Hari Aids Sedunia
Meydiana Isfandari
November 30, 2014
0 Comments
Minggu, 30 November 2014.
Aku turun jalan untuk yang kedua kalinya.
Memperingati hari aids sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember.
Ini berarti sudah memasuki tahun kedua aku mengikuti KMPA di Untag.
Kelompok Mahasiswa Peduli Aids.
Kelompok yang dirintis oleh Mas Aris ini Alhamdulillah menjadi pelopor berdirinya KMPA-KMPA di kampus lain di Banyuwangi.
Sudah jadi tradisi, mekar di awal kuncup kebelakang.
Dulu, semangat teman-teman lainnya sangat membara.
Sekali dua kali pelatihan, mereka hadir selalu.
Namun, lama-kelamaan jumlah kami semakin menyusut.
Yang datang selalu itu-itu saja.
Mereka meninggalkan ladang ilmu ini.
Ladang ilmu dan pengetahuan yang disediakan dengan gratis tanpa tarif.
Kita bisa memanen sebanyak-banyaknya tanpa khawatir kantong jebol.
Selalu seperti ini. Ketika aksi peringatan tiba-tiba saja banyak orang-orang baru.
Wajah-wajah baru. Mereka berkumpul tanpa tahu harus berbuat apa.
Mereka hanya memenuhi jalan untuk membagi-bagikan brosur HIV.
Dan ketika mereka ditanya oleh pengendara tentang HIV, mereka hanya saling berpandangan tak mengerti.
Aku senang dengan keramaian kami saat turun jalan pagi ini.
Tapi, besok tidak lagi tampak keriuhan para anggotanya.
Semuanya hilang satu per satu.
Lupakan saja.
Hari ini seluruh elemen masyarakat turun ke jalan untuk berpartisipasi.
Mulai dari Dinas Kesehatan, Lapas Banyuwangi, IWABA (Ikatan Waria Banyuwangi), Pendidik, Jurnalis, Pelajar SMP, SMA, Mahasiswa, dan lainnya.
Kami start di kantor Komisi Penanggulangan Aids (KPA) dan finish di Taman Makam Pahlawan Sayuwiwit.
Disana sudah ada panggung yang menampilkan teatrikal, puisi, orasi, deklarasi, hiburan dan nyanyian yang dipandu oleh salah satu Waria dan kelompok KKBS.
Saat teatrikal yang dimainkan oleh Uniba, aku melihat sosok wanita yang sedang menggelepar di tengah panggung. Dia menggeliat-geliat kesana kemari.
Hebat sekali, sangat menghayati, pikirku.
Rambutnya yang panjang menutupi seluruh wajahnya.
Dia berteriak, menangis, tertawa.
Kami diam memperhatikannya. Aku hanya memperhatikannya dari jauh.
Wanita itu bangkit dari posisi duduknya.
Aku mendelikkan mata tak percaya.
Dia?
Aku sekarang dapat melihat dengan jelas wajahnya dibalik sisa-sisa rambutnya yang panjang.
Aku mendekat ke beberapa teman.
"Iku Ririn kan?"
Tak ada yang bersuara, mungkin karena mereka tidak mengenal dia.
Tiba-tiba Siti melihatku dan bicara, "Iyo mbak, seng pacare Pak Wo kok."
Exactly.
Dia benar-benar Ririn.
Hebat. Dia memainkan perannya dengan sangat apik.
Aku terus memperhatikannya saat turun dari panggung hingga dia berkumpul bersama teman-temannya di sisi panggung.
Dia.
Aku teringat padamu Mr. Annoying.
Ingin aku memberitahumu saat itu.
Ah, tapi untuk apa.
Ada perasaan aneh menyelinap.
Aku memutar konsentrasiku pada pertunjukan selanjutnya.
Teatrikal yang dibawakan Untag. Aku bertepuk tangan meriah bersama pasukan Merah lainnya.
Di panggung sudah ada Dwi, Mbak Desi, dan satu lagi yang aku tidak tahu namanya.
Mbak Desi.
Hari ini aku menjumpainya tanpa jilbab.
Allah. Kenapa lagi ini?
Dia berliuk-liuk menggoda di atas panggung dengan rambutnya yang hitam legam terurai.
Aku tak berminat menontonnya. Pandanganku hanya tertuju pada keramaian manusia disekitarku.
Tuhan, hari ini aku kembali melihat saudariku tumbang.
Ampuni dan lindungi dia selalu.
Tuhan, berkahilah Banyuwangiku dengan pemuda-pemuda berkualitas.
Pemuda-pemuda yang sehat. Pemuda-pemuda cerdas. Pemuda yang menjadi generasi masa mendatang.
Kuatkan hati para ODHA, Tuhan.















.jpg)
