Selasa, 27 Maret 2018

Surat dari Bapak

Maret 27, 2018 0 Comments
#OldbutGold yang pertama berkisah tentang surat dari Bapak untuk Ibu yang telah berumur 10 tahun. Berkirim informasi melalui pesan tertulis adalah kebiasaan keluarga kami. Keluarga kami baru mengenal alat komunikasi bernama ponsel pada tahun 2008, saat saya kelas satu SMP (Itupun hanya ada satu ponsel di rumah, berbeda dengan zaman sekarang yang satu orang bisa memiliki satu ponsel). Sebelumnya kami selalu berkabar lewat pesan tertulis.

Ada kebiasaan yang membekas dalam ingatan saya dulu. Saat pulang sekolah dan mendapati rumah kosong, saya selalu melihat papan tulis hitam yang tertempel di dinding atau mencari secarik kertas yang ditinggalkan. Karena di papan tulis atau kertas tersebut pasti ada pesan yang ditinggalkan oleh Bapak.

Dalam papan tulis hitam saya pernah mendapat pesan dari Bapak. Bahwa Bapak sedang pergi dan beliau sudah menyediakan lauk untuk makan siang kami, saya dan Ardi. Waktu itu Ibu saya masih jadi koki di salah satu rumah makan dekat Untag (sekarang jadi redshop), dan beliau bekerja dari pagi hingga sore. Bapak juga berpesan dalam tulisannya agar hati-hati dirumah.

Bukan sekali dua kali keluarga kami berkirim kabar melalui pesan tertulis seperti itu. Saya juga ingat, dulu Bapak sering mengajak saya dan Ardi memancing. Ketika memancing, Bapak dan Ardi selalu lupa waktu, kadang menjelang maghrib kami baru pulang. Oleh sebab itu, agar saat pulang bekerja Ibu tidak bingung mencari kemana perginya tiga orang anggota keluarganya itu, Bapak menulis surat untuk Ibu. Sederhana, tapi bersejarah.

Dulu pesan-pesan singkat seperti itu masih sempat saya simpan, tapi karena keluarga kami sering berpindah-pindah rumah, akhirnya hanya satu surat yang berhasil saya selamatkan hingga hari ini. 

Surat dari Bapak untuk Ibu inilah:

“Buat: Yayang. Tolong besok Diana suruh bawak uang Rp 3000,- untuk sangu Rp 1000,- yang Rp 2000,- untuk beli atribut seragam sekolah SMP 2, besok diantarkan ke penjahit. Sisa uangnya untuk belanja dapur tak kira cukup. Sekian. Wassalam. Papi, Banyuwangi 16-7-20... NB: mienya satu edang untuk sarapan.”

Membaca pesan seperti ini saat saya telah dewasa, ada sesuatu yang hangat mengalir di dada. Saya membayangkan bagaimana raut Ibu saya saat menemukan pesan ini dan membacanya. Bisa jadi senyum-senyum sambil mbatin, “Apaan, sih.” wqwqwq –

Saya senang membaca pesan dari Bapak itu. Segala unsur ada didalamnya. Norak, iya. Jenaka, iya. Sweet, iya. Bagian yang paling saya sukai adalah tulisan Bapak. Begitu rapi dan indah. Tulisan Bapak mirip dengan tulisan almarhum Kakung. Khas.

Kembali ke surat dari Bapak. Sayangnya keterangan tahun dalam surat itu sudah sobek. Namun, jika melihat dari isinya, saya tahu surat itu ditulis di tahun pertama saya SMP, yang itu berarti pada tahun 2008. Keterangan itu bisa dipastikan melalui penggalan kalimat “untuk beli atribut seragam sekolah SMP 2, besok diantarkan ke penjahit”. 

Begitulah Bapak, meski galak tapi beliau memiliki sisi humanis.

Jumat, 23 Maret 2018

Project #OldbutGold

Maret 23, 2018 0 Comments
Setelah beberapa hari ini dirumah ada mesin scan, saya jadi rajin mengumpulkan dokumen-dokumen lawas milik keluarga. Sebagai tukang scan Komunitas Pegon, membawa pulang mesin scan merupakan suatu benefit yang saya peroleh. Kan lumayan, saya jadi bisa melestarikan dokumen-dokumen lawas yang berharga, yang tidak ada soft file-nya.

Dulu sekali, saat saya melihat-lihat album foto milik keluarga, saya sedih karena ada beberapa foto yang telah rusak. Dan keluarga kami tidak memiliki klise ataupun soft file foto tersebut. Kemudian dari kesedihan itu, akhirnya saya memilah-milah foto yang masih bisa diselamatkan untuk kemudian suatu hari akan saya scan. Rencana nan mulia itu telah ada sejak zaman kuliah, namun apa daya belum terwujud juga hingga saya lulus kuliah. Baru kemudian ketika saya terjun dalam dunia persejarahan NU Banyuwangi inilah kesempatan itu tiba.

Nah, kali ini saya ingin membuat project tulisan dengan tema #OldbutGold. Beberapa foto atau dokumen yang sudah saya scan, akan saya beri ulasan di blog saya ini. Karena mood menulis tidak menentu, jadi saya akan menguraikannya berdasarkan momen-momen yang berkaitan dengan foto atau dokumen tersebut. Misal, 27 Rajab besok ini adalah hari lahir Ibu saya, jadi saya akan terbitkan foto-foto masa muda Ibu disertai ulasannya.

Dari kegiatan scanning ini juga saya jadi tahu bahwa tabiat primpen saya menular dari Bapak. Ada beberapa dokumen lawas yang masih Bapak jaga dengan rapi.

Jadi, sila simak segmen #OldbutGold milik saya, ya, gaes. Ini adalah upaya menyemarakkan blog yang mulai malas diisi oleh pemiliknya. Wqwqwq -

Sumber gambar: Google

Jumat, 16 Maret 2018

Damar Semprong "Suwuk"

Maret 16, 2018 0 Comments
Hari ini menjelang isya saya memutuskan untuk mandi, setelah beberapa hari tubuh penuh dosa ini tidak tersentuh air sama sekali. Seperti mendapat firasat, saya juga mengisi daya ponsel hingga full. Selesai mandi, saya duduk manis di meja belajar. Buka laptop, nonton Running Man, dan sesekali cek ponsel.
 
Tidak lama kemudian, ketika mushola sebelah rumah sedang puji-pujian, ada suara klakson motor yang saya kenali. Pasti Bibeh. Saya tidak merasa memiliki janji. Cepat-cepat saya cek WA. Benar saja, Fiya kirim pesan via WA. Mereka bertiga (Bibeh, Fiya, Fida) ada di depan pagar dan menatap penuh selidik ke arah saya.

“Mbak, gak ikut?” kata Fiya. Keadaan saya waktu itu masih memakai kaos putih kedodoran bergambar Pak Jokowi dan pakai celana tidur sepaha. Baiklah, saya suruh mereka masuk dan menunggu beberapa menit.

Sambil mengganti pakaian, saya senyum-senyum. Inikah firasat yang datang pada saya tadi? Bayangkan jika tadi saya tidak mandi, mungkin saya nggak jadi ikut mereka nonton pagelaran tetaer di Untag.

Tidak sampai sepuluh menit saya telah siap. Kami berangkat menuju warung nasi goreng. Hehehe. Jadi sebelum nonton teater, kami makan dulu. Sebenarnya di rumah tadi saya akan siap-siap makan dengan Bapak dan Ibu. Tapi berhubung tiga dara itu datang menjemput, akhirnya saya makan malam diluar.

Sudah lama sekali kami berempat tidak ngumpul seperti malam ini. Kami tak banyak bercerita, rasanya lelah jika setiap bertemu dengan mereka harus membahas hal yang sama. Akhirnya kami bahas game yang direkomendasikan oleh Fida, yang membuat saya sampai pada level 37, sungguh ironi.

Baiklah, lewatkan masalah game. Selesai makan kami langsung menuju Untag. Dari sana ternyata pagelaran sudah dimulai, kami terlambat. Setelah mendapat posisi duduk yang strategis kami mulai mengikuti segmen Sarasehan yang dipandu oleh Mbak Nana dan live di Banyuwangi TV.

Dalam sarasehan itu hadir pula Bapak Budi Osing, penulis puisi “Suwuk”, Bapak Andang, selaku rektor Untag, dan juga Mas Mocez, selaku sutradara dalam pagelaran malam ini. Dari obrolan malam ini, kita dapat ketahui Suwuk itu seperti santet, namun Suwuk adalah versi halusnya. Saya kurang mengerti bagaimana Suwuk itu sendiri. Yang jelas melalui karya tersebut, dapat diketahui bahwa Pak Budi Osing ingin memudarkan image yang melekat pada Banyuwangi sebagai “Kota Santet”.

Itu, sih, secara garis besarnya. Tapi yang paling mengesankan saya pada pagelaran malam ini adalah penampilan dari Mas Samsul yang menarikan Jejer Gandrung. Meski blio laki-laki, luwesnya bisa menandingi perempuan. Daebak pokoknya.

Saya juga megucapkan selamat untuk kawan-kawan UKM Teater Bhinneka 45 yang telah sukses melaksanakan pagelaran malam ini. Kalian hebat. Ditungu karya-karya luar biasa selanjutnya.

Salam budaya!