Senin, 24 Desember 2018

Sudah Mengucapkan Natal Hari Ini?

Desember 24, 2018 3 Comments
We wish you a merry christmas We wish you a merry christmas We wish you a merry christmas and happy new yeaaaaaaar ..........

Merry Christmast for y'all

Yeaaay, selamat natal dan tahun baru semuanyaaaaa. Jadi, apa resolusimu tahun 2019?
Ha? Apa? Nggak ada resolusi??? Hmmmmm~
Ya nggak apa, karena aku juga begitu, hahahaha. Ra sah resolusi-resolusian, aku cah dinamis owg.

Apa kabar timeline media sosial kita hari ini? Sudahkah muncul perdebatan “hukum mengucapkan natal” di timeline kalian? Ehehehe. Nggak bosan-bosan, ya, mereka tuh. Tiap tahun perdebatannya nggak naik kelas. Kapan lulusnya dong kalau nggak naik kelas terus?
 
Tapi saya juga bersyukur masih banyak orang yang menyebarkan sikap toleransi yang amat indah. Seperti Mbak Ligwina Hananto yang pagi ini saya baca twitnya tentang kompaknya keluarga mereka menyiapkan acara makan siang saat Natal besok. Bahkan mereka menyiapkan dresscode.



Atau ada juga twit yang maha selow dari Koh Ernest ini:

Tai kuda emaaaaang selera humornya wkwkwk.

Ngapain juga saya kasih tahu twitnya Mbak Ligwina dan Ernest? Biar apa? Ya nggak biar apa-apa juga, cuma ngasih tahu bahwa masih ada yang seperti itu. Selow dengan perbedaan agama di negara kita. Nggak otot-ototan hanya karena masalah ucapan.

Kamu kenapa kok jadi menggampangkan kepercayaan, gitu? Ini menyangkut syariat, lho!

Lho, memang sejak kapan beragama itu sulit? Hayo, sejak kapan? Syariat nyangkut segala, nyangkut dimana? Sini, tak bantu ambilin galah.

Antum tahu nggak (antuuuuuuum) kenapa antum sensi banget dengan saudara-saudara sesama muslim yang mengucapkan Natal ke saudara kita yang nasrani? Mungkin sampeyan ini kurang banyak bergaul. Kurang melihat sisi lain sebuah koin, yang sampeyan lihat hanya satu sisi saja, yakni sisi nominal uangnya. Padahal dibelakangnya, kan, masih ada gambar.

Bapak Sulthan Fatoni dalam bukunya yang berjudul “Dear, Felix Siauw” pernah bilang: Menjadi muslim yang toleran itu tidak perlu mengabaikan syariat. Menjadi muslim yang toleran hanya memerlukan basis keislaman yang kuat. Nah, dari ucapan Pak Sulthan itu, kira-kira apa penyebab seorang muslim nggak bisa toleransi? Betul, salah satunya adalah wawasan keislaman kita yang lemah. Semua itu memang berasal dari diri kita sendiri, kok. Jadi sebelum nyinyirin sesama saudara, alangkah baiknya ngaca dulu.

Masih dalam penjelasan Bapak Sulthan Fatoni, lagi pula tidak semua ulama memberikan label haram pada ucapan selamat Natal. Ada, kok, yang membolehkan kita mengucapkannya. Membolehkan ya bukan berarti memburu stempel ‘toleran’ lalu mengabaikan syariat. Ungkapan kebahagiaan umat Islam atas kelahiran Nabi Isa tentu bukan sikap buruk. Kita harus adil pada kata ‘Selamat Natal’. Bagi Umat Kristiani, ya, perspektif Kristiani. Bagi Umat Islam, ya, perspektif Islam.

Lha, kita sebagai muslim saja imamnya ada empat, je. Agar bisa toleran ya kita perlu wawasan fikih dari empat mazhab itu. Pernah, kan, waktu itu netizen gempar masalah mbak-mbak bercadar merawat anjing-anjing yang terlantar di rumahnya. Netizen mulai sok tahu dah tuh. Banyak komentar-komentar maha benar netizen seliweran. Padahal jika mengikuti mazhab Maliki, anjing adalah suci dan bekas jilatannya tidak najis, tapi wadah yang dijilatnya harus dicuci. Piye, jal?

Ora kabeh-kabeh iki kudu melu perspektif Islam, engko mundak ora iso ngeregani liyane, kata Ferguso. Dyaaaar!

Saya dan Natal memiliki hubungan baik yang terajut indah sebagai kenangan manis. Bapak dan ibu angkat ibu saya (kakek dan nenek angkat saya) adalah Kristiani. Sejak usia tiga tahun Ibu saya sudah diboyong oleh mereka ke Kepundungan, Srono. Ibu dibesarkan dengan penuh perhatian, kasih dan sayang (saya selalu emosional jika menceritakan tentang betapa baiknya kakek dan nenek angkat saya). Ibu saya dibesarkan oleh mereka sebagai seorang muslim. Mereka memasukkan ibu ke TPQ dan menyekolahkannya ke Madrasah Ibtida’iyah. Mereka tidak egois dengan memaksa ibu saya mengikuti kepercayaan mereka.

Setelah ibu menikah dan melahirkan saya, kami setiap hari ada di Kepundungan. Hari Sabtu sepulang kerja baru bapak datang menjemput kami. Saya menghabiskan masa kecil di Kepundungan, setidaknya sebelum saya masuk TK. Sedari kecil saya telah akrab dengan simbol-simbol Nasrani yang ada di rumah Kakung. Terganggu? Tidak. Ya mungkin karena saya masih kecil waktu itu. Beranjak besar saya juga tidak terganggu. Sudah biasa. Malah kadang mbatin “itu kenapa Yesus ganteng amat.” atau “sudah berapa tahun ini kok bapak ini nggak ganti-ganti” bapak yang saya maksud itu adalah Paus Paulus.

Jadi, sedari kecil saya telah akrab dengan kegiatan-kegiatan keagamaan mereka. Ibu dulu juga pernah cerita saat pertama kali kakung mengadakan Misa di rumah. Para tetangga yang memang semuanya Islam pada kepo. Misa tuh ngapain, sih? Gitu kali pikir mereka. Maklum waktu itu pertama kali banget di rumah kakung ada acara keagamaan. Antusias tetangga jadi besar. Kata ibu, para tetangga itu ngintip lewat celah-celah bambu di kamar. Rumah kakung itu tipikal rumah lawas yang gedong tapi dindingnya dari bambu.

“Tapi mari ngono yo mari wes, saking pertama kali dadi penasaran.” kata Ibu.

Besok-besok saat rumah kakung dipakai untuk perayaan Misa lagi, malah satu dua tetangga datang untuk sekadar bantu-bantu menyiapkan masakan. Pemandangan seperti ini yang seharusnya bisa kita tunjukkan. Bahwa perbedaan tidak malah membuat persaudaraan putus. Bahwa perbedaan tidak malah membuat persatuan tercerai berai.

Tidak hanya Kristen, saya juga punya saudara yang beragama Hindu. Adik ibu saya (tante saya) adalah seorang Hindu. Sama seperti ibu, tante saya dulu juga dirawat oleh keluarga angkat yang masih kerabat. Namun dalam kasus ini tante saya berpindah keyakinan dan ikut keyakinan orang tua angkatnya. Setiap Galungan kami pun selalu berkirim ucapan. Memohon pada Tuhan agar keluarga besar kami selalu dalam pertolongan-Nya. Kami juga tidak pernah yang namanya ribut-ribut perkara beda agama.

Sebagai umat dengan agama terbesar di Indonesia seharusnya kita bisa menjadi pelopor pengembangan konsep tiga persaudaraan secara terpadu. Tiga konsep yang dikenal sebagai ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wthaniyah (persaudaraan sesama warga Indonesia), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan seluruh umat manusia).

Jangan hanya mengembangkan ukhuwah islamiyah sehingga mengabaikan dua konsep lainnya. Jadinya apa? Ya kita hanya peduli pada saudara kita yang seiman saja. Umat lain yang tidak Islam bodo amat nggak usah diurusin. Saat ada bencana alam kita hanya mau membantu mereka yang Islam. Nggak adil, kan? Saya ingat perkataan Gus Dur yang fenomenal dan melekat di hati masyarakat, saat kita berbuat baik orang tidak akan bertanya agamamu apa.

Tahun politik saat ini rasa-rasanya semua hal selalu dikaitkan dengan agama. Ini lho yang menyebabkan beragama jadi terasa sulit saat ini. Begini sedikit dibilang menista agama. Begitu sedikit dibilang tidak menghormati kepercayaan orang lain. Ada bencana alam yang jelas penyebabnya dibilang azab dari Tuhan. Nggak paham lagi akutu.

Begitulah, teman-teman. Perkara mengucapkan ‘Selamat Natal’ plis nggak usah dibuat pusing. Sila baca bukunya Bapak M. Sulthan Fatoni yang “Dear, Felix Siauw”. Ada sub bab yang membahas mengenai ucapan selamat Natal. Pokoknya buku ini worth to read, deh.

Nanti, jika ada orang yang menyebutmu kafir hanya karena mengucapkan selamat Natal, bilang ke dia: Monmaap, nih, kafirnya saya karena udah ngucapin selamat Natal tuh masuk kategori kafir yang mana, ya? Kafir ingkar, kafir juhud, kafir inad atau kafir nifaq?

Ya pokoknya kamu kafir! Kafir mah kafir aja!

Nggak usah ngegas dong heyhalooooo~

Resiko menuduh umat Islam lain kafir/murtad itu besar, lho. Jika tuduhan tidak benar, si penuduh bisa murtad sendiri. Lha wong kita sama-sama belajar, kok sempat banget ngatain temennya kafir. Semua umat muslim sudah tentu peduli pada keislamannya. Yang perlu kita urus adalah keislaman kita sendiri, bukan malah sibuk ngurusin keislaman orang lain.

Pokmen kowe cah #NgucapinNatal atawa cah #NggakNgucapinNatal everything is oke. Salam wuwuwu~

Gitu, ya, mylov~

Selamat Natal untuk alm. Anthonius Sunaryo, kakung juara satu se-universe dan untuk semua teman dan kerabat yang merayakan. Semoga damai selalu menyertai kita semua. Aamiin.

ILYSM

Minggu, 09 Desember 2018

Perihal Jodoh: Tuhan, plis kasih kisi-kisi.

Desember 09, 2018 0 Comments
Banyak jalan yang telah saya susuri bersama Bibeh. Di jalan itu pula banyak obrolan yang telah kami bahas. Dulu, kami pernah ngobrol masalah skripsi yang nggak mari-mari, masalah HTI dan sampai masalah hati. Hal terakhir lah yang paling kami minati. Hihihi.

Sore ini, setelah kami melakukan perjalanan tak terduga ke GWD, kami pulang ke rumah. Saya boncengan dengan Bibeh. Seperti biasa, saya lupa awalnya kami ngobrol tentang apa. Kemudian meluncurlah pertanyaan dari saya “Kelak lakik kita modelannya gimana, ya, Woh? Ngerti ndane sama sifat kita yang kek begini?”

Ah, ya, saya ingat. Tadi kami sedang ngobrol perihal laki-laki yang masih suka nyuruh Bibeh buat ngaji, belajar ini, belajar itu buat anak kelak, dsb. Bibeh dengan watak yang seperti itu langsung kalap dan membalas, “Eh, ya masa, sih, hal-hal kek begitu harus aku kasih tahu ke kamu? Itu udah urusan aku sama anakku kelak.”

Demi apa pun, saya ketawa. Lah bocah kek Bibeh diceramahin begituan mah mana mempan. Mantul shaaay. Dan kemudian terbitlah pertanyaan saya seperti di atas. Bibeh membenarkan pertanyaan saya. Kami suka penasaran sendiri bagaimana jodoh kami kelak. Apakah mereka bisa mengerti bagaimana kami. Apakah mereka bisa mendukung segala sesuatu yang kami sukai selama itu positif. Apakah mereka tahan banting dengan tingkah laku absurd kami yang kadang ngeselin, banyak ngeselinnya, sih.

Kalau sudah bahas yang begini kami suka mikir “Apakah karena sikap kita yang terlalu liberal ini yang menyebabkan betah menjomblo?” lantas saya bilang ke Bibeh, “Akutu takutnya pas nikah gampang nggak nurutan ke suami, Woh.”

Yes. Saya selalu terbayang hal itu. Nggak tahu kenapa, ya, tapi emang begitu. Saya suka mikir hal-hal aneh yang nggak perlu-perlu banget dipikirin sebenarnya. Saya rasa, sih, itu syndrome takut nikah, wkwkwk. Karena selain pikiran-pikiran aneh itu saya juga melihat pengalaman orang-orang sekitar saya. Mereka yang memutuskan menikah di usia muda dan kehidupan pernikahan setelah ijab qabul. Banyak yang justru membuat saya semakin nggak pingin buru-buru menikah.

Saya membayangkan bagaimana jadinya jika saya menikah lantas mobilitas saya jadi terbatas. Sekarang saja, sejak Ibu memutuskan untuk kembali bekerja, saya merasakan betul batasan itu. Kalau ada acara di luar saya suka kepikiran Fahri di rumah. Jika saya keluar pagi, saya selalu terburu waktu agar sampai lagi ke rumah setidaknya sebelum jam satu siang. Seperti hari ini, ketika ada job ngemc pagi dan Ibu kebetulan tetap masuk kerja, meski hanya setengah hari, pikiran saya nggak bisa tenang. Karena saya yakin Fahri pasti akan melewatkan makan siangnya karena nggak ada orang yang memaksanya untuk makan. Hal-hal seperti ini sudah membuat saya sadar jadi ibu rumah tangga itu tidak mudah. Dan saya, kayaknya nggak cocok jadi IRT.

Meskipun saya menyadari bahwa nanti akan ada masa dimana kita tidak lagi egois, itu pasti. Dengan kesadaran diri dan kerelaan hati, kita pasti akan berkhidmat pada anak dan suami. Saya sadar betul, seperti kata Bunda Anggie, setiap panggung ada masanya sendiri.

Itulah yang membuat saya dan Bibeh selalu berkata “Suami kita kelak gimana, ya?”

Hal itu cukup membuat saya mengerti bahwa tidak semua hal yang kita inginkan ada dalam satu sosok laki-laki. Pasti kita akan berkompromi satu dua hal pada orang tersebut. Karena kita juga pasti akan mendapat banyak pemakluman darinya. Sempurna itu mustahil. Jika saya mencari jodoh yang sesuai dengan apa yang saya inginkan, bisa jadi saya mati dalam keadaan jomblo.

Maka, dalam perihal jodoh ini saya selalu berkata pada Tuhan, “Nggak bisa apa, ya, kasih kisi-kisi gitu. Paling enggak biar ada persiapan. Wkwkwk.”

Sumber: IG @destinationistanbul