Minggu, 30 November 2014

Hari Aids Sedunia

November 30, 2014 0 Comments
Minggu, 30 November 2014.

Aku turun jalan untuk yang kedua kalinya.
Memperingati hari aids sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember.
Ini berarti sudah memasuki tahun kedua aku mengikuti KMPA di Untag.
Kelompok Mahasiswa Peduli Aids.

Kelompok yang dirintis oleh Mas Aris ini Alhamdulillah menjadi pelopor berdirinya KMPA-KMPA di kampus lain di Banyuwangi.
Sudah jadi tradisi, mekar di awal kuncup kebelakang.
Dulu, semangat teman-teman lainnya sangat membara.
Sekali dua kali pelatihan, mereka hadir selalu.

Namun, lama-kelamaan jumlah kami semakin menyusut.
Yang datang selalu itu-itu saja.
Mereka meninggalkan ladang ilmu ini.
Ladang ilmu dan pengetahuan yang disediakan dengan gratis tanpa tarif.
Kita bisa memanen sebanyak-banyaknya tanpa khawatir kantong jebol.

Selalu seperti ini. Ketika aksi peringatan tiba-tiba saja banyak orang-orang baru.
Wajah-wajah baru. Mereka berkumpul tanpa tahu harus berbuat apa.
Mereka hanya memenuhi jalan untuk membagi-bagikan brosur HIV.
Dan ketika mereka ditanya oleh pengendara tentang HIV, mereka hanya saling berpandangan tak mengerti.
Aku senang dengan keramaian kami saat turun jalan pagi ini.
Tapi, besok tidak lagi tampak keriuhan para anggotanya.
Semuanya hilang satu per satu.

Lupakan saja.

Hari ini seluruh elemen masyarakat turun ke jalan untuk berpartisipasi.
Mulai dari Dinas Kesehatan, Lapas Banyuwangi, IWABA (Ikatan Waria Banyuwangi), Pendidik, Jurnalis, Pelajar SMP, SMA, Mahasiswa, dan lainnya.

Kami start di kantor Komisi Penanggulangan Aids (KPA) dan finish di Taman Makam Pahlawan Sayuwiwit.
Disana sudah ada panggung yang menampilkan teatrikal, puisi, orasi, deklarasi, hiburan dan nyanyian yang dipandu oleh salah satu Waria dan kelompok KKBS.

Saat teatrikal yang dimainkan oleh Uniba, aku melihat sosok wanita yang sedang menggelepar di tengah panggung. Dia menggeliat-geliat kesana kemari.
Hebat sekali, sangat menghayati, pikirku.
Rambutnya yang panjang menutupi seluruh wajahnya.
Dia berteriak, menangis, tertawa.
Kami diam memperhatikannya. Aku hanya memperhatikannya dari jauh.

Wanita itu bangkit dari posisi duduknya.
Aku mendelikkan mata tak percaya.
Dia?
Aku sekarang dapat melihat dengan jelas wajahnya dibalik sisa-sisa rambutnya yang panjang.
Aku mendekat ke beberapa teman.
"Iku Ririn kan?"
Tak ada yang bersuara, mungkin karena mereka tidak mengenal dia.
Tiba-tiba Siti melihatku dan bicara, "Iyo mbak, seng pacare Pak Wo kok."

Exactly.
Dia benar-benar Ririn.
Hebat. Dia memainkan perannya dengan sangat apik.
Aku terus memperhatikannya saat turun dari panggung hingga dia berkumpul bersama teman-temannya di sisi panggung.

Dia.
Aku teringat padamu Mr. Annoying.
Ingin aku memberitahumu saat itu.
Ah, tapi untuk apa.

Ada perasaan aneh menyelinap.

Aku memutar konsentrasiku pada pertunjukan selanjutnya.
Teatrikal yang dibawakan Untag. Aku bertepuk tangan meriah bersama pasukan Merah lainnya.
Di panggung sudah ada Dwi, Mbak Desi, dan satu lagi yang aku tidak tahu namanya.

Mbak Desi.

Hari ini aku menjumpainya tanpa jilbab.
Allah. Kenapa lagi ini?
Dia berliuk-liuk menggoda di atas panggung dengan rambutnya yang hitam legam terurai.
Aku tak berminat menontonnya. Pandanganku hanya tertuju pada keramaian manusia disekitarku.

Tuhan, hari ini aku kembali melihat saudariku tumbang.
Ampuni dan lindungi dia selalu.
Tuhan, berkahilah Banyuwangiku dengan pemuda-pemuda berkualitas.
Pemuda-pemuda yang sehat. Pemuda-pemuda cerdas. Pemuda yang menjadi generasi masa mendatang.
Kuatkan hati para ODHA, Tuhan.



Rabu, 26 November 2014

Unpredictable Feeling

November 26, 2014 0 Comments
Dia kembali.
Dengan suasana berbeda.
Ya. Setelah sekian lama.
Setelah segalanya jelas.
Dia kembali.

Memang sudah tidak seperti dulu.
Ada jarak yang membentang.
Jelas sekali.

Kenapa kau tidak juga paham dengan maksudku?
Kenapa kau malah terkesan menyerah?
Atau memang dia sudah menyerah?
Sampai disitu saja?

Ah, payah.

Kau membuatku bimbang.
Perkataanmu seolah menyuruhku untuk pergi saja.
Seolah tidak ada lagi celah.

Tapi kenapa aku memilih untuk tetap bertahan disini?
Aku bisa saja pergi.
Aku bisa saja merubah arah tujuanku.
Tapi kenapa sulit sekali Tuhan?

Sedangkan dia mudah saja melakukannya.
Dia bisa melenggang semaunya.
Inikah?
Inikah yang orang bilang bahwa wanita selalu lemah dalam perasaannya?
Laki-laki bisa sangat mudah berpaling.
Wanita?
Dia mungkin tidak bisa menyembunyikan rasa cemburu.
Tapi menyembunyikan cinta? Dia bisa hingga 40 tahun lamanya.
Apa iya wanita harus menderita selama itu?

Untukmu yang saat ini aku tidak tahu lagi bagaimana arah tujuanmu.

Sabtu, 22 November 2014

Bertahan Sendiri

November 22, 2014 0 Comments
Satu per satu perasaan kesal itu muncul.
Muncul perlahan. Hingga tidak dapat lagi terbendung.
Aku kesal pada keadaan ini.
Perasaan kesal itu seakan menutup diriku pada apa yang ada di depan mata.
Pada kenyataan.
Pada sekitar.

Salahku?
Iya. Semua salahku. Aku yang salah.
Dia salah menerima maksudku, mungkin.
Dia tidak salah.
Ya. Dia selalu benar, kok.

Perasaan ini semakin hari hanya semakin mengekangku.
Aku sudah mencoba menyibukkan diri dengan segala macam kegiatan.
Aku sudah berusaha untuk baik-baik saja.
Tanpa perasaan kesal.
Tanpa perasaan jengkel.
Tanpa perasaan was-was.

Sia-sia.

Aku tetap disini. Bertahan semampuku.
Aku tetap disini. Melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku tetap disini. Untuk membuktikan kalimat-kalimatnya.

Sampai kapan?
Aku juga tidak tahu.

Sekarang biarkan dulu.
Biarkan dia sibuk dengan perhatian yang dia inginkan.
Biarkan semuanya mengalir.

Kembali ketika aku harus melihat kenyataan.
Kenyataan bahwa segalanya sudah berubah.
Tidak ada apapun di dunia ini yang abadi.

Saat ini mungkin aku gagal.
Dia yang lebih bisa membuatmu nyaman.
Pasti bukan gadis biasa.

Aku disini saja. Berjuang untuk menahan diri.
Tapi sepertinya hanya aku sendiri yang berjuang, ya?
Benar kah?

Ya sudah.
Wajahku sudah mulai panas.
Aku tidak mau ada anak sungai lagi.

Rabu, 12 November 2014

Nickname

November 12, 2014 0 Comments
Meydiana Isfandari.

Indah bukan main. Nama itu sumbangan dari berbagai pihak. Hehehe, iyaa sumbangan.
Budeku adalah orang yang selalu ingin memberikan idenya untuk dijadikan nama pada setiap bayi yang lahir pada garis keturunan Fachrudin.

Tidak terkecuali aku dan adikku, Fahri.

Mey. Sesuai dengan bulan kelahiranku.
Diana. Nama ini diberikan Bude Tin padaku. Entahlah, mungkin beliau terinspirasi oleh Lady Diana, mungkin. :D
Isfandari. Aku tidak terlalu tahu asal-usul nama ini. Tapi yang jelas aku menyukainya.

Sejak taman kanak-kanak aku dipanggil Diana oleh teman-teman. Dirumah pun orang tua, saudara, para tetangga juga memanggilku Diana.
Hingga saat SD beberapa teman yang dulu juga teman TK mulai merubah-rubah panggilanku. Jadilah aku dipanggil Mey hingga sekarang ini.
Namun ada juga beberapa teman SD yang masih memanggilku Diana hingga sekarang. #Tengkyuu :D

Panggilanku bagi beberapa teman pun berbeda.

Rani. Teman SMPku ini memanggilku Acot. Yaah you knows lah -_-
Dan karena aku memanggilnya "Cut" akhirnya sekarang dia memanggilku dengan tiga huruf dibelakang saja, "Cot". Duuh nggak enak banget -_-

Ka.

Nama ini mereka sematkan padaku sejak kelas satu SMK. Karena dialog Bahasa Inggris dulu akhirnya aku dipanggil "Ka" oleh teman-teman, walaupun tidak semua.
Ka. Tidak berhenti disitu saja. Ka itu ada lanjutannya.

Yaitu, Kairo. Aku yakin ini pasti faktor wajah. Pasti.

Dikampus aku menemui beragam lagi nama-nama yang mendarat padaku.
Ada Pak Wo (Ruri si ketua teater) yang selalu memanggilku Diana. Walaupun dia tahu bahwa teman-teman selalu memanggilku Mey. Yo wis lah Pak Wo sak bahagiamu.

Om (Adi) yang selalu memanggilku Kunti entah karena apa hingga sekarang. Dia bilang itu panggilan kesayangan. Ouuuhh, sweet sekali om gede ini :D

Ada juga Mas Aziz yang memanggilku Meyrab. Hhh apa lagi ini??? -_-
Atau Mas Puguh yang dengan bangganya memanggilku Pakistan.
Okee, terserah.

Mas Bondan yang selalu memanggilku "Nduk". Ademnyaa dipanggil nduk. Terlepas dari keinginanku memiliki Abang. Beliau selalu menjadi guru yang baik untukku. Selalu menjadi inspirasi. Cerita-ceritanya yang selalu membuatku menangis. Cerita masa lalunya. Ah, Mas Bondan.

Melinda bahkan pernah memanggilku toa masjid. Semenggelegar itukah suaraku Mel??? -_-

Oh yaa.
MeyIs. Ah panggilan ini. Apa kabar?

Senin, 10 November 2014

Mencari Yang Sempurna

November 10, 2014 0 Comments
Pagi ini aku membuka Dasbor Blogger. Di daftar bacaan aku melihat tulisan baru dari Blog Peyempuan. Tulisan yang diposting dua hari lalu itu sangat keren.

"Mencari yang sempurna tak akan ada punahnya,
Karenanya aku berakhir pada hatimu.
Mencari yang sempurna tak akan ada habisnya,
Karenanya aku berhenti pada cintamu.

Ada peyempuan yang begitu rupawan,
Kau pilih, namun ia tak bisa menyajikan cinta pada meja makan
Lalu kau pergi untuk itu.

Ada peyempuan yang sangat jelita, juga pandai meracik masakan
Kau pilih, namun ia tak bisa kau ajak bertukar pikiran
Lalu kau pergi untuk itu.

Ada peyempuan yang begitu menawan, lihai membuat panganan dan asik berbagi wawasan
Kau pilih, namun ia tak memilihmu, kasihan.
Lalu kau terdiam karena itu.

Jelas, ia menawan, pandai meracik masakan dan asik bertukar pikiran
Namun kau tak terlihat tampan, tak cukup mapan dan tak romantis menaklukan perasaan.

Seperti itulah lingkaran kesempurnaan,
Tak pernah berakhir sampai kau putuskan untuk berhenti pada satu hati dan cinta
Bukan tak ingin kesempurnaan,
Tapi aku tahu, mencarinya telah membuat banyak hati menjadi perih dan patah."

Semangat Senin. Semoga berkah^^



Hari Pahlawan

November 10, 2014 0 Comments
Mengutip pesan Bung Karno, Bapak Proklamator kita, “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah” atau yang disingkat dengan Jassmerah dan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya” tentu ada makna yang tersirat dalam fase perjuangan bangsa kita. Bangsa Indonesia tidak akan lepas dari peristiwa 10 November 1945, peristiwa pertempuran yang dilakukan oleh arek-arek Suroboyo dalam masa perjuangan demi mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebagai bangsa yang besar, tentu tidak sedikit perjuanganan para pahlawan yang telah bersedia mengorbankan jiwa dan raganya demi menjaga kedaulatan bangsa. Sampai pada saatnya, tepat tanggal 10 November 1945 menjadi momentum yang bersejarah bagaimana semangat juang veteran kita yang dikomando oleh Bung Tomo saat itu dengan semboyannya yang khas “Merdeka atau Mati” mampu membakar semangat nasionalisme rakyat Surabaya untuk mempertahankan harkat dan martabat bangsa Indonesia yang telah merdeka dari penjajah. Peristiwa yang disebut-sebut sebagai peristiwa perang terbesar setelah Perang Dunia II. Sampai akhirnya, tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Namun, semangat juang pemuda pada saat ini semakin surut dari tahun ke tahun. Pemuda saat ini hanya melakukan peringatan yang cenderung bersifat seremonial. Setelah itu sudah, tidak ada lagi implementasi semangat nasionalisme yang membara seperti yang pernah dilakukan oleh pejuang muda kita di masa kemerdekaan.

Melihat perkembangan global yang sangat maju dan pesat ini, kita hidup pada era keterbukaan dan kompetitif. Bukan lagi berperang dengan menggunakan senjata seperti saat pertempuran yang dipimpin oleh Bung Tomo dan menewaskan Jendral Mallaby dari pihak koloni melainkan bagaiaman kita bisa memiliki pemimpin-pemimpin baru yang mampu mengelola kekayaan sumber daya alam dan manusia yang dimiliki oleh Republik ini.

Era pasca kemerdekaan, tentu tugas kita bukan lagi berpanas-panasan merasakan teriknya matahari yang turut membakar semangat arek-arek Suroboyo. Kita tidak perlu lagi bberlarian menghindari deru senjata tentara Inggris, kita tidak perlu bersusah payah mengatur strategi perang dan hal-hal lain yang berkaitan dengan armada senjata.

Lantas bagaimana peran kita dalam mengisi Hari Pahlawan yang jatuh setiap tanggal 10 November itu? Bagaimana peran pemuda dan mahasiswa yang disebut-sebut sebagai agen of change, agent of control, dan istilah-istilah perubahan lainnya?

Pahlawan dalam bahasa Sanskerta adalah phala-wan yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama, adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.

Selama ini jika kita berbicara tentang pahlawan yang selalu muncul dalam benak kita adalah sosok seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Pangeran Antasari, Cut Nyak Dien, Ahmad Dahlan, dan pahlawan kemerdekaan lainnya.

Bagaimana dengan sosok perobek bendera Belanda di hotel Yamato? Atau Frans Mendur yang mengambil gambar Proklamasi 17 Agustus 1945 dengan pelat filmnya yang hanya tersisa tiga lembar?

Kita tidak pernah tahu dengan pasti siapa yang dengan heroiknya berani merobek bendera Belanda itu. Kita juga sering terlupa dengan alasan mengapa dokumentasi peristiwa bersejarah Proklamasi hanya ada tiga? Bisa dibayangkan jika tidak ada Frans Mendur waktu itu? Kita generasi bangsa tidak akan pernah tahu bukti nyata dari Proklamasi. Mungkin itulah pesan singkat yang disampaikan oleh Proklamator kita, betapa berartinya jasa pahlawan terlepas dari siapapun latar belakang pahlawan itu.

Saat ini, bangsa Indonesia membutuhkan banyak pahlawan di segala bidang kehidupan. Pahlawan yang dapat membawa bangsa ini menjadi bangsa yang lebih demokratis, bangsa yang damai, dan bangsa yang adil yang mampu menjembatani setiap warga Negara Indonesia menjadi bangsa yang cerdas dan memiliki semangat nasionalisme yang tinggi.

Hari Pahlawan bukanlah semata-mata sekedar sebuah peringatan seremonial saja. Kita gunakan momen ini sebagai bentuk refleksi dari apa yang sudah diperjuangkan oleh pejuang revolusioner kita. Selaras dengan semangat pemerintahan yang baru, jadikan momen ini sebagai pembangkit diri kita sebagai pribadi yang unggul dan dapat terus berinovasi serta lebih mendahulukan kepentingan persatuan dan kesatuan bangsa.

Tahun 2015 mendatang, Indonesia akan terlibat dalam kelompok masyarakat ekonomi ASEAN (MEA 2015) tentu butuh kesiapan yang matang agar tidak lagi kita sebagai tuan rumah hanya dijadikan sebagai penonton saja. Sudahkah masyarakat kita sanggup untuk berkompetisi dengan bangsa lainnya? Maka dari itu, pentingnya arti kemerdekaan bukan saja sekedar sebagai seremonial semata. Tapi, dukungan oleh semua pihak untuk mengimplementasikan dan bersinergi lebih kuat sehingga bangsa kita menjadi bangsa yang berdaulat dan mandiri.


Sehingga, dalam mengisi kemerdekaan ini kita semua bangsa Indonesia dapat lebih mencintai tanah air dan membawa perubahan yang lebih bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selamat Hari Pahlawan! Terima kasih atas segala pengorbanan jiwa dan raga mu…

Minggu, 09 November 2014

Unknown Number

November 09, 2014 0 Comments
Aku pernah akan bercerita tentang unknown number yang menghubungiku tempo hari.
Waktu itu aku sedang di lobby kampus bersama bang dado.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku lihat screen HP. Nomor baru. Tidak terdaftar dalam phonebook ku.
Bang dado melihatnya. Melihat juga keherananku.

"Sini aku aja yang angkat"

Aku menurut saja dan memberikan ponselku pada bang dado.
Aku juga sedang malas menerima telpon dari nomor tak dikenal.
Bang dado mulai berbicara dengan orang yang ada di seberang.
Sayup-sayup aku mendengar bahwa yang menelpon adalah laki-laki.
Aku terus memperhatikan bang dado.

Lucu sekali.

Dia berbicara dengan logat yang dibuat-buat agar terlihat serius.
Aku pikir lawan bicaranya itu akan keder menghdapi bang dado yang entah dia mengira siapaku.
Abahku. Abangku. Mungkin juga mengira pacarku.
Bang dado juga mulai sok menginterogasi si penelpon. Dia menanyakan hal-hal yang bersifat protected.

"Kamu siapanya Mey?"
"Ada perlu apa?"

Hahaha ...
Ah bang dadoo.

Setelah adegan mengerjai itu, akhirnya bang dado menyerahkan ponselku kembali.
Ternyata yang menelpon Mas Anang.
Iyaa ... Mas Anang bem-u.

"Minta tolong ya Mey, komunikasikan sama teman-teman PMAD untuk ikut rapat kepanitiaan."

Setelah aku menutup telepon aku melihat bang dado disebelahku.

"Anang siapa Mey?"
"Mas Anang bem-u."

Kami pun tertawa.

Aku jadi membayangkan betapa menyenangkannya memiliki seorang abang.

Okee. This is the last holiday.
Selamat kuliah kembali Mey^^

Rabu, 05 November 2014

My Wednesday

November 05, 2014 0 Comments
Rabu pertama Bulan November.

Gusti, sudah stadium berapa sebenarnya?
Stadium berapa penyakit lupaku ini?

Pagi ini aku lagi-lagi membuat kegaduhan dirumah.
Aku kehilangan proposalku.
Proposal kegiatan seminar yang sebantar lagi akan dilakukan.
Where are you?
Seingatku, semalam setelah ketua panitia menandatangani proposal itu aku memasukkannya ke dalam tasku. Ya, aku sudah memasukkannya, lalu pulang kerumah.

Aku mencoba mengingat-ingat semua kegiatan yang aku lakukan setelah sampai dirumah.
Seingatku juga aku tidak mengeluarkan apapun dari tas ranselku itu selain dompet.
Jadilah aku pagi ini panik luar biasa. Membongkar tumpukan diktat yang menurutku tidak mungkin ada disana. Mengeluarkan segala isi tas dan memeriksa map transparan secara teliti.

Duh, saat seperti ini tidak mungkin lagi aku bisa teliti dan hati-hati.
Hanya panik dan panik yang terus menyerangku.
Ditambah handphone yang selalu bergetar tanda sms masuk.
Temanku sudah menungguku di kampus.
Ayolah proposal, kamu dimana?

Ibuku yang sedari tadi aku jejal dengan pertanyaan tentang tahu tidaknya beliau perihal proposal itu, hanya melihatku dengan prihatin.
Mungkin beliau sudah lelah dengan sifat cerobohku ini.

Saat panik seperti ini aku teringat kata-kata mentorku di MKMB.
Aku mencoba mempraktikannya.
Aku duduk di bibir ranjang dan menghela nafas panjang.
Mencoba menetralkan emosi yang sedang dipuncak.
Aku diam sejenak.

Sudah payah aku mencarinya kemana-mana.

Lalu mataku tertuju pada sebuah laci dihadapanku.

Disanakah?
Perasaan aku tidak memasukkannya ke laci itu.

Aku berdiri dan membuka laci itu perlahan.

Benar saja.
Proposal bersampul biru muda itu tergolek santai di dalam.
Gustiii, kan aku sendiri semalam yang meletakkanya disana untuk menghindari kelungsetan.
Kenapa aku jadi pelupa seperti ini?

Ketika awal saja semua berantakan seperti ini. Pasti akan terus menular pada kejadian-kejadian selanjutnya.
Setelah proposal itu kumasukkan dalam tas aku segera berangkat ke kampus.
Ketika motor sudah hampir sampai gerbang rumah, aku merasakan kepalaku ringan sekali.

Astaghfirullah. My helmet.
Aku buru-buru masuk lagi kedalam rumah dan mengambil helm-ku.
Sebelum kejadian proposal hilang itu pun aku sudah mengalami kejadian annoying lainnya.
Pagi tadi, tanganku ketumpahan air panas ketika akan menyeduh susu coklat.
Huaaaa sakitnya itu dimana-mana. Dan akhirnya jemari kecilku ini memerah.

Oh God, thanks for the wonderful Wednesday.


Selasa, 04 November 2014

Try Before You Die

November 04, 2014 0 Comments
Mey, judulnya spooky banget.
Iyaa, kalimat super yang aku dapat dari mentorku.

Benar memang. Lakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan sebelum kamu mati.
Iya kan? Lakukan saja, daripada menyesal tidak pernah melakukan?

Aku sedang belajar melakukannya.
Ini semacam keluar dari zona nyaman. Keluar dari zona aman.
Zona yang selama ini selalu aku lalui.

Yaa biarlah aku melakukan hal-hal yang selama ini belum pernah aku lakukan.
Dengan tetap tidak melanggar segala prinsip.

Hhhh tiba-tiba rasa malas untuk menulis datang menyerang.
Ini saja dulu. Inspirasi sedang ngambek.

Oh yaa, besok entah kapan aku akan menuliskan tentang unknown number yang menghubungiku tadi.

Gusti, besok hari yang indah kan?

Minggu, 02 November 2014

Kesempatan Kedua

November 02, 2014 0 Comments
Orang bilang sebuah kesempatan itu tidak akan datang untuk yang kedua kalinya.
Jika kedua kali, itu artinya anugerah.
Tapi kemudian ada lagi orang bilang bahwa setiap orang juga berhak atas kesempatan kedua.
Setelah itu? Apa dengan adanya kesempatan kedua lantas akan memungkinkan adanya kesempatan ketiga, keempat, kelima dan seterusnya?
Tentu tidak. Itu menandakan seseorang tidak benar-benar serius dalam memperbaiki kesalahannya.

Kesempatan kedua itu ada untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik lagi. 

Jumat kemarin aku tidak konsentrasi mengerjakan UTS Kepegawaian.
Pengawas ruanganku adalah Bu Yusmia, dosen Statistik kami.
Saat itu, saat sedang mengawas, Bu Yusmia membawa seluruh hasil UTS Statistik kami untuk dikoreksi. Jadi, didalam kelas itu -saat kami sedang mengerjakan kepegawaian- Bu Yusmia tengah asyik memeriksa hasil pekerjaan kami.
Kenapa aku tidak konsentrasi?
Aku adalah tipe anak yang tidak suka duduk dibelakang. Jadi saat di kelas, seminar, ataupun UTS aku selalu duduk di depan. Saat itu mejaku hampir berhadapan dengan meja pengawas. dari tempat dudukku ini aku bisa melihat jelas akivitas Bu Yusmia yang sedang mengkoreksi kertas ujian Statistik kami.
Suara spidol Bu Mia yang dengan ganasnya mencoret-coret kertas itu membuat konsentrasiku terganggu.
Sesekali aku melihat ekspresi wajah Bu Mia yang tidak jarang geleng-geleng sambil menarik nafas panjang. Aduh, pasti hasilnya buruk, pikirku.

Sepanjang waktu aku hanya berdoa semoga nilai Statistikku memuaskan.

Perlahan satu dua temanku sudah menyelesaikan soal Kepegawaian itu dan mengumpulkannya ke depan. Ke Bu Mia. Di depan sana teman-temanku disambut oleh kertas ujian Statistik mereka.
Aku memperhatikan ekspresi wajah mereka.
Ada yang tidak berani membuka kertasnya, dan ketika dibuka teman yang bersangkutan tertawa kecut melihat nilainya yang kecil.
Ada juga yang baru dibuka saat sudah keluar ruangan dan kemudian tertawa terbahak-bahak melihat nilainya sendiri. Hmm ... itu adalah Wahyu si badboy :D
Ada yang saat melihat nilainya seperti bebek (alias 2) dia hanya tersenyum bersahaja. Ini hanya permulaan, mungkin begitu pikirnya.

Aku masih duduk di tempatku sambil memperhatikan teman-temanku. Belum berniat mengumpulkan kertas ujian ke depan dan menerima kertas Statistik itu. Aku melihat Bu Mia. Beliau hanya tersenyum (sok) misterius. Ah, Bu Miaaa apa arti dibalik senyummu ituuu...

Akhirnya aku bangkit (bukan dari kubur) dari tempat duduk dan mengumpulkan kertas ujian.

NIMmu berapa Mey?

21.13.1290 buk. Kataku tegas.

Bu Mia menarik sebuah kertas folio dan memberinya padaku.
Dengan takjub aku menerimanya, bak seorang paski yang sedang menerima bendera dari Presiden saat upacara 17-an di Istana Negara.

Aku melangkah mundur dengan tetap senyam senyum pada dosenku yang satu ini. Aku berbalik dan mulai membuka lipatan folio itu. Disana tertera jelas sekali angka yang langsung membuatku berteriak dan melompat kecil.

Aku berbalik lagi melihat Bu Mia.
Bu Mia hanya mengerutkan kening sambil geleng-geleng.
Ah, sudahlah buk aku memang lebay :D
Aku senang. Nilai ini tidak pernah terbayang sebelumnya. Walaupun tidak sempurna tapi aku puas. Nilai ini lebih besar daripada tugas yang sempat beliau berikan beberapa bulan lalu.

Teman-temanku. Aku sedih ketika mereka tidak berhasil mencapai nilai minimum.
Sedih ketika harus melihat angka-angka pemicu "mengulangi" tertera di kertas mereka.
Aku jadi ingat semangat belajar mereka yang membara beberapa waktu lalu di TMP

Nilai kecil bukan semata-mata kita tidak pintar.
Nilai kecil itu aku harap membuat kalian lebih rajin belajar. Tidak meremehkan tugas. Tidak meremehkan dosen. Tidak meremehkan waktu. 
Percaya diri saja. Tidak perlu ribut saat ujian.

Nah, aku, kamu, kita, masih memiliki kesempatan kedua saat UAS nanti.
Kita masih bisa memperbaiki apa yang rusak. Kita masih bisa memperbaiki apa yang salah.
Kita gunakan kesempatan kedua kita ini sebaik mungkin gaes :-)


22 Oktober 2014
Belajar Bersama Statistik












Sabtu, 01 November 2014

Semangat Kawan

November 01, 2014 0 Comments
Hari ini aku mendapat kabar dari Ima.
Kabar sedih. Gusti, sepertinya atmosfer sedih sedang senang menghampiriku.
Kabar yang tidak ingin kudengar.
Kabar yang sangat mengejutkan aku.

Ka, Intan mau operasi.

Deg.

Aku tahu Ima, Intan dan Aku adalah tiga anak manusia yang suka sekali bercanda. Di SMK kami selalu bertiga sebelum akhirnya ada Inda yang menjadikan kami selalu berempat. Tapi tolong, jangan membuat lelucon semacam ini.
Sejak kuliah, aku tidak intens lagi berkomunikasi dengan Intan dan Ima. Mereka berdua kuliah di Jember.

Serius Ka. Tumor di payudara.

....................

Allah. Apa ini?
Kenapa cobaan-Mu seberat ini? Dan kenapa harus Intan?
Dia yang untuk melanjutkan kuliah saja harus bersusah payah. Sekarang dia harus bersusah payah lagi untuk ini?

Aku tidak pernah membayangkan bahwa salah satu diantara kami akan mengalami hal seperti ini. Memiliki tumor jelas membuat mental seseorang down. Dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya. Ketakutan akan penyakit yang sedang bersemayam dalam tubuhnya. Ketakutan untuk operasi. Ketakutan akan jarum suntik.

Penyakit yang selalu kami bayangkan akan menyerang orang-orang berduit saja (seperti di tv2)
Penyakit kami ya paling-paling hanya batuk, pilek, panas, jerawat, mentok tipus.
Tapi sekarang sebuah penyakit yang menurut kami berat itu berada dalam tubuh sahabatku, Intan.

Aku terlalu speechless untuk mengungkapkan rasa sedih. Hanya emoticon :'( ini yang berkali-kali kukirim untuknya di messenger dan kata-kata penyemangat dariku.
Percaya selalu Tan, cobaan-Nya tidak akan melebihi batas kesanggupanmu.
Percaya selalu Tan, aku dan Ima selalu disni. Meskipun raga tidak bersua tapi doa akan selalu menyapa. Aku tahu kamu gadis yang hebat. Kamu pasti bisa mengatasi segalanya dengan baik. kamu pasti bisa menyelesaikan ujian dari-Nya ini dengan baik pula.

Ima, Aku, Intan
Perpisahan sekolah :)

Semangat selalu, Intan Kurniasari.
Kamu pasti sembuh.

Awal November

November 01, 2014 0 Comments
Sebenarnya aku menulis ini tadi jauh sebelum bulan Oktober habis. Tapi ternyata terposting di awal November. Yasudah.

Mey^^
How's your day?
Aku baik-baik saja. Mungkin tidak sama seperti kemarin. Tapi sungguh aku telah baik-baik saja.
Jangan di ingatkan. Aku bisa sedih lagi nanti :D
Hari ini rasanya segala beban berat dipundak sudah lepas. Sudah terasa ringan, tidak berat lagi.
UTS Kepegawaian sudah kulalui. Itu tandanya tugas itupun sudah kutuntaskan tepat waktu. Ya, tepat waktu.
Rasanyaaa ...
Setelah kejadian itu aku jadi malas melakukan apapun. Tugas-tugasku berantakan. Konsentrasi belajarku juga berantakan. Aku juga pesimis akan dapat menyelesaikan tugas-tugasku itu. Huwaaa, kejam sekali yaa masalah perasaan?

Bayangkan saja, aku menerima balasannya hari Senin. Besoknya adalah hari pertamaku UTS.
Bisa dibayangkan? Betapa nelangsanya?
Aku kacau waktu itu. Aku seperti ikan yang dilepas tulangnya. Tidak berdaya. Aku sama sekali tidak konsentrasi mengerjakan soal Wawasan Kebangsaan yang tengah diujikan. Aku sama sekali tak berminat pada tiap-tiap soal yang tertera di kertas soal. Aku hanya menjawab semauku, rasa malas yang luar biasa menyerangku. Aku bersyukur karena ini masih UTS.
Entah apa jadinya jika hal itu terjadi ketika aku sedang menempuh UAS. Bisa-bisa aku gagal menjadi seperti semester lalu.

Aku baru tahu rasanya :D
Jadi begini kah?
Pantas saja dulu temanku seperti itu. Aku dulu hanya menganggap itu masalah remeh temeh yang childish sekali. Lebay, pikirku. Dia sampai menangis di kelas, di depan teman-teman. Apa sih yang kamu tangiskan itu?
Tapi aku salah. Rasanya memang luar biasa. Sakitnya dimana-mana bahkan.
Aku menangis. Untuk seorang laki-laki antah berantah itu. Yang aku kenal bahkan baru hitungan bulan. Luar biasa dahsyat sebuah perasaan.

Setelah itu aku lebih suka diam. Berlama-lama di kamar. Menulis di blog seperti malam ini.
Diam-diam membaca lagi tulisanmu. Dan ya, akhirnya sedih lagi :D

Aku butuh liburan. Aku mau mengembalikan lagi semangatku. Aku rindu tidur siangku yang akhir-akhir ini tersita. Setelah ujian ini selesai aku ingin istirahat saja.

Mey, seminarnya???

Kan ada yang lain. Biarkan mereka melakukan sesuai tupoksi.
Gustiii, lelah sekali semester ini.