Senin, 27 Februari 2017

Retrouvailles

Februari 27, 2017 0 Comments
Pernah dengar istilah Retrouvailles? Retrouvailles adalah perasaan bahagia seseorang setelah sekian lama akhirnya bertemu kembali. Hari ini saya dilanda retrouvailles. 

Pertama saya harus ceritakan dulu siapa orang yang menyebabkan saya terserang retrouvailles seperti ini. Semalam, ketika saya sedang scroll up-down timeline facebook, saya mendapati status seorang kawan lama. Saya menanyakan nomor WA melalui kolom komentar. Setelah dapat, saya segera menghubungi via WA.

Kami bertukar kabar dan kesibukan masing-masing. Dari perbincangan semalam saya tahu bahwa tempat tinggalnya sudah tidak di rumah yang selama ini saya ketahui. Dia sudah pindah ke Rogojampi. Dia adalah salah satu kawan baik saya di SMP. Setelah saya ingat-ingat, pertemuan terakhir kita ya saat di SMP dulu. Selama ini kami hanya bertukar kabar via sosial media, itu pun sangat jarang.
Akhir-akhir ini, dia sering muncul di beranda facebook. Hal yang sangat jarang dia lakukan (dulu). Dari kabar-kabar maya itu lah saya tahu bahwa kehidupannya kini telah berubah. Dia –secara fisik­– memang kawan saya saat SMP, namun –secara rohani– dia telah berbeda dari yang dulu. Kawan saya itu, Annisa, namanya.
Hari ini, saya pergi ke salah satu pusat perbelanjaan bersama Fahri dan Ibu. Setelah mendapat semua barang yang kami butuhkan, saya pergi ke kasa. Ibu saya dan Fahri menunggu di tempat penitipan barang. Saat sedang menunggu seorang Bapak di depan saya menyelesaikan pembayaran, saya meletakkan keranjang belanja saya di meja kasir. Sudah kebiasaan, saat sedang menunggu seperti itu saya selalu mengedarkan pandang ke sekeliling. Mulai dari melihat Mbak-Mbak kasir yang sedang melaksanakan tugas, melihat pengunjung dengan berbagai macam jenis belanjaan, melihat Mas-Mas petugas keamanan yang enak dilihat, sampai melihat ornamen-ornamen yang terpasang di supermarket tersebut. Ya kadang saya se-nggak penting-ini.
Dan di momen nggak penting itu lah kemudian saya melihat seorang wanita dan pria yang berjalan ke arah Barat, arah pintu keluar. Saya meyakinkan penglihatan saya, bahwa saya tidak salah melihat. Setelah saya yakin bahwa saya tidak salah lihat, saya segera memanggil perempuan tersebut. Nisa baru menoleh di panggilan ketiga. Kami bertemu pandang, dan tersenyum. Saya meninggalkan keranjang belanja saya di meja kasir, lantas berhambur memeluk Nisa.
Baru semalam saya chattingan melalui WA bersama Nisa, siang ini kami malah bertemu di salah satu supermarket. Ada perasaan yang susah dijelaskan, gaes. Bayangkan, semalam chattingan, besok siangnya dipertemukan. Tuhan saya memang Maha Luar Biasa. Akhirnya, terjadilah drama kangen-kangenan di depan Mbak-Mbak kasir, Mas-Mas petugas keamanan, Mas-Mas penjaga barang titipan, serta beberapa pengunjung.
Retrouvailles itu terbayar lunas. Meskipun sebentar, setidaknya kami sudah bertemu. Saya dan Nisa tidak sempat ngobrol panjang lebar. Ada banyak perubahan yang terjadi dalam diri Nisa. Salah satunya, hari ini dia pergi belanja di temani oleh suami. Disitu, ada (juga) perasaan yang susah dijelaskan, gaes.
Annisa memilih menikah muda. Menikah muda bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Siapapun bisa menikah, namun menjalani kehidupan setelah menikah itu lah yang tidak semua orang mampu. *Halah, Mey, kayak yang udah nikah aja.
Dulu, saat mendengar kabar bahwa Nisa menikah, saya tentu terkejut. Nisa adalah salah satu kawan yang menjadi simbol pendiam, lemah, rapuh, dan kekanak-kanakan di kelas. Tentu banyak kawan yang tidak percaya jika Nisa telah menjadi istri orang, di usia yang masih sangat muda. Semalam kami sempat membahas keputusannya untuk menikah di usia muda. Dia bilang, “... salah satunya takut dosa, Mey.”
Saya tersenyum membaca pesan WA tersebut. Saya yakin, Nisa dan suaminya sudah memikirkan baik-baik bagaimana resiko yang akan dihadapi. Saya hanya berdoa agar pernikahan mereka selalu terjaga hingga akhir hayat.
Setelah urusan di kasir selesai, saya menghampiri Ibu dan Fahri yang menunggu di parkiran. Saya masih sempat melihat Nisa yang duduk di boncengan di belakang suami, mereka sudah berada di pos parkir, menuju pintu keluar. Macam di sinetron-sinetron, saya kemudian mesem dan mbatin, “Moga cepat punya momongan, Nis.”

Sumber : Google

Selasa, 14 Februari 2017

Surga Yang (Masih) Tak Dirindukan

Februari 14, 2017 0 Comments
Hhhh (take a very deep breath). Saya bingung harus memulai tulisan ini dari mana. Saya masih lelah karena terus-menerus ngelapin air mata dan ingus di dalam bioskop tadi. Tapi, demi dedikasi saya sebagai penulis blog yang isinya hanya curhatan nan alay, saya akan menguatkan dan memantapkan hati. Juga, saya harus segera menuliskan ini sebelum segala yang ada di kepala saya musnah entah kemana.

Hari ini saya nonton Surga Yang Tak Dirindukan 2 bersama Inda. Belajar dari kesalahan-kesalahan di masa yang lalu, saya pesan tiket dengan nomor kursi D09 dan D10. Pas, tidak terlalu depan juga tidak terlalu belakang. Saya tidak bisa membayangkan jika hari ini saya tidak pesan tiket terlebih dahulu. Secara kami sampai parkiran bioskop pukul 15.29, belum waktu yang kami tempuh untuk berjalan ke dalam bioskop, belum lagi antri tiket, belum lagi ini, belum lagi itu. Padahal jadwal tayang film pukul 15.30. Duh, bisa-bisa Mas Pras sudah nyusulin Mbak Arini ke Budapest.

Ini bukan tulisan resensi, karena saya bukan penulis resensi. Saya hanya akan mengulas film SYTD2 ini dengan versi saya. Jadi kalau tulisan ini mengandung unsur alay, lebay, baper, nggak penting, mohon dimaklumi, gaes.

Sejak kemunculan SYTD yang pertama, saya sudah sangat excited. Baru kali ini rasa ketertarikan saya begitu besar terhadap sebuah film hingga membuat saya rela masuk bioskop. Saya tidak tahu jelas apa alasannya. Apakah karena alur cerita? Atau karena para pemainnya? Yang jelas, dua perpaduan itu –alur cerita dan para pemain– merupakan magnet tersendiri bagi saya. Lalu, entah kapan saya mengetahui bahwa Bunda Asma tengah mempersiapkan SYTD2. Saya agak murung. Mengapa harus ada SYTD2? Kisah apa lagi yang akan terjadi di SYTD yang kedua?

Rasa was-was itu terbayar hari ini (meskipun harus diundur selama hampir dua bulan, karena perubahan jadwal tayang). Susah dijelaskan, gaes. Rasa sesak, sakit, nggak terima, nggak ikhlas. Kan, alay, kan. Padahal hanya film. Akhir cerita yang membuat saya melongo saking nggak percayanya. Akhir cerita yang membuat saya dan mbak-mbak sebelah saya (bukan Inda) nangis kejer saking nggak terimanya.

SYTD2 ini memang berbeda. Mulai dari para pemain hingga latar tempat yang digunakan. Keterlibatan Acho dalam SYTD2 memberikan warna tersendiri. Acho yang berperan sebagai Panji Asmara Bangun (guide Arini selama di Budapest, dan juga orang yang maniak sekali dengan batu akik) selalu membuat saya ngakak sejak dalam scene awal dia muncul di layar. Setiap kali ada adegan Panji, saya selalu tertawa. Dan menurut saya, SYTD2 ini memberikan lebih banyak sisi humor yang cukup membuat saya ngakak dalam tangis. Jadi begini, ketika ada adegan yang bikin mewek, entah saat Arini di diagnosis kanker, atau saat Nadia mendongeng di bangsal rumah sakit, setelahnya akan selalu ada adegan humor. Seperti munculnya Panji ataupun Amran. Dua makhluk ajaib ini selalu saja merubah tangis jadi tawa. Saya yang belum kelar nangis selalu ngakak ketika mereka muncul. Jadilah akhirnya, ngakak dalam tangis. Kehadiran mereka –Panji, Amran, Hartono­– layaknya segelas kecil air gula setelah meminum segelas besar jamu pahit.

Memilih Budapest sebagai latar tempat film merupakan langkah yang sangat bagus. Budapest adalah kota terbesar di Hongaria yang terdiri dari Kota Buda dan Kota Pest. Dua kota itu dipisahkan oleh sungai yang saya lupa apa namanya. Dan dibangunlah jembatan yang akhirnya menghubungkan Buda dan Pest. Dari SYTD2 ini kita juga sedikit banyak mengetahui bagaimana perkembangan Islam di Budapest. Budapest dulu pernah menjadi pusat kejayaan Turki. Setelah kekaisaran Ottoman tumbang, Budapest berkembang menjadi kerajaan yang cukup disegani di Eropa Tengah. Tidak salah apabila begitu banyak peninggalan Turki yang tersisa disana. Saya selalu menyukai film dengan latar tempat yang penuh dengan sejarah perkembangan Islam. Istanbul, Kairo, Andalusia, Budapest, Vienna, tempat-tempat yang penuh akan sejarah.

Dalam SYTD2 juga ada dr. Syarief –diperankan oleh Reza Rahadian– yang kalau kata Fedi Nuril –dalam setiap press conference SYTD2– selalu bilang bahwa dr. Syarief itu semacam duri dalam daging. Setelah saya menonton filmnya, saya jadi mikir, bagian mananya yang jadi duri dalam daging? Saya tidak merasa begitu. Reza Rahadian a.k.a dr. Syarief adalah sosok yang ditakdirkan untuk mengisi hati saya, duh, maksudnya Meirose selama ada di Budapest. Tiga tahun Meirose di Budapest, ya kali nggak naksir siapa-siapa. That’s why diciptakanlah dr. Syarief. Hadirnya dr. Syarief juga merupakan bagian dari proses hidup Meirose yang membawanya pada pilihan sulit di akhir cerita.

Intinya, gaes, saya sedikit kecewa dengan akhir filmnya. Menurut saya, itu masih Surga Yang Tak Dirindukan. Surga Yang Dirindukan menurut saya adalah ketika Mas Pras, Mbak Arini, Nadia hidup bahagia bertiga dan Meirose, dr. Syarief, Akbar juga hidup bahagia bertiga. Kan, lagi-lagi, lebay. Plis, deh, Mey. It was just a movie! Tapi beneran, saya masih baper dan sakit kepala meskipun sekarang ini saya sudah dirumah. Gimana nggak sakit kepala, coba? Di bagian hampir menit-menit akhir, adegannya terus menerus menguras air mata. Mulai dari Mbak Arini yang memohon kepada Mas Pras agar tidak menceraikan Meirose, Meirose yang bertanya pada Presiden dan Kapolri dr. Syarief, “Sakit apa Mbak Arini, Rief?” sampai adegan yang mereka –Pras, Arini, Nadia, Meirose– sholat berjamaah. Itu benar-benar klimaks, bahu saya naik turun demi menahan isak tangis. Saya trauma dengan adegan-adegan sholat berjamaah (apalagi ada yang sholat dalam keadaan terbaring di ranjang rumah sakit) karena ujung-ujungnya pasti ada yang meninggal. Masih ingat film Ayat-Ayat Cinta, kan? Adegan dimana Mas Fahri, Aisyah dan Maria yang sedang terbaring di ranjang sedang sholat berjamaah? Akhirnya Maria harus pergi. Dan kali ini adalah Arini yang harus menghembuskan nafas terakhirnya. Ya Allah Gusti, Tuhan Yang Maha Esa ..... nggak kuat saya, jebol pertahanan air mata, tumpah kemana-mana. Ingus juga, susah bener dikendalikan. Nyesel saya nggak bawa kanebo seperti yang disarankan Bang Fedi saat presscon dulu.

Apalagi di adegan terakhir, ketika dr. Syarief dan Mas Pras sama-sama memakai setelan jas hitam. Saya sudah dag dig dug serrr, siapa kira-kira satu di antara mereka yang akan menikahi Meirose? Lha kok ndilalah malah dr. Syarief duduk di kursi undangan, gaes, bukannya di kursi pelaminan. (Eh, tapi memang nggak ada kursi pelaminan juga, sih. Nikahnya di pinggir pantai gitu, mantennya cukup berdiri saja) Saya semakin belingsatan ketika tahu mereka menikah, gaes. Tanya saja Inda, bagaimana ekpresi saya ketika tahu yang menikah dengan Meirose adalah Mas Pras bukannya dr. Syarief. Saya yakin, waktu itu Inda malu berat sudah nonton bareng saya.

Akhirnya, saya hanya bisa melunasi rasa sesak di dada dengan tangisan meskipun lampu studio sudah menyala. Saya duduk lemas, masih tidak terima, masih nangis meskipun film sudah selesai. Ada Fitria IPPNU yang saya stop ketika lewat depan saya, (iya, jadi sebetulnya saya tahu kalau ada Fitria yang duduk jauh di sebelah saya, hanya saja saya tidak menyapanya ketika datang tadi, selain karena gelap, saya juga fokus ke film) saya tanya ke dia, “Surga yang dirindukan nggak iku, Fit?” dia jawab tidak, hiks, samaaaaaa Fit, samaaaaaaaaa .... Pertanyaan yang sama juga sempat saya tanyakan ke mbak-mbak sebelah saya (yang misek-miseknya nggak kalah heboh sama saya). Dia hanya senyum. Lah, malah senyum doang. Nanya bener loh saya, mbak. -___-

Saya pikir-pikir lagi, memang lebih baik alurnya seperti itu saja. Mbak Arini meninggal. Jadi tidak akan ada Surga ketiga, Surga keempat, dan Surga-Surga yang lainnya. Dah, cukup sampai dua aja.Lalu, dalam caption instagramnya, Inda menulis, “Kok ada hati setulus Arini.”
Ya ada, mbel. Kuwi, gur nang film. :(

Akhir kata, saya mengucapkan terimakasih kepada partner tetap saya menonton film Surga. Dulu, SYTD yang pertama saya nontonnya juga sama perawan Wiyayu satu itu, sekarang SYTD yang kedua teman nonton saya masih sama saja. Nggak ada peningkatan banget, sih. -__-


Wajah setelah di serang negara air.

Selasa, 07 Februari 2017

Organisasi Dan Cinta: Seimbangkan, Ya ...

Februari 07, 2017 4 Comments
Semalam entah mengapa tiba-tiba saya mengeluarkan uneg-uneg yang sudah menggumpal di dalam hati. Saya menumpahkannya dalam sebuah status di salah satu media sosial saya (facebook). Dan hasilnya seperti yang telah saya duga. Kontroversial. Ada yang menduga saya marah-marah lantas menyayangkan sikap saya, ada yang ngadem-ngadem saya, ada yang bilang saya ngamuk elegan, ada juga yang malah memberi saya gelar motivator perempuan abad ini macam Cak Ayunk. -__-

Saya tipikal orang yang selalu “saring sebelum sharing” (itu sekarang, dulu mah kagak, nulis status ya nulis aja, sampai akhirnya facebook memiliki fitur share kenangan yang bikin kita sadar betapa alay-nya kita dulu). Sebelum menekan tombol post, saya baca lagi status saya berulang-ulang. Hapus, ketik, hapus, ketik, begitu seterusnya hingga tiga puluh menit berlangsung. Saya harus bisa mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang telah saya tulis. Saya harus siap menerima semua konsekuensi dari apa yang saya utarakan. Seperti status saya itu contohnya.

Ya, status tersebut adalah sebuah protes, sebuah ungkapan, sebuah suara yang hendak saya sampaikan kepada “mereka” yang berada di dalam organisasi tersebut. Sebuah organisasi yang saya ikuti dari awal pembentukan. Sebuah organisasi dimana mereka yang ada di dalamnya adalah panutan. Sebuah organisasi yang dalam proses berkembangnya mendapat begitu banyak cobaan.

Dulu, kami berikrar untuk selalu istiqomah bagaimanapun keadaan di depan. Kami berikrar untuk bersama merangkak dari titik nol sebuah perjuangan. Kami berikrar untuk tetap menjadikan organisasi ini wadah dalam menyebarkan kebaikan. Dua tahun saya berproses bersama mereka. Suka dan duka, jatuh dan bangun, penolakan, pengucilan, tak dapat dukungan, semua sudah khatam kami rasakan. Adakah kami menyerah? Tidak. Kami tak pernah mundur barang sesenti saja. Segala macam reaksi tersebut menjadikan kami lebih kuat, mandiri, serta kompak. Perasaan senasib sepenanggungan lah yang membuat kami tetap satu. Kami yang haus akan ilmu agama, haus akan siraman-siraman rohani, haus akan ilmu yang datang dari majelis-majelis taklim, menuntut agar rasa haus tersebut segera dituntaskan. Hingga akhirnya disinilah kami. Mencoba menimbulkan oasis di antara gegap gempita duniawi.

Saya heran dengan mereka yang selalu menentang keberadaan kami. Mengapa? Adakah yang salah? Kami bukan organisasi yang akan mengirimkan anggota-anggotanya untuk berjihad dengan kelompok ISIS di Suriah sana. Kami bukan segerombolan pemuda radikal yang akan mencuci otak anggota-anggotanya dengan kaidah yang salah. Kami bukanlah organisasi yang akan menimbulkan kekacauan di muka bumi ini sehingga harus dilenyapkan dari peredaran. Sebagian besar dari kami adalah pemuda-pemudi beraqidah Islam menurut faham ahlusunnah wal jama’ah. Kami tidak berbahaya. Mereka yang menentang kami belum pernah merasakan duduk bersama dengan kami. Mereka tidak tahu apa yang kami diskusikan ketika kumpul bersama. Mungkin mereka pikir kami akan membahas issue-issue kelas berat yang akan membuat kepala botak. Padahal tidak sama sekali. Andai mereka tahu bahwa kami selalu membahas hal-hal sederhana yang  tetap bermakna. Tanya jawab seputar kerohanian yang selalu diselipkan canda tawa. Andai mereka mau tahu, mereka tidak akan segan untuk bersama menuntut ilmu.

Tapi mereka tak mau tahu, yang mereka mau hanya organisasi ini harus bubar. Saya ingat ketika pertama kali kami mengadakan acara besar, tidak banyak harapan yang bisa kami gantungkan kepada para penguasa. Kesana kemari membawa alamat mencari sponsor, hingga acara dapat berjalan dan mendapat banyak notice dari berbagai kalangan. Saya juga masih ingat, selesai acara tersebut ada beberapa mahasiswa yang antusias bergabung bersama kami. Mereka heran, ternyata ada juga organisasi seperti kami di kampus merah putih ini. Ada juga mereka yang telah lama menantikan munculnya organisasi seperti yang kami inisiasi.

Semua itu proses. Proses pembentukan, branding diri, hingga akhirnya di notice banyak orang. Akhirnya hari ini, semau apapun orang-orang menolak kami, kami sudah terlanjur dikenal. Semau apapun orang-orang tak acuh terhadap kami, kami sudah terlanjur terkenal.

Namun, semua ikrar itu rasanya menjadi sulit ketika tak pernah lagi ada muhasabah diri. Semua ikrar itu menjadi sulit ketika ego muncul dalam masing-masing diri. Dan, semua ikrar itu saling dipertanyakan kini. Semakin hari kuantitas kami semakin menurun. Tak hanya anggota, rutinitas berkumpul juga semakin jarang. Dulu, awal-awal terbentuk saya suka sekali atmosfernya. Terasa sekali bahagianya berkumpul dengan orang-orang yang insyaallah bisa menemani saya untuk menjaga keistiqomahan. Saya sadar, memang begitulah dinamika berorganisasi. Ada saat pasang, ada saat surut. Saya tidak merasa menjadi yang paling konsisten dan istiqomah di organisasi ini, karena memang saya tidak. Namun, setidaknya saya berusaha untuk tetap berada di koridor. Saya berusaha untuk tetap profesional. Saya berusaha untuk tetap tidak mencampuradukkan urusan hati dengan organisasi.

Tidak lantas kemudian saya judge bahwa anggota lain tidak profesional, tidak istiqomah, dan tidak konsisten, sama sekali tidak. Saya hanya ingin kita mengingat kembali ikrar kita. Saya hanya ingin organisasi ini tetap ada dan bernafas. Saya hanya ingin marwah organisasi ini tetap terjaga. Itu saja. Saya tidak masalah mau di antara sesama anggota ada jalinan asmara atau tidak. Saya tidak masalah, karena itu manusiawi. Yang saya harapkan hanya satu, berlakulah sebijak mungkin. Kalian adalah panutan saya, bahkan dapat saya katakan kalian adalah panutan mahasiswa di kampus kita. Gimana, ya, jelasinnya. Semakin kesini kok saya semakin tidak bisa mengekspresikan kata-kata. Saya harap uneg-uneg saya ini dapat dimengerti oleh semuanya.

Begini, dulu saya sempat ngobrol dengan salah satu anggota IPNU via media sosial. Beliau berkata anggota organisasi islam itu memang wajib jomblo, engko lek pacaran diseneni ketuane, katanya. Pra syarat jadi pimpinan ormas islam itu harus jomblo/single. Mengapa? Karena jika pemimpinnya itu tidak jomblo/single (dalam hal ini pacaran) tentu dia tidak akan di dengar oleh umatnya. Memimpin organisasi islam tapi pacaran? Kan lucu, gaes. Alhamdulillah, ketua kami terdahulu dan sekarang tidak begitu. Semoga.

Saya memang tidak bisa menuntut semua anggota harus sama seperti pandangan saya, harus sama seperti prinsip saya, harus ini, harus itu sama seperti saya, lha memang saya siapa? Hanya satu yang saya inginkan dan saya minta, bisakah kita semua menahan sebentar dengan apa yang sedang membuncah di dalam dada? Jatuh cinta itu memang luar biasa membahagiakan. Kasmaran memang sesuatu yang indahnya susah didefinisikan. Namun, sekali lagi, tetaplah bijak dan sadar. Jangan sampai nafsu sesaat membuat kita menjadi pribadi yang tidak pantas lagi dijadikan panutan. Bersabarlah, diamlah, kendalikan diri sebaik mungkin.

Saya akan sangat respect dengan orang-orang yang terlibat asmara dalam satu organisasi namun tetap menunjukkan sikap yang bijak serta profesional. Tidak mencampuradukkan urusan hati dan organisasi. Sekali lagi seperti yang saya sebut di atas, ini semua tentang marwah organisasi. Saya bertanggungjawab atas setiap perkataan saya, namun tidak dengan apa yang kalian pahami. Saya tidak peduli dengan bagaimana pemahaman kalian atas pendapat saya.

Jadi, bisakah kita bersama-sama memulai semuanya lagi? Menepati ikrar yang telah kita sepakati? Bisa, ya?
Sumber : Words of Wisdom

Minggu, 05 Februari 2017

Dia (tak benar-benar) Kembali

Februari 05, 2017 0 Comments
Dalam bukunya yang berjudul Kata Hati, Bernard Batubara menuliskan, “Masa lalu tak seharusnya kembali, dan memang tak sepantasnya kembali.”

Kalimat itu seharusnya benar. Ya, masa lalu memang tak seharusnya kembali. Masa lalu, meskipun kembali, dia tak akan pernah sama lagi.

Saya tak pernah menyangka akan ada dalam situasi seperti ini. Dia yang saya sebut masa lalu, ternyata datang lagi. Dengan segala kelapangan hati, saya mencoba menghadapi. Tiap kata yang ia ucapkan tak ubahnya ujung belati, melukai apapun yang ia lewati. Saya kembali menerima permintaan maaf, dan saya pun kembali dengan mudahnya memaafkan. Saya pun tidak tahu, apakah saya bisa marah padanya? Apakah saya bisa membencinya? Apakah saya mampu tak acuh padanya? Mengabaikannya?

Setelah sekian lama saya terbiasa tanpa kabar darinya, selalu saja seperti ini. Setelah sekian lama saya terbiasa tak berhubungan dengannya, selalu saja berakhir seperti ini. Kenapa dia kembali? Kenapa dia tak mengabaikan saya saja? Kenapa dia harus kembali?
Dia selalu kembali. Sejauh apapun saya pergi, dia selalu kembali. Kau tahu? Aku bukan tempat singgah yang bisa kau datangi sesuka hati. Aku bukan rest area yang akan kau datangi ketika kau lelah, dan ketika lelahmu hilang, kau pergi.

Saya tidak mengerti, ada apa sebenarnya dengan dirinya? Saya tidak mengerti, kenapa dia melakukannya? Dia selalu kembali dengan cara yang tak disangka-sangka, cara yang tak diduga-duga. Meski begitu, saya tetap bahagia. Bodoh, saya masih saja merasa bahagia.

Saya tahu, dia tak sepenuhnya kembali. Saya tahu, dia tidak benar-benar kembali.

Seperti yang kau katakan dulu, tak ada yang mengetahui apapun, bagaimana besok, esok, dan seterusnya. Ya, betul katamu, semua masih misteri. Kuharap hari ini kau menjalani hidupmu dengan baik, tak kurang suatu apapun.

Kau tahu, diluar sana banyak orang meneriakiku bodoh. Aku bodoh karena tak bisa membencimu. Aku bodoh karena jatuh terlalu dalam. Aku bodoh karena selalu saja memaafkanmu. Dan, aku bodoh karena tak mampu beranjak kemanapun.

Kau tahu, sejak dulu apa yang kuberikan padamu selalu dan akan tetap sama. Aku bodoh karena tak mampu menjagamu dengan baik. Aku bodoh karena menganggap semua akan baik-baik saja. Kau tahu, aku adalah perempuan yang tak mampu dan tak mau berkomitmen. Aku berpikir mungkin karena itu lah kau pergi. Kau pergi karena prinsipku itu.

Masihkah kau memelihara misi gilamu untukku?

Ah, maaf. Kenapa aku bisa se-percaya diri ini? Sudah tentu misi itu mungkin pudar, atau bahkan lenyap tak berbekas. Tak perlu lagi menaruh asa tentang kepemilikanku. Nanti, takdir Tuhan yang akan menjawab segalanya.

Saat ini ada satu hal yang ingin sekali aku tanyakan padamu. Pesan balasanku, mengapa tak kau baca? Adakah dari kalimatku yang menyakiti hatimu? Menyinggung perasaanmu? Jika iya, maafkan aku. Atau, mungkinkah kau lupa bahwa telah mengirim pesan padaku? Atau mungkin memang kau tak membutuhkan balasan?

Kau tahu, aku sudah terlalu lama menunggu. Hingga aku lupa apa yang sebenarnya aku tunggu. Namun begitu, aku tetap tak membencimu.

Sumber : Instagram