Kamis, 30 Oktober 2014

Masih Tentangnya

Oktober 30, 2014 0 Comments
Inda, masih ingat saran yang kau beri padaku beberapa waktu yang lalu?
Aku mengikutinya Nda.
Ya, aku mengikuti saran darimu.
Aku memberinya semangat.
Aku mencoba menyapanya terlebih dahulu.
Kau tahu, aku sangat grogi saat melakukannya.

Aku memang menerima balasan darinya.
Tapi balasan itu malah membuatku kalut. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan.
Aku tidak mengerti apa yang dia maksud waktu itu.
Dia pun tak menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Baru setelah kejadian itu, kejadian yang belum kau tahu Nda ...
Aku menyadari semuanya. Semua yang dia maksud. Semua yang dia katakan.
Aku tak pernah menyesal melakukan saran darimu.
Karena dengan itu aku mendapat jawaban.
Aku juga tak pernah menyesal mengirim gift yang kutulis lama sebelum dia berulang tahun.
Karena dengan itu semua, aku bisa mengetahui yang sebenarnya terjadi.

Inda, kau tahu sendiri kan bagaimana sikapku saat kita pertama kali bertemu dengannya dulu?
Aku selalu tersenyum mengingatnya.
Melihat dia untuk yang pertama kali.
Menjabat tangannya untuk yang pertama kali, dan sudah tidak lagi dilakukan walaupun telah bertemu enam kali.
Duduk disebelahnya.
Berbicara langsung.

Aku tahu kau sedang mengutuki sikapku waktu itu Nda. Sikap yang aku sendiri bingung harus bagaimana.
Saat kita pulang, mati-matian kau menasihatiku.
Mengkritik segala gerak-gerikku. Aku hanya tersenyum mendengarmu. Aku hanya tersenyum melihat kau yang sangat cerewet pada sikapku soal asmara.
Aku juga menikmati rasa keingintahuanmu tentang bagaimana aku bisa mengenalnya.
Aku juga menikmati rasa keterkejutanmu saat kau tahu dialah orang yang akan kita temui pagi itu.

Inda, kamulah orang yang pertama kali menyetujui aku mengenalnya.
Kamu orang yang pertama kali mendukungku mati-matian.
Bahkan kamu juga menyarankan aku untuk tidak lagi pada prinsispku. Gila kau. Teman macam apa yang tega menjatuhkan prinsip temannya sendiri?

Kau tahu Nda. Aku sangat menikmati saat kau bercerita segala tentang dia.
Aku sampai tak memotong satupun ceritamu.
Iya kan? Aku membiarkanmu berbicara sepanjang perjalanan kita pulang.

Sekarang semuanya berbeda Nda.
Kamu tidak lagi melihat mataku yang berbinar dan pipiku yang memerah saat bercerita tentang dia.
Kamu tidak lagi melihat itu.

Mey, jadi tulisan ini masih tentang dia?
Iyalah, tentang dia. Siapa lagi?
Dia yang menyebalkan.

Aku tidak akan lupa. Aku juga tidak berniat melupakan semuanya.
Karena hanya sia-sia.
Aku terus ingat hal-hal itu.
Hal-hal konyol yang pernah kita bicarakan.
Hal-hal serius yang juga pernah kita diskusikan.
Maafkan aku ya? Maafkan aku yang menyebalkan ini. Maafkan segala sifat yang pernah membuatmu sangat marah padaku.

Selasa, 28 Oktober 2014

Tanah Itu Menandus

Oktober 28, 2014 0 Comments
Aku selalu tidak bisa menahan air mata ketika membaca tulisanmu. Membaca tiap-tiap kata yang membuatku terluka. Apalagi di bagian yang itu. Sungguh, aku terluka.
Aku bahkan selalu mengutuki diri sendiri atas sikapku.

Tapi aku juga benci padamu. Dengar. Aku membencimu.
Aku membenci sikapmu. Aku membenci keras kepalamu. Aku membenci dirimu.
Mudah sekali kamu menyerah. Mudah sekali kamu memutuskan segalanya.
Mudah sekali kamu berkesimpulan seperti itu? Mudah sekali kamu meninggalkan aku.
Bahkan, mudah sekali kamu menyingkirkan posisiku.

Kau tahu? Sejak kita tak berkomunikasi apa yang kuperbuat?
Aku hanya menunggumu.
Aku hanya mempersiapkan diriku sebaik mungkin.
Aku hanya merawat dengan baik perasaanku.
Aku hanya sibuk membayangkan harapan-harapanku padamu.
Aku hanya sibuk menceritakanmu pada Ibuku.
Dan, aku hanya sibuk menjaga hatiku.

Tapi kau? Apa yang kau lakukan?

Kau bahkan mencoba melupakan aku.
Aku pikir dengan kita tak berkomunikasi aku masih tetap bisa ada.
Ternyata salah.
Kau menjauh. Semakin jauh. Aku yang tidak menyadarinya.
Aku masih menganggapmu baik-baik saja.
Tapi semua hilang. Aku kehilanganmu.
Ketika aku sibuk meminta yang terbaik untuk kita, kau sudah tidak memikirkan aku.

Bodoh. Bodoh sekali aku memintamu untuk menjaga hati waktu itu.
Padahal tanpa sepengetahuanku kau sedang berusaha untuk menjaga hati yang lain.
Ya. Kau menjaga hati yang lain.
Kenapa??? Kenapa kau tidak mencoba menghubungiku?

Kau marah padaku?
Aku juga marah padamu.
Kenapa cara kita mengatasi kemarahan kita berbeda?
Kau putus asa. Aku malah memupuk asa. Bodoh memang.

Aku pikir kau masih berusaha untuk menjaga hatimu.
Aku pikir kau tidak lagi mencari yang lain, seperti yang kau bilang padaku untuk tidak mencari yang lain karena kau melakukan hal sama.
Aku pikir kau masih tetap pada tujuanmu.

Lalu kemana hilangnya kata-kata itu?
Kemana perginya semangat untuk terus berjuang?
Bagaimana nasib nama yang tersimpan dalam hati ini?
Biar saja. Aku tetap menyimpannya. Menyimpan namamu.

Semakin aku membencimu, semakin kuat rasa itu tumbuh.
Semakin aku membencimu, semakin aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku lemah. Aku tidak sekuat dan setegar itu, ternyata.

Lihatlah.
Kamu menjadikan aku tanah kosong yang semakin tandus. Karenamu, aku menjadi tanah yang semakin gersang. Semakin panas. Semakin tak bersahabat.
Dinding yang pernah kau coba robohkan itu kini benar-benar hancur berantakan.
Lantas kau pergi begitu saja tanpa mencoba memperbaiki dinding itu?

Biarlah. Pergi saja. Biar aku yang memperbaikinya seorang diri.
Ini dindingku. Milikku.
Akan kubuat fondasi yang lebih kuat. Akan kubangun dinding itu dengan segala sisa kekuatan yang kupunya. Dinding yang akan lebih kutinggikan. Dinding yang akan semakin lebar.
Hingga tidak ada lagi yang bisa melihat kedalamnya. Tidak ada yang menggangunya.

Sudahlah. Kita tidak bisa memutar waktu untuk kembali. Life must go on. Aku dan kamu memang tidak seperti dulu. Aku dan kamu memang sudah berbeda. Aku dan kamu berada dalam situasi yang tidak indah lagi.

Sebuah Fakta

Oktober 28, 2014 0 Comments
Hari ini, aku menemukan sebuah kenyataan pahit. Kenyataan bahwa aku harus melupakan dia. Bahwa aku harus meluruhkan segala harapanku padanya. Semuanya. Aku harus bisa ikhlas.
Aku mendapati kenyataan yang sangat membuatku terluka. Kenyataan yang melukai hatiku.

Aku benci ini. Aku benci diriku yang seperti ini.

Apa yang aku takutkan selama ini akhirnya terjadi.
Ketakutan untuk jatuh cinta hanya karena takut menderita.

Ketika mengenalmu aku menjadi wanita yang tiba-tiba saja memiliki keyakinan berlipat-lipat.
Padahal, dari awal aku sudah mewanti-wanti diri sendiri.
Jangan banyak berharap.
Kita tidak akan tahu apa yang terjadi di masa mendatang.
Kita tidak bisa memprediksi kondisi hati kita.

Aku hanya bisa tersenyum mendengar itu semua.
Semoga kau bahagia.
Semoga dia bahagia.

Bukankah ini yang kau mau, Mey?
Sekarang lihat. Egoismu kembali muncul.
Kau terluka, kan?

Aku hanya tidak menyangka. Itu saja.

Aku tidak menyangka, mudah sekali kau tenggelam oleh kemarahan.
Sehingga menghilangkan setiap kebaikan-kebaikan yang ada.
Mudah sekali kau mengambil sikap yang sama sekali tak kuduga.
Mudah sekali kau mengalihkan segalanya.
Aku disini bahkan tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu.

Ah, sudahlah. Semuanya sudah terjadi.
Ini hidupmu. Kau yang menjalani.
Segala keputusan ada ditanganmu.
Aku yakin kau sudah memutuskan yang terbaik.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Bersyukur Pada Segala (Kaki Kecil)

Oktober 25, 2014 0 Comments
Sore ini saya pergi ke Taman Makam Pahlawan Sayu Wiwit. Ada janji dengan kawan-kawan kelas untuk ikut belajar bersama. Mata kuliah Statistik agaknya membuat kawan-kawan saya (yang kebanyakan pegawai) sedikit mengalami kesulitan. Sama hal-nya dengan mata kuliah Akuntansi yang kami dapat di semester lalu.

Alhamdulillah, kawan-kawan mempercayakan saya untuk dapat membantu menyelesaikan tugas mereka. Saya pun dengan sabar melayani pertanyaan mereka semampu saya. Bukan hanya saya sebenarnya, banyak dari mereka yang bisa dan mampu untuk dimintai pertolongan. Namun, rasa tidak pede masih ada dalam tubuh mereka. Lalu, bagaimana dengan saya? Apakah saya percaya diri membantu mereka?

Awalnya tidak. Karena saya masih merasa kemampuan saya belum mencukupi. Bahkan ada juga beberapa kasus yang belum saya mengerti penyelesaiannya. Saya hanya menempatkan diri sebagai saya yang masih dalam tahap belajar. Saya sama dengan kawan-kawan saya. Sama-sama belajar. Karena dengan perasaan seperti inilah yang membuat saya pada akhirnya tidak membusungkan dada, tidak merasa saya selalu dibutuhkan. Saya pun juga membutuhkan kawan-kawan saya.

Selalu ada perasaan senang dan bahagia ketika saya bisa membantu kawan-kawan saya. Ada bapak-bapak dan ibu-ibu. Ya, kawan kuliah saya ada yang bapak-bapak dan ibu-ibu. Beliau sudah seperti orang tua bagi saya.

Statistik dan Akuntansi merupakan dua mata kuliah yang sama-sama membuat kami selalu menghela nafas. Ya, mata kuliah yang ada hubungannya dengan menghitung agaknya sulit diterima dikelas saya.

Kami membubarkan diri dari belajar kelompok ini sehabis maghrib. Dengan tidak lupa membersihkan semua sampah yang kami produksi selama ritual belajar tadi dilakukan.

Ketika hendak pulang saya melihat seorang anak kecil bejalan dari arah Utara menuju Selatan. Dia berjalan tepat dihadapan saya. Saya melihat wajah yang bersih, putih, dan tampan. Usianya kira-kira 8 tahun. Pemandangan lain selain fisiknya yang good looking saya melihat ke sisi dia yang lain. Dia menenteng sebuah karung dibelakangnya. Saya melihat kaki kecilnya itu tidak mengenakan alas kaki.

Gusti. Begitu iba hati saya melihat pemandangan yang Kau suguhkan. Saya langsung teringat adik-adik saya dirumah. Bagaimana jika yang ada di posisi anak laki-laki ini adalah adik saya?

Saya terlalu lemah untuk sekedar membayangkan.

Cukup lama saya diam memperhatikan anak kecil itu. Hingga akhirnya saya tersadar dari lamunan. Saya memegang sebungkus kue ditangan saya. Saya akhirnya menyusul dia sambil setengah berlari. Mungkin anak ini mendengar suara langkah saya, hingga akhirnya dia juga hampir ingin berlari setelah menengok ke belakang.

Akhirnya dia berhenti. Saya memberikan sebungkus kue itu padanya. Dia menerima dan tidak lupa mengucapkan terimakasih.


Trenyuh hati saya melihat ini semua. Ketika hampir semua orang lupa dengan hal-hal sepele seperti mengucapkan terimakasih. Kembali Tuhan mendidik saya untuk terus bersyukur akan segala hal yang saya dapat melalui anak kecil tadi. Menjadi pribadi yang harus menerima dengan legowo segala yang Dia beri. Karena ketika kita selalu mensyukuri apa yang kita dapat, maka bahagialah kita.

Rabu, 22 Oktober 2014

Tatapan Itu

Oktober 22, 2014 0 Comments
Aku melangkah menyusuri jalanan kecil
Hatiku berdetak seperti biasa
Normal saja

Perlahan namun pasti
Kaki ini semakin cepat melangkah
Aku masih di pertengahan jalan

Aku tahu kau disana
Di ujung jalan itu
Tempat dimana kau menantiku

Semakin dekat ...
Semakin bergemuruh suara dihati
Semakin membuat perut ini mulas
Semakin sempit saja dunia kurasa
Hingga membuatku sulit bernafas

Aku mulai melihat hingar bingar jalanan
Aku sadar
Aku  hampir dapat menatap wajahmu
Sedikit lagi

Langkahku melambat
Serasa ada beban berton-ton
Hingga susah untukku melangkah
Melangkah untuk menemuimu

Lihatlah ...
Aku menemukan wajahmu disana
Wajah itu, wajah yang teduh
Lihatlah ...
Aku menemukanmu sedang memperhatikanku
Di ujung jalan itu

Aku hampir mati karenanya
Karena tatapan itu ...
Tatapan itu tajam menghujam hatiku
Tatapan itu sukses memahat kerinduan
Tatapan itu, tatapan milikmu
Yang selalu kurindu


Oleh : Meydiana Isfandari

Senin, 20 Oktober 2014

Rencana Indah

Oktober 20, 2014 0 Comments
4 September 2014.
Pertemuan pertama dengan mata kuliah Bahasa Inggris di semester tiga.
Mr. Sandi meminta kami menuliskan, three things you'd like to do after you have graduated.

Dengan ringan dan cepatnya, saya menulis :
1. Working.
2. Married
3. Travelling

Teman saya nyeletuk.
"wah mey iki pikirane wes nikah ae ag" | "wah mey ini pikirannya sudah nikah aja"

I don't care. Toh akhirnya dia (temen yang nyeletuk tadi) menambahkan married di daftar rencananya (setelah mencantumkan rencana-rencananya yang superrr sekali, dan setelah di tipe-x berkali-kali) :D

This is my planning, bro.

Nomor dua dan tiga bisa berubah-ubah. Sesuai pasangan (mungkin).
Ketika saya mendapat pasangan yang berhobi sama, sama-sama suka jalan-jalan, komposisi urutan akan tetap sama. Kami akan jalan-jalan setelah menikah. Seru pasti. Kemana-mana berdua, nggak ada yang ngelarang. Kan sudah sah :D

Sebenarnya, salah satu alasan juga adalah karena saya suka jalan-jalan tapi minim sekali jalan-jalan.
Travelling. Travelling dalam arti yang sesungguhnya. Pergi ke tempat-tempat wisata yang untuk bisa sampai disana butuh waktu berjam-jam. Pergi ke tempat-tempat dengan memanfaatkan kereta. Pergi ke tempat-tempat yang jauuuuh sekali. Bertemu dengan orang-orang baru. Bertemu dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Bertemu dengan budaya-budaya baru.

Kamu dan aku. Pasti menyenangkan.

Selama ini apa?
Saya belum pernah merasakan bebas. Bebas dalam arti bisa kemana saja yang saya mau.
Ya. Orangtua. Terutama Abah.
They are sooooo protective.
Mungkin saya masih dianggap belum dewasa. Sehingga apapun dan bagaimanapun saya, Abah akan tetap menganggap saya sebagai putri kecilnya yang belum dewasa.

Tuhan, kadang saya berpikir bahwa kenapa sulit sekali meyakinkan beliau. Meyakinkan bahwa, saya, gadis 19 tahun ini sudah mumayyiz. Saya akan tetap menjadi putri kecilmu yang baik. Tetap akan menjadi milikmu.
Tidak akan saya tega melukai kalian dengan apapun.

Cita-cita indah yang saya harapkan.
Semoga Dia senantiasa meridhoi.

Bahagia sekali kan jika kita pergi dengan laki-laki berdua saja, pergi dengan laki-laki dalam waktu yang lama, entah pagi siang sore malam, pergi dengan laki-laki yang tidak membuat hati orang tua cemas, karena laki-laki itu adalah suami kita.
Karena laki-laki itu adalah pelindungmu, menggantikan Ayah, Papa, Bapak, Abi, atau Abahmu.

Saya sering iri melihat teman-teman yang bisa jalan-jalan dengan lelakinya kemana saja. Tempat wisata, mendaki gunung, hunting foto, atau sekedar jalan-jalan ngabuburit bersama. Dan itu all day long. Huufftt ...

Iri memang.
Tapi, alangkah indahnya jika laki-laki itu adalah dia yang sudah halal bagimu.
So, saya tidak lagi iri dengan mereka :)

Yaa, terlalu banyak angan-angan saya untuk masa depan.
Terlalu banyak hal-hal yang ingin saya lakukan dimasa depan.

Pertanyaannya.

Sudahkah well-prepare?

Tarik nafas.

Saya sedang mempersiapkannya.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Strategi

Oktober 18, 2014 0 Comments
Inda Rizkya Putri.

She's my best friend ever. Malam ini aku chatting dengannya. Dia menanyakan kita.
Ya, kita. Kau dan aku.
Dia menanyakan perkembangannya (kau pasti tahu maksudku)

Aku menjawab kita sedang complicated. Ya karena memang begitu, kan?

Inda bilang harus diperbaiki.

Aku bingung sebelah mana yang harus diperbaiki. Pangkal masalah pun aku tidak tahu.
Kita terlalu besar pada ego masing-masing mungkin. Atau aku yang terlalu gengsi untuk sekedar menyapa dan memberimu semangat?

Aku sudah berusaha, dengan mengirim pesan basa-basi padamu.
Namun, sinyal itu lenyap seketika.
Ah, mungkin karena kau sedang sibuk dengan skripsimu.
Atau marah padaku?
Aku tak mengerti.

Inda juga bilang aku harus mengatur strategi.

Apa lagi?
Aku tidak sedang ingin ke Gaza dan ikut perang disana nda?

Ka, bukan hanya perang yang butuh strategi. Cinta juga butuh.

Ah, cinta lagi.

Wajar aku tidak mengerti harus bagaimana. Ini pertama kali.
Pertama kali merasakan seperti ini. (maksudku menghadapi dia yang benar-benar ingin serius, katanya sih gitu)

Ini kesempatanmu ka, perhatian ketika sibuk-sibuknya dia.

Ah, Indaaa. What should I do?

Dan, malam ini pun aku mengirim pesan-pesan yang ... ah entahlah, aku sendiri geli membacanya.
Aku mengirim padanya. Seperti biasa, jantungku selalu berdetak cepat.
Aku tidak mengharap balasan.

Yang penting kau membacanya, dan tersenyum.

Semoga saran dari Inda kali ini benar.

Menghargai

Oktober 18, 2014 0 Comments
Panas sekali siang ini?
Aku hanya didepan laptop berjam-jam tanpa menyentuh tugas-tugas. Mungkin karena terlalu banyak hingga aku bingung mana yang harus kukerjakan terlebih dahulu. Ini juga membuat kepalaku semakin panas.
Jadilah siang ini aku hanya membuka sosial media, searching materi tugas, dan menulis.

Kenapa judulnya menghargai Mey?

Entah.

Aku hanya ingin menulis tentang ini.
Apa iya aku setidak menghargai itu?
Apa iya aku egois?
Apa iya aku tidak menghargai dia?

Dia siapa?

Manusia.

Dia bilang dia hanya ingin dihargai.
Apa yang harus kulakukan? Aku sudah menghargai perasaannya.
Siapa yang bisa menolak, jika rasa itu datang pada kita?
Tidak ada satu pun.

Aku sudah membiarkanmu. Silahkan.
Tapi maaf jika rasa itu tak berbalas.
Maaf.

Lalu mengapa kau sebut aku tidak menghargaimu?

Apa aku harus membalas rasamu? Apa dengan itu baru kau bilang aku menghargaimu?
Hanya kebohongan besar yang akan kau dapat.

Kamu pribadi yang baik.

Disana, di luar sana masih sangat banyak bunga yang bermekaran dengan semerbaknya masing-masing. Namun ternyata kau gigih sekali untuk mendapat satu bunga idamanmu.

Kamu hanya membuatku merasa bersalah.
Seolah hanya aku yang patut disalahkan dalam persoalan ini.
Teman-temanku, teman-temanmu, semuanya menyalahkanku.
Lihat sendiri kan?

Ini soal hati. Ini soal perasaan.
Bukan soal matematika yang bisa kau kalkulasi.
Hati, perasaan, tidak bisa dipaksa. Mengertilah.

Kau boleh menungguku sekuatmu. Itu hakmu.
Tapi tolong, buka juga hatimu untuk yang lain. Untuk yang lebih segala-galanya daripada aku.
Aku yakin pasti ada kawan.
Harapanku ...
Mudah-mudahan kau tidak seperti Qais yang menjadi gila karena Laila.
Mudah-mudahan kecintaanmu pada manusia tidak melebihi kecintaanmu pada-Nya
Mudah-mudahan kau bisa menerima segala keputusanku dengan hati yang lapang.

Bahkan aku sudah memutuskannya jauh sebelum ini.
Memang, tidak ada yang bisa menebak hati manusia.
Dia Yang Maha Membolak-balikkan hati.

Aku bisa melihat ketulusanmu.
Aku bisa melihat kegigihanmu.
Aku bisa merasakan besarnya rasa itu.

Tapi, sekali lagi hanya maaf yang bisa aku lontarkan.

Ketika kau sudah lelah, bangkitlah, temukan wanitamu diluar sana.
Aku berdoa untuk yang terbaik.
Yang terbaik untuk orang-orang disekeliling kita.

Aku juga tidak terlalu pandai untuk memahami setiap isi pesan yang kau kirim tengah malam.
Pesan-pesan yang kau tulis entah pukul berapa, lalu kau kirim padaku.
Pesan-pesan yang sama sekali tak kupahami isinya.
Tapi, aku menghargaimu dengan ini semua.

Aku menghargai semua usahamu, kawan.


Kamis, 16 Oktober 2014

Jatuh Cinta Tanpa Alasan

Oktober 16, 2014 0 Comments
Hay Mey^^
Apa kabar?
Apa yang mau kamu tulis malam ini?
Cinta?
Haha, tau apa kamu tentang cinta?

Hening.

Cinta. Emm cinta itu rasa (kata Pak Suluh).
Kok kata orang lain? Katamu sendiri dong?

Hening.

Cinta itu persahabatan. Jika kamu tidak bisa menjadi sahabatnya maka itu bukan cinta.
Ah, itu kan kata Shah Rukh Khan di film Kuch-Kuch Hota Hai.
Aku mau dengar pendapatmu sendiri.

Hening.

Aku cinta Abah Ibu dan adik-adikku.

Oh come on! Bukan cinta kepada keluarga.
Ini cinta Mey. Cinta pada lawan jenis.
Hey, are you ok? Kamu normal kan?

Aku NORMAL!
Susah. Kamu tahu? Bahkan untuk berbicara tentang cinta pun aku merasa tidak pantas.

Kenapa? Kamu sudah jadi gadis. Tumbuh dewasa. Wajar saja jika cinta akan datang padamu. Kamu pernah mencintai laki-laki?

Tidak.

Kamu kalah sama mereka Mey.

Mereka? Siapa?

Lihat anak-anak SMP dan SMA sekarang. Mereka sudah fasih berbicara soal cinta. Sudah paham betul masalah cinta.
Kamu? Sudah sebesar ini belum pernah jatuh cinta?

Hening.

Kamu pernah menyukai laki-laki?

Pernah.

Nah, apa yang kamu rasakan?

Biasa.

Kamu pernah tidak merasakan hal yang berbeda saat kamu menyukai laki-laki?

Dengar. Aku pertama kali menyukai laki-laki saat aku masih sekolah dasar. Percaya? Sekolah Dasar. Kamu tahu aku umur berapa waktu itu?
Sepuluh tahun. Ya, sepuluh tahun. Bagimana bisa anak sekecil itu sudah merasakan ketertarikan pada lawan jenis? Waktu itu aku sangat menyukai laki-laki itu. Dia menjadi laki-laki pertama yang mengambil perhatianku.

Berarti dialah cinta pertamamu.

Hey, itu bukan cinta. Itu hanya rasa suka dari anak kecil berusia sepuluh tahun yang ...

Bagaimanapun, itu adalah perasaan tertarikmu untuk yang pertama kali pada seorang anak laki-laki.

Ya tapi itu bukan cinta.

Hening.

Kamu tidak sedang pada kondisi tidak percaya cinta kan? Trauma?
Karena kejadian masa lalu dan kebiasaanmu yang sampai saat ini terus berjalan, kamu masih percaya pada cinta kan? Kamu masih percaya pada laki-laki?

Tentu. Itu semua bukan alasan. Aku percaya cinta. Aku juga memasukkan "menikah" dalam target hidupku. Dan aku tidak merasa masa laluku seburuk itu sehingga membuatku trauma.

Tidak buruk? Kamu hanya takut. Ketakutanmu itu kamu jadikan alasan kenapa kamu bertahan selama ini. Dan alsan utamamu sebenarnya hanyalah ketakutanmu itu, bukan yang lain.

Mungkin dulu IYA. Tapi aku mengerti sekarang. Semua ada waktunya, ada gilirannya.
Bagus dong, karena ketakutanku dulu aku dapat menyelesaikan segalanya dengan baik. Aku menikmati masa sekolahku dengan keceriaan. Aku menikmatinya dengan kelapangan hati.
Karena apa? Karena tidak disibukkan dengan cinta-cinta yang dangkal, cinta-cinta yang impulsif, cinta-cinta yang menuntut, cinta yang memaksa, cinta yang posesif, cinta yang ...

Kamu membenci cinta?

TIDAK. Sekali lagi tidak. Aku hanya ingin jatuh cinta pada saat yang tepat. Aku hanya ingin berbicara tentang cinta di waktu yang tepat. Aku hanya ingin mencintai orang yang tepat.
Dan mereka? Mereka yang pernah kusukai bukan orang yang tepat untuk kucintai. Aku bisa melepas mereka. Aku baik-baik saja. Aku tidak meletakkan mereka dalam ruangan yang sulit untuk mereka keluar.

Kamu pemilih!

Aku bukan pemilih. Aku hanya ingin menempatkan segala sesuatu pada tempat yang seharusnya.

Kamu penuh kriteria. Hingga sangat susah untuk digapai.

Ya, aku memang pernah berniat untuk itu. Tapi akhirnya aku tahu satu hal.
Setinggi apa pun kriteriaku, bagaimanapun pemilihnya aku. Semua itu telah kalah ...

Kalah karena?

Karena aku telah jatuh cinta tanpa alasan.

Rabu, 15 Oktober 2014

Capture Everywhere

Oktober 15, 2014 0 Comments
“Eh, tolong fotoin dong?”
“Foto yuuk, pemandangannya bagus nih.”
“Hei, cus selfie. Mumpung disini.”

Pernah mendengar percakapan seperti itu? Atau pernah berbicara seperti itu? Atau bahkan pernah dimintain tolong buat ngefotoin?

Hehe, it’s oke kawan. Itu hanya ilustrasi.

Aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang suka sekali berfoto. Dimanapun.

Selfie? Yes, I do it.

Aku pernah membaca sebuah artikel yang menunjukkan bahwa seseorang yang selfie addict (ngerti selfie addict kan?) memiliki masalah dengan kejiwaannya. Seriously?

Entahlah. Tapi sejak membaca artikel itu aku jadi sering melihat diriku di cermin (terus bilang “wahai cermin, katakan siapa yang lebih cantik, aku atau dia”) #halaaah

Am I crazy? What’s wrong with my soul?

Ah, aku baik-baik saja kok. Lalu bagaimana mereka yang selfie addict bisa dikatakan memiliki gangguan kejiwaan? Can explain?

Aku memang suka berfoto. Tapi untuk selfie aku hanya melakukannya ketika mood-ku sedang baik. Itu pun jarang. Apalagi untuk bergaya seperti foto yang beredar di jejaring sosial saat ini. Manyun, melet, merem, melotot, datar alias nggak ada ekspresinya.

Duuhh, kalian foto atau nakut-nakutin sih. Maunya sih biar imut, tapi kok kaya minta ditabok gitu yaa. Sudahlah girls, foto yang biasa-biasa aja. Natural is beauty, kan?
Aku paling suka foto di tempat-tempat yang baru pertama kali aku kunjungi (ya you know lah, buat kenang-kenangan).

Sampai-sampai temanku bilang “Iki nang ndi ae mesti foto wes” (kamu ini dimana aja selalu foto)

Hey, adakah yang salah? Aku hanya mengeksplorasi kesenangan-kesenanganku. Foto yang kuambil itu juga akan jadi kenangan untukku di masa mendatang.

Bisa kalian bayangkan, jika saja dulu Latief Hendraningrat tidak lupa untuk menghubungi Sotarto dari PFN (Pusat Film Nasional) untuk mendokumentasikan peristiwa bersejarah Proklamasi?
Tentu saat ini akan ada banyak dokumentasi Proklamasi yang dapat kita nikmati.

Untung waktu itu ada Frans Mendur yang pelat filmnya tersisa tiga lembar. Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah itu dokumentasinya hanya ada tiga saja. Gambar yang sering muncul dalam buku-buku sejarah, yakni saat Soekarno membacakan teks proklamasi, pada saat pengibaran bendera dan sebagian foto masyarakat yang menyaksikan peristiwa itu.

Yah, aku sering menarik nafas panjang untuk hal ini.
Andai saja. Andai saja Mbah Latief nggak lupa.
Ah, tapi sudahlah. Manusia memang tempatnya salah dan lupa.

Foto itu bisa jadi cerita. Foto itu bisa jadi kenangan untuk anak cucu kita.
So, berfotolah selagi sempat. Dimanapun dan kapanpun. :D

See you^^


Sabtu, 11 Oktober 2014

Titik Jenuh

Oktober 11, 2014 0 Comments
Pernah merasakan ada di titik paling jenuh?
Merasakan ingin meghindar sejenak dari rutinitas sehari-hari?
Ingin pergi jalan-jalan tanpa memikirkan tugas-tugas yang menanti kita tanpa jeda?

Aku berada di titik itu. Kau tahu? Aku jenuh dengan ini semua. Aku jenuh dengan mereka. Aku jenuh dengan ini. Aku jenuh dengan itu. Aku jenuh dengan semuanya.

Mungkin, ini hanya efek dari begitu banyaknya assignment yang harus aku selesaikan.
Terlalu aku pikirkan sehingga aku sakit.
Yaaa ... sudah tiga hari terakhir. Kepalaku terasa berat. Panas menjalar merata diseluruh tubuh.
Berulang kali bersin. (barusan pun aku sudah bersin untuk yang kesekian kalinya)

Oh God, please. Ini sama sekali tidak nyaman.
Aku ingin berteriak melepas segalanya (seperti yang pernah kulakukan dengannya di pantai boom dulu). Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya.
Mungkin itu memang cara kuno untuk meredakan kepenatan sementara. Tapi, cara yang dianggap kuno itu justru berdampak (setidaknya bagiku) baik. Aku sangat lega.

Dan, penyebab titik jenuhku yang lain is him.
Ah, tak ada gunanya mengumpat. Toh tugas darinya tidak akan serta merta berubah atau ditiadakan.
Nikmati saja Mey. Nikmati proses yang sedang kau jalani. Nikmati saat-saat dimana kau dibuat pusing oleh dosen. Dulu kau bersemangat sekali kan?
Jangan kecewakan orang tua dan dia. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Jangan buang waktu untuk mengeluh. (trik menyemangati diri sendiri)

Bro, tiba-tiba aku kangen kamu.

Jumat, 10 Oktober 2014

Bang Dado

Oktober 10, 2014 0 Comments
Aku akan menceritakan padamu sebuah cerita. Cerita tentang aku dan dia. #mulai mengalun lagu Semua Tentang Kita miliknya Peterpan :D

Beberapa hari yang lalu aku bertemu dia di kampus. Seperti biasa, aku selalu sumringah bertemu dengannya. Sebetulnya pada siapapun aku selalu berwajah ceria saat bertemu. Yaa karena jangan sekali-kali memasang wajah kusut, kumal, kucel dan lecek saat bertemu siapapun. Ya, siapapun. (mantan sekalipun) :D

Saat itu dia memintaku untuk menulis tentang dia.
Aneh bukan?

Aku disuruh menulis tentang dia. Iyaa. Tentang dirinya. Tentang laki-laki bertubuh kecil itu.
Ah sudahlah. Siapa aku berani menghina ciptaanNya.

Tapi aku tidak menghina. Sungguh. (peace yaa) :D

Baiklaah, aku akan mencoba menulis barang sebaris atau dua baris tentang dia. Atau bahkan bisa berbaris-baris.

Namanya Daviq (entah siapa nama panjangnya, yang pasti bukan “Daviiiiiiiiiqqqq”, sungguh bukan itu nama panjangnya)

Aku memanggilnya Mas Daviq. You know laah dia lebih TUA dariku. (sorry kalo tulisan “tua”nya harus di capslock. iseng aja) :D

Tapi akhir-akhir ini, terutama di sosmed aku lebih sering memanggilnya abang. Abang Dado. (mungkin ini efek begitu mengharapnya aku punya abang, jadi semua mas-mas yang ku kenal baik aku anggap sebagai abang) :D kecuali mas-mas tukang bakso atau mas-mas tukang kredit panci yang sering lewat depan rumah. :D

Kenapa Dado?

Karena bukan Dadi. (just kidd) :D

Ya, Dado. Karena menurut pengakuannya dia ingin jadi seperti itu loh artis yang menyukai dunia sosial. Dik Doank.
Tau Dik Doank kan??? Tau lah pasti. Yang punya sekolah bertema alam “Kandank Jurank Doank”. Oke, pasti tau.

Terus apa hubungannya dengan Dado?
Dado itu singkatan. Singkatan dari Daviq Doank. (uh maksaaaa)
Ya sudahlah terserah dia sajaa :D

Aku mengenal abang satu ini dari keikutsertaan program Pelatihan Mahasiswa Advokasi Desa (PMAD). Di acara ini aku juga mengenal abang-abang yang lain :D

Sebenarnya tidak ada yang menarik. Dulu aku melihatnya sebagai mahasiswa yang, yaah acak-acakan lah. Waktu itu rambutnya masih panjang, pakaian juga nggak rapi-rapi banget. Tidak mencerminkan sebagai akademisi keperawatan seperti yang pernah dia jalani dulu. (anak keperawatan model begini? Apa kata Marshandaaa. Eh…)

Tapi kita memang tidak bisa menilai seseorang hanya dari luarnya saja. Tidak bisa.
Satu per satu hal menarik aku ketahui. Dia, abang Dado ini pandai bermain sulap. (walaupun tak sepandai Deddy Corbuzier). Hahaha … mahasiswa biologi main sulap? | Memang kenapa? | Ya nggak papa | -_-

Dia (yang belum lama ini aku tahu ternyata bukan orang Jawa) iya sih, ketahuan dari cara bicaranya. Sama seperti Diana yang aku langusng tahu dia orang Bali ketika pertama kali kita ngobrol.
Bang Dado juga berjiwa sosial tinggi. Dia ikut menjadi bagian dari kelas inspirasi. Yang dari situlah aku tahu jika dia mengenal kakak kelasku saat SMK. Ah, dunia memang sempit.

Bisa dibayangkan bagaimana senangnya murid-murid itu? Karena mereka punya pengajar yang pandai main sulap. Bisa dipastikan banyakan main ketimbang belajar. :D

Dia itu kereeen. Dia kenal banyak orang-orang keren. Dia kenal Mbak Iraa (yang aku langsung jatuh cinta membaca tulisan-tulisannya) :D Nggak tahu berapa banyak lagi orang keren yang dia kenal.

Mungkin karena itu juga akhir-akhir ini dia suka menulis. (banyak bergaul dengan penulis, yang katanya juga sudah dilantik jadi agen Neptunus) Apaaaa aja ditulis.
Mulai dari cinta (setelah ini aku yakin dia akan jadi pakar cinta yang handal), wanita, kehidupan, dirinya sendiri, perasaannya, semuuuuanya ….

Gayanya menulis, diksi yang digunakan. Hey, bang Dado-kah itu? Tidak menyangka orang seperti itu bisa menulis se-drama itu. (maksudku, dia jadi berubah 100% dalam urusan menulis). Aku jadi tidak mengenal Dado yang selama ini kukenal. Tulisannya itu lhooo, ah lucu deh :D

Seperti kemarin ketika ada seminar di Ikhtiar Surya dia menunjukkan padaku beberapa notesnya. Sungguuuhh, kata-katanya asli bikin saya ketawa-ketiwi. Dia memang keren Mey, iya kan? | Ya, dia keren. Aku juga beruntung bisa mengenal orang-orang keren yang ada di kampus Merah Putih.

Oke Bang Dado, congratulation. Anda masuk daftar orang keren versi saya :D (bukan daftar pencarian orang loh yaa, buron dong berarti) :D

10 Oktober 2014
10:21