Jumat, 12 April 2024

IDULFITRI 1445 H

April 12, 2024 0 Comments

Lebaran tahun ini seperti lebaran-lebaran biasanya. Bedanya kami sekeluarga tahun ini lebaran di Karangrejo, bukan lagi di Pakis. Sedih, tentu, tapi hidup memang begitu. Ramadan hari kesekian aku dan ibu ke Pakis untuk menemui Mak Yem, Mbah Sri, Mak Tik dan De Ros. Mereka bersemangat menyambut kedatanganku dan ibu karena tentu saja selain ini kedatangan kami pertama setelah pindah, mereka juga menyesalkan kepindahan kami yang seperti tergesa sampai tidak sempat berpamitan pada tetangga.

Ya begitulah keluargaku. Senang melakukan apa-apa dalam senyap. Dulu ketika ibu hamil Ai saja tidak ada satupun tetangga yang tahu bahkan sampai Ai lahir. Kami pulang dari rumah sakit pakai becak sambil ibu gendong Ai yang masih usia sehari. Ndilalah, keadaan sekitar rumah sepi sekali siang itu. Tapi, namanya Tupai, sepandai apapun lompat, suatu hari akan kepleset juga. Akhirnya para tetangga tahu kehadiran Ai di rumah kami.

Kembali lagi ke lebaran. Lebaran tahun ini ada suasana baru. Kalau biasanya pagi di saat idulfitri kami selalu formasi lengkap, tahun ini tidak. Ardi shift malam, jadi pagi itu ketika hari lebaran dia tidak di rumah. Dulu ketika masih di Pakis aku sering membayangkan bagaimana perasaan orang-orang yang masih harus bekerja ketika hari H lebaran. Eh, ternyata sekarang adikku sendiri mengalaminya. Dan, sebetulnya ya tidak apa-apa. Toh, tidak di momen lebaran pun setiap hari kami bertemu dan berkumpul.

Satu lagi suasana baru yang kami alami adalah karena absennya bapak di lebaran tahun ini. Beliau tidak ikut sholat id maupun unjung-unjung ke saudara karena sedang wasir. Ya, wasir a.k.a ambeien. Antara sedih dan ingin ketawa karena bapak susah duduk dan cara jalannya pun otomatis aneh. Enggak pernah terbayangkan oleh kami bapak harus megalami wasir yang sampai menyebabkan dirinya absen di momen lebaran tahun ini. Jadi, yang pergi unjung-unjung ya hanya kami bertiga. Aku, ibu dan Ai.

Keluar rumah rasanya aneh karena cuma bertiga. Ini mah seperti kami kalau lagi main aja. Entah ke pantai, ke taman atau sekadar makan di luar. Tapi, sekali lagi, itulah hidup. Dua anggota keluarga absen dan meski rasanya sedikit aneh, tetap tidak apa-apa. Dewasa ini lebaran ya begitu-begitu saja rasanya.

Seperti biasa kami berkumpul di rumah mbah. Meski telah almarhum, tapi rumah mbah selalu jadi jujugan pertama kami sekeluarga. Karena di sini ada bude kami, di rumah ini juga kami menerima banyak tamu dari tetangga sekitar.

Semakin tahun semakin menyadari para pakde, bude, om dan tante sudah semakin tua. Sepupu-sepupuku yang dulu masih single dan haha hihi bareng sekarang satu per satu sudah berkeluarga. Bahkan ada yang sudah susah pulang ke Banyuwangi karena anak masih kecil. Sekali lagi, begitulah kehidupan.

Lebaran tahun ini tidak banyak yang kupanjatkan. Tuhan telah berbaik hati memberi kami sekeluarga banyak hal. Tuhan memberi lebih dari yang kami bayangkan. Selamat lebaran, teman-teman. Maafkan aku atas segala salah, entah itu ucapan maupun perbuatan, sudi kiranya dimaafkan.

Sabtu, 06 April 2024

MENGKHIANATI SKALA PRIORITAS

April 06, 2024 0 Comments
Ramadan sudah hari ke-26, lebaran sudah di depan mata, Inspektur Vijay malah memilih bawa pulang LED TV Second segede gaban yang entah buat apa. Ya pastinya buat nonton tv, tapi kenapa? Kenapa segede jendela rumah Belanda? Padahal di rumah sudah ada tv yang masih berfungsi dengan baik.

Bapak bilang tadi pas ke tempat sepupunya beliau melihat tulisan "dijual" di LED TV itu. Sungguh aku enggak habis pikir kenapa bapak memilih menghabiskan uang THR-nya untuk beli barang itu ketimbang dipakai buat beli yang lain yang lebih penting.

Maksudku adalah, mbok ya yang penting-penting aja dulu gitu loh. Bapakku tuh memang sejak dulu kayak terang-terangan mengkhianati skala prioritas yang sudah susah-susah diciptakan di dunia ini. Enggak ada itu yang namanya memprioritaskan kebutuhan. Apa aja yang bikin dia happy, pasti dibeli.

Dulu mungkin kami, anak-anaknya, enggak banyak komplain karena masih kecil. Tapi, pas sudah dewasa begini melihat bapak impulsif beli-beli barang gitu pasti kami sewotin. Kalau sudah begitu pasti bapak juga balik sewot. Jadilah kita sewot-sewotan.

Satu sifat bapak yang sulit aku pelajari dan entah kenapa enggak nurun ke aku adalah "santai aja, jangan terlalu dipikirin". Sikap ini sebetulnya membantu kita untuk menjalani hidup yang semakin banyak akrobatnya ini. Itu sebabnya aku cocok berkawan dengan Bibeh, karena Bibeh tuh mirip bapakku. Di dekat Bibeh, semua urusan cincay saja. Di dekat bapakku, hidup yang penuh akrobat ini jadi ringan saja.

Kondisi kami yang sekarang ini, tidak bisa dipungkiri, berdampak padaku. Setiap hari kayak dicekik, padahal ya sebetulnya enggak semenakutkan itu. Bisa jadi aku enggak pernah tahu apa yang ada di pikiran bapak, beban yang dipikul beliau tanpa kami semua tahu, dan aku akan selalu berdoa pada Tuhan semoga bapak sembuh atas luka-luka yang dia rasakan sendirian.