Minggu, 27 Mei 2018

Sedekah a la Ibu

Mei 27, 2018 0 Comments
Seperti yang dilakukan oleh banyak orang tentang hidup, yakni mengamati, saya pun demikian. Semakin dewasa kita semakin mengerti bahwa hidup selain dijalani juga diamati. Sehingga dari proses itu kita dapat megambil sebuah pelajaran berharga. Seperti kata Buya Hamka “Hidup sekedar hidup, Babi di hutan juga hidup.” Oleh sebab itu, kita jangan seperti Babi.

Sudah hampir sepuluh tahun kami tinggal di Pakis, meski bukan warga asli tapi di sini saya merasa nyaman. Pakis adalah tempat terlama yang kami tinggali. Setelah sebelumnya keluarga kami selalu berpindah-pindah tempat tinggal.

Di Pakis ini kami menempati sebuah gudang bahan bangunan yang halamannya luas sekali. Saat pertama kali datang tahun 2008 silam saya sempat bergidik melihat bangunan ini. Karena di bagian belakang rumah banyak kayu-kayu berserakan. Setelah beberapa waktu kami tinggali, semua sisi mulai terasa lega. Bapak mulai membeli beberapa bebek dan ayam waktu itu. Ibu juga, mulai menanami halaman depan dengan beragam tanaman. Ada jeruk sambal, kemangi, bayam, pepaya, belimbing, jahe, kunyit, lengkuas, serai, dan lain sebagainya.

Seiring berjalannya waktu rumah kami hampir setiap hari kedatangan para tetangga. Untuk apa? Sekedar meminta daun jeruk, serai atau daun pisang yang ada di belakang rumah. Satu hari pernah saat saya ingin sekali makan dengan sayur kelor, saya melihat pohon kelor Ibu telah habis daunnya. Saya pikir memang sudah dipanen Ibu untuk makan siang. Tapi ternyata tidak, ada tetangga yang memintanya. Saya bilang ke Ibu kenapa kok diberikan pada tetangga? Padahal waktu itu saya sudah meminta lebih dulu.

Jawaban Ibu benar-benar menyadarkan saya, “Kamu ngerti kenapa Ibu menanam segala tanaman ini? Biar Ibu bisa sedekah, selama Ibu gak bisa sedekah dengan uang, setidaknya Ibu bisa sedekah dengan ini semua.” Saya yang masih kesal pas melihat pohon kelor Ibu gundul, sadar. Saya kalah jauh dari Ibu. Rasa kepemilikan saya masih sangat besar.

Setiap hari saya mengamati para tetangga yang datang dengan beragam kebutuhan mereka. Ibu selalu menyambut mereka dengan tersenyum. Ibu telah siap bersedekah dengan berbagai tanaman yang telah beliau tanam. Ibu tak pernah mau menerima uang yang diberikan tetangga untuk sebuah nangka muda atau sebutir kelapa yang mereka minta.

Dan hari ini semua itu menular ke saya. Setiap ada tetangga datang untuk meminta kelor atau daun pisang atau apapun dan saat itu Ibu tidak ada, saya selalu menolak uang yang hendak mereka berikan. Saya selalu bilang kalau menerimanya nanti dimarahi Ibu, dan mereka tertawa.

Setiap Ibu adalah istimewa. Setiap Ibu adalah yang terbaik. Ibu saya adalah salah satu guru kehidupan saya. Meski hanya lulusan Madrasah Ibtida’iyah, namun ilmunya luas sekali. Satu hari juga, saya pernah melihat pohon bayam di depan rumah yang lebat dan gemuk. Padahal beberapa hari yang lalu sudah di petik oleh Ibu. Jawaban filosofis dari Ibu lagi-lagi membuat saya ciut.

“Bayam yang rajin disiangi seperti itu, akan tumbuh lagi, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Sama seperti ilmu, semakin dimanfaatkan akan semakin bertambah ilmumu.”

Hati saya menghangat. Itulah Ibu saya, filosofis orangnya. Mengutip kata-kata Ibnu Atha’illah al-Iskandari bahwa jenis amal itu bermacam-macam karena asupan hati juga beragam. Ibu saya memilih bersedekah dengan caranya sendiri. Beliau bilang kepada saya, "Sedekah tidak hanya dengan uang."

Sehat selalu, Bu.

Kamis, 24 Mei 2018

The Gift: Hidup dalam Dunia Buatan

Mei 24, 2018 0 Comments
Kemarin saat Fida berkunjung ke rumah, Ibu sempat menunjukkan sebuah tayangan yang tengah berlangsung di Metro TV. Ada Reza Rahadian, Ayushita dan Ibu Christin Hakim. Saya tahu itu adalah program “Layar Perak”. Ibu bilang bahwa Reza bermain dalam sebuah film baru bersama Ayushita. Saya yang saat itu kedatangan tamu agak tidak fokus menyimak televisi. 

Nah, tadi pagi seperti biasa saya buka twitter. Saat baru masuk timeline, twit pertama yang muncul adalah twit milik NSC Banyuwangi. Mereka update informasi tentang film yang tayang hari itu, dan saya menemukan The Gift ada di sana. Saya baru sadar jika film The Gift yang dibicarakan Ibu kemarin tayang perdana hari ini. Tanpa pikir panjang dan momen yang kebetulan pas sekali, saya pergi nonton jam 13.00, sendirian.
 
Saya berangkat pukul 12 lebih. Sampai bioskop baru pukul 12.17 (jika tidak salah ingat). Setelah membeli tiket saya duduk sambil membaca Maryamah Karpov untuk yang kedua kalinya. Bioskop tidak begitu ramai, b aja. Disamping kanan dan kiri tempat saya duduk, ada pasangan dedek gemas yang sedang dimabuk asmara. Ketawa-ketiwi kek disekelilingnya gak ada orang. Hih, norak. Mbok ya hormatin perasaan saya. Apa? Nggak terima?

Semua orang saya lihat berpasangan, laki-laki dan perempuan, perempuan dan perempuan, saya doang sendirian.

Pukul 13.00 studio 2 dibuka, saya masuk setelah tiket seharga 30 ribu itu disobek petugas (ingat, gaes, weekend harga tiket naik). Saya duduk sesuai nomor tiket, C10. Nomor kursi itu akan terus saya gunakan saat menonton di lain kesempatan. Karena apa? Karena tempatnya pas, gaes, ditengah-tengah. Enak. Gak kejauhan, gak kedeketan.

Setelah segala rupa iklan berhamburan, film dari aktor kesayangan saya itu mulai. Film dimulai dengan prolog oleh Tiana (Ayushita) dengan latar gambarnya adalah pemandangan Jogja. Ya, latar tempat film ini adalah Yogyakarta. Bermula saat Tiana datang ke Yogyakarta untuk menetap sementara demi menyelesaikan naskah tulisannya. Tiana ini seorang novelis, gaes. Di Yogyakarta itu dia kost di sebuah rumah, lebih tepatnya sebuah kamar yang jadi satu dengan rumah utama. Ruangan Tiana dan rumah utama dibatasi oleh pintu yang telah lama digembok oleh pemiliknya.
 
Pemilik rumah tersebut adalah Harun (Reza Rahadian uwuwuwu). Harun tinggal bersama Simbok dan anak simboknya. Di masa lalu Harun mengalami kecelakaan mobil yang berakibat pada penglihatannya, dia menjadi tuna netra. Pertemuan Tiana dan Harun diawali dengan kejadian yang agak membuat kesal.

Di malam pertamanya tinggal di kamar itu, Tiana harus terganggu oleh suara musik yang sangat kencang yang diputar oleh Harun. Tiana beranjak dari kamarnya untuk menemui Harun. Dia gedor-gedor pintu rumah utama itu. Namun apa daya, Harun tak mendengar, juga tak melihat Tiana.

Hingga kemudian singkat cerita datanglah simbok yang memberi pengertian pada Tiana dan berakhirlah drama musik memekakkan telinga tersebut. Tiana terlelap dengan tenang. Gaes, sebelum kalian melanjutkan membaca tulisan ini, saya ingatkan bahwa tulisan ini full spoiler. Jadi, sila putuskan akan lanjut membaca atau tidak.

Kuy, lanjut ...
Esoknya, saat akan keluar rumah, Tiana mendapat pesan di pintu kamarnya. Isinya singkat, padat dan jelas: “Maaf soal semalam.” Di menit-menit pertama ini saya agak gak nyambung dengan alur cerita. Tiba-tiba Tiana diundang sarapan. Di adegan sarapan ini sumpah saya kesel banget sama cara bicara Harun, songong dan sengak gitu. Tapi ku sayaaang :(

Di momen sarapan ini juga Tiana baru tahu bahwa Harun adalah tuna netra. Sumpah, hatiku, hiks. Setelah sarapan, Tiana tahu ada yang menarik dari Harun. Sejak itu pula Tiana mencoba mengakrabi Harun yang berkarakter keras kepala.

Besok paginya, Tiana datang. Dia membawa sebuah tanaman sekaligus potnya yang entah itu tanaman apa saya nggak paham. Saat Harun tengah meraba dan mencium tanaman itu, dia tiba-tiba bilang, “Kamu suka sama saya, ya?” Yarabb ekspresinya benar-benar minta disayang. Tanaman itu adalah tanda terima kasih Tiana karena sudah diundang sarapan bersama. Begitulah pokoknya.

Kemudian adegan berlanjut ke Harun yang marah-marah karena surat yang datang dari Ayahnya. Mendengar suara ribut-ribut, Tiana pun datang. Dia mendapati simbok yang sudah bersimbah di lantai sambil menangis. Tiana juga mencoba menenangkan Harun, tapi ya dasarnya si Harun ini kepala batu (tapi ku sayang) dia tetep aja ngamuk-ngamuk. Tiana juga, sih, harusnya tuh Harun di peluk sambil di puk-puk :(

Setelah adegan Harun, kita beranjak ke adegan Tiana kecil yang hidup di panti asuhan. Tiana kecil melemparkan pertanyaan kepada seorang ibu pengasuh yang nantinya kita tahu bahwa ibu pengasuh itu diperankan oleh Ibu Christin Hakim. Tiana bertanya, “Apakah Yana berdosa, Bu? Yana tidak cinta sama ibu kandung Yana. Tiap jam pelajaran agama, kita selalu diblang bahwa kita wajib mencintai ibu. Yana selalu bingung, karena Yana tidak bisa.”

Tiana kecil hidup dalam keluarga yang tak sehat. Ayah dan Ibunya gemar bertengkar. (gemar kok bertengkar, gemar tuh membaca) Setiap orang tuanya bertengkar, Tiana selalu tak tahan dan lari bersembunyi di dalam lemari. Tiana akan keluar dari lemari jika sudah tak terdengar lagi pertengkaran. Hingga suatu hari Ayahnya pergi meninggalkan rumah. Meninggalkan Tiana, meninggalkan ibunya. Ibunya depresi. Tiana juga kerap mengurung diri di dalam kamar yang sempit dan gelap. Puncak depresi ibunya adalah saat Tiana tak mau seperti anak-anak normal lainnya yang bermain diluar rumah. Ibunya menyeret Tiana untuk keluar lemari namun Tiana berhasil menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Beberapa jam kemudian, karena tidak mendengar suara teriakan lagi dari ibunya, perlahan Tiana membuka pintu lemari. Dia berjalan untuk membuka pintu kamar. Namun, kenyataan pahit harus ia hadapi. Tiana kecil melihat tubuh ibunya tergantung di depan pintu. Ibu Tiana mati gantung diri. Adegan ini sukses menjebol pertahanan bendungan air mata saya. Sapu tangan yang sedari tadi saya pegang akhirnya basah. Duduk sendirian, nangis sendirian. Kasihan.

Adegan selanjutnya adalah ujug-ujug Tiana dan Harun sudah ada di Kaliurang, berdua doang. Ya mungkin Mas Hanung Bramantyo (yaelaaaaah, Mas, wkwkwk) menghapus adegan Tiana membujuk Harun agar ikut ke Kaliurang. Tapi sumpah ini plot twist banget. Saya yang terbawa emosi melihat adegan Ayah dan Ibu Tiana bertengkar malah jadi kek orang bego pas bagian ini. Tapi ya sudah tidak apa-apa.

Melihat kondisi Harun yang ngamuk-ngamuk kemarin mungkin menjadi motivasi besar bagi Tiana untuk ngademin palanya sayang aku itu, Harun maksudnya, gaes. Tapi, yang terjadi justru mereka terlibat percakapan nyebelin tapi menggemaskan. Harun itu memang sensi banget orangnya, untung aku sayang. Hih.

Adegan pamungkas yang bikin saya ketiwi-tiwi sendirian adalah:

H: “Antar saya pulang.” | T: “Kok pulang, sih, kan kita belum selesai.” | H: “Mau ujan.” | T: “Hujan?” Tiana kebingungan sambil melihat cuaca sekitar yang cerah ceria. | H: “Mangkanya kalo punya indera dipake.”

Lha kok ujug-ujug suara bledeg banter banget, gaes. Ya ngibrit dong Tiana nyusulin Harun, wkwkwk.

Dalam keadaan hujan deras, mereka sampai di depan rumah. Simbok dengan terseok-seok membawa payung mencoba melindungi tuan mudanya itu agar tidak kebasahan saat turun dari taksi. Ternyata eh ternyata, simbok kepleset. Harun dengan nalurinya yang selalu ingin membantu dan pada dasarnya sayang banget sama simbok, mencoba untuk menolong. Ujan-ujan begitu, simbok jatuh, Harun dan Tiana rebutan mau nolongin, sopir taksinya meneng bae di dalam mobil, suasana sungguh kacau. Tiana menarik paksa Harun agar menepi dan biar dia saja yang membantu simbok. Harun dengan harga diri tinggi, merasa mampu menolong simbok, yang awalnya susah sekali dikendalikan akhirnya menurut. Tiana kembali ke simbok sambil menegur sopir taksi yang planga-plongo aja nontonin. Saya ketawa pas bagian Ayushita ngomelin pak sopir. Iya, ketawa, sendirian.

Setelah urusan simbok kelar, Tiana mampir ke rumah Harun. Harun mulai lagi cari gara-gara dengan meracau banyak hal. Dan terkesan menyalahkan Tiana dengan bilang, “Kalo kita gak ke Kaliurang ini semua gak akan terjadi.” Detik itu juga saya pingin jadi Tiana dan toyor-toyor kepala Harun. E tapi jangan, aku sayang.

Adegan selanjutnya adalah adegan syahdu yang bikin saya klepek-klepek lagi sama Reza Rahadian. Dia adalah sebenar-benarnya aktor dengan kualitas yang luar biasa. Adegan ini adalah adegan Harun dan Tiana lagi spending the time with yang-yangan. Mereka saling berbagi kisah masa lalu. Pokoknya so heart-warming, gak cuma hati doang yang anget, tapi seluruh jeroan saya jadi anget. Halah. Kalau adegan ini saya tidak bisa menjelaskan, gaes. You should watch by yourself.

Setelahnya kita akan disuguhkan adegan-adegan romantis Harun dan Tiana dengan backsong yang kece. Oh, ya, saya belum menuliskan bahwa Tiana selalu terlibat dialog dengan orang bernama Bona. Dan dalam adegan-adegan sepanjang film ini, kalian akan sering melihat Tiana berdialog dengan Bona. Siapa Bona? Tetap baca tulisan ini sampai selesai, gaes.

Setelah kita disuguhkan adegan romantis Tiana dan Harun, adegan berikutnya adalah datangnya Bona dan tiga kawan Tiana lainnya. Mereka datang untuk merayakan ulang tahun Tiana yang ke-30. Selaiknya kehebohan ultah, mereka juga heboh. Ketawa-ketiwi, ngomongin Harun, ketawa-ketiwi lagi.

Besok paginya Tiana yang akan keluar rumah mendapati anggrek di depan pintu kamarnya. Jangan lupa, plus pot-nya. Di anggrek itu ada sebuah kunci. Tiana yang mungkin turunan cenayang bisa langsung tahu bahwa itu adalah kunci pintu yang selama ini jadi pembatas kamarnya dengan rumah utama. Dia membuka pintu itu dan menemukan Harun yang sedang ... (aduh, saya lupa tadi Harun lagi apa pas adegan ini)

Kemudian adegan kembali ke masa lalu, dimana Tiana sedang berada di panti asuhan. Di adegan itu ada rombongan keluarga yang datang dengan seorang anak kecil bernama Arie. Arie ini kelak diperankan oleh Dion Wiyoko, gaes. Arie, seperti yang sudah bisa kita tebak, menyukai Tiana.

Arie datang ke Jogja untuk bertemu dengan Tiana. Selain karena ingin bertemu Tiana, Arie juga membawa kabar tentang keberadaan ayah Tiana yang pergi sejak Tiana kecil. Seperti halnya second lead male, Dion Wiyoko berhasil memainkan perannya dengan baik. Arie adalah tipe-tipe second lead male yang sayang untuk diacuhkan. Sayang banget. Ganteng, baik, mapan, cinta banget lagi sama Tiana. Hmmm.

Meninggalkan Arie, kita ke adegan selanjutnya dimana Harun menelpon Tiana tengah malam. Selayaknya orang yang lagi tidur terus dapat telpon, pasti nyawanya belum ngumpul. Tiana menjawab telpon Harun dengan “Arie ...” dengan suara kodoknya. Sudah barang tentu Harun kepo, dong, gaes. Bertanyalah ia Arie itu siapa. Tiana jawab Arie itu penerbit. Kemudian obrolan mereka sepertinya membuat Tiana tidak nyaman. Sejak kedatangan Arie ke Jogja, Tiana jarang bertemu Harun lagi. Tiana menutup telpon Harun dengan perasaan yang galau. (keliatan dari muka mbaknya)

Besoknya, Tiana pergi dengan Arie menuju sebuah panti jompo. Tempat dimana ayah Tiana tinggal saat ini. Tiana masih belum berdamai dengan masa lalu yang menimpanya. Masa lalu kelam yang ia rasakan bersama ayah dan ibunya. Ayah Tiana tak lagi mengenal Tiana, disamping itu ayahnya juga buta. Di adegan ini kita akan melihat Ibu Christin Hakim untuk kali pertama. Adegan dimana Tiana dan Ibu Su’ud bertemu membuat saya lagi-lagi tidak bisa mengendalikan pertahanan bendungan. Oke, saya skip saja bagian ini. Biar cepet.

Tiana dan Arie pulang. Arie mengantar Tiana hingga sampai depan rumah. Kondisi hujan. Ujan lagi, ujan lagi, sebel saya tuh. Di depan pintu kamar Tiana, Arie tiba-tiba berjongkok. Yup, betul sekali. He proposed her. Arie pernah berjanji jika Tiana ulang tahun ke-30 dan masih sendiri, dia akan melamar Tiana. Sementara Arie dan Tiana bercakap-cakap, ada seseorang di dalam sana yang diam-diam mendengarkan percakapan mereka, Harun.

Keesokan harinya, Tiana kembali mengunjungi Harun. Suasana pagi itu terasa beda, bisa jadi karena perubahan sikap Harun pada Tiana. Harun pagi itu sensitif buangeeeeet, gaes. Dah kek aku pas mens gitu. Reza Rahadian adalah Reza Rahadian. His acting almost perfect. Cara dia menatap lawan mainnya, cara dia beradegan romantis, cara dia tertawa, cara dia marah, semuanya menghujam hingga jantung saya. Membekas.

Pagi itu Harun marah besar. Marah karena Tiana berbohong padanya. Mungkin Harun juga marah karena ia sudah mendengar semua perbincangan Arie dan Tiana. Cemburu? Ya jelas! Hingga yang paling menyesakkan ketika Harun bilang, “Saya tahu, sebagai laki-laki saya tidak bisa memberikan kamu masa depan.” Aduh. Hatiku.

Pagi itu, akhir dari hubungan Harun dan Tiana. Tiana pergi dari Jogja dengan perasaan kecewa, sakit hati, marah. Tiana kembali berdialog dengan Bona, yang semakin kesini saya semakin nggak ngerti Bona ini sebenernya kenapa, karena setiap Tiana meminta Bona menjawab pertanyaannya, Bona diem aja.

Keputusan Tiana untuk menikah denan Arie adalah keputusan logis. Mungkin sebagian wanita akan seuju dengan keputusan Tiana. Menikah dengan orang yang telah memahami bagaimana kita. Menikah dengan orang yang amat menyayangi kita. Menikah dengan orang yang sudah kita kenal lama. Jika cinta itu logis, harusnya memang seperti itu. Tapi kapan cinta pernah logis?

Rumah tangga Arie dan Tiana memang baik-baik saja, bahkan romantis, saya aja iri lihatnya. Tapi Arie tidak tahu bahwa Harun mendapat posisi istimewa dalam hati Tiana. Posisi yang tidak pernah Arie dapatkan, meski ia telah menikahi Tiana. Kalo kata Armada “Aku punya ragamu, tapi tidak hatimu ...”

Di menit-menit terakhir, saya mulai memahami cerita ini. Tiana adalah perempuan yang hidup dalam dunia yang dibuatnya. Tiana terlalu takut untuk melihat dunia nyata. Dia lebih suka melihat dunia yang ia ciptakan sendiri, dan Harun terseret dalam dunia yang dibuat oleh Tiana. Dunia Arie terlalu berwarna bagi Tiana. Sedangkan Tiana nyaman dengan kehidupannya yang dalam kegelapan, sama seperti Harun. Dalam titik tertentu Tiana menyukai kegelapan.

Bona dan kawan-kawannya adalah orang-orang yang Tiana buat. Mereka tidak nyata, tidak pernah ada. Anying, lah, bagian ini saya merinding. Duduk sendirian. Merinding sendirian. Tiana memilih untuk meninggalkan Arie dan Harun. Ia mendonorkan matanya dan menjadi buta untuk Harun. Arie tetap melanjutkan hidup sebagai dokter. Harun bertemu Tiana dengan kondisi berbeda. Dan saya misek-misek sendirian. Lampu bioskop menyala. Saya tetap duduk hingga credit title habis, sembari mendengarkan soundtrack yang ciamik.

Jika film Reza yang Benyamin Biang Kerok waktu lalu tidak begitu menjadi buah bibir, Reza membalasnya dalam The Gift. Sebelum berangkat ke bioskop siang tadi saya sempat baca sekilas sinopsis The Gift. Dari uraian yang saya baca, saya sempat mikir, “Ah, ceritanya ya gitu aja. Cinta segitiga.” Semua diluar ekspektasi saya. Aktor, sutradara, penulis naskah, soundtrack dari miliknya Iwan Fals, seluruh unsur yang terlibat luar biasa. The Gift is a must see!

Seperti biasa, saya keluar studio dengan mata sembab. Sembab sendirian. Keluar sendirian.

Sumber: Google

Selasa, 15 Mei 2018

Darurat Radikalisme

Mei 15, 2018 0 Comments
Seandainya Kakung masih hidup, saya ingin berdiskusi banyak hal dengan beliau. Seandainya Kakung masih hidup, bagaimanakah reaksinya mendengar berita kejahatan terhadap manusia akir-akhir ini? Seandainya Kakung saya, yang nasrani itu masih hidup, bagaimanakah reaksinya mengetahui bahwa saudara seimannya mati terbunuh di rumah ibadahnya sendiri?

Ya, saya adalah manusia yang tumbuh di tengah kemajemukan. Kakung saya nasrani, om saya Hindu. Dua keyakinan yang berbeda dengan keluarga besar saya. Sejak kecil, saya telah terbiasa melihat poto Yesus, Paus, dan simbol salib di dinding rumah Kakung, di Kepundungan, Srono. Sejak kecil saya telah terbiasa tidur berdampingan dengan Injil yang ada di kamar Kakung, kamar favorit saya saat menginap di rumah beliau. Sejak kecil, saya telah terbiasa melihat Kakung dan Mak (istri beliau) saya pergi pagi-pagi sekali di Hari Minggu untuk melaksanakan ibadah di gereja di Genteng sana.

Saat itu saya masih kecil, belum mengerti bahwa agama banyak macamnya. Beruntung, sejak kecil saya telah terbiasa, terbiasa melihat simbol-simbol seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Hingga saya tumbuh  besar, saya telah mengerti bahwa negara yang saya tinggali ini terdiri dari berbagai agama, bukan Islam saja. Saya mengerti bahwa keyakinan Kakung tidak sama dengan keyakinan saya.

Lantas apakah berkurang kasih sayang Kakung terhadap cucunya yang berbeda keyakinan ini? Tidak sama sekali. Satu waktu pernah Kakung memberikan hadiah sebuah sajadah. Sajadah tersebut didapatkannya dari tetangga yang baru pulang dari tanah suci Mekah. Satu waktu juga Kakung pernah bertanya pada saya, “Kowe opo iso moco Qur’an, nduk?” saya mengangguk. Waktu itu saya memang sudah berada di tingkat membaca Al-Qur’an di TPQ.

Saking baiknya seseorang bernama Antonius Sunaryo itu, hari ini saya hanya bisa mengenang segala hal baik yang ada pada dirinya. Sayangnya, saya belum pernah sekali pun berdiskusi perihal radikalisme. Saya ingin tahu bagaimana pendapat Kakung tentang Gus Dur. Saya ingin tahu bagaimana Kakung memandang sebuah perbedaan yang terdapat dalam keluarga kami. Saya ingin tahu banyak hal yang sayangnya tidak sempat saya ketahui.

Saat mengetahui aksi keji yang terjadi di gereja, dimanapun tempatnya, saya selalu teringat Kakung. Saya merasa terikat batin dengan saudara-saudara nasrani. Bagaimana bisa orang-orang itu, dengan atribut islam, berlaku jahat pada saudara mereka yang berbeda keyakinan? Tidak perlu berbicara “Terrorist has no religion” sedangkan kita tahu bahwa agama mereka adalah islam. Mereka itu islam. Tapi entah islam mana yang mereka jadikan tauladan. Islam yang mengajarkan cinta kasih, islam yang rahmatan lil alamin? Tentu bukan. Mereka, para teroris itu bukanlah bagian dari islam yang mengajarkan cinta kasih, islam yang rahmatan lil alamin.

Kenangan saya terlempar pada sebuah pertemuan pemuda NU dengan pemuda Katolik di Paroki Maria Ratu Damai Februari lalu. Romo Sugeng sempat berkata, “Akan habis tenaga dan pikiran kita jika berbicara soal perbedaan yang menjurus kepada tindak kekerasan.”

Benar. Apa yang kita dapat setelah membaca dan melihat berita-berita teror di televisi maupun media massa? Marah? Jelas. Sedih? Pasti. Sebagai manusia yang waras pasti kita marah dan bersedih. Kita marah terhadap pelaku teror yang sampai hati berbuat keji menghilangkan nyawa sesamanya. Kita bersedih terhadap saudara kita yang harus kehilangan nyawa saat mereka tengah beribadah.

Mereka yang suka mempersoalkan perbedaan sebagai sesuatu yang tidak baik dan terus menerus meributkan hal itu, tenaga mereka akan habis, akhirnya lelah. Mereka yang suka memikirkan bagaimana cara agar seluruh Indonesia ini sama, tidak lagi ada perbedaan-perbedaan, pikiran mereka akan habis, akhirnya gila. Dan apa hasil akhir dari lelah dan gila tersebut? Benar, teror.

Semua orang pasti tidak habis pikir dengan aksi teror yang terjadi di Indonesia. Mulai dari pemuda yang menyerang rumah ibadah di Yogyakarta awal tahun lalu hingga yang paling terkini adalah serangan di beberapa tempat di Surabaya.

Pertanyaan kita selalu sama. Apa yang menyebabkan mereka melakukan tindakan biadab seperti itu? Apa yang menyebabkan mereka percaya diri kelak akan masuk syurga? Tentu kita terkejut saat mengetahui bahwa pelaku teror di tiga tempat di Surabaya itu adalah satu keluarga. Bapak, Ibu dan anak. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa anak-anak turut menjadi sasaran dari kecacatan berpikir? Bagaimana sebenarnya konsep mati syahid yang mereka pelajari?

Malam ini, kawan-kawan akan menggelar diskusi kebangsaan mengenai radikalisme yang sudah gawat. Terlebih lagi beberapa pelaku teror berasal dari kampung halaman yang kami sebut “Banyuwangi” the sunrise of Java. Saya tidak ingin tagline tersebut berubah menjadi “The Terrorist of Java”.

Kami tunggu kehadiran kawan-kawan semua malam ini pukul 19.00 wib di kantor PCNU Banyuwangi.

Kamis, 03 Mei 2018

Pemotretan Berujung Ruqyah

Mei 03, 2018 0 Comments
Akutu gak bisa diginiin :(

 Hari ini, sesuai rencana yang telah kami sepakati, saya dan keluarga cemara KW 15 akan melakukan –istilah masa kini– pemotretan. Setelah rembug yang tidak mufakat yang kami lakukan di grup WA, disepakatilah bahwa kami tidak menyepakati apapun. Yang kami sepakati hanya titik kumpul kami ada di kantor PCNU.

Saya dan Bibeh berangkat pukul 2 siang. Hari itu di kantor PCNU sedang ada acara ruqyah massal bersama tim Joko Samudro Banyuwangi. Beberapa orang meminta saya agar di ruqyah. Agar apa? Agar penyakit mabukan saya itu hilang. Tapi, Senin pagi itu saya seperti pingsan, setelah pulang dari Surabaya. Saya baru bangun pukul setengah sepuluh pagi. Dan tentu masih agak teler. Saya juga tidak pernah ikut ruqyah, jadi agak nganu saat diajak ruqyah.

Sampailah saya dan Bibeh di PCNU yang ternyata masih banyak orang. Tim Joko Samudro masih belum beranjak dari kantor. Kami kemudian naik ke aula di lantai dua. Dari sana Mas Dani, Cholid, Fida dan Pak Haikal menyuruh saya dan Bibeh ikut ruqyah. Saya yang dari rumah sudah dandan rapi, cantik dan wangi tentu shock dong, gaes. Ini apa-apaan kok malah saya dan Bibeh disuruh ruqyah-ruqyahan.

Tidak lama setelah itu, Fiya dan Mbabila datang. Matilah kami semua akhirnya disuruh ikutan ruqyah. Pantas ketika saya chat di grup “Ruqyahe wis mari masdan?” Mas Dani dan Cholid kompak menjawab:

Sungguh lah kampret dua orang itu.

Dengan perasaan yang nggak bisa dijelaskan akhirnya saya, Fida, Bibeh, Fiya dan Mbabila baris di belakang para lelaki. Kami berdiri seperti pesakitan yang menunggu giliran untuk di eksekusi. Pak Ustadz menginstruksikan agar kami rileks. Saya mbatin, “Gimana bisa rileks, Pak Ustaaaat, saya ini mau pemotretan, wis dandan cantek lho ini, malah di ruqyah ruqyah.”

Kami sampai pada penjelasan dari Pak Ustadznya bahwa ruqyah ini bukan kesurupan-kesurupan seperti yang sering kita lihat di tv-tv itu. Ini adalah murni dzikir kita kepada Allah. Upaya meminta kesembuhan kepada Allah dengan metode Qur’ani. Saya diam saja menyimak. Ya sudah, lah. Wis kadhung arep kelendi maning?

Kami semua memegang keresek dan mulai menutup mata, sesuai instruksi. Mulailah Pak ustadz melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Tidak butuh waktu lama, saya merasakan mata saya menghangat. Entah di menit keberapa sejak Pak Ustadz membacakan kalam Allah itu, saya mulai ngiluh. Wajah saya menghangat. Beberapa menit kemudian saya mendengar suara sesenggukan dari sebelah saya. Entah itu Fida, Fiya, Bibeh atau Mbabila. Yang jelas suara sesenggukan seperti itu malah menjadi perangsang bagi saya untuk menangis. Yang tadinya hanya ngiluh akhirnya saya menangis. Dan pada dasarnya saya juga orang yang suka terharu ketika mendengar orang lain melantunkan ayat Al-Qur’an dengan suara merdu, melantunkan sholawat dengan suara merdu, menyanyikan lagu religi/rohani dengan suara merdu, apalagi kelak kamu bilang “Qabiltu nikaahahaa wa tazwiijahaa bil mahril madz-kuur haalan...” dengan suara merdu, Mas. *halah

Hingga akhirnya, saya duduk selonjor, dengan mata masih terpejam. Tapi air mata dan umbel sudah nggak bisa di kendalikan, gaes. Kemudian saya dengar teman-teman saya pada jejeritan. Dalam kondisi seperti itu saya masih sadar dan mbatin, tapi masih dalam kondisi menangis, “Itu anak-anak diapain bisa sampe jejeritan begitu, sih.” Sumpah, gaes, mereka berisik banget. Wqwqwq.

Saya nggak bisa menjelaskan secara detail bagaimana kondisi tubuh saya waktu itu. Seluruh tubuh rasanya kram, bagian kepala berat, bagian wajah rasanya seperti tertarik. Dan yang ngeselin adalah ketika Pak Ustadz terus-terusan bilang, “Hayo, kamu siapa? Kamu siapa? Ayo ngomong, kamu siapa?” Aing Meydiana, Paaaaak. Saya ini masih sadar, nggak kesurupan apa-apa dan siapa-siapa. Saya bilang dah tuh akhirnya kalau saya ini masih sadar. Pak Ustadz terus membacakan kalam-kalam Allah. Dan anehnya, saya terus-terusan menangys. Ya Allah, ini sebenernya saya kenapaaa? Nangis mulu dah kek nonton Drama Koryaaa.

Dan part ngeselin lainnya adalah ketika saya disuruh mengeluarkan semuanya. Gak paham dah apa yang dikeluarin. Saya pegang keresek dan mulai huwak huwek kek buibu lagi hamil muda. Tapi nihil, gaes. Gak ada apapun yang keluar selain saliva dan air mata. Padahal, semalam saya masih bisa merasakan mual gara-gara terlalu banyak naik grab ketika di Surabaya. Saya mau banget muntah dan mengeluarkan segala rasa mual yang ada di perut. Ndilalah saat di ruqyah itu nggak ada satupun rasa mual yang saya rasakan. Apa nggak wakwaw?

Kresek masih gres, yang jatuh cuma air mata.

Saya nggak tahu saya di tangani oleh berapa orang, tapi sepertinya dua orang. Yang satu bertugas baca ayat Qur’an, satunya lagi mengurut bagian belakang saya. Eh, nggak tahu lagi, sih. Wong tiap saya buka mata selalu suruh merem lagi. Huft.

Setiap ayat Qur’an dibacakan saya selalu teringat pesan Pak Ustadz di awal tadi. Jadikan ini sebagai ikhtiar kita untuk sembuh dari segala macam penyakit. Entah itu penyakit malas, penyakit medis dan penyakit-penyakit hati lainnya. Saya ingat sekali Pak Ustadz mengucapkan penyakit medis. Jadi, selama proses ruqyah itu dalam hati saya hanya bisa bilang “Ya Allah” sambil mengingat benjolan yang ada di lengan kiri saya. Saya tidak pernah tahu itu benjolan apa, karena memang saya tidak pernah pergi ke dokter untuk periksa. Awalnya benjolan itu hanya saya rasakan satu. Namun lama-lama saya bisa merasakan benjolan itu melebar. Akhirnya saya menjadikan ruqyah pertama kali ini sebagai doa, semoga itu benjolan biasa, bukan apa-apa.

Beberapa saat kemudian tim Joko Samudro itu memberikan tissue pada saya. Agar mengusap seluruh ingus dan air mata kemudian di buang ke dalam kresek yang telah di siapkan tadi. Saya bisa merasakan mata saya berat, gaes. Mbendol nih pasti, batin saya. Apa kabar nasib pemotretaaaaan.
Saya kemudian bilang ke Pak Ustadznya, “Kalau saya nggak muntah apa berarti yang ada di tubuh saya ini nggak keluar, Ustadz?” geblek dah, ngapain juga saya nanya begitu. Ha emang dalam tubuh saya ini ada apanya?

“Ada banyak faktor. Sudah enteng? Ada yang berat?”

Ndilalah kaki dan tangan saya waktu itu masih berat. Ngeri-ngeri sedap kalo di inget, gaes. Tangan saya waktu itu beraaaaat banget. Saya disuruh pegang tasbih waktu itu. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Ini tangan susah banget buat pegang tasbih. Saya bisa dengar Pak Ustadz bilang, “Ooo iki.” sambil terus-terusan bilang, “Ayo keluar, saya hitung sampai tiga, jika tidak kamu akan terbakar oleh ayat-ayat suci Al-Qur’an.”

Pundak kiri saya di ketuk-ketuk, dan itu sakit bwanget rasanya. Saya sebal sendiri, kenapa kok telapak tangan saya nggak bisa digerakkan. Padahal saya dalam kondisi sadar, tapi tetap ngga bisaaaa :(

Akhirnya entah berapa lama saya bergulat dengan ruqyah itu, saya ditidurin, eh, maksudnya di baringkan di lantai. Kepala di urut kemudian hidung saya di tetesin cairan yang sumpah baunya nggak enak banget. Dari bau itu lah kemudian saya muntah. Sempat seneng juga, paling tidak rasa mual akibat insiden Surabaya itu bisa hilang. Tapi perspektif Pak Ustadz dan saya beda. Pak Ustadz mengira apa-apa yang di tubuh saya dah keluar dengan muntahnya saya tadi. Padahal mah saya muntah gara-gara gak tahan ma bau cairannya. Hiks.

Kemudian saya di interogasi oleh dua orang. Bapak sebelah saya bilang, “Mbak suka sedih, ya?” saya iya-in. Terus bapak bilang lagi, “Sedih kenapa?” saya jawab “Belum dapat jodoh, Ustaaadz” sambil ketawa.



Mari ruqyah malah judes, wqwqwq ~

Keluarga Cemara KW limolas after ruqyah.