Salah Kaprah Meme yang katanya Menjunjung Martabat Muslimah
Berdiri
dan bergerak untuk melawan patriarki memang luar biasa berat. Medannya tidak
pernah mulus, selalu terjal menanjak.
Saya
kembali terhenyak dengan sebuah unggahan yang beredar di twitter. Sebenarnya
ini unggahan lama tapi di up kembali dan saya rasa akan di up berulang kali
untuk mendoktrin para muslimah.
“Setinggi apapun pendidikan perempuan, karir terbaiknya adalah diam di
rumah. Bayaran termahalnya adalah ridha suami. Prestasi terbesarnya adalah
ketika mampu mencetak anak yang salih dan salihah.”
Saya
penasaran dengan orang yang berpendapat demikian. Laki-laki, kah? Perempuan,
kah?
Jika
laki-laki, saya kok yakin sekali kalau dia ini adalah tipe mas-mas nggak asyik
di tongkrongan, yang ingin relasi kuasa berada di tangannya, sepenuhnya. Jangan
sampai derajatnya sebagai laki-laki jatuh. Padahal kata Tuhan derajat manusia
sama, laki-laki maupun perempuan, yang membedakan hanya ketaqwaan mereka.
Jika
yang berpendapat demikian adalah perempuan, tentu ada alasan mengapa mereka menempatkan
diri mereka pada posisi tersebut.
Mari
kita bedah kalimat per kalimat.
Setinggi
apapun pendidikan perempuan, karir terbaiknya adalah diam di rumah.
Kalimat
ini jelas menunjukkan bahwa pilihan perempuan untuk berkarir di luar rumah bukan
pilihan yang baik. Usaha perempuan untuk berpendidikan dan berproses (menyerap
ilmu, menuangkan pemikirannya dalam diskusi, mengaktualisasikan dirinya) hanya
dipandang sebagai sesuatu yang biasa saja atau bahkan sia-sia untuk hidupnya.
Buat apa sekolah tinggi sampai S3 kalau ujung-ujungnya di rumah saja? Sebuah pernyataan
yang tentu saja membuat jengah. Adalah hak perempuan untuk memilih menjadi ibu
pekerja atau ibu rumah tangga.
Kalimat
karir terbaiknya adalah diam di rumah
ini seolah menunjukkan bahwa perempuan adalah sesuatu yang tidak layak berada
di luar rumah. Alasannya? Bisa jadi karena perempuan selalu dianggap sesuatu
yang membawa fitnah, pokoknya segala kerusakan akarnya ya perempuan.
Padahal
bekerja ini adalah hak dasar laki-laki maupun perempuan sebagi seorang manusia.
Seperti kata Kiai Faqihuddin Abdul Kodir dalam bukunya yang berjudul 60 hadis
hak-hak perempuan dalam Islam (Teks dan Interpretasi), dalam agama Islam
perempuan sama sekali tidak dihalangi untuk memiliki aktivitas ekonomi yang
bisa mendatangkan pendapatan untuk dirinya maupun keluarganya. Seringkali,
banyak fatwa atas nama agama melarang perempuan memiliki aktivitas ekonomi
tertentu dengan asumsi bahwa mereka ini diberi nafkah oleh laki-laki bukannya
malah mencari nafkah.
Kembali
lagi, bekerja adalah hak dasar bagi perempuan dalam Islam, maka status dia
diberi nafkah tetap tidak menghalangi hak dasar ini. Apalagi pada faktanya,
kalau kita ambil contoh, seringkali pendapatan laki-laki juga tidak mencukupi
kebutuhan seluruh anggota keluarga. Bahkan tidak sedikit juga keluarga yang
tidak memiliki anggota laki-laki yang bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.
Orang
bekerja untuk apa, sih? Untuk memenuhi kebutuhannya, kan? Apalagi untuk mereka
yang sudah berkeluarga, ada banyak sekali kebutuhan yang musti dipenuhi. Bayar
kreditan tiap bulan, bayar uang sekolah anak, bayar uang kebersihan, tagihan
listrik, pdam, belum lagi biaya berobat ketika anggota keluarga sakit. Kalau
pendapatan laki-laki tidak bisa mengcover itu semua tapi masih menuntut
perempuan untuk tidak boleh memiliki aktivitas ekonomi padahal niatnya untuk
membantu si laki-laki memenuhi kebutuhan keluarga, dan akhirnya keluarganya
menderita, apa tidak dholim namanya?
Terlepas
dari itu semua, bekerja adalah hak dasar yang tidak bisa dicabut begitu saja
ketika masuk dalam lembaga perkawinan. Mentang-mentang perempuan sudah menikah
dan sudah ada yang memberi nafkah lantas haknya untuk bekerja bisa dirampas.
Yang diperlukan adalah negosiasi dan pembagian peran yang bisa diterima oleh
kedua belah pihak, relasi kesalingan.
Kalimat
selanjutnya bayaran termahalnya adalah ridha suami. Lantas bagaimana dengan
ridha istri? Seolah suami berhak melakukan apa saja meski tanpa ridha istri.
Seolah ridha suami adalah di atas segala-galanya.
Prestasi
terbesarnya adalah ketika mampu mencetak anak yang salih dan salihah. Bagaimana
jika tidak mampu mencetak anak yang salih dan salihah? Apakah kemudian
perempuan tidak memiliki prestasi besar dalam hidupnya? Ada perempuan-perempuan
yang diberi kekhususan oleh Tuhan sehingga dia tidak bisa hamil atau
perempuan-perempuan yang kehilangan bayi mereka saat masih di kandungan maupun
saat melahirkan, lantas apakah mereka gagal menjadi perempuan?
Bahwa
dibalik hanya mampu mencetak anak, ada sesuatu yang lebih besar dan berat
tanggung jawabnya, yaitu mampu mendidik anak dengan baik. Kita bisa saja mampu
mencetak anak, kita mampu mendidik anak tidak? Jangan sampai karena salah
pergaulan atau keliru memahami sesuatu kita menjadi orang tua yang memiliki
pendapat seperti ini: anak kita tidak perlu pintar matematika, fisika, bahasa
dan pelajaran yang lain, yang penting saleh atau saleha.
Kata
Kalis Mardiasih, untuk menjadi salih dan saliha orang harus menyerap keilmuan
dengan baik, mengartikulasi output dengan efektif, dan mengekspresikannya
kepada sesama dengan strategi yang benar. Untuk apa rajin mengaji, rajin salat,
tapi tidak pernah tersenyum kepada kawan atau tetangga, misalnya.
Opini-opini
seperti dalam meme ini harus terus dikritisi. Karena hal tersebut mampu membuat
perempuan tidak mau berdaya, tidak bisa berkembang, membuat perempuan berpikir
bahwa mereka adalah kasta terbawah dalam kehidupan. Nah, kerja-kerja demikian
tentu tidak maksimal jika dikerjakan sendirian. Laki-laki baru tidak akan
melihat hal ini sebagai sebuah ancaman, melainkan gagasan yang harus disuarakan
untuk peradaban kemanusiaan.

