Sabtu, 12 Januari 2019

Hidup Selalu Bisa Memilih

Januari 12, 2019 0 Comments
Memutuskan untuk resign dari kantor tempat bekerja menghadapkan saya pada situasi dilematis. Setelah resign, beberapa waktu kemudian ibu kembali bekerja di tempat yang sama dulu. Bu Kus (atasannya) tidak sekali dua kali menghubungi ibu untuk kembali bekerja. Setelah ibu merasa Ai sudah bisa ditinggal kerja, beliau akhirnya memutuskan untuk bekerja.

Sejak ibu bekerja, semua urusan menyangkut Ai saya yang handle. Mulai dari jemput dia pulang sekolah hingga mengantarnya ngaji. Segala keperluannya pulang sekolah seperti makan siang hingga mengerjakan tugas sekolah pun tak luput dari campur tangan saya. Singkatnya, saya berganti peran dengan ibu, menjadi kakak rumah tangga.

Oleh sebab itu meskipun sekarang saya sudah tidak bekerja lagi mobilitas saya tetap terbatas. Banyak pihak menyesalkan keputusan saya untuk resign. Beberapa teman dekat menyayangkan, terus kalau nggak kerja kamu mau ngapain? Kok bisa, sih, nggak kerja? Mau ngerepotin orang tua terus?

Saya menyadari sepenuhnya apa yang saya lakukan. Saya memahami resiko yang akan saya hadapi. Judgement dari orang-orang, omongan negatif, dan lainnya.

Gaes, have you ever felt like you won’t get up every morning in every day? Have you? Itu yang saya rasakan setiap malam menjelang dan mendapati kenyataan bahwa besok saya harus kembali ke kantor untuk bekerja. Jika kalian menanyakan apa alasan saya resign saya bingung harus menjawab apa. Biar mudah, saya tidak cocok dengan pekerjaan tersebut. Menjadi service relation officer bukan bidang yang saya minati.

Mey, bukankah seperti yang kamu bilang bahwa tidak ada pekerjaan yang mudah? Semua tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang kamu inginkan, kamu tahu itu.

Tentu, tidak ada pekerjaan yang mudah. Tapi saya bisa memilih, dan saya memilih untuk tetap menjaga pikiran saya agar tetap sehat. Saya sadar betul saya tidak bisa menyenangkan semua orang, karena memang begitu manusia, memiliki keterbatasan. Tapi hidup selalu memiliki pilihan bukan? Dan saya memilih untuk mengikuti kata hati saya.

Memang betul, nggak kerja itu nggak enak. Nggak punya pemasukan, nggak bisa beli buku sesering saat bekerja, nggak bisa jajanin adik-adik dan keluarga sesering saat bekerja. Tapi sungguh saya nggak ingin stress. Memaksakan pikiran untuk menanggung beban yang berat, kalau beban fisik saja saya masih bisa tahan, tapi pikiran? No, i love me.

Sila judge saya egois, mementingkan diri sendiri, tidak apa-apa, itu hak semua orang.

Berulang kali saya selalu bilang ke diri sendiri bahwa pasti akan dapat ganti yang lebih baik. Pekerjaan yang sesuai dengan saya, pas dengan saya, yang ketika saya bekerja saya melakukannya dengan baik setiap hari.

Beberapa waktu yang lalu saya dipanggil untuk interview sebagai station announcer di Jember. Saya berangkat dengan percaya diri karena sudah mengantongi restu dari bapak dan ibu di Banyuwangi. Selama perjalanan saya hanya bilang ke Tuhan, bahwa semua ketetapan terjadi atas kuasa-Mu, saya tidak akan berharap banyak pada kesempatan kali ini, jika ini rezeki saya maka saya akan dapat. Sudah, itu yang saya katakan berulang kali dalam hati.

Saat interview saya ditanya apa motivasi ikut mendaftar sebagai station announcer. I said, i do what i love. Somebody told me that all the things that i have to do is just do what i love. I love announcing, i love presenting, i love hosting, that’s all my motivation.

Keluar dari ruangan saya mbatin “Halaaaah taeeeek, motivasi melok yo ben iso megaweee, oleh duwit, foya-foya, hura-hura.” Tapi cuma mbatin. Harusnya mah saya tambahin aja sekalian “I’m feeling sexy when i’m talking with microphone, i loveeeee that so much.”

Akhirnya keputusan sudah diambil. Pekerjaan itu belum menjadi rezeki saya. Yup, saya sudah menyiapkan dua mental jauh-jauh hari. Mental diterima dan mental ditolak. Paling tidak saya sudah mencoba.

Kejadian-kejadian dalam hidup saya membuat saya sadar bahwa keputusan untuk tetap hidup adalah keputusan maha luar biasa yang pernah dibuat oleh manusia secara sadar. Kita memilih untuk tetap hidup dan menerima semuanya. Menerima untuk dicampakan, menerima untuk dikecewakan, menerima untuk tidak dihargai, menerima untuk patah hati, menerima untuk dibenci.

Tumbuh menjadi dewasa dan menghadapi kompleksitas kehidupan. Belum lagi perihal menikah. Saya selalu membuang jauh-jauh pikiran buruk tentang pernikahan. Saya takut jadi apatis. Kenyataan-kenyataan yang tersaji di depan mata kepala saya sendiri adalah penyebabnya.

Kemarin-kemarin saat saya menunggui Fahri ngaji, saya selalu ngobrol bersama Mbak Fitri (penjual jajanan di dekat tempat ngaji) sembari menunggu ibu saya pulang kerja. Ketika ibu datang Mbak Fitri selalu curhat apa saja ke ibu. Kebetulan waktu itu saya tepat persis di depan Mbak Fitri. Mbak Fitri bercerita tentang mertua perempuannya yang sudah tidak kooperatif sama sekali. Mertuanya ini selalu minta duit setiap hari. Mbak Fitri ini hanya perempuan biasa yang untungnya sangat rajin. Dia berusaha mendapat penghasilan tambahan dengan berjualan cireng, sosis, mi dan es di dekat tempat pengajian. Jika kalian tahu bagaimana Mbak Fitri mengeluhkan ulah mertuanya saya yakin kalian bakal nelangsa.

Saya nggak bermaksud untuk menceritakan aib keluarga, tapi apa yang saya sharing ini menjadi salah satu pengingat bahwa berkeluarga tidak semudah kita ambil napas. Pengingat bagi saya, juga pengingat bagi teman-teman yang belum menikah.

Saya akan selalu bangga dengan istri-istri cekatan yang mampu menghasilkan uang sendiri meskipun suaminya bekerja. Hormatku setinggi-tingginya. Mereka memilih untuk tidak bergantung pada suami. Siapa yang akan menduga jika suatu saat nanti ada hal tidak diinginkan terjadi pada suami? Mati, misalnya. Atau perceraian.

Hal-hal yang teramat kompleks ini nyata. Ada di depan mata kita dan saya tidak mau menutup mata atas itu. Ibu saya berulang kali bilang bahwa menikah itu bukan suatu keputusan yang dapat dengan mudah kamu ambil. Kamu harus siap dengan segalanya. Saya juga tidak mau menikah karena dikejar deadline. Saya akan menikah dengan kesadaran diri sepenuhnya. Tidak ada yang namanya terlambat menikah, semua tepat pada waktunya.

Oh, ya. Kemarin saya juga nonton #KeluargaCemara bersama Bibeh. Sebuah tontonan yang sangat recommended. Pingin banget ngajakin sekeluarga nonton ini kek pas nonton Wiro Sableng dulu, tapi apa daya duit masih nyangkut kemana-mana :(

Selesai nonton kami makan mi ayam Pak Heri. Bercerita tentang masa depan, pernikahan, keluarga, adalah menu wajib yang selalu kami lahap. Bibeh dan Veni adalah dua orang favorit saya jika menyangkut urusan seperti ini.

Akhirnya, dengan kelapangan hati saya harus terus melanjutkan hidup. Masih kuat. Tuhan masih senang mendengarkan suara saya saat memohon, meski hanya dalam hati. Tidak dipungkiri memang ketika jobless begini kadang meme-meme menyesatkan itu benar adanya. Capek lah begini mulu, nikah aja udah.

Hmmm tidak semudah itu, Marfu’ah.

Sumber: Twitter