Kamis, 22 April 2021

H PLUS SATU #7

April 22, 2021 0 Comments

Selasa, 20 April 2021.

Aku bangun jam lima kurang. Terbangun karena salah satu pasien yang ada di kamar kami sepertinya sedang kesakitan. Kamar nomor 32 ini berisi tiga orang pasien. Satunya seorang ibu muda yang baru melairkan, satunya aku, satunya lagi seorang ibu yang entah apa sakitnya aku tidak tahu. Tapi, yang terakhir ini yang paling parah diantara kami.

Aku ikut merasakan sedih ketika beliau kesakitan, menangis, dan sering muntah ketika makan baru dapat sesuap. Setelah ke kamar mandi dan menyeka muka serta badan (tidak lupa pakai gincu, mottonya tetap: meski sakit harus shining, shimmering, splendid) aku mengganti pakaian pasienku dengan baju ganti yang aku bawa dari rumah.

Setiap di sini aku selalu mengganti sendiri pakaianku (tanpa bantuan perawat) yang mengakibatkan selang infus berwarna merah karena darahnya naik, huft. Kalau sudah begitu aku akan berdiam diri sejenak dan melemaskan tanganku, menunggu darahnya berangsur turun kembali.

Setelah berkemas, merapikan tempat tidur dan aku pun sudah rapi aku duduk di kursi lipat yang disediakan sambil nonton youtube. Sarapan datang, aku makan. Suster datang, aku disuntik. Sampai dapat setengah hari aku mulai bosan. Nonton youtube, sudah. Nonton drama, sudah. Tapi, belum ada tanda-tanda aku diperbolehkan untuk pulang. Akhirnya aku memutuskan untuk istirahat saja. Setiap bertanya ke perawat pasti jawabannya “nunggu dokternya ya, mbak.”

Kali ini bapak dan ibu tidak datang. Jadi, seharian di hari Selasa itu aku sendirian di rumah sakit sampai akhirnya dr. Radhi datang untuk cek keadaanku dan akhirnya memperbolehkan aku pulang. Baru setelah itu aku menelpon ibu dan meminta bapak untuk menjemput.

Tapi, ternyata prosedur untuk keluar rumah sakit juga tidak singkat. Sejak dr. Radhi datang dan memperbolehkan pulang (sekitar jam setengah empat sore) aku baru benar-benar keluar dari rumah sakit jam tujuh malam. Lama, bukan? :)

Setelah mengambil obat dan diberi jadwal untuk kontrol di meja administrasi aku pulang ke rumah. Akhirnya bertemu ibu dan Ai. How do I miss them so much. Setelah diseka oleh ibu (sambil menceritakan banyak hal) aku tidur karena besoknya aku siap siaran lagi.


Rabu, 21 April 2021

HARI H #6

April 21, 2021 0 Comments

Menulis catatan ini di hari Rabu dimana aku sudah selesai menjalani operasi. Masuk rumah sakit Minggu malam dan keluar rumah sakit Selasa malam. Tulisan terakhir aku menulis Minggu malam, ketika pertama masuk ke kamar rumah sakit.

Kali ini aku akan bercerita pengalaman dari Senin dan Selasa. Here we go~

Senin, 19 April 2021.

Aku terbangun pukul 00.44 karena gerah melanda dan mungkin juga efek gugup karena paginya akan melangsungkan operasi. Kurang lebih dua jam aku tidak bisa kembali tidur. Aku sendirian, tidak ada bapak dan ibu atau siapapun yang menemaniku. Memang aku yang minta, kasihan juga kalau bapak harus berjaga dan tidur di lantai. Toh, aku bukannya dalam kondisi tidak berdaya.

Cuma ya emang si infus ini bikin mobilitas jadi terbatas, bingung obah. Setelah minum air putih (mumpung belum masuk waktu puasa) dan buang air kecil yang jadi sangat merepotkan karena harus geret-geret tiang infus dan juga setelah ngobrol sama Donat di WA aku melanjutkan tidur. Enggak nyenyak-nyenyak banget tapi ya enggak apa-apa.

Aku tidak tahu berapa jam sekali perawat datang untuk cek infus, cek tekanan darah dan memberikan suntikan obat padaku. Yang jelas mereka rutin datang untuk kontrol. Pagi tiba, setelah cuci muka, gosok gigi dan gincuan (boleh jadi aku akan operasi tapi tetap harus shining shimmering splendid) seorang perawat datang memberikan baju ganti untuk pasien. Sumpah, ya, warna bajunya lucu banget kayak baju PNS terus pas dipake kayak baju kalau lagi mau spa.

Bapak datang kira-kira jam delapan, beliau menunggu sampai aku dibawa perawat menuju ruang operasi. Sepanjang menunggu setengah sembilan aku lupa melakukan apa saja, hahaha. Tiba-tiba sudah datang dua perawat yang siap membawaku ke ruang operasi. Bagian ini akan aku ingat selalu. Setelah menyerahkan ponsel ke bapak aku pindah ke ranjang yang mereka bawa. Setelah mengenakan masker dan jilbab yang sepaket dengan baju pasien aku berbaring.

Perawat mendorong bangsal keluar kamar. Bagian ini aku merasakan mual pada perutku. Rasanya ingin sekali muntah tapi aku meyakinkan diri sendiri bahwa itu hanya efek aku terlalu tegang. Beberapa menit yang lalu masih santai nonton Lapor Pak! di youtube, tapi sekarang sudah menuju ruang operasi aja :’)

Sampai di meja administrasi (jarak kamarku ke meja administrasi ini kurang lebih lima meter, lah) mual yang tadi kurasakan hilang. Aku lega. Berkali-kali aku mengucap selawat dan menarik napas panjang. Masuk ke ruang operasi aku disambut dua perawat lainnya. Mereka menanyakan keadaanku dan satu perawat perempuan membantuku berganti pakaian operasi. Kali ini warnanya ijo botol, salah satu kelompok warna hijau favoritku. Ijonya baguuus banget.

Baju, jilbab dan masker sudah terpasang. Aku tidak langsung ditangani, masih menunggu beberapa hal lain yang entah apa. Aku santai saja, sambil menunggu sambil humming selawat syifa dan entah humming apa lagi, random. Pintu terbuka, seorang perawat mendorong bangsalku menuju ruang operasi sesungguhnya.

Aku hanya bisa melihat langit-lagit ruangan serba putih itu. Sumpah demi apapun selama ini aku hanya melihat adegan-adegan ini di drama yang sering kutonton. Tidak kusangka aku mengalaminya sendiri di dunia nyata. Aku melihat tiga orang pria dan dua perempuan di dalam ruangan itu.

Tidak lama setelah itu dr. Danang (dokter anastesi) datang. Beliau menyapaku ramah sekali. Aku ingat sempat berdialog dengan salah seorang perawat soal rasa gugupku karena ini pengalaman pertama. Aku juga ingat masih sempat bercanda soal dr. Radhi yang belum datang padahal katanya lima menit lagi. Aku melempar jokes yang populer di kalangan nahdliyyin soal Waktu Indonesia Barat (WIB) yang diplesetkan menjadi Waktu Insyaallah Berubah. Aku mendengar dr. Danang dan beberapa perawat tertawa. Setelah itu aku seperti pingsan.

Mataku berat sekali ketika aku mendengar suara azan duhur. Samar-samar aku mendengar perawat sedang berbincang dan aku bertanya apakah operasiku sudah selesai. Setelah dijawab oleh perawat tersebut aku kembali tertidur. Rasanya ngantuuuuuk banget. Baru ketika aku membuka mata dengan sempurna aku melihat tulisan recovery room. Seorang perawat menghampiriku dan mengecek keadaanku. Aku bertanya berapa lama operasi berlangsung, kurang lebih satu jam setengah, katanya.

Aku dibiarkan beristirahat dan tidak lama kemudian dibawa kembali menuju kamar. Sampai di kamar aku lupa melakukan apa, hahaha. Oh, bapak datang dan bertanya keadaanku. Kemudian bapak bergantian dengan ibu untuk masuk ke kamar. Bapak, Ai dan Ara menunggu di bale yang disediakan di belakang kamar untuk keluarga pasien. Karena pandemi jadi rumah sakit Yasmin meniadakan besuk.

Ibu masuk kamar dan makan siang untukku datang. Aku lupa apa menunya, yang jelas nasinya bubur. Efek puasa sebelum operasi dan lelah setelah operasi aku makan dengan lahap, habis tak bersisa. Keluargaku membesuk sampai kira-kira jam dua siang. Kemudian aku kembali sendirian.

Selesai operasi aku merasa tubuhku baik-baik saja. Aku bisa jalan ke teras, aku bisa ke kamar kecil, sehingga aku mengira sore atau malam itu juga aku boleh pulang dan besok paginya sudah bisa mulai siaran. Ternyata tidak. Aku masih dalam pengawasan.

Sore itu, ketika akan menyantap makan sore, kakak sepupuku datang. Aku terkejut bukan main karena memang keluarga besarku tidak ada yang tahu aku dioperasi. Radarku langsung menangkap sesuatu, pasti Inspektur Vijay. Hikmahnya aku jadi punya teman ngobrol, meski tidak lama. Menceritakan pengalaman operasi padanya dan tak lupa soal baju operasi yang warnanya aku suka banget itu. Kakakku bilang “kamu nggak fokus sama penyakitmu malah fokus sama baju, ya.” Kami tertawa, iya juga.

Menjelang maghrib mereka pulang dan aku melnajutkan makanku. Setelahnya aku kembali beres-beres badan (baca: seka) dan membereskan tempat tidur. Setelah maghrib bapak, ibu dan Ai datang. Ibu di kamar menemaniku, bapak dan Ai di bale depan kamar.

Aku senang ibu datang. Karena bisa punya teman ngobrol dan aku merasa nyaman saja ada ibu. Lumayan lama mereka menjengukku, sekira jam setengah sembilan mereka baru pulang karena besoknya Ai harus sekolah.

Malam setelah operasi itu aku tidur dengan nyenyak, nyenyak sekali.

foto senin malam, setelah senin paginya operasi.
kayak nggak habis operasi sih ini.

Minggu, 18 April 2021

OPNAME #5

April 18, 2021 0 Comments

Aku baru tahu bahwa diinfus ternyata sesakit ini. Kalau dipikir-pikir benar juga kata Donat. Ngapain diinfus segala? Aku jawab mungkin karena setelah ini tidak boleh makan atau minum jadi asupan nutrisinya ya dari infus.

Malam ini aku tidur di rumah sakit. Setelah datang ke IGD dan menandatangani segala macam berkas akhirnya aku diantar masuk ke kamar. Fasilitas kelas tiga, sesuai dengan keanggotaanku di BPJS.

Aku bermalam sendiri. Setelah kupikir lagi rasanya aku bisa sendiri. Bapak dan Ibuku juga mengamini. Awalnya bapak yang ingin menjagaku, tapi kemudian kami memikirkan satu hal yang sama. Aku tidak mengalami penyakit yang butuh perhatian ekstra. Jadi, misal aku bermalam sendiri masih sangat memungkinkan.

Perjalanan dari IGD ke kamar aku bersama ibu dan diantar seorang dokter. Aku bicara pada dokternya, "Dok, misal malam ini saya sendirian, nggak ada yang nemenin gpp, kan?"

Dokternya tertawa, "Ya gpp, yang penting mbaknya."

Ya juga, hahaha. Mungkin dalam hati dokter nggak habis pikir ada pasien yang mau aja nginep di rumah sakit sendirian.

Sambil menunggu jam terakhir makan dan minum aku nonton Lapor Pak! untuk menemaniku malam ini. Satu kamar berisi tiga orang. Satu pasien wanita, sendirian. Satu lagi pasien wanita, ditemani suami. Satunya aku, sendirian.

Aduh, rasanya gugup sekali menyadari bahwa besok pagi aku akan operasi.

Kamar III, nomor 32. Rumah Sakit Yasmin.

Sabtu, 17 April 2021

MENUJU OPERASI #4

April 17, 2021 0 Comments

Kemarin jam tujuh pagi aku sudah sampai lagi di Yasmin. Kali ini aku harus melakukan antigen, foto thorax dan bertemu dokter anastesi. Setelah ke meja pendaftaran aku menuju lab untuk pemeriksaan antigen. Aku dibawa menuju poli paru untuk diperiksa.

Ini pertama kalinya hidungku disogok dan kalimat pertama yang keluar dari mulutku ke petugasnya adalah “aduh mbak geli banget”. Rasanya seperti sebatang lidi dimasukkan ke dalam hidungku. Geli dan lumayan menimbulkan genangan air di mata.

Proses yang singkat itu berlalu tanpa ada kendala. Aku kembali menunggu di depan lab hingga kemudian petugas memintaku untuk menuju radiologi. Nah, di hari aku bertemu dr. Radhi tempo hari ketika beliau memberitahuku Jumat harus cek lab dan foto, aku mengira foto di sini adalah foto wajah pasien.

Ya, maklum saja belum pernah operasi, guise. Ternyata foto yang di maksud di sini adalah foto thorax. Aku menuju ke ruang radiologi dan menunggu beberapa saat sampai akhirnya tiba giliran. Masuk ruang radiologi disambut dinginnya ruangan dan hangatnya petugas pagi itu.

Petugas menanyakan nama lengkap, usia dan alamatku untuk ditulis di map coklat yang nantinya berisi hasil foto paru-paruku. Lumayan gugup, karena lagi-lagi ini adalah pengalaman pertama. Setelah melepas bra dan melepas jarum pentul (fyi, kalau mau rontgen segala macam benda yang melekat di tubuh harus dilepas).

Setelah diarahkan menuju sebuah kotak (yang lebih mirip papan tulis kecil) aku membelakangi petugas dan menempelkan tubuh bagian atasku ke benda dingin itu. Setelah mengikuti arahan dari petugas untuk ambil napas dan buang napas, prosedur selesai.

Aku tidak menyangka semuanya secepat ini. Mudah saja ternyata. Setelah dari ruang radiologi aku menuju poli anastesi. Di bagian ini aku menunggu cukup lama. Duduk di depan poli sambil sesekali melihat hasil foto paru-paruku yang imut sekali. Beneran, deh, itu gambar paru-paru bagus banget. Selama ini aku hanya melihat yang demikian di film-film atau drama. Sekarang kejadian betul.

Setengah sepuluh lewat aku baru masuk ke poli anastesi. Bertemu dokter Danang yang luar biasa ramah. Beliau menanyakan nama panggilanku dan bertanya dimana aku bekerja. Kemudian beliau juga menanyakan hal-hal dasar sebagai seorang dokter anastesi. Seperti pernah dirawat di rumah sakit atau tidak, pernah sesak napas atau tidak, pernah operasi atau tidak.

Semua yang ditanyakan dr. Danang tidak pernah aku alami. Karena memang inilah pengalaman pertama dan semoga terakhir kali. Setelah memeriksa keadaanku beliau memberiku kesempatan untuk bertanya soal operasiku Senin depan. Ada banyak sekali pertanyaan di kepala tapi yang keluar hanya berapa lama kira-kira durasi operasi dan aku mengutarakan kegugupanku karena pertama kali menjalani operasi.

Sesi dengan dr. Danang usai dan aku keluar ruangan dengan perasaan lega. Entah kenapa aku jadi lebih percaya diri setelah menjalani semua prosedur dari awal hingga akhir. Gugup jelas, tapi tetap harus optimis.

Saat menulis catatan ini aku sedang memikirkan apa saja yang nanti harus aku bawa ketika opname di rumah sakit. Gugup, guise. Lebih gugup dari talkshow sama gubernur.

Kamis, 15 April 2021

AKHIRNYA OPERASI JUGA #3

April 15, 2021 0 Comments

“Operasinya Senin pagi, ya. Jumat cek darah sama poto terus Minggu malam ngamar.”

Itulah kalimat pertama dr. Radhi ketika aku datang untuk ketiga kalinya kemarin siang. “Siap, kan?” katanya lagi menyadarkan aku bahwa semua terjadi begitu cepat. Aku menyanggupi. Setelah itu pikiranku langsung tertuju pada jadwal siaran yang harus aku alihkan kepada kawan-kawan di Mandala.

Aku lupa kapan terakhir kali mengatakan tidak siap pada sebuah pengalaman baru. Dulu disuruh memandu talkshow gubernur aku mengiyakan saja tanpa beban, baru ketika mendekati hari H kelimpungan setengah mati karena gugup. Saat diminta ngemc acara yang mendatangkan tamu penting aku juga mengiyakan saja tanpa beban, baru nanti setelahnya akan mengutuki diri sendiri kenapa mau-mau saja.

Tapi, aku menyadari, selama orang-orang memintaku untuk melakukan sesuatu itu berarti mereka menganggap aku mampu. Dan sejauh ini aku juga selalu merasa bahwa aku mampu. Tapi, itu adalah pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan duniaku. Memandu talkshow, memandu acara, menjadi moderator, itu memang keterampilan yang selalu ingin aku asah setiap hari.

Yang ini berbeda. Operasi adalah pengalaman pertama dalam hidupku. Meski bukan operasi luar biasa tetap saja aku gugup karena ini adalah pengalaman pertama. Kayaknya apa-apa yang berlabel “pengalaman pertama” akan selalu membuat kita gugup.

Sekarang ini aku sedang menyiapkan mental untuk menuju hari operasi tiba. Setelah mendapat kabar jadwal operasi aku segera memberi tahu keluarga di rumah, bibeh dan saus tiram. Benar-benar sirkel yang itu-itu saja.

Oh lupa, aku juga memberitahu kawan-kawan di Mandala karena selesai dari Yasmin siang kemarin aku segera menuju radio dan kebetulan sebagian besar karyawan sedang kumpul. Sekalian saja aku beritahu mereka soal operasi yang aku jalani karena akan berhubungan dengan jadwal siaranku yang harus mereka ambil alih.

Selama aku hidup rasanya baru kali ini aku melewati pengalaman yang begitu mendebarkan. Masuk ruang operasi. Rasa-rasanya selama ini aku hanya melihat hal itu di drama-drama Korea yang aku tonton. Aku terkesima dengan adegan-adegan operasi yang ada di drama. Hebat betul dokter-dokter ini. Apalagi Kim Sabu, tokoh fiksi di Romantic Doctor Kim.

Andai aku bisa ditangani langsung oleh Kim Sabu, apa daya dia tokoh fiksi belaka.

Wish me luck, guise. Semoga lekas selesai dan lekas prima kembali.

Rabu, 07 April 2021

YOK SEHAT YOK #2

April 07, 2021 0 Comments

Kali ini aku menunggu lumayan lama. Bukan lumayan lagi, tapi memang lama. Dapat nomor antrian dua puluh satu membuatku menunggu giliran sambil terkantuk-kantuk. Kali ini ada lumayan banyak pasien yang ingin bertemu dr. Radhi. Melihat sekelilingku aku jadi sadar bahwa bukan aku saja yang malang, ada banyak orang.

Aku datang jam setengah satu siang dan baru masuk ke ruangan dr. Radhi hampir jam tiga sore. Aku adalah pasien dua terakhir hari itu, dibelakangku ada satu pasien tersisa. Masuk ke ruangan aku segera menyerahkan hasil USG minggu lalu. Setelah membaca sejenak, beliau membenarkan ada sesuatu di kedua lenganku. Benar, itu adalah tumor jinak.

Beliau menanyakan mana dulu yang kira-kira harus diambil tindakan. Aku yang entah kerasukan apa hari itu menjawab lengan kanan. Beruntung dr. Radhi meyakinkan kembali, simpelnya begini “beneran lengan kanan dulu? ngga yang kiri dulu?”

Aku seperti sadar dari gendam. Lah iya, selama ini kan yang menganggu yang kiri, kenapa jadi yang kanan dulu yang harus diambil tindakan. Tidak ada sepuluh menit aku berada di ruangan. Setelahnya aku dirujuk ke laboratorium untuk pemeriksaan.

Sampai lab aku menyerahkan nomor antrian dan menunggu di depan ruangan. Sampai namaku dipanggil aku masuk dan duduk menghadap petugas perempuan yang memakai APD. Aku kagum pada petugas lab yang semuanya adalah perempuan. Keren banget.

Sebelum diambil darah aku diperiksa bagian telinga oleh petugas. Aku nggak paham apa tujuannya, yang jelas aku nurut aja. Sampailah pada sesi ambil darah. Mbak petugasnya, tanpa babibu, nggak diitung dulu satu dua tiga, tiba-tiba saja langsung menyuntikku yang sedikit terkejut. Rasanya kayak diserang pas kita nggak siap, minimal jaga-jaga, lah.

Selesai segala prosedur aku diizinkan untuk pulang dan datang lagi minggu depannya. Gila, durasi menunggu yang lama tadi hanya berakhir dengan begini saja alias ya elah udah nih gini doang?

Kamis, 01 April 2021

YOK SEHAT YOK #1

April 01, 2021 0 Comments

Kemarin menjadi hari yang sibuk. Seharusnya Rabu adalah hari liburku bertugas siaran, tapi kemarin aku menghabiskan setengah hari mulai dari siang dengan kesana-kemari. Pertama aku ke Yasmin untuk bertemu dr. Radhi setelah sebelumnya mendapat rujukan dari dr. Wulan yang bertugas di Puskesmas Sobo.

Aku lupa pernah cerita soal ini atau tidak tapi seingatku pernah aku singgung sedikit soal benjolan yang ada di lengan kanan dan kiriku. Siang kemarin aku bertemu dr. Radhi untuk pemeriksaan. Setelah melihat bentuk dan letak benjolan aku disarankan untuk USG. Benjolan di lengan kanan masih di taraf wajar menurutku. Tapi kalau di lengan kiri ini sudah agak aneh. Karena dia mengubah bentuk lenganku.

Suster bingung, dr. Radhi bingung, apalagi aku. Dari ruangan dr. Radhi aku menuju loket pendaftaran dan minta dibuatkan janji dengan dokter yang ada di poli radiologi. Aku dapat nomor urut lima di jam 18.00 hari itu juga.

Selesai dari Yasmin aku bertemu Jingga (bagus, ya, namanya) ketua komisariat PMII Uniba. Selasa kemarin dia whatsapp dan meminta bantuan untuk mengisi materi public speaking untuk internal mereka. Aku mengiyakan dan dia minta bertemu untuk menjelaskan konsep yang ada di kepalanya.

Akhirnya aku bertemu Jingga di sekretariat mereka. Kurang lebih tiga puluh menit ngobrol dan aku sudah tahu apa saja nanti tujuan yang ingin dicapai. Mirip-mirip lah dengan sasaran tujuan rekan-rekan PC IPNU tempo hari.

Pulang ke rumah sekitar jam 5 sore dan masih sempat beres-beres hingga kemudian aku sampai lagi di Yasmin. Aku sampai jam 6 lewat sedikit. Aku sudah panik karena takut terlambat. Ssetelah drama salah ruangan yang membuat ngos-ngosan akhirnya aku duduk di depan ruangan poli radiologi (yang ternyata letaknya di belakang ruangan dr. Radhi).

Aku was-was apakah pasien yang ada di dalam ruangan itu sudah lewat dari nomor urutku. Ketika pasien tersebut keluar aku langsung bertanya beliau nomor berapa. Legaaa, ternyata beliau nomor urut pertama. Semakin lama tempat duduk di depan poli kandungan dan radiologi ini semakin ramai. Rata-rata pasien yang datang adalah ibu hamil.

Sepanjang menunggu nomor urutku dipanggil aku hanya bisa berdoa agar pemeriksaan nanti berjalan dengan lancar dan diagnosa benjolan di lenganku ini tidak berbahaya. Tadi siang sih dr. Radhi bilang kalau kemungkinan benjolan itu adalah tumor jinak. Meski jinak kan tetep ya namanya tumor, lumayan nambahin pikiran, wkwkwk.

Tapi, dari kejadian ini aku jadi bertekad untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat. Sumpah deh ya Allah aku masih mau hidup lama dengan keluarga. Aku nggak mau mati muda dulu ini kayak Mbak Zakia. Masih mau berbagi ilmu sama banyak orang. Masih mau siaran radio sampai tua. Masih mau memandu banyak acara. Masih mau membahagiakan bapak dan ibu. Masih mau lihat Fahri lulus sekolah terus jadi anak remaja yang tampan (seperti yang sering dia ucapkan ketika melihat dirinya sendiri di cermin).

Selama ini kalau ada yang bilang aku kurus, aku nggak pernah ambil pusing karena memang kenyataannya begitu. Ya terus mau gimana? Sekarang aku sadar kalau ikhtiar menjadi berisi ini bukan sekadar terganggu sama ucapan orang, tapi murni untuk kesehatan tubuhku sendiri. Semoga dilancarkan segala ikhtiar ini ya, guise.

Buat semua yang sedang berikhtiar untuk menjadi lebih baik, semangat. Kalian hebat sudah bertahan sejauh ini. Minggu depan aku bertemu lagi dengan dr. Radhi. Doakan semoga lancar.

Eh, aku belum cerita bagian masuk ke poli radiologi, ya? Ya udah, nggak jadi pamit dulu, wkwkwk.

Akhirnya suster memanggil nomor urut lima, which is mine. Aku masuk dan menemukan dr. Nizam yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaan milik pasien sebelumku. Suster mempersilakan aku untuk berbaring di tempat tidur. Aku lumayan tegang, karena ini pertama kalinya USG. Pertama kali USG bukan USG kehamilan malah benjolan, hahaha.

Setelah dr. Nizam melihat-lihat benjolan di kedua lengan, kemudian beliau memeriksa benjolan dengan alat yang entah apa namanya. Lamaaaa sekali sampai beliau benar-benar menyelesaikan pekerjaannya. Sepanjang memeriksa beliau juga menanyakan beberapa hal standar soal benjolanku itu. Aku juga bisa merasakan aku mulai berbicara hal-hal yang entah apa saja yang sebetulnya tidak ditanyakan oleh dr. Nizam. Yah mau bagaimana lagi, namanya juga deg-degan.

Selesai USG aku dipersilakan untuk menunggu hasilnya di luar. Aku keluar ruangan dan duduk bersama dengan pasien yang lain. Tidak lama kemudian hasilnya keluar dan aku akan datang lagi minggu depan. Sampai rumah aku membaca hasil USG yang sama sekali tidak aku mengerti artinya karena aneh banget ya bahasa kedokteran, nih.

Apapun itu, aku optimis sehat kembali. Aku optimis benjolan di lengan kanan dan kiri akan hilang. Sampai ketemu lagi di catatan khusus ini minggu depan.