Selasa, 26 Mei 2020

Syawal 2020

Mei 26, 2020 0 Comments
Beberapa pesan whatsapp yang masuk sejak satu syawal belum sempat aku balas. Ada yang tidak sempat dan ada yang kuputuskan untuk tidak dibalas. Karena memang pesan-pesan itu tidak butuh balasan.

Sepertinya sejauh ini lebaran 2020 adalah lebaran paling nggak ribet. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, setelah salat Id langsung keliling salam-salaman dan keliling lagi ke kerabat-kerabat. Pagebluk yang sedang melanda dunia agaknya menggeser beberapa kebiasaan yang kerap kita lakukan saat lebaran. Dan, mau tidak mau kita mesti berlapang dada merelakan untuk tidak melakukan.

Satu syawalku berjalan dengan luar biasa. Jam tiga pagi aku terbangun setelah ingatan terakhirku semalam aku berbaring di sebelah ibu usai memijat punggung beliau. Aku terbangun dengan rasa sakit luar biasa di bagian perut. Tidak hanya itu, aku mendapati darah di seprai kasur yang tidak lain dan tidak bukan adalah darah haid.

Aku buru-buru ke kamar mandi dan membereskan tubuh dan pakaianku. Sungguh satu syawal yang berdarah-darah.

Setelah itu aku kembali ke kamar berniat melanjutkan tidur. Tapi, yang terjadi selanjutnya adalah pergulatan batin dan fisik yang sungguh menyiksa. Nyeri haid hebat kembali menyerangku setelah terakhir aku merasakan hal yang sama seperti ini beberapa tahun yang lalu.

Aku menungging, tengkurap, melingkar memeluk lutut, telentang, nggak berefek apapun. Entah berapa lama aku merasakan nyeri haid yang membuatku bolak-balik kamar mandi. Setelah lelah, aku tertidur dengan sendirinya. Nyeri haid berangsur membaik setelahnya.

Pagi harinya kami sekeluarga hanya berdiam diri di rumah sambil menyambut tetangga yang memutuskan untuk tetap berkeliling datang ke rumah. Mereka paham bahwa kondisi sedang tidak baik-baik saja, tapi tetap nggak bisa untuk menahan diri berdiam di rumah.

Satu syawal kemarin aku habiskan dengan fisik yang lelah. Harus datang ke beberapa rumah dengan kondisi haid hari pertama yang sungguh tidak mudah. Satu-satunya penawar lelahku hanya The King: Eternal Monarch.

Berbeda dengan dua syawal. Aku habiskan dengan benar-benar di rumah saja. Bahkan aku masih bisa tidur siang dengan durasi yang lumayan. Nikmat mana lagi yang aku dustakan?

Dua syawal saat pagebluk ini pun terasa seperti hari-hari biasa saja. Aku masih menerima pesan singkat dari beberapa teman yang mengirim ucapan. Dua syawal ini nyeri haid sudah tidak sehebat kemarin, sehingga aku sudah mulai cuci baju, sudah mulai jajan rujak soto, rujak kecut dan aku sudah membunuh satu ekor tawon 🥺

Dua syawal juga mengingatkanku bahwa besoknya, tiga syawal, aku sudah harus bangun pagi dan memulai tugas menyapa lewat udara, alias sudah harus siaran.

Bagaimana syawalmu tahun ini?

Jumat, 22 Mei 2020

Ai yang Mirip Park Saeroyi

Mei 22, 2020 0 Comments
Semalam aku pulang dari radio sudah lumayan malam. Sampai rumah, lebih tepatnya ketika masuk kamar aku melihat ibu dan Ai tidur di sana. Ada yang beda dari Ai, dia sudah cukur rambut. “Duuuh gantenge rek” kataku sambil melihat Ai dari dekat. Ibu bangun, beliau cerita kalau seharian ini Ai nangis.

Ternyata model cukurannya nggak sesuai sama ekspektasi Ai. Aku bisa bayangkan bagaimana ekspresi wajahnya dari perjalanan tempat tukang cukur sampai ke rumah. Pasti mukanya nggak enak banget dilihat, kayak muka pacar kamu.

Ibu menceritakan semuanya dengan detail yang justru membuatku tertawa. Setelah membayar ongkos cukur dan bersiap pulang, Ai bilang ke ibu, “Salah”.

Deg. Dari sana ibu sudah nggak enak hati. Pasti bakal perang uhud lagi, pikir beliau. Perang Uhud di sini maksudnya Ai bakal marah-marah nggak jelas yang bikin semua orang jadi kesel. Benar saja. Ai jadi uring-uringan. Dia marah karena cukurannya terlalu pendek. Dia juga menyalahkan ibu, menuding ibu sudah mengatakan yang enggak-enggak ke tukang cukurnya, “Ibuk e bilang apa se ke tukange?” kata ibu menirukan ucapan Ai.

Insecurenya parah banget sampai dia terus-terusan narik rambut bagian depannya. Mungkin dia kira itu rambut bakal langsung tumbuh panjang kali pas ditarik-tarik begitu. Dia juga bilang nggak mau keluar rumah, nggak mau kemana-mana, nggak mau ke rumah mak e, pokoknya mau di rumah aja. Ya bagus, kan emang lagi corona, mending di ruma aja, batinku.

Sampai ada suara pagar rumah bunyi dikit aja dia langsung ngumpet, dia pikir yang datang adalah teman-temannya mau ngajak main. Pokoknya sampai tadi pagi dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa rambutnya jadi cepak begitu. Seakan-akan rambut cepak adalah aib keluarga yang harus ditutupi. Kalau aku dan ibu sih senang aja dengan gaya rambutnya yang baru.

Nah, pertemuanku dengan Ai baru terjadi tadi pagi saat aku pulang siaran. Dan, ya, moodnya masih berantakan. Akhirnya aku singgung juga cukurannya yang ciamik itu. Dia mulai lagi, hampir menolak kenyataan dengan mulai mimbik-mimbik.

Aku bilang kalau dia mirip artis Korea. Tentu saja dia tidak percaya. Sampai akhirnya aku tunjukkan foto Park Saeroyi yang aku dapat dari google. “Kok kan mirip artis Korea.”

“Ini cukurannya Park Saeroyi lagi ngetrend.” Kok ternyata ada artikel yang mengulas tentang gaya rambut Park Saeroyi di Itaewon Class. Ya udah sekalian aja aku tunjukkan ke Ai. Dia udah bisa baca ini.

Akhirnya dia mulai senyam senyum lagi. Mulai cerah ceria lagi. Malah kerjaannya dikit-dikit ngaca sambil bilang “park saeroyi”. Terus juga random banget lari-larian sambil teriak “park saeroyi”. Sesekali dia juga mulai pede dengan bilang “aku tampan lagi”.

Senin, 18 Mei 2020

Kebetulan.

Mei 18, 2020 0 Comments

Hari Minggu (17/5) barang yang kubeli dari shopee datang. Waktu itu aku sedang di rumah mbah. Sebuah pesan masuk ke whatsapp jam 13.15. Dan baru aku buka sekitar satu jam kemudian. Aku balas pesan kurir yang terlambat aku ketahui itu. Ternyata paket sudah diterima bapak di rumah. Aku mengucapkan terima kasih pada kurir karena sudah menyampaikan paket meski hari itu Minggu.

Tidak lama si kurir bilang kalau pernah melihatku. Aku tanya dimana? Dia jawab di kantor PCNU saat sedang bedah buku. Aku tersenyum. Banyuwangi bisa begitu sempit. Tapi juga bisa begitu luas sehingga aku tidak pernah sekalipun bertemu dengan teman masa kecilku yang namanya pernah aku tulis di sebuah kertas menjadi nama yang paling ingin bisa aku temui kembali. Di Banyuwangi kah dia? Masih hidupkah dia? Bagaimana bisa aku tidak menemukannya di media sosial manapun?

Aku yakin kalian juga pernah mengalami kejadian-kejadian kebetulan semacam yang kualami dengan petugas pengantar paket itu.

Mey, nggak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah diatur Tuhan.

Minggu, 17 Mei 2020

Bu Nyai: Women's Agency in Pesantren

Mei 17, 2020 0 Comments
Semalam saya mewakili Komunitas Pegon mengadakan diskusi online dengan Nihayatul Wafiroh. Kalau teman-teman belum familiar dengan namanya, sila ketik di google. Bagi yang sudah familiar tentu mengenal siapa dan bagaimana kiprah beliau.

Topik diskusi kali ini terinspirasi juga dari disertasi beliau yang membahas tentang kultur perjodohan di pesantren. Sebagai perempuan non pesantren ada banyak rasa penasaran yang saya alami terhadap perempuan pesantren atau perempuan dari keluarga pesantren. Terutama bagaimana perempuan-perempuan ini mengambil keputusan dalam hidup mereka.

Sejak dulu, jika bicara soal perempuan narasi yang ditampilkan adalah sebatas teman di belakang (konco wingking). Perempuan sebatas manusia yang mengerjakan urusan-urusan domestik. Tidak ada peran atau aktivitas lain yang sifatnya menambah kemampuan diri perempuan.

Begitu juga saya memandang perempuan di pesantren. Mereka sami'na wa atho'na pada Kiai. Menurut apa saja yang menjadi keputusan dari sang Kiai.

Jika bicara soal bagaimana peran perempuan di pesantren saya ambil contoh KH. Mukhtar Syafa'at Abdul Ghofur, pendiri Pondok Pesantren Darussalam Blokagung. Beliau tidak akan bisa berkonsentrasi mengajar dan membesarkan pesantren jika urusan keluarga belum beres. Kemudian siapa yang membereskan? Adalah istri beliau, Nyai Maryam dan Nyai Musyarofah. Beliau berdua adalah Srikandi yang memerankan diri untuk menyelesaikan persoalan-persoalan domestik.

Semalam Ning Nik bercerita lebih konkrit mengenai peran Nyai Maryam dalam mengurus rumah tangga. Bagaimana beliau tetap memiliki aktivitas ekonomi dan memiliki peran strategis di dalamnya. Nyai Maryam berdagang, beliau sering membawakan santri-santrinya barang dagangan untuk kemudian mereka jual. Begitulah roda ekonomi berputar dibawah pengawasan Nyai Maryam.

Kekuatan perempuan pesantren ada di sana. Mereka tidak pernah meminta uang. Karena mereka punya cara sendiri untuk bisa menghasilkan uang. Terbukti bahwa manusia berjenis kelamin perempuan ini memang diciptakan dengan satu bakat: multitasking.

Jadi, kalau ditanya apakah peran perempuan pesantren terbatas hanya sampai konco wingking saja, tentu tidak. Mereka punya peran strategis yang tidak bisa disepelekan. Bagi para Kiai, Bu Nyai adalah aktor penting dibalik layar kesuksesan mereka dalam berdakwah dan berjuang. Bahkan, ada juga yang mengambil peran mengasuh pesantren puteri atau bahkan menjadi mubaligh yang tampil di hadapan publik. Nyai Azizah Sri Wedari, misalnya.

Lantas, bagaimana dengan kehidupan pernikahan perempuan pesantren? Bagaimana peran yang bisa diambil Bu Nyai dalam hal ini?

Ning Nik menjelaskan bahwa tradisi perjodohan di pesantren itu bukan sesuatu yang baru. Tradisi itu sudah berlangsung sejak lama. Dalam perkembangannya tradisi perjodohan di pesantren menjadi dua jenis. Ada yang tradisional dan ada yang modern. Bagian ini juga saya penasaran setengah mati. Kok bisa ada orang yang menikah dengan cara dijodohkan.

Story began... Perjodohan tradisional adalah pernikahan yang terjadi antara dua orang tanpa bertemu sebelumnya. They met each other only in akad. Can you guys imagine that? Kalau dulu mungkin fine-fine saja. Tapi hari ini? Jadi, mereka benar-benar bertemu satu sama lain hanya ketika prosesi ijab qabul. Keluarga Darussalam sempat mengalami perjodohan tradisional semacam ini, tapi dulu sekali, kata Ning.

Berbeda dengan perjodohan modern. Dalam perjodohan model ini perempuan pesantren biasanya sudah mulai memiliki bergaining position. Mereka mau dijodohkan asal syarat yang mereka ajukan diterima. Pada perjodohan modern ini biasanya perempuan pesantren sudah memiliki tingkat pendidikan yang tinggi atau kualitas diri mereka sudah meningkat. Contoh syarat yang diajukan perempuan pesantren biasanya apa?

Salah satu contohnya adalah, saya mau menikah asal setelah menikah masih diperbolekan untuk sekolah. Hal-hal demikian menjadi penting bagi perempuan pesantren apakah perjodohan lanjut atau tidak. Ya, kalau si calon tidak setuju itu berarti konsensus tidak terjadi. Maka pernikahan juga tidak terjadi.

Lantas di sebelah mana kita bisa melihat peran Bu Nyai dalam hal perjodohan?

Sebelum saya ngobrol bersama Ning Nik semalam, saya masih mengira bahwa keputusan seorang Ning atau Gus menikah dengan orang pilihan keluarga pesantren adalah mutlak di tangan Kiai. Ternyata tidak demikian.

Selama ini Bu Nyai, Ning, dianggap tidak memiliki peran apapun di pesantren, karena yang lebih banyak berperan adalah Kiai. Dalam sebuah perjodohan yang aktif mencarikan jodoh itu biasanya Kiai. Tapi, yang melakukan riyadhoh itu Bu Nyai. Bu Nyai yang melakukan semacam kontemplasi, wirid, puasa dan apabila dari serangkaian proses yang telah dilalui itu Bu Nyai berkata tidak, maka Kiai juga biasanya akan berkata tidak.

Hal ini menjadi pembantah bahwa perempuan tidak berperan dalam urusan perjodohan. Justru perempuan pesantren ini sebenarnya adalah agen yang aktif. Mereka memainkan agensinya dengan berbagai cara. Bahkan, Bu Nyai juga melakukan advokasi kepada anaknya untuk bisa menentukan pilihannya dan mengungkapkan keinginannya.

Cuma Gitu Doang

Mei 17, 2020 0 Comments
Seperti yang Tansen lakukan, aku juga ingin konsisten mengisi blog yang sudah lama aku buat ini. Isi dengan apa pun cerita hari ini, apa pun.

Malam ini aku menulis sambil mendengarkan I'tirof yang dicover oleh Putih Abu-abu. Disebelahku ada Ai yang sudah terlelap dan beberapa waktu yang lalu aku ciumi, karena saat dia terjaga mana mungkin mau dicium-cium. Di depan tivi Tante Siti dan Raisya juga sudah tidur sambil ditonton oleh tivi.

Di kamar tengah Rara masih terjaga sedang nonton idol k-pop kesayangannya. Di kamar sebelah kamar tengah, Lintang sudah tidur bahkan sebelum aku datang. Di dapur, ibuku dan mbah sedang sibuk membuat kue kuping gajah. Malam ini aku menginap di rumah mbah. Tante Siti dan ketiga anaknya juga di sini, Rara, Lintang dan Raisya.

Selama pandemi aku tidak dapat jadwal siaran Minggu pagi. Itu berarti aku bisa dengan bebas malam mingguan (baca: begadang doing nothing) tanpa harus cepat-cepat tidur karena harus berangkat pagi.

Hari ini entah kenapa aku merasa bahagia. Bertemu Bibeh, ngobrol dengan Ning Nik, ditraktir minum Pak Bos dan berkumpul bersama keluarga. Sederhana, ya? Ya karena memang ada banyak kebahagiaan dibalik sesuatu yang "cuma gitu doang". Kita aja kadang yang nggak sadar.