BOM WAKTU
Sejak keputusan paling impulsif yang aku ambil itu, aku semakin dilanda keraguan. Apa sebetulnya yang aku cari? Apa sebetulnya yang aku pikirkan ketika memutuskan hal itu? Benarkah itu keputusan yang aku ambil secara sadar? Benarkah itu hal yang aku butuhkan?
Aku
tidak menyangka justru menceburkan diri secara sukarela dalam sebuah keadaan
yang tidak pernah aku alami sebelumnya. Dalam keadaan yang aku sama sekali
tidak berpengalaman. Keadaan yang hanya membuatku pening jika mengingat lagi
apa sebenarnya tujuan yang mau aku capai?
Setiap
hari yang aku rasakan hanya perasaan bersalah. Kemana perginya perasaan penuh
kupu-kupu yang dulu aku rasakan? Oh, apakah aku ini hanya penasaran saja? Rasa
penasaran yang tanpa disadari membawaku pada keadaan yang entah bagaimana
akhirnya.
Yang
aku sadari sekarang adalah, komunikasiku ternyata buruk sekali. Oh, Tuhan. Aku tidak
bisa –atau mungkin tidak mau?– menjelaskan apa yang aku rasakan. Aku ini
pengecut, bersembunyi dibalik waktu. Padahal bisa saja “waktu” itu berbalik
menjadi bom yang akan menghancurkanku.

