Minggu, 28 Februari 2016

Ujung-Ujungnya Blambangan

Februari 28, 2016 0 Comments
Ada kalanya seseorang harus mencoba hal-hal baru di luar zonanya.
Malam ini aku keluar dari zona nyamanku.
Keluar dari zona nyaman itu tidak mudah ternyata.
Berulang kali aku meyakinkan diri bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Ah, bagaimana bisa baik-baik saja jika pukul 10 malam aku masih keliaran di jalan.
Ini bukan sedang menjadi panitia Opspek atau acara kampus lainnya.
Tidak ada acara apapun. Hanya hang out biasa.
Hebat nian perempuan satu ini -___-

Aku dan Donat keluar rumah sekitar pukul 8.
Kami berhenti di Taman Sritanjung.
Dari sana kami bertemu dengan Lia yang ketika baru datang dia sudah teriak “Meey, aku salah satu penggemar blog-mu.”
Lia oh Lia … how unic she is.
FYI, Lia ini teman Donat KKN. Dan entah kenapa aku dan Lia bisa akrab hingga hari ini.

Guys, perlu kalian tahu, makhluk bernama Lia ini merupakan salah satu makhluk Tuhan yang paling sangklek yang pernah kutemui.
Dia, Lia Nurmala Sari adalah perempuan kocak yang dengan mudahnya mampu mencuri perhatianku.
Mungkin itu juga yang menjadikan kami bisa akrab.
Dia lucu, aneh, nggilani, norak, but I know she’s nice girl.
Dan ini juga yang perlu kalian tahu … dilihat-lihat, dilirik-lirik, diamati dengan seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya dia ini mirip dengan Suzy.
Tahu Suzy kan??? Itu lho makanan Jepang … *kidding, bukan Suzy yang itu :D
Entah mataku dan mata Donat yang katarak atau memang Lia yang operasi plastik biar mirip Suzy hahahaha … *mianhae unnie …. (maapnya pake Bahasa Korea, karena Lia penggemar drakor huwehehehe)
Selain itu Lia orangnya memang supel, jadi nggak heran kalau kami klop.
Bisa kalian bayangkan tiga perempuan cantik dan anggun sangklek ini berteman?
Ah sudah, jangan dibayangkan, nggak penting juga :D

Oke kembali ke Taman Sritanjung.
Setelah kami bertiga kumpul datanglah Suryanto, Mas Abi dan Firman.
Ini bukan triple date gaes, sama sekali bukan.
*apa’an Mey, siapa juga yang bilang ini triple date?

Setelah enam ekor orang ini kumpul, mulailah menentukan tempat nongkrong.
Awalnya aku senang karena Lia, aku dan Donat sepakat untuk nongkrong di Blambangan.
Itu berarti sampai rumah paling malam ya setengah sepuluh, lah.
Eeeh kok ndilalah Mas Abi nyeletuk dengan santainya, “Ayo nang kafe ketapang.”
Aku shock, berharap tidak ada yang menyetujuinya.
Tapi Firman dan Suryanto malah setuju tanpa memikirkan nasib perempuan-perempuan yang harus pulang sendiri ini.
Setelah perdebatan panjang dan insiden lirik-melirik antara aku dan Donat akhirnya kami pergi juga -___-
Aku tidak tahu kenapa aku jadi ikut-ikutan iya, sepertinya aku di hipnotis *hapasih -__-
Ditambah si tukang provokator bilang “Wes ta ayok, kapan maneh koyok ngene.”
Yess, tidak lain tidak bukan, Suryanto.

Mas Abi dengan Lia. Suryanto dengan Donat. Aku dengan Firman.
Awalnya Donat hampir bonceng Firman, dikarenakan motor Firman yang tinggi menjulang bak menara Eiffel akhirnya Donat bonceng Suryanto. Wkwkwkwkwkwk aku hanya bisa ngakak ketika Donat bilang “Gak gaduk.”
Akhirnya kami berangkat. Aih, aku benar-benar sudah gila sepertinya.
Sepanjang jalan aku hanya sholawatan. Semoga Ibu nggak sms “Lagi apa?”
Karena kalau sudah begitu aku pasti akan berbohong -___-

Aku sadar bahwa tempat yang kami tuju ini sangat jauh.
Dan aku bukan tipe perempuan yang keluyuran seperti ini malam-malam.
Bukan sok baik, tapi memang tidak pernah.
Sumpah, sepanjang jalan itu perasaanku campur aduk.
Berulang kali melototin jam tangan.

Kafe yang kami tuju ini adalah milik salah satu dosen kami, Pak Hartono.
Memang saat launching beberapa bulan yang lalu aku dan Donat tidak datang kesana.
Jadi ini pertama kalinya kami datang.
Firman sempat bilang apakah kafe tersebut buka jika malam.
Aku hanya menaikkan bahuku, aku juga tidak tahu buka atau tidak.

Kami berbelok ke salah satu gang di utara terminal.
Dan, aku sempat menahan nafas ketika motor mulai menanjak.
Menanjak dan terus menanjak.
Aku hanya takut jika tiba-tiba motor berhenti mendadak dan kami mundur dengan tidak teraturnya.
Setelah berjuang menaiki jalan berpaving itu sampailah kami di atas.

Ternyata apa yang dikhawatirkan Firman terjadi.
Kafe sudah tutup.
Antara perasaan kecewa dan keinginan untuk ngakak campur jadi satu.
Aku melihat wajah-wajah lapar yang bercampur dengan perasaan kecewa.
Akhirnya turunlah kami ke bawah.

Dari bawah secara tiba-tiba kami mengadakan musyawarah kembali.
Dan, lagi-lagi ajakan tidak terduga keluar dari mulut kaum adam.
Kali ini Firman yang dengan entengnya mengajak kami ke Watu Dodol.
Huwaaaaaa aku stress, pingin ngacak-ngacak jilbab, pingin teriak-teriak.
Lia yang sedari tadi duduk manis dibelakang Mas Abi menunjukkan wajah pasrah dan mulai mengayunkan tangannya ke mulut (tanda orang minta makan) berkali-kali.
Aku benar-benar tidak tahan dengan ekspresi wajah Lia, dan ngakaklah aku di malam hari di ujung gang kafe.
Dia benar-benar kelaparan :D
Lagi-lagi akhirnya kami berangkat.
Kami para perempuan mah apa, cuma iklan di Youtube yang belum selesai langsung di skip *errr -____-
Udara malam semakin dingin, beruntung aku memakai jaket yang kupinjam dari Donat.
Yang kemudian aku tahu bahwa jaket itu juga hasil dari Donat pinjam ke Putri.
Aih, hidup kami penuh dengan pinjaman.

Entah berapa lama aku di atas motor, tiba-tiba sudah sampai di area Watu Dodol.
Tepat setelah melewati batu yang menjadi icon wisata ini, Firman membelokkan motornya ke kanan.
Kami berhenti di dekat patung gandrung agak ke Utara.
Lagi-lagi kami melakukan musyawarah untuk mencapai mufakat.
Ah bukan, mufakat dari mananya jika dari tadi tidak ada yang mengindahkan pendapat kami para wanita.
Firman bilang bahwa tempat yang sebenarnya akan di datangi malam ini ternyata tutup.
Aku pasrah, terserah kalian setelah ini akan kemana rek.
Aku benar-benar pasrah, yang jelas tidak mungkin mereka akan terus ke Utara.

Akhirnya kembalilah kami ke jalan yang benar, kami terus ke Selatan.
Semakin dekat dengan Banyuwangi.
Di daerah Kalatak kembali Firman menghentikan motornya.
Dia berniat mengajak kami ke tahu petis Pak Agus.
Dan kalian tahu akhirnya kami berenam makan dimana?

Taman Blambangan.

Yup, kami akhirnya makan di Taman Blambangan.
Benar-benar drama.
Untuk apa kami berkelana ke Utara jika ujung-ujungnya Blambangan?
Aku sempat tertawa dengan apa yang kami lakukan malam ini.
Mas Abi bilang “Opo’o gak sekalian nang Baluran?”
Hahahahahaha ….

Sehat-sehat kalian :)

Sabtu, 27 Februari 2016

Terimakasih Kalian

Februari 27, 2016 0 Comments
Ketika apa yang kamu kerjakan mendapat sambutan baik, sudah pasti kamu akan senang.
Aku pun begitu.
Kemarin Donat memberitahuku jika Lia membaca blog-ku.
Lalu aku melihat DP BBM Lia yang merupakan screenshoot-an salah satu blog-ku.
Dan aku juga membaca PM-nya yang sukses membuatku terharu.

Selama ini aku tidak pernah memikirkan tentang bagaimana masa depan blog-ku.
Yang aku tahu hanya tetap menulis dan menulis.
Menulis apapun yang ingin aku tulis.
Cita-cita membuat blog dulu juga sekedar ingin menyalurkan hobi menulis.

Aku berterimakasih kepada pembaca yang secara terang-terangan memberikan pujian pada blog-ku.
Seperti Lia, Citra dan Rohmatin (adik yang aku kenal secara maya) :D
Mereka memberikan suntikan semangat yang entah mengapa sangat membuatku terpacu untuk lebih produktif.
Juga kepada pembaca yang rajin mengunjungi blog-ku diam-diam, hehehe …
Dan tentunya kepada seluruh tokoh utama dalam setiap tulisan yang aku posting.
Dari mereka aku dapat menghasilkan banyak tulisan yang akhirnya juga meramaikan blog tercintaku.

Dulu salah satu teman pernah mengomentari postingan yang aku posting di Instagram.
Dia bilang ada beberapa bait tulisan dalam blog yang menginspirasinya.
Aku juga bersyukur, setidaknya dengan apa yang aku tulis, dapat memberikan inspirasi pada mereka yang membacanya.
Sama seperti ketika aku memiliki blog, aku juga tidak pernah berpikir apakah sesuatu yang aku tulis itu akan menginspirasi seseorang atau tidak.
Tapi ternyata salah satu tulisan yang entah berjudul apa, mampu menginspirasi teman.

Setelah insiden Lia hari ini aku semakin bersemangat untuk menulis.
Thanks Liaaaa atas award yang dikau berikan.
After all this, sepertinya aku harus menyiapkan nama fans club-ku, wkwkwkwk ….

Makasiiiih Liaaaaaaaa :*


Kamis, 25 Februari 2016

Kadang Menjadi Tidak Kepo Itu Harus

Februari 25, 2016 0 Comments
Akhir-akhir ini marak isu mengenai LGBT.
Sebagai remaja kekinian aku juga akan menguliknya sedikit.
Sedikiiiiiit saja biar nggak banyak *Iyalah, duh Mey -__-
Sedikit saja, karena hasil akhir catatan ini bukan membahas LGBT.

Secara pribadi aku tidak membenarkan LGBT.
Lesbi, Homo, dan teman-temannya yang menyimpang.
Seperti postingan Suryanto, binatang saja tidak mau kawin dengan sejenis.
Hambok manusia jangan kalah sama binatang.

Tapi aku juga tidak menyalahkan pelaku LGBT.
That’s your right, your choice.
Pada dasarnya manusia terlahir baik.
Perjalanan hidup mereka saja yang akhirnya akan membentuk karakter masing-masing.
Toh, diantara kita tidak akan ada yang tahu bagaimana hasil akhir di hadapan Tuhan, kan?

Aku selalu terbuka dengan segala macam jenis teman.
Dan dari mereka yang memiliki beragam watak, aku akan belajar sesuatu yang baru.
Hal yang selama ini belum aku ketahui.
Hal-hal yang tidak pernah aku dapatkan di bangku sekolah.
Psikologi sosial. Aku menyebutnya begitu.
Mungkin selama kuliah aku hanya mendapat teori dari diktat-diktat.
Namun diluar, di dunia pertemanan, aku mendapat banyak contoh kasus.

Aku merupakan salah satu manusia yang tidak suka ngorek-ngorek kehidupan orang.
Basicly, aku tidak suka milih-milih teman dengan mencari bagaimana latar belakangnya.
Berteman ya berteman saja, tidak perlu embel-embel status sosial.
Orang tua selalu bicara “Hati-hati memilih teman, jangan sampai salah pergaulan.”
Kalimat seperti ini menyudutkan kita pada pemikiran bahwa bertemanlah dengan mereka yang “baik-baik saja”.
Sayangnya aku kurang mengindahkan nasihat lama tersebut.
Jika kita hanya berteman dengan mereka yang “baik”, lantas apa kabar mereka yang “kurang baik”?
Akan ada berapa anak “kurang baik” yang tumbuh jika mereka di diskriminasi seperti itu?

Bukankan akan lebih baik jika kita dapat berteman secara innocent.
Maksudnya itu tadi, berteman ya berteman saja. Jangan ada embel-embel di belakangnya.
Syukur-syukur kita bisa membawa teman yang “kurang baik” menjadi manusia yang lebih baik.
Actually, it's all depend on you.
Jika kita bisa mengendalikan dengan baik “gas” dan “rem” yang ada pada diri kita, everything’s running well.
Tidak banyak orang yang tidak mampu megendalikan diri mereka, sehingga yang awalnya baik-baik saja tiba-tiba berubah.

Selama kuliah ini aku benar-benar bergaul dengan beragam jenis kawan.
Ada yang dari broken home, ada yang background santri, ada yang anak rumahan, ada yang tomboy, ada yang laki-laki namun kemayu, ada yang alim, ada yang bahkan tidak tahu kapan terakhir kali sholat, hingga teman yang dulunya suka melakukan free sex.
Darimana aku tahu background mereka semua?
Rata-rata mereka yang memberitahu, bukan aku yang bertanya.
Jika bertanya mungkin aku akan melontarkan pertanyaan wajar saja.
Seperti lulus dari sekolah mana, tempat tinggal dimana, sudah, hal-hal seperti itu saja.
Intinya aku tidak akan bertanya apapun mengenai latar belakang mereka, selama mereka tidak bercerita.
Karena itu cara yang bisa aku lakukan untuk menghargai privasi orang lain.

Dan ketika mereka bercerita tentang kehidupan mereka, aku siap jadi tempat sampah.
Prinsipku begitu saja.
Jangan tanya bagaimana kagetnya aku ketika mengenal seseorang yang bahkan mengaku jika dulu suka free sex.
Aku mengenalnya saat kami ikut dalam satu acara HIV/Aids di Wisata Osing.
Tidak, aku tidak ilfeel. Sama sekali tidak.
Siapa yang berhak menghakimi masa lalu seseorang?

Kami berteman dengan baik hingga hari ini.
Dari perbincangan selama acara di WO aku dapat banyak pelajaran.
Dia dengan pengalaman hidupnya yang jauh ketimbang aku selalu mewanti-wantiku untuk tetap berhati-hati.
See? Justru dari orang seperti ini aku mendapat banyak wejangan.
Dia sudah seperti kakak yang ngeman adiknya.

Jadi, tidak perlu susah-susah ngepoin orang.
Jika orang tersebut tidak cerita secara sukarela, jangan pernah menjadi pribadi yang menjengkelkan dengan rasa ingin tahu yang tidak pada tempatnya.
Kepo boleh, asal pada tempatnya.
Dan kadang menjadi tidak kepo itu harus.

Sumber : Google

Senin, 22 Februari 2016

It's Me, Mey ...

Februari 22, 2016 0 Comments

Setelah hidup selama 20 tahun, akhirnya ada laki-laki yang protes terhadap sikapku.
Hari ini aku ke kampus untuk menyelesaikan segala urusan semesteran, serta urusan KKN.
Ini pertama kalinya aku bertemu sisa-sisa teman KKN setelah tanggal 19 lalu.
Ada aku, Farin, Mas Heri, Haisah, Achonk dan Tomi.
Seperti biasa, jika ada Tomi disana bisa dipastikan aku tidak akan bisa mengontrol tertawaku.

Benar saja, entah apa yang Tomi katakan saat itu, tapi itu sukses membuatku ngakak.
Dan waktu itu posisi kami ada di parkiran bawah ring basket sebelah Barat.
Saat sedang ngakak itulah tiba-tiba Mas Heri mengeluarkan kalimatnya.
“Mbak Mey, samean ini cantik yo…”
You know gaes, dengan tatapan prihatin.
Aku tahu arti kalimat itu.
Karena selama di posko berulang kali Mas Heri nge-gap aku ketawa ngakak dan saat itu pula aku terpaksa berhenti.

Gini gaes, jangan salah paham dulu.
Aku tahu maksud Mas Heri baik.
Beliau pasti ngeman, dan yang di eman ini malah nggak bisa di eman.
Aku benar-benar paham maksud Mas Heri.
Karena bukan hanya Mas Heri yang seperti itu.
Abahku juga seperti itu.
Tapi mungkin karena terlalu lelah dengan putrinya yang ndableg ini, akhirnya Abah tidak pernah komentar apa-apa lagi.

Harusnya dengan protes yang terlontar dari Mas Heri dan Abah, ini merupakan suatu warning.
Namun nyatanya aku tidak jera.
Aku tidak peduli mungkin saat ini Mas Heri sudah ilfeel atau apapun terhadapku.
I really don’t care.
Karena memang seperti itulah aku.
Aku ya begitu itu orangnya.
Susah disuruh kalem, susah disuruh anteng.

Bukannya nggak bisa. Bisa.
Aku tahu saat dimana harus menjaga sikap.
Berteman denganku ya begitu, siap-siap untuk tutup kuping tiap hari.
Mungkin saat pembagian pita suara dulu aku ada di garda terdepan, huwehehehe :D
Aku juga tidak tahu kenapa aku memiliki suara yang … ah padahal lho nggak cempreng-cempreng amat, mereka aja lebay.
Ini modal tau genk, buat nyari duit pas ngemc wkwkwkwk …

Selasa, 09 Februari 2016

Sampai Bertemu Kembali

Februari 09, 2016 0 Comments
Aku anggap itu adalah kata perpisahan yang kamu ucapkan secara tidak langsung.
Terimakasih karena sudah mau mengingat, meskipun tak tercatut namaku disana.
Eh jangan lah, zaman sekarang mencatut nama sembarangan bakal masuk bui hehehe :D

Aku tak menyangka jika kamu masih membaca A Gift yang kuberikan.
Duh, untuk apa? Aku benar-benar malu jika mengingat semua itu.
Aku tak percaya pada diriku sendiri bahwa itu semua aku yang menulis.
Anggap saja itu masa-masa jahiliyah yang aku lalui :D

Tapi aku tidak menyesal, sama sekali tidak.
Mungkin jika aku tidak menulisnya, akan muncul jerawat-jerawat nakal di wajahku.
Dengan pengakuan yang aku utarakan setidaknya ada perasaan lega yang hadir.
Kamu bilang aku berani?
Kamu tidak tahu bagaimana jungkir baliknya perasaan saat akan mengirim gift itu.
Kamu tidak tahu sudah berapa kali aku mengedit kalimat-kalimat yang aku rasa menjijikkan.
Kamu tidak tahu bagaimana susahnya meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang aku lakukan ini benar.

Aku tidak seberani itu.
Aku sudah bilang kan? Bahkan aku tidak percaya pada diri sendiri bahwa pernah melakukan hal semacam itu.
Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Aku tidak pernah menjadi sangat terganggu karena urusan perasaan.

Akhir-akhir ini aku memang tidak pernah menulis apapun tentang apa yang sebenarnya ingin aku tulis.
Tentang bagaimana sulitnya menerima apa yang tidak ingin aku ketahui.
Aku memang sudah terbiasa tanpa kabar darimu.
Aku memang sudah terbiasa dengan rutinitas kita masing-masing.
Aku juga sudah terbiasa dengan apa yang tiba-tiba kamu lakukan.

Aku sangat terbiasa dengan semua itu.
Kamu tahu kenapa?
Aku membiasakan diri menyelipkan namamu di akhir doa setiap laporan.
Aku hanya ingin membiasakan diri seperti itu.
Memohon agar kamu selalu dilimpahkan rezeki yang berkah dan dilancarkan segala urusan.
Hanya itu.
Aku tidak peduli bagaimana sebaliknya.

Melihat keputusan yang sudah kamu buat, aku hanya bisa mendoakan.
Semoga apa yang tengah kamu perjuangkan menjadi ladang pahala.
Aku tidak akan menasihatimu ini itu, aku yakin kamu sudah sangat ahli.
Aku selalu kehabisan kata saat mengingatmu.
Apa yang harus kukatakan? Kamu sudah seperti paket lengkap KFC.
Segala bentuk kehidupan sudah kamu lalui.
Lantas apa yang harus aku ucapkan? Menodongmu dengan bermacam-macam nasihat?
Aku tak perlu melakukannya.

Berkelanalah, temukan apa yang ingin kamu temukan.
Merantau bukan hanya sekadar berpindah tempat tinggal. Lebih dari itu, merantau juga soal mendobrak batasan, memperbarui kebiasaan, dan berdamai dengan keterasingan.
Balaskan dendam orang-orang yang underestimate terhadapmu dengan laku yang lebih baik. Dengan perubahan yang lebih baik. Dengan perbuatan yang lebih baik.
Bukan perantau sejati namanya jika pulang terlalu dini.
Apalagi, merantau sebenarnya mampu mengajarkanmu untuk menjadi sebaik-baiknya pribadi.
Jangan pulang sebelum membawa kesuksesan.
Karena sejauh apapun pengembaraanmu, pulang tetap jadi tujuan akhirmu.
Aku tidak tahu bagaimana ukuran sukses menurutmu.
Aku tidak tahu bagaimana kesuksesan yang ingin kau raih.
Seperti saat-saat yang lalu, aku hanya bisa nyangoni doa.

Kamu adalah orang yang hampir merobohkan prinsipku.
Orang yang menjatuhkan tembok pertahananku.
Saat ini aku sudah menata kembali tembok pertahanan, jadi jangan pernah secara semena-mena untuk menjatuhkan bom lagi :D
Jika ingin kembali ngebom, bawa serta keluargamu.

Aku telah yakin kalo kamu sudah semakin terbiasa dengan keadaan barumu. Aku sangat percaya kalau kamu telah melupakan aku, seratus persen.

Itu kutipan kalimat yang aku temukan di blogmu.
Bagaimana bisa berkata seperti itu?
Keadaan baru yang seperti apa?
Sudah sepantasnya aku bangkit dari rasa sedih.
Bangkit untuk menjadi pribadi yang lebih menyenangkan.
Bangkit untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.
Aku sanksi atas apa yang kamu katakan, Aku sangat percaya kalau kamu telah melupakan aku, seratus persen. 
Kakak ini naif atau bagaimana?
Sepertinya kakak harus belajar lagi bagaimana memahami perempuan.

Perempuan yang terang-terangan bilang bahwa namamu teracatat dalam hati.
Bagaimana mungkin akan lupa dalam seperkian hari?

... dan ntah kapan waktunya, kamu disegerakan untuk mendapat pendamping hidup yang sempurna dan sesuai harapan.
I told you, tidak ada manusia sempurna kecuali Nabi.
Aku akan mati dalam keadaan jomblo jika terus menuntut imam yang sempurna.
Kamu juga akan sama keadaannya jika terus merasa belum pantas.
Kamu tidak sempurna, tapi kamu sesuai dengan harapan. *gak usah ge-er

Ingat baik-baik nasihat lama ini:
"Kamu harus banyak berdoa jika kamu ingin berjodoh dengan orang yang kamu inginkan. Minta kepada yang memilikinya. Karena boleh jadi tanpa kamu ketahui, diam-diam ada yang selalu memintanya pada Allah. Jangan terlena walaupun sekarang dia kekasihmu. Jika doamu tak cukup kuat ia bisa dijodohkan dengan yang lain. Karena jodoh bukan Qadha, ia adalah takdir yang bisa di-ikhtiarkan."

Aku dapat nasihat ini dari Mbak Danny :)

Setelah apa yang aku sampaikan barusan, kamu tidak perlu merasa terbebani.
Karena tulisan ini tidak mengandung pemberat :D
Fokus saja pada apa yang hendak dicapai di kota rantau.
Anggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita *eh, emang terjadi apa? -___-

Oh ya, kamu tahu kenapa aku ngeyel ingin mengembalikan buku-buku politikmu?
Itu adalah salah satu hal yang harus kulakukan.
Karena jika buku-buku itu terus bersamaku, pasti bayang wajahmu yang songong itu juga akan terus bersamaku *wkwkw peace Kak :D
Setelah ini, aku tidak tahu dengan alasan apa lagi kita bisa bertemu.
KuasaNya selalu diluar nalar kan?
Bisa jadi kelak kita bertemu lagi di Selat Bhosporus, bertemu di depan Hagia Sophia, bertemu di dalam Grand Bazar *mulai ngelantur :D

Sampun, sekian saja uneg-uneg hari ini.
Tetap menjadi sosok yang membanggakan.
Tetap rendah hati. Jangan mudah tersinggung.
Jangan meladeni orang yang hanya memancing emosi.
Jaga diri baik-baik, terimakasih atas doa agar KKN dan tetek bengek kuliahku lancar :D

Jumat, 05 Februari 2016

Turun Gunung

Februari 05, 2016 0 Comments
Semenjak KKN aku jadi agak tulalit.
Jadi seperti orang linglung.
Lupa hari, lupa tanggal, lupa pulang, lupa mau nulis apa ...

Seharian ini aku sibuk mondar-mandir ngetan ngulon bersama Farin.
Mulai dari rumah Mbak Wella (nunut ngeprint, karena printer di sekretariat sedang ngambul), ke SD 2 Balak (komunikasi ke Kepala Sekolah untuk peminjaman ruang) hingga ke SMP 2 Songgon (mengantar surat delegasi peserta).
Aku sempat sadar jika hari ini hari Jum'at.
Karena dari pagi aku sudah wanti-wanti diri sendiri agar gerak lebih cepat.
Yaa you know lah, Friday is a short day.

Hari ini aku bahagia.
Ah, bahagia itu sederhana saja.
Ketika kamu memperjuangkan apa yang kamu harapkan dan itu terwujud, bahagianya dimana-mana.
Peminjaman tempat untuk acara Selasa besok berjalan dengan sangat sangat lancar.
Pak Erpandi, yang merupakan Kepala SD 2 Balak benar-benar pribadi yang menyenangkan.
Beliau mempersilakan kami untuk meminjam tempat pertemuan.

Nah, siapa yang nggak bahagia?
Padahal, malam sebelumnya aku sempat berpikir yang tidak-tidak.
Bagaimana jika kami tidak diperkenankan meminjam tempat?
Ternyata semua berjalan dengan lancar.

Setelah urusan pinjam-meminjam selesai aku dan Farin segera meluncur ke SMP 2 Songgon.
Menemui Pak Slamet Bunyamin yang muiriiiiip sekali dengan Pak Wagianto, Camat Songgon.
Sampai di tempat seperti biasa Pak Slamet selalu menyambut dengan tawanya yang ramah.
Urusan di tempat ini juga berjalan lancar karena memang Kamis kemarin aku dan Arif sudah datang untuk komunikasi awal.
Kepala sekolah juga welcome sekali.
Ah, pokoknya hari ini simply happy.

Pulang dari urusan program aku mengunjungi Donat di Bayu.
Tidak lama. Setelah numpang sarapan yang di rapel makan siang, kami berdua pulang.
Dari posko, entah kenapa aku bisa tidur siang dengan pulasnya.
Apa karena faktor bahagia tadi?
Bisa jadi.

Saat bangun Mbak Geti sudah bersiap untuk masak.
Aku hanya membantu sekedarnya.
Karena waktuku tersita di depan laptop, ngurus surat.

Setelah semua masakan tersaji dan setelah semua personil berkumpul, akhirnya kami makan bersama.
Sebuah rutinitas yang selalu kami lakukan demi menjaga kekompakan.

Baru saja menelan suapan pertama, tiba-tiba dari luar ada seseorang yang mencariku.
Aku langsung berhambur keluar.
Aku pikir Donat, ternyata Bibeh.

Dan dengan bloonnya aku lagi-lagi tidak sadar jika ini hari Jum'at.
Hingga Bibeh  bilang "Nggak LDK?"
Aku langsung tepuk tangan jidat.

Segera aku mengganti pakaian dan meninggalkan makananku.
Ah, benar-benar lupa.
Akhirnya aku dan Bibeh pulang ke Banyuwangi.

Huwaaaaaa, rasanya seperti keluar dari penjara.
Aku menghirup udara kampus yang .. yaa sama saja sih sebenarnya.
Tapi ada perasaan lain, ini pertama kali aku datang ke kampus selama KKN.
Aku bertemu Mila, Intan, Laras, Mas Bekti.
Orang-orang yang membantuku untuk tetap istiqomah.

Hikmah dari kepulangan yang mendadak ini adalah aku bisa mampir kerumah, walau sebentar.
Benar-benar kangen rumah.
Aku bertemu Ardi, yang ketika melihatnya aku sadar bahwa aku rindu sekali.
Setidaknya ini jadi obat home sick yang melanda.

Rabu, 03 Februari 2016

Ketika Mereka Datang #Cerita8

Februari 03, 2016 0 Comments
Hari ini aku kedatangan tamu istimewa.
Orang yang selalu aku tunggu kedatangannya.
Orang yang selama ini selalu kurindukan.
Orang yang senantiasa hadir dalam doa-doaku.
Orang yang sangat aku cintai dan pasti juga mencintaiku.
Aku kedatangan Abah, Ibu dan Fahri.

Jangan di tanya bagaimana bahagianya aku melihat mereka.
Melihat mereka tersenyum di depan mataku.
Melihat mereka baik-baik saja dan dalam keadaan sehat.
Betapa bahagianya aku bisa memeluk dan mencium Fahri setelah berminggu-minggu lamanya kami tak berjumpa.

Hari ini memang aku dan Ibu saling berkirim pesan.
Aku memancing beliau dengan pertanyaan “Nggak kesini?”
Beliau membalas “Insyaallah nanti sore, kalau nggak hujan.”
Sebenarnya aku tidak apa-apa jika Abah dan Ibu tidak datang.
Aku maklum, akhir-akhir ini cuaca Banyuwangi sedang galau.

Setelah pesan itu aku tidak tahu apakah Ibu jadi datang atau tidak.
Karena memang pesanku yang terakhir tidak ada balasan.
Aku melanjutkan aktivitasku seperti biasa setelahnya.
Hingga saat Kun Anta meraung-raung dari ponselku.
Aku melihat layar, tertera nama “Bunda” disana.
Spontan aku keluar kamar dan celingak-celinguk mencari keberadaan beliau.

Benar saja…
Aku melihat perempuan berjilbab merah, namun sekilas aku tidak mengenali.
Dan seseorang yang tengah duduk di buk depan kantor desa.
Yang ini aku kenal sekali, he’s my Abah.

Aku tidak dapat menahan diri untuk tidak jejeritan heboh.
Apalagi ketika si kecil Fahri nongol dari sebelah Abah.
Dia tertawa melihatku.
Aku segera berlari keluar gerbang *wes mirip filem-filem India
Aku menghampiri mereka dan segera menggendong Fahri.
Aneh, Fahri sedikit malu-malu terhadapku.
Wah, padahal baru beberapa minggu, aku tidak tahu bagaimana jadinya jika kita tidak bertemu bertahun-tahun.

Saat menggendong Fahri, tiba-tiba Ibu mengucapkan sesuatu yang membuat lututku lemas.
Ardi terlibat kecelakaan.
Aku segera menurunkan Fahri dari gendonganku.
Lututku rasanya benar-benar lemas.
Aku melihat mata Ibu berkaca-kaca.
Aku segera membawa mereka masuk ke pendopo.

Di sana Ibu bercerita bagaimana cemasnya beliau ketika Ardi pulang sangat terlambat.
Waktu itu hujan sedang deras-derasnya, Ardi tidak juga pulang dari tempat PSG.
Ah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalutnya beliau saat itu.
Ardi pulang dengan kabar sedemikian rupa membuat Ibu tidak bisa menahan tangisnya.
Di tambah Abah sedang tidak di rumah.
Dan saat Abah pulang, semakin jadi lah tangis beliau.

Sebuah kecelakaan tunggal jika bisa aku simpulkan dari cerita yang Ibu sampaikan.
Ardi sedang membonceng temannya dan menyalip sebuah motor, namun saat motor Ardi sudah berada di depan tiba-tiba saja motor yang telah di salip tadi jatuh.
Dua orang ibu-ibu yang tengah berboncengan jatuh.
*Duh, the power of ibu-ibu memang -__-
Satu hal yang membuat Ibu semakin tidak dapat menahan air matanya.
Ardi mengurus semuanya hingga tuntas. By his self.
Ya, dia menyelesaikan apa yang sebenarnya bukan salahnya.
Beruntung, tidak ada aparat kepolisian saat kejadian itu.

Yang membuatku tak percaya adalah, bagaimana bisa Ardi melakukan hal yang tak pernah terpikirkan olehku.
Dia bertanggung jawab terhadap Ibu-ibu itu.
Dia membawa si Ibu ke Puskesmas Gitik.
Aih, aku benar-benar bangga terhadapnya.
Dia tidak lari, dia tidak lepas tanggung jawab.
Dia menyelesaikan semuanya dengan akhir yang baik, walaupun si Ibu juga menyadari itu semua bukan salah adikku.

Setelah si Ibu mendapat perawatan Ardi juga mengantar si Ibu pulang.
Aku percaya ini bukan sebuah kebetulan.
Rumah si Ibu dekat dengan rumah Limpet alias Ima, sahabat SMK-ku.
Sang suami yang bekerja sebagai sopir bus mengucapkan terima kasih pada Ardi.
Ah, lihat. Saat menulis bagian ini mataku sudah berkaca-kaca.

Ibuku benar-benar menangis saat bercerita tentang hal itu.
Beliau menangis di depanku.
Beliau sengaja tidak mengabariku, tidak tega katanya.

Ternyata begitu banyak kejadian yang terjadi saat aku tidak dirumah.
Aku hanya bisa mendoakan keluargaku dari sini.
Semua terjadi karena sebuah alasan.

Setidaknya dengan Ibu datang mengunjungiku, beliau bisa bercerita segalanya padaku.
Aku merasakannya, beliau seperti membuang semua sampah yang telah lama disimpannya.
Aku bisa merasakan kelegaan setelah Ibu bercerita.

Abah berbeda.
Beliau selalu bersikap santai seperti biasanya.
Beliau tidak banyak omong.
Hanya sepatah dua patah nasihat yang tadi beliau sampaikan.
Beliau juga bertanya tentang program-program yang tengah kelompokku siapkan.
Juga bertanya mengenai kondisi di posko.
Aku tahu beliau pasti rindu, karena aku pun begitu.
Sangat merindukannya.

Setelah bercerita kesana-kemari, ba’da maghrib akhirnya mereka pulang.
Fahri sempat tidak ingin pulang tanpaku, aku tahu dia juga sangat merindukanku.
Meskipun aku ini Kakak yang sangat cerewet, tapi ngangeni wkwkwk
Aku mencium tangan Abah dan Ibu.
Aku memeluk Ibu sepanjang berjalan ke arah motor.
Aku benar-benar kuangeeeeeeen.
Dan kangenku terobati.

Aku mengantar mereka sampai gerbang.
Melihat motor mereka sampai jauh baru kemudian aku masuk.

Terimakasih Allah, atas malaikat tak bersayapnya.