Senin, 12 Februari 2024

ZIARAH PART 2

Februari 12, 2024 0 Comments
Anak tangga menuju makam Mbah Yunus
 

Setelah dari Jalen kami langsung menuju Tamansari, ke makam Mbah Yunus. Dari catatan yang kubaca, Mbah Yunus adalah orang Sampang, Madura. Meski tidak memiliki pondok pesantren, tapi beliau sering jadi jujugan masyarakat untuk minta nasihat.

Makam Mbah Yunus ini salah satu yang memiliki rute paling adem. Karena penuh dengan hijau-hijau pepohonan. Makamnya terletak di sebuah gumuk di Tamansari, Tegalsari. Karena ada di atas gumuk kami harus menaiki beberapa anak tangga terlebih dahulu sebelum sampai ke makam.

Setelah membuka pintu makam, kami melihat satu makam besar ada di tengah. Belok kanan dari pintu masuk kita bisa melihat keterangan soal pesarean Mbah Yunus. Beliau wafat tanggal 7 Ramadhan 1414 H atau bertepatan dengan 8 Februari 1994 M. Ada satu foto besar di sebelahnya yang sudah pasti itu adalah foto Mbah Yunus.



Makam Mbah Yunus dekat sekali dengan rumah warga. Bahkan melewati pekarangan warga terlebih dahulu. Karena dekat dengan rumah warga, kami tidak merasa sepi. Masalahnya di sini hanya satu, semut. Kalau kalian tahu semut yang biasanya ada di buah rambutan, nah itulah. Ada banyaaak sekali semut itu di keramik, tembok. Dan semut ini adalah tipe semut yang susah perginya alias ditiup juga tidak kunjung pergi.

Seperti di Mbah Bashar tadi, di sini kami satu-satunya peziarah. Belum ada peziarah lain yang datang. Tahlil sambil mendengarkan suara cenggeret dan tertiup angin pagi yang sejuk ini membuat kami betah berlama-lama. Makam Mbah Yunus yang ada di atas gumuk juga dikelilingi pepohonan. Kalau tidak ingat masih ada satu tempat yang kami kunjungi, mungkin kami akan sedikit lebih lama ada di sini.

Kesunyian menyelimuti kami sesaat sebelum akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi ziarah. Kami harus melanjutkan perjalanan menuju Blokagung sebelum masuk waktu sholat Jumat.

Kalau berdasarkan rute ziarah muharrik dan sesepuh NU, kami harusnya juga ziarah ke makam Kiai Abdul Madjid, Krasak. Semoga lain waktu kami bisa kembali menziarahi makam-makam sesepuh yang belum sempat didatangi.

Rute terakhir menuju Blokagung. Blokagung is Blokagung, kawan. Pesantren besar di Banyuwangi ini punya daya tariknya sendiri. Bagiku yang tidak akrab dengan kawasan pesantren ya tentu akan takjub. Bagi orang-orang yang bermukim di sekitar pondok bahkan sejak kakek dan nenek mereka bisa jadi biasa-biasa saja.



Blokagung ramai seperti biasa. Lalu-lalang santri adalah pemandangan menyenangkan. Dulu aku pernah ziarah ke Blokagung tapi begitulah aku, sekarang sudah lupa jalan menuju makam. Akhirnya setelah beberapa kali bertanya, kami sampai.

Tentu saja berbeda dengan makam Mbah Bashar dan Mbah Yunus. Di Blokagung kami bisa mendengar riuh aktivitas pesantren. Di pesarean Kiai Mukhtar Syafaat kami juga bertemu dengan peziarah lain. Yah, Blokagung is Blokagung, tidak pernah sepi pengunjung.

Perjalanan ziarahku kali ini tentu istimewa. Aku mengunjungi Al Ashriyah, yang bahkan di awal rencana tidak masuk rute ziarah; aku ditemani dua personil baru yang semoga dari perjalanan ini mereka punya kenangan manis sehingga tidak kapok aku ajak ziarah lagi.

Ziarah bagiku adalah salah satu cara untuk melembutkan hati. Mengingat bahwa kematian adalah pasti. Tinggal menunggu giliran kapan saatnya kita mati. Ziarah bagiku adalah sekuat-kuatnya menghadapi kenyataan. Kenyataan bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Ziarah bagiku adalah mengenang. Mengenang dengan hati yang lapang.

Terima kasih, Tata, Ayu dan Mega. Telah menjadi teman perjalanan mengenang yang menyenangkan. Mari, kita wujudkan perjalanan mengenang orang-orang alim lainnya, secepatnya.

Jumat, 09 Februari 2024

ZIARAH PART 1

Februari 09, 2024 0 Comments

 


Senang rasanya bisa kembali melakukan perjalanan ziarah. Terlebih teman perjalanan kali ini bertambah. Aku, Tata, Mega dan Ayu. Hari ini kami mengunjungi tiga makam. Makam Kiai Ahmad Bashar dan Kiai Mawardi di Jalen, makam Mbah Yunus di Tamansari dan makam Kiai Mukhtar Syafaat di Blokagung.

Sebetulnya rute ziarah ini berdasarkan rute ziarah muharrik dan sesepuh NU Banyuwangi dalam rangkaian harlah NU yang ke-101 kemarin. Kami ambil yang bagian Tegalsari karena sekalian berkunjung ke rumah Mega yang masih satu kecamatan.

Tapi, di jalan aku teringat pondok pesantren tempat Syaikhona Kholil Bangkalan menimba ilmu di Banyuwangi. Setelah membaca kembali catatan akhirnya aku menemukan nama Pondok Pesantren Al Ashriyah yang berlokasi di Jalen. Mumpung masih di sekitar Genteng akhirnya kami menuju Al Ashriyah berbekal google maps.

Sepanjang perjalanan aku sangat bersemangat. Aku sedang menuju salah satu pondok pesantren tertua di Banyuwangi. Seperti apa kira-kira pondok pesantren itu? Semakin dekat lokasi semakin asri suasana sekitar lokasi. Sesuai petunjuk maps, kami berhenti di depan tembok setinggi orang dewasa.

Setelah menemukan plang bertuliskan doktren Al-Ashriyah kami masuk ke halaman pondok. Dulu singkatan pondok pesantren ternyata doktren, ya. Aku baru menyadari setelah membaca plang di tembok depan.

Dibalik tembok plang nama itu kami langsung bisa melihat bangunan pondok yang lawas dan sedikit tidak terawat. Kemudian kami juga bisa melihat masjid yang berdiri kokoh ditengah pondok. Mengalihkan pandangan ke arah kanan kami bisa melihat bangunan gedek yang sudah tua. Bangunan yang aku tebak adalah tempat Syaikhona Kholil mengaji.

Pertama kali melihat semua pemandangan itu hatiku sudah gak karu-karuan. Ada perasaan yang susah dijelaskan. Ditambah ketika kami masuk suasana benar-benar sepi. Kami melihat ada baju dan celana yang sedang dijemur, tapi kami tidak melihat ada aktivitas manusia di sana. Intinya, pertama kali masuk kami langsung disergap sunyi.

Setelah meyakinkan diri untuk masuk, kami mulai mencari keberadaan makam lewat sisi kiri masjid. Setelah menemukan makam kami memutuskan untuk putar balik dan lewat sisi kanan masjid saja. Kami masuk lewat masjid. Jalan terus menuju area belakang masjid kami menemukan pintu makam yang tertutup tapi tidak terkunci.

Dari luar aku bisa melihat ada karpet merah dan biru yang digelar untuk para peziarah dan juga aku melihat dompal tempat buku-buku tahlil diletakkan. Setelah membuka pintu makam kami masuk beriringan. Entah karena suasana yang sangat sepi, kami bahkan tidak mengeluarkan suara seperti biasa, kami cenderung berbisik.

Melihat makam Mbah Bashar aku semakin dilanda perasaan takjub. Masyaallah, di depanku ini makam orang salih, makam orang berilmu. Aku berhasil menahan air mataku agar tidak berderaian. Di depan makam Mbah Bashar saja aku lunglai, bagaimana kelak jika berkesempatan ziarah ke makam Rasulullah? Sudah jelas nangis sejadi-jadinya.

Kami bersimpuh di atas karpet menghadap makam. Dengan suasana pagi yang cerah dan sepi itu kami baca tahlil dalam keheningan masing-masing. Tapi, meski bangunan di luar tampak tidak terawat, tapi makam Mbah Bashar sangat bersih dan rapi. Satu hal yang menarik perhatianku adalah batu nisan. Terbuat dari kayu dengan keterangan ukiran berbahasa Arab.

Selesai tahlil kami tidak segera beranjak. Kami mengamati sekeliling. Makam yang letaknya di belakang masjid ini dikelilingi pohon-pohon besar. Kami lihat ada durian, rambutan, kelapa dan pohon lain yang entah apa Namanya. Kami kerasan, tapi karena terlalu sepi kami juga jadi segan.

Akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari makam. Keluar dari makam pun (masih di teras samping masjid) masih tidak ada aktivitas santri. Selain bocah yang kami lihat sedang main di kebun belakang ketika kami ziarah tadi. Dari tempat kami berdiri pemandangannya sangat satisfying. Ada kolam ikan besar, di seberangnya pondok tua yang bisa jadi adalah tempat Syaikhona Kholil mengaji, kemudian di belakangnya ada bangunan kamar-kamar santri dua tingkat berbentuk L.

Pemandangan itu betul-betul bagus sekali. Tidak cukup rasanya hanya direkam oleh kedua retina saja. Kami bergantian mengambil foto di lokasi itu. Aku yang memang menyukai bangunan lawas rasanya seperti menemukan oase di gurun pasir.

Selesai berfoto kami keluar dari masjid. Berkeliling menuju pondok tua yang sudah tidak terpakai tapi masih berdiri meski reyot di beberapa bagian. Di sisi kanan bangunan terdapat tulisan “Kejarlah Cita-citamu Setinggi Langit”. Pondok ini sejak pertama kali kami masuk, sudah mencuri perhatianku.

Imajinasiku terlempar ke masa lampau. Bagaimana kira-kira suasana mengaji di sini ketika itu? Bagaimana kira-kira suasana pondok ini di masa lampau? Tentu saja ini ditengah hutan belantara yang minim sekali penerangan. Apa, ya, yang para santri pelajari? Dan banyak apa dan bagaimana lain yang aku simpan di kepalaku.

Suasana pondok masih sepi. Ketika kami bergerak menuju bangunan ini barulah kami menemukan ada seorang ibu yang sedang menggendong bayinya dan juga dua anak kecil sedang bermain. Lega sekali akhirnya bisa melihat manusia lain selain kami berempat di sini.

Aku tidak henti-hentinya mengagumi tempat ini. Semuanya. Dari depan pintu gerbang sampai ke belakang aku sangat suka. Jauh dari kata modern tentu saja, tapi justru itu daya tariknya. Kami juga mengabadikan gambar di bangunan tua ini. Karena sekali lagi rasanya tidak puas hanya dipandang saja.

Puas mengabadikan gambar, kami pulang. Bahkan sampai kami jalan menuju pintu gerbang pun belum menemukan tanda-tanda kehadiran santri. Apa mereka sedang sekolah di gedung lain, ya? Bukan di gedung ini? Atau mereka sedang libur dan pulang ke rumah masing-masing? Pikirku. Segala kemungkinan aku pikirkan sehingga wajar jika pondok pesantren Al Ashriyah sangat sepi hari ini.

Biarlah. Pusing lama-lama terlalu dipikirkan. Sampai di gerbang aku baru menyadari ada sungai besar di depan pondok. Itulah sungai setail. Mengakhiri kunjungan ke Al Ashriyah dengan mengabadikan diri di depan tembok bertuliskan nama pondok.

Cerita berlanjut ke postingan selanjutnya, ya…