Sabtu, 30 Desember 2023

USAI

Desember 30, 2023 0 Comments

Aku berada di sini lagi. Dalam kondisi yang sama lagi. Kalau aku bisa bertemu Tuhan untuk bertanya langsung kenapa, mungkin sudah kulakukan. Kenapa aku berada lagi di posisi ini, di keadaan ini. Sekeras apapun aku berusaha, sepertinya aku dihadapkan lagi pada perpisahan-perpisahan tanpa kata.

Aku tidak suka hal-hal semacam ini menggangguku, membuatku tidak tumbuh, membuatku menyesali banyak hal. Aku tidak suka. Apakah aku terlalu keras pada diriku sendiri? Apakah aku memasang tembok yang terlalu tinggi? Atau aku terlalu keras kepala?

Sekarang semuanya berakhir. Aku terlambat dan tidak lagi ada kesempatan. Aku tidak mau lebih lama lagi mengasihani diriku sendiri. Aku harus melanjutkan hidup.

Rabu, 15 November 2023

BOM WAKTU

November 15, 2023 0 Comments

Sejak keputusan paling impulsif yang aku ambil itu, aku semakin dilanda keraguan. Apa sebetulnya yang aku cari? Apa sebetulnya yang aku pikirkan ketika memutuskan hal itu? Benarkah itu keputusan yang aku ambil secara sadar? Benarkah itu hal yang aku butuhkan?

Aku tidak menyangka justru menceburkan diri secara sukarela dalam sebuah keadaan yang tidak pernah aku alami sebelumnya. Dalam keadaan yang aku sama sekali tidak berpengalaman. Keadaan yang hanya membuatku pening jika mengingat lagi apa sebenarnya tujuan yang mau aku capai?

Setiap hari yang aku rasakan hanya perasaan bersalah. Kemana perginya perasaan penuh kupu-kupu yang dulu aku rasakan? Oh, apakah aku ini hanya penasaran saja? Rasa penasaran yang tanpa disadari membawaku pada keadaan yang entah bagaimana akhirnya.

Yang aku sadari sekarang adalah, komunikasiku ternyata buruk sekali. Oh, Tuhan. Aku tidak bisa –atau mungkin tidak mau?– menjelaskan apa yang aku rasakan. Aku ini pengecut, bersembunyi dibalik waktu. Padahal bisa saja “waktu” itu berbalik menjadi bom yang akan menghancurkanku.

Senin, 06 November 2023

BADAI

November 06, 2023 0 Comments

Sepertinya hari ini adalah hari dimana aku betul-betul menyadari bahwa pernikahan memang tidak untuk semua orang. Bodo amat aku mau dibilang apa, tapi kenyataannya memang iya. Pernikahan tidak untuk semua orang, I said it again, pernikahan tidak untuk semua orang.

Bukan karena aku selalu melihat pengalaman tidak menyenangkan dalam pernikahan, jauh dari itu menikah ya memang tidak mudah. Menikah itu untuk mereka yang siap dan mampu. Siap dan mampu menerima kehadiran manusia lain dalam hidupnya tidak hanya untuk seminggu dua minggu, tapi sepanjang hidupnya. Siap dan mampu menerima perubahan yang pasti akan terjadi. Siap dan mampu menerima segala masalah yang akan datang dalam rumah tangga. Siap dan mampu berkompromi. Siap dan mampu bertanggungjawab.

Pernahkah kamu ditelpon sahabatmu hanya untuk mendengar dia menangis dan teriak? Aku mendengar semuanya sambil enggak tahu harus apa. Aku mendengar semuanya sambil terus berdoa dalam hati semoga dia tetap kuat. Aku mendengar semuanya sambil menggigit bibir menahan air mataku agar tidak tumpah.

Aku sedih. Aku sedih sahabat yang aku sayangi harus mengalami badai. Aku sedih karena saat badai itu hadir aku justru alpa. Berulang kali aku meyakinkan diri sendiri bahwa ya itulah namanya rumah tangga. Enggak bisa selamanya damai sejahtera. Tapi, semakin aku meyakinkan diri sendiri, semakin semuanya terasa omong kosong belaka.

Aku sudah pernah melihat kedua orangtuaku bertengkar. Aku sudah pernah melihat rumah tangga saudaraku berantakan. Aku sudah pernah melihat badai hebat dalam rumah tangga orang lain. Dan sekarang aku di sini menjadi manusia yang entah sampai kapan masih akan selalu penuh dengan keraguan soal pernikahan.

Seharusnya dari semua yang sudah aku lihat itu membuatku jadi lebih bersiap, jadi lebih matang, jadi lebih berani. Kenyataannya semakin membuatku ciut.

Senin, 30 Oktober 2023

#BukuBagus: LIFE AS DIVORCEE

Oktober 30, 2023 0 Comments

“Perceraian adalah emergency exit yang Tuhan sediakan ketika kita enggak sanggup lagi berada dalam hubungan pernikahan. Alih-alih keluar melalui lift yang sesak dan ada kemungkinan macet di tengah jalan, tangga darurat adalah pilihan teraman.”

Buku ini sudah mencuri perhatianku sejak lama. Namun, baru bisa membeli dan menyelesaikannya Agustus lalu. Thanks to Paket Tujuhbelasan dari Mojok Store. Sebuah buku yang musti dibaca perlahan dan dipahami dengan hati-hati, Life as Divorcee.

Cukup cepat aku menyelesaikan buku yang ditulis oleh Virly K.A ini, hanya hitungan hari. Selain karena aku suka pembahasannya, buku ini hanya 138 halaman. Virly K.A terbilang cukup vokal menyuarakan hidup sebagai janda. Status yang harus kita akui masih mendapat stigma dalam society kita.

Buku ini mengupas perjalanan Virly yang bercerai dalam usia yang terbilang muda, 25 tahun. Usia itu aku justru masih menyimpan banyak keraguan soal pernikahan, sekarang pun masih. Aku heran mengapa ada manusia yang menambah beban masalah kehidupan dengan pernikahan?

Membaca dan belajar dari pengalaman Virly membuatku lebih mampu menyiapkan banyak hal sebelum nanti aku memutuskan untuk menikah. Berdasarkan pengalaman hidupnya Virly mampu memetakan hal-hal yang harus dibicarakan sebelum menikah.

Tentu, seperti yang dia bilang, pernikahan hanyalah sebuah prolog dari kehidupan bersama yang tidak bisa lepas dari berbagai adegan tak romantis serta konflik tak terduga yang berpotensi menimbulkan perselisihan, mengganggu eksistensi sebagai manusia hingga membahayakan nyawa.

Kenapa kok bisa ekstrim begitu? Ya, itulah yang dialami Virly. Bukan hendak menakut-nakuti mereka yang belum/tidak menikah. Tapi, begitulah adanya. Pernikahan tidak selalu seindah bayangan kita seperti di film-film atau media sosial artis-artis. Pernikahan tidak hanya cerita indah-indahnya saja, cerita kelam dan cerita duka pun banyak, banyak sekali.

Yang aku suka dari Life as Divorcee adalah ia mampu membantu kita menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin selama ini berkembang dalam pikiran kita. Virly membuka dialog dengan pengalaman dia memutuskan untuk bercerai. Virly tidak dengan mudahnya mengajak perempuan untuk bercerai ketika ada masalah dalam sebuah rumah tangga. Nope.

Virly menguraikan dengan lugas apa saja yang harus dipikirkan matang-matang sebelum memutuskan bercerai. Apa saja konsekuensi yang akan kita hadapi, dan banyak lagi lainnya. Virly juga menguraikan hal-hal yang tidak dia lakukan sebelum dulu memutuskan untuk menikah. Nah, hal-hal inilah yang bisa kita jadikan pedoman untuk dibicarakan bersama pasangan apabila kita ada di hubungan yang hendak ke jenjang pernikahan.

Pre-Marriage Talks, istilahnya. I swear, jangan pernah merasa sungkan atau malas membahas hal-hal yang perlu dibahas sebelum pernikahan. Dari sana kita akan bisa melihat bagaimana pandangan hidup pasangan kita. Dari perbincangan-perbincangan itu kita akan tahu dia worth it atau tidak. Bisa tidak kita menghabiskan seumur hidup kita dengannya? Ladies, seumur hidup itu tidak sebentar. Jadi, pikirkan matang-matang.

Ah, kebanyakan mikir. Ingat usia semakin tua. So, what? Jangan biarkan perkataan orang lain mematahkan proses belajarmu. Proses mengenal diri sendiri terlebih dahulu dengan baik. Jangan sampai perkataan-perkataan demikian membuatmu justru tercebur dalam keputusasaan. Ah, ya udahlah sama siapa aja yang penting aku menikah. Noooo, girls! No. Just keep on that way.

Life as Divorcee tidak hanya menjadi guidance bagi mereka yang sudah bercerai, tapi juga bagi mereka yang belum ingin menikah. Teman-teman bisa mendapatkan bukunya di sini.

Senin, 16 Oktober 2023

#BukuBagus: TAK DI KA’BAH, DI VATIKAN, ATAU DI TEMBOK RATAPAN, TUHAN ADA DI HATIMU

Oktober 16, 2023 0 Comments

Pernah enggak kalian merasa sayang menyelesaikan sebuah tontonan karena isinya bagus banget atau lucu banget dan berharap enggak buru-buru tamat? Ada beberapa konten yang membuatku merasakan hal itu tapi ya mau enggak mau kontennya harus selesai.

Enggak hanya tontonan, buku pun demikian. Sejak membaca prolognya saja aku sudah senang karena akan mendapat banyak ilmu dan pengetahuan. Ini juga merupakan buku yang sudah lama aku incar. Tak di Ka’bah, di Vatikan, atau di Tembok Ratapan, Tuhan ada di Hatimu. Sebuah buku karya Habib Ja’far Al-Hadar.

Aku mengenal (si kenal), mengetahui beliau sejak menonton channelnya, Jeda Nulis. Konten-konten Islam ramah yang waktu itu beliau bawakan sungguh mencerahkan. Tentu saja saat itu beliau masih begitu polos, tidak menyelipkan humor-humor dan nampak tegang meskipun pembawaannya santai karena belum menjadi habib industri. Pokoknya mah dulu beliau tidak idol-able sekali, wkwkwk.

Buku bagus ini terdiri dari lima bab dengan materi per sub-bab isinya daging semua kalau istilah zaman sekarang. Pembahasannya mulai dari Hijrah; Islam Bijak Bukan Bajak; Akhlak Islam; Nada, Canda dan Beda; Ateis, Tapi Cuek sama Tuhan.

Habib Ja’far pandai membangun dialog yang mudah dipahami oleh pembaca. Bahasa yang beliau gunakan sangat membumi. Hal lain yang aku suka adalah beliau mampu menyajikan kisah-kisah lampau dari zaman nabi untuk kemudian diambil hikmahnya, diambil pelajarannya tapi juga tidak serta merta daplikasikan di zaman ini.

Begitu juga dengan selipan ayat Al-Qur’an. Beliau mampu menjelaskan korelasi ayat dengan situasi. Bagaimana ayat tersebut menjadi jawaban, solusi dan pegangan karena dijelaskan dengan sangat terstruktur. Itu tadi, karena beliau pandai membangun dialog, pandai memakai diksi.

Sepanjang membaca buku ini rasanya seperti mendengarkan ceramah. Ceramah yang ramah, powerful, tepat sasaran, sehingga menancap sempurna ke hati kita. Buku ini paket komplit. Membahas konsep hijrah secara detail sehingga kita paham makna hijrah seperti apa.

Membahas juga bagaimana Islam melihat sebuah kesenian. Musik, komedi, film, semua dibahas. Pun soal perbedaan pendapat. Zaman sekarang berapa banyak kita lihat manusia saling bermusuhan perkara beda pendapat. Berapa banyak manusia saling mencaci maki karena merasa pendapatnya paling benar? Para Nabi saja woles kalau beda pendapat, kenapa kita heboh?

Betul kata Habib Ja’far, pengetahuan kita soal Islam itu jauuuuuuuh. Tidak sekafah pengetahuan para sahabat Nabi Muhammad yang merupakan generasi terbaik atau masa-masa setelahnya, yaitu para imam. Mereka ini yang melihat langsung praktik Islam dari Nabi atau yang hidup tidak jauh dari masa Nabi. Lha kita? Jauuuuuh bestie. Butiran debu saja kita ini.

Beberapa part juga berhasil membuatku cryyy a river, nangis sekebooon. Betapa sayangnya Nabi Muhammad pada kita. Betapa Nabi Muhammad sangat peduli pada umatnya yang akhlaknya enggak seberapa ini. Kisah-kisah keteladanan Nabi banyak dibahas oleh Habib Ja’far di buku ini.

Demikianlah #BukuBagus yang aku rekomendasikan, teman-teman. Kalian bisa dapatkan bukunya di sini. Selamat membaca, selamat belajar.

Senin, 09 Oktober 2023

#BukuBagus: TITIK TEMU

Oktober 09, 2023 0 Comments

Tidak banyak penulis buku fiksi yang gaya penulisannya betah aku baca berlama-lama, selain karena memang ya enggak banyak juga buku yang aku baca. Beberapa kali aku pernah bilang bahwa penulis buku favoritku adalah Pak Cik Andrea Hirata. Aku jatuh cinta pada tulisannya setelah mengenal film Laskar Pelangi. Bahkan buku beliau yang pertama kali kubaca bukan Laskar Pelangi, aku lupa yang mana. Yang jelas, Andrea Hirata masih menempati posisi puncak penulis buku favoritku.

Berawal dari promo kemerdekaan dari Mojok Store, aku akhirnya bertemu dengan Ghyna Amanda. Penulis novel Titik Temu yang surprisingly aku sangat suka. Promo “Paket Tujuhbelasan” waktu itu menyediakan empat buku yang bisa dipilih berdasarkan tiga kategori. Kategori A (pilih satu buku), kategori B (pilih satu buku) dan kategori C (pilih dua buku). Kategori A aku pilih Life as Divorcee, kategori B aku pilih Childfree and Happy dan kategori C aku pilih Dubidubi Duma dan Titik Temu. Empat buku itu ditebus hanya seharga Rp 114.000 saja. Nangis gak lu pada dapat empat buku dengan harga miring banget kayak tanjakan Erek-erek?

Aku tidak asal pilih buku waktu itu, meski tahu kalau buku-buku Mojok memang jaminan mutu. Aku search beberapa judul untuk mengetahui siapa penulisnya, sinopsis bukunya dan keterangan soal halaman buku. Nah, untuk kategori C waktu itu aku agak galau. Setelah mantap memilih Dubidubi Duma, aku harus memilih satu lagi. Aku putuskan memilih Titik Temu karena halamannya banyak. Ya, karena halamannya banyak dan dia adalah novel. Sesederhana itu saja.

Siapa sangka ternyata Titik Temu aku nobatkan sebagai buku bagus yang aku baca sejauh ini di tahun 2023. Titik Temu ini novel yang berlatar waktu di zaman kemerdekaan Republik Indonesia. Nah, waktu itu kenapa aku juga memilih Titik Temu, salah satu pertimbangannya adalah karena momennya pas kemerdekaan jadi kayaknya feel-nya dapat kalau baca novel yang temanya juga kemerdekaan. Ya begitulah gue ini...

Titik Temu ini latar waktunya setelah momen pidato proklamasi. Jadi, setelah perfect duo Bung Karno dan Bung Hatta menyatakan Indonesia merdeka, kebanyakan orang punya harapan baru. Tapi, tidak bagi Katheljin Sophie Kuhlan, anak keluarga Kuhlan yang berkebangsaan Belanda. Justru kemerdekaan Indonesia membuat Sophie ada dalam kondisi sulit. Ancaman pengambilan aset milik keluarganya dan juga ancaman dipulangkan ke Belanda, sementara dia lahir dan besar di Indonesia.

Kondisi itu membuat Sophie harus bersiasat. Dia tidak mau ke Belanda, Den Haag asing sekali bagi Sophie yang memang sejak kecil ada di Indonesia. Dari situ muncul ide menikahi pribumi. Jika dia menikah dengan pribumi maka dia akan menjadi pribumi, meski tentu saja tidak karena wajahnya sangat amat londo sekali. Lelaki pribumi yang dia pilih adalah dokter Andjana Ranggawangsa (aduh sumpah demi apapun aku jatuh cinta pada nama ini). Andjana adalah pribumi yang bekerja pada keluarga Kuhlan. Dia disekolahkan oleh ayah Sophie hingga menjadi dokter.

Kenapa Sophie memilih Andjana? Nah, bacalah sendiri novelnya. (alesan karena malas ngetik panjang lebar aja gue mah).

Di covernya tertulis “Sebuah kisah asmara yang menggetarkan. Menyatukan dua manusia yang berbeda kebangsaan dan agama.” Pas baca kalimat pertama aku kira hiperbola aja, eh taunya iya. Ya Allah, enggak terhitung berapa kali aku tercekat, salting, penuh kupu-kupu sampai nangis di beberapa bagian. Ghyna Amanda nih ya, kok bisa sih nulis sebagus ini? Kok bisa sih Mbak Ghynaaaaa. Kok bisa kamu membuat perasaanku campur aduk dari mulai sedih, salting, gemas, tegang sampai hancur kayak gelas kaca jatuh dari ketinggian 5000 mdpl???

Klaim bahwa Titik Temu adalah kisah asmara yang menggetarkan ini aku akui benar. Dia valid. Kurang menggetarkan apa kisah asmara di zaman penjajahan ini. Dari sini aku sadar bahwa yang-yangan di zaman penjajahan ini rekoso tenan.

Apakah Titik Temu hanya soal kisah cinta? Oh, yorobun, tentu tidak. Lebih jauh kita akan disuguhi konflik-konflik Belanda-Pribumi yang sangat pelik. Ghyna Amanda berhasil membuat pembacanya menerka-nerka kondisi Indonesia di zaman itu. Novel ini juga membuat kita merenungkan makna kehidupan dengan lebih dalam. Menyadarkan kita bahwa tidak semua keinginan dapat digapai, tidak semua kondisi nyaman bisa kita dapatkan.

Tidak lama setelah aku menyelesaikan Titik Temu, aku menyadari kenapa aku menyukai novel ini. Mungkin karena aku sering menonton serial kerajaan seperti Bridgerton, The Crown, Little Women, Enola Holmes, maka dengan mudahnya aku jatuh hati pada Titik Temu yang latar waktunya jauh berpuluh tahun silam. Hessshhhh, orang kok senengnya mengingat masa lalu.

Nah, setelah membaca aku langsung kepikiran andai Titik Temu diangkat ke layar lebar. Satu orang yang langsung terlintas di benakku adalah Ario Bayu. Dia sangat amat cocok sekali memerankan dokter Andjana Ranggawangsa, tentu saja ini imajinasiku dewe. Aduh, tiap nama ini disebut aku langsung salting.

Demikianlah #BukuBagus yang aku rekomendasikan, teman-teman. Titik Temu ini bukan terbitan baru. Dia sudah lahir sejak 2017, memang aku saja yang baru menemukannya setelah enam tahun dia lahir ke dunia. Well, selamat membaca buat yang belum baca. Dan, selamat membaca kembali buat yang sudah baca tapi masih belum move on.

Dapatkan bukunya di sini.

Minggu, 08 Oktober 2023

RECHARGE

Oktober 08, 2023 0 Comments

Setelah Sabtu kemarin aku dapat kabar dari Bibeh kalau dia sudah di Banyuwangi, hari ini aku langsung ke rumahnya. Betapa aku sangat kangen ngobrol banyak hal sama dia. Setelah dia menikah dan ikut suaminya ke Pamekasan memang terasa sekali aku kehilangan teman bercerita. Ngobrol dengan Bibeh berbeda dengan yang lain.

Setelah mengantar ibu dan Ai ke rumah mbah aku langsung berangkat. Tidak sampai setengah jam aku sudah sampai. Rumahnya sedang ramai. Selain karena ada arisan teman-teman Mbak Luluk, di rumahnya juga ada Ibu, Bapak, Cak Habib dan Cak Ulum. Na Willa seperti biasa, seperti yang sering aku lihat di story WA mamaknya, selalu lincah cerah ceria.

Bibeh bilang sejak datang Kamis malam kemarin Na Willa masih ogah-ogahan diajak main sama anggota keluarga lain, kecuali Fahri. Tapi, sejak aku datang dia menunjukkan sikap yang sangat bersahabat sekali. Mungkin aku dikiranya Onty Mila (kakak ipar Bibeh). Karena banyak yang bilang kami ini mirip.

Bertemu Bibeh seperti isi ulang energi setelah lama low. Banyak hal yang terjadi pada kehidupanku tapi aku tidak punya seseorang yang bisa aku jadikan teman bercerita. Tentu saja hal-hal yang baru-baru ini masuk dalam kehidupanku jadi topik utama pembicaraan kami hari ini. Aku merasa setengah beban lindap. Kemarin aku benar-benar buntu, tidak tahu lagi harus buang sampah kemana. Woh, maapin banget karena dah jadi tempat sampah, tapi juga terima kasih banyak dah mendengarkan dan kasih insight yang membantu. You know, I love you sekebon.

Menjelang siang aku pamit pulang. Hari ini sangat menyenangkan karena bisa ndusel di kasur bareng Na Willa dan Bibeh. Bercerita banyak hal, sambat banyak persoalan. Ih, aku kangen banget mandi di Jagir sambil makan cilok.



Senin, 02 Oktober 2023

PETUALANGAN SHERINA 2

Oktober 02, 2023 0 Comments

Hari ini aku melunasi hutang pada Ai. Beberapa bulan yang lalu aku bilang kalau akan mengajak dia nonton Petualangan Sherina 2. Dia excited menunggu sampai akhirnya tiba waktunya. Sebetulnya aku juga janjian dengan Rani dan Zahro, tapi apa daya akhirnya kami hanya berdua. Rani jam 5 sore masih ada di kantor, sedangkan Zahro juga masih harus urus ini dan itu. Film mulai pukul 17.30, sudah tentu Rani tidak bisa menyusul. Kalaupun menyusul pasti akan sangat tertinggal jauh.

Setelah membaca pengalaman menyenangkan warganet setelah nonton Petualangan Sherina 2 aku jadi tidak sabar. Sebetulnya aku ini tidak menonton Petualangan Sherina yang pertama. Nonton ketika sudah dewasa dan itupun tidak sampai selesai. Tapi ya film Petualangan Sherina yang pertama itu berhasil dibicarakan dimana-mana sehingga yang tidak nonton pun merasa seperti ikut nonton.

Fahri juga begitu. Dia nonton Petualangan Sherina yang pertama dan suka. Jadi ketika aku bilang kalau ada Petualangan Sherina 2, dia senang bukan main. Film dibuka dengan adegan Sherina beraktivitas sebelum berangkat kerja. Sedari awal saja aku sudah terus tersenyum. Buat mereka yang tumbuh dengan kenangan bersama Petualangan Sherina jelas sekuel ini jadi obat kangen.

Film musikal yang sudah jelas ada banyak scene bernyanyi. Dan celakanya semua lagu-lagu di film PS 2 amat sangat indah. Sherina is the master! Film ini juga akan membuat pengetahuan kita bertambah soal Orang Utan.

Sepanjang nonton aku melihat Ai menikati layar lebar di depannya. Dia masih terjaga sampai di hampir durasi akhir aku melihat matanya mulai tidak awas alias ngantuk. Memang di hampir akhir aku merasakan pace-nya lambat, tidak sat set.

Kemudian yang jadi catatanku adalah momen ketika pertama kali Sherina dan Sadam bertemu lagi. Buatku kurang dramatis. Sherina harusnya menutup mulutnya sambil melotot kaget dan menepuk-nepuk lengan Sadam sambil bilang “He ya Allah Sadaaaaam, sek urip koen?????”

Senin, 18 September 2023

SECOND CHOICE

September 18, 2023 0 Comments

Twitter benar-benar menjadi platform yang memberikan banyak topik untuk dibahas. Belum selesai satu topik, sudah muncul topik yang lain. Seperti pagi tadi saya menemukan satu convo terkait second choice. Tentu second choice yang dimaksud sender adalah hubungan asmara. Tapi, ketika membaca itu pertama kali yang langsung terlintas di pikiran saya adalah kejadian beberapa tahun yang lalu, kejadian yang jauh dari urusan asmara.

Dulu sekali, saya pernah menghubungi salah satu pembicara handal yang ada di Banyuwangi. Berniat meminta bantuan mengisi ilmu public speaking untuk IPNU IPPNU. Sebetulnya waktu itu pengisi acaranya memang bukan beliau, ada satu orang lain yang sudah deal.

Karena satu dan lain hal, orang yang sudah deal ini memberi kabar kalau berhalangan mengisi. Waktu itu sudah mepet sekali dengan hari H. Jadilah saya menggunakan plan B, menghubungi pembicara yang saya sebut di atas. Saya jelaskan situasinya dan juga meminta maaf meminta bantuan secara mendadak karena pengisi acara yang pertama tiba-tiba berhalangan.

Saya betul-betul tidak berpikir apapun sampai akhirnya beliau bilang “Oh, saya pilihan kedua, ya?” Membaca balasan itu saya hanya bengong. I was like… ha? Bingung menjawab waktu itu, karena saya masih remaja yang belum fasih merespon jawaban-jawaban seperti itu.

Mungkin kalau itu terjadi hari ini saya akan balas “Iya, pilihan kedua. Karena anda tidak melulu jadi yang pertama.” Tapi, berchyandaaaa…. berchyandaaa…

Sejak itu sampai hari ini saya melihat beliau sudah tidak sama lagi, sudah tidak sekagum dulu lagi. Boleh lah dibilang patah hati. Dan ternyata hal-hal sederhana bisa menjadikan kita patah hati itu memang betul ada. Oh, Mey, mungkin kamu terlalu tinggi menaruh ekspektasi pada orang? Tidak juga. Patah hati yang saya rasakan lebih kepada “Oh iya, ya. Tidak semua orang bisa bijak dalam menilai bahwa dunia ini tidak selalu berporos pada dia. Bahwa dia tidak selalu jadi yang pertama.”

Tapi, saya juga bersyukur pernah terlibat dalam situasi demikian. Guru kehidupan benar-benar datang darimana saja. Berkat obrolan dengan pembicara itu, saya mempelajari hal baru. Jangan pernah merasa paling hebat sehingga kita layak untuk selalu menjadi satu-satunya. Semua orang ada masanya.

made with Cava