Jumat, 22 Agustus 2014

Rabu, 20 Agustus 2014

Syurga Para Istri

Agustus 20, 2014 0 Comments
Sebuah postingan menarik dari fans page Bang Darwis
Bacaan mengapa ridho suami itu syurga bagi para istri. Entahlah, ini hanya sebagai tambahan untuk pengetahuanku, sehingga kelak aku memahami bagaimana cara membina keluarga yang baik disertai ridho suami^^

Karena ilmu saya tidak cukup memadai menjelaskannya, maka akan saya reposkan sebuah tulisan dari salah-satu penulis yang lebih dalam ilmunya, Ust. Rahmat Idris (RH Fitriadi), kawan penulis dari Aceh, semoga bermanfaat:

Mengapa ridho suami itu surga bagi para istri?

1. Suami dibesarkan oleh ibu yang mencintainya seumur hidup. Namun ketika dia dewasa, dia memilih mencintaimu yang bahkan belum tentu mencintainya seumur hidupmu. Bahkan seringkali rasa cintanya padamu lebih besar daripada cintanya kepada ibunya sendiri.

2. Suami dibesarkan sebagai lelaki yang ditanggung nafkahnya oleh ayah ibunya hingga dia beranjak dewasa. Namun sebelum dia mampu membalasnya, dia telah bertekad menafkahimu, perempuan asing yang baru saja dikenalnya dan hanya terikat dengan akad nikah tanpa ikatan rahim seperti ayah dan ibunya.

3. Suami ridha menghabiskan waktunya untuk mencukupi kebutuhan anak-anakmu serta dirimu. Padahal dia tahu, di sisi Allah engkau lebih harus dihormati tiga kali lebih besar oleh anak-anakmu dibandingkan dirinya. Namun tidak pernah sekalipun dia merasa iri, disebabkan dia mencintaimu dan berharap engkau memang mendapatkan yang lebih baik daripadanya di sisi Allah.

4. Suami berusaha menutupi masalahnya di hadapanmu dan berusaha menyelesaikannya sendiri. Sedangkan engkau terbiasa mengadukan masalahmu pada dia dengan harapan dia mampu memberi solusi. Padahal bisa saja di saat engkau mengadu itu, dia sedang memiliki masalah lebih besar. Namun tetap saja masalahmu diutamakan dibandingkan masalah yang dihadapinya sendiri.

5. Suami berusaha memahami bahasa diammu dan bahasa tangismu, sedangkan engkau kadang hanya mampu memahami bahasa verbalnya saja. Itupun bila dia telah mengulanginya berkali-kali.

6. Bila engkau melakukan maksiat, maka dia akan ikut terseret ke neraka karena dia ikut bertanggung-jawab akan maksiatmu. Namun bila dia bermaksiat, kamu tidak akan pernah dituntut ke neraka karena apa yang dilakukan olehnya adalah hal-hal yang harus dipertanggungjawabkannya sendiri.

*semoga tulisan ini bermanfaat.




Minggu, 17 Agustus 2014

Feeling Better

Agustus 17, 2014 0 Comments
Bismillah^^

Seperti ini jauh lebih baik. Entahlah, aku mengira apa yang sudah kulakukan ini benar.
Aku lega sudah mengatakannya padamu. Dan aku harap kau bisa menerima dan mengerti J
Aku tidak bisa membacamu. Aku tidak bisa juga membaca sikapmu. Mungkin kau mengerti, tapi apa kau juga menerima? Kuharap kau selalu dalam naunganNya. Seperti yang kau bilang tempo hari, “Semoga Meydiana Isfandari selalu berada dalam naunganNya”

Aamiin J

Perasaanku jauh lebih baik, jauh lebih lega.
Aku hanya bisa menjaga hatiku untukmu, wahai hayalan.
Kau juga berkata akan melakukan hal yang sama denganku, menjaga hatimu untukku.
Semoga tiada apapun yang merubah itu.

Allah … jagalah hatiku dari apapun yang dapat membuatku berpaling.
Jagalah hatinya dari apapun yang dapat membuatnya juga berpaling.
Wahai yang Maha membolak-balikkan hati, aku tidak tahu apakah aku berjodoh dengannya. Namun, bila memang kami tiada berjodoh, jangan berikan rasa sesak yang teramat sakit didalam hati ini. Ikhlaskanlah diriku …

Allah … ya Rahman, biarkan cinta kasih kami berlabuh hanya padaMu. Hanya Kau yang menjadi saksinya.

Kau lelaki yang dipilih oleh hati ini, biarkan rasa itu hanya kau dan Dia yang tahu.
Begitupun aku, ku biarkan rasa ini hanya aku dan Dia yang tahu.
Semoga tujuanmu tetap sama, yaitu aku.

Bersabarlah dalam diam dan taat.
Waktu yang akan menjawab semuanya.
Rancanglah masa depan yang ingin kau dapatkan.
Aku disini, hanya bisa mendoakanmu. Hanya bisa menjaga hatiku J

Kelak saat kau berhasil dalam urusanmu, kembalilah dan datang segera untuk melamarku.


Kamis, 14 Agustus 2014

Banyuwangi Kota Welas Asih

Agustus 14, 2014 0 Comments
Kabar Banyuwangi.

Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dijadikan sebagai Kota Welas Asih (Compassionate City) seiring sejumlah program di kabupaten tersebut yang menghargai nilai-nilai kasih sayang, humanisme, dan kebhinnekaan. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menandatangani Piagam Welas Asih (Charter for Compassion) di Banyuwangi, Selasa (5/8/2014) baca selengkapnya

Pawai Lampion Hari Pramuka

Agustus 14, 2014 0 Comments
Kabar Banyuwangi.

Sudah menjadi tradisi peringatan hari Pramuka tidak lepas dari kegiatan yang bernama lampion. Agenda yang dilakukan malam hari ini selalu berkesan bagi setiap pesertanya. Langit malam yang dihiasi oleh lampu lampion berwarna-warni dan bergam bentuk ini menambah meriah suasana peringatan baca selengkapnya

Rabu, 13 Agustus 2014

Novela Nawipa

Agustus 13, 2014 0 Comments
Saat ini siapa yang tidak mengenal wanita dari timur Indonesia bernama Novela Nawipa. Namanya santer diberitakan setelah wanita ini memberikan saksi pada sidang di Mahkamah Konstitusi terkait gugatan pilpres 2014. Wanita ini ternyata selain menjadi ketua DPC Gerindra Paniai dia juga seorang direktur baca selengkapnya

Senin, 11 Agustus 2014

Jurus Anti Maksiat

Agustus 11, 2014 0 Comments
Bismillah ^^
Cerita ini saya ambil dari buku karya Saikhul Hadi dengan judul "Di Hatinya Cuma Ada Cinta". Dalam buku ini terdapat banyak kisah di jaman Rasulullah dan para sahabatnya. Ini adalah salah satu kisah yang akan membuat keimanan kita bertambah, insyaallah^^

Seseorang lelaki datang kepada Ibrahim bin Adham. Tokoh sufi ini dikenal sebagai konsultan spiritual pada masanya. Dengan cerdik ia bisa mengatasi masalah-masalah yang terkait dengan rohani. Di hadapan Ibrahim bin Adham lelaki ini tak henti menangis.
“Aku adalah orang yang tidak berguna. Selalu saja mudah tergoda melakukan maksiat. Saya sungguh menyesal. Namun tidak lama kemudian melakukannya lagi. Wahai Ibrahim, orang yang dikasihi Allah, tunjukkanlah kepadaku sesuatu yang bisa membuatku tidak melakukan maksiat,” ratap lelaki itu.
“Akan aku berikan kepadamu lima perkara yang bisa membuatmu jera melakukan dosa.”
“Apa itu, Tuan, katakan.”
“Pertama,” kata Ibrahim,”jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Allah, janganlah kamu memakan sesuatu pun dari rezeki-Nya.”
Lelaki itu sontak memandang Ibrahim. Wajahnya tidak percaya dengan apa yang barusan diucapkan sufi ini.
“Apakah Anda sedang bercanda Tuan? Bukankah semua rezeki berasal dari Allah? Jika aku tidak boleh memakannya lantas aku makan rezeki dari mana?”
“Jika anda mengetahui hal itu, apa pantas kamu memakan rezeki-Nya tapi bermaksiat kepada-Nya,”
“Tentu tidak, aku mengaku salah.”
Ibrahim melanjutkan, “Kedua, jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Allah, jangan tinggal di bumi-Nya.”
Dengan terheran-heran, lelaki itu berkata,”Lantas aku akan tinggal dimana? Adakah bumi selain bumi Allah?”
“Jika kamu sudah mengetahui hal ini, apa pantas kamu tetap tinggal di bumi-Nya sedang kamu bermaksiat kepada-Nya.”
“Tentu tidak, Tuan. Lalu apa yang ketiga?”
“Ketiga,” kata Ibrahim, “jika kamu ingin berbuat maksiat, carilah tampat yang tidak bisa dilihat oleh Allah. Apabila kamu bisa mendapatkan tempat seperti itu, berbuat maksiatlah sesukamu.”
“Aduh, Tuan, adakah tempat yang tidak diketahui oleh Allah? Dia mendengar derap kaki semut hitam di gurun sahara pada malam gelap gulita. Oh, tidak ada tempat yang luput dari penglihatan Allah,” ratap lelaki itu.
“Jika kamu mengetahui hal itu, apa pantas kamu masih berbuat maksiat kepada-Nya?”
Lelaki itu menggeleng. “Bagaimana dengan yang keempat?”
“Jika kamu didatangi malaikat maut untuk mengambil nyawamu, katakan padanya, ‘Jangan lakukan, tundalah beberapa saat lagi, aku akan bertaubat,” kata Ibrahim.
“Tidak mungkin Tuan, jika ajal telah datang, maka tidak dapat diundurkan atau dimajukan sedetik pun.”
“Ternyata kamu juga sudah mengetahuinya, lalu mengapa masih ingin berbuat maksiat?”
Kini lelaki itu bercucuran air mata. Hatinya sangat tersentuh dengan nasihat-nasihat sederhana yang diberikan Ibrahin bin Adham. “Dan yang terakhir…”
“Cukup Tuan, … cukup,” lelaki itu memotong pembicaraan Ibrahim. “Tak perlu engkau lanjutkan lagi nasihatmu. Tak mampu lagi aku mendengarnya. Ya Allah, ampunilah dosaku, aku bertaubat kepada-Mu.”

Kawan, bagaimana dengan kita? Tergetarkah hati kita mendengar nasihat Ibrahim bin Adham sebagai ‘mantra’ penangkal maksiat?#

Mengelola Sampah Rumah Tangga

Agustus 11, 2014 0 Comments
Dalam kehidupan sehari-hari pasti manusia bergulat dengan sampah rumah tangga. Mulai dari sampah dapur hingga sampah aktivitas. Masalah sampah yang semakin hari semakin menumpuk memang menjadi problem dikalangan masyarakat. Bahkan pemerintah kota pun kewalahan dalam menangani hal ini.

Masalah sampah akan tetap menjadi masalah utama yang sulit untuk dipecahkan apabila tidak dimulai dari lingkungan paling kecil, yaitu keluarga. Sebaliknya bila pengelolaan limbah rumah tangga telah berjalan dengan baik dan benar, maka akan mempermudah dalam hal pengelolaan limbah lingkungan lainnya.

Ibu-ibu rumah tangga yang setiap hari beraktivitas dirumah selalu memiliki masalah terhadap sampah rumah tangga. Sampah-sampah yang apabila tidak dikelola dengan baik tentu akan menumpuk dirumah dan menimbulkan bau yang tidak sedap.
Sampah rumah tangga ini dapat dikelola menjadi pupuk kompos ataupun didaur ulang menjadi barang yang bernilai ekonomis.
Untuk sampah yang bersifat organik seperti batang sayur, kulit bawang, cangkang telur, kulit buah-buahan, dapat dijadikan sebagai kompos.
Sedangkan sampah-sampah anorganik dapat digunakan sebagai bahan baku kerajinan.

Sabtu, 09 Agustus 2014

Curahan Hati

Agustus 09, 2014 0 Comments
Bismillah ^^

Pejamkan matamu.
Tarik nafas dalam-dalam.
Tahan sejenak untuk mengingat segala kesalahan kita.
Lepas perlahan sembari beristighfar.

Aku sering melakukannya untuk mendapat ketenangan hati. Entah sudah berapa banyak dosa yang sudah ku perbuat. Tapi aku tahu Allah senantiasa membuka pintu maaf untuk hambanya yang benar-benar bertaubat. Hari ini aku melakukannya setelah dia menceritakan sesuatu.
Cerita yang tidak hanya membuatnya menangis, tapi aku juga menangis.
Allah, berikan dia kekuatan menghadapi ujianmu.
Jadikan dia lelaki yang tegar dan sabar. Rahmati keluarganya dengan kedamaian dan keberkahan.

Bukan aku tidak tahu apa yang kau maksud. Aku tahu, sangat tahu.
Aku hanya tidak ingin ada syaitan di antara kita.
Aku sadar selama ini aku salah. Apa yang sudah kita lakukan selama ini adalah sebuah kesalahan.
Aku membiarkan diriku menjadi tempat singgah. Padahal aku membenci posisi itu.
Aku tahu kau yakin terhadapku. Tapi, rencana Allah siapa tahu?
Sungguh aku tidak ingin menjadi tempat singgah.

Kau tahu apa yang terjadi pada tempat singgah?
Laki-laki datang untuk mampir makan, mampir minum, mampir buang hajat, mampir mampir dan mampir ...
Itulah kenapa lelaki lebih rindu rumah daripada tempat singgah.

Dan aku...
Aku tidak mau menjadi tempat singgah. Aku mau menjadi rumah bagimu.
Rumah dimana kau pulang setiap harinya.
Bukan tempat yang kau singgahi lantas kau pergi meninggalkannya.

Butuh waktu untuk berkomitmen.
Dan itu masih sangat lama. Waktu yang kita sia-siakan hanya untuk bermain-main ini percuma.
Hanya setumpuk dosa yang kita dapat.
Aku ingin kau mengerti apa yang aku rasakan.
Aku inign kau memahami bagaimana aku.

Salahku tidak pernah mengatakannya padamu.
Aku takut kau menghilang, kau menjauh, dan tak pernah kembali.
Nafsu ini sudah mengendalikan pikiranku ya Allah...
Setan apa yang sudah merasukiku, sehingga aku menjadi sangat munafik seperti ini.

Aku harap kau membaca catatanku malam ini.
Aku harap kau mengerti bagaimana perasaanku.
Aku tidak ingin kehilanganmu.
Tapi, aku juga tidak ingin terus ada dalam perasaan bersalah.
Ya Allah, kuatkan kami, dan berkahilah kami.

Jumat, 08 Agustus 2014

Catatan Doa

Agustus 08, 2014 0 Comments
Bismillah ^^

Allah, kuserahkan segala perkaraku kepadaMu. Segala urusanku kepadaMu.
Aku melihat keyakinan pada dirinya. Aku merasakan kesungguhan pada dirinya.
Allah, bukankah setiap hati menyimpan sebuah nama?
Aku menyimpan namanya dalam hatiku.
Seperti yang sering Kau dengar. Aku menyebutnya dalam doaku.
Aku harap Kau tidak bosan dengan itu.

Allah, jika dia orang yang Kau ridhoi mudahkanlah.
Jika dia bukan, maka lapangkanlah.
Lapangkan hatiku untuk menerima ketentuanmu.
Lapangkan pikiranku untuk tidak menyekutuimu.

Bagiku dia sederhana.
Tidak mudah menjadi sederhana dengan cara yang sederhana.
Bagiku dia apa adanya. Tidak mengada-ada.
Allah, aku mencari yang baik untukku.
Namun, juga baik untuk anak-anakku.
InsyaAllah ^^

Allah, aku hanya berharap kepadaMu.
Karena aku tahu, mengharap kepada selain diriMu hanya sia-sia.
Dan catatan kecil ini sebagian dari doa-doaku.
Allah, aku yakin Kau mendengarku.