SECOND CHOICE
Twitter
benar-benar menjadi platform yang memberikan banyak topik untuk dibahas. Belum
selesai satu topik, sudah muncul topik yang lain. Seperti pagi tadi saya
menemukan satu convo terkait second choice. Tentu second choice yang dimaksud sender adalah hubungan asmara. Tapi,
ketika membaca itu pertama kali yang langsung terlintas di pikiran saya adalah
kejadian beberapa tahun yang lalu, kejadian yang jauh dari urusan asmara.
Dulu
sekali, saya pernah menghubungi salah satu pembicara handal yang ada di Banyuwangi.
Berniat meminta bantuan mengisi ilmu public
speaking untuk IPNU IPPNU. Sebetulnya waktu itu pengisi acaranya memang
bukan beliau, ada satu orang lain yang sudah deal.
Karena
satu dan lain hal, orang yang sudah deal
ini memberi kabar kalau berhalangan mengisi. Waktu itu sudah mepet sekali
dengan hari H. Jadilah saya menggunakan plan B, menghubungi pembicara yang saya
sebut di atas. Saya jelaskan situasinya dan juga meminta maaf meminta bantuan
secara mendadak karena pengisi acara yang pertama tiba-tiba berhalangan.
Saya
betul-betul tidak berpikir apapun sampai akhirnya beliau bilang “Oh, saya
pilihan kedua, ya?” Membaca balasan itu saya hanya bengong. I was like… ha? Bingung menjawab waktu
itu, karena saya masih remaja yang belum fasih merespon jawaban-jawaban seperti
itu.
Mungkin
kalau itu terjadi hari ini saya akan balas “Iya, pilihan kedua. Karena anda
tidak melulu jadi yang pertama.” Tapi, berchyandaaaa…. berchyandaaa…
Sejak
itu sampai hari ini saya melihat beliau sudah tidak sama lagi, sudah tidak
sekagum dulu lagi. Boleh lah dibilang patah hati. Dan ternyata hal-hal
sederhana bisa menjadikan kita patah hati itu memang betul ada. Oh, Mey, mungkin kamu terlalu tinggi menaruh
ekspektasi pada orang? Tidak juga. Patah hati yang saya rasakan lebih kepada
“Oh iya, ya. Tidak semua orang bisa bijak dalam menilai bahwa dunia ini tidak
selalu berporos pada dia. Bahwa dia tidak selalu jadi yang pertama.”

