Jumat, 16 Oktober 2020

Tulisan Acak

Oktober 16, 2020 0 Comments
Malam ini aku menginap di rumah mbah. Seperti biasa aku menempati kamar depan yang lampunya entah dari kapan belum diganti, alias aku selalu tidur dalam keadaan lampu mati. Sebenarnya tidak masalah, toh aku memang tidak suka tidur dalam keadaan terang benderang.

Hanya saja aku tidak bisa melakukan beberapa pekerjaan (yang mengharuskan pakai laptop) sambil rebahan di kamar. Di sini aku tidak punya meja kerja sendiri, berbeda dengan di rumah. Memang benar, seenak-enaknya rumah orang lebih enak rumah sendiri.

Aku baru saja menghabiskan semangkuk mi rebus. Sambil nonton Malam Malam aku menunggu beberapa saat sebelum beranjak tidur. Kata orang tua pamali langsung tidur setelah makan. Emang iya? Tapi sepertinya aku pernah mendengar alasan medis dari hal tersebut. Aku lupa.

Kamis, 15 Oktober 2020

Iya, amin.

Oktober 15, 2020 0 Comments

Semalam kami merayakan pernikahan putra direktur kami dengan tumpengan. Putra Pak Fafan menikah di Merauke dan bapak tidak bisa menghadiri acara pernikahan tersebut. Sebagai gantinya bapak dan ibu merayakannya bersama kami, keluarga besar Radio Mandala Banyuwangi.

Makan bersama dengan seluruh kru dan penyiar selalu jadi momen yang membahagiakan. Karena di momen-momen seperti inilah kami selalu bisa berkumpul dalam formasi yang lengkap. Sebelum sesi makan bersama dimulai bapak melakukan potong tumpeng.

Kami memberikan doa-doa terbaik kami buat Mas Ade dan Mbak Katerine yang sudah sah menjadi pasangan suami istri. Aku enggak tahu bagaimana perasaan Mas Ade harus menikah tanpa dihadiri orang tuanya. Tatap muka hanya via Zoom. :(

Surprisingly, bapak memberikan potongan tumpeng pertamanya buatku. Dengan serangkaian harapan-harapan yang bapak lontarkan agar aku cepat menyusul dan diaminkan seantero ruangan. Ya sudah jelas maksudnya adalah menyusul menikah.

Aku selalu mengaminkan doa baik orang-orang. Doa yang dilontarkan saat menyalami pengantin saat kondangan maupun doa yang dilontarkan pada momen-momen seperti saat bersama bapak dan ibu semalam.

"Semoga cepat nyusul, ya?"

Padahal aku juga enggak mau cepat-cepat. Tapi, selalu kujawab "Iya, amin" agar topik menikah itu segera berakhir.

Selasa, 13 Oktober 2020

Menyambut Keluarga Baru

Oktober 13, 2020 0 Comments

Dua ribu dua puluh tinggal dua bulan lagi. Aku rasa di penghujung tahun nanti, ketika orang-orang biasanya menuliskan harapan mereka di tahun yang baru, harapan kami semua sama. Semoga pandemi segera berakhir.

Siapa yang akan menyangka bahwa di tahun dua ribu dua puluh ini hidup jadi teramat berat? Yang susah semakin susah karena apa-apa enggak boleh. Banyak orang dirumahkan, tanpa kejelasan sampai kapan. Itu juga yang terjadi pada salah satu pelamar yang mencoba peruntungan sebagai penyiar di radio tempatku bekerja.

Awal Agustus lalu Radio Mandala membuka lowongan pekerjaan sebagai penyiar dan editor. Lamaran yang masuk banyak sekali sehingga kami harus membagi sesi interview menjadi enam sesi. Mereka yang datang untuk interview berasal dari latar belakang yang beragam.

Ada yang pengusaha ikan mas, cabin crew Garuda Indonesia, station announcer, rapper dan sebagainya. Nah, yang cabin crew itulah yang saat ini sedang dirumahkan dan entah sampai kapan. Aku membayangkan bagaimana sumpeknya orang-orang yang biasanya bekerja, dengan rutinitas yang sama, tiba-tiba menjadi diam saja di rumah.

Maka, bersyukurlah kita yang selama pandemi ini masih bisa bekerja, meski dengan income yang tidak penuh atau durasi kerja yang dikurangi. Paling tidak kita masih mendapatkan penghasilan walau tak sebesar biasanya. Mau bagaimana lagi.

Seorang cabin crew ini bercerita bahwa dirinya senang berbicara. Terlihat jelas saat sesi interview, dia begitu luwes menceritakan pengalamannya, menceritkan perjalanan hidupnya. Sebab itulah dia ingin mencoba melamar menjadi seorang penyiar di Radio Mandala.

Ada banyak kisah para pelamar yang membuatku benar-benar melihat dunia baru lagi. Salah satunya adalah seorang station announcer yang juga ikut melamar sebagai penyiar. Ingatanku terlempar pada masa dimana aku rela datang ke Jember seorang diri untuk mengikuti interview sebagai station announcer.

Ya, saat itu aku yang jobless melamar menjadi seorang penyiar di stasiun kereta api. Kenapa? Cause I love announcing. Aku yang saat itu berpikir bahwa ini bisa jadi jalan karir sebagai penyiar ternyata harus berbesar hati karena memang belum rezeki. Aku pulang dengan perasaan yang susah dijelaskan. Sampai bertahun kemudian, entah bagaimana kerja Tuhan, aku benar-benar menjadi seorang penyiar. Penyiar radio, profesi yang aku idam-idamkan.

Ada juga kisah kuli panggul sayur yang juga melamar menjadi penyiar radio. Bukan sembarang kuli panggul sayur. Dia punya bakat luar biasa yang membuat interviewer takjub, ngerap. Kombinasi yang sungguh kontras, bukan? Saat dia datang untuk interview, malam sebelumnya istrinya baru saja melahirkan anak pertama mereka. Interview berlangsung Minggu, anaknya lahir Sabtu.

Aku kagum dengan pengalaman hidupnya yang akhirnya membentuk dia jadi sedemikian rupa. Jujur saja first impression sebenarnya tidak terlalu menarik. Tapi, memang benar bahwa kita tidak bisa menilai manusia hanya dari luarnya saja. Personality-nya luar biasa.

Sampai aku menulis catatan ini aku masih belum tahu siapa-siapa saja yang akan lolos dan berkesempatan untuk magang. Yang jelas, mereka yang nantinya lolos adalah orang-orang terpilih yang akan memberi warna baru bagi Radio Mandala.