Rabu, 24 Juli 2024

BAHASA KASIHKU

Juli 24, 2024 0 Comments

Akan selalu ada masanya dimana kita benar-benar mengenal siapa diri kita sebenarnya. Apa yang kita senangi, apa yang kita tidak sukai, apa yang menjadi keunggulan kita, apa yang menjadi kelemahan kita. Apa yang selalu kita lakukan ketika stres. Apa hal-hal yang kita hindari untuk merasa aman dan nyaman.

Ada banyak hal yang aku pelajari selama ini. Salah satunya soal apa yang suka aku lakukan kepada orang lain. Aku menyadari salah satu bahasa kasihku yang aku suka berikan kepada orang lain adalah word of affirmation, pujian melalui kata-kata. Tidak jarang tanpa aku sadari kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa peduli soal dampaknya.

Tapi, yang aneh justru aku tidak cukup senang ketika mendapat hal serupa dari orang lain. Bahasa kasihku dari orang lain bukan pujian melalui kata-kata. Meskipun aku akan selalu berterima kasih atas pujian-pujian tersebut. Alih-alih pujian aku lebih suka act of service.

Bagi orang lain mungkin hal sepele, tapi bagiku tidak. Aku menyadari hal ini ketika banyak momen dimana aku mendapat act of service. Dan ketika mendapatkan hal itu ternyata cukup membuatku penuh kupu-kupu. Terlepas dari jenis kelaminnya, mau dia laki-laki atau perempuan, aku akan sangat menghargainya.

Dulu, aku pernah memandu sebuah acara. Di acara itu ada stage manager yang bertanggungjawab untuk mengkoordinasikan semua aspek dari produksi panggung, termasuk juga kapan MC harus in dan out. Ada momen ketika aku dan partner MC-ku selesai segmen pertama, kami langsung ke backstage. Di situ stage manager ini langsung membukakan botol minum dan menyodorkan kepadaku agar bisa segera dikonsumsi.

Nah, gesture kecil seperti ini ternyata membekas. Aku senang dan terkesan. Ada juga momen ketika aku pergi kondangan dengan teman. Gesture teman mengambilkan piring dan sendok kepadaku ketika kami hendak makan juga membuatku merasa happy. Dari sana aku menyadari bahwa aku senang menerima bahasa kasih yang satu ini. Meskipun mungkin si pemberi tidak menyadari hal kecil yang mereka berikan ini berdampak padaku.

Sama halnya dengan pujian yang aku berikan kepada orang lain semata ya karena memang itulah yang aku rasakan. Ada teman yang baru cukur rambut, aku tidak akan segan bilang "waaahhh bagusnya". Atau parfum yang mereka pakai wanginya aku suka, aku juga tidak akan segan memuji bau harum mereka.

Jadi, aku rasa penting buat kita memahami bagaimana diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum akhirnya nanti kita akan mantap untuk berbagi hidup dengan manusia lainnya selamanya. Selamanya itu tidak sebentar, jadi pastikan kamu bersama orang yang tepat dan benar. Orang yang bisa memahamimu dan juga bisa memahami dirinya sendiri.


Jumat, 14 Juni 2024

KEJUTAN DARI TUHAN

Juni 14, 2024 0 Comments

Menulis catatan ini di hari libur kerja. Aku belum cerita, ya? Aku sekarang bekerja, literally bekerja di sebuah perusahaan. Yes, di usia 29 tahun ini aku memulai lagi dari awal, and it’s really okay.

Tepat saat ulangtahunku kemarin (31/5) aku mendapat pengumuman hasil interview hari Selasa (28/5). Mungkin sebelum tiba-tiba pengumuman interview aku akan cerita bagaimana muasalnya aku bisa ikut interview.

Beberapa waktu yang lalu, adik sepupuku, Hani, menawarkan posisi admin di tempatnya bekerja, CV Boga Lestari, atau yang lebih kita kenal dengan Amanda Brownies. Admin lama akan resign per akhir Mei 2024. Aku yang waktu itu merasa bosan dengan rutinitasku, berani untuk mencoba.

Kandidatnya tidak hanya aku saja, ada satu lagi kenalan kepala cabang outlet. Selasa pagi kami datang dan memenuhi panggilan interview. Selayaknya interview, kami ditanya ini itu. Aku menjawab semua dengan tanpa beban, nothing to lose. Sudah lama enggak ngantor membuatku gugup kalau misalnya nanti diterima. Sepertinya selama ini aku terlalu lama freelance tidak terikat apapun, jadinya tiba-tiba gugup.

Selesai interview aku siaran seperti biasa. Sampai kemudian hari Jumat, tepat di momen ulangtahunku ke 29 tahun, Hani menelpon. Dengan diawali drama sinetron Hani kasih kabar kalau aku diterima. Sebetulnya firasat diterima ini sudah aku rasakan sejak dia kirim WA ke ibuku soal surprise untukku.

Long short story, Jumat malam aku mendapat pesan resmi dari kepala cabang Amanda Banyuwangi. Besok siang (1/6) aku sudah mulai masuk bekerja. Semua terasa cepat, malam itu aku, ibu dan Ai sedang menghadiri selawat dalam rangka harlah Ansor ranting Karangrejo. Perasaan pertama yang aku rasakan adalah bingung.

Aku bingung bagaimana nanti memberi tahu programerku di Mandala. Awal-awal aku masih belum berterus terang soal mendapatkan pekerjaan. Jadi, Sabtu dan Minggu itu aku masih izin tidak siaran, dengan alasan yang tidak aku jelaskan. Satu dua hari masih oke, tapi tentu saja hari Senin aku mulai menceritakannya pada programer. Dengan beberapa pertimbangan aku harus menyesuaikan jadwalku siaran.

Akhirnya aku berada pada titik dimana aku pernah memintanya pada Tuhan. Aku ingin sibuk, aku mau sibuk bekerja sehingga tidak ada lagi bagian-bagian yang membuatku merasa hidup ini tidak adil. Tapi, hey, memangnya kapan hidup itu adil?

Begitulah prosesnya berjalan. Di hari keempat belas ini aku mulai bisa mengatur tempo. Aku mulai bisa menikmati ritmenya. Segalanya aku harap bisa berjalan dengan biasa saja tanpa perlu riuh suara. Sekarang, aku sedang mempersiapkan diri atas hal-hal ajaib yang akan Tuhan berikan. Apapun itu, aku akan menerimanya dengan suka cita.

Rabu, 29 Mei 2024

NAMA ADALAH DOA

Mei 29, 2024 0 Comments

Hari ini aku dan ibu nonton live IG Tasmi’ Al-Qur’an Juz 30 kelasnya Ai. Karena hari ini giliran kelompoknya Ai tampil. Enggak sia-sia anak-anak madin sejak kelas 5, sekarang mereka sudah hapal juz 30 dengan baik.

Live IG dimulai jam tujuh pagi. Aku dan ibu lumayan sedikit mellow pas ustazah mereka memberikan pengantar dan nasihat, Bu Sarah namanya. Anak-anak memanggil beliau Umma Sarah.

Tapi, sebetulnya tulisan ini bukan tentang Tasmi’ Al-Qur’an. Ketika nonton live mereka aku lihat satu akun bergabung. Akun yang sudah bisa kutebak adalah akun ustazah Sarah. Nama akunnya Sarah Iswandari. Aku klik akun tersebut dan muncul beberapa postingan terkait kegiatan beliau di sekolah.

Aku bilang ke ibu soal nama beliau yang mirip denganku. “Buk, Namanya umma sarah itu Sarah Iswandari.”

“Lek kakak e Isfandari yo, Isfan. Beda satu huruf aja.”

Kemudian ibu bercerita soal bagaimana dulu beliau bingung memberikan nama panggilan buatku. Hampir saja ibu memangilku Fanda, tentu saja diambil dari Isfandari.

“Tapi kok mirip Panda, ojok wes, engko malah digawe lok-lokan.” Tentu aku bersyukur ibuku berpikir jauh sebelum memanggilku dengan nama Fanda itu. Karena kalau benar terjadi, kayaknya sekarang namaku sudah diplesetkan ke Panda, alih-alih Fanda. Dan tentu saja jokes yang keluar adalah “Gak makan nasi dong ya, makannya bambu.”

Aku dan imajinasiku ini astagaaa. Entah kenapa aku suka membayangkan hal-hal yang bisa saja mungkin tidak terjadi.

Aku langsung teringat cerita ibu soal bapak yang dulu hampir saja menamaiku Hijriyanti. Untung saja, sekali lagi ibu menyelamatkanku dari masa depan diolok-olok teman. Bukannya enggak bagus, tapi bapakku tuh memang orangnya begitu. Apa yang dipikirin ya itu aja yang dikeluarin.

Anyway, kasih nama anak tuh memang harus dipikirin, ya. Selain karena nama adalah doa, nama ini bakal jadi bulan-bulanan di masa depan atau enggak itu juga penting. Wkwkwk.

Yah, paling enggak kelak anak bangga sama nama yang dikasih orangtuanya. Minimal enggak malu lah. Belum menikah, belum punya anak, tapi aku sudah kepincut sama beberapa nama yang kelak akan aku berikan pada anakku. Insyaallah. Duh, membayangkan aku memanggil nama itu saja aku sudah berbinar-binar.

Jumat, 24 Mei 2024

SAYANG SI GEMPAL

Mei 24, 2024 0 Comments

Setelah selesai acara seminar kemuslimahan yang diadakan di aula Poliwangi, aku dan De Lilis pergi ke Mi Nyonyor Rogojampi untuk makan. Aku belum makan sejak pagi dan hanya mengisi perut dengan kue-kue yang disuguhkan oleh panitia. Di beberapa momen aku sedikit oleng, meski tidak parah seperti ngemc beberapa waktu yang lalu. Entah kenapa aku tidak terbiasa sarapan, apalagi kalau pagi itu ada kegiatan.

Selesai acara sekitar setengah lima sore. Aku dan Lilis tiba di Mi Nyonyor kurang lebih jam lima. Setelah pesan kami duduk berhadapan di pojokan. Kami menyambung cerita yang tadi sempat terputus karena situasi yang tidak memungkinkan untuk deeptalk.

Sejak dulu aku selalu mengagumi kegigihan Lilis dalam berorganisasi. Anaknya tabah, kuat, berani. Ketika kemarin Bibeh bikin story bahwa dia lamaran, aku kaget bukan main. Setahuku dia sedang melanjutkan S2-nya. Dan, dulu dia pernah bilang kalau tidak mau terburu-buru menikah. Prioritasnya masih banyak yang lain.

Tapi, takdir Allah lain. Aku enggak bisa enggak menangis mendengar cerita Lilis. Anak ini betul-betul menerima ketetapan Tuhan dengan hati yang luas. Kalau aku di posisinya belum tentu mampu. Segala hal yang menghimpitnya dihadapi dengan tenang.

Ada satu ucapannya yang membuatku nelangsa. Kalau sudah begitu aku enggak bisa lagi berkata-kata selain misuhi pemerintah. Sudah lah, semua ini memang salah pemerintah. Enggak bisa memberikan perlindungan pada rakyatnya, pejabatnya korup enggak karu-karuan. Apa sih yang dicari? Enggak takut ya sama Tuhan?

Kembali ke Lilis. Perempuan ceria di depanku ini sebentar lagi menikah. Menikah dengan lelaki yang siap mendampingi Lilis dalam suka maupun duka. Lelaki yang tidak saja baik, tapi juga pemberani. Dia bahkan dengan bangga mendukung Lilis menyelesaikan S2-nya, meski dia sendiri tidak sekolah setinggi Lilis.

Dude, ini lho. Mestinya memang tidak ada laki-laki yang musti minder ketika berhadapan dengan perempuan yang berpendidikan. Tidak perlu rendah diri, tidak perlu malu, tidak perlu merasa tidak pantas. Dukung dia, dampingi dia, rangkul, berikan semangat. Kelak, anak-anakmu juga akan menerima pendidikan pertamanya dari sang ibu, kan?

Semoga segala hal baik terjadi dalam kehidupan Lilis setelah ini. Setelah semua badai yang dia lalui. Setelah guncangan hebat yang dia hadapi.

Jumat, 12 April 2024

IDULFITRI 1445 H

April 12, 2024 0 Comments

Lebaran tahun ini seperti lebaran-lebaran biasanya. Bedanya kami sekeluarga tahun ini lebaran di Karangrejo, bukan lagi di Pakis. Sedih, tentu, tapi hidup memang begitu. Ramadan hari kesekian aku dan ibu ke Pakis untuk menemui Mak Yem, Mbah Sri, Mak Tik dan De Ros. Mereka bersemangat menyambut kedatanganku dan ibu karena tentu saja selain ini kedatangan kami pertama setelah pindah, mereka juga menyesalkan kepindahan kami yang seperti tergesa sampai tidak sempat berpamitan pada tetangga.

Ya begitulah keluargaku. Senang melakukan apa-apa dalam senyap. Dulu ketika ibu hamil Ai saja tidak ada satupun tetangga yang tahu bahkan sampai Ai lahir. Kami pulang dari rumah sakit pakai becak sambil ibu gendong Ai yang masih usia sehari. Ndilalah, keadaan sekitar rumah sepi sekali siang itu. Tapi, namanya Tupai, sepandai apapun lompat, suatu hari akan kepleset juga. Akhirnya para tetangga tahu kehadiran Ai di rumah kami.

Kembali lagi ke lebaran. Lebaran tahun ini ada suasana baru. Kalau biasanya pagi di saat idulfitri kami selalu formasi lengkap, tahun ini tidak. Ardi shift malam, jadi pagi itu ketika hari lebaran dia tidak di rumah. Dulu ketika masih di Pakis aku sering membayangkan bagaimana perasaan orang-orang yang masih harus bekerja ketika hari H lebaran. Eh, ternyata sekarang adikku sendiri mengalaminya. Dan, sebetulnya ya tidak apa-apa. Toh, tidak di momen lebaran pun setiap hari kami bertemu dan berkumpul.

Satu lagi suasana baru yang kami alami adalah karena absennya bapak di lebaran tahun ini. Beliau tidak ikut sholat id maupun unjung-unjung ke saudara karena sedang wasir. Ya, wasir a.k.a ambeien. Antara sedih dan ingin ketawa karena bapak susah duduk dan cara jalannya pun otomatis aneh. Enggak pernah terbayangkan oleh kami bapak harus megalami wasir yang sampai menyebabkan dirinya absen di momen lebaran tahun ini. Jadi, yang pergi unjung-unjung ya hanya kami bertiga. Aku, ibu dan Ai.

Keluar rumah rasanya aneh karena cuma bertiga. Ini mah seperti kami kalau lagi main aja. Entah ke pantai, ke taman atau sekadar makan di luar. Tapi, sekali lagi, itulah hidup. Dua anggota keluarga absen dan meski rasanya sedikit aneh, tetap tidak apa-apa. Dewasa ini lebaran ya begitu-begitu saja rasanya.

Seperti biasa kami berkumpul di rumah mbah. Meski telah almarhum, tapi rumah mbah selalu jadi jujugan pertama kami sekeluarga. Karena di sini ada bude kami, di rumah ini juga kami menerima banyak tamu dari tetangga sekitar.

Semakin tahun semakin menyadari para pakde, bude, om dan tante sudah semakin tua. Sepupu-sepupuku yang dulu masih single dan haha hihi bareng sekarang satu per satu sudah berkeluarga. Bahkan ada yang sudah susah pulang ke Banyuwangi karena anak masih kecil. Sekali lagi, begitulah kehidupan.

Lebaran tahun ini tidak banyak yang kupanjatkan. Tuhan telah berbaik hati memberi kami sekeluarga banyak hal. Tuhan memberi lebih dari yang kami bayangkan. Selamat lebaran, teman-teman. Maafkan aku atas segala salah, entah itu ucapan maupun perbuatan, sudi kiranya dimaafkan.

Sabtu, 06 April 2024

MENGKHIANATI SKALA PRIORITAS

April 06, 2024 0 Comments
Ramadan sudah hari ke-26, lebaran sudah di depan mata, Inspektur Vijay malah memilih bawa pulang LED TV Second segede gaban yang entah buat apa. Ya pastinya buat nonton tv, tapi kenapa? Kenapa segede jendela rumah Belanda? Padahal di rumah sudah ada tv yang masih berfungsi dengan baik.

Bapak bilang tadi pas ke tempat sepupunya beliau melihat tulisan "dijual" di LED TV itu. Sungguh aku enggak habis pikir kenapa bapak memilih menghabiskan uang THR-nya untuk beli barang itu ketimbang dipakai buat beli yang lain yang lebih penting.

Maksudku adalah, mbok ya yang penting-penting aja dulu gitu loh. Bapakku tuh memang sejak dulu kayak terang-terangan mengkhianati skala prioritas yang sudah susah-susah diciptakan di dunia ini. Enggak ada itu yang namanya memprioritaskan kebutuhan. Apa aja yang bikin dia happy, pasti dibeli.

Dulu mungkin kami, anak-anaknya, enggak banyak komplain karena masih kecil. Tapi, pas sudah dewasa begini melihat bapak impulsif beli-beli barang gitu pasti kami sewotin. Kalau sudah begitu pasti bapak juga balik sewot. Jadilah kita sewot-sewotan.

Satu sifat bapak yang sulit aku pelajari dan entah kenapa enggak nurun ke aku adalah "santai aja, jangan terlalu dipikirin". Sikap ini sebetulnya membantu kita untuk menjalani hidup yang semakin banyak akrobatnya ini. Itu sebabnya aku cocok berkawan dengan Bibeh, karena Bibeh tuh mirip bapakku. Di dekat Bibeh, semua urusan cincay saja. Di dekat bapakku, hidup yang penuh akrobat ini jadi ringan saja.

Kondisi kami yang sekarang ini, tidak bisa dipungkiri, berdampak padaku. Setiap hari kayak dicekik, padahal ya sebetulnya enggak semenakutkan itu. Bisa jadi aku enggak pernah tahu apa yang ada di pikiran bapak, beban yang dipikul beliau tanpa kami semua tahu, dan aku akan selalu berdoa pada Tuhan semoga bapak sembuh atas luka-luka yang dia rasakan sendirian.

Senin, 18 Maret 2024

SEBUAH PANGGILAN

Maret 18, 2024 0 Comments

Akhir-akhir ini betul-betul menguras energi. Setelah satu panggilan masuk tempo hari (yang aku tidak ada pikiran negatif apapun sebelum bahkan setelah mengangkatnya) dengan durasi yang cukup panjang. Di awal obrolan aku tetap berpikir ini hanya panggilan biasa. Tapi, ketika suara perempuan di ujung sana cukup serius dan mulai menyebut satu nama, aku seperti disengat lebah.

Akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana aku dimintai informasi. Hari dimana aku merasa gagal sekali lagi menjadi teman. Gagal mengingatkan sejak awal. Gagal menjaga segalanya tetap pada tempatnya.

Setengah jam menelpon, rasanya itu adalah setengah jam terlamaku. Aku mendengar suaranya bergetar. Aku mendengar suaranya menahan amarah. Sampai kemudian aku mendengarnya menangis.

Setelah semua ini, sebetulnya apa yang hendak Kau beri padanya? Apa yang hendak Kau berikan sehingga jalan yang harus ditempuh sungguh berliku?

Tuhanku, aku sama sekali tidak keberatan menjadi tempat berkeluh kesah teman-teman perempuanku. Tapi, mendengar mereka menangis, terluka, sedih, hal itu ternyata juga menguras energi. Aku bingung harus bagaimana, harus apa, selain hanya bisa diam mendengarkan.

Selasa, 12 Maret 2024

PINDAH

Maret 12, 2024 0 Comments

Menjalani tarawih pertama di Karangrejo dengan perasaan sentimentil. Yang terus berulang, suatu saat henti itu benar adanya. Belasan tahun aku hidup di Pakis, menyatu dengan seluruh hal di sana, tiba-tiba suatu hari harus terhenti. Dengan sekejap aku tidak lagi menjadi bagian dari sana.

Tempo hari aku sempat bertanya ke ibu, “kira-kira anak-anak merasa kehilangan aku gak, ya?”

Perasaan hampa itu baru terasa ketika segala hal yang selalu rutin kita lakukan tiba-tiba terhenti. Bulan ramadan seperti ini biasanya aku akan menjadi penghuni tetap shaf baris kedua (kadang-kadang juga baris pertama) dan tadarus bersama anak-anak.

Sampai kemudian semalam aku melaksanakan tarawih di musala tempat Ai ngaji. Entah di rakat berapa aku menangis. Ingat rutinitasku di Pakis yang tentu saja sekarang sudah tidak bisa dilakukan. Kami sudah biasa berpindah, tapi kepindahan kami kali ini benar-benar seperti membawa serta ratusan kilogram batu di pundak kami, berat sekali.

Tinggal di Pakis adalah durasi terlama kami selama no maden. Tinggal di Pakis adalah zona nyaman yang sayang untuk ditinggalkan. Tapi apa daya, hidup harus terus berjalan.

Sampai tadi malam aku merasakan sebuah keistimewaan memiliki tempat tinggal yang bersebelahan dengan musala. Di Pakis, rumah kami dekat sekali dengan musala. Kalau mau tarawih tinggal jalan kaki saja. Di sini kami harus bawa motor untuk bisa ke musala terdekat.

Ini adalah ramadan pertamaku di Karangrejo, yang mana itu juga menjadi ramadan pertama tidak tadarus di musala bersama Tante Lita, Karin, Dzikri, Upik, Hana, Ria, dll.

Aduh, udah kangen aja balik ke Pakis lagi apa, ya?

Senin, 12 Februari 2024

ZIARAH PART 2

Februari 12, 2024 0 Comments
Anak tangga menuju makam Mbah Yunus
 

Setelah dari Jalen kami langsung menuju Tamansari, ke makam Mbah Yunus. Dari catatan yang kubaca, Mbah Yunus adalah orang Sampang, Madura. Meski tidak memiliki pondok pesantren, tapi beliau sering jadi jujugan masyarakat untuk minta nasihat.

Makam Mbah Yunus ini salah satu yang memiliki rute paling adem. Karena penuh dengan hijau-hijau pepohonan. Makamnya terletak di sebuah gumuk di Tamansari, Tegalsari. Karena ada di atas gumuk kami harus menaiki beberapa anak tangga terlebih dahulu sebelum sampai ke makam.

Setelah membuka pintu makam, kami melihat satu makam besar ada di tengah. Belok kanan dari pintu masuk kita bisa melihat keterangan soal pesarean Mbah Yunus. Beliau wafat tanggal 7 Ramadhan 1414 H atau bertepatan dengan 8 Februari 1994 M. Ada satu foto besar di sebelahnya yang sudah pasti itu adalah foto Mbah Yunus.



Makam Mbah Yunus dekat sekali dengan rumah warga. Bahkan melewati pekarangan warga terlebih dahulu. Karena dekat dengan rumah warga, kami tidak merasa sepi. Masalahnya di sini hanya satu, semut. Kalau kalian tahu semut yang biasanya ada di buah rambutan, nah itulah. Ada banyaaak sekali semut itu di keramik, tembok. Dan semut ini adalah tipe semut yang susah perginya alias ditiup juga tidak kunjung pergi.

Seperti di Mbah Bashar tadi, di sini kami satu-satunya peziarah. Belum ada peziarah lain yang datang. Tahlil sambil mendengarkan suara cenggeret dan tertiup angin pagi yang sejuk ini membuat kami betah berlama-lama. Makam Mbah Yunus yang ada di atas gumuk juga dikelilingi pepohonan. Kalau tidak ingat masih ada satu tempat yang kami kunjungi, mungkin kami akan sedikit lebih lama ada di sini.

Kesunyian menyelimuti kami sesaat sebelum akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi ziarah. Kami harus melanjutkan perjalanan menuju Blokagung sebelum masuk waktu sholat Jumat.

Kalau berdasarkan rute ziarah muharrik dan sesepuh NU, kami harusnya juga ziarah ke makam Kiai Abdul Madjid, Krasak. Semoga lain waktu kami bisa kembali menziarahi makam-makam sesepuh yang belum sempat didatangi.

Rute terakhir menuju Blokagung. Blokagung is Blokagung, kawan. Pesantren besar di Banyuwangi ini punya daya tariknya sendiri. Bagiku yang tidak akrab dengan kawasan pesantren ya tentu akan takjub. Bagi orang-orang yang bermukim di sekitar pondok bahkan sejak kakek dan nenek mereka bisa jadi biasa-biasa saja.



Blokagung ramai seperti biasa. Lalu-lalang santri adalah pemandangan menyenangkan. Dulu aku pernah ziarah ke Blokagung tapi begitulah aku, sekarang sudah lupa jalan menuju makam. Akhirnya setelah beberapa kali bertanya, kami sampai.

Tentu saja berbeda dengan makam Mbah Bashar dan Mbah Yunus. Di Blokagung kami bisa mendengar riuh aktivitas pesantren. Di pesarean Kiai Mukhtar Syafaat kami juga bertemu dengan peziarah lain. Yah, Blokagung is Blokagung, tidak pernah sepi pengunjung.

Perjalanan ziarahku kali ini tentu istimewa. Aku mengunjungi Al Ashriyah, yang bahkan di awal rencana tidak masuk rute ziarah; aku ditemani dua personil baru yang semoga dari perjalanan ini mereka punya kenangan manis sehingga tidak kapok aku ajak ziarah lagi.

Ziarah bagiku adalah salah satu cara untuk melembutkan hati. Mengingat bahwa kematian adalah pasti. Tinggal menunggu giliran kapan saatnya kita mati. Ziarah bagiku adalah sekuat-kuatnya menghadapi kenyataan. Kenyataan bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Ziarah bagiku adalah mengenang. Mengenang dengan hati yang lapang.

Terima kasih, Tata, Ayu dan Mega. Telah menjadi teman perjalanan mengenang yang menyenangkan. Mari, kita wujudkan perjalanan mengenang orang-orang alim lainnya, secepatnya.

Jumat, 09 Februari 2024

ZIARAH PART 1

Februari 09, 2024 0 Comments

 


Senang rasanya bisa kembali melakukan perjalanan ziarah. Terlebih teman perjalanan kali ini bertambah. Aku, Tata, Mega dan Ayu. Hari ini kami mengunjungi tiga makam. Makam Kiai Ahmad Bashar dan Kiai Mawardi di Jalen, makam Mbah Yunus di Tamansari dan makam Kiai Mukhtar Syafaat di Blokagung.

Sebetulnya rute ziarah ini berdasarkan rute ziarah muharrik dan sesepuh NU Banyuwangi dalam rangkaian harlah NU yang ke-101 kemarin. Kami ambil yang bagian Tegalsari karena sekalian berkunjung ke rumah Mega yang masih satu kecamatan.

Tapi, di jalan aku teringat pondok pesantren tempat Syaikhona Kholil Bangkalan menimba ilmu di Banyuwangi. Setelah membaca kembali catatan akhirnya aku menemukan nama Pondok Pesantren Al Ashriyah yang berlokasi di Jalen. Mumpung masih di sekitar Genteng akhirnya kami menuju Al Ashriyah berbekal google maps.

Sepanjang perjalanan aku sangat bersemangat. Aku sedang menuju salah satu pondok pesantren tertua di Banyuwangi. Seperti apa kira-kira pondok pesantren itu? Semakin dekat lokasi semakin asri suasana sekitar lokasi. Sesuai petunjuk maps, kami berhenti di depan tembok setinggi orang dewasa.

Setelah menemukan plang bertuliskan doktren Al-Ashriyah kami masuk ke halaman pondok. Dulu singkatan pondok pesantren ternyata doktren, ya. Aku baru menyadari setelah membaca plang di tembok depan.

Dibalik tembok plang nama itu kami langsung bisa melihat bangunan pondok yang lawas dan sedikit tidak terawat. Kemudian kami juga bisa melihat masjid yang berdiri kokoh ditengah pondok. Mengalihkan pandangan ke arah kanan kami bisa melihat bangunan gedek yang sudah tua. Bangunan yang aku tebak adalah tempat Syaikhona Kholil mengaji.

Pertama kali melihat semua pemandangan itu hatiku sudah gak karu-karuan. Ada perasaan yang susah dijelaskan. Ditambah ketika kami masuk suasana benar-benar sepi. Kami melihat ada baju dan celana yang sedang dijemur, tapi kami tidak melihat ada aktivitas manusia di sana. Intinya, pertama kali masuk kami langsung disergap sunyi.

Setelah meyakinkan diri untuk masuk, kami mulai mencari keberadaan makam lewat sisi kiri masjid. Setelah menemukan makam kami memutuskan untuk putar balik dan lewat sisi kanan masjid saja. Kami masuk lewat masjid. Jalan terus menuju area belakang masjid kami menemukan pintu makam yang tertutup tapi tidak terkunci.

Dari luar aku bisa melihat ada karpet merah dan biru yang digelar untuk para peziarah dan juga aku melihat dompal tempat buku-buku tahlil diletakkan. Setelah membuka pintu makam kami masuk beriringan. Entah karena suasana yang sangat sepi, kami bahkan tidak mengeluarkan suara seperti biasa, kami cenderung berbisik.

Melihat makam Mbah Bashar aku semakin dilanda perasaan takjub. Masyaallah, di depanku ini makam orang salih, makam orang berilmu. Aku berhasil menahan air mataku agar tidak berderaian. Di depan makam Mbah Bashar saja aku lunglai, bagaimana kelak jika berkesempatan ziarah ke makam Rasulullah? Sudah jelas nangis sejadi-jadinya.

Kami bersimpuh di atas karpet menghadap makam. Dengan suasana pagi yang cerah dan sepi itu kami baca tahlil dalam keheningan masing-masing. Tapi, meski bangunan di luar tampak tidak terawat, tapi makam Mbah Bashar sangat bersih dan rapi. Satu hal yang menarik perhatianku adalah batu nisan. Terbuat dari kayu dengan keterangan ukiran berbahasa Arab.

Selesai tahlil kami tidak segera beranjak. Kami mengamati sekeliling. Makam yang letaknya di belakang masjid ini dikelilingi pohon-pohon besar. Kami lihat ada durian, rambutan, kelapa dan pohon lain yang entah apa Namanya. Kami kerasan, tapi karena terlalu sepi kami juga jadi segan.

Akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari makam. Keluar dari makam pun (masih di teras samping masjid) masih tidak ada aktivitas santri. Selain bocah yang kami lihat sedang main di kebun belakang ketika kami ziarah tadi. Dari tempat kami berdiri pemandangannya sangat satisfying. Ada kolam ikan besar, di seberangnya pondok tua yang bisa jadi adalah tempat Syaikhona Kholil mengaji, kemudian di belakangnya ada bangunan kamar-kamar santri dua tingkat berbentuk L.

Pemandangan itu betul-betul bagus sekali. Tidak cukup rasanya hanya direkam oleh kedua retina saja. Kami bergantian mengambil foto di lokasi itu. Aku yang memang menyukai bangunan lawas rasanya seperti menemukan oase di gurun pasir.

Selesai berfoto kami keluar dari masjid. Berkeliling menuju pondok tua yang sudah tidak terpakai tapi masih berdiri meski reyot di beberapa bagian. Di sisi kanan bangunan terdapat tulisan “Kejarlah Cita-citamu Setinggi Langit”. Pondok ini sejak pertama kali kami masuk, sudah mencuri perhatianku.

Imajinasiku terlempar ke masa lampau. Bagaimana kira-kira suasana mengaji di sini ketika itu? Bagaimana kira-kira suasana pondok ini di masa lampau? Tentu saja ini ditengah hutan belantara yang minim sekali penerangan. Apa, ya, yang para santri pelajari? Dan banyak apa dan bagaimana lain yang aku simpan di kepalaku.

Suasana pondok masih sepi. Ketika kami bergerak menuju bangunan ini barulah kami menemukan ada seorang ibu yang sedang menggendong bayinya dan juga dua anak kecil sedang bermain. Lega sekali akhirnya bisa melihat manusia lain selain kami berempat di sini.

Aku tidak henti-hentinya mengagumi tempat ini. Semuanya. Dari depan pintu gerbang sampai ke belakang aku sangat suka. Jauh dari kata modern tentu saja, tapi justru itu daya tariknya. Kami juga mengabadikan gambar di bangunan tua ini. Karena sekali lagi rasanya tidak puas hanya dipandang saja.

Puas mengabadikan gambar, kami pulang. Bahkan sampai kami jalan menuju pintu gerbang pun belum menemukan tanda-tanda kehadiran santri. Apa mereka sedang sekolah di gedung lain, ya? Bukan di gedung ini? Atau mereka sedang libur dan pulang ke rumah masing-masing? Pikirku. Segala kemungkinan aku pikirkan sehingga wajar jika pondok pesantren Al Ashriyah sangat sepi hari ini.

Biarlah. Pusing lama-lama terlalu dipikirkan. Sampai di gerbang aku baru menyadari ada sungai besar di depan pondok. Itulah sungai setail. Mengakhiri kunjungan ke Al Ashriyah dengan mengabadikan diri di depan tembok bertuliskan nama pondok.

Cerita berlanjut ke postingan selanjutnya, ya…

Kamis, 25 Januari 2024

FEELING IS HEALING

Januari 25, 2024 0 Comments

Rasanya aku sudah menuliskan ini dimana-mana. Bahwa Desy adalah satu-satunya teman SD yang sampai saat ini masih rajin hangout bareng. Setelah lulus kuliah kami justru jadi semakin dekat. Ada saja celetukan perempuan itu yang membuatku tertawa. Desy ini tipe perempuan yang mudah mengekspresikan apapun yang dia rasakan.

Kemarin kami ke Seling. Tidak ada jadwal pasti untuk hangout sebetulnya, karena kami sama-sama tipe manusia mager. Kalau enggak janjian dulu, jarang kami mau keluar dadakan.

Seperti biasa, tidak banyak yang kami bahas. Pertemuanku dengan Desy bisa dibilang sebagai stress release. Hal-hal remeh temeh yang justru sering kami bahas. Dan, dia ini selalu akan mengungkit apa yang aku posting di twitterku. Adaaaaa aja bahan untuk menginterogasiku.

Seperti satu twit yang aku buat beberapa waktu lalu, yang tentu saja akhirnya membuatku mengingat lagi waktu dulu. Aku menceritakan sedikit bab patah hati yang pernah aku lalui. Des, gini gini aku juga pernah patah hati keleus.

"Tapi awakmu koyok gak pernah sedih, Mey."

Tuh, kan. Masih ingat yang aku bilang tadi? Soal Desy itu tipe manusia yang mudah mengekspresikan dirinya? Salah satunya ya hal-hal seperti itu. Hahaha.

Entah kenapa kemarin-kemarin aku sedang ingin nostalgia dengan membuka folder lama. Mulai dari foto sampai dokumen. Aku membukanya satu per satu. Kebanyakan adalah cerita-cerita pendek yang tidak pernah aku selesaikan. Hingga kemudian ada satu file berjudul HBD yang membuatku penasaran.

Ternyata isinya adalah tulisan hadiah ulangtahunku waktu itu. Membaca tulisan itu lagi saat ini membuatku tersenyum. Iya, ya, urusan hati ini ya ternyata seperti itu saja. Aku bisa membaca tulisan itu lagi dengan perasaan lega, tidak lagi sesak.

Bagaimana kita mau sembuh jika tidak berhadapan dengan luka itu sendiri? Tidak berusaha mengobati, justru malah membiarkannya. Sakit sudah jelas, tapi kan aku mau sembuh. Aku mau produktif lagi tanpa harus terganggu rasa sakit yang membuatku sekarat.

Kalau kata Marshanda, feeling is healing. Merasakan, menghadapi, itulah upaya yang mesti dilakukan kalau ingin sembuh. Sembuh dan siap merasakan jatuh-jatuh yang lainnya. Toh, kalaupun jatuh kita masih bisa bangkit lagi.

Sabtu, 20 Januari 2024

KUNANG-KUNANG ITU LAGI

Januari 20, 2024 0 Comments

Setelah insiden berkunang-kunang pas ngemc tempo hari, aku jadi lebih memerhatikan pola makanku. Berjanji pada diri sendiri untuk tidak suka telat makan lagi. Membayangkan insiden minggu lalu terulang lagi aku sudah ngeri sendiri.

Dulu kejadian yang mirip pernah aku alami ketika memandu acara Dinas PU Pengairan di Genteng. Aku ini memang tidak terbiasa sarapan, jadi ketika ada job ngemc pagi aku jarang sarapan terlebih dahulu. Waktu itu memang sama sekali belum terisi makanan, meskipun itu roti. Nah, acara PU Pengairan waktu itu cukup meriah. Karena memang acara seru-seruan, pembagian hadiah, acara semi formal lah.

Ada momen saat membacakan nomor pemenang aku diserang mulas. Perutku tiba-tiba melilit, aku secara otomatis berjongkok. Ada perasaan ingin muntah tapi saat yang bersamaan aku juga sadar perutku kosong jadi tidak ada yang bisa aku muntahkan. Aku berjongkok beberapa saat sambil mengatur napas dan minum air putih. Setelah agak lumayan, aku meminimalisir teriakan. Aku jadi paham kondisinya. Aku belum sarapan, tapi sudah langsung ngemc dengan penuh semangat. Begitulah jadinya.

Minggu lalu, kondisi yang sama terulang. Bahkan bisa dibilang ini lebih parah. Ditengah-tengah ngemc, benar-benar ditengah aku sedang bicara, tiba-tiba mataku berkunang-kunang, pandanganku kabur. Setelahnya perutku melilit sehingga membuatku harus membungkuk dan berjongkok.

Momen itu langsung mengingatkanku kejadian di Genteng. Setelahnya kepalaku mulai berat dan aku merasakan wajahku jadi dingin. Aku mencoba mengingat lagi kapan terakhir kali aku makan. Sarapan pagi, setelah itu aku belum makan lagi sampai di waktu aku ngemc, kurang lebih jam 7 malam.

Aku merasa benar-benar tidak enak pada klienku. Meskipun mereka fine-fine saja bahkan masih sempat memastikan aku baik-baik saja, tetap saja aku merasa tidak enak. Setelah itu aku segera mengambil makanan dan mulai mengisi perut. Minum sebanyak-banyaknya air putih. Sejak itu aku berjanji tidak akan telat makan lagi. Aku berjanji tidak akan ngemc dalam keadaan perut kosong lagi.

Kamis, 18 Januari 2024

HIDUP SERIBU TAHUN LAGI

Januari 18, 2024 0 Comments
Tuhan ini benar-benar Maha Membolak-balikkan hati. Baru juga kemarin kami sekeluarga diberikan perasaan gundah, perasaan tidak nyaman, perasaan yang bisa membuat manusia tidak bergairah, tidak semangat menjalani hidup. Besoknya alias malam ini, kami sekeluarga sudah bisa kembali tenang. Perasaan-perasaan negatif tadi berganti dengan perasaan nyaman yang tentu saja itu adalah perasaan positif.

Jika semalam kami tidur dengan membawa serta perasaan negatif, malam ini kami tidur dengan penuh perasaan baik. Sesignifikan itu kondisi hati memenaruhi kualitas tidur. Kalau ada yang bilang jangan tidur dalam keadaan marah, itu benar. Segala perasaan yang kita rasakan ini punya pengaruh pada tubuh kita.

Seperti spons, tubuh kita menyerap apa-apa saja yang masuk. Jika menyerap energi negatif, ya itu yang akan kita rasakan. Kita tidak pernah bisa melihat hal baik, merasakan hal baik, atau melakukan hal baik karena terlalu banyak hal negatif yang masuk.

Pernahkah kalian merasa semangat untuk hidup? Merasa mampu untuk hidup seribu tahun lagi? Meskipun itu hal mustahil. Tapi, aku sedang dalam fase itu. Fase bersemangat menjalani kehidupanku. Aku akan menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.


Minggu, 07 Januari 2024

AKHIRNYA, AKAL BUKU.

Januari 07, 2024 0 Comments

Besok paginya kami bertemu di depan DPRD DIY, di pelataran Jalan Malioboro. Bibeh dan Arinal jalan pagi, aku menyusul mereka sekitar pukul 7 karena memilih untuk rebahan lebih lama di kamar. Udara pagi di Jogja, jalan kaki, memerhatikan banyak orang berkegiatan, membuatku rileks. Jarak penginapan kami dengan Jalan Malioboro benar-benar dekat. Sehingga jalan kaki ini juga membuat kami bisa menikmati suasana di sekitar.

Aku melihat Na Willa sudah lebih segar. Dia menikmati main dengan mak dan bapaknya. Aku bergabung dan duduk berdua dengan Bibeh sambil memerhatikan lalu lalang kendaraan. Perjalanan kami kali ini memantik ingatan beberapa tahun lalu ketika pergi ke Jogja bersama Komunitas Pegon. Tapi, perjalanan kali ini lebih tenang, lebih banyak waktunya, karena juga ini perjalanan pribadi, bukan tugas negara seperti yang dulu kami lakukan.

Selesai menikmati udara pagi, secara impulsif kami memutuskan minum jamu. Ya, betul, saudara sebangsa setanah air. Kami minum jamu. Sebetulnya kami ini hanya melakukan apa yang kami lihat di depan mata saja. Waktu itu kami lihat tukang jamu di seberang, di depan KFC, ya kali enggak nyobain jamu di Jogja. Aneh, sih, tapi semuanya oke jadi ya ini bukan kegiatan pagi yang aneh-aneh banget.


Selesai minum jamu kami kembali ke penginapan. Di dekat penginapan ada gerobak Bubur Ayam. Karena belum sarapan aku bungkus satu untuk makan di kamar. Sambil menunggu Bibeh sekeluarga siap, aku menikmati sarapanku sambil nonton youtube.

Jam setengah 10 pagi kami sudah bersiap ke Akal Buku. Aku memutuskan untuk naik motor karena tidak mau hal-hal tidak diinginkan terjadi sehingga mengganggu perjalanan kami yang seru ini. Awalnya Arinal protes, maksudnya sih baik, biar kita enggak misah. Tapi, plis banget pak, ini menyangkut keberlangsungan hidupku. Aku yang tahu sampai mana batas tubuhku ini bisa bertahan. Dan kalau pagi ini aku memutuskan naik mobil, sudah bisa dipastikan sampai Akal Buku aku semaput.

Karena naik motor, aku sampai lebih dulu. Aku dapat driver go-jek yang menyenangkan. Anaknya ramah dan suka cerita. Beruntungnya, pagi itu mood-ku sedang baik, jadi aku meladeni semua ceritanya dengan antusias. Sampai di Akal Buku ada perasaan aneh menyergap. Gila, ini adalah rumah yang sering aku lihat di konten Mbak Kalis maupun Mas Agus di sosial media. Sekarang ini aku berdiri di depan rumah Akal Buku.

Inilah teras merah itu, tempat Lily biasa rebahan. Inilah pohon rambutan itu, pohon yang sering masuk ke konten review produk galah milik Mas Agus. Inilah kursi antik itu, kursi yang biasa diduduki banyak tokoh, Habib Jafar salah satunya. Daaaan, inilah tembok legendaris itu! Tembok bergambar wajah para tokoh kebanggaan Mbak Kalis dan Mas Agus. Aku terharu sendiri melihat bagaimana akhirnya aku dan Bibeh berhasil mewujudkan cita-cita kami.

Cita-cita yang ternyata di dalamnya dibersamai oleh Na dan Pak Ari. Sungguh rencana Tuhan itu jauh lebih indah dari rencana manusia. Setelah bertemu Mbak Kalis aku langsung menyerahkan wadah berisi ranti yang sudah aku siapkan dari Banyuwangi. Ranti ini menjadi oleh-oleh utama yang aku bawa karena tahu Mbak Kalis suka bikin sambal.

Tidak lama kemudian Bibeh datang. Kami bercengkerama di halaman depan. Akal Buku sejuk sekali siang itu. Udara Jogja menyenangkan, tidak terlalu panas. Cuaca siang itu juga redup, tidak terlalu terik. Awalnya kami berencana singgah singkat saja, karena ingin ke banyak tempat lagi. Tapi, ternyata ada teman Pak Ari yang ikut singgah karena ternyata beliau juga mengenal Mbak Kalis dan Mas Agus.

Jadilah kami berjam-jam di Akal Buku. Menjelang siang kami pamit, melanjutkan perjalanan ke Buku Akik.

Sabtu, 06 Januari 2024

GOES TO JOGJA

Januari 06, 2024 0 Comments

Akhirnya cita-cita itu terwujud, kami datang ke Yogyakarta dan bertemu lagi dengan Kalis Mardiasih. Dulu, ketika menunggu kereta di stasiun, Mbak Kalis menawarkan kami untuk hadir ke pernikahannya dengan Mas Agus Mulyadi. Aku kira hanya basa-basi, mendekati hari H beliau menghubungiku. Tapi, karena satu dan lain hal kami tidak bisa datang.

Setelah itu, kami (aku dan Bibeh) berjanji suatu hari nanti harus datang ke Jogja. Jika tidak di momen pernikahan Mbak Kalis, ya di momen bahagia beliau yang lainnya. Kelahiran Raras Ugahari lah momen bahagia itu. Kami merencanakan perjalanan ini sejak November 2023. Mulai dari pesan tiket kereta, pesan penginapan dan segala tetek bengeknya.

Melakukan perjalanan jauh dengan pasangan suami istri anak satu itu memang harus penuh kesabaran. Kalau saja aku pergi sendiri pasti sudah tidak perlu ada pertimbangan lain. Aku bisa memutuskan sendiri bagaimana nanti perjalanan yang akan aku tempuh.

Kami berangkat tanggal 3 Januari, persis di hari ulangtahun Bibeh. Sumpah demi apapun, aku lupa dia sedang ulangtahun. Kenapa aku ingatnya tanggal 13, ya? 13 Januari ini ulangtahun siapa? Aneh bener.

Kami sampai Lempuyangan kurang lebih jam delapan malam. Buatku yang menempuh perjalanan 13 jam tentu saja ini melelahkan. Tapi, ketika melihat Bibeh dan Arinal membawa Na Willa, lelahku rasanya tidak ada apa-apanya.

Perjalanan ini mengajariku banyak hal soal berumah tangga. Tiap ngemc pernikahan aku selalu bilang bahwa menikah itu bukan siapa yang paling, tetapi saling. Saling bertanggungjawab, saling membantu, saling mengasihi dan saling-saling yang masih banyak lagi. Itu juga sebagai pengingat untuk diriku sendiri sebetulnya.

Setelah beberapa kali driver menolak orderan kami, akhirnya kami dapat driver. Seperti biasa kami harus jalan kaki dulu sampai bawah flyover untuk bisa naik mobil yang menjemput kami. Na Willa sudah rewel, kami semua juga sudah lelah. Sampai di penginapan kami langsung beres-beres. Aku merebahkan tubuhku sejenak hingga kemudian memutuskan mandi.

Jadwal kami malam itu adalah makan. Tiga belas jam ada di kereta, ditambah tadi ke penginapan naik mobil, membuat perutku tidak nyaman. Aku harus segera mencari makanan berkuah yang pedas. Ada satu tempat makan di depan gang penginapan yang menyediakan Soto Ayam. Tanpa ragu aku pesan menu itu. Soto di Jogja ini tidak seperti soto di Banyuwangi. Tapi, masa bodo, aku melarutkan banyak sambal pada kuah soto dan menghabiskan makanan berkuah itu.

Malam itu tidak banyak yang kami lakukan selain makan, kemudian kembali ke penginapan.