Sedekah a la Ibu
Meydiana Isfandari
Mei 27, 2018
0 Comments
Seperti yang dilakukan oleh
banyak orang tentang hidup, yakni mengamati, saya pun demikian. Semakin dewasa
kita semakin mengerti bahwa hidup selain dijalani juga diamati. Sehingga dari
proses itu kita dapat megambil sebuah pelajaran berharga. Seperti kata Buya Hamka
“Hidup sekedar hidup, Babi di hutan juga hidup.” Oleh sebab itu, kita jangan
seperti Babi.
Sudah hampir sepuluh tahun kami
tinggal di Pakis, meski bukan warga asli tapi di sini saya merasa nyaman. Pakis
adalah tempat terlama yang kami tinggali. Setelah sebelumnya keluarga kami
selalu berpindah-pindah tempat tinggal.
Di Pakis ini kami menempati
sebuah gudang bahan bangunan yang halamannya luas sekali. Saat pertama kali
datang tahun 2008 silam saya sempat bergidik melihat bangunan ini. Karena di
bagian belakang rumah banyak kayu-kayu berserakan. Setelah beberapa waktu kami
tinggali, semua sisi mulai terasa lega. Bapak mulai membeli beberapa bebek dan
ayam waktu itu. Ibu juga, mulai menanami halaman depan dengan beragam tanaman. Ada
jeruk sambal, kemangi, bayam, pepaya, belimbing, jahe, kunyit, lengkuas, serai,
dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu rumah
kami hampir setiap hari kedatangan para tetangga. Untuk apa? Sekedar meminta
daun jeruk, serai atau daun pisang yang ada di belakang rumah. Satu hari pernah
saat saya ingin sekali makan dengan sayur kelor, saya melihat pohon kelor Ibu
telah habis daunnya. Saya pikir memang sudah dipanen Ibu untuk makan siang. Tapi
ternyata tidak, ada tetangga yang memintanya. Saya bilang ke Ibu kenapa kok
diberikan pada tetangga? Padahal waktu itu saya sudah meminta lebih dulu.
Jawaban Ibu benar-benar
menyadarkan saya, “Kamu ngerti kenapa Ibu menanam segala tanaman ini? Biar Ibu
bisa sedekah, selama Ibu gak bisa sedekah dengan uang, setidaknya Ibu bisa
sedekah dengan ini semua.” Saya yang masih kesal pas melihat pohon kelor Ibu
gundul, sadar. Saya kalah jauh dari Ibu. Rasa kepemilikan saya masih sangat
besar.
Setiap hari saya mengamati para
tetangga yang datang dengan beragam kebutuhan mereka. Ibu selalu menyambut
mereka dengan tersenyum. Ibu telah siap bersedekah dengan berbagai tanaman yang
telah beliau tanam. Ibu tak pernah mau menerima uang yang diberikan tetangga
untuk sebuah nangka muda atau sebutir kelapa yang mereka minta.
Dan hari ini semua itu menular ke
saya. Setiap ada tetangga datang untuk meminta kelor atau daun pisang atau
apapun dan saat itu Ibu tidak ada, saya selalu menolak uang yang hendak mereka
berikan. Saya selalu bilang kalau menerimanya nanti dimarahi Ibu, dan mereka
tertawa.
Setiap Ibu adalah istimewa. Setiap
Ibu adalah yang terbaik. Ibu saya adalah salah satu guru kehidupan saya. Meski hanya
lulusan Madrasah Ibtida’iyah, namun ilmunya luas sekali. Satu hari juga, saya
pernah melihat pohon bayam di depan rumah yang lebat dan gemuk. Padahal beberapa
hari yang lalu sudah di petik oleh Ibu. Jawaban filosofis dari Ibu lagi-lagi
membuat saya ciut.
“Bayam yang rajin disiangi
seperti itu, akan tumbuh lagi, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Sama seperti
ilmu, semakin dimanfaatkan akan semakin bertambah ilmumu.”
Hati saya menghangat. Itulah Ibu
saya, filosofis orangnya. Mengutip kata-kata Ibnu Atha’illah al-Iskandari bahwa
jenis amal itu bermacam-macam karena asupan hati juga beragam. Ibu saya memilih
bersedekah dengan caranya sendiri. Beliau bilang kepada saya, "Sedekah tidak hanya dengan uang."
Sehat selalu, Bu.





