Minggu, 31 Mei 2015

Sepatu

Mei 31, 2015 0 Comments
Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa
Berjuang karena kaki manusia
Aku sang sepatu kanan
Kamu sang sepatu kiri
Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan

Sudah, cukup.
Itu hanya penggalan dari lagunya Mas Tulus.
Judulnya "Sepatu"

Iya, SEPATU.

Unik ya?
Di saat semua judul lagu para musisi kebanyakan tematik atau romantis-romantis,
Tapi judul lagu Mas Tulus yang ini malah Sepatu.
Pertama kali dengar judul lagunya aku pikir "Ini lagu apaan? Kok judulnya sepatu."
Tapi pas sudah dengar lagunya,
Wohooo, penuh makna brooo :D

Hanya dari benda yang bahkan tak penah terlintas dipikiran para musisi untuk dijadikan bahan lagu, Mas Tulus justru membuatnya menjadi sebuah lagu yang sangaaat sangat menawan.
Two thumbs deh, Mas ..

Oke. Kali ini aku tidak akan bahas lagu Sepatu.
Aku akan bahas Sepatuku sendiri.

Sepatu beludru hitam yang kubeli entah kapan.
Yang pasti sejak pertama aku melihatnya nangkring manis di rak toko
Aku langsung jatuh cinta.
Apa lagi ketika aku menurunkannya dan mencoba mengenakannya.
Huwaaa aku makin jatuh cinta.
Sepatu berukuran 38 itu sangat nyaman kupakai.

Sepatu hitam pekat itu kugunakan kemanapun.
Kuliah, aksi lapangan, mondar-mandir saat seminar, naik turun tangga, nguber gebetan banyak lah pokoknya.
Kebayang kan? Begitu setianya sang sepatu menemani Cinderellanya pemiliknya.

Aku bukan tipe orang yang sering beli-beli barang kalau aku tak begitu membutuhkannya.
Hanya saja untuk urusan sepatu ini aku agak sedikit beda.
Dari dulu memang aku akan menggunakan satu sepatu saja hingga sepatu itu rusak dengan sendirinya.
Baru kemudian membeli yang baru.
Tapi semenjak masuk kuliah kebutuhanku akan sepatu meningkat.
Aku tidak bisa hanya mengandalkan satu sepatu dan satu sepatu sendal saja.
Entahlah, semakin jauh aku jadi semakin merasa seperti wanita.
Nggg maksudnya lebih feminim dan lebih ribet pada urusan sepatu.
Padahal dulu enggak.

Semua berubah ketika aku merasakan ada yang aneh dengan sepatu beludruku itu.
Entah sejak kapan aku mulai menyadarinya.
Yang jelas, kini sepatu itu semakin sesak.
Aku tidak nyaman lagi menggunakannya.
Kakiku sering lecet dan sakit karenanya.
Bagian depan kakiku serasa di tekuk.

Walaupun menyakitkan entah kenapa aku masih saja sering menggunakannya.
Ya, padahal sepatu itu sudah tidak nyaman.
Aku hanya, entahlah, aku hanya merasa perlu menggunakannya terus.

Sekarang, aku justru mengincar model sendal seperti sendal gunung.
Selain nyaman dan luas, sendal seperti itu boleh dipakai untuk kuliah.

Ah, dulu ketika aku melihat sepatu beludru itu aku manyukainya.
Tapi sekarang ketika sepatu beludru itu semakin sempit aku justru selalu menatapnya nanar.
Kehidupan memang selalu seperti itu.
Iya, tidak ada yang abadi.

Pesan dari tulisan ini adalah :
1. Sepatu itu ibaratkan sebuah hubungan. Akan ada saat dimana kamu merasakan bahagia yang luar biasa karena sudah menemukan seseorang yang kamu anggap paling segalanya. Tapi, bukan tidak mungkin bahwa di suatu masa kamu akan merasakan sakit luar biasa karena hubunganmu. Jangan memaksakan sebuah hubungan yang tak membawa bahagia. Lepas sepatumu dan melangkahlah mencari sepatu yang baru.
2. Belilah sepatu di sore atau malam hari. Karena ukuran kaki seseorang akan lebih besar pada waktu sore atau malam hari. Itu karena setelah seharian kaki kita melakukan aktiftas. Niscaya ukuran sepatu yang kamu beli akan lebih besar dari ukuran biasanya. (Ini dapet dari hasil baca. Tapi lupa baca dimana)

Abaikan pesan pertama.


Our Day

Mei 31, 2015 0 Comments
31 Mei 1994.
Dua insan yang dipertemukan Tuhan mengikat janji suci
Janji untuk hidup bersama sepanjang hayat mereka
Janji suci untuk saling menjaga satu sama lain
Janji suci kepada diri mereka dan Tuhan mereka
Janji yang disaksikan oleh banyak pasang mata
Janji yang hingga 21 tahun ini tidak teringkari
Hingga tepat setahun setelah janji tersebut, lahirlah aku ke dunia

31 Mei bukan hanya sekedar hari dimana mereka membuat janji
Jauh dari dugaan, Tuhan menunjukkan kebesaranNya dengan melahirkan aku di tanggal yang sama saat dua insan itu melaksanakan akad.
31 Mei 1995 aku dilahirkan.
Secara normal, tidak operasi.

Setiap tanggal tersebut, ketika mereka dengan begitu ikhlasnya selalu mendoakan kehidupanku
Aku mendoakan untuk janji mereka
Aku mendoakan agar mereka selalu kuat menghadapi apapun
Agar janji mereka tidak terkhianati
Agar janji mereka abadi hingga ajal tiba
Aku mendoakan mereka berdua
Pernikahan mereka, Abah dan Ibuku

Ketika Abah hanya memikirkan peringatan 31 Mei sebagai hari lahirku
Aku selalu mengingat 31 Mei tidak hanya sebagai hari lahirku
Tapi juga hari lahir kehidupan baru mereka

Rasanya ungkapan terimakasih yang berkali-kali kuucapkan tak mampu membalas apa saja yang sudah mereka berikan.
Menurut pada mereka pun rasanya belum mampu membalas keikhlasan mereka.
Menjadi baik, tidak ruwet, tidak mempermalukan mereka, itu saja mereka anggap sudah cukup.
Tapi aku merasa belum cukup dengan hanya itu saja.

Dia dengan segala kebaikan dan kemurahanNya
Mengirim dua malaiakat tak bersayap itu untuk menjadi tempatku berlindung
Menitipkan aku pada dua malaikat yang tanpa lelah mendengar keluh kesahku

Hingga hari ini …
Aku hanya dapat berterimakasih kembali
Atas segala hal yang sudah dilakukan

Abah …
Terimakasih sudah sangat menjagaku
Terimakasih sudah sangat melindungiku
Terimakasih sudah menjadi the best Dad in the world

Ibu …
Lukisan kata-kata tak cukup mampu untuk mengungkapkan kehebatanmu
Segalanya seperti tak sebanding dengan apa yang sudah kau beri
Terimakasih sudah berjuang hidup demi melahirkan aku

Ardi …
Terimakasih sudah menjadi Adik yang sangat menyebalkan
Terimakasih atas ucapanmu pagi ini yang menurutku “nggak banget”
Jadilah anak yang baik
Jangan mengecewakan orang tua dan aku
Selesaikan sekolah dan being whatever you want to do

Fahri …
Ah, kau masih terlalu kecil untuk kuberi kata-kata
Tapi terimakasih sudah membuat Kakakmu ini terlihat tua dari yang sebenarnya
Karena kemanapun aku pergi ketika membawamu, banyak orang mengira kamu itu bukan adikku.
Tapi anakku.
Sudahlah. Aku pun tak marah.

Terimakasih my beloved family.
Terimakasih juga untuk yang sudah mendoakan.
Semoga apa-apa yang baik yang kalian harapkan padaku dapat terijabah.

Seperti yang sudah kutulis.
This is not only about my birthday.
But also your Wedding Anniversary, Bah, Bu ...
Keep romantic, stay healthy, longlast ever after ...
I love you much more.

20 years ago today, I was born.
As life goes on, so many things happened.
At the end, age is just a number.
Keep learning.
It’s not about getting older, but instead getting better and wiser everyday
Dear my lovely fams, friends, and all of the people who know me

Thanks for making my day ...



Kamis, 14 Mei 2015

Selamat Menua

Mei 14, 2015 0 Comments
Hari ini umurmu bertambah setahun lagi.
Selamat ulang tahun, pribadi yang terus berusaha memperbaiki diri ...

Cut. Ah, nama panggilanmu itu kadang membuatku tidak mengerti.
Kenapa aku memanggilmu Cut?
Kenapa aku malah ikut-ikutan Mas Alvin?
Aku hanya membayangkan ketika ada teman kita yang bertanya,
"Mey, kenapa kamu manggil Rani Cut?"
"Ikut-ikutan Mas-nya Rani."
Ah, kan nggak kece banget.
Nggak ada historisnya -___-
Tapi ya anggap saja ini kegilaan keunikan kita.

Kamu memanggilku Cot, yang sudah pasti, tidak lain dan tidak bukan dikarenakan hidungku yang terlalu mbangir ini hahahaha.
Ya kan ya kan??? :D

Abaikan.

Hey sahabatkuu, selamat bertambah usia yaa ...
Selamat menikmati udara di usia 20.
20 tahun sudah Tuhan mengizinkan kamu untuk
bernafas di dunia-Nya tanpa dipungut biaya :D
Lihat, betapa Maha Pemurahnya Dia, kan?

Segala semoga yang ku semogakan untukmu.
Semoga segala yang baik terus ada pada dirimu.
Lima tahun sudah kita saling mengenal.
Kamu yang entah kenapa bisa menjadi bagian penting dalam cerita hidupku.
Kamu yang entah darimana datangnya bisa menjadi teman yang hingga saat ini tetap ada.
Aku tidak pernah membayangkan akan datangnya peranmu.
Tapi bukankah skenario-Nya selalu mengejutkan, Cut?

Aku dan kamu sekarang sudah bukan anak SMA lagi.
Dulu, kita bisa berkabar satu sama lain sepanjang hari.
Bercerita ngalor-ngidul tentang apa saja.
Tentang sekolah, teman, guru, keluarga, musik, film, bahkan gebetan :D
Kita bahkan bisa meninggalkan berpuluh-puluh sms di inbox kita masing-masing.
Aku banyak bercerita tentangmu pada Ibuku.
Begitu pun kamu, banyak bercerita tentangku pada Ibumu.
Hingga mungkin Ibuku dan Ibumu menjadi bosan.
Karena anaknya selalu menyebut nama teman mereka yang itu-itu saja :D

Kita berdua pernah bersama-sama bermimpi.
Mimpi yang sampai saat ini masih sangat aku jaga.
Mimpi yang kita buat di kamarmu, saat aku menginap di rumahmu.

Namun saat ini,
Kita berdua sudah tidak seperti dulu.
Pasti, everything has changed.
Sebuah proses kedewasaan yang kita lalui, Cut.
Kita tidak pernah membenci satu sama lain atas perubahan ini, kan?
Karena aku dan kamu sadar.
Kita memiliki tanggung jawab yang sudah semakin berat.
Kamu dan aku sudah menjalani kehidupan yang bukan kehidupan anak-anak lagi,
dimana kita masih bersenang-senang atas apa yang ada di depan kita.
Kamu dan aku mengerti akan kesibukan satu sama lain.
Kamu dan aku sudah menjadi dewasa dan mulai memahami.

Cut, aku bukan jenis teman yang pintar merangkai kalimat indah, manis nan mempesona.
Apalagi untuk momen ulang tahun seperti ini.
Sudilah kiranya Ananda menerima kalimat-kalimat tak bermutu dari Ibu Peri ini yaa :D
Buper tak bisa memberimu apa-apa, Nak.
Yang Buper beri hanya doa setulus hati.
Seperti lagu Jamrud yang tersohor itu.

Semoga Tuhaaaan, melindungi kamuuu.
Serta tercapai semua angan dan cita-citamuuu.
Mudah-mudahaaaan diberi umur panjaaang.
Sehat selama-lamanyaaaa, selamat ulang tahun!

"Dan pada akhirnya ...
Sahabat satu per satu akan pergi.
Entah untuk cita-cita, serita cinta, ataupun kemajuan diri.
Tapi satu hal yang pasti.
Sejauh apapun kalian pergi,
Kalian tetap harta terbaik yang selalu di hati
Dan tetap di nantikan hingga pulang kembali."

Kalimat seng terakhir iki aku nyontek Dagelan Cut, sumpah! :D

Selamat bertambah usia. Semoga semakin bijak dan mendewasa ...


Sabtu, 09 Mei 2015

Fever Of The Year

Mei 09, 2015 0 Comments
Siang ini benar-benar panas.
Saya sudah terbiasa dengan suhu Banyuwangi yang agak galau ini.
Kadang panas terik, kadang dingin menusuk.
Cuaca sudah tidak dapat ditebak lagi apa maunya kapan bulannya.
“Padahal kan ini harusnya sudah musim panas? Kok hujan terus sih? Bikin inget mantan deh.”
Hal semacam itu sering saya dengar.
Namanya juga kita, manusia. Selalu apapun dibuat repot.
Musim lagi panas, minta hujan.
Sudah di kasih hujan, kedinginan, minta panas.
Ah, lama-lama di kasih hujan air panas baru tahu rasa!

Oke. Abaikan.

Hari ini suasana di rumah saya agak beda, gaes …
Tahu kontestan D’Academy yang dari Banyuwangi itu?
Iyaa D’Academy?
Iyaaa itu loh yang di Indosiar?
Iyaaaa Danang, tahu nggak?
“Nggak tahu, saya nonton X-Factor. Mama saya tuh yang nonton D’Academy.”
Mak jlebb …
Oke, permisi #ngacir sambil nunduk
Salah ngambil sampel buat survey hahahaha …

Hihihi, enggak ding …
Itu tadi just in my wildest imagination, gaes …
Jangan tersinggung yaa.
Ya, seperti kabar yang sudah berhembus dengan kencangnya layaknya angin topan bahwa hari ini Danang akan pulang kampung.
Sudah bisa ditebak dong ya?
Riweuh sana sini :D
Tapi saya bukan termasuk orang yang ikutan riweuh :D
Nggak tahu sih, saya ngerasa beda aja gitu hari ini.
Suasana di depan rumah saya tiba-tiba saja langsung sepi.
Nggak seperti biasanya.
Memang, pagi tadi Pak Kandar masih lewat depan rumah dan jualan sayur seperti biasa.
Tapi setelah jam 10 ke atas langsung hening.

Tiba-tiba suara yang sudah kami kenal mengalun di toa musholla.
Memang khas banget suaranya Pak Ahmadi ini :D
Beliau Ayahnya Mas Danang.
“Bagi para panitia diharapkan segera menuju lokasi, sekali lagi bagi para panitia diharap segera menuju ke lokasi. Terimakasih.”

Panitia? Panitia apa?
Ramadhan kan belum mulai?
Masa iya sudah mau membentuk panitia zakat fitrah?
Panitia Agustusan juga nggak mungkin.
Apalagi panitia Idul Qurban.
Sama sekali nggak mungkin.
Saya dan Ibu saling menatap lantas tersenyum.
Ya sudah pasti panitia untuk menyambut Ananda tercinta dong J
Suara sirine mobil Polisi sambung-menyambung sahut-menyahut.
Saya bisa dengar suara seseorang, mungkin MC, yang lagi ngomong tapi lebih seperti orang kumur-kumur. Nggak jelas ngomong apa.
Saya hanya membayangkan bagaimana sibuknya gang tengah sekarang.
Ah untung rumah saya di gang selatan.
Jadi bebas dari macet dan keramaian.

Tidak dipungkiri bahwa Danang fever sudah mewabah.
Apalagi di Banyuwangi.
Kota yang menjadi kelahiran Danang.
Di sana-sini baliho besar bergambar Mas Danang dipasang.
Di depan RS. Fatimah.
Di depan gang rumahnya.
Di pojokan PJR.
Di belokan Taman Tirta Wangi.
Di dekat Masjid Agung Baiturrahman.
Di depan showroom mobil bekas dekat KTL.
Di …. Di mana lagi ya?
Aduh, banyak juga ternyata balihonya Mas Danang ini.

Ya, semua itu bentuk dukungan yang diberikan masyarakat Banyuwangi untuk Mas Danang.
Sudah berjuang sejauh ini.
Hingga ke tahap 3 besar.
Wuiih, sulit itu gaes.
Asal, pulsa buat ngedukung lebih dari lebih ya pasti aman-aman saja :D
Apa artinya kalau potensi yang bagus disertai dengan suara sms yang fals?
Ya sudah pasti tersenggol.

Di KMP, eits bukan Koalisi Merah Putih lho yaa …
Kampus Merah Putih :D
Di kampus saya juga sudah pada ngomongin Mas Danang.
Saya hanya nggak bisa ngebayangin kalau lidah Mas Danang kecokot-cokot karena sering di omongin :D
Tapi dia memang pantes dirasani kok.
Pemuda Banyuwangi multitalent.
Setidaknya ada yang bisa dibanggakan selain hanya suaranya yang apalah-apalah itu.
Cuman ya begitu, rasa-rasanya kok setiap Mas Danang tampil ada kesan primordialnya.
Nggak tahu deh, perasaan saya saja atau memang begitu.

Saya nulis ini bukan dengan maksud apapun.
I swear …
Saya nulis ya hanya karena saya ingin nulis.
Tuts keyboard sudah melambai-lambai.
Di tambah inspirasi yang dari pagi tadi sudah meletup-letup :D
Tambah lagi, buat menuhin isi blog saya :D

Kata Ibu saya yang kebetulan tadi nutup pager rumah, depan Angkatan Laut macet.
Kok kan, percoyoo -___-
Hal ini mengingatkan pada event BEC pertama kali di gelar.
Haduuuuh, macet parah sampai akhirnya saya batal ke warnet buat nyari materi tugas.
Pingin nangis rasanya lihat motor Abah nggak bergerak sama sekali waktu itu.

Nah ini kejadian lagi, macet.
Tiba-tiba saja saya merasa menjadi orang paling beruntung nggak tinggal di Jakarta yang macetnya aduhai itu. #Nggak nyambung.

“Ah Mey, kayak kamu mau kemana aja macet gitu doang sambat.”
Lha iya ya, saya juga diem aja dirumah. Nggak kemana-mana.
Tetangga dateng dari Jakarta di sambut kek apa kek, ini enggak.
Loh, ini sudah disambut keleus, sama tulisan.

Ada yang lebih romantis menyambut seseorang selain dengan tulisan terus di publikasikan begini?

Jumat, 08 Mei 2015

Istanbul Masih Jauh

Mei 08, 2015 0 Comments
Istanbul.

Ah kota ini.
Dasar ngeyel. Padahal hanya akan merasa sesak saja jika aku terus membayangkan Istanbul.
Entah sejak kapan aku mulai jatuh cinta padanya.
Setiap saat, setiap waktu, setiap shalat aku terus terbayang tiap sudut kota itu.
Memang, aku belum pernah menginjakkan kaki disana.
Tapi rasa²nya Istanbul sudah begitu dekat saja.
Aku sudah bisa mencium aroma Bhaklava hangat yang baru matang.
Atau aroma Chay yang sangat harum.
Menikmatinya sambil duduk menghadap Bhosporus.
Ah Tuhan, sungguh nikmat yang luar biasa.

Istanbul.
Aku pernah membayangkan menjamahmu bersama seseorang.
Dia, seseorang itu, yang selalu mengusikku hingga saat ini.
Yang selalu membuatku menangis saat menghadapNya.
Aku hanya membayangkan kami berdua menelusuri sudut² Grand Bazar.
Memotret kemegahan Hagia Sophia.
Atau melihat keindahan Istanbul dari balon udara di Kappadokia.
Hhhh kan, semakin sesak rasanya.

Aku masih dan akan tetap menaruh mimpi² untuk bisa menjelajah Turki.
Seperti host Travelleza yang dulu sempat membuatku hampir menangis karena iri, hehehe :-)
Istanbul, Turki.
Kenapa bisa kau memikatku hingga seperti ini?
Kenapa bisa aku sangat tergila-gila padamu?
Kenapa bisa? Kenapa?

Tapi, terlepas dari itu semua.
Aku masih ingin menjelajah sudut² Indonesia.
Entah kapan.
Hal ini semakin menyadarkanku,
Bahwa Istanbul masih sangat jauh.

Selasa, 05 Mei 2015

Unpredictable Man

Mei 05, 2015 0 Comments
Ah, aku benar-benar hampir gila dibuatnya.
Dia selalu berhasil membuatku senam jantung.
Dia itu benar-benar unpredictable man.
Pagi ini Ibu membangunkanku dengan brutal panik.
Ada apa? tidak biasanya.
Aku mendengar Ibu yang berkata ada temanku diluar.
Segera aku bangkit dan melihat dari jendela.
Huwaaa, benar saja.
Itu dia!
Sepagi ini?

Eits, tunggu.
Aku melihat jam di hp-ku.
Sial, ini sudah pukul 07.32
Bukan pagi lagi namanya.
Aku melihat dua missed call.
Dan semuanya dari dia.
Ah Meeeeeyy, kenapa hapemu di silent?
Kan jadi nggak denger ada telpon?

Tanpa berkaca ria aku segera mengenakan jaket dan menutup kepalaku dengan jilbab.
Ya, aku menemuinya tanpa ke kamar mandi terlebih dahulu.
Jorok! Biar saja, hahahaha :D
Dia menatapaku prihatin.
“Baru bangun Mey?”
Aku mengangguk pasrah.
“Sakit kah?”
Aku menggeleng.
Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku memang sakit.
Bahkan wajahku tidak pucat sama sekali.
Bukan sakit demam.
Melainkan sakit bulanan.
You know what I mean?
Yeaah that’s right.

Ah kamu!
Kenapa mudah sekali?
Mudah sekali dia ini keluar dan masuk rumahku.
Tidakkah kau melihat gurat panik di wajahku?
Hellooooo ….

Hah rasanya aku ingin marah.
Tapi untuk apa?
Toh dia juga datang hanya untuk dua alasan.
Kalau nggak bayar hutang pulsa ya beli pulsa.
Udah, itu aja!

Iyaa, tapi apa ya?
Rasanya aneh.
Ini sudah ketiga kalinya.
Ya, ketiga kalinya dia datang ke rumahku.
Mungkin hanya dia satu-satunya teman kuliah laki-laki yang sudah melangkah sejauh ini.
Walaupun hanya duduk di beranda tapi ini sesuatu yang sangat luar biasa.
Seorang Meydiana Isfandari.
Yang bahkan semasa sekolahnya tidak pernah mengizinkan laki-laki datang walaupun sejenak.
Terakhir SMP. Dan itu harus berdebat dulu dengan Abah.

Aku hanya kaget melihat dia ujug-ujug dengan santainya melenggang masuk ke pekarangan.
Aku hanya tidak tahu bagaimana reaksi Abah ketika tahu ada seorang laki-laki yang menemui putri cantiknya anaknya pagi-pagi begini.
Aku benar-benar speechless.
Untung saja pagi itu Abah sudah pergi.
Aku masih bisa bernafas lega.
Setidaknya Ibuku bukan orang seperti Abah.
Ibu welcome dengan temanku ini.

Ah Mey kamu itu terlalu parno. Itu kan Abahmu yang dulu, saat kamu masih SMP. Kan beda sama Abahmu sekarang, kamu sudah kuliah.
Sama saja, aku tak peduli masih SMP atau sudah kuliah.
Aku terlanjur sakit hati.
Masa hanya teman saja langsung begitu marahnya?
Dipikirnya aku ini apa?
Memarahiku di depan dua temanku dulu.
Ugh, rasanya sebal!

Dia ini tidak peka sama sekali.
Padahal banyak teman laki-laki yang sungkan untuk datang ke rumah.
Yaa, apa lagi kalau bukan Abahku itu.
Nah, dia???
Sudahlah, aku hopeless banget.
Aku kira dia hanya akan datang untuk membayar dan membeli pulsa lalu pergi.
Tapi kalian tahu apa yang dia perbuat?
Dia masih sempat duduk di teras dan mengaktifkan paketan di BB-nya.
Arrgggh aku benar-benar akan gila sebentar lagi.

“Sek ya Mey.”
Aku hanya ber-hmmm ria sambil sedikit tersenyum.

Oh Allah apa salahku pagi ini?
Marahkah Kau karena aku bangun telat?
Kau kan tahu aku sedang libur Ya Allah?
-______-

“Aku tadi nanya rumahmu sama tetangga kok nggak tahu ya?”
Aku mendelik.
Iyalah, pasti situ kalo nanya “rumahnya Mey”
Mereka tahunya Diana, bukan Mey.
Heran, padahal sudah tiga kali ke rumah kok ya masih nanya ke tetangga?

Aku mengerut.
Belum lagi aku memikirkan apa yang ada di pikiran tetanggaku ketika ada pemuda yang mencariku.
Ah emboh lah silahkan saja mau berpikir apa.
Bebas, terserah.

Dia belum pergi ketika Mbak Al datang membeli pulsa juga.
Aku hanya berdoa semoga Mbak Al tidak berpikir yang macam-macam.
Ah, peduli apa aku.
Biar saja.

Yess, akhirnya dia berpamitan.
Setelah urusan hutang piutang selesai, yes yes yessss ….
Aku sudah tidak tahan dengan pandangan para Bapak dan Mas tukang yang sedang bekerja di rumah.
Hiii pasti mereka berpikir yang macam-macam.
Ah biar sajaaaa biaaaaaar aku tak perduliiiii, #bohong :(

Dia pamit pada Ibu dan Mbak Al.
Saat dia sudah sampai di pagar Mbak Al bilang,
“Oo jadi sekarang ada yang bagian nagih Din?”

Aku melongo.
Huwaat???
“Enggak Mbak, itu beli pulsa.”
Mbak Al ber- oooo ria.

Wkwkwkw rasanya aku ingin tertawa.
Jadi Mbak Al mengira temanku itu bagian penagih uang pulsa?

Syukurlah :D