Sabtu, 19 Desember 2015

Juara Bertahan

Desember 19, 2015 0 Comments

Ini kali kedua aku mengambil rapot adikku, Ardi.
Dulu ketika dia SMP, lupa pas kelas berapa.
Dan hari ini yang kedua.
Dikarenakan Abah dan Ibu sedang honeymoon, eh enggak ding, sedang menghadiri acara pernikahan salah satu keponakan di Gresik.
Jadilah aku *yang sebenarnya juga ikut ke Gresik tapi nggak jadi ikut* yang akhirnya mengambil rapot Ardi.

Beruntung ini bukan kali pertama aku masuk ke SMK N 1 Glagah *yang luasnya amit-amit itu
Jadi pas Ardi bilang pertemuannya di Aula aku langsung mengerti.
Dasar, adik macam apa yang tega membiarkan kakaknya datang sendiri ke sekolah *yaa walaupun nggak apa-apa sih datang sendiri, hmm repot kan -__-

Tiba di sekolah sudah ramai para wali murid yang keluar masuk.
Sampai aku tahu bahwa acara pembagian rapot dilaksanakan tiga gelombang, tapi masih dalam hari yang sama.
Kelas X sendiri, kelas XI sendiri, kelas XII sendiri *yaelaaaah sendiri, jomblo nih yeee :D apasih -__-
Setelah parkir motor di tempat yang aman *lebih tepatnya -yang penting parkir- aku segera masuk ke Aula.
Di pintu Aula ada seorang Bapak yang bertanya "Kelas XI ya?"
Aku mengangguk seraya memberikan senyum terbaikku di Sabtu pagi nan teduh ini.
Sampai di dalam aku ambil tempat duduk agak depan.
Yaaa you know me lah, nggak suka duduk di belakang.

Saat berjalan melewati barisan para mantan, eh para wali murid maksudku :D aku mendapat banyak tatapan ini-murid-apa-wali-murid dari orang-orang yang ada di Aula.
Ehem, saya wali murid bapak dan ibu sekalian. Lebih tepatnya kakak murid :D
Ya kali saya punya anak umur 17 tahun, lha umur saya aja masih 20.

Setelah berbagai informasi yang disampaikan serta berbagai petuah untuk para murid yang disampaikan oleh bagian kurikulum, tibalah saat yang dinantikan.
Yaitu perkenalan wali kelas masing-masing jurusan.
Gila ya STM jurusannya banyak bener.
Aku memasang kuping baik-baik, jangan sampai kelewatan ketika giliran wali kelas XI Permesinan 2 yang dipanggil.

Ibu Sriwidayati. Tidak lain tidak bukan yang hari ini memakai jilbab biru tua. Itulah wali kelas XI PM 2.
Aku menghapal-hapal wajah Bu Sri.
Setelah acara di Aula bubar aku hanya membuntuti Bu Sri yang akan menuju ruang kelas.
Disebelahku ada Ibu-Ibu yang juga membuntuti Bu Sri.
Hmm, pasti tujuan kita sama :D

Aih, sekolah ini kenapa gede sekali -__-
Aku sampai lupa tadi lewat jalan sebelah mana.
Setelah sekian menit menyusuri lorong-lorong gelap gulita sampailah kami di ruang kelas yang ... aduuuuh ampun, berserakan ala anak STM sekali.
Ya begitulah pokoknya. Susah dijelaskan dengan kata-kata.

Di kelas, Bu Sri kembali memberikan informasi tentang liburan dan tentang PSG yang akan dilalui anak-anak pada tanggal 11 Januari esok.
Dan juga ada beberapa murid yang dipanggil karena belum dapat tempat PSG.
Aku bersyukur karena Ardi bersih, tidak ada skandal apapun *halah, dikata artis kali ah pake sandal, eh skandal.

Tiba-tiba Bu Sri buka suara, "Wali murid Refangga."
Aku agak kaget. Kok Ardi dipanggil pertama, setahuku Ardi bukan nomor urut pertama dalam presensi.
Aku maju dengan agak nerveous.
Lalu Bu Sri bilang lagi, "Mbak, wali murid Refangga ya?"
"Iya Bu, saya kakaknya, orang tua sedang ke Gresik, jadi saya yang ambil."
"Oh gitu. Ini masih sama peringkatnya seperti yang lalu. Dipertahankan ya?"

Aku bersorak dalam hati.
Girang. You know what I feel? It's like when someone who you love comes to you and say "Will you marry me" :D
*bohong, padahal belum pernah dilamar.
Oke deh, rasa senengnya sama seperti saat aku melihat Maryamah Karpov untuk pertama kali di bazar buku depan perpusda. Langsung heboh nggak keruan. Ya untung nggak pakai jejeritan segala :D

"Alhamdulillah Bu. Tapi anaknya ndak rewel ya di sekolah?"
"Ooh enggak, semuanya baik kok."

Dan setelah acara tulis-menulis nama wali dan nomor ponsel selesai, aku segera keluar.
Kupandangi rapot coklat yang sudah mirip skripsi itu.
Besar dan tebal. Dan juga berat.
Kubolak-balik sampai kutemukan tulisan "peringkat 1 dari 33 siswa".
Aku tersenyum sepanjang jalan hingga aku bingung harus pulang lewat jalan mana.

Alhamdulillah. Dia kembali membuktikan pada Abah bahwa dia mampu.
Tidak sia-sia Abah banting tulang untuk pendidikannya.
Ah, si tengil itu membuatku sangat bangga.

Senin, 14 Desember 2015

Happy Monday

Desember 14, 2015 0 Comments
Benar-benar Senin ceria.
Sore tadi, seperti yang sudah di nawaitukan jauh-jauh hari *setelah tahu informasi tentang bazar buku murah dari Mbak Putri* aku pergi ke TKP, sendiri *Iyah kan single -__-
Sebenarnya juga sekalian aku mengembalikan buku yang aku pinjam di Perpustakaan Daerah.
Karena lokasinya di pelataran Perpusda jadi yaa sekali pergi kantong jebol dua tujuan terlampaui.
Setelah selesai log in dan mengembalikan buku, aku segera menyerbu stand bazar.

Hemm, seperti biasa.
Rasanya kepalaku pusing demi melihat tumpukan buku yang melambai-lambai manja ke arahku.
Aku menyusuri tiap bagian meja.
Dan meja paling Barat yang sekaligus paling dekat dengan kasir sukses mencuri perhatianku *karena rata-rata harganya mabelas rebu, wkwkwkwk …
Banyak jenis buku, ada novel, buku pengetahuan, buku panduan, buku islami *salah satunya buku Bang Ahfa ^_^
Aku sempat bingung, karena walaupun murah meriah tapi belum ada yang sreg.
Dan polosnya lagi, aku hampir membeli novel yang jalan ceritanya kurang kusuka *karena sempat baca sinopsisnya dulu di bagian belakang* hanya karena covernya yang hijau-hijau menyejukkan mata.
Mey, Mey, mbok ya jangan keterlaluan kalau suka sama sesuatu itu. Bisa-bisa isi rumah Ijoooo semua karena kamu terlalu sering beli barang warna Ijo -___-
Oke, skip.

Hampir setengah jam mondar-mandir, bolak-balik, nganan-ngiri, maju-mundur melototin satu-satu buku.
Waktu itu di tangan sudah ada dua buku.
Satu novel yang covernya Ijo-Ijo tadi dan satunya buku dari Om Edi Akhiles yang judulnya … duh, lupa -___-
Hingga akhirnya aku menuju meja nomor tiga dari Barat.
Aku sempat kaget melihat wajah kinclong bin bening yang ada di cover sebuah novel.
Siapa lagi?
Tidak salah dan tidak bukan, Fedi Nuril.
Aku langsung melihat sekeliling novel Surga Yang Tak Dirindukan.
Huwaaaa benar saja, disini adalah tumpukan novel-novel bermutu.
Ada banyak novel Bang Tere Liye dan novel Bunda Asma Nadia.
Dan yang paling membuatku mampu berpaling dari semua buku yang ada disini adalah …….
….
….
….
Novel Pak Cik :D
Yess, ada Edensor dan Maryamah Karpov.
Aaaaaaaaaaa, aku mau jingkrak-jingkrak rasanya.
Langsung tanpa a be ce aku mengambil dua novel itu.
Tapi tetep melototin harga dulu :D
Edensor 30ribu. Maryamah Karpov 35ribu.
Langsung. Bungkus! Hihihihi ….
Lah kapan lagi kan ya? Mumpung sangu dari Teman Jatim kemarin masih ada :D
Edensor dapat 30ribu, di Togamas harganya masih dua kali lipat itu, kan syedih nggak bisa-bisa mau beli :(
Biarpun Edensor sudah baca tapi rasanya aku nggak mau melewatkan koleksi novel-novel Pak Cik.
Berarti berkat bazar hari ini aku sudah punya tiga novel Andrea Hirata.
Duh, bahagianyaaaaa ….

Setelah dua novel yang sudah pasti aku beli itu, aku meletakkan kembali dengan penuh hikmat serta permohonan maaf sedalam-dalamnya karena tidak jadi membeli novel ijo dan bukunya Om Edi, hehehe *maapnya bukan ke mas/mbak penjaganya, tapi maap ke bukunya :D
Bayangin aja kalau itu buku bisa ngomong pasti dia bilang, “Tega kamu Mey, mencampakan aku setelah kamu dapat yang lebih dari aku.” Gitu pasti *mulai gila -____-

Sebenarnya ada banyak buku yang ingin aku beli.
Tapi juga mikir-mikir dan ngertiin kondisi kantong yang sedang dalam masa pemulihan *halaah
Akhirnya aku membeli tiga buku.
Edensor, Maryamah Karpov dan Magic Public Speaking.
Aku juga nggak jadi beli bukunya Bang Ahfa yang …. Hmmm lupa juga apa judulnya -____-
Yasudahlah …
Buat para book lovers, jangan sampai ketinggalan bazar buku murah yang hanya sampai tanggal 20 Desember 2015 ini yaa ^_^

Mood hari ini berjalan baik hingga aku pulang kuliah.
Setelah acara belanja buku tadi aku langsung menuju Roxy, tetep dengan kesendirian yang awet ini :D
Beli keperluan wanita dan beli sandal untuk Bu Is :)
Yang membuat senang adalah Ibuku suka sekali dengan model yang aku pilihkan.
Padahal pas milih sudah deg-deg an kalau ternyata nggak cocok.
But, yeah everything’s oke …

Dan, penyebab keceriaan yang terakhir adalah kabar dari Mas Habib.
18.29 Mas Habib BBM. Bilang bahwa aku dapat lokasi KKN di Desa Balak.
Ini benar-benar good news.
Nggak ngerti sih kenapa bisa seceria ini.
Hanya saja aku sudah memiliki sedikit gambaran tentang kondisi disana.
Dulu aku pernah mengunjungi Balak untuk meminta informasi tentang Bum-Des.
Dan perangkat desanya baik-baiiiiiik.
Terlebih lagi, dulu Mas Habib juga KKN disana.
Dan dia sudah banyak cerita tentang Balak.
Ah, semoga segala sesuatunya berjalan lancar hingga akhir.

Itulah, sepenggal kisah tak penting dariku, gadis pelupa.
See you next post :)

Sumber : Google

Minggu, 13 Desember 2015

Not Clear

Desember 13, 2015 0 Comments
Sore ini aku duduk disebelah jendela sambil menikmati rintik hujan Bulan Desember.
Mendung yang sangat pekat ternyata tak menjadi ukuran untuk datangnya hujan yang lebat.
Masih hujan tipis-tipis disertai batuk alam yang juga tipis-tipis.
Hawa seperti ini membuat siapapun malas beraktivitas.

Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis hal ini.
Hal yang bisa secara tiba-tiba mengganggu pikiranku.
Kesempatan untuk ikut Teman Jatim kemarin membawaku pada sebuah perkenalan-perkenalan ajaib dari berbagai delegasi kampus.
Bukan perkenalannya yang mengganggu pikiranku.
Tapi hal yang sempat kita diskusikan yang membuatku terganggu.

Aku mengenal Anam, seorang mahasiswa semester 3 Universitas Abdurrahman Saleh, Situbondo.
Waktu itu, setelah istirahat sidang aku dan dia bersama-sama menunggu ponsel yang sedang kami charge.
Aku sesekali menggodanya perihal Rima, adik kelasku yang waktu itu juga ikut Teman Jatim dan ditaksir oleh Anam.
Aku bilang pada Anam untuk bersikap biasa saja, jangan membuat Rima ilfeel.
Karena selama tiga hari kami berada di Surabaya aku sudah melihat Rima berulang kali memasang tampang jutek pada Anam :D

Hingga akhirnya Anam bilang, “Kamu nggak punya pacar?”
Aku menggeleng, “Nggak pacaran.”
Seperti mendapat undian lotre, Anam mencecarku dengan banyak pertanyaan.
“Kenapa? Pasti kamu itu menilai pacaran hanya dari sisi negatifnya saja. Padahal kan nggak semua pacaran itu menjurus pada hal-hal negatif. Banyak juga positifnya.”
Aku tertawa mendengar penjelasan Anam *Duileeee bocah :D
“Ya nggak apa-apa, nggak pacaran aja.”
“Ya kenapa??? Orang hidup kan punya alasan? Kamu juga pasti punya alasan untuk nggak pacaran kan?”
Sebenarnya aku bosan ditanya seperti ini.
Aku ingin menjawab tapi tidak tahu harus menjawab apa.
Aneh, aku selalu tidak bisa memberi alasan yang menurutku tepat.

Lain Anam, lain lagi Cak Bana.
Duh, sebenarnya Cak Bana itu adalah display name BBM seorang teman baru dari Universitas Bondowoso.
Aku lupa siapa nama aslinya. Padahal pas di Surabaya sudah kenalan dua kali -___-
Kalau Cak Bana ini sama sepertiku, sama-sama semester lima.
Pembawaannya kalem, mungkin itu yang membuat dia sedikit agak tuwir *Hehehe, peace Cak :D
Tapi ternyata Cak Bana ini juga berbakat jadi comica, he’s soooo funny :D

Oke, kembali ke Cak Bana.
Kemarin kami sempat bertukar kabar via BBM.
Ah sayang percakapan kami sudah aku hapus.
Aku lupa bagaimana awalnya dia mempertanyakan statusku *As alwaaaays, lupa!
Pokoknya waktu itu aku menjawab, “Aku nggak paham Mas, belum kepikiran kesitu.”
Lantas dia bilang bahwa aku bohong.
“Bohong kalau kamu bilang belum kepikiran kesitu. Perempuan seusia kamu pasti sudah ada pikiran kesana. Entah pacar, teman, sahabat, kamu pasti butuh orang kedua. Kalau kamu nggak ada kepikiran kesana berarti kamu harus di bawa ke psikolog.”
Hahaha ucapan Cak Bana telak memojokkanku.
Kalau dia lihat ekspresi wajahku saat itu pasti bakal ketawa ngakak.
Aku hanya mengiyakan apa yang dia katakan.
Tidak membantah. Tidak mendebat. Tidak mengelak.

Topik pacaran memang selalu asyik untuk dibahas.
Hanya saja pada kenyataannya banyak perilaku cacat yang membuat pacaran menjadi sebuah ikatan yang tidak asyik.
Aku memang tidak pernah pacaran.
Tapi dari mereka, teman-temanku, yang berpacaran, aku bisa belajar banyak hal.
Pernah seorang teman datang dan bilang, “Kamu enak Mey, nggak pernah pacaran, nggak pernah patah hati, nggak pernah sakit hati.”
Aku hanya diam dan meracau dalam hati, “Hellooo walaupun nggak pacaran aku pernah patah hati, sakit hati, nyeri hati, linu hati, dan segala rupa penyakit hati lainnya.” *Halah -___-

Aku senang melihat beberapa teman menikmati masa pacaran mereka.
Seperti Riska dan Agus misalnya.
Mereka berpacaran sejak semester tiga *Kalo nggak salah.
Dengan Agus, Riska menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.
Dengan Riska, Agus juga menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.

Tapi aku juga sedih ketika mendengar salah seorang teman putus hubungan karena tindak kekerasan yang dialaminya.
Berpacaran sudah lama, aku sering melihat berbagai foto kebersamaan mereka di Instagram.
Aku bahkan sudah yakin bahwa hubungan mereka akan berakhir di pelaminan.
Tapi akhirnya harus kandas dengan cara yang tidak baik.
Dengan alasan apapun, bukan lelaki namanya jika berani menampar seorang perempuan.
Masih pacaran saja sudah berani main tangan, bagaimana bila sudah menikah?

Hal-hal cacat seperti ini lah yang membuat pacaran menjadi hubungan yang tidak asyik versiku.
Ya kalau cemburu tipis-tipis boleh lah, apalagi cemburu-cemburu manja *Halah :D
Mukul tipis-tipis juga boleh (khusus buat perempuan aja tapi, laki tetep jangan mukul) apalagi mukul-mukul manja *Hapasih -___-
Seberapa keras sih kekuatan perempuan untuk memukul?
Yang dipukul juga kan laki-laki, pasti sakitnya juga sebentar *Kecuali mukul pake linggis ya beda cerita.
Tapi kalau sudah laki-laki mukul perempuan???
Bukan hanya fisik mereka yang tersakiti, tapi juga hati.
Belum lagi ketakutan dan trauma yang muncul.
Laki-laki yang diharapkan bisa melindungi dirinya justru menjadi orang yang menakutinya.
Gedigu hang aran welas?

Atau pelajaran yang diberikan oleh temanku. Suryanto.
Sebelum aku mengenalnya dia sudah berpacaran dengan adik kelasnya.
Sudah lama, entah berapa tahun.
Suryanto sudah sangat yakin bahwa pacarnyalah yang akan menjadi istrinya kelak.
Dia juga sudah memiliki niat untuk mempersunting sang pacar.
Tapi kuasa Tuhan selalu diluar nalar manusia.
Mereka putus.
Suryanto banyak bercerita bagaimana suka duka yang sudah dilaluinya.
Bagaimana sikap tak menghargai sang perempuan padanya.
Bagaimana dia di pandang sebelah mata oleh sang perempuan.
Dan bagaimana hingga akhirnya Suryanto memilih mengakhiri hubungannya.
Eman.
Hanya kata itu yang aku keluarkan saat mendengar kisahnya.
Bagaimana tidak?
Aku melihat sosok perempuan sempurna dalam diri mantan kekasihnya.
Cantik, baik, sholehah.
Namun tetap saja, rasanya tak pantas jika wanita yang seharusnya memberi semangat kepada sang lelaki untuk meraih masa depan yang baik justru merendahkannya.
Roda kehidupan selalu berputar, kan?
 ---
Usiaku sudah 20 tahun.
Aku adalah anak pertama.
Hari ini lebih penting bagiku untuk terus meningkatkan kompetensi diri.
Terus mengembangkan potensi.
Dan terus memlihara semangat untuk menjadi sarjana.
Every person is the director of their own life.
Setiap orang adalah sutradara untuk filmnya sendiri.
Bedanya, sutradara film tahu bagaimana ending filmnya.
Sedagkan kita tidak tahu.
Kita hanya bisa bilang cut dan action tanpa pernah tahu akhirnya.

I'm single, and that's so not your business.

Minggu, 06 Desember 2015

Bye Surabaya

Desember 06, 2015 0 Comments

Selesai sudah serangkaian acara Teman Jatim.
Pagi ini aku sudah berada di dalam kereta menuju Banyuwangi.
Akhirnyaa pulang juga.
Terima kasih banyak kepada Ayu dan Bu Ana yang sudah begitu baik pada kami.
Terima kasih pula kepada Mas Fathul, Mas Feri, Mas Ubay *maafkan jika ada kesalahan nama dan gelar, halah :D yang sudah bersedia menjadi ojek kami menuju Wonokromo.

Surabaya memberi kesan yang luar biasa.
Tapi tetap saja Banyuwangi selalu di hati :D
Setelah ini aku akan datang kembali ke Surabaya dengan acara yang berbeda.
Acara nikahan *yang sudah pasti bukan nikahanku* sepupu.

Yang disayangkan adalah kami tidak sempat pergi jalan-jalan melihat Surabaya lebih dekat.
Hanya tadi subuh saat kami diantar ke stasiun naik motor.
For sure, aku lebih suka diantar dengan motor daripada mobil.
Dengan motor aku bisa mengambil udara pagi Surabaya banyak-banyak *gratis ini :D
Aku juga melewati Taman Bungkul dan patung Surabaya.
Pokoknya cinta sekali dengan motor :D

Baiklah, terima kasih Surabaya.
See you soon :)

Sabtu, 05 Desember 2015

Hikmah Pulang Terlambat

Desember 05, 2015 0 Comments

Ini masih tentang Teman Jatim dan sekitarnya :D
Hari ini semua delegasi sudah kembali ke daerahnya masing-masing.
Dengan *sekali lagi* pelayanan sepenuh hati yang diberikan tuan rumah.
Nah, seharusnya kami yang dari Banyuwangi pun begitu.
Pulang ke Istanbul, eh Banyuwangi maksutnyaa :D

Tapi nyatanya tidak.
Saat ini *saat menulis blog ini aku ada di dalam kamar kost salah satu panitia, yang bahkan si empunya kamar masih belum datang karena ada evaluasi di kampus* kami harus berbesar hati untuk tinggal semalam lagi di bumi persebaya.
Sangat jauh dari ekspektasi.
Dalam bayanganku, hari ini kami akan dengan santai menikmati malam di Surabaya.
Sekedar jalan-jalan *yang benar-benar jalan, tanpa kendaraan* membeli oleh-oleh misalnya.
Atau ke Gramedia, Togamas, Pasar Maling. Ah, sudahlah.
Sekali lagi, aku dan Rima harus berbesar hati karena terdampar di pinggiran kota Surabaya.
Kami sedang ada di Kenjeran.
Berbeda dengan Suryanto yang entah bermalam di tempat panitia yang mana.

Jauh dari kampus Untag?
Ya. Lumayan jauh.
Jika jarak ini tidak di sponsori oleh banyaknya lampu merah dengan durasi yang aduhai itu, serta kemacetan Surabaya yang MasyaAllah sekali pasti akan terasa dekat.

Aku dan Rima hanya perlu bersyukur karena kami tidak harus terkatung-katung di jalanan Surabaya.
Dan kami hanya perlu bersyukur karena masih dapat tempat berteduh secara gratis.

Baiklah, namanya Ayu.
Gadis yang mau menerima dan menampung kami di tempatnya :D
Ayu tinggal di kost daerah Kenjeran.
Aku baru tahu bahwa Ayu tinggal bersama dengan kedua orang tuanya saat tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya yang menghampiri kami di kamar.
Aku pikir beliau adalah tetangga Ayu.
Tapi ternyata bukan.
Jadi, mereka tinggal di satu kost dengan menyewa dua kamar.
Satu untuk Ayu, satu untuk orang tuanya.
FYI, Ayu anak tunggal.

Bu Ana, Ibu Ayu sangat baik.
Aku dan Rima diperlakukan seperti anak sendiri.
Kami diberi makan malam secara gratis.
Ah, kami jadi merepotkan keluarga Ayu.
Setelah makan malam kami berbincang sedikit tentang semuanya.
Tentang Surabaya, tentang Kenjeran, tentang keluarga Bu Ana, tentang tetangga mereka, tentang Ayu, hingga tentang acara Teman Jatim.

Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat yang datang dari kota lain.
Seperti Ambon, Lamongan, Jombang.
Jadi jika dilihat pemukiman ini lebih mirip seperti rumah susun *tapi nggak bersusun* daripada tempat kost.
Karena disini satu kamar kost bisa dihuni oleh sebuah keluarga.
Jangan bayangkan bagaimana sumpeknya.
Tempat di pinggiran Surabaya yang banyak diminati pendatang *kata Bu Ana
Kamar kost Ayu rapi dan sederhana.
Ada ranjang yang cukup lebar, satu almari, satu filling cabinet serta satu rak sepatu.
Berbeda dengan kamar Bu Ana yang lebih berisi namun tetap rapi.

Bu Ana bilang, "Puluhan tahun di Surabaya nggak bisa beli rumah."
Aku dan Rima hanya tersenyum.
Beginilah kira-kira kehidupan para perantau.
Aku teringat Pakdeku yang juga seorang perantau di Bali.

Okelah. Saat tulisan ini diketik aku dan Rima sudah mulai rebahan dan Ayu belum juga datang.
Padahal sudah pukul 20.37
Evaluasi kok suwi sih, kasihan Mbak-mbak panitia yang rumahnya jauh lah -___-

Heeey, Kenjeran malam ini hujan deras diiringi dengan petir yang cetar membahana.
Ah, hujan.
Aku kangen Fahri. Aku kangen rumah. Aku kangen Banyuwangi.

Ayu cepat balik, kami bingung sendirian di kamar orang.

Say Goodbye

Desember 05, 2015 0 Comments

Selesai sudah Temu Mahasiswa Administrasi Negara se-Jawa Timur (Teman Jatim) 2015 di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Menyenangkan, mengesankan, membahagiakan, dan banyak "me" yang lain.

Tiga hari kami berkumpul bersama 18 Universitas lain yang ada di Jawa Timur.
Tiga hari itu pula kami mendapat banyak hal baru.
Belajar bersama, berbagi bersama dan yang terpenting adalah berproses bersama.

Mulai dari Seminar Nasional di hari pertama yang dihadiri oleh beragam stake holder yang terkait.
Dan hari kedua kami berdiskusi berdasarkan cluster yang telah dibagi hingga hearing yang kami lakukan bersama Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur.
Ada banyak hal yang kami utarakan saat hearing kemarin.
Suasana berlangsung sangat meriah karena forum dihadiri langsung oleh pihak DPRD Provinsi.

Setelah berdiskusi mengenai sub-sub tema per cluster dihasilkan beberapa rekomendasi terkait "Kebijakan Pengembangan Kawasan Ekonomi Produktif-Kreatif Di Jawa Timur Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean"
Luar biasa antusiasme kawan-kawan di berbagai Universitas.

Hari ini merupakan penghujung acara.
Dimana kami berkesempatan memberikan saran dan kritik terhadap panitia atau tuan rumah.
Kami dari Untag Banyuwangi menyampaikan banyak terima kasih atas service yang diberikan.
Terutama our beloved LO, Mbak Novi :)
Terima kasih sekali sudah membantu dan mendampingi kami yang cerewet ini :D
Terima kasih sudah sangat sabar mengantar kesana-kemari.
Saya pribadi, juga berterimakasih kepada Mas Panitia yang kemarin sore rela basah-basahan untuk menjemput peserta teman jatim di mushola lantai tiga gedung ... *entah gedung apa saya lupa :D
Terima kasih Novi, Merry, kawan-kawan Teman Jatim dan semuanyaaaa ...
Ini adalah pengalaman berharga yang tidak akan pernah saya lupakan *selama saya nggak jatuh terus kejedot lantas amnesia seperti di tivi-tivi :D

Terakhir, kami ucapkan selamat kepada Universitas Islam Malang atas terpilihnya sebagai tuan rumah Teman Jatim 2016.
Semoga saya bisa ikut yess tahun depan kalo nggak keburu pensiun :D

Teman Jatim! Sukses.

Jumat, 04 Desember 2015

Hello From (still) The Other Town

Desember 04, 2015 0 Comments

Selamat pagiii ....
Ucapan selamat pagi hari ini masih di ucapkan di Kota Surabaya yang lumayan dingin.
Dan dipersembahkan oleh saya yang sudah siap tempur.

Masih berada di Teman Jatim 2015 di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Jadwal hari ini lumayan padat merayap *tapi nggak macet.
Setelah kemarin masing-masing Universitas sudah dibagi per cluster dan sudah pula berdiskusi tentang "Implementasi Kebijakan Otonomi Daerah Pro Pengembangan", hari ini waktunya kami semua hearing untuk menyampaiakan apa-apa saja yang sudah kami dapat.
Hearing kali ini akan di hadiri oleh *InsyaAllah* Bapak Abdul Halim Iskandar, M.Pd (Ketua DPRD Jawa Timur).

Setelah hearing, nanti akan dilanjutkan dengan agenda sidang untuk menentukan siapa tuan rumah dalam Teman Jatim selanjutnya.
Baiklah, semoga hari ini berjalan lancar sebagaimana mestinya.
Setelah istirahat yang lumayan dan cukup serta setelah nge-Wedhang Jahe semalam, I feel more be better than yesterday.
Kemarin bahkan untuk sekedar ngangkat kepala rasanya nggak kuat.
Benar-benar menyusahkan jadi orang mabuk'an -___-

Oke then see you in next corat-coret *halah :D

Selasa, 01 Desember 2015

#turunAKSI Hari Aids Sedunia 2015

Desember 01, 2015 0 Comments
Alhamdulillah …
Ini tahun ketiga saya ikut #turunAKSI dalam rangka Hari Aids Sedunia.
Tahun ini juga merupakan tahun pertama dimana saya bergabung bersama teman-teman KMPA lintas Universitas lain yang ada di Banyuwangi.
Setiap tahun konsep kegiatan juga selalu berbeda.

Alhamdulillah tahun ini saya merasakan sesuatu yang berbeda.
“Hug Challenge”
Sebuah konsep yang di adaptasi dari sebuah komunitas peduli HIV/Aids di Jakarta.
Dalam tantangan ini saya berperan menjadi Orang Dengan Hiv/Aids (ODHA).
Kami yang berperan sebagai ODHA harus bisa sebanyak-banyaknya mendapat pelukan dari masyarakat.
Kegiatan ini juga merupakan tolak ukur seberapa jauh masyarakat mengerti tentang cara penularan HIV/Aids.
Dan hasilnya cukup mengkhawatirkan.

Masih banyak masyarakat Banyuwangi yang enggan untuk bersentuhan dengan ODHA.
Perjalanan dari depan kantor KPA hingga ke TMP Sayuwiwit saya mendapat 21 orang yang mau bersalaman dan berpelukan.
Reaksi mereka berbeda-beda.

Seperti tadi di Utara dealer Yamaha Sobo.
Saya menghampiri seorang Ibu yang sedang menjaga warung.
Ketika si Ibu saya hampiri dan saya beritahu bahwa saya pengidap HIV dan saya meminta untuk memeluk saya, Ibu agak enggan menerima uluran tangan saya.
“Ibu takut ketularan ya?”
“Oh endak dik, endak kok.”
Saya hanya tertawa melihat reaksi si Ibu.

Dan juga seperti beberapa Ibu lainnya yang saya temui di sepanjang jalan.
Ada yang dengan senang hati menerima pelukan saya.
Ada juga yang beralasan “Ibu belum mandi mbak.” hanya untuk menghindari pelukan saya *ah, Ibu mah bisa aja :D
Bahkan ada yang sudah meyingkir ketika saya baru akan menghampiri mereka.

Hal ini menjadi tamparan keras bagi saya pribadi.
Bahwa masih banyak sekali masyarakat yang belum melek informasi.
Terutama informasi seputar HIV/Aids.
Kita tidak bisa membiarkan masyarakat terus berspekulasi dengan pemikiran mereka sendiri.
Apalagi pemikiran yang kadung salah kaprah.
Bahwa pengidap HIV adalah orang yang harus dijauhi atau dikucilkan.
Bahwa saat kita bersentuhan dengan ODHA maka kita akan tertular penyakit mereka.

Dan yang menjadi lebih mengkhawatirkan adalah mereka yang tinggal di kecamatan kota saja masih belum mengerti bagaimana HIV itu menular, apalagi masyarakat yang tinggal di desa?
Saya hanya khawatir jika kejadian seperti di Blitar terjadi di Banyuwangi.
Seorang lelaki di Blitar dikucilkan dan harus tinggal di kandang ayam karena diduga mengidap virus HIV.
Sekali lagi “diduga”.
Padahal belum jelas apa penyakit yang sedang di derita.
Tapi masyarakat langsung memvonis begitu saja secara tidak laborat.
Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua.
Tidak hanya PR bagi KPA, bagi Dinas Kesehatan, bagi Pemerintah.
Melainkan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Sudah cukup stok penggerutu di Indonesia.
Negara ini tidak butuh penggerutu, negara ini butuh mereka yang peduli.
“Ah cuma aksi,” kata si pesimis.
Percayalah sedikit aksi itu lebih baik dari pada tidak melakukan apa-apa.
Sedikit aksi menyadarkan bahwa kawan-kawan penderita tidak sendiri.
Semua bisa mengambil peran.

Quotes : Iraa Rachmawati

Perwakilan Pelangi Laros bersama KMPA Banyuwangi :)