Rabu, 09 Agustus 2017

Satu Jam Saja Demi Kehidupan Bumi Bulat yang Lebih Baik

Agustus 09, 2017 2 Comments
Menyambung apa yang sudah saya posting di dua sosial media saya, facebook dan instagram, tulisan ini adalah versi panjang kali lebarnya. Pertama kali PAC IPNU IPPNU Kec. Banyuwangi merilis poster Ngaji Fiqih kira-kira dua bulan lalu. Saya mulai mengikuti ngaji fiqih jika tidak salah di pertemuan keempat, dan itu sudah pada ujung pembahasan haid.

Sebagai manusia yang ngajinya nggak tuntas, ini adalah majelis yang saya cari selama ini. Dulu, andai saya tidak berpindah-pindah rumah, mungkin sampai saat ini saya masih bisa ngaji di TPQ Nurul Qomar. Sejak pindah ke Jurang Jero, lalu ke Pakis, saya sudah berhenti ngaji. Sempat mengaji di masjid depan RS. Fatimah, tapi tidak berlangsung lama, hanya beberapa bulan.

Ngaji Fiqih yang diselenggarakan oleh kawan-kawan Nahdliyin ini sangat membantu saya dalam menghabiskan waktu yang berkualitas. Setiap Selasa malam saya selalu riang mengendarai motor menuju kantor PCNU. Karena apa? Ya karena ngaji fiqih ini. Karena bertemu dengan kawan-kawan yang sama-sama haus akan ilmu.

Ngaji fiqih disini berbeda sekali dengan kita belajar agama di sekolah. Ustad kami di PCNU bernama Ustad Surur. Beliaulah yang membuat suasana ngaji fiqih berbeda. Mungkin karena Ustad Surur masih muda juga jomblo, beliau mampu membaur dengan murid-muridnya yang baperan macam saya dan Fitria. Tidak ada kesan menggurui dalam diri beliau. Ngaji pun rasanya jadi menyenangkan sekali. Saya patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya pada PAC IPNU IPPNU Kec. Banyuwangi. Mereka mampu istiqomah dalam menyelenggarakan ngaji fiqih tiap minggunya. Istiqomah itulah yang sulit, karena bukan main godaannya.

Kembali kepada ngaji fiqih. Setiap minggu kami akan membahas sebuah kitab yang di dalamnya berisi tentang amalan-amalan wanita. Bagaimana menyikapi darah haid, darah nifas, apa saja jenis-jenis darah. Sepertinya sepele, tapi susah. Ustad Surur pernah bilang, “Kenapa penduduk neraka kelak kebanyakan adalah wanita?” karena para wanita tidak mengerti apa yang boleh dan tidak boleh bagi dirinya sendiri. Tidak menghargai suami, melawan pada suami, tidak mengindahkan nasihat dari suami, bepergian keluar rumah tanpa izin dari suami, tidak paham apa yang sedang terjadi dalam diri wanita itu sendiri, tidak mengerti bagaimana cara bersuci setelah nifas, tidak bisa membedakan mana darah istihadhoh, mana darah nifas, mana darah haid, tidak tahu bagaimana cara mengqadha sholat setelah haid, tidak tahu bagaimana hukum-hukum berpuasa, cara membayar hutang puasa wajib, dan lain sebagainya. Begitu payah saya selama ini hanya tahu bahwa siklus pendarahan wanita hanya haid dan nifas. Istihadhoh? Apa pula itu ~

Jika ada ungkapan better late than never, itu pas sekali untuk saya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Belajar itu tidak ada kata terlambat. Tuhan pasti memiliki alasan mengapa saya dipertemukan dengan kawan-kawan pilihan itu saat telah berumur 22 tahun. Mungkin Tuhan ingin saya tidak cepat-cepat menikah. Tuhan mau saya belajar dulu, membekali diri, menyiapkan mental, menyiapkan jiwa dan raga sedemikian rupa. Mungkin, loh, yaaa, mungkin. Ya soalnya apa kata dunia kalau saya belajar tentang fiqih ketika saya sudah meniqa, malov? Bekal apa yang saya bawa untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama kekasih dunia akhirat saya kelak? Bekal cinta? Yo ra mashooook, malov, ra mashoook.

Kuantitas manusia-manusia yang hadir juga alhamdulillah stabil jika saya amati. Dari awal saya menghadiri ngaji fiqih ini, tidak lelah saya mengajak Melince dan cabe keringnya Untag alias Lia untuk ikut serta. Tapi, sungguh subhanallah sekali mereka ini, malov. Saya berusaha istiqomah ngajakin mereka, lha mereka nggak kalah istiqomahnya absen melulu. Seperti kemarin ketika saya lagi-lagi japri mereka. Lia bilang, “Kak, skripsi sek yo. Rumusku salah.” Yo untung ra jalan hidupmu sing salah, Kak. (((silahkan ngakak, diperbolehkan, kok)))

Lain lagi Melinda, dia ini tipe-tipe chat lama ikut kagak. Mulai dari bilang dia belum mandi, terus tanya acara kira-kira sampai jam berapa, lha kok ujung-ujungnya dia bilang, “Mendut ee, insyaallah minggu depan, ya?” Astaghfirullah, Melindaaa. Jadi kamu lebih pilih Mendut daripada ngaji? Hambok aku di ajak gitu, lho. *eh

Tapi mau bagaimana lagi. Kesadaran itu tidak bisa dipaksakan. Ya semacam cinta gitu, lah, tak bisa dipaksakan. (((silahkan bilang eaaak)))

Hanya saja yang saya sayangkan adalah jumlah peserta laki-laki. Saya nggumun deh, tiap pertemuan yang saya lihat ya Kang Sholeh dan Mas Aji. Itu-ituuu saja. Kalaupun ada peserta lain itupun hanya satu, jadinya berempat sama Ustad Surur. Tidak pernah saya menjumpai peserta laki-laki lebih dari empat. Nah, ini, nih, persoalan yang krusial. Padahal ilmu fiqih itu penting. Ya minimal kita tahu bagaimana hukum-hukum dalam agama kita. Lalu jika para lelaki itu tidak tahu, buta dan tuli persoalan fiqih, padahal tanggung jawab besar berada di pundaknya kelak ketika dia menjadi kepala rumah tangga, apa nggak sungguh theeer lhaaa lhuuu ... Jangan bisanya cuma bilang “Cari istri yang sholihah” tapi sendirinya nggak mensholehkan diri. Jangan jadi egois sejak dalam pilihan, dong. Perempuan-perempuan sholihah mana mau sama akhi-akhi modal omong doang.

Sungguh banyak sekali pelajaran yang terserap diluar persoalan itu sendiri. Seperti minggu lalu Ustad Surur sempat membahas hubungan suami istri yang sehat dalam rumah tangga. Suami dan istri harus tahu kapasitas diri masing-masing. Jangan egois, jangan tidak saling mengerti. Jika suami merasa dirinya tidak mampu mengajari sang istri fiqih-fiqih wanita, ya jangan menghalangi istri untuk belajar fiqih di luar rumah, seperti majelis-majelis. Udah nggak bisa ngajarin malah ngurung istri dalem rumah, alasannya pakai hadits “Dan diharamkan keluar bagi seorang wanita untuk ziarah, sholat jamaah, mengunjungi kerabat, bermajelis, kecuali dengan ridha suami” tapi giliran ditanya istri apa itu darah wiladah, lha kok suaminya searching di google. Kan anu, gaes. Yo opo ora?

Oleh sebab itu, kelak, nih, jika saya di izinkan menikah dan memiliki keturunan oleh Tuhan, akan saya masukkan anak-anak saya ke pondok pesantren. Dah, nggak bisa di ganggu gugat!

Akhir kata, silahkan hadir setiap Selasa malam pukul 19.00 di mushola PCNU Banyuwangi untuk mengikuti “Ngaji Fiqih”. Satu jam saja meluangkan waktu untuk kehidupan bumi bulat  yang lebih baik. Eaaa.


Jika calon suamimu nggak paham Fiqih, Ijolno uyah, malov ~