Selasa, 31 Mei 2022

SELAMAT 28 TAHUN

Mei 31, 2022 0 Comments

Di kehidupan selanjutnya saya tetap mau terlahir sebagai anak dari bapak dan ibu saya. Yang sepanjang saya ingat, mereka akan selalu mengusahakan segalanya untuk anak. Bagian ini saya rasa semua orang tua pun begitu.

Mereka selalu mengusahakan untuk memberi kenangan yang baik. Hal-hal yang kami lakukan di masa lalu nyatanya membentuk saya menjadi anak yang sangat mencintai rumah hingga enggan berpisah dengan mereka. Kata orang rumah adalah tempat paling nyaman untuk pulang dan alhamdulillah sampai detik ini bagi saya adalah iya.

Banyak sekali cerita yang ibu ceritakan di kala kami sedang berdua. Cerita soal ibu yang dulu sebel banget sama bapak, karena mondar-mandir melulu depan rumah ibu. Bapak dan ibu saya dulu bertetangga. Bapak anak perumahan, ibu anak kampung di pinggir perumahan bapak.

Sampai hari ini kalau ibu cerita soal proses pertemuannya dengan bapak, ibu selalu enggak habis pikir kok bisa mereka berdua menikah. Dulu, di sebelah rumah ibu ada sebidang tanah wakaf yang ditanami banyak Pohon Jati. Modus bapak saya dulu adalah bertanya soal Pohon Jati ke ibu. Padahal mah dia sebenarnya tahu siapa pemiliknya, memang sengaja biar ada bahan obrolan.

Selesai insiden Pohon Jati, besok-besoknya lagi ada aja manuver bapak untuk mendekati ibu. Kali ini pasar malam. Dulu, ada pasar malam di lapangan dekat rumah Pak Kadafi. Semua orang tumplek blek di sana. Begitu juga ibu saya dan adiknya, yang tak lain tak bukan adalah tante saya. Saat sedang jalan-jalan di pasar malam, ibu melihat bapak. Secepat kilat ibu mengajak adiknya untuk bersembunyi.

Pokoknya, bapak adalah orang paling sabar se-universe untuk urusan mendekati ibu. Bapak tahu ibu sedang dekat dengan siapa saja, sedang menjalin hubungan dengan siapa saja, yang mendekati ibu siapa saja. Maklum, ibu saya ini ayune ora umum. Kembang desa pada zamannya. Singkat cerita, berkat kesabaran bapak itulah, ibu saya yang sebelnya gak karu-karuan itu akhirnya luluh.

Cerita soal mereka yang mall-date ke Wijaya terus dompet bapak sengaja diserahkan ke ibu, maksudnya teh biar ibu bisa belanja sepuasnya. Harga diri ya kaaan, hahaha. Waktu itu ibu beli setelan yang sekarang jasnya masih sering saya pakai. Kalau tahu bakal diwarisin ke saya harusnya mah dulu ibu belanja agak banyak.

Cerita soal dulu pas saya masih kecil, sering jalan kaki dari rumah Griya Giri Mulya ke Krasak lewat pantai. Saya pas diceritain bagian ini cuma bisa hah hah aja karena apa tidak capek? Ibu bilang “yo kakak e seneng dijak jalan, yo wes”. Namanya juga anak kecil.

Cerita soal dulu pas saya masih kecil sering diajak bapak kerja ke rumah Pakde Jenggot. Bahkan saya masih ingat ada satu momen ketika naik bis di Terminal Blambangan (posisi bis masih ngetem, belum jalan) saya muntah banyak sekali. Akhirnya saya dan bapak enggak jadi berangkat, kami pulang. Tuh, ternyata saya mabok darat sudah sejak dini.

Cerita soal dulu pas saya masih kecil (yang ini durasinya seriiiiing banget) sering diajak bapak main billyard. Bapak-bapak lain tuh ngajak anaknya ke pasar malam, ke tempat wisata, ke mana kek yang lazimnya ngajak anak kecil, ini malah diajak ke tempat billyard. Saya sampai hapal tempat-tempat billyard yang biasa saya kunjungi, eee, maksudnya yang biasa saya kunjungi kalau lagi diajak bapak.

Yang pertama di rumah Pak Jek, di Jalan Penataran. Yang kedua di SMP 1 Banyuwangi ke timur. Yang ketiga masih di Jalan Penataran, tapi masuk gang, rumah salah satu kawan bapak. Yang keempat di pintu masuk THR zaman dulu. Bapak saya enggak segan untuk bawa saya dan Ardi main meski pulangnya saya terpapar kata-kata waidih waileh yang anak kecil dengar dari para orang dewasa.

Pernah satu waktu ibu cerita, katanya tiba-tiba saya berlagak seperti bapak pas main billyard. Saya pakai sapu sebagai pengganti stik, korek kayu saya ibaratkan rokok, dan asu celeng yang keluar dari mulut ikut melengkapi cosplay saya sebagai pemain billyard. Saya enggak ingat bagian ini, tapi tiap diceritain saya selalu ngakak. Yah, namanya juga anak kecil, mereka peniru ulung.

Dari semua tempat billyard yang kami datangi, favorit saya adalah rumah Pak Jek. Karena di depan rumah beliau suka ada Kang Bakso dan kami sering sekali dijajanin bakso sama bapak atau bahkan sama teman-teman bapak yang waktu itu juga sedang main billyard.

Cerita soal strugling bapak dan ibu dalam menjalani perjalanan hidup sebagai suami dan istri juga respect betul. Dulu, setiap bapak pulang entah dari mana dan kami diperbolehkan beli Pop Ice di warung Mak Untung depan rumah, kami bahagia bukan main. Pop Ice adalah dewa minuman pada zamannya, dan kami jarang banget bisa minum Pop Ice waktu itu.

Setiap bapak menjaga saya dan Ardi di rumah karena ibu bekerja sebagai koki di resto, kami selalu makan makanan buatan bapak. Kebiasaan makan bersama saat kecil juga sangat membentuk saya untuk bersabar menunggu. Seringkali saya bolak-balik ke dapur untuk memeriksa apakah bapak sudah selesai masak atau belum. Karena prinsip beliau, kalau semua sudah matang, sudah selesai dihidangkan, baru kita makan bersama. Karena masakan bapak saya enak banget jadi menunggu lama pun tidak masalah.

Enggak ada orang yang sempurna, begitu juga orang tua saya. Ada bagian-bagian yang saya enggak mau warisi. Tapi, dari bagian-bagian yang saya enggak mau itu, ada lebih banyak bagian yang mau saya teruskan sebagai anak. Kebersamaan, kehangatan sebagai sebuah keluarga, nilai-nilai luhur yang diajarkan dan tentu saja canda tawa. Nasihat dari bapak yang akan selalu saya ingat: harus rukun, saling mengasihi dan menyayangi antara kakak dan adik, karena nanti di masa depan yang kalian punya ya hanya kalian sendiri sebagai saudara.

Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-28 tahun, Inspektur Vijay dan istri. Dua puluh delapan tahun yang lalu, 31 Mei 1994, bapak dan ibu saya menikah. Dear, Allah, terima kasih sudah menyatukan perfect duo ini dan mengizinkan saya, Ardi dan Fahri menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.

Rabu, 04 Mei 2022

#NULISFILM: GARA-GARA WARISAN

Mei 04, 2022 0 Comments

 Kemarin siang aku dan ibu pergi ke Kepundungan, ke rumah mbah dan beberapa saudara yang ada di sana. Pulangnya, di atas motor, aku bilang ke ibu:

A: Ini nanti ibuk e kakak e drop ke rumah mak e, terus kakak langsung keluar lagi ya.

I: Oke, kemana?

A: Mmm, me time. Mau nonton film. Hehehe

I: Wiliiih, gaya. Iya, wes. Sama?

A: Sendirian ajaaa

I: Ngajak o temen ta kak

A: Duh, enggak. Pingin sendirian

Untuk urusan menyenangkan diri sendiri setelah bekerja keras ibuku selalu menjadi pendukung nomor satu. Beliau akan membiarkan aku melakukan hal-hal yang memang aku inginkan.

Akhirnya kemarin aku nonton Gara-gara Warisan. Sebenarnya niat awal nonton hari ini (4/5), tapi diri ini sungguh sangat tidak sabaran karena testimoni netizen sudah seliweran di twitter. Dan juga, hari ini cuti terakhir, enggak pingin pergi kemana-mana. Dan juga (lagi), takut Gara-gara Warisan keburu turun layar kegeser film horor yang lagi viral.

Ya udah, karena pas lagi bisa akhirnya langsung meluncur ke NSC Banyuwangi. Aku nonton yang jam 17.30 dan seperti biasa memilih seat C9 sebagai seat favorit sepanjang masa. Awalnya sempat jiper karena melihat tulisan “maaf, tiket hari ini habis” di ticket conter. Dalam hati udah kasak-kusuk, ini yang habis untuk semua tiket atau gimana?

Ternyata enggak, yang habis cuma tiket untuk film KKN, film lainnya aman sejahtera sehat sentosa. Menunggu dengan tidak sabar dan enggak tahu ya, perasaan udah excited sedari awal berangkat. Happy mulu bawaannya sepanjang jalan meski siangnya ada insiden yang bikin emosi.

Nonton sendirian ini udah bukan hal aneh lagi karena memang bukan pertama kalinya. Lima menit sebelum masuk studio satu aku segera menukar tiket f&b yang memang sepaket dengan tiket nonton. Studio satu dibuka, kami para penonton pun masuk. Kalau dihitung sih penontonnya enggak lebih dari dua puluh orang. Itu juga kalau enggak salah.

Film dimulai dengan adegan satu keluarga yang sangat manis. Pak Dahlan, Ibu Salma dan anak-anaknya. Adegan makan martabak bareng di meja makan aja aku udah menangyyys. Melihat Adam yang sudah selalu mengalah sejak masih anak-anak. Adegan-adegan berikutnya mengalir dengan sangat indah.

Film ini, sesuai dengan judulnya, berkisah soal Pak Dahlan yang mati-matian mempertahankan guest house agar bisa memberikan warisan untuk istri dan anak-anaknya. Dalam perjalanan pembagiannya tentu saja tidak berjalan mulus. Ada konflik-konflik dalam keluarga yang rasa-rasanya relate dengan kebanyakan rumah tangga. Konflik bapak dengan anak, konflik ibu tiri dengan anak, bahkan konflik antar saudara.

Perjalanan yang panjang itu membuat semuanya tersadar bahwa warisan yang jauh lebih berarti bukan harta benda, melainkan hutang, eh bukan, melainkan eksistensi keluarga. Keluarga yang rukun, keluarga yang saling menyayangi, keluarga yang saling menjaga. Hal itu jauh lebih berharga daripada apapun. Itu dah kenapa ada lagu harta yang paling berharga adalaaaah....... yak betul, duit satu triliyun, enggak dooong, keluarga.

This movie is a good roller coaster. Ya ketawa ngakak, ya nangis sesenggukan. Aku masih bisa merasakan vibe satu studio ketawa pecah pas ada jokes-jokes yang emang lucu banget. Dan kami semua hening pas adegan-adegan sedih dan menguras emosi. Chemistry the whole cast ya Allah ya Rabbi ya Karim so damn good! Pas Adam dan Laras marah-marah serem banget, akting mereka juara.

Btw, film ini karya perdana salah satu komika favoritku, Muhadkly Acho. Dia juga menjadi penulis dan sutradara di film ini. Kalau sudah berurusan dengan Acho bisa dipastikan kita mendapat komedi yang fresh, jaminan mutu pokoknya. Gara-gara Warisan is a must see, aku kasih 10/10. Masa 10/10? Buatku, sih, iya. Karena ya memang aku anaknya mudah senang.

Btw, jangan kaget kalau nanti ada adegan Neng Dicky tiba-tiba nyium kening Lolox. Itu adegan emang bener-bener unpredictable, wkwkwk.

Btw (lagi), tadi pas ngantri tiket, ada yang nyolek bahuku dari belakang. Ada mbak-mbak yang tanya apakah aku mau beli tiket atau sudah reservasi dulu? Aku bisa lihat perasaan was-was mbaknya akibat tulisan “maaf, tiket hari ini habis”.

Benar saja, mbaknya jauh-jauh datang ke NSC Banyuwangi buat nonton KKN di Desa Penari. Tadi harusnya dia nonton di NSC Genteng, tapi mall-nya masih tutup. Akhirnya sejoli ini nonton Gara-gara Warisan. Daripada jauh-jauh ke bioskop enggak jadi nonton, katanya. Semoga filmnya sepadan dengan jauhnya jarak yang kalian tempuh, ya.

Akhir kata, kuucapkan terima kasih atas karya yang luar biasa ini. Semoga kedepan akan terus kita saksikan film-film indah yang berkualitas.