Insiden Standard
Meydiana Isfandari
Agustus 22, 2015
0 Comments
Sabtu
siang ini seperti biasa aku menjemput Mak e di Tangkong.
Semenjak
Pak Nik -ojek langganan Mak e yang sudah seperti keluarga sendiri- pergi ke
Bali untuk bekerja, aku yang antar jemput Mak e.
Tidak
jelas kapan pulangnya Pak Nik.
Aku
berdoa semoga nggak seperti Bang Toyib yang nggak pulang-pulang ya Pak?
Saat
baru keluar dari pagar dan melewati mushola di sebelah rumah, ada seseorang
yang berteriak memanggilku.
Tapi
aku tidak begitu jelas dengan apa yang dia ucapkan.
Aku
menoleh ke belakang, ternyata Dik Ria.
Dik
Ria masih menatap ke arahku.
Aku
pikir dia hanya berkata aku mau kemana.
Sehingga
aku tetap melajukan motor.
Tapi
setelah itu perasaanku tidak enak.
Aku
mengingat-ingat sesuatu.
Pasti
ada yang salah.
Aku
mengayunkan kakiku kebawah.
Benar
saja.
Ternyata
standard motor belum aku angkat.
Ah,
Mey.
Untung
aku tidak celaka.
Aku
berterimakasih pada Dik Ria *dalam hati tentunya
Allah
mengingatkanku melalui gadis kecil itu.
Setelah
insiden standard tamat, aku
mengendarai motor dengan perasaan yang lebih lega.
Pergi
sudah perasaan ku untukmu tidak enak itu.
Sebelum
ke Tangkong aku mengisi BBM *bukan Black Berry Messanger loh ya* di pom bensin
Karangente.
Kebetulan
pom sedang sepi, jadi urusan isi mengisi *TTS kali ah* berjalan dengan lancar
tanpa hambatan apapun. Hehehe …
Aku
segera mengendarai motor melewati tangki pertamax yang ada didekat pintu
keluar.
Tiba-tiba
ada suara *lagi* yang berteriak padaku.
“Mbak,
standard.”
Aku
menoleh pada mas-mas berpakaian serba merah itu.
Aih,
Mey …
As always. Pelupa.
Aku
panik dan buru-buru mengayunkan kakiku ke bawah.
Aku
berhutang terimakasih pada Dik Ria dan Mas di pom bensin itu.
Dua
kali Allah menyelamatkan aku dari bahaya.
Kan
nggak kece kalau harus nyium aspal gara-gara standard.



