Jumat, 29 Juli 2016

BIBEH: Makhluk Tuhan Paling Selow

Juli 29, 2016 0 Comments
Khusus postingan ini saya akan bercerita tentang teman yang balum lama ini kami saling mengenal.

Namanya Durrotun Nasihah. Panggilan “Bibeh”. Tolong jangan ada yang bertanya kenapa panggilannya bisa Bibeh. Karena saya pun tidak tahu. Saya kenal Bibeh di awal-awal perkuliahan. Saya ingat sekali, waktu itu saya sedang ngapelin (bukan ngepel loh, ya) masjid kampus, lantas bertemu Mila (yang waktu itu juga baru kenal, karena kami satu kelas saat opspek) bersama seorang temannya. Saya dikenalkan oleh Mila pada temannya itu. Saya pun ingat sekali, saat berkenalan dia dengan riang gembiranya menjabat tangan saya kemudian menyebut namanya, “Bibeh”.

Saya sempat menoleh ke Mila sepersekian detik, memastikan bahwa makhluk di depan saya ini sedang tidak bercanda. Isyarat saya yang mengatakan pada Mila “Namanya beneran Bibeh?”, dibalas anggukan kepala oleh Mila. Saya sempat hank beberapa detik. Ya sudah lah ya, apalah arti sebuah nama.

Sejak itu saya, Bibeh dan Mila berteman dengan baik. Saya mulai terbiasa dengan pemandangan dimana ada Mila, disitu ada Bang … eh, Bibeh wkwkwk. Begitu pun sebaliknya. Saya akhirnya juga tahu bahwa mereka berdua menjadi anggota dari sebuah organisasi yang sama.

Hingga sejak munculnya organisasi keagamaan di kampus yang sementara ini kami sebut LDK, semakin dekatlah kami bertiga. Saya, Bibeh, Mila. Memang pada dasarnya mereka berdua sudah lebih dulu terjun dalam menekuni ilmu agama, maka semakin semangatlah saya berada di tengah-tengah mereka. Ya mereka berdua itu lah pengingat saya, tempat saya bertanya ini-itu.

Dari LDK kemudian saya dan Bibeh masuk dalam organisasi intra kampus yang sama. Kali ini tempat kami mengabdi lebih menantang. Saya dan Bibeh, bagaimana caranya, mau tidak mau, harus saling nguatin satu sama lain. Karena tidak selamanya di dalam organisasi itu kita akan satu visi dengan anggota lainnya. Nanti, pada saatnya pasti akan ada hal semacam itu.

Kembali ke Bibeh. Dua bulan terakhir ini saya nyemplung ke lingkungan dimana Bibeh juga ada di dalamnya. Sebuah project penelitian sedang digarap oleh PCNU Banyuwangi. Mau tidak mau saya semakin terbiasa dengan orang-orang yang ada di sana. Dan, mau tidak mau juga, saya sering terseret secara sengaja maupun tidak sengaja ke dalam kegiatan-kegiatan yang sedang mereka selenggarakan. Bicara PCNU, sudah pasti jodohnya adalah IPNU dan IPPNU, jelas. Memang kamu, yang jodohnya belum jelas. Nah, Mila dan Bibeh itu adalah anggota dari IPPNU Banyuwangi. Ada beberapa kegiatan yang saya turut terlibat, secara sengaja maupun tidak sengaja. Beruntung Bibeh ini adalah anggota yang aktif, selain baik budinya, tentunya. Jadi, saya nggak nganggur-nganggur banget di tempat acara.

Seperti acara kemarin. Seminar Keterpelajaran yang di adakan oleh IPNU dan IPPNU. Saya datang ke Hotel Manyar (tempat seminar dilaksanakan) setelah mengikuti halal bi halal perpenas di kampus. Acara ini keren. Salah satu narasumbernya adalah Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dan yang lebih keren adalah moderatornya, Ira Rahmawati. Di saat semua orang foto bersama Bapak KPAI, saya dong, foto sama moderator hahaha.

Singkat kata singkat cerita aku dan dia jatuh cinta acara selesai. Bibeh mendekati saya dan bilang kalau pulang bersama dia saja. Saya di ajak ke Solong dulu. Setelah menimbang dan seterusnya, akhirnya saya mengiyakan ajakannya.

Di tempat seminar itu juga, akhirnya saya tahu bahwa Bibeh ini adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang paling selaw. Bagaimana tidak??? Dia kehilangan tas seminarnya yang di dalamnya berisi tasnya. Emmm … paham kan, gaes, apa yang saya maksud?

Padahal jodohnya tasnya sedang tidak jelas dimana rimbanya, tapi dia malah sudah siap sedia di atas motor untuk berangkat ke Solong. Fitria, Fida dan Mbak Halimah yang ada di pelataran parkir pun tidak habis pikir dengan kelakuan gadis satu itu. Saya berusaha menyadarkan Bibeh dari perbuatannya itu, mengajaknya masuk lagi ke dalam ruangan untuk mencari tasnya.

Tapi yang ada saya justru di giring naik ke atas motor. Melajulah kami ke Solong -___-

Saya nggak habis pikir kenapa dia bisa se-selow itu. Kalau sudah begitu dia bakal bilang, “Ya gue harus gimana, Mey? Nangis-nangis? Kan enggak. Ya udah sih, kalau memang rezeki pasti balik.” sambil tertawa.

Dan saya pun hanya bisa ber-nggumun ria. Baru dia, teman saya yang cuek cicak ketika ada barangnya yang hilang. Fitria bilang hal itu sudah biasa. Tapi bagi saya yang baru mengetahui sifat Bibeh itu, ya jelas nggak terima. Di dalam tas itu ada SIM, ATM, KTP, jodoh kan repot kalau sampai hilang?

Ya sudah, akhirnya kami berdua ke Solong tanpa tas Bibeh yang tidak jelas nasibnya. Saya masih nggumun tapi Bibeh malah marah mirip perawan lagi dilep. Dalam keadaan seperti itu justru dia yang menenangkan saya. Kan, serba kebalik pokoknya.

***

Acara yang Bibeh ikuti berlangsung hingga larut malam. Aku mengusulkan untuk menginap di tempatku saja. Jadilah akhirnya kami tidur berdua tadi malam. Ini pertama kali Bibeh menginap di tempatku.

Dan cerita tentang tas Bibeh yang hilang akhirnya berakhir bahagia. Ternyata salah satu anggota IPNU yang membawanya. Ya Alhamdulillah yang menemukan masih anggota IPNU, coba kalau orang lain?

Momen menginapnya Bibeh di Banyuwangi di manfaatkan untuk pergi ke Watu Dodol Hill. Kebetulan Bibeh belum pernah naik dan saya juga belum pernah naik semenjak tempat itu di benahi seperti saat ini. Kami berdua pergi sekitar pukul 6 lebih. Masih terlalu pagi, karena sampai di sana belum terlihat mas-mas parkir yang berjaga.

Sampai di tempat, saya dan Bibeh duduk dengan bermandikan kenangan mantan sinar mentari pagi. Lumayan, hangat-hangat panas. Setelah sarapan dengan bekal roti dan susu kotak, kami duduk diam. Hari ini saya mengenal Bibeh lebih dalam lagi. Hari ini dia banyak bercerita. Cerita tentang masa lalunya, tentang keluarganya, tentang dirinya sendiri.

Insiden tas itu ternyata memang bukan satu-satunya. Dia sudah berulang kali kehilangan harta bendanya. Kalung, ponsel. Dan itu tidak hanya sekali dua kali.

“Hakikat hidup itu kan nggak memiliki, Mey. Kalo kamu masih gitu berarti kamu belum belajar.”

Mak deg. Rasanya nyut-nyutan, gaes :D
Bibeh benar, saya masih harus belajar lagi. Belajar, belajar dan belajar.
Bibeh adalah kawan yang luar biasa. Dia ya dia. Dia akan bilang salah jika saya salah. Dia dan saya sama-sama memiliki konflik batin di dalam keluarga. Kami memiliki ke-tidak sepahaman dengan bagaimana kebiasaan yang terjadi dalam keluarga kita masing-masing.

Dan di depan makam Putri Sekardadu kami bercerita tentang cita-cita mendidik anak kelak. Dia bilang dia ingin memiliki tiga anak. Anak yang satu harus jadi hafiz, yang kedua pecinta sholawat, dan ketiga netral. Bibeh bilang terserah dah mau main politik atau apapun,. “Pokoknya gue mau anak tiga.”

Saya ngakak, sekaligus bangga. Saya yakin dia adalah madrasah yang baik dan hebat untuk anak-anaknya kelak. Tinggal bagaimana mendapat imam yang se-visi dengannya, dan imam yang super-duper sabar menghadapi dia.

Woh, terima kasih banyak ya atas pelajarannya hari ini. Pemahaman kamu tentang kehidupan. Pengalaman hidup kamu yang luar biasa. Roller coaster hidupmu benar-benar menantang. Saya bangga jadi teman kamu. Saya bangga anak-anak saya nanti bisa punya tante sehebat kamu. Jangan bosen-bosen berteman ama saya, Woh. Jangan bosen-bosen ngasih tahu saya kalau saya salah. Jangan bosen-bosen lah pokoknya.

Sekali lagi, thank you yaa …

Bibeh, yang baju kuning :)

Senin, 18 Juli 2016

Jodoh Pasti Bertamu

Juli 18, 2016 0 Comments
Obrolan tentang hal-hal receh itu terulang kembali. Kali ini tempat kejadian perkara di atas motor dengan tersangka bapak sendiri. Namun, kali ini pembicaraan kami sehaluan dan saya juga antusias menjelentrehkan semuanya pada bapakku ini.

Saat mengantar saya ke tempat nongkrong saya akhir-akhir ini, abah menanyakan soal pacar (lagi, lagi dan lagi). Saya membiarkan beliau dengan nasihat-nasihatnya dulu, baru kemudian setelah beliau selesai dengan sesinya, saya yang angkat bicara.

Abah bertanya apakah saya punya pacar atau tidak? Kalu punya bilang saja, yang jujur. Perempuan seumur kamu (saya maksudnya) wajar kalau sudah punya pacar, sudah umur 21 tahun. Harapan Abah adalah saya fokus dengan kesibukan saya dulu, fokus dengan pendidikan, karir, baru setelah itu menikah. Abah bilang maksimal menikah umur dua puluh lima.

Diana pun begitu, Bah. Diana bukan perempuan yang nggak punya tujuan hidup. Yang apa-apa dibiarkan seperti air mengalir. Dulu mungkin iya, tapi sekarang setelah semakin dewasa semuanya harus tertata.

Hari ini biarkanlah saya dengan kejombloan yang membuat saya semakin produktif. Biarkanlah saya dengan kejombloan yang elegan ini. Biarkanlah saya dengan kejombloan yang membuat saya semakin mantap bahwa pacaran itu perbuatan orang-orang yang merugi. Biarkanlah saya dengan kejombloan yang semakin lama semakin membuat saya terlihat luar biasa *uhuk

Biarlah ... Biarlah ...

Pesan saya untuk para jomblo hanya satu: "Jomblo Pasti Berlalu"
.
.
Kali ini saya dan abah sepakat tentang usia yang ideal untuk menikah. Berhubung saya adalah perempuan yang memegang teguh himbauan BKKBN, saya akan menikah dibawah usia 25 tahun, dengan izin Tuhan.

Pertanyaannya sekarang adalah: Nikah dengan siapa?

Woles gaes, jodoh pasti bertamu.

Sumber : Google

Rabu, 13 Juli 2016

Haul KH. Abdullah Faqih

Juli 13, 2016 0 Comments
Akhirnya setelah libur lebaran kami hunting lagi. Menyusuri jalanan Banyuwangi untuk mencari kepingan kisah berdirinya NU di Banyuwangi. Pagi ini saya dapat WA dari Cak Ayunk bahwa ada jadwal untuk ke Songgon. Bayangkan, baru membuka mata sudah dapat pesan untuk nguli lagi. Sambil sedikit kriyep-kriyep, saya membalas pesan belio bahwa anak buahnya ini belum mandi dan masih ndusel-ndusel manja dibawah selimut. Beruntung Cak Ayunk masih rapat, janji ketemu sejam lagi. Alhamdulillah, saya bisa merem lagi.

Tiba di kantor PCNU sekitar pukul sembilan. Kami langsung meluncur ke Dusun Cemoro, Desa Balak, Songgon. Iya, untuk kesekian kalinya saya datang lagi ke desa penuh cerita ini. Desa dimana saya tinggal selama sebulan untuk KKN. Duh, nostalgialah saya sepanjang jalan kenangan.

Sampai di lokasi, saya sempat mengira ada orang meninggal, karena jalanan ramai tapi hatiku sepi. Ternyata oh ternyata, saya diajak ke makamnya Mbah Yai Abdullah Faqih. Dan perihal ramai-ramai dijalan tidak lain disebabkan oleh acara haulnya Mbah Yai Faqih. Saya sempat kaget, ya karena ramai itu tadi. Kemudian saya mbatin dalam hati (jenenge mbatin iki yo mesti neng njero ati, Mey) “Alhamdulillah nggak salah kostum.”

Gimana nggak Alhamdulillah, tadinya saya ke PCNU mau pakai celana sama kaos lengan panjang plus jaket, seperti biasanya. Lha kalau dengan kostum seperti itu terus datang ke acara haul kan ya nggak mbois banget. Beruntung saya pakai baju terusan.

Sudah, skip masalah kostum.

Ternyata di Cemoro ini pernah hidup seorang Kiayi yang menjadi tonggak lahirnya NU di Banyuwangi. Mbah Yai Faqih menjadi salah satu Kiayi yang juga memperjuangkan NU pada masanya. Di acara haul ini saya di sadarkan oleh satu hal, eh banyak hal, ding. Kemana saja saya selama KKN di desa ini? Apa saja yang sebenarnya saya lakukan saat KKN di desa ini? Bagaimana mungkin saya tidak tahu bahwa Cemoro memiliki nilai sejarah yang begitu luhur? Bagaimana mungkin saya tidak tahu bahwa makam Mbah Yai Faqih menjadi salah satu dari tiga tempat wisata religi yang masyhur di Banyuwangi? Duh Gusti, ampuni.

Pertama kali memasuki pelataran masjid kami sudah di sambut oleh para penerima tamu. Rezeki anak sholehah, dapat berkat juga. Lalu Cak Ayunk pergi ke para jama’ah laki-laki dan saya dipersilakan duduk di deretan jama’ah perempuan. Saya duduk disebelah mbah-mbah yang sepuh enggak muda juga enggak, tengah-tengah lah. Dengan khidmat saya mengikuti serangkaian acara yang entah sudah dimulai dari jam berapa itu. Setelah rapalan doa untuk Mbah Yai selesai, saya mencoba ngobrol dengan nenek di sebelah saya.

“Griyane pundi, Mbah? Asli Cemoro?”
Si mbah yang agak kaget, sambil mendekat ke arah saya lantas menjawab, “Enggeh, nduk e pundi?”
“Kulo Pakis, Mbah.”
“Pakis kulon meriki?”
Saya tahu pasti yang dimaksud Mbah ini adalah Dusun Pakis yang ada di Desa Songgon. Saya mau jawab Pakis Malang tapi kok ya aclak banget. Niatnya guyon, tapi ya masak ngguyoni si embah? Lak kualat saya nanti.
“Sanes, Mbah. Pakis Banyuwangi.”
“Yeeeh, (logat osingnya terlalu, eh terlihat) Banyuwangi? Ya mugi-mugi angsal barokahe Mbah Yai ya nduk.”

Honestly, ucapan mbah yang tidak saya tahu namanya ini maknyess di hati, gaes. Saya tidak pernah hadir dalam acara haul seorang tokoh besar seperti ini. Ini pengalaman pertama kali untuk saya. Sejak dulu Cak Ayunk meminta saya untuk bergabung dalam tim penelitian ini, saya sudah merasa menyesal. Kenapa menyesal? Saya menyesal karena bapak dan ibu saya tidak menanamkan ke-NU-an yang kuat. Karena silsilah keluarga saya adalah keluarga NU, namun setelah atuk wafat rasanya nilai-nilai NU itu tidak begitu bersinar. Abah dan ibu hanya menitipkan saya kepada seorang guru ngaji di TPQ Nurul Qomar. Saya diajarkan membaca Al-Qur’an, Barjanji, dan ajaran-ajaran NU yang lain. Saya menjadi sangat marah ketika keluarga memutuskan untuk pindah rumah ke daerah Jurang-Jero. Saya ingat sekali waktu itu saya masih SMP dan kegiatan mengaji sedang seru-serunya, saya sedang semangat-semangatnya menimba ilmu agama kepada guru ngaji saya. Saya marah, kesal, ngambek berhari-hari dengan keputusan bapak dan ibu tersebut. Itu yang akhirnya membuat saya tidak suka dengan no maden.

Rasa penyesalan itu bertambah ketika saya diberi sangu sebuah buku NU oleh Cak Ayunk. Membaca buku yang tebalnya sama seperti rasa sayangku padamu itu semakin membuat saya merasa jauh dari peradaban. Saya merasa keciiiiiiil sekali. Saya merasa bodoh, merasa terasingkan, merasa seperti baru keluar dari dalam gua yang gelap dan engap. Dari buku bersampul hijau itu saya mendapat banyak pengetahuan tentang NU dan segala tetek bengeknya, seperti motivasi berdirinya NU hingga tokoh-tokoh pendiri NU.

Apalagi saat saya, Cak Ayunk dan Cak Ibnu datang ke Lateng untuk bertemu dengan Kiagus Abdul Aziz, putra dari Kiai Saleh. Di rumah kuno itu saya merasa krik krik, nggak tahu harus ngomong dan berbuat apa. Hanya Cak Ayunk dan Cak Ibnu yang sesekali ngobrol dengan Kiagus Aziz. Saya? Ya saya hanya mencatat apa-apa yang diperintahkan oleh Cak Ayunk, dan sekaligus sie dokumentasi. It’s okay, setidaknya saya ada gunanya. Yara gedigu?

Kunjungan ke rumah Kiagus Aziz itu adalah awal pencarian data yang kami lakukan. Bebarapa hari setelahnya kami mencari data ke masjid kiai saleh yang terletak tidak jauh dari rumah Kiagus Aziz. Disana saya juga merasa krik krik (lagi). Cak Ayunk, Cak Ibnu dan Cak Haris memeriksa rak-rak tua dan besar yang ada di dalam masjid tersebut. Di sana terdapat banyak kitab-kitab peninggalan Kiai Saleh. Cak Ayunk membawa beberapa kitab tersebut untuk diperiksa. Saya yang melihat kitab tua dan tebal itu hanya bisa bengong, karena isinya huruf Arab semua. Ya jelas, masa iya sandi morse.

Kejadian di masjid juga sedikit banyak menampar saya. Ketika Cak Ayunk membuka halaman pertama salah satu kitab, beliau menemukan tulisan Arab, tapi plontos (gundul maksudnya), dan dibaca dalam Bahasa Jawa. Saya lupa tulisan apa namanya, Pagon? Pegon? Ah, embuh lah. Memang dasarnya jebolan pesantren sih ya, jadi ilmu Nahwu Sharafnya jempolan. Beliau membaca secara perlahan tulisan tangan yang kita yakini adalah tulisan tangan Kiai Saleh sendiri di halaman awal sebuah kitab. Rangkaian huruf Arab tersebut membuat kita mengerti bahwa kitab tersebut adalah kitabnya orang wahabi, jadi harus hati-hati. Begitu kira-kira isinya …

Akhirnya, saya merasa beruntung dan bersyukur bertemu dengan orang-orang hebat ini. Saya mendapat banyak pemahaman dari mereka. Dalam proses mencari data mungkin saya memang banyak diam, karena pengetahuan saya tentang NU masih dangkal sekali. Saya lebih memilih untuk banyak mendengarkan, memperhatikan dan mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.

Oh ya, kembali kepada haul Mbah Yai Faqih.

Ini merupakan haul yang ke-63. Hasil dari sowan hari ini, saya akhirnya bisa tahu bahwa cucu buyutnya Mbah Yai Faqih adalah alumni Untag dan kebetulan juga jebolan Fisip. Nggak nyangka, ya? Sama, saya juga. Sebenarnya tidak banyak informasi yang kami dapat hari ini, karena memang bertepatan dengan haul, pasti para informan sedang sibuk meladeni tamu-tamu yang datang.

Saya menjadikan kesibukan penelitian ini sekaligus sebagai wisata religi. Ya gitu, sambil meneliti, sambil wisata religi, hitung-hitung sebagai obat hati, biar nggak gampang sensi. Juga, siapa tahu bisa jadi mantunya Pak Kiayi? Kalau tidak, ya minimal dapat santri. Hahaha …
Sekian, terima kasih …


Senin, 11 Juli 2016

Memangnya Saya Jomblo?

Juli 11, 2016 2 Comments
Setelah akhir tahun 2015 lalu saya diberi sebuah buku oleh salah satu sahabat saya, baru hari ini saya membaca beberapa bagian di dalam buku itu. Maklum, setelah dapat buku berjudul “Jomblo Istiqomah” itu saya langsung nggak sengaja pamer ke teman-teman LDK. Jadilah akhirnya buku itu diperebutkan oleh mereka-mereka yang sudah pasti juga jomblo. Lha kalau nggak jomblo ngapain pinjam buku itu, kan?

Akhirnya, meskipun saya belum baca, barang kata pengantarnya sekalipun, saya meminjamkan buku itu kepada salah satu teman. Dan, setengah tahun pun berlalu ……..
.
.
.
Buku itu berisi curhatan dari tiga puluh sembilan penulis yang juga sudah pasti jomblo *hahahahahaha ….

Tulisan dari 39 orang itu dikumpulkan jadi satu dan akhirnya menjadi sebuah buku. Saya hanya sempat membolak-balik buku berwarna kuning tersebut. Hingga akhirnya saya berhenti pada salah satu tulisan dari miliknya @Permoto.

Di awal tulisannya, @Permoto memberikan sindiran-sindiran kekinian untuk para jomblo di dunia. Truk aja gandengan, masa kamu enggak? Sepatu aja ada pasangannya, masa kamu enggak? Jamban aja ada yang ngisi, masa hatimu enggak? -_____-

Itu adalah slogan-slogan terbaru dan terkampret yang pernah saya dengar. Segitunya banget ya jomblo dizalimi *wkwkwk

Membicarakan jomblo memang tak ada hentinya, sama seperti jonru yang tak henti-hentinya nyinyir. Ya gimana, status jomblo itu bullyable sekali, dan pas djadikan bahan guyonan. Nah, untuk yang satu itu hanya berlaku bagi orang-orang dengan selera humor level ma’rifat dan kesabaran yang luar biasa.
Jangan coba-coba untuk guyon sama orang yang dikit-dikit sensi, dikit-dikit ngambulan, ditambah dia juga jomblo. Mending jauh-jauh, biar selamet. Tapi nggak pakai Bunyamin, karena Slamet Bunyamin itu nama Bapak saya.

Untuk masalah guyonan, saya juga termasuk salah satu oknum yang suka nyinyirin teman yang jomblo. Padahal saya sendiri sama keadaannya seperti mereka. Yah anggap saja sedang mentertawakan hidup bersama-sama, kan nggak enak kalau pura-pura bahagia sendirian.

Oke, kembali kepada slogan yang kampret tadi.

Begini, mengutip salah satu tulisan Mas Agus Mulyadi di Mojok.co. Kepada teman-teman saya yang sudah eneg karena disama-samain dengan truk gandeng, kalian bisa jawab hinaan itu dengan elegan seperti ini, “Buat apa gandengan kalau jalannya pelan kaya keong? Buat apaaaaaa??? Mending nggak gandengan tapi gesit dan irit, lincah pula.”
Kok seperti iklan motor, ya? -__-

Dijamin lawan bicara kita akan K.O, kecuali kalau lawan bicaranya adalah Farhat Abbas yang jago bersilat lidah, atau Vicky Prasetya yang perbendaharaan kosa katanya bikin kita melongo saking iyuuuh-nya.

Untuk masalah sepatu, ya sudah seharusnya sepatu itu punya pasangan. Masa iya ada sepatu jomblo? Selisihan? Siapa yang mau beli? Siapaaaaa…??? Kalau manusia mah, ya memang manusia itu diciptakan berpasang-pasangan, tapi kan nggak ujug-ujug pas lahir procot sudah ditemukan pasangannya? Semua kan ya butuh proses to, gaes, bukan begitu?

Kalau sepatu/sendal ya sejak awal produksinya memang sudah diciptakan sepasang. Coba, pabrik sepatu sebelah mana yang memproduksi sepatu hanya bagian kanan saja atau kiri saja? Kalau ada, ajak saya kesana.

Dan slogan yang satu ini “Jamban aja ada yang ngisi, masa hati kamu enggak???” memang benar-benar kampret dan bedebah sekali. Ya Rabb, ya keleus hati ini disamakan dengan jamban -__-
Jamban isinya eek manusia dan segala hal yang kotor-kotor. Duh, Bang, hati Eneng nggak sehina itu, hiks.

Sebenarnya saya juga gagal paham dengan definisi jomblo itu sendiri. Sek tah, jomblo itu kan gelar yang hanya pantas disandang oleh orang-orang yang pernah pacaran terus putus, untuk waktu yang lamaaaaaaaa, sehingga hati itu kosong kemudian muncul sarang laba-laba di berbagai sudutnya.

Misalnya seperti ini, kamu sudah putus dengan mantan sejak dua tahun lalu, terus ada orang yang dengan isengnya bertanya, “Jomblo sudah berapa lama?” | “Sudah dua tahun.”

Nah, kalau seperti itu kan jelas, yak. Jomblo sudah dua tahun. Nah, disini yang bingung akhirnya kan saya. Pas kebetulan ada orang bertanya ke saya, “Jomblo sudah berapa lama?”, ya masa saya jawab “Sudah 21 tahun …”. Aduuuuuh mama sayangeeee, itu jomblo apa antre naik haji?

Untuk perempuan yang sejak dikandung badan saja, sampai segede gaban begini nggak pernah pacaran, apa pantas disebut jomblo? Mbok tulung, nuranimu rek :(

Ya oke lah kalau kalian tetap bersikukuh menyebut saya jomblo. Saya sih santai. Terus kalau saya jomblo, salah saya? Salah teman-teman saya? Salah Bunda mengandung?