Senin, 24 Desember 2018

Sudah Mengucapkan Natal Hari Ini?

Desember 24, 2018 3 Comments
We wish you a merry christmas We wish you a merry christmas We wish you a merry christmas and happy new yeaaaaaaar ..........

Merry Christmast for y'all

Yeaaay, selamat natal dan tahun baru semuanyaaaaa. Jadi, apa resolusimu tahun 2019?
Ha? Apa? Nggak ada resolusi??? Hmmmmm~
Ya nggak apa, karena aku juga begitu, hahahaha. Ra sah resolusi-resolusian, aku cah dinamis owg.

Apa kabar timeline media sosial kita hari ini? Sudahkah muncul perdebatan “hukum mengucapkan natal” di timeline kalian? Ehehehe. Nggak bosan-bosan, ya, mereka tuh. Tiap tahun perdebatannya nggak naik kelas. Kapan lulusnya dong kalau nggak naik kelas terus?
 
Tapi saya juga bersyukur masih banyak orang yang menyebarkan sikap toleransi yang amat indah. Seperti Mbak Ligwina Hananto yang pagi ini saya baca twitnya tentang kompaknya keluarga mereka menyiapkan acara makan siang saat Natal besok. Bahkan mereka menyiapkan dresscode.



Atau ada juga twit yang maha selow dari Koh Ernest ini:

Tai kuda emaaaaang selera humornya wkwkwk.

Ngapain juga saya kasih tahu twitnya Mbak Ligwina dan Ernest? Biar apa? Ya nggak biar apa-apa juga, cuma ngasih tahu bahwa masih ada yang seperti itu. Selow dengan perbedaan agama di negara kita. Nggak otot-ototan hanya karena masalah ucapan.

Kamu kenapa kok jadi menggampangkan kepercayaan, gitu? Ini menyangkut syariat, lho!

Lho, memang sejak kapan beragama itu sulit? Hayo, sejak kapan? Syariat nyangkut segala, nyangkut dimana? Sini, tak bantu ambilin galah.

Antum tahu nggak (antuuuuuuum) kenapa antum sensi banget dengan saudara-saudara sesama muslim yang mengucapkan Natal ke saudara kita yang nasrani? Mungkin sampeyan ini kurang banyak bergaul. Kurang melihat sisi lain sebuah koin, yang sampeyan lihat hanya satu sisi saja, yakni sisi nominal uangnya. Padahal dibelakangnya, kan, masih ada gambar.

Bapak Sulthan Fatoni dalam bukunya yang berjudul “Dear, Felix Siauw” pernah bilang: Menjadi muslim yang toleran itu tidak perlu mengabaikan syariat. Menjadi muslim yang toleran hanya memerlukan basis keislaman yang kuat. Nah, dari ucapan Pak Sulthan itu, kira-kira apa penyebab seorang muslim nggak bisa toleransi? Betul, salah satunya adalah wawasan keislaman kita yang lemah. Semua itu memang berasal dari diri kita sendiri, kok. Jadi sebelum nyinyirin sesama saudara, alangkah baiknya ngaca dulu.

Masih dalam penjelasan Bapak Sulthan Fatoni, lagi pula tidak semua ulama memberikan label haram pada ucapan selamat Natal. Ada, kok, yang membolehkan kita mengucapkannya. Membolehkan ya bukan berarti memburu stempel ‘toleran’ lalu mengabaikan syariat. Ungkapan kebahagiaan umat Islam atas kelahiran Nabi Isa tentu bukan sikap buruk. Kita harus adil pada kata ‘Selamat Natal’. Bagi Umat Kristiani, ya, perspektif Kristiani. Bagi Umat Islam, ya, perspektif Islam.

Lha, kita sebagai muslim saja imamnya ada empat, je. Agar bisa toleran ya kita perlu wawasan fikih dari empat mazhab itu. Pernah, kan, waktu itu netizen gempar masalah mbak-mbak bercadar merawat anjing-anjing yang terlantar di rumahnya. Netizen mulai sok tahu dah tuh. Banyak komentar-komentar maha benar netizen seliweran. Padahal jika mengikuti mazhab Maliki, anjing adalah suci dan bekas jilatannya tidak najis, tapi wadah yang dijilatnya harus dicuci. Piye, jal?

Ora kabeh-kabeh iki kudu melu perspektif Islam, engko mundak ora iso ngeregani liyane, kata Ferguso. Dyaaaar!

Saya dan Natal memiliki hubungan baik yang terajut indah sebagai kenangan manis. Bapak dan ibu angkat ibu saya (kakek dan nenek angkat saya) adalah Kristiani. Sejak usia tiga tahun Ibu saya sudah diboyong oleh mereka ke Kepundungan, Srono. Ibu dibesarkan dengan penuh perhatian, kasih dan sayang (saya selalu emosional jika menceritakan tentang betapa baiknya kakek dan nenek angkat saya). Ibu saya dibesarkan oleh mereka sebagai seorang muslim. Mereka memasukkan ibu ke TPQ dan menyekolahkannya ke Madrasah Ibtida’iyah. Mereka tidak egois dengan memaksa ibu saya mengikuti kepercayaan mereka.

Setelah ibu menikah dan melahirkan saya, kami setiap hari ada di Kepundungan. Hari Sabtu sepulang kerja baru bapak datang menjemput kami. Saya menghabiskan masa kecil di Kepundungan, setidaknya sebelum saya masuk TK. Sedari kecil saya telah akrab dengan simbol-simbol Nasrani yang ada di rumah Kakung. Terganggu? Tidak. Ya mungkin karena saya masih kecil waktu itu. Beranjak besar saya juga tidak terganggu. Sudah biasa. Malah kadang mbatin “itu kenapa Yesus ganteng amat.” atau “sudah berapa tahun ini kok bapak ini nggak ganti-ganti” bapak yang saya maksud itu adalah Paus Paulus.

Jadi, sedari kecil saya telah akrab dengan kegiatan-kegiatan keagamaan mereka. Ibu dulu juga pernah cerita saat pertama kali kakung mengadakan Misa di rumah. Para tetangga yang memang semuanya Islam pada kepo. Misa tuh ngapain, sih? Gitu kali pikir mereka. Maklum waktu itu pertama kali banget di rumah kakung ada acara keagamaan. Antusias tetangga jadi besar. Kata ibu, para tetangga itu ngintip lewat celah-celah bambu di kamar. Rumah kakung itu tipikal rumah lawas yang gedong tapi dindingnya dari bambu.

“Tapi mari ngono yo mari wes, saking pertama kali dadi penasaran.” kata Ibu.

Besok-besok saat rumah kakung dipakai untuk perayaan Misa lagi, malah satu dua tetangga datang untuk sekadar bantu-bantu menyiapkan masakan. Pemandangan seperti ini yang seharusnya bisa kita tunjukkan. Bahwa perbedaan tidak malah membuat persaudaraan putus. Bahwa perbedaan tidak malah membuat persatuan tercerai berai.

Tidak hanya Kristen, saya juga punya saudara yang beragama Hindu. Adik ibu saya (tante saya) adalah seorang Hindu. Sama seperti ibu, tante saya dulu juga dirawat oleh keluarga angkat yang masih kerabat. Namun dalam kasus ini tante saya berpindah keyakinan dan ikut keyakinan orang tua angkatnya. Setiap Galungan kami pun selalu berkirim ucapan. Memohon pada Tuhan agar keluarga besar kami selalu dalam pertolongan-Nya. Kami juga tidak pernah yang namanya ribut-ribut perkara beda agama.

Sebagai umat dengan agama terbesar di Indonesia seharusnya kita bisa menjadi pelopor pengembangan konsep tiga persaudaraan secara terpadu. Tiga konsep yang dikenal sebagai ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wthaniyah (persaudaraan sesama warga Indonesia), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan seluruh umat manusia).

Jangan hanya mengembangkan ukhuwah islamiyah sehingga mengabaikan dua konsep lainnya. Jadinya apa? Ya kita hanya peduli pada saudara kita yang seiman saja. Umat lain yang tidak Islam bodo amat nggak usah diurusin. Saat ada bencana alam kita hanya mau membantu mereka yang Islam. Nggak adil, kan? Saya ingat perkataan Gus Dur yang fenomenal dan melekat di hati masyarakat, saat kita berbuat baik orang tidak akan bertanya agamamu apa.

Tahun politik saat ini rasa-rasanya semua hal selalu dikaitkan dengan agama. Ini lho yang menyebabkan beragama jadi terasa sulit saat ini. Begini sedikit dibilang menista agama. Begitu sedikit dibilang tidak menghormati kepercayaan orang lain. Ada bencana alam yang jelas penyebabnya dibilang azab dari Tuhan. Nggak paham lagi akutu.

Begitulah, teman-teman. Perkara mengucapkan ‘Selamat Natal’ plis nggak usah dibuat pusing. Sila baca bukunya Bapak M. Sulthan Fatoni yang “Dear, Felix Siauw”. Ada sub bab yang membahas mengenai ucapan selamat Natal. Pokoknya buku ini worth to read, deh.

Nanti, jika ada orang yang menyebutmu kafir hanya karena mengucapkan selamat Natal, bilang ke dia: Monmaap, nih, kafirnya saya karena udah ngucapin selamat Natal tuh masuk kategori kafir yang mana, ya? Kafir ingkar, kafir juhud, kafir inad atau kafir nifaq?

Ya pokoknya kamu kafir! Kafir mah kafir aja!

Nggak usah ngegas dong heyhalooooo~

Resiko menuduh umat Islam lain kafir/murtad itu besar, lho. Jika tuduhan tidak benar, si penuduh bisa murtad sendiri. Lha wong kita sama-sama belajar, kok sempat banget ngatain temennya kafir. Semua umat muslim sudah tentu peduli pada keislamannya. Yang perlu kita urus adalah keislaman kita sendiri, bukan malah sibuk ngurusin keislaman orang lain.

Pokmen kowe cah #NgucapinNatal atawa cah #NggakNgucapinNatal everything is oke. Salam wuwuwu~

Gitu, ya, mylov~

Selamat Natal untuk alm. Anthonius Sunaryo, kakung juara satu se-universe dan untuk semua teman dan kerabat yang merayakan. Semoga damai selalu menyertai kita semua. Aamiin.

ILYSM

Minggu, 09 Desember 2018

Perihal Jodoh: Tuhan, plis kasih kisi-kisi.

Desember 09, 2018 0 Comments
Banyak jalan yang telah saya susuri bersama Bibeh. Di jalan itu pula banyak obrolan yang telah kami bahas. Dulu, kami pernah ngobrol masalah skripsi yang nggak mari-mari, masalah HTI dan sampai masalah hati. Hal terakhir lah yang paling kami minati. Hihihi.

Sore ini, setelah kami melakukan perjalanan tak terduga ke GWD, kami pulang ke rumah. Saya boncengan dengan Bibeh. Seperti biasa, saya lupa awalnya kami ngobrol tentang apa. Kemudian meluncurlah pertanyaan dari saya “Kelak lakik kita modelannya gimana, ya, Woh? Ngerti ndane sama sifat kita yang kek begini?”

Ah, ya, saya ingat. Tadi kami sedang ngobrol perihal laki-laki yang masih suka nyuruh Bibeh buat ngaji, belajar ini, belajar itu buat anak kelak, dsb. Bibeh dengan watak yang seperti itu langsung kalap dan membalas, “Eh, ya masa, sih, hal-hal kek begitu harus aku kasih tahu ke kamu? Itu udah urusan aku sama anakku kelak.”

Demi apa pun, saya ketawa. Lah bocah kek Bibeh diceramahin begituan mah mana mempan. Mantul shaaay. Dan kemudian terbitlah pertanyaan saya seperti di atas. Bibeh membenarkan pertanyaan saya. Kami suka penasaran sendiri bagaimana jodoh kami kelak. Apakah mereka bisa mengerti bagaimana kami. Apakah mereka bisa mendukung segala sesuatu yang kami sukai selama itu positif. Apakah mereka tahan banting dengan tingkah laku absurd kami yang kadang ngeselin, banyak ngeselinnya, sih.

Kalau sudah bahas yang begini kami suka mikir “Apakah karena sikap kita yang terlalu liberal ini yang menyebabkan betah menjomblo?” lantas saya bilang ke Bibeh, “Akutu takutnya pas nikah gampang nggak nurutan ke suami, Woh.”

Yes. Saya selalu terbayang hal itu. Nggak tahu kenapa, ya, tapi emang begitu. Saya suka mikir hal-hal aneh yang nggak perlu-perlu banget dipikirin sebenarnya. Saya rasa, sih, itu syndrome takut nikah, wkwkwk. Karena selain pikiran-pikiran aneh itu saya juga melihat pengalaman orang-orang sekitar saya. Mereka yang memutuskan menikah di usia muda dan kehidupan pernikahan setelah ijab qabul. Banyak yang justru membuat saya semakin nggak pingin buru-buru menikah.

Saya membayangkan bagaimana jadinya jika saya menikah lantas mobilitas saya jadi terbatas. Sekarang saja, sejak Ibu memutuskan untuk kembali bekerja, saya merasakan betul batasan itu. Kalau ada acara di luar saya suka kepikiran Fahri di rumah. Jika saya keluar pagi, saya selalu terburu waktu agar sampai lagi ke rumah setidaknya sebelum jam satu siang. Seperti hari ini, ketika ada job ngemc pagi dan Ibu kebetulan tetap masuk kerja, meski hanya setengah hari, pikiran saya nggak bisa tenang. Karena saya yakin Fahri pasti akan melewatkan makan siangnya karena nggak ada orang yang memaksanya untuk makan. Hal-hal seperti ini sudah membuat saya sadar jadi ibu rumah tangga itu tidak mudah. Dan saya, kayaknya nggak cocok jadi IRT.

Meskipun saya menyadari bahwa nanti akan ada masa dimana kita tidak lagi egois, itu pasti. Dengan kesadaran diri dan kerelaan hati, kita pasti akan berkhidmat pada anak dan suami. Saya sadar betul, seperti kata Bunda Anggie, setiap panggung ada masanya sendiri.

Itulah yang membuat saya dan Bibeh selalu berkata “Suami kita kelak gimana, ya?”

Hal itu cukup membuat saya mengerti bahwa tidak semua hal yang kita inginkan ada dalam satu sosok laki-laki. Pasti kita akan berkompromi satu dua hal pada orang tersebut. Karena kita juga pasti akan mendapat banyak pemakluman darinya. Sempurna itu mustahil. Jika saya mencari jodoh yang sesuai dengan apa yang saya inginkan, bisa jadi saya mati dalam keadaan jomblo.

Maka, dalam perihal jodoh ini saya selalu berkata pada Tuhan, “Nggak bisa apa, ya, kasih kisi-kisi gitu. Paling enggak biar ada persiapan. Wkwkwk.”

Sumber: IG @destinationistanbul

Jumat, 23 November 2018

Apa itu Rekanitalk?

November 23, 2018 0 Comments
Seperti kata Pak Cik Andrea dalam bukunya, malaikat turun mengaminkan doa-doa baik. Saya merasa malaikat-malaikat sedang turun untuk mengamini doa-doa baik saya, doa-doa baik kami. Rekanitalk baru saja lahir. Ibarat bayi, tali pusarnya belum lepas. Rekanitalk ini adalah bagian dari IPPNU Syi’aran, program yang dimiliki oleh divisi Jaringan Komunikasi dan Informasi PC IPPNU Banyuwangi periode 2017-2019. Sebelumnya IPPNU Syi’aran akan kami jalankan menggunakan media radio online yang dimiliki oleh PCNU Banyuwangi. Namun, karena beberapa kendala akhirnya kami mencoba melihat potensi lain. Salah satunya adalah platform youtube. Sa kira tidak perlu dijelaskan mengapa kami memilih youtube sebagai media syi’aran kami.


PC IPPNU Banyuwangi terus berikhtiar memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada masyarakat. Rekanitalk salah satunya. Semoga apa yang kami ikhtiarkan ini menjadi ladang pahala yang akan terus mengalir, selama konten kami itu ada yang nonton, hahaha.

Saya sadar, saya tidak banyak memberikan kontribusi besar terhadap organisasi ini. Bikin acara aja nunggu ada yang nyindir. Kader macam apa aku ini, tida militan sama sekali. Saya berharap melalui konten ini, paling tidak, ada yang bisa saya lakukan. Selain ngelunasin kas yang udah membengkak, tentunya. Hahaha.

Malam ini, sesaat sebelum saya minum kopi ajaib buatan ibu, saya dapat pesan WA. Pesan tersebut dari salah satu mahasiswi poliwangi yang kebetulan menjadi ketua panitia seminar dimana saya menjadi pembicaranya tempo hari. Namanya Evi. Dia menanyakan sesuatu yang membuat saya bersemangat membalasnya.


Tidak lama kemudian, Mbabila WA saya. Blio mengirimkan screenshoot percakapannya dan Evi (Evi juga bertanya pertanyaan yang sama ke Mbabila). Mbabila bilang pertanyaan Evi ini bisa kita jadikan pembahasan rekanitalk selanjutnya. Saya mengiyakan, tanpa ragu. Kemudian segala ide segera bermunculan setelah obrolan saya dan Mbabila via WA barusan.

Gaes, doakan semoga niat baik kami ini selalu lancar, ya. Semoga saya dan mbabila selalu sehat. Semoga Cholid (tukang ngevideo) selalu sehat, karena kalau bukan dia yang ngeshoot kami, siapa lagi? Semoga Mas Dani (tukang nyinyirin konten kami) selalu sehat, sehingga kami terus akan mendengar nada-nada meremehkan yang keluar dari mulut beliau ini. Tapi sejujurnya setelah beliau nyinyirin kami, kami selalu merasa lebih baik, hahaha. Belio tuh semacam support system yang menyebalkan.

Pertanyaan Evi itu akan kami jadikan konten dalam rekanitalk selanjutnya. Oh, ya, saya juga telah mengantongi izin dari si empunya pertanyaan. Jadi, segera akan kami eksekusi.

Saya ingat apa yang saya, Bibeh dan Pak Wicak bicarakan beberapa waktu lalu di Hotel Santika. PR bangsa kita ini masih banyak sekali. Kita harus terus, jangan lelah, jangan berhenti untuk membuat konten-konten baik dan positif. Konten hoaks sekarang sudah semakin profesional, dan yang bisa kita lakukan adalah mengimbanginya dengan terus memproduksi konten yang baik.

Dan itu tugas kita semua. Jadi, mari sebarkan kebaikan di media sosial kita masing-masing, ya~

Iloveyou semuanya~

The Power of Kopi

November 23, 2018 0 Comments
Selepas pulang dari kantor NU perut saya nggak enak banget. Sebenarnya sesaat sebelum pulang saya sudah merasa ada yang aneh dengan perut saya. Saliva saya tiba-tiba jadi berlebih. Saya juga nggak kuat lama-lama berdiri. Saya merasakan hal yang sama seperti ini saat masih kerja dulu. Dan ternyata itu tanda-tanda haid. Tapi yang ini bukan, saya masih belum masuk masa haid. Saya sempat sambat ke Mbabila, mungkin karena selama taping saya nggak minum sama sekali. Bisa jadi.

Sampai rumah saya langsung nggeblak. Napas saya berat dan panjang-panjang. Berulang kali saya keluar rumah untuk mencoba memuntahkan segala isi perut. Saya ingat seharian tadi hanya makan sekali, sesaat sebelum berangkat ke kantor NU. Hasilnya nihil, saya sama sekali nggak muntah. Hanya beberapa kali meludah. Segala cara saya lakukan, mulai dari buang gas sampai sendawa. Tidak menimbulkan reaksi apapun, gaes. Perut rasanya tetap nggak enak.

Akhirnya raut muka yang sudah nggak enak dilihat ini terdeteksi oleh Bapak. Beliau tanya kenapa, saya jawab kayaknya karena soto yang tadi saya makan. Ternyata bapak juga merasakan hal yang sama. Setelah sarapan tadi perut beliau juga bermasalah. Hmmm, apakah kami berdua keracunan soto? Saya lihat ibu, beliau baik-baik saja, tidak sambat perutnya bermasalah.

Akhirnya saya hanya goler-goler depan tivi sambil sesekali sambat ke ibu. Ibu menyarankan untuk menyeduh kopi. Saya hanya iya-iya aja tapi nggak budal-budal. Akhirnya beberapa menit kemudian ibu datang dari dapur membawa segelas kopi hitam. Saya coba minum sebanyak dua sendok teh saja. Iya, dua sendok teh. Itu mah nyicip, ya, bukan minum.

Saya tidak merasakan perubahan yang signifikan karena selama nyicipin kopi itu saya sambil ngobrol bareng ibu. Nggak kerasa. Tahu-tahu ketika saya menegakkan badan, perut saya kembali seperti semula. Tadinya saat saya berusaha menegakkan badan, saliva selalu keluar, perut otomatis nggak enak. Magic apa ini Tuhan???

Langsung aja saya minum seteguk demi seteguk kopi yang mulai hangat itu. Saya girang karena badan mulai bisa diajak gerak lagi. Dan juga, entah kebetulan atau bagaimana, setelah ngopi jadi ada inspirasi buat nulis. Magic apa ini Tuhan???

Sekarang saya mengerti kenapa orang-orang itu suka banget sama kopi. Dan, apakah ini pertanda bahwa saya mulai mencintai kopi?

Hmmm, magic apa ini Tuhan???

Minggu, 28 Oktober 2018

Menyudahi Basa-Basi

Oktober 28, 2018 0 Comments
Dua ribu delapan belas ini tidak henti-hentinya peristiwa panas terjadi di Indonesia. Saya hanya bisa ambekan dalam-dalam. Betapa lelahnya Ibu Pertiwi~

Baik, saya tidak akan membahas hal-hal yang menyebabkan Ibu Pertiwi lelah. Saya akan membahas yang ringan-ringan saja, yang sudah tentu relate dengan kehidupan kawula muda sekalian. Saya akan membagikan sedikit cerita tentang bagaimana mengakhiri basa-basi tidak jelas saat berkenalan dengan orang baru.

Jadi beberapa waktu yang lalu saya sempat dikenalkan dengan seorang laki-laki oleh tante saya. Sebenarnya tante sudah membahas masalah ini jauh beberapa bulan yang lalu. Dulu tante pernah bertanya apakah saya punya pacar atau tidak, dan tante saya bilang bawa keponakan kakak iparnya tengah mencari calon istri. Saya yang waktu itu merasa hal tersebut hanya sebatas perkataan, tidak menanggapi dengan serius.
Ndilallah, setelah saya mulai bekerja, pesan itu datang lagi. Tante meminta ijin untuk memberikan nomor saya pada kakak iparnya. Singkat cerita kakak ipar tante yang saya panggil bude itu menelpon. Saya tahu beliau, tapi tidak akrab. Beberapa kali sempat bertemu di rumah Lateng. Beliau mengungkapkan semua niat baiknya. Syukur kalau cocok, kalau enggak ya bisa nambah teman, kata bude.

Saya hanya mengiyakan sepanjang bude menelpon. Saya paham maksud dan tujuan beliau. Saya juga bukan anak kemarin sore lagi, yang jengkel kalau dijodoh-jodohin. Akhirnya keponakan bude tersebut menghubungi saya. Kamis kami saling kontak, besoknya kami ketemu. Saya masih ingat betul harinya, karena di hari kami bertemu saya pakai batik.

First impression saat si laki-laki ini chat adalah: tidak menarik perhatian saya. Dan benar, chat-chat selanjutnya semakin membuat saya tidak tertarik. Saya bingung kenapa laki-laki suka sekali merendahkan diri mereka di hadapan perempuan. Saya nggak suka laki-laki macam ini. Perlu banget apa bilang “aku jelek mbak”. Ya kalau mau cakep mah oplas dulu mas, jawab saya. Chat-chat selanjutnya hanya bersifat formalitas.

Dia mengajak untuk bertemu sebelum pulang ke tempat kerjanya, Kalimantan. Saya mengiyakan. Besoknya kami bertemu. Dia jemput saya di depan kantor. Setelah menunggu dia salat maghrib kami bertolak ke Hore. Beruntungnya dia tidak membosankan seperti di chat. Dia adalah kawan bicara yang asyik. Pengalamannya bekerja di perkebunan banyak menarik perhatian saya.

Setelah berbicara kesana-kemari, saya mulai mengutarakan uneg-uneg. Saya tidak ingin bertele-tele dan berlama-lama. Berbekal pengalaman yang sudah-sudah, saya menjelaskan bahwa keinginan untuk menikah masih sangat lama. Sedangkan laki-laki di hadapan saya ini berada dalam posisi –kalau bisa– ingin segera menikah. Ya Allah, kenapa saya selalu dihadapkan pada laki-laki yang pingin nikah cepet, sih.

Saya berteman dengan siapa saja. Tapi jujur untuk hubungan serius masih terlalu jauh. Saya menjelaskan dengan hati-hati agar tidak terjadi salah paham. Saya juga tidak ingin berada dalam situasi hubungan: kenalan, chat tiap hari, salah satu ada yang baper. Duh, saya capek kalau harus begitu. Oleh sebab itu saya akan bicara terus terang di awal. Kita realistis aja lah. Orang kenalan, pedekate, tujuannya buat apa, sih? Pacaran atau nikah. Ya, kan? Kalau enggak ya ngapain juga gitu buang waktu buang energi buat balesin chat tiap hari. Buat temenan? Temen mana ada chat tiap hari.

Semoga kisah dari saya ini dapat menjadi referensi bagi kawan-kawan. Jika memang kalian sedang dalam masa tidak ingin serius, bicarakan di awal. Agar apa? Itu tadi, kita tidak terjebak dalam suasana melodrama yang menyebalkan. Saran saya hanya satu, jangan membuat orang lain merasa diberi harapan. Kenapa saya bilang begini? Saya belajar dari pengalaman. Dulu saya bodoh banget masa. Menggantung anak manusia dengan ketidakpastian~

Tapi jangan kemudian kamu sudah bilang bahwa ngga mau hubungan serius dulu, eh besoknya dideketin yang lebih ganteng iya juga. Itu sih masalah tampang aja udah. Laki-laki sebelumnya berarti nggak sedep dipandang (baca: kurang tampan).

Laki-laki flirting mah biasa, semua tergantung kitanya gimana. Saya dihadapkan dengan laki-laki genit, malah saya balas (tergantung, sih, yang flirting ganteng apa jelek). Urusan dia baper ya bukan urusan saya. Kalau dia nggak baper? Berarti saya emang nggak menarik, wkwkwk. Nah, begitu juga sebaliknya. Kalau ada laki-laki genit, ngegombal, basa-basi, terus kitanya kebawa perasaan, ya wassalam. Kita cenderung akan ngeladenin dia terus. Nggak di chat sehari udah bingung kek batre hape udah low tapi nggak nemu colokan atau powerbank. Perempuan kan gitu, ya? Mereka tuh bangga gitu kalau mereka didekati lebih dari satu laki-laki. It was like, I am the most beautiful woman in the world, hahahambel.

Saya, sih, tidak ada masalah. Karena pada dasarnya perempuan memang suka dipuji. Yang jadi masalah kemudian adalah ketika perempuan didekati hanya karena fisik yang mereka miliki. Example: face and body. Ya memang saya akui hal pertama yang bisa dilihat adalah wajah kita. Hal-hal yang ada dalam diri kita akan dikenali seiring berjalannya waktu.

Tapi, kan, tapi, kan, nggak cuma ituuu~

Rabu, 17 Oktober 2018

Nasi Goreng Tiga Puluh Ribu

Oktober 17, 2018 0 Comments
Hari keempat di Jogja Fitriya memilih untuk pulang terlebih dahulu. Saya terbangun ketika penghuni kamar sibuk berkemas. Saat bangun saya lupa entah Bibeh atau Mbabila yang bertanya kepada saya, “ikut ke stasiun, nggak?” saya yang masih setengah sadar langsung aja menjawab “ayo, sekalian pulangnya ke malioboro.” Semua sepakat. Kesambet apaaaaaaaa saya ngomong gitu. Tapi ya memang kami belum ke Malioboro sama sekali.

Selesai cuci muka dan gincuan, kami turun dari kamar. Driver gocar sudah sampai. Jumat pagi yang syahdu itu kami bertolak ke Lempuyangan. Mengantar Fitriya yang akan pulang ke kampung halaman. Bibeh duduk sebelah driver, kami bertiga duduk di belakang.

Setelah beberapa saat hening, tiba-tiba driver kami mulai berbicara. Saya yang memang setengah sadar, ditambah pula tertiup angin pagi yang segar, agak nggak konsentrasi mendengarkan percakapan. Yang saya dengar si driver ini bertanya pada kami 2019 ganti presiden nggak? Lah, buset. Dari kemarin kita pulang dari makam, kami juga dapat driver yang pertanyaannya sama. 2019 ganti presiden nggak??? Ya awkward dooooong kita ditanya begitu.

Saya nggak ngerti, apa sebegitu nggak ada topik lainnya yang bisa dibahas? Nah iya kalo si driver ini sejalan dengan pilihan kita? Kalau enggak? Maksud saya, ini masih pagi loooh, masih enak buat bobok, nggak mau tanya yang lain gitu? Tanya kek mau sarapan dimana? Atau yang standard orang pergi ke stasiun, lah. Mau kemana? Ini enggak. 2019 ganti presiden nggak, nih??? Yaelaaaaaah. Berat amaaat. Nyangga kepala aja saya malas, pengen nyender mulu, apalagi jawab pertanyaan macam begitu.

Setelah kesengsaraan batin yang kami hadapi, sampailah kami di Lempuyangan. Setelah mengantar Fitriya sampai pintu pemeriksaan tiket, kami wefie dan berpisah. Tak lupa juga kami dada-dada. Jam tujuh pagi, belum mandi, sudah gloomy. Beberapa menit kami habiskan di stasiun untuk menetralisir perasaan. Asli bangsat sekali suasana hati pagi ini.

Setelah merasa tenang kami lanjut pesan gocar untuk ke Malioboro. Saya berdoa semoga driver kami kali ini nggak ngeselin nanya-nanya 2019 ganti presiden atau tidak. Dan, ya. Nggak ngeselin sih emang, beliau lebih kalem dan irit bicara. Kita juga yang masih sebel sama suasana di mobil pertama tadi lagi puasa ngomong, tambah suara saya dan Bibeh serak-serak banjir, malas ngomong panjang lebar.

Kami turun di halte Malioboro. Pertama turun yang saya cari adalah plang tulisan Jalan Malioboro yang seingat saya ada di ujung jalan. Ya, ini kunjungan kedua saya di Jogja. Dulu pernah ke Jogja untuk KKL rasa liburan pas kuliah. Dan saya baru menyadari ada yang berubah dari Jalan Malioboro ini. Trotoar sudah semakin lebar. Tata kota lebih rapi. Sudah ada banyak kursi santai di area pedestrian. Di trotoar-trotoar ini pun berjejer warung makan.

Efek setelah malamnya nggak makan ditambah tadi pagi kami bertemu momen absurd yang meguras emosi jiwa, kami lapar. Kami ingin makan makanan yang nggak manis! Kami ingin makan makanan yang gurih, yang pedas, pokoknya nggak manis!!! Bayangin aja, gaes. Malam hari kedua, setelah pulang dari nonton panggung kebudayaan, kami beli nasi goreng. Bapak yang punya warung nanya: pedes nggak? Saya jawab: pedes, pak, pedes banget. Oke, tolong di bold dan underline jawaban saya ke bapaknya. Pedes, pak, pedes banget. Teman-teman menatapku dengan ekspresi “ojo pedes-pedes engko mules”. Ingin ku berkata pada mereka: gaes, plis, this is Jogja, yunow???

Setelah nasi goreng kami jadi, bapaknya nyeletuk: hati-hati, ya, pedes banget itu. Oke baik. Tapi sampai di situ perasaan saya masih belum yakin, nih. Baru pas sampai di hotel, saat kami dicemberutin Mas Dani karena bawa istrinya sampai dini hari, dan nggak pamit pula (mbabila juga sih lupa pamit segala kalo mau nonton pertunjukan, kite mah jomblo freestyle nggak ada yang marahin), sumpah baru kali itu saya melihat Mas Dani nesu dan wajahnya nggak enak banget dilihat. Hih!!!

Balik lagi ke nasi goreng. Setelah kami duduk bersila melingkari bungkusan nasi, kami mulai makan. Dan ternyata apa sodara-sodara??? Saya nggak ngerti lagi dimana letak pedasnya nasi goreng ini. Ini mana pedasnya, wahai bapak penjual nasi goreng! Ini tidak pedas sama sekali! Ini tuh nasi goreng biasa menurut saya. Tidak pedas, sungguh tidak pedas :(

Berbekal pengalaman nasi goreng itu lah kami tidak kapok. Pagi ini kami sepakat makan nasi goreng. Jadilah kami menyusuri tiap warung makan. Melewati sebuah warung kami seperti tersihir dengan teknik berjualan mas-mas baju hitam di depan warungnya. Teknik berjualan yang begini, nih: ayo-ayo mari silahkan sarapannya, semua ada semua ada, nasi goreng, mi goreng, ayam goreng, ayo-ayo silahkan...” begitulah pokoknya. Nah, ketika si mas-mas ini mengucapkan kata nasi goreng, kami seperti terhipnotis. Masuk aja gitu kita ke warungnya.

Saat mas pemilik warung sibuk mengambilkan daftar menu, kami celingak-celinguk. Ndilallah (lagi) saya melirik ke arah banner besar berisikan menu dan harganya di sebelah kiri saya. Mata saya tertuju pada harga nasi goreng ayam. Saya melotot. Nasi Goreng Ayam ......... Rp 30.000,-

Goks! Ini nasi goreng isinya apaan bisa nyampe tiga puluh rebu? Ayamnya ayam apa? Kampus? Saya bilang ke Bibeh dan Mbabila, mereka kayak orang yang nggak sadar gitu. Ha? Masa, sih? Mana? Mereka mengikuti arah yang saya tunjuk. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, gaes. Kami pesan satu porsi nasi goreng dan tiga minuman. Yup, sepiring bertiga. Yup, emang kismin banget kita.

Kami lebih ridha duit tiga puluh ribu itu untuk makan di tempat yang kemarin (di parkiran Pasar Beringharjo) daripada nasi goreng yang ternyata porsinya juga nggak banyak-banyak amat. Rasanya? Harus diakui enak. Tapi mbok ya tolong masa porsi segitu harganya tiga puluh ribu???

Missqueen mah missqueen ajaaaa~

Bukan apa-apa, gaes. Hari keempat di Jogja itu keuangan kami sudah memasuki stadium empat. Kami bahkan belum membelikan buah tangan untuk orang-orang terkasih kami. Ini, nih, sebenernya yang bikin ribet kalo keluar kota. Oleh-oleh! Buah tangan! Hmmm~

Kami makan sepiring bertiga. Kami menertawakan diri kami sendiri. Kami mulai meracau kelak harus balik lagi ke sini dengan saldo ATM yang melimpah. Kami harus bersenang-senang, kami harus berfoya-foya. Ndilallah (lagi), gaes, setelah makan nasi goreng tiga puluh ribu sepiring bertiga itu energi kami kuat hingga sore. Padahal kami jalan kaki sepanjang Jalan Malioboro, belum lagi jalan kaki ngubek-ngubek Beringharjo. The power of makanan mahal mah begitu. Sayang kalau dikeluarin lagi (baca: eek). 

Penampakan nasi goreng setelah kami eksekusi

Sebenarnya ada satu hal yang membuat kami sungguh amat menyesal. Pas kita jalan lurus dikit, di depan Mall Malioboro ternyata berderet-deret gerobak penjual bubur ayam. Tadi Mbabila sebenernya pingin makan bubur ayam, saya juga. Apalah daya, daya juang kami memang lemah. Padahal kalau mau jalan kaki dikit bakal ketemu. Padahal kalau mau berjuang dikit bakal kesampaian.

Nah, pesan moral apa yang bisa kalian petik dari cerita saya ini?

Nggak ada! Udah baca mah baca aja, jangan pusing mikirin pesan moral. Pesan moral juga nggak pusing mikirin kita.

Ekspresi kami setelah mengeksekusi

Senin, 15 Oktober 2018

Sembadra dari Purwoasri

Oktober 15, 2018 0 Comments
Nabila Istiqomah, namanya. Saya mengenal perempuan ini pertama kali saat dia menjadi narasumber acara #itsmeytime (yang sekarang sudah wassalam, hahaha) di radio NU Banyuwangi beberapa waktu silam. Sharing tentang pengalamannya saat belajar di Thailand. Sebelumnya saya sebatas tahu bahwa Mbabila adalah sekawanan dengan Fitriya, Fida dan Bibeh. Yang sudah tentu adalah kader IPPNU juga.

Saya sempat kikuk ketika pertama kali ngobrol dengan Mbabila, karena kalian tahu sendiri pembawaan belio me ne nang kan~

Kepribadian kami sangat kontras. Ibarat magnet ada kutub negatif dan positif. Ibarat arah mata angin ada Utara dan Selatan. Ibarat perasaan ada benci dan rindu. Begitulah.

Sejak pertemuan pertama di kantor NU itu kami jadi akrab. Waktu itu Mbabila belum menikah. Dan saya tahu bahwa dia adalah calon istri Mas Dani juga dari produksi ghibah bersama Bibeh, Fida, Fitriya.

Ingatkah, gaes, tentang pepatah yang mengatakan “Orang kalau berteman dengan penjual minyak wangi, maka ia akan tertular bau wangi. Namun jika berteman dengan penjual ikan asin, ya otomatis tertular bau ikan asin.” Saya menyadari itu. Rezeki tak melulu tentang harta benda. Teman pun adalah rezeki. Dan saya sangat bersyukur memiliki teman bernama Nabila Istiqomah ini.

Bukan apa-apa, beliau ini tipe orang yang positif vibes. Dia nggak akan ghibah kalau nggak ada yang mancing-mancing untuk ghibah, wkwkwk. Mungkin karena darah jawa yang mengalir di tubuhnya, Mbabila ini benar-benar kalem dan memiliki stok sabar yang melimpah ruah. Belum pernah lagi saya memiliki teman yang sesabar dia setelah Fiya, teman saya di SMK dulu.

Saya adalah salah satu orang yang mengagumi gaya berpacaran Mbabila dan Mas Dani (eh, kalian pacaran nggak, sih?). Dari sejak pertama kali saya tahu Mas Dani mengkhitbah Mbabila, saya yakin itu adalah keputusan yang tepat. Mas Dani tidak salah pilih. Hingga kemudian mereka menikah, Mas Dani mengucap akad, berdera-derai air mata saya jatuh. Bukan karena saya ditinggal nikah Mas Dani, bukaaan. Rasa haru dan bahagia pagi itu tidak bisa saya jelaskan. Perempuan yang hari ini berulang tahun itu telah sah menjadi seorang istri.

Aduh bangsat ini kenapa saya ngetiknya sambil ngempet banyu moto, sih? :(

Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang berbahagia di hari pernikahan mereka saat itu. Di saat saya underestimate terhadap mereka-mereka yang menikah muda dengan bekal ilmu seadanya, saya justru angkat topi terhadap peristiwa pernikahan mereka berdua (Dani dan Nabila). Ini loh role model sesungguhnya. Ini loh harusnya yang kalian jadikan panutan. Nggak tahu kenapa, ya, saya senang aja gitu lihatnya. Takaran mereka berdua pas. Nggak lebih nggak kurang.

Saya banyak menceritakan perihal teman-teman saya pada Ibu. Tak terkecuali Mbabila ini. Dan beberapa waktu yang lalu Mbabila sempat mampir ke rumah. Saya bilang ke Ibu, ini loh yang namanya Nabila. Ibu saya pun mengakui kelembutan sikap Mbabila. Beda dengan saya, katanya. Ibu mengibaratkan Mbabila adalah Sembadra. Tokoh dalam pewayangan wanita yang memiliki tutur kata lembut, sikap santun, anggun, dan sikap-sikap halus lainnya.

“Kalo Mbabila Sembadra aku apa, Buk?” | “Buto cakil.”

Bhaiq~

Selamat mengulang syukur, Mbabil. Terima kasih telah menjadi teman kami yang menyenangkan. Saya bangga memiliki teman yang seperti google, bisa ditanyain apa aja tentang agama. Heuheu.

Tetaplah menjadi Nabila yang sabar. Nabila yang kadang polos kadang tidak polos. Nabila yang selalu menyemangati kami para singlelillah untuk berjuang menghadapi gempuran bullying (padahal mah dia juga yang ngebully). Nabila yang cara ketawanya bikin saya sebal. Nabila yang selalu memberikan kami amalan-amalan baik, apalagi amalan yang waktu itu, tuh. Amalan agar kita terlihat menawan di depan laki-laki. Wuwuwu~

Terima kasih untuk tetap ada di muka bumi dan menjadi bagian dari misi perdamaian (opo aeeee talah). Terima kasih karena telah memilih menjadi orang baik. Terima kasih karena telah bersedia menjadi bagian dari hidup saya. Semoga sehat selalu, Mbabil. Nggak tahu kenapa saya sayang banget sama perempuan satu ini. Kalau ada orang yang bikin dia sakit hati, bikin dia nangis, awas aja! Selamat ulang tahun, perempuan baik hati. I love you to the moon and back

Maaf Bibeh, kamu aku crop :(

Minggu, 16 September 2018

Apapun Masalahnya Nikah Solusinya

September 16, 2018 0 Comments
Sebagai blogger moody, tidak afdol rasanya jika saya tidak ikut-ikutan menulis apa yang sedang vairel di media sosial saat ini. Yaaa biar nggak dibilang kuper aja, eaaaaa. Biar dianggap up to date aja, eaaaaa.

Oke, beberapa hari yang lalu muncul sebuah meme yang menggemparkan jagat maya. Berikut adalah penampakan meme tersebut:

Twitter

Bagaimana? Anda sudah tersedak melihat meme tersebut? Anda sudah ingin pindah negara saja karena  sedih orang Indonesia begini amat pemikirannya? Atau justru anda ingin enyah saja dari alam semesta ini? Tunggu dulu, tunggu dulu. Masih ada satu meme lagi yang saya yakin akan membuat anda ingin segera kiamat saja.

Twitter

Dari kemunculan meme yang pertama saja saya sudah ketawa sambil mbatin: Gobloooook talah bokek solusine kok nikah iki logikamu nang ndi?
 
Tidak punya uang atau dalam bahasa gaulnya bokek, solusinya ya menghasilkan uang dong. Menghasilkan uang bisa dari mana saja. Kerja, dagang, ngepet, pesugihan, nikah. Eh, kok? Sebentar. Dipikir-pikir memang iya. Nikah is a wan of solusyen tu get de mani. Kenapa jadi mani :(

Kita saja yang buru-buru menghakimi si pembuat meme. Coba jamaah ismafawwaz renungkan baik-baik. Sebelum nikah bokek, terus pas nikah kan ada yang kasih uang nafkah, tentu nggak bokek lagi dong? Yekan? Yadooong. Iya nggak, siiih???

Maaf, gaes. Akhir-akhir ini saya lagi demen banget nonton Hakim Komedi, akhirnya sampah semua gini yang saya tulis. Wkwkwk.

Banyak sekali komentar yang beredar menanggapi meme tersebut. Karena memang meme ini komentar-able sekali. Ya kalau lapar memang solusinya adalah makan. Kalau haus solusinya memang minum. Masa lapar kita malah goyang dua jari, haus kita malah makan seblak?

Twitter

Tapi kalau kemudian kita bokek dan solusinya adalah menikaaaaah, ini sungguh kedunguan yang haqiqi. Itu sama saja dengan kita menikah bukan karena ibadah kepada Allah. Tidak meniatkan menikah sebagai sebuah ibadah yang suci. Kamu menikah buat apa? Ya biar nggak bokek lagi. Ora mashoooook, Pak Eko!!!

Lha misal setelah menikah kamu tambah bokek karena suamimu nggak gablek kerja, gimana? Ya menikah lagiii. Ehe~

Jadi perempuan mbok ya jangan pasrah-pasrah amat kenapa, sih. Daya juang kita jangan melempem gitu. Ingat, Puan, hidup ini keras! Kita lembek dikit, abis kita dilindas kehidupan. Hidup keras, kita juga harus keras.

Capek kuliah gitu doang udah pingin nikah. Capek skripsian gitu doang udah pingin nikah. Capek kerja gitu doang udah pingin nikah. Nggak pingin nggak nikah aja apa lu?

Lagian siapa sih yang bikin meme kalo perempuan capek kerja itu tandanya minta dinikahi? Perempuan-perempuan mana itu yang anda jadikan sampel penelitian? Bisa dipertanggungjawabkan nggak nih tulisannya? Wuwuwu dosbing mode on. 

Capek kerja harusnya ucap hamdalah. Kita masih bisa kerja disaat banyak orang yang capek jadi pengangguran. Jadi pengangguran ini lebih capek loh dari kerja. Capek jadi omongan tetangga, capek jadi omongan sodara, belum lagi pas kumpul hari raya. Seram pokoknya, seram.

Lagi pula, situ yakin menikah itu tidak capek? Menikah itu untuk seumur hidup. Seumur hidup kita akan menjaga janji yang telah kita buat dihadapan Tuhan. Urusan pekerjaan, seberat-beratnya, masih bisa kita selesaikan. Nah, menikah? Kalau kita capek mau udahan? Nggak, kan?

Saya cukup mengutuk isi tulisan meme tersebut. Pembuat memenya biarlah jadi urusan Tuhan.