Selasa, 28 Mei 2019

Bukankah Tuhan Sesuai Prasangka Hambanya?

Mei 28, 2019 0 Comments
Saya percaya bahwa setiap perkataan atau prasangka kita suatu saat akan menjadi sebuah kenyataan. Hanya waktunya yang tidak bisa kita pastikan. Dulu, saya sempat berujar pada ibu bahwa kelak saya hanya akan memberi sangu/nyangoni keponakan yang saya dapat dari Ardi, yang saya pikir bakal menjadi satu-satunya adik saya. Sekian tahun kemudian Tuhan seperti membalas perkataan saya, ibu mengandung Fahri. Saya seperti terlempar ke masa dimana saya berkata hal di atas pada ibu. Dan kami, saya dan ibu, sempat juga membahas perkataan saya dulu ketika Fahri telah lahir. “Tuh, kan, sekarang ponakanmu nggak cuma dari Ardi, tapi Fahri juga. Mangkanya hati-hati kalau bicara.” Kata ibu yang kami susul dengan tawa.

Saya dan ibu selalu mengingat hal tersebut sebagai bentuk kuasa dari Tuhan. Bahwa manusia memang jangan sembarangan jika berucap atau berprasangka terhadap Tuhan. Mungkin saat itu konteks saya bicara memang hanya bercanda, tapi bukankah konon setiap ucapan-ucapan kita di-aamiin-kan oleh semesta? Sejak hari itu, saya sadar sesadar-sadarnya saya harus berhati-hati saat berbicara atau berprasangka.

Dulu juga, saya pernah membayangkan bekerja di sebuah radio. Menjadi seorang penyiar radio yang menyapa penggemarnya lewat suara. Bekerja di dunia penyiaran adalah salah satu mimpi yang entah sejak kapan datang pada saya. Hingga bertahun-tahun kemudian saya bertemu dengan kawan-kawan di Nahdlatul Ulama, dan lunaslah mimpi saya tersebut. Walau hitungannya adalah volunteer, tapi saya merasa Tuhan amat berbaik hati telah mengabulkan apa yang saya impikan. Setahun saya belajar menjadi penyiar radio, otodidak. Ya, saya tidak pernah belajar teknik siaran secara resmi. Saya tumbuh besar dalam keluarga yang senang mendengarkan radio. Saya sering mendengar para penyiar tersebut siaran, saya juga sering sms untuk sekadar request lagu atau salam-salam, dan ketika pesan saya dibaca, senangnya luar biasa. Ternyata perasaan senang saat pesan kita terbaca itu tidak bisa dijelaskan rasanya. Nah, perasaan seperti itu lah yang membuat saya jatuh hati pada profesi penyiar.

Atas izin Tuhan juga, saya mengenal Bunda Anggi. Seorang penyiar radio yang berbaik hati memberikan pengetahuannya tentang radio. Orang pertama yang saya temui ketika saya dapat tawaran untuk jadi penyiar di radio NU online ya beliau.

Hingga saat ini akhirnya saya menjadi bagian dari keluarga besar Radio Mandala Banyuwangi. Menyangka? Tidak sama sekali. Saya merasa Tuhan sedang mengabulkan setiap mimpi saya satu per satu. Dulu, ketika saya resign dari kantor lama yang hanya tiga bulan, saya tidak sengaja berucap bahwa 2019 dapat kerja lagi. Pada waktu itu sedang ramai hashtag 2019 ganti presiden, nah, saya pelintir hashtag tersebut menjadi 2019 kerja lagi. Dan, ya, alhamdulillah saya kembali bekerja.

Yang paling membuat saya takjub adalah pekerjaan saya yang sekarang sungguh pekerjaan yang saya idam-idamkan sejak dulu. Penyiar radio. Radio pertama di Banyuwangi pula. Saya teringat obrolan dengan salah satu senior, beliau berkata sebenarnya saya ini ingin pekerjaan yang seperti apa? Saya jawab dengan kelakar, pekerjaan yang bisa ditinggal pas lagi sayang-sayangnya ketika ada tawaran ngemc. Jawaban itu juga sebenarnya hanya bercanda. Karena di sisi lain saya berusaha menekan ego dengan mencoba menjadi realistis bahwa saya harus mendapat pekerjaan tetap yang ‘benar’. Saya harus menabung untuk masa depan. Mau sampai kapan saya hanya menjadi freelancer mc? Mau sampai kapan saya harus terus menerus izin dari tempat kerja (ketika masih kerja dulu) hanya agar bisa mengambil job mc yang masuk? Saya mengerti bahwa sebuah perusahaan tidak akan mau mengambil resiko dengan membiarkan karyawannya terus menerus meminta izin sehingga pekerjaan terbengkalai. Saya juga merasa tidak enak jika terlalu sering izin. Ya, tahu diri, lah.

Sekarang, saya justru diberi kewajiban untuk menggunakan nama Mandala di setiap event yang saya pandu. Sekarang, saya justru mendapat dukungan penuh untuk melebarkan sayap bersama Mandala. Saya masih ingat betul ketika akan memandu acara buka bersama yang diadakan oleh SiJum, programer saya, Mas Edwin, bilang: Kalau bisa pas ngemc sebutin nama embel2 Mandala, misal ‘bersama saya mey mandala’, saya yang waktu itu masih berusia satu bulan lebih satu hari di Mandala merasa kikuk. Ternyata boleh, to? Mas Edwin menjawab, “Lho, wajib itu, sambil promo Mandala.” Sungguh saya seperti Nemo yang kembali berkumpul bersama ayahnya, bahagia. Saya merasa menemukan apa yang saya cari selama ini.

Jika dulu setiap akan tidur dan menyadari esok harinya harus kembali ke kantor, saya langsung tidak enak hati, cemas, aras-arasen, dan terlelap dengan tidak nyenyak. Hari ini, saya mengakhiri hari dengan penuh kesyukuran, hati yang bahagia, dan siap menyambut mentari esok pagi. Sepenting itu ternyata membahagiakan diri sendiri. Menjaga agar kita tetap waras dan tetap berakal sehat. Pada tulisan sebelumnya saya bilang bahwa saya tidak ingin stres karena bertahan pada pekerjaan yang tidak membuat saya berkembang, yang membuat saya tertekan, yang membuat saya sakit pikiran, meski gaji besar. Sekarang ini rasanya nominal uang tidak lagi menjadi masalah ketika saya bisa melakukan hobi yang menjadi pekerjaan.

Jadi, mari kita berbicara dan berprasangka yang baik-baik. Ucapan adalah doa, itu benar adanya. Bukankah seperti kata kitab suci, bahwa Tuhan sesuai dengan prasangka hambanya?

I thank to God for all the blessings He gave to me. Ramadan ini menjadi bulan yang sebenar-benarnya penuh berkah. Atas kuasaNya job ngemc mengalir dengan tenang, Dia seperti tahu bahwa lebaran tahun ini ada begitu banyak keponakan yang sudah waktunya diberi sangu lebaran.