Rabu, 11 Desember 2019

Salah Kaprah Meme yang katanya Menjunjung Martabat Muslimah

Desember 11, 2019 0 Comments

Berdiri dan bergerak untuk melawan patriarki memang luar biasa berat. Medannya tidak pernah mulus, selalu terjal menanjak.

Saya kembali terhenyak dengan sebuah unggahan yang beredar di twitter. Sebenarnya ini unggahan lama tapi di up kembali dan saya rasa akan di up berulang kali untuk mendoktrin para muslimah.

“Setinggi apapun pendidikan perempuan, karir terbaiknya adalah diam di rumah. Bayaran termahalnya adalah ridha suami. Prestasi terbesarnya adalah ketika mampu mencetak anak yang salih dan salihah.”

Saya penasaran dengan orang yang berpendapat demikian. Laki-laki, kah? Perempuan, kah?

Jika laki-laki, saya kok yakin sekali kalau dia ini adalah tipe mas-mas nggak asyik di tongkrongan, yang ingin relasi kuasa berada di tangannya, sepenuhnya. Jangan sampai derajatnya sebagai laki-laki jatuh. Padahal kata Tuhan derajat manusia sama, laki-laki maupun perempuan, yang membedakan hanya ketaqwaan mereka.

Jika yang berpendapat demikian adalah perempuan, tentu ada alasan mengapa mereka menempatkan diri mereka pada posisi tersebut.

Mari kita bedah kalimat per kalimat.

Setinggi apapun pendidikan perempuan, karir terbaiknya adalah diam di rumah.

Kalimat ini jelas menunjukkan bahwa pilihan perempuan untuk berkarir di luar rumah bukan pilihan yang baik. Usaha perempuan untuk berpendidikan dan berproses (menyerap ilmu, menuangkan pemikirannya dalam diskusi, mengaktualisasikan dirinya) hanya dipandang sebagai sesuatu yang biasa saja atau bahkan sia-sia untuk hidupnya. Buat apa sekolah tinggi sampai S3 kalau ujung-ujungnya di rumah saja? Sebuah pernyataan yang tentu saja membuat jengah. Adalah hak perempuan untuk memilih menjadi ibu pekerja atau ibu rumah tangga.

Kalimat karir terbaiknya adalah diam di rumah ini seolah menunjukkan bahwa perempuan adalah sesuatu yang tidak layak berada di luar rumah. Alasannya? Bisa jadi karena perempuan selalu dianggap sesuatu yang membawa fitnah, pokoknya segala kerusakan akarnya ya perempuan.

Padahal bekerja ini adalah hak dasar laki-laki maupun perempuan sebagi seorang manusia. Seperti kata Kiai Faqihuddin Abdul Kodir dalam bukunya yang berjudul 60 hadis hak-hak perempuan dalam Islam (Teks dan Interpretasi), dalam agama Islam perempuan sama sekali tidak dihalangi untuk memiliki aktivitas ekonomi yang bisa mendatangkan pendapatan untuk dirinya maupun keluarganya. Seringkali, banyak fatwa atas nama agama melarang perempuan memiliki aktivitas ekonomi tertentu dengan asumsi bahwa mereka ini diberi nafkah oleh laki-laki bukannya malah mencari nafkah.

Kembali lagi, bekerja adalah hak dasar bagi perempuan dalam Islam, maka status dia diberi nafkah tetap tidak menghalangi hak dasar ini. Apalagi pada faktanya, kalau kita ambil contoh, seringkali pendapatan laki-laki juga tidak mencukupi kebutuhan seluruh anggota keluarga. Bahkan tidak sedikit juga keluarga yang tidak memiliki anggota laki-laki yang bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.

Orang bekerja untuk apa, sih? Untuk memenuhi kebutuhannya, kan? Apalagi untuk mereka yang sudah berkeluarga, ada banyak sekali kebutuhan yang musti dipenuhi. Bayar kreditan tiap bulan, bayar uang sekolah anak, bayar uang kebersihan, tagihan listrik, pdam, belum lagi biaya berobat ketika anggota keluarga sakit. Kalau pendapatan laki-laki tidak bisa mengcover itu semua tapi masih menuntut perempuan untuk tidak boleh memiliki aktivitas ekonomi padahal niatnya untuk membantu si laki-laki memenuhi kebutuhan keluarga, dan akhirnya keluarganya menderita, apa tidak dholim namanya?

Terlepas dari itu semua, bekerja adalah hak dasar yang tidak bisa dicabut begitu saja ketika masuk dalam lembaga perkawinan. Mentang-mentang perempuan sudah menikah dan sudah ada yang memberi nafkah lantas haknya untuk bekerja bisa dirampas. Yang diperlukan adalah negosiasi dan pembagian peran yang bisa diterima oleh kedua belah pihak, relasi kesalingan.

Kalimat selanjutnya bayaran termahalnya adalah ridha suami. Lantas bagaimana dengan ridha istri? Seolah suami berhak melakukan apa saja meski tanpa ridha istri. Seolah ridha suami adalah di atas segala-galanya.

Prestasi terbesarnya adalah ketika mampu mencetak anak yang salih dan salihah. Bagaimana jika tidak mampu mencetak anak yang salih dan salihah? Apakah kemudian perempuan tidak memiliki prestasi besar dalam hidupnya? Ada perempuan-perempuan yang diberi kekhususan oleh Tuhan sehingga dia tidak bisa hamil atau perempuan-perempuan yang kehilangan bayi mereka saat masih di kandungan maupun saat melahirkan, lantas apakah mereka gagal menjadi perempuan?

Bahwa dibalik hanya mampu mencetak anak, ada sesuatu yang lebih besar dan berat tanggung jawabnya, yaitu mampu mendidik anak dengan baik. Kita bisa saja mampu mencetak anak, kita mampu mendidik anak tidak? Jangan sampai karena salah pergaulan atau keliru memahami sesuatu kita menjadi orang tua yang memiliki pendapat seperti ini: anak kita tidak perlu pintar matematika, fisika, bahasa dan pelajaran yang lain, yang penting saleh atau saleha.

Kata Kalis Mardiasih, untuk menjadi salih dan saliha orang harus menyerap keilmuan dengan baik, mengartikulasi output dengan efektif, dan mengekspresikannya kepada sesama dengan strategi yang benar. Untuk apa rajin mengaji, rajin salat, tapi tidak pernah tersenyum kepada kawan atau tetangga, misalnya.

Opini-opini seperti dalam meme ini harus terus dikritisi. Karena hal tersebut mampu membuat perempuan tidak mau berdaya, tidak bisa berkembang, membuat perempuan berpikir bahwa mereka adalah kasta terbawah dalam kehidupan. Nah, kerja-kerja demikian tentu tidak maksimal jika dikerjakan sendirian. Laki-laki baru tidak akan melihat hal ini sebagai sebuah ancaman, melainkan gagasan yang harus disuarakan untuk peradaban kemanusiaan.