dekat. Sehingga jalan kaki ini juga membuat kami bisa menikmati suasana di sekitar.

Aku melihat Na Willa sudah lebih segar. Dia menikmati main dengan mak dan bapaknya. Aku bergabung dan duduk berdua dengan Bibeh sambil memerhatikan lalu lalang kendaraan. Perjalanan kami kali ini memantik ingatan beberapa tahun lalu ketika pergi ke Jogja bersama Komunitas Pegon. Tapi, perjalanan kali ini lebih tenang, lebih banyak waktunya, karena juga ini perjalanan pribadi, bukan tugas negara seperti yang dulu kami lakukan.

Selesai menikmati udara pagi, secara impulsif kami memutuskan minum jamu. Ya, betul, saudara sebangsa setanah air. Kami minum jamu. Sebetulnya kami ini hanya melakukan apa yang kami lihat di depan mata saja. Waktu itu kami lihat tukang jamu di seberang, di depan KFC, ya kali enggak nyobain jamu di Jogja. Aneh, sih, tapi semuanya oke jadi ya ini bukan kegiatan pagi yang aneh-aneh banget.


Selesai minum jamu kami kembali ke penginapan. Di dekat penginapan ada gerobak Bubur Ayam. Karena belum sarapan aku bungkus satu untuk makan di kamar. Sambil menunggu Bibeh sekeluarga siap, aku menikmati sarapanku sambil nonton youtube.

Jam setengah 10 pagi kami sudah bersiap ke Akal Buku. Aku memutuskan untuk naik motor karena tidak mau hal-hal tidak diinginkan terjadi sehingga mengganggu perjalanan kami yang seru ini. Awalnya Arinal protes, maksudnya sih baik, biar kita enggak misah. Tapi, plis banget pak, ini menyangkut keberlangsungan hidupku. Aku yang tahu sampai mana batas tubuhku ini bisa bertahan. Dan kalau pagi ini aku memutuskan naik mobil, sudah bisa dipastikan sampai Akal Buku aku semaput.

Karena naik motor, aku sampai lebih dulu. Aku dapat driver go-jek yang menyenangkan. Anaknya ramah dan suka cerita. Beruntungnya, pagi itu mood-ku sedang baik, jadi aku meladeni semua ceritanya dengan antusias. Sampai di Akal Buku ada perasaan aneh menyergap. Gila, ini adalah rumah yang sering aku lihat di konten Mbak Kalis maupun Mas Agus di sosial media. Sekarang ini aku berdiri di depan rumah Akal Buku.

Inilah teras merah itu, tempat Lily biasa rebahan. Inilah pohon rambutan itu, pohon yang sering masuk ke konten review produk galah milik Mas Agus. Inilah kursi antik itu, kursi yang biasa diduduki banyak tokoh, Habib Jafar salah satunya. Daaaan, inilah tembok legendaris itu! Tembok bergambar wajah para tokoh kebanggaan Mbak Kalis dan Mas Agus. Aku terharu sendiri melihat bagaimana akhirnya aku dan Bibeh berhasil mewujudkan cita-cita kami.

Cita-cita yang ternyata di dalamnya dibersamai oleh Na dan Pak Ari. Sungguh rencana Tuhan itu jauh lebih indah dari rencana manusia. Setelah bertemu Mbak Kalis aku langsung menyerahkan wadah berisi ranti yang sudah aku siapkan dari Banyuwangi. Ranti ini menjadi oleh-oleh utama yang aku bawa karena tahu Mbak Kalis suka bikin sambal.

Tidak lama kemudian Bibeh datang. Kami bercengkerama di halaman depan. Akal Buku sejuk sekali siang itu. Udara Jogja menyenangkan, tidak terlalu panas. Cuaca siang itu juga redup, tidak terlalu terik. Awalnya kami berencana singgah singkat saja, karena ingin ke banyak tempat lagi. Tapi, ternyata ada teman Pak Ari yang ikut singgah karena ternyata beliau juga mengenal Mbak Kalis dan Mas Agus.

Jadilah kami berjam-jam di Akal Buku. Menjelang siang kami pamit, melanjutkan perjalanan ke Buku Akik.

Sabtu, 06 Januari 2024

GOES TO JOGJA

Januari 06, 2024 0 Comments

Akhirnya cita-cita itu terwujud, kami datang ke Yogyakarta dan bertemu lagi dengan Kalis Mardiasih. Dulu, ketika menunggu kereta di stasiun, Mbak Kalis menawarkan kami untuk hadir ke pernikahannya dengan Mas Agus Mulyadi. Aku kira hanya basa-basi, mendekati hari H beliau menghubungiku. Tapi, karena satu dan lain hal kami tidak bisa datang.

Setelah itu, kami (aku dan Bibeh) berjanji suatu hari nanti harus datang ke Jogja. Jika tidak di momen pernikahan Mbak Kalis, ya di momen bahagia beliau yang lainnya. Kelahiran Raras Ugahari lah momen bahagia itu. Kami merencanakan perjalanan ini sejak November 2023. Mulai dari pesan tiket kereta, pesan penginapan dan segala tetek bengeknya.

Melakukan perjalanan jauh dengan pasangan suami istri anak satu itu memang harus penuh kesabaran. Kalau saja aku pergi sendiri pasti sudah tidak perlu ada pertimbangan lain. Aku bisa memutuskan sendiri bagaimana nanti perjalanan yang akan aku tempuh.

Kami berangkat tanggal 3 Januari, persis di hari ulangtahun Bibeh. Sumpah demi apapun, aku lupa dia sedang ulangtahun. Kenapa aku ingatnya tanggal 13, ya? 13 Januari ini ulangtahun siapa? Aneh bener.

Kami sampai Lempuyangan kurang lebih jam delapan malam. Buatku yang menempuh perjalanan 13 jam tentu saja ini melelahkan. Tapi, ketika melihat Bibeh dan Arinal membawa Na Willa, lelahku rasanya tidak ada apa-apanya.

Perjalanan ini mengajariku banyak hal soal berumah tangga. Tiap ngemc pernikahan aku selalu bilang bahwa menikah itu bukan siapa yang paling, tetapi saling. Saling bertanggungjawab, saling membantu, saling mengasihi dan saling-saling yang masih banyak lagi. Itu juga sebagai pengingat untuk diriku sendiri sebetulnya.

Setelah beberapa kali driver menolak orderan kami, akhirnya kami dapat driver. Seperti biasa kami harus jalan kaki dulu sampai bawah flyover untuk bisa naik mobil yang menjemput kami. Na Willa sudah rewel, kami semua juga sudah lelah. Sampai di penginapan kami langsung beres-beres. Aku merebahkan tubuhku sejenak hingga kemudian memutuskan mandi.

Jadwal kami malam itu adalah makan. Tiga belas jam ada di kereta, ditambah tadi ke penginapan naik mobil, membuat perutku tidak nyaman. Aku harus segera mencari makanan berkuah yang pedas. Ada satu tempat makan di depan gang penginapan yang menyediakan Soto Ayam. Tanpa ragu aku pesan menu itu. Soto di Jogja ini tidak seperti soto di Banyuwangi. Tapi, masa bodo, aku melarutkan banyak sambal pada kuah soto dan menghabiskan makanan berkuah itu.

Malam itu tidak banyak yang kami lakukan selain makan, kemudian kembali ke penginapan.