Sabtu, 29 Oktober 2016

Aku Lala Padamu, Mbah

Oktober 29, 2016 0 Comments
Setelah adegan yang berurai tangis tadi selesai, Mas Sunan memberikan pengumuman bahwa dirinya akan mengantar Mbah menuju rumah salah satu budayawan yang ada di Banyuwangi. Mas Sunan mengajak Bibeh, Bibeh mengajak saya, dan hal itu telah di sepakati oleh anggota BEM-U yang lain.

Jadilah malam itu saya, Bibeh dan Mas Sunan pergi ke Hotel Blambangan. Tempat Mbah dan crew menginap. Dari sana tampak beberapa crew sedang leyeh-leyeh di pinggir kolam renang. Saya dan Bibeh memilih menyudut di depan salah satu kamar, dengan maksud pedekate ke colokan. Bibeh butuh mengisi batre ponsel, tentu, agar nantinya bisa untuk cekre-cekrek mengabadikan momen bersama Mbah.

Selang beberapa menit kemudian, Mbah dan tante (istrinya Mbah) keluar dari kamar. Mas Sunan memberi tanda untuk menghampiri simbah. Saya yang masih shock dengan kejadian di aula tadi, buru-buru berdiri dan membenarkan pakaian serta jilbab yang sebenarnya nggak apa-apa. Saya dan Bibeh akhirnya menemui simbah dan istrinya. “Ini istri saya.” Kata Mbah. Saya salim ke tante kemudian ke Mbah. Saya duduk di samping beliau. Bukan main salah tingkahnya saya dan Bibeh.

Bibeh membuka obrolan, “Beda kan ya mbah, aslinya sama yang di panggung tadi.” Saya paham maksud Bibeh, dan sepertinya simbah juga paham maksud Bibeh. Mbah menjawab, “Iya, lah.” Tetap dengan gayanya yang cool dan angker. *eh

Mbah menanyakan perihal kondisi budayawan yang akan kita kunjungi malam ini, dan lagi-lagi saya harus mengecewakan beliau dengan jawaban, “Wah, kurang tahu, Mbah.” Duh Mey, kamu ini tahunya apa? Apa-apa kok nggak tahu. Salah juga tadi nggak briefing dulu sama Mas Sunan, ya minimal tahu lah siapa nama budayawan itu. -____-

Sebelum ke rumah budayawan, Mbah dan crew ingin kulineran dulu. Langsung saja seperti yang saya rekomendasikan ke Mbak Popy tadi di aula, kita makan sego tempong. Beruntung simbah bukan orang yang rewel soal makanan. Akhirnya, saya dan semuanya berangkat ke Mbok Wah.

Jangan ditanya perjalanan kami akan lancar-lancar saja. Dua perempuan pemandu jalan ini sama ngeheknya. Kami nggak hapal gang Mbok Wah. Jadilah kami semua muterin perkampungan yang jebulnya di sebelah terminal sasak perot. Aduh, ampun. Beruntung orang-orang yang ada di mobil semuanya humoris. Mereka (Bang Koko, Pak Joe, dan Ibu-Ibu yang saya nggak tahu namanya) adalah tim dari Platinum. Mereka sih santai saja karena gps mereka salah jalan, yang saya kuwatirin mobil di belakang kami (isinya simbah dan pihak Bentang Pustaka). Setelah insiden tersesat itu, sampailah kami di tempat yang disambut dengan cengiran Mas Sunan. “Kemana tadi, Mey?” | “Nyasar, Mas. Maklum malem.” Saya ngeles.

Masuk ke warung, seperti yang sudah saya duga, tidak banyak orang yang mengenali Mbah. Dengan santainya Mbah menuju ke etalase yang penuh dengan ikan, dan memesan ke ibu-ibu yang sedang melayani. Benar-benar pemandangan yang lucu, menurut saya. Mbah nggelandot ke etalase sambil nunjuk-nunjuk menu yang beliau inginkan. Saya, Bibeh dan Mas Sunan sempat duduk di samping beliau untuk sekedar mengambil dokumentasi. Lalu ketika tante datang dengan sepiring nasi, beliau duduk di depan simbah. Saya dan Bibeh buru-buru berdiri dan menyilahkan tante untuk duduk di sebelah suaminya. Tapi tante dengan santainya bilang, “Udah, nggak apa-apa, duduk aja.” Bibeh mengambil kesempatan itu dengan melontarkan guyonan, “Aah, pasti biar bisa pandang-pandangan ya, Mbah?” tante tertawa, Mbah pun tertawa dan berkata “Kurang ajar.” Hahahaha, ekspresi ketika mbah berkata kalimat tersebut tidak akan pernah saya lupakan. Segala kebekuan yang sedari tadi menyelimuti saya, cair seketika.



Sebelum tante datang.
Akhirnya, Mbah beserta crew menikmati makan malam ronde pertama mereka. Saya dan Bibeh mojok berdua di dekat mbak kasir. Kami hanya menikmati sesisir pisang dan segelas es teh. Iya, romantis, kan? Pisang satu berdua, es teh segelas berdua.

Selesai makan, mbah ingin bakso. Ini makan malam ronde kedua. Saya merekomendasikan bakso Pak Untung perliman. Sayangnya, Pak Untung tutup. Akhirnya kami lurus dan belok kanan. Berhenti di warung bakso Pak Saleh, pertigaan Naga Bulan. Barulah di warung ini saya dan Bibeh ikut makan. Para laki-laki kecuali simbah, nggak ikut makan. Saya makan di meja yang terpisah dari Mbah dan para ciwi-ciwi (tante, Mbak Popy, Mbak Ulil, Mbak Fitri, Bibeh). Gile, udah saya ini jomblo, makan sendirian pula. Beruntung saya di samperin Mas-mas dari Platinum, yang sampai detik itu saya nggak tahu siapa namanya.

Kesian bener, makan sendirian :(
Bapak yang di belakang? Ngapain? :D
Beliau sempat bingung dengan mi loksor yang ada di mangkuk saya. “Kok warnanya ijo?” katanya. “Kok ijo sih, Mas? Bukannya biru?” nggak penting banget, kan, yang kami debatkan? Akhirnya kami kenalan. Barulah saya tahu namanya adalah Rico. Mas Rico sempat bercerita tentang pengalamannya yang kehilangan hape di Banyuwangi. Buset, baru sehari di Banyuwangi, HP udah ilang aja, pikir saya. Beliau juga tanya tentang pantai di Banyuwangi. Saya sebutkan pantai-pantai yang terlintas di pikiran saya, juga saya tunjukkan wallpaper ponsel Bibeh, Teluk Ijo. “Ah, yang begitu mah banyak di Jogja, Mey.” Iya juga, sih. Di Jogja yang begitu sudah biasa. Lalu, mulailah Mas Rico –bak para marketing- promosi Jogja. “Tiap sudut Jogja itu romantis.” Saya mengiyakan, tidak membantah. “Memang, Mas, tiap sudut jogja itu ngangenin. Aku ke Jogja cuma tiga hari, ya ampun, nggak kerasa.”

“Duh, tiga hari tuh nggak ada apa-apanya. Ke Jogja tuh seminggu. Tiga hari paling cuma ke Keraton, Prambanan, bla bla bla ...”

Memang, Mas, memang. Hiks.

Ngobrol ngalor ngidul, nggak kerasa Mbah dan lainnya sudah selesai makan. Kami menuju ke studio tiga, rumah budayawan yang dimaksud Mas Sunan. Turun dari mobil, Mbah sempat bertanya ke saya “Kamu ada keturunan arabnya, ya?”

Lailahailallah. Segitu kentaranya, kah, Mbah? Padahal ini wajah sudah kucel banget. “Bapak, Mbah.” Mbah tanya lagi “Mmm, Bapak. Ibu apa? Jawa?” saya mengiyakan. Lalu beliau tanya lagi, “Apa arabnya?” saya paham maksudnya, pasti beliau bertanya apa marga saya. “Nganu, Mbah, saya sudah nggak pakai marga-marga gitu. Kalo orang lain kan Arabnya nggenah, ya, nah kalau saya sudah nggak nggenah.” Mbah tertawa, saya juga, nggak mau kalah. Duh, esemannya semendal ring ati, gaes.
 
Setelah selesai interogasi, Mbah dan beberapa orang masuk ke rumah. Beberapa dari kami tidak ikut masuk ke dalam rumah (termasuk saya dan Bibeh). Kami lebih memilih rebahan di pondok kecil yang ada di depan rumah. Ada saya, Bibeh, Bang Koko, Mas Rico, Mbak Ulil, Mbak Fitri dan Tante yang dari Platinum tadi. Sekitar 30 menit akhirnya mereka keluar.

Mbah sudah masuk ke dalam mobil ketika Mas Sunan pamitan ke Mbah. Mas Sunan tidak ikut mengantar Mbah ke hotel, karena Mas Sunan masih ingin berdiskusi dengan budayawan itu. Dan, satu lagi sisi lain dari Mbah yang saya lihat. Beliau turun dari mobil dan menyalami Mas Sunan. Ya Allah, benar-benar pemandangan yang so touching. Terlebih bagi saya. Bisa saja kan, Mbah tidak perlu turun dari mobil, lha wong cuma salaman kok, lewat jendela mobil juga bisa. Tapi Mbah tidak begitu. Beliau turun dari mobil. Jempolku padamu, Mbah.

Kami pulang ke hotel. Semua pasti kelelahan. Saya dan Bibeh masih bertahan, kami ingin foto bareng. Mbah memberi kode untuk menunggu. Mas Rico nyahut “Nah, tunggu. Berarti kalian nggak boleh pulang.”

Mbah dan crew melakukan evaluasi di bangku sebelah kolam renang. Saya dan Bibeh hanya duduk sambil sesekali nguping pembicaraan mereka. Tidak sampai lima belas menit, evaluasi mereka selesai. Saya dan Bibeh yang tadinya sudah berdiri karena ingin ke toilet, akhirnya duduk kembali. Mbah bermaksud mengantar kami ke depan, tapi saya menyampaikan niat untuk foto bersama dulu. Suasana jadi menyenangkan, saya memilih spot untuk berfoto. Background penari gandrung menjadi pilihan. Saat berjalan ke tempat foto, Pak Joe nyeletuk, “Udah, ya. Jangan nangis lagi.” Saya hanya bisa tertawa sambil ngangguk-ngangguk.

Selesai foto bersama, saya menyalami tiga perempuan yang baik hati (Mbak Popy, Mbak Ulil, Mbak Fitri). Mereka benar-benar luar biasa. Yang saya sesalkan adalah tidak sempat ambil dokumentasi dengan Mbak-Mbak tersebut.

Selesai sudah kegiatan kami bersama Mbah. Dan, seperti yang beliau katakan tadi, Mbah mengantar saya dan Bibeh ke tempat parkir. Ada Bang Koko dan Mas Rico juga. Gaes, ada satu momen yang membuat saya benar-benar merasa tersentuh. Ketika kami pamitan ke Mbah, “Mbah, pulang dulu ya. Terimakasih.” Bibeh salim, dan Mbah mengusap kepala Bibeh. Saya terkesiap dan refleks berujar “Barakallah.”

“Iya, hati-hati, ya.” Kata Mbah.

Pun sama ketika saya salim, Mbah mengusap kepala saya. Tidak sekedar mengusap, tapi seperti dipijit. Saya pingin nangis. Tapi sudah terlalu lelah, air mata tertahan di pelupuk mata. Kami pamitan ke Mas Rico. Pesan darinya adalah “Hati-hati, ya. Semangat skripsinya.”

Huwaaaa, berpisah dengan orang-orang yang baik hatinya. Sepanjang jalan pulang saya dan Bibeh nggak habis-habisnya bernarasi tentang kejadian malam ini. Sujiwo Tedjo, seniman nyentrik yang biasanya hanya saya lihatin dari twitter, akhirnya bisa bertemu secara nyata. Makan bareng, jalan bareng, foto bareng, dan guyon bareng. Benar-benar Tuhan Maha Asik. Aku lala padamu, Mbah. Mohon maaf apabila selama acara berlangsung banyak kekurangan. Karena sejatinya tak ada yang sempurna di dunia ini, Mbah. Ah, wis lah. Maturnuwun, Mbah.

Sampai jumpa lagi, Mbah.

Drama #SeratTripama

Oktober 29, 2016 0 Comments
“Padahal segunung apapun diamku merenung, tak mungkin aku sampai pada paham mengapa aku mencintaimu.”
“Cinta tak perlu pengorbanan. Pada saat kau merasa berkorban, pada saat itu cintamu mulai pudar.”
“Sebaik-baik wajah adalah senyum yang gampang  dikenang, kekasih.”
Para Jancukers sekalian pasti telah akrab dengan pemilik kalimat-kalimat romantis itu. Ya, beliau adalah Sujiwo Tejo. Merupakan sebuah kehormatan luar biasa beliau dapat hadir dan mengisi acara Dialog Budaya dan Musikalisasi Serat Tripama di Kampus Untag Banyuwangi.

Saya pribadi, dari awal sempat tidak percaya jika Simbah akan mengisi acara di kampus. Apalagi yang menginisiasi adalah BEM-U, bukan pihak Universitas. Namun, setelah saya membaca proposal kerjasama yang telah disepakati, saya pun masih tidak percaya. (setelah beragam kejadian yang menimpa saya akhir-akhir ini, saya jadi nggak percayaan sama orang/sesuatu -_-)

Saya benar-benar bangga kepada kawan-kawan BEM-U, terlebih lagi kepada Mas Sunan (ketua BEM-U). Berulang kali Mas Sunan menekankan kepada kami “Ayo kita cetak sejarah bersama”. Padahal jika boleh dibilang, beliaulah pelopor pencetak sejarah itu sendiri. Beliau yang dari awal melakukan komunikasi-komunikasi dengan pihak dari Simbah.

Hingga sampai pada hari-H, sampai pada saat dimana aula telah ter-set oleh atribut-atribut berbau kebudayaan, sampai pada saat dimana telah terpasang banner besar bertuliskan “Dialog Budaya dan Musikalisasi Serat Tripama” di atas pentas, sampai pada saat dimana saya bertemu dengan Mbak Popy, Mbak Ulil, dan Mbak Fitri (dari pihak Bentang Pustaka), sampai pada saat saya melakukan briefing bersama mereka, hingga sampai pada saat dimana saya melihat langsung Simbah ada di luar aula sedang berfoto bersama beberapa peserta. Dari situlah saya percaya. Ini nyata.

Selama ini, saya hanya mengamati beliau lewat dunia maya. Selama ini, saya hanya melihat “kebadungan” beliau lewat televisi. Tapi hari ini saya melihat beliau secara langsung, from toe to the top. Cara simbah duduk, cara simbah menghisap ududnya, cara simbah berjalan, hingga cara simbah manggung. Semua telah saya lihat. Dan itu semua sangat membekas di hati saya.

Selama show berlangsung, saya terlalu terpukau dengan beliau. Apalagi ketika beliau menyanyikan lagu Banyuwangi lawas yang entah tak tahu apa judulnya, namun lagu itu masih terdengar familiar di kuping saya. Bagaimana interaksi simbah dengan penonton. Bagaimana hingga akhirnya kata Jancuk terdengar di seluruh ruangan. Mengesankan!

Namun, satu kejadian akhirnya membuat suasana jadi tegang. Ketika Mbah menyanyikan lagu “Pada Suatu Ketika” tiba-tiba mic beliau macet. Mbah kemudian membanting mic-nya. Saya kaget. Dan saya yakin seluruh manusia yang ada di dalam aula itu juga sama seperti saya. Mbah badmood. Jujur, saya takut denga sorot mata beliau. Padus yang ada di sebelah Mbah tetap pada tugasnya, mereka menyelesaikan lagu hingga akhir.

Sejak kejadian itu, saya langsung lemas. Saya nggak tahu harus berbuat apa. Moderator acara waktu itu juga menyampaikan permintaan maaf ke Mbah. Mbah mengambil mic yang lain dan berkata, “Saya mau nyanyi lagi, asal mic nggak mati. Dan tolong yang tidak suka kesenian bisa keluar dari ruangan ini.” Intinya, Mbah menekankan bahwa seni adalah sesuatu yang harus di hargai.

Saya diam. Dan ketika Mbah mulai menyanyi lagi, saya nangis. Awalnya biasa, tapi lama-lama saya sesenggukan. Nggak ngerti kenapa. Saya orangnya paling nggak bisa kalau dibentak. Memang, Mbah nggak bentak saya. Tapi kejadian Mbah banting mic itu membuat saya kaget. Benar-benar kaget. Pasti Mbah kecewa. Mbah mangkel, marah, jengkel. Dan itu yang membuat saya jadi merasa bersalah. Mbah melanjutkan nyanyiannya dengan sangat baik. Dan di setiap lirik, saya semakin menangis.

Waktu itu kondisi aula gelap. Tidak ada panitia yang tahu ketika saya menangis. Barulah akhirnya Dodi –yang waktu itu di sebelah saya- menyadari bahwa saya sedang menangis. Reaksi Dodi memancing Bintang yang ada di depan stage menghampiri saya. Bintang bilang, “Kenapa, Mbak?”

Duh, saya paling nggak bisa kalau sedang nangis gitu terus ada yang puk²-in, nangis saya pasti malah semakin jadi. Setelah Bintang, datang Bibeh. Makin jadilah sesenggukan saya. Saya tetap di tempat saya sampai Mbah menyelesaikan lagunya. Bintang dan Bibeh menghibur saya. Bintang bilang “Sudah, Mbak. Ini bukan salahnya Mbak Mey. Jangan nangis.” Saya makin nangis. Saya berusaha diam setelah menenggak air putih yang di sodorkan Bibeh. Aula masih gelap ketika saya melihat Mbah duduk ngelesot di bawah sambil menikmati tari Sri Ganyong yang dibawakan oleh UKM Tari. 

Saya berusaha sekuat hati melihat ke arah Mbah. Meskipun yang saya lihat sedang fokus ke panggung. Tapi tiap saya melihat Mbah, saya jadi nangis lagi. Aura di dalam aula benar-benar membuat saya tidak nyaman. Gimana, ya? Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana suasana hati saya saat itu. Mereka yang mengenal saya dengan baik pasti nggak akan kaget melihat saya nangis. Saya yang kebetulan nangisan dan nggak bisaan melihat sesuatu yang mengandung unsur kekerasan, harus rela melihat kejadian tersebut. Andai saya tidak melihat langsung kejadiannya, saya juga pasti tidak akan menangis. Ya sduah lah, saya memang tipe-tipe dramaqueen.
 
Setelah Sri Ganyong selesai, aula berubah jadi terang. Semua lampu dihidupkan. Dari situ lah akhirnya wajah saya bisa ketahuan oleh teman-teman yang lain. Sembap. Merah. Akhirnya Mbak Popy melihat saya dalam kondisi yang memalukan itu. Mbak Popy memeluk saya. Nangis lagi lah saya akhirnya. Mbak Popy juga berusaha menenangkan saya. “Sudah, nggak apa-apa. Ini bukan human error kok. Kamu dan teman-temanmu sudah luar biasa.”

Dan saya baru bisa berhenti dari sesenggukan ketika saya sudah lelah. Saya melihat semua orang berkumpul di stand book signing. Semua sedang sibuk berfoto bersama Presiden Jancukers. Saya terlalu letih untuk sekedar berdiri. Akhirnya saya hanya bisa mojok di meja operator. Hingga Pak Joe duduk di sebelah saya. Beliau tersenyum melihat saya. “Udah, nggak apa-apa.” katanya. Saya sudah nggak bisa nangis lagi. “Di Malang kemarin katanya Mbah juga marah ya, Pak?” | “Wah, malah lebih parah. Mbah sampai bilang ‘tai, kalian semua’ pas di Malang itu.” saya mendelik, “Serius, Pak?” | “Iya. Mbah itu nggak suka suasana yang nggak kondusif, rame, peserta keluar masuk. Tadi saya sempat marah tuh pas di pintu masuk.” dan bla bla bla .....

Meskipun Pak Joe bilang yang di Malang itu lebih parah, saya masih belum bisa bernafas lega. Saya masih berkutat dengan perasaan-perasaan mellow saya. Susah move on dari kejadian banting mic itu. Akhirnya, sampai acara benar-benar selesai saya hanya duduk diam menyaksikan lalu lalang orang-orang. Saya sempat menghampiri tim padus dan menyampaikan rasa terimakasih sebanyak-banyaknya. Mereka melakukan tugas mereka dengan sangat baik. Kondisi emosional mereka tidak berubah ketika Mbah membanting mic. Mereka tetap menyanyi hingga selesai. Bayangkan kalau saya jadi bagian dari tim padus tersebut? Bisa-bisa saya semaput di panggung.

Nah, itu lah, gaes. Sepenggal kisah hari ini. Acara ini benar-benar menguras emosi serta tenaga. Acara ini juga benar-benar mengajarkan saya bagaimana itu Event Organizer. Terimakasih, telah menjadikan saya chief of event organizer. Dan ketegangan hari ini berakhir dengan makan bersama dengan panitia yang lain. Saya baru sadar kenapa saya terlalu sensitif tadi. Ternyata saya lapar, gaes. Nasi bungkus untuk panitia saya lahap sampai benar-benar bersih. Ealah, tibak e luwe, rek.

Sebagian panitia #SeratTripama

Rabu, 19 Oktober 2016

#Cie, ulangtahun ...

Oktober 19, 2016 0 Comments
Tidak ada kata yang tepat saat ini selain terimakasih. Dari awal hingga hari ini. Aku bahkan lupa bagaimana awalnya kita bisa dekat satu sama lain. Orang bilang, saat persahabatan telah terjalin kau akan lupa bagaimana awalnya kalian jadi dekat. Rasanya mengalir begitu saja.

Selamat mengulang syukur, saudariku. Semoga segala kebaikan tercurah selalu padamu. Tidak banyak yang akan aku sampaikan melalui tulisan ini. Doa dan harapan di hari lahirmu ini sama seperti doa dan harapan di tahun lalu. Atas hal-hal yang telah menimpamu hingga hari ini, semoga kau bisa memetik hikmahnya.

Banyak malam yang telah kita lewati bersama, yang dari malam-malam tersebut kita dapat menumpahkan segala perasaan dan unek-unek kita. Jadi tidak banyak kalimat yang akan aku sampaikan, ndo.

Teruslah menjadi pribadi yang baik, pribadi yang ramah, pribadi yang ceria, pribadi yang menyenangkan, pribadi yang rendah hati, pribadi yang sederhana. Teruslah memperbaiki diri dengan bekal ilmu yang telah disediakan oleh alam semesta ini. Entah itu dari bangku kuliah, dari teman sekitar, atau dari drama Korea :D

Umur hanyalah perihal angka. Maturity is not age. Kedewasaan itu adalah sikap. Tidak dipungkiri, kadang kau bisa menjadi lebih dewasa dan bijak menyikapi sesuatu daripada aku. Hal-hal seperti itu lah yang membuatku nggumun akan dirimu, ndo.

Di hari lahirmu ini, semoga segala harapan dan cita-cita dapat terwujud. Semoga kebahagiaan lahir dan batin senantiasa menaungimu. Semoga segala urusan pendidikan dapat terselesaikan dengan baik. Juga, urusan perasaan pun dapat terselesaikan dengan baik.

Tuhan pasti telah menyiapkan waktu yang tepat untuk hari itu. Semoga segala rasa sakit yang kau lalui hari ini terbayar dengan impas di kemudian hari.

Semoga hijrahmu terus menuju titik yang lebih tinggi dari hari ini. Jadilah contoh bagi perempuan-perempuan di sekelilingmu. Jadilah inspirasi bagi mereka yang masih ragu untuk berbenah diri.

Ndo, pada akhirnya apapun yang terjadi, entah itu baik atau buruk, semangatlah. Hadapi segala sesuatu yang terjadi dengan ikhlas dan sabar. Allah blessed you.
.
.
Selamat mengulang syukur, Veni Nurisma.

Kamis, 06 Oktober 2016

Memperbaiki Diri

Oktober 06, 2016 0 Comments
Saya memahami bahwa tidak ada yang mudah dalam proses berhijrah, berpindah, atau apapun sebutannya. Bagi seseorang yang ingin berhijrah, hanya sekedar keinginan saja pun susahnya luar biasa. Mereka harus mengumpulkan niat dan keberanian untuk memulai sesuatu yang baru dalam hidupnya. Tidak jarang, perubahan menuju kebaikan itu seringkali ditertawakan oleh ‘dunia’. Maka, menghargai keputusan setiap orang untuk berhijrah, menghargai proses seseorang untuk berubah menjadi lebih baik, adalah sebaik-baiknya hal yang harus kita lakukan. Minimal jika tak mampu membantu, kita tak perlu mencela.
Setelah melihat kondisi sosial di sekeliling saya, begitu banyak teman yang hari ini berubah menjadi luar biasa, atmosfer berhijrah yang entah itu trend atau kesadaran diri, membuat saya memutar kembali perjalanan hidup.

Begitu banyak Tuhan mengajarkan nilai-nilai hidup kepada saya. Entah melalui teman, keluarga atau orang lain. Seperti yang Ibu saya pernah bilang “Alam semesta ini adalah Universitas.” Ya, Universitas Alam Semesta, namanya. Semua orang bisa menjadi pemberi pelajaran. Semua orang juga adalah mahasiswa.

Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akhir kita di hadapan Tuhan, bukan? Hal ini selalu saya tekankan dalam setiap tulisan bertema ‘muhasabah’. Mengingat masa lalu kadang membuat saya tertawa. Menertawai diri sendiri lebih tepatnya. Disadari atau tidak, setiap orang pasti ingin hidupnya berada pada comfort zone. Zona dimana everything’s run well. Tidak perlu pusing memikirkan sekolah, kuliah, pekerjaan, omongan orang, masalah rumah tangga, hutang, penyakit, jodoh, materi. But, yeah, this is life. All we need is face it. Tidak ada hidup yang tidak bermasalah. Kecuali kamu mati. Usai sudah masalah hidup.

Hijrah juga salah satu masalah yang sedang saya hadapi saat ini. Saya teringat sebuah foto yang mengabadikan saya dalam busana casual. Celana jeans, polo t-shirt, dan ditutup dengan cardigan. Seingat saya, itulah hari dimana terakhir kali saya mengenakan jeans.

Bukan tanpa alasan saya tidak pernah lagi mengenakan jeans, atau lebih tepatnya menanggalkan. Namanya hidup, proses didalamnya lah yang akhirnya membawa kita pada sebuah pemahaman. Saya ingin berubah. Saya bukan lagi perempuan kemarin sore yang baru lulus SMA. Saya niatkan semuanya semata untuk Tuhan saya. Saya tidak berubah untuk seseorang, saya juga tidak ingin berubah demi pujian seseorang. Nanti, pada saatnya, semua perempuan pasti akan memilih jalan ‘menjadi baik’ untuk masa depannya. Nanti, pada saatnya, semua perempuan pasti akan memilih ‘kembali’ kepada Tuhan mereka.

Saya sadar, ilmu pengetahuan saya jauh dari kata cukup untuk bekal mendidik anak kelak. Saya sadar, apa yang ada dalam diri saya tidak ada apa-apanya untuk menahkodai sebuah kapal yang bernama ‘rumah tangga’. Maka dari itu, saya harus memperbaiki diri.

Namanya memperbaiki diri, tidak ada yang mudah dan instan. Namanya memperbaiki diri, akan selalu berbanding lurus dengan orang-orang yang berkata ‘kamu tidak rusak, tidak perlu memperbaiki apapun’. Melalui mereka, Tuhan ingin melihat seberapa serius kita ingin memperbaiki diri.

Saya bukan perempuan yang dibesarkan oleh keluarga religius. Saya dibesarkan oleh keluarga yang menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti yang baik. Tetap saja, untuk apa baik pada hubungan horizontal namun hubungan vertikal kita buruk?

Seiring bertambahnya usia, saya akhirnya memahami bahwa menjadi baik itu tidak hanya bagaimana kita bersikap terhadap sekitar kita, menjadi baik itu juga salah satu kontribusi dari ketenangan hati. Ketenangan hati hanya akan kita dapatkan jika kita mendekat padaNya. Mensyukuri apapun yang Dia berikan.

Kembali kepada Jeans. Awal kuliah hingga pertengahan Mei 2015, saya masih mengenakan jeans saat kuliah, meskipun tidak sering. Perlahan saya mulai menggeser celana jeans saya dengan celan kain. Saya sebenarnya tidak begitu mengerti kenapa melakukannya. Just so so.

Lalu ketika saya bertemu dengan mereka yang membuat saya nyaman dan memberi pengaruh baik, saya ambil kesempatan yang Tuhan berikan itu. Perlahan saya membiasakan diri dengan rok, jilbab lebar, gamis dan semacamnya.

Aneh, iya. Saya tipe perempuan yang kalian tahu sendiri lah bagaimana. Rame, berisik. Tapi sudah dijelaskan di awal, namanya memeperbaiki diri itu tidak semudah mengambil nafas. Kadar iman seseorang itu naik turun. Sejalan dengan menjaga busana, saya juga berusaha menjaga ‘wajib lapor’ saya tepat waktu. Meski sungguh luar biasa godaannya.

Sebenarnya meninggalkan celana jeans dan menggantinya dengan celana kain memiliki bebarapa keuntungan. Keuntungan pertama adalah saya tidak perlu lagi berpeluh-peluh mencucinya. Tahu sendiri bagaimana celana jeans kalau sudah kena air. Benar-benar tidak sebanding dengan tubuh imut saya ini. Ya kecuali kalau saya pakai mesin cuci.

Berdasarkan pengalaman, memakai celana jeans itu juga ribet. Pernah suatu hari saat saya sedang trip bersama teman-teman, ketika istirahat untuk sholat, saya kesulitan membasuh bagian kaki. Ya tahu sendiri bagaimana sifat celana jeans. Ketat. Beda dengan celana kain yang lebih mudah penanganannya. Tapi kembali lagi pada masing-masing individu. Ini hanya menurut pendapat saya.

Kain celana jeans itu juga tebal. Saya akan mengalami kesulitan ketika si celana mengalami beberapa masalah seperti terlalu longgar atau ada bagian yang robek. Tidak cukup hanya dijahit dengan tangan, saya harus ke vermak lepis.

Sekali lagi, itu hanyalah sudut pandang saya. Tak perlu memberikan umpatan kepada saya dengan ‘ah, aleman.’ Pilihan hidup orang berbeda-beda. Mari biasakan diri untuk menghargai setiap perbedaan.

Sekedar tips untuk teman-teman yang juga berada dalam masa transisi memperbaiki diri. Dalam segi berpakaian, hibahkan pakaian-pakaian kita yang dirasa tak perlu dipakai lagi, kepada orang yang membutuhkan. Mulailah mengumpulkan pakaian tertutup nan longgar. Juga kumpulkan jilbab yang tidak tembus pandang. Atau jika memang belum mampu membelinya (karena kita tahu untuk menjadi lebih baik modalnya nggak sedikit ^_^) pakailah jilbab double agar tidak transparan. Bisa juga menggunakan jilbab bermotif. Lalu biasakan diri untuk melungsurkan jilbab hingga menutup dada. Memang susah, saya pun kadang masih memakai jilbab sekenanya. Namun bukan berarti kita tidak bisa. Tidak perlu mencibir saudara kita yang sudah berusaha menutup aurat. Berikan saja kepada mereka contoh. Contoh melalui diri kita sendiri.

Hingga hari ini saya masih belajar. Belajar untuk membiasakan diri dengan hal-hal baik. Belajar menahan diri dari sifat-sifat buruk saya. Keras kepala, suka marah tanpa sebab, dan sifat-sifat buruk lainnya (include suara cempreng kali ya, hahaha).

Untuk urusan ibadah, saya hanya berpikir bahwa ini adalah ibadah terakhir saya. Tidak ada yang pernah tahu apakah besok saya masih hidup atau tidak.

18 Mei 2015