Sabtu, 13 November 2021

TIDAK BISAKAH SEPERTI INI SAJA?

November 13, 2021 0 Comments

Kadang, bab bodo amat yang aku pelajari selama ini lindap begitu saja ketika berhadapan dengan orang atau situasi tertentu. Tiba-tiba jadi perasa, tiba-tiba jadi melodrama.

Aku yang entah mengapa belum benar-benar ingin berkomitmen merasa menjadi semakin jauh dari pijakan. Aku merasa terlalu picky, terlalu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan, terlalu sibuk memikirkan mengapa harus terburu-buru. Yang kadang aku sendiri sulit membedakan benarkah terlalu banyak pertimbangan atau memang benar begitu adanya, ya memang harus dipikirkan benar-benar.

Beberapa waktu yang lalu aku meyadari hal yang selama ini terlewat. Di masa remaja ternyata aku tidak pernah memiliki impian atau angan-angan hidup bahagia bersama laki-laki, I mean berkeluarga. Bayanganku dulu hanya hidup bersama bapak, ibu dan Ardi (waktu itu belum ada Ai), financial stable dan memahagiakan mereka. Tidak terlintas satu pun sosok laki-laki lain.

Kemudian Donat bilang “maybe you just feel enough with your life makanya dah gak expect apa-apa lagi”. Bisa jadi.

Lalu kutarik lagi ke belakang apa yang membuatku merasa cukup hidup bersama keluarga intiku saja. Aku kembali menyadari bahwa I raised by a great family. Kasih sayang kedua orang tuaku tumpah ruah. Bapak, terutama. Di masa lalu, ketika aku dan Ardi masih kecil, beliau selalu meluangkan waktu di akhir pekan untuk mengajak kami keluar rumah. Entah mancing, berenang, atau sekadar lesehan di Taman Sritanjung.

Hal itu yang membuatku sama sekali tidak punya pandangan soal lepas dari keluarga. Menikah dan berpisah dari mereka. Lantas aku berpikir: Tuhan, seperti ini saja sudah lebih dari cukup. Aku bisa di sisi mereka, melihat mereka sehat, bercanda dengan mereka. Sudah, sudah cukup. Kenapa, sih, mesti ada fase hidup yang namanya menikah?

Meski aku tahu menikah atau tidak menikah adalah pilihan, tetap saja aku tidak cukup berani untuk memutuskan. Dan ketidakberanian itu yang akhirnya membawaku pada kehilangan-kehilangan. Susah payah aku melepas rasa bersalah atas ketidakmampuanku membuat keputusan. Meyakinkan diri sendiri bahwa aku melakukan hal yang seharusnya.

Aku tidak bisa tidak yakin. Jika ingin, maka aku harus yakin. Tidak sekadar ingin, aku harus tahu kenapa aku ingin.



NYAMAN YANG AMAN

November 13, 2021 0 Comments

Sudah sejak dulu aku memikirkan zona aman, alih-alih nyaman. Seiring berjalannya waktu entah bagaimana aku merasa apa yang orang-orang bilang bahwa aku berada pada zona nyaman justru kadang menjadi penyumbang stres paling besar. Bukan zona nyaman namanya jika ia tidak meberikan kenyamanan, kan?

Kalau sedang diam dan tidak memikirkan apapun, aku merasa apa yang aku kerjakan selama ini tidak menuju pada kenyamanan yang aku dambakan. Apalagi keamanan, jauh, teramat jauh. Benarkah? Beginikah seharusnya? Semua pertanyaan itu berputar-putar layaknya penari sufi. Semakin lama dipikirkan, semakin pusing dibuatnya.

Ada satu fase dimana aku yakin sekali bahwa menyingkir dari semuanya dan mengambil langkah berani untuk keluar adalah keputusan tepat. Aku merasa aman dengan membayangkan kemungkinan-kemungkinan apabila aku berhenti di sini dan memulai hal baru.

Tentu tidak semua hal di dunia ini dapat kita miliki. Saat kita mau lima, Tuhan hanya beri kita empat, atau tiga, bahkan bisa jadi satu. Ada yang minta lima, oleh Tuhan malah diberi tujuh bahkan sepuluh. Yang begitu-begitu kalau dipikir pakai logika enggak bakal sampai ke otak manusia. Kenapa aku diberi tiga sedangkan dia lima? Kenapa aku diberi sembilan sedangkan dia hanya delapan?

Aku sepakat dengan cuitan kepala suku Mojok, Puthut EA. Jangan dengarkan orang yang suka berkata untuk meninggalkan zona nyaman. Lha wong sudah ada di zona nyaman untuk apa ditinggalkan?

Katanya, jangan terprovokasi dengan istilah ‘jangan terjebak zona nyaman’. Orang itu yang dicari ya zona nyaman. Nyaman dengan nilai-nilai yang diyakini, nyaman dengan orang-orang baik di sekelilingnya, nyaman dengan menikmati proses kerjanya. Bahkan, nyaman dengan tantangan.

Aku sepakat, dan ingin kutambah lagi dengan zona aman. Buatku, zona nyaman tapi tidak aman ya buat apa?


Selasa, 24 Agustus 2021

#NulisFilm: The Society

Agustus 24, 2021 0 Comments

Gara-gara melihat interaksi netizen di sebuah cuitan di akun Netflix Indonesia akhirnya aku menonton serial The Society. Serial ini rilis tahun dua ribu sembilan belas dan total ada sepuluh episode.

Oke, langsung saja. Aku sudah menyelesaikan semua episode tadi siang, tentu bertahap, enggak sekaligus. Karena ceritanya lagi menjaga konsistensi tidur dibawah jam sepuluh malam, nih. Doain lancar, ya.

The Society ini, aduh aku selalu kehabisan kata kalau berhadapan dengan serial atau film yang membuat kita berpikir sepanjang nonton. Berkisah tentang sekelompok remaja SMA di West Ham yang stuck di sebuah kota mati.

Awalnya mereka semua sedang dalam perjalanan untuk school trip. Tapi, ditengah jalan ada kendala berupa longsor yang membuat mereka akhirnya kembali ke rumah. Setelah kembali ke tempat tinggal mereka dan bus pergi, mereka mulai menelpon keluarga mereka untuk menjemput mereka kembali.

Nihil, enggak ada yang mengangkat telepon mereka, padahal tersambung. Awalnya mereka mengira keluarga mereka sudah tidur atau yah mungkin enggak dengar ada telepon. Long short story, mereka menyadari bahwa mereka ada di kota mati.

Orang tua mereka hilang, penduduk kota hilang, hanya ada mereka. Tanpa panduan bertahan hidup mereka memulai semuanya dari awal. Ketika semua mulai tidak teratur, kepanikan terjadi dimana-mana. Mereka mulai menimbun makanan, menjarah, menyakiti satu sama lain. Puncaknya adalah pembunuhan. Terbunuhnya Cassandra adalah titik balik kehidupan mereka. I stand for Cassandra but Dewey killed her. That jerk!

The Society ini membuatku membayangkan bagaimana jika aku menjadi bagian dari mereka? Apa yang akan aku lakukan ditengah ketakutan seperti itu? Tidak ada jaminan keselamatan, tidak ada jaminan bisa kembali ke tempat semula. Aduh, males banget harus hidup dua puluh empat jam setiap hari –yang entah sampai kapan– bersama dengan psikopat bernama Campbell.

The Society masuk pada jajaran serial Netflix yang akan aku rekomendasikan pada siapapun yang menyukai series. Enggak tau lagi mau ngetik apa karena kalau kebanyakan jadinya nanti mala spoiler. Sila ditonton, gaes. Semoga suka juga, ya.

Oh, ya, ini enggak ada season dua. Dibatalin sama Netflix. Good.

http://heytheregrace.com/netflixs-the-society-season-1-review/

Sabtu, 17 Juli 2021

PERTEMUAN-PERTEMUAN KECIL MENYENANGKAN

Juli 17, 2021 0 Comments

Semakin bertambah usia, peristiwa bertemunya kembali kita dengan kawan baik di masa lalu menjadi begitu istimewa. Duduk bersama, berbagi cerita, menertawakan masa lalu dan pulang ke rumah masing-masing dengan hati yang hangat.

Hari ini aku mengalami hal tersebut. The day when I met my precious old friends. Aku bahkan tidak pernah membayangkan hari ini akan ada. Bercengkerama dengan teman-teman zaman sekolah dasar dulu.

Semua berawal dari sebuah foto yang aku jadikan status WhatsApp tempo hari. Aku berpose dua jari di sebuah halaman sekolah yang tentu bisa dengan mudah ditebak oleh kawanku yang juga bersekolah di sekolah yang sama, SD N 1 Taman Baru (sekarang SD N Taman Baru). Dua orang teman memberi komentar dan singkat cerita kami berakhir pada sebuah agenda.

Sebuah agenda yaitu bertemu di sebuah kafe tempat salah seorang kawan kami, yang berada di dekat SD kami itu. Kebetulan pemilik kafe ini juga adalah kawan SD. Coincidence? Of course not. Hehehe.

Selesai siaran aku langsung menuju Tjiebon –nama kafe tersebut– yang ternyata Bimo sudah duduk manis di sana. Dari belakang aku ragu-ragu menyapa pria berbaju hitam yang memunggungiku itu. Ini Bimo bukan, ya? Well, karena sudah lamaaa sekali aku tidak bertemu dia.

Setelah memastikan bahwa dia benar Bimo dan kami bertukar kabar, muncul sebuah pertanyaan. Kapan terakhir kali kita ketemu? Yo SD, jawab dia. Kami tertawa. Tapi, seingatku tidak. Kami pernah bertemu tapi lupa dimana. Entah di UNTAG atau di tempat lain.

Selama ini aku mengira Bimo berkarir di luar Banyuwangi. Tapi, ternyata tidak. Dia sudah empat tahun ada di Banyuwangi. Itu kenapa aku berani mengajaknya bertemu. Ngobrol sebentar dengan Bimo aku rasa kami satu gelombang frekuensi. Kenapa? Ketika kami bahas soal menikah rasanya hal itu masih jauh sekali. Aku sik ngeroso koyok arek cilik, Bim, kataku. Podo, Mey. Aku yo koyok ngeroso sek SMA, katanya. Kemudian kami tertawa lagi. Etdah ketawa mulu.

Setelah melepas rindu dengan Bimo aku akhirnya bertemu dengan pemilik Tjiebon. Sumpah demi apapun aku kangen banget dengan kawan-kawan lamaku, Adjie tentu saja salah satunya. Adjie adalah kawan yang baiiiiiiiiiik sekali. Saking baiknya aku kasih sepuluh i di kata baik, itu menunjukkan kalau dia emang baik banget. Enggak percaya? Itung aja.

Dia adalah kawan sebangkuku dulu. Kami sering bertengkar, marahan, sok-sokan pindah duduk, tapi ujung-ujungnya tetap duduk sama dia lagi. Dulu, kalau aku belum punya buku paket dan dia punya duluan, dia enggak segan buat berbagi. Dia baik deh pokoknya, tapi juga tengil.

Dan, ini yang selalu membuat hatiku senang, dia masih tetap memanggilku Diana di saat yang lain Mey. Sebenarnya awal masuk SD nama panggilanku Diana, entah kelas berapa kemudian ada yang mulai panggil Mey, hingga akhirnya terbawa sampai hari ini. Over all, aku senang dia sehat dan baik-baik saja.

Kawan lama lainnya yang bergabung hari ini adalah Desy, Dimas dan Dicky. Guys, kalian enggak mau bikin grup lawak aja? Namanya ... Tri D. Jiaaaaa~

Sepanjang bertemu kami ngobrol banyak sekali (kecuali Bimo karena durasi dia nelpon sama durasi ngobrol sama kami panjangan durasi nelpon, mana ursan kerjaan lagi, kan jadi enggak enak ya ngajak Bimo pas lagi sibuk-sibuknya kerja, mana nelponnya enggak sekali dua kali tapi berkali-kali, wkwk). Kami nostalgia, kami bertanya kabar kawan-kawan lain, kami foto-foto, kami dapat jamur juga dari Adjie. Ya ampun. Tuh, kan, dia tuh emang baik bangettt.

Aku menyadari hal lain lagi hari ini. Old friends are best, itu benar adanya. Merawat sirkel pertemanan sehat sungguh enggak ada ruginya. Jadi, buat kalian yang masih punya pertemanan yang baik dan sehat, dijaga, ya. Bener, deh, enggak akan ada ruginya.

Akhir kata, thank you for today, guise. Semoga kalian selalu sehat, selalu dalam lindungan Tuhan, selalu dimudahkan segala urusannya. Buat Adjie dan Dicky, semoga kehidupan rumah tangga kalian selalu diberkati.

Sampai ketemu di pertemuan-pertemuan kecil menyenangkan lainnya, ya.

Senin, 28 Juni 2021

MUSICAL PARALYSIS

Juni 28, 2021 0 Comments

Pernah nggak kepikiran kenapa semakin bertambah usia, kita semakin ketinggalan dengan perkembangan musik-musik baru? Playlist kita adalah lagu-lagu yang akrab di telinga kita lima bahkan sepuluh tahun lalu. Yang kalau lagunya diputar kita bisa sing along.

Hal itu wajar, dan enggak apa-apa juga kalau kita enggak update lagu-lagu baru. Nah, aku sempat membahas hal ini saat siaran Mandala Kenangan Masa. Ada satu artikel yang diulas oleh Tirto soal Musical Paralysis.

Adam Read, editor Deezer (layanan streaming musik berbasis internet) Inggris dan Irlandia menjelaskan soal paralisis musikal ini. Tahun 2018, Deezer merilis hasil survei tentang preferensi dan kebiasaan seseorang mendengar musik. Survei yang dilakukan di Inggris, AS, Prancis, Jerman dan Brasil itu melibatkan 5.000 responden dari latar usia beragam.

Hasilnya mungkin tidak terlalu mengejutkan, tapi cukup menarik. Rata-rata seseorang akan berhenti mengeksplorasi musik baru atau mengalami paralisis musikal pada usia 30 tahun. Lebih detail lagi, rata-rata usia kelumpuhan musikal ini berbeda-beda di tiap negara. Selengkapnya bisa dibaca di sini.

Boleh jadi secara sederhana kita simpulkan: semakin menua kita perlahan berhenti mengikuti perkembangan musik baru. Kalau dipikir-pikir benar juga. Meski aku seorang penyiar radio, tetap tidak membuatku update pada musik-musik baru, selain karena memang aku sudah tidak lagi siaran Mandala Musik Terkini.

Semakin dewasa kita dihadapkan pada kehidupan yang semakin kompleks. Dihadapkan pada kehidupan yang semakin ruwet dan merepotkan. Bisa jadi tidak ada banyak waktu luang yang bisa kita gunakan untuk sekadar menengok playlist musik baru di Spotify. Aktivitas yang bertambah, tanggung jawab yang semakin banyak, tidak membuat waktu yang tersedia bertambah banyak.

Apalagi kalau satu musik membekas sekali di ingatan kita saat kita remaja. Itulah mungkin kenapa kalau kita tengok lagu-lagu nostalgia di youtube, pada kolom komentar kita akan menemukan komentar-komentar yang old glory.

Musik adalah bahasa yang universal itu iya banget. Dia mampu mengekspresikan perasaan yang kadang banyak orang enggak bisa ekspresikan. Dulu zaman BBM kalau kita ingat kita bisa memunculkan lagu yang sedang kita dengarkan di beranda untuk kasih kode ke gebetan. Siapa nih yang begini? Hahaha.

Banyak orang yang merasa “aku banget” pada sebuah lagu. Banyak juga yang menjadi kuat dan bangkit karena sebuah lagu seperti yang dialami Joko Anwar. Di youtube-nya Vincen dan Desta, Joko Anwar bercerita soal konflik batin yang dia alami hingga akhirnya memutuskan akan mengakhiri hidup. Tapi, Elvis Costello menyelamatkan dia. Man, orang frustasi dan mau bunuh diri itu ada, banyak. Tapi, orang-orang yang hidupnya terselamatkan karena sebuah karya, itu juga banyak.

Seperti kata Bono U2, music change the world because it can change people. Jadi, adakah musik yang mengubah hidup kalian?


Jumat, 25 Juni 2021

KEAPA HARUS PEREMPUAN?

Juni 25, 2021 0 Comments

Sulit rasanya menutup mata dan menutup telinga pada hal-hal yang dibentuk oleh masyarakat kita entah sudah sejak berapa ribu tahun lamanya. Bahwa ada hal-hal yang berlaku di masyarakat yang dibuat seolah begitulah yanng seharusnya terjadi. Kalau kita tidak demikian, maka kita aneh, kita berbeda, kita tidak sama dengan layakanya manusia pada umumnya. So tricky.

Aku mencoba memahami beberapa hal yang dilazimkan oleh masyarakat kita. Meski dalam prosesnya kadang aku mengalami beberapa perasaan aneh. Kenapa begitu? Kenapa harus seperti itu? Kenapa memangnya kalau begini? Sampai pada akhirnya aku tidak benar-benar bisa memahami banyak hal. Begitu banyak pertanyaan yang akhirnya menguap begitu saja dan berujung pada penerimaan tanpa pemahaman.

Pernikahan, contohnya. Sebuah konstitusi yang berlaku di masyarakat, dimana dua individu menyatu dalam sebuah ikatan sah dihadapan agama dan negara. I told you, I swear, aku akan selalu turut berbahagia pada semua peristiwa pernikahan yang dialami oleh orang-orang terdekatku, oleh kawan-kawanku. But, I’m so sick of this bullshit questions about mine. Dude, can you just mind your own marriage? Like, of course I thank you about your caring, but please, don’t be annoying.

Atau pada satu hal lain, masih soal pernikahan. Ketika seorang perempuan dengan segala hal valid yang melekat pada dirinya (perasaannya, pengetahuannya, kemampuannya, dan lain sebagainya) belum memutuskan untuk menikah, akan ada celetukan soal jangan terlalu pintar. Damn, this is one of another bullshit I ever heard. What’s the problem of being good, clever, or capable in many things?

Jadi perempuan jangan terlalu pintar nanti susah menikah karena laki-laki minder mau deketin. Yang minder laki-lakinya, kenapa jadi perempuan yang harus menurunkan kualitas dirinya hanya agar bisa menikah? Kenapa jadi perempuan yang harus mengubah dirinya hanya agar bisa diterima dan dinilai normal? Kenapa jadi perempuan saja yang harus repot?

Buat apa pintar kalau nyusahin? Ini adalah poin penting buatku. Enggak nyusahin is such a blessing. Doaku selalu pada Tuhan: semoga kelak aku akan hidup bersama laki-laki yang punya framework yang benar. Yang kalau ada masalah, bisa menjadi partner yang baik dalam menyelesaikan masalah, bukan malah menambah masalah. Semoga kelak aku akan hidup bersama laki-laki yang apa yang dia katakan dan lakukan, masuk akal bagiku.

Lelah sekali harus pasang poker face tiap bertemu orang dengan komentar demikian. Beberapa memang hanya selintas saja, tidak pernah aku anggap serius. Tapi, beberapa kadang juga sangat mengganggu pikiran. Sampai ketika sedang tidak melakukan apa-apa, ada pikiran selintas yang membenarkan omong kosong-omong kosong tersebut.

Jangan-jangan kenapa aku belum menikah karena ini, karena itu, harusnya begini, harusnya begitu. Padahal aku tahu persis kenapa aku belum seperti teman-temanku yang lain. Ya karena memang aku belum mau menikah. Sampai kapan? Enggak tahu.

Bukankah memang tidak ada yang benar-benar tahu hidup ini akan seperti apa?

Yang sial adalah orang-orang di sekitar kita yang asli ingin kusambelin mulutnya yang suka bilang “Nunggu apa lagi, sih, kamu itu sudah waktuya menikah.” Atau “Mbak, buru-buru deh, Mbak. Enak tahu nikah, Mbak. Bener, deh.”

Yang terakhir sounds familiar bukan? Hahaha.

Jumat, 18 Juni 2021

THE UNSPOKEN

Juni 18, 2021 0 Comments

Satu hal yang gue sadari ketika nanti lu menikah adalah pertanyaan: “Kalo kamu nikah Mey main sama siapa, dong?” Ya, kan? Pasti lu sering dapat pertanyaan itu akhir-akhir ini. Karena gue juga begitu.

Woh, seperti yang sudah sering banget kita bahas, bahwa pada akhirnya nanti semua bakal pergi buat melanjutkan hidup. Entah itu pergi buat kerja, pergi buat meraih cita-cita, atau pergi karena melanjutkan hidup sama teman hidup.

Sial bener, pas nulis ini pas banget playlist gue sampe di lagu Sampai Jumpa Lagi punya Endank Soekamti.

Kita juga sama-sama sepakat soal perubahan setelah menikah. Sebelum menikah mungkin kita sering bilang ke diri kita masing-masing pokoknya jangan sampai berubah pas nanti udah nikah. Tapi, Woh, kayaknya susah buat enggak berubah. Pasti berubah, pasti enggak akan sama kayak dulu lagi. Yang paling kelihatan adalah fisik kita yang bakal berjauhan.

Let me confess one thing. Gue sebenernya enggak punya nyali buat bilang “Woh, lu harus banget nikah secepat ini?” atau “Woh, tinggal di Banyuwangi aja napa abis nikah.” Gue bener-bener enggak megizinkan pertanyaan itu keluar dari mulut gue.

Dulu, kalo lu ngeh, pas lu ke rumah dan lu cerita soal Ari dan keluarganya yang mau datang ke Banyuwangi. Kalo lu ngeh gimana respon gue, lu pasti kerasa kalau gue agak enggak excited. Hahaha. Gimana, ya. Kayak aneh aja temen main gue tiba-tiba udah mau dilamar orang.

Gue minta maaf banget waktu lamaran datangnya telat, dan kalo lu tau perasaan gue tiap lu cerita soal Cak Opik yang ngomel-ngomel karena enggak ada satu pun temen lu yang dateng padahal temen lu seabrek, aduh itu muncul lagi perasaan bersalah. Terus tiba-tiba gue juga jadi sok ngerti gimana perasaan ibuk yang waktu itu enggak ada angin enggak ada hujan tiba-tiba nangis (mana pas ada gue lagi) pas kelar acara lamaran lu. Gue aja enggak rela lu dibawa pergi jauh, apalagi ibuk.

Akhirnya sampai juga lu di fase ini, Woh. Menikah. Menikah sama orang yang dulu sempat kita teriak-teriakin namanya di lapangan GOR. Buset, Gusti Allah wadidaw bener ya, wkwkwk. I wish you nothing but the best, Woh. Ya, gimana, mau ngasih duit 10 Milyar juga gue enggak punya. Kalaupun ada, ya mending buat gue sendiri tuh 10 M. Ngebayarin keluarga cemara KW9 plus orang tua masing-masing naik haji kayaknya masih ada sisa. Bisa lah kita keliling Indonesia.

Gue tahu lu pasti udah paham banget soal membangun rumah tangga. Lu udah belajar sama banyak orang di sekitar lu. Tapi, semakin banyak belajar pasti semakin ngerasa enggak tahu apa-apa, ya? Iya nggak, sih? Enggak apa-apa. Emang enggak semua hal harus kita kuasai. Karena teori sama praktik susah bener sinkronnya.

Aduh, ini sebenernya gue mau nulis apaaa~

Mau bilang terima kasih banyak buat semua waktu yang sudah kita lalui sama-sama. Buat ritual mandi, ritual makan mi rebus, ritual makan mi ayam, ritual nambel ban, ritual nyobain kopisyop baru, ritual morotin pak bos, dan ritual-ritual lain yang gue lupa apa aja.

Gila, ya. Kalau gue buka-buka lagi folder foto dari zaman kita kuliah, banyaaaaaaaak banget momen yang kita lalui sama-sama. Kesana-kemari ikut acara organisasi, kesana-kemari ikut seminar, kesana-kemari ketemu orang-orang keren.

Gue bakal ingat terus momen kita naik ke bukit (aduh lupa apa namanya, pokoknya deket watu dodol) terus sarapan roti sama minum Ultramilk di atas. Itu kayaknya momen pertama kali lu cerita banyak banget soal diri lu dan keluarga. Tahu, nggak, gue speechless waktu itu. Gila ini anak bisa percaya banget sama orang yang dia ajak ngobrol sampe kehidupannya dia ceritain.

Mau bilang terima kasih juga buat jadi bagian dari proses hidup gue. Buat semua obrolan menyenangkan sampai obrolan yang enggak ada faedahnya. Buat hal-hal yang mendewasakan gue. Buat semua pengalaman berharga yang kalau dipikir lagi enggak bakal mungkin gue lakuin kalo enggak sama lu. Contoh: ke Jember. Motor diparkir di Kalisetail terus kita sok ngide berangkat ke Jember. Pulang hari itu juga jam sembilan malam. Gila emang lu, wkwkwk. Contoh (lagi): dorong motor jam setengah dua belas malam di Alasmalang karena ban bocor. Emang udah gilaaaaaaa. Contoh (lagi dan lagi): naik Ijen pakai gamis. Astagaaaaaaa.

Lu adalah perempuan paling udah santai aja yang gue kenal, Woh. Hidup kayak ringan-ringan aja kalau lagi sama lu, heran bener. Ada banyak hal yang gue pelajari dari lu, dan itu salah satunya, ride the wave.

Hmm, apa lagi, ya. Kalau mau panjang ini tulisan bisa panjang banget, enggak cukup dua halaman microsoft word. Itu aja, lah. Kepanjangan juga kasihan yang baca.

Gue enggak bakal sok ngasih nasihat buat pernikahan lu sama Ari. Gue cuma pesen satu hal, nanti setelah menikah jangan jadi nyebelin dengan nyuruh-nyuruh yang single buat buru-buru nikah. Ya enggak bakalan laaaaah. Orang lu aja sebel sama orang model begitu, wkwkwk.

Kata orang, semakin gede sirkel kita semakin itu-itu aja. Dan, gue happy menyadari bahwa sirkel gue emang itu-itu aja. Karena mereka yang itu-itu aja ini punya kualitas di hidup gue. Dan, gue juga happy bahwa satu per satu dari sirkel gue yang itu-itu aja ini pada akhirnya memutuskan untuk menikah.

Selamat melanjutkan hidup sama Ari, ya. Buat semua keresahan soal berumah tangga yang sering kita diskusikan, semoga enggak kejadian. Kalaupun kejadian, semoga enggak serem-serem amat.

Nah, menjawab pertanyaan teman-teman soal kalau Bibeh nikah Mey main sama siapa? Man, actually I’m homebody. Pada dasarnya saya sangat mencintai rumah. Saya senang sekali ada di rumah. Kalau enggak ada temen buat main, ya enggak main.

Orang main tuh kalau menurut saya harus sama orang yang nyaman buat dia. Namanya juga main, pingin seneng-seneng, ketawa-ketawa, ngapain main kalau enggak sama orang yang bikin kita nyaman?

Senin, 31 Mei 2021

TIGA SATU

Mei 31, 2021 0 Comments

Mengulang syukur kali ini dipersembahkan untuk pernikahan ibu dan bapak yang memasuki usia 27 tahun dan aku yang memasuki usia 26 tahun. Tidak henti-hentinya aku takjub pada kuasa Tuhan yang membuat tanggal sekaligus bulan pernikahan orang tuaku dan hari kelahiranku sama. Bapak dan ibu menikah tanggal 31 Mei 1994. Aku lahir tanggal 31 Mei 1995. Tepat setahun setelah mereka menikah.

Aku lahir secara normal, tidak sesar. Itulah yang membuat orang tuaku takjub dan aku juga, tentu saja. Karena karunia itu akhirnya setiap tahun kami selalu mensyukuri dua hal secara bersamaan. Ya ulang tahun pernikahan bapak dan ibu, ya ulang tahunku.

Perasaan baru kemarin lulus kuliah, eh sekarang sudah 26 tahun aja. Gimana rasanya? Rasanya masih jadi beban keluarga. Jiaaah~

Rasanya campur aduk. Masih ingat betul iklan lawas yang beberapa waktu lalu viral. Jadi orang gede menyenangkan, tapi susah dijalanin. Sebetulnya sampai sekarang aku masih mencari-cari dimana menyenangkannya dari jadi orang gede. Yang enak itu ya seusia Araa atau Ai yang kalau marah enggak pernah lama. Bahkan hanya hitungan menit terus chill lagi.

Quarter life crisis, katanya. Fase dimana sering mempertanyakan fungsi hadir di dunia ini buat apa. Fase dimana bertanya-tanya tujuan hidup kita apa. Buatku, usia 26 ini penuh dengan kehilangan. Aku kehilangan banyak teman karena mereka harus melanjutkan hidup mereka bersama pasangan.

Memang menikah tidak lantas merenggut pertemanan, tapi sudah pasti tidak akan sama lagi seperti yang dulu kita rasakan. Rasanya seperti tiba-tiba kosong, ada sesuatu yang hilang.

Jadi orang gede juga jadi makin banyak pikiran. Makin gede juga tanggung jawabnya. Mati-matian berusaha nggak terlalu dipikirin, nyatanya ya masih aja kepikiran. Terus gimana? Ya, gimana, jalanin. Meski dengan terseok-seok, berdarah-darah, sampai Tuhan bilang udah.

Aku terus berusaha untuk menjadi versi terbaik dari diriku. Setiap hari belajar dari banyak orang, dari banyak hal. Sebisa mungkin enggak jadi bitter adult. Kebayang nggak sih jadi bitter pas udah gede? Mengusik hidup orang lain, ikut campur urusan orang lain sampai komentarin hal-hal remeh tentang orang lain.

Kadang kalau udah diem, lagi enggak ngapa-ngapain suka kepikiran “sebenarnya apa sih yang mau aku tuju dalam hidup ini? harapan apa lagi sih yang mau aku capai?”

Rasanya sekarang ini lebih ke “Ya udah, lah, ya Allah. Ikut aja gimana baiknya.”

Kamis, 22 April 2021

H PLUS SATU #7

April 22, 2021 0 Comments

Selasa, 20 April 2021.

Aku bangun jam lima kurang. Terbangun karena salah satu pasien yang ada di kamar kami sepertinya sedang kesakitan. Kamar nomor 32 ini berisi tiga orang pasien. Satunya seorang ibu muda yang baru melairkan, satunya aku, satunya lagi seorang ibu yang entah apa sakitnya aku tidak tahu. Tapi, yang terakhir ini yang paling parah diantara kami.

Aku ikut merasakan sedih ketika beliau kesakitan, menangis, dan sering muntah ketika makan baru dapat sesuap. Setelah ke kamar mandi dan menyeka muka serta badan (tidak lupa pakai gincu, mottonya tetap: meski sakit harus shining, shimmering, splendid) aku mengganti pakaian pasienku dengan baju ganti yang aku bawa dari rumah.

Setiap di sini aku selalu mengganti sendiri pakaianku (tanpa bantuan perawat) yang mengakibatkan selang infus berwarna merah karena darahnya naik, huft. Kalau sudah begitu aku akan berdiam diri sejenak dan melemaskan tanganku, menunggu darahnya berangsur turun kembali.

Setelah berkemas, merapikan tempat tidur dan aku pun sudah rapi aku duduk di kursi lipat yang disediakan sambil nonton youtube. Sarapan datang, aku makan. Suster datang, aku disuntik. Sampai dapat setengah hari aku mulai bosan. Nonton youtube, sudah. Nonton drama, sudah. Tapi, belum ada tanda-tanda aku diperbolehkan untuk pulang. Akhirnya aku memutuskan untuk istirahat saja. Setiap bertanya ke perawat pasti jawabannya “nunggu dokternya ya, mbak.”

Kali ini bapak dan ibu tidak datang. Jadi, seharian di hari Selasa itu aku sendirian di rumah sakit sampai akhirnya dr. Radhi datang untuk cek keadaanku dan akhirnya memperbolehkan aku pulang. Baru setelah itu aku menelpon ibu dan meminta bapak untuk menjemput.

Tapi, ternyata prosedur untuk keluar rumah sakit juga tidak singkat. Sejak dr. Radhi datang dan memperbolehkan pulang (sekitar jam setengah empat sore) aku baru benar-benar keluar dari rumah sakit jam tujuh malam. Lama, bukan? :)

Setelah mengambil obat dan diberi jadwal untuk kontrol di meja administrasi aku pulang ke rumah. Akhirnya bertemu ibu dan Ai. How do I miss them so much. Setelah diseka oleh ibu (sambil menceritakan banyak hal) aku tidur karena besoknya aku siap siaran lagi.


Rabu, 21 April 2021

HARI H #6

April 21, 2021 0 Comments

Menulis catatan ini di hari Rabu dimana aku sudah selesai menjalani operasi. Masuk rumah sakit Minggu malam dan keluar rumah sakit Selasa malam. Tulisan terakhir aku menulis Minggu malam, ketika pertama masuk ke kamar rumah sakit.

Kali ini aku akan bercerita pengalaman dari Senin dan Selasa. Here we go~

Senin, 19 April 2021.

Aku terbangun pukul 00.44 karena gerah melanda dan mungkin juga efek gugup karena paginya akan melangsungkan operasi. Kurang lebih dua jam aku tidak bisa kembali tidur. Aku sendirian, tidak ada bapak dan ibu atau siapapun yang menemaniku. Memang aku yang minta, kasihan juga kalau bapak harus berjaga dan tidur di lantai. Toh, aku bukannya dalam kondisi tidak berdaya.

Cuma ya emang si infus ini bikin mobilitas jadi terbatas, bingung obah. Setelah minum air putih (mumpung belum masuk waktu puasa) dan buang air kecil yang jadi sangat merepotkan karena harus geret-geret tiang infus dan juga setelah ngobrol sama Donat di WA aku melanjutkan tidur. Enggak nyenyak-nyenyak banget tapi ya enggak apa-apa.

Aku tidak tahu berapa jam sekali perawat datang untuk cek infus, cek tekanan darah dan memberikan suntikan obat padaku. Yang jelas mereka rutin datang untuk kontrol. Pagi tiba, setelah cuci muka, gosok gigi dan gincuan (boleh jadi aku akan operasi tapi tetap harus shining shimmering splendid) seorang perawat datang memberikan baju ganti untuk pasien. Sumpah, ya, warna bajunya lucu banget kayak baju PNS terus pas dipake kayak baju kalau lagi mau spa.

Bapak datang kira-kira jam delapan, beliau menunggu sampai aku dibawa perawat menuju ruang operasi. Sepanjang menunggu setengah sembilan aku lupa melakukan apa saja, hahaha. Tiba-tiba sudah datang dua perawat yang siap membawaku ke ruang operasi. Bagian ini akan aku ingat selalu. Setelah menyerahkan ponsel ke bapak aku pindah ke ranjang yang mereka bawa. Setelah mengenakan masker dan jilbab yang sepaket dengan baju pasien aku berbaring.

Perawat mendorong bangsal keluar kamar. Bagian ini aku merasakan mual pada perutku. Rasanya ingin sekali muntah tapi aku meyakinkan diri sendiri bahwa itu hanya efek aku terlalu tegang. Beberapa menit yang lalu masih santai nonton Lapor Pak! di youtube, tapi sekarang sudah menuju ruang operasi aja :’)

Sampai di meja administrasi (jarak kamarku ke meja administrasi ini kurang lebih lima meter, lah) mual yang tadi kurasakan hilang. Aku lega. Berkali-kali aku mengucap selawat dan menarik napas panjang. Masuk ke ruang operasi aku disambut dua perawat lainnya. Mereka menanyakan keadaanku dan satu perawat perempuan membantuku berganti pakaian operasi. Kali ini warnanya ijo botol, salah satu kelompok warna hijau favoritku. Ijonya baguuus banget.

Baju, jilbab dan masker sudah terpasang. Aku tidak langsung ditangani, masih menunggu beberapa hal lain yang entah apa. Aku santai saja, sambil menunggu sambil humming selawat syifa dan entah humming apa lagi, random. Pintu terbuka, seorang perawat mendorong bangsalku menuju ruang operasi sesungguhnya.

Aku hanya bisa melihat langit-lagit ruangan serba putih itu. Sumpah demi apapun selama ini aku hanya melihat adegan-adegan ini di drama yang sering kutonton. Tidak kusangka aku mengalaminya sendiri di dunia nyata. Aku melihat tiga orang pria dan dua perempuan di dalam ruangan itu.

Tidak lama setelah itu dr. Danang (dokter anastesi) datang. Beliau menyapaku ramah sekali. Aku ingat sempat berdialog dengan salah seorang perawat soal rasa gugupku karena ini pengalaman pertama. Aku juga ingat masih sempat bercanda soal dr. Radhi yang belum datang padahal katanya lima menit lagi. Aku melempar jokes yang populer di kalangan nahdliyyin soal Waktu Indonesia Barat (WIB) yang diplesetkan menjadi Waktu Insyaallah Berubah. Aku mendengar dr. Danang dan beberapa perawat tertawa. Setelah itu aku seperti pingsan.

Mataku berat sekali ketika aku mendengar suara azan duhur. Samar-samar aku mendengar perawat sedang berbincang dan aku bertanya apakah operasiku sudah selesai. Setelah dijawab oleh perawat tersebut aku kembali tertidur. Rasanya ngantuuuuuk banget. Baru ketika aku membuka mata dengan sempurna aku melihat tulisan recovery room. Seorang perawat menghampiriku dan mengecek keadaanku. Aku bertanya berapa lama operasi berlangsung, kurang lebih satu jam setengah, katanya.

Aku dibiarkan beristirahat dan tidak lama kemudian dibawa kembali menuju kamar. Sampai di kamar aku lupa melakukan apa, hahaha. Oh, bapak datang dan bertanya keadaanku. Kemudian bapak bergantian dengan ibu untuk masuk ke kamar. Bapak, Ai dan Ara menunggu di bale yang disediakan di belakang kamar untuk keluarga pasien. Karena pandemi jadi rumah sakit Yasmin meniadakan besuk.

Ibu masuk kamar dan makan siang untukku datang. Aku lupa apa menunya, yang jelas nasinya bubur. Efek puasa sebelum operasi dan lelah setelah operasi aku makan dengan lahap, habis tak bersisa. Keluargaku membesuk sampai kira-kira jam dua siang. Kemudian aku kembali sendirian.

Selesai operasi aku merasa tubuhku baik-baik saja. Aku bisa jalan ke teras, aku bisa ke kamar kecil, sehingga aku mengira sore atau malam itu juga aku boleh pulang dan besok paginya sudah bisa mulai siaran. Ternyata tidak. Aku masih dalam pengawasan.

Sore itu, ketika akan menyantap makan sore, kakak sepupuku datang. Aku terkejut bukan main karena memang keluarga besarku tidak ada yang tahu aku dioperasi. Radarku langsung menangkap sesuatu, pasti Inspektur Vijay. Hikmahnya aku jadi punya teman ngobrol, meski tidak lama. Menceritakan pengalaman operasi padanya dan tak lupa soal baju operasi yang warnanya aku suka banget itu. Kakakku bilang “kamu nggak fokus sama penyakitmu malah fokus sama baju, ya.” Kami tertawa, iya juga.

Menjelang maghrib mereka pulang dan aku melnajutkan makanku. Setelahnya aku kembali beres-beres badan (baca: seka) dan membereskan tempat tidur. Setelah maghrib bapak, ibu dan Ai datang. Ibu di kamar menemaniku, bapak dan Ai di bale depan kamar.

Aku senang ibu datang. Karena bisa punya teman ngobrol dan aku merasa nyaman saja ada ibu. Lumayan lama mereka menjengukku, sekira jam setengah sembilan mereka baru pulang karena besoknya Ai harus sekolah.

Malam setelah operasi itu aku tidur dengan nyenyak, nyenyak sekali.

foto senin malam, setelah senin paginya operasi.
kayak nggak habis operasi sih ini.

Minggu, 18 April 2021

OPNAME #5

April 18, 2021 0 Comments

Aku baru tahu bahwa diinfus ternyata sesakit ini. Kalau dipikir-pikir benar juga kata Donat. Ngapain diinfus segala? Aku jawab mungkin karena setelah ini tidak boleh makan atau minum jadi asupan nutrisinya ya dari infus.

Malam ini aku tidur di rumah sakit. Setelah datang ke IGD dan menandatangani segala macam berkas akhirnya aku diantar masuk ke kamar. Fasilitas kelas tiga, sesuai dengan keanggotaanku di BPJS.

Aku bermalam sendiri. Setelah kupikir lagi rasanya aku bisa sendiri. Bapak dan Ibuku juga mengamini. Awalnya bapak yang ingin menjagaku, tapi kemudian kami memikirkan satu hal yang sama. Aku tidak mengalami penyakit yang butuh perhatian ekstra. Jadi, misal aku bermalam sendiri masih sangat memungkinkan.

Perjalanan dari IGD ke kamar aku bersama ibu dan diantar seorang dokter. Aku bicara pada dokternya, "Dok, misal malam ini saya sendirian, nggak ada yang nemenin gpp, kan?"

Dokternya tertawa, "Ya gpp, yang penting mbaknya."

Ya juga, hahaha. Mungkin dalam hati dokter nggak habis pikir ada pasien yang mau aja nginep di rumah sakit sendirian.

Sambil menunggu jam terakhir makan dan minum aku nonton Lapor Pak! untuk menemaniku malam ini. Satu kamar berisi tiga orang. Satu pasien wanita, sendirian. Satu lagi pasien wanita, ditemani suami. Satunya aku, sendirian.

Aduh, rasanya gugup sekali menyadari bahwa besok pagi aku akan operasi.

Kamar III, nomor 32. Rumah Sakit Yasmin.

Sabtu, 17 April 2021

MENUJU OPERASI #4

April 17, 2021 0 Comments

Kemarin jam tujuh pagi aku sudah sampai lagi di Yasmin. Kali ini aku harus melakukan antigen, foto thorax dan bertemu dokter anastesi. Setelah ke meja pendaftaran aku menuju lab untuk pemeriksaan antigen. Aku dibawa menuju poli paru untuk diperiksa.

Ini pertama kalinya hidungku disogok dan kalimat pertama yang keluar dari mulutku ke petugasnya adalah “aduh mbak geli banget”. Rasanya seperti sebatang lidi dimasukkan ke dalam hidungku. Geli dan lumayan menimbulkan genangan air di mata.

Proses yang singkat itu berlalu tanpa ada kendala. Aku kembali menunggu di depan lab hingga kemudian petugas memintaku untuk menuju radiologi. Nah, di hari aku bertemu dr. Radhi tempo hari ketika beliau memberitahuku Jumat harus cek lab dan foto, aku mengira foto di sini adalah foto wajah pasien.

Ya, maklum saja belum pernah operasi, guise. Ternyata foto yang di maksud di sini adalah foto thorax. Aku menuju ke ruang radiologi dan menunggu beberapa saat sampai akhirnya tiba giliran. Masuk ruang radiologi disambut dinginnya ruangan dan hangatnya petugas pagi itu.

Petugas menanyakan nama lengkap, usia dan alamatku untuk ditulis di map coklat yang nantinya berisi hasil foto paru-paruku. Lumayan gugup, karena lagi-lagi ini adalah pengalaman pertama. Setelah melepas bra dan melepas jarum pentul (fyi, kalau mau rontgen segala macam benda yang melekat di tubuh harus dilepas).

Setelah diarahkan menuju sebuah kotak (yang lebih mirip papan tulis kecil) aku membelakangi petugas dan menempelkan tubuh bagian atasku ke benda dingin itu. Setelah mengikuti arahan dari petugas untuk ambil napas dan buang napas, prosedur selesai.

Aku tidak menyangka semuanya secepat ini. Mudah saja ternyata. Setelah dari ruang radiologi aku menuju poli anastesi. Di bagian ini aku menunggu cukup lama. Duduk di depan poli sambil sesekali melihat hasil foto paru-paruku yang imut sekali. Beneran, deh, itu gambar paru-paru bagus banget. Selama ini aku hanya melihat yang demikian di film-film atau drama. Sekarang kejadian betul.

Setengah sepuluh lewat aku baru masuk ke poli anastesi. Bertemu dokter Danang yang luar biasa ramah. Beliau menanyakan nama panggilanku dan bertanya dimana aku bekerja. Kemudian beliau juga menanyakan hal-hal dasar sebagai seorang dokter anastesi. Seperti pernah dirawat di rumah sakit atau tidak, pernah sesak napas atau tidak, pernah operasi atau tidak.

Semua yang ditanyakan dr. Danang tidak pernah aku alami. Karena memang inilah pengalaman pertama dan semoga terakhir kali. Setelah memeriksa keadaanku beliau memberiku kesempatan untuk bertanya soal operasiku Senin depan. Ada banyak sekali pertanyaan di kepala tapi yang keluar hanya berapa lama kira-kira durasi operasi dan aku mengutarakan kegugupanku karena pertama kali menjalani operasi.

Sesi dengan dr. Danang usai dan aku keluar ruangan dengan perasaan lega. Entah kenapa aku jadi lebih percaya diri setelah menjalani semua prosedur dari awal hingga akhir. Gugup jelas, tapi tetap harus optimis.

Saat menulis catatan ini aku sedang memikirkan apa saja yang nanti harus aku bawa ketika opname di rumah sakit. Gugup, guise. Lebih gugup dari talkshow sama gubernur.

Kamis, 15 April 2021

AKHIRNYA OPERASI JUGA #3

April 15, 2021 0 Comments

“Operasinya Senin pagi, ya. Jumat cek darah sama poto terus Minggu malam ngamar.”

Itulah kalimat pertama dr. Radhi ketika aku datang untuk ketiga kalinya kemarin siang. “Siap, kan?” katanya lagi menyadarkan aku bahwa semua terjadi begitu cepat. Aku menyanggupi. Setelah itu pikiranku langsung tertuju pada jadwal siaran yang harus aku alihkan kepada kawan-kawan di Mandala.

Aku lupa kapan terakhir kali mengatakan tidak siap pada sebuah pengalaman baru. Dulu disuruh memandu talkshow gubernur aku mengiyakan saja tanpa beban, baru ketika mendekati hari H kelimpungan setengah mati karena gugup. Saat diminta ngemc acara yang mendatangkan tamu penting aku juga mengiyakan saja tanpa beban, baru nanti setelahnya akan mengutuki diri sendiri kenapa mau-mau saja.

Tapi, aku menyadari, selama orang-orang memintaku untuk melakukan sesuatu itu berarti mereka menganggap aku mampu. Dan sejauh ini aku juga selalu merasa bahwa aku mampu. Tapi, itu adalah pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan duniaku. Memandu talkshow, memandu acara, menjadi moderator, itu memang keterampilan yang selalu ingin aku asah setiap hari.

Yang ini berbeda. Operasi adalah pengalaman pertama dalam hidupku. Meski bukan operasi luar biasa tetap saja aku gugup karena ini adalah pengalaman pertama. Kayaknya apa-apa yang berlabel “pengalaman pertama” akan selalu membuat kita gugup.

Sekarang ini aku sedang menyiapkan mental untuk menuju hari operasi tiba. Setelah mendapat kabar jadwal operasi aku segera memberi tahu keluarga di rumah, bibeh dan saus tiram. Benar-benar sirkel yang itu-itu saja.

Oh lupa, aku juga memberitahu kawan-kawan di Mandala karena selesai dari Yasmin siang kemarin aku segera menuju radio dan kebetulan sebagian besar karyawan sedang kumpul. Sekalian saja aku beritahu mereka soal operasi yang aku jalani karena akan berhubungan dengan jadwal siaranku yang harus mereka ambil alih.

Selama aku hidup rasanya baru kali ini aku melewati pengalaman yang begitu mendebarkan. Masuk ruang operasi. Rasa-rasanya selama ini aku hanya melihat hal itu di drama-drama Korea yang aku tonton. Aku terkesima dengan adegan-adegan operasi yang ada di drama. Hebat betul dokter-dokter ini. Apalagi Kim Sabu, tokoh fiksi di Romantic Doctor Kim.

Andai aku bisa ditangani langsung oleh Kim Sabu, apa daya dia tokoh fiksi belaka.

Wish me luck, guise. Semoga lekas selesai dan lekas prima kembali.

Rabu, 07 April 2021

YOK SEHAT YOK #2

April 07, 2021 0 Comments

Kali ini aku menunggu lumayan lama. Bukan lumayan lagi, tapi memang lama. Dapat nomor antrian dua puluh satu membuatku menunggu giliran sambil terkantuk-kantuk. Kali ini ada lumayan banyak pasien yang ingin bertemu dr. Radhi. Melihat sekelilingku aku jadi sadar bahwa bukan aku saja yang malang, ada banyak orang.

Aku datang jam setengah satu siang dan baru masuk ke ruangan dr. Radhi hampir jam tiga sore. Aku adalah pasien dua terakhir hari itu, dibelakangku ada satu pasien tersisa. Masuk ke ruangan aku segera menyerahkan hasil USG minggu lalu. Setelah membaca sejenak, beliau membenarkan ada sesuatu di kedua lenganku. Benar, itu adalah tumor jinak.

Beliau menanyakan mana dulu yang kira-kira harus diambil tindakan. Aku yang entah kerasukan apa hari itu menjawab lengan kanan. Beruntung dr. Radhi meyakinkan kembali, simpelnya begini “beneran lengan kanan dulu? ngga yang kiri dulu?”

Aku seperti sadar dari gendam. Lah iya, selama ini kan yang menganggu yang kiri, kenapa jadi yang kanan dulu yang harus diambil tindakan. Tidak ada sepuluh menit aku berada di ruangan. Setelahnya aku dirujuk ke laboratorium untuk pemeriksaan.

Sampai lab aku menyerahkan nomor antrian dan menunggu di depan ruangan. Sampai namaku dipanggil aku masuk dan duduk menghadap petugas perempuan yang memakai APD. Aku kagum pada petugas lab yang semuanya adalah perempuan. Keren banget.

Sebelum diambil darah aku diperiksa bagian telinga oleh petugas. Aku nggak paham apa tujuannya, yang jelas aku nurut aja. Sampailah pada sesi ambil darah. Mbak petugasnya, tanpa babibu, nggak diitung dulu satu dua tiga, tiba-tiba saja langsung menyuntikku yang sedikit terkejut. Rasanya kayak diserang pas kita nggak siap, minimal jaga-jaga, lah.

Selesai segala prosedur aku diizinkan untuk pulang dan datang lagi minggu depannya. Gila, durasi menunggu yang lama tadi hanya berakhir dengan begini saja alias ya elah udah nih gini doang?

Kamis, 01 April 2021

YOK SEHAT YOK #1

April 01, 2021 0 Comments

Kemarin menjadi hari yang sibuk. Seharusnya Rabu adalah hari liburku bertugas siaran, tapi kemarin aku menghabiskan setengah hari mulai dari siang dengan kesana-kemari. Pertama aku ke Yasmin untuk bertemu dr. Radhi setelah sebelumnya mendapat rujukan dari dr. Wulan yang bertugas di Puskesmas Sobo.

Aku lupa pernah cerita soal ini atau tidak tapi seingatku pernah aku singgung sedikit soal benjolan yang ada di lengan kanan dan kiriku. Siang kemarin aku bertemu dr. Radhi untuk pemeriksaan. Setelah melihat bentuk dan letak benjolan aku disarankan untuk USG. Benjolan di lengan kanan masih di taraf wajar menurutku. Tapi kalau di lengan kiri ini sudah agak aneh. Karena dia mengubah bentuk lenganku.

Suster bingung, dr. Radhi bingung, apalagi aku. Dari ruangan dr. Radhi aku menuju loket pendaftaran dan minta dibuatkan janji dengan dokter yang ada di poli radiologi. Aku dapat nomor urut lima di jam 18.00 hari itu juga.

Selesai dari Yasmin aku bertemu Jingga (bagus, ya, namanya) ketua komisariat PMII Uniba. Selasa kemarin dia whatsapp dan meminta bantuan untuk mengisi materi public speaking untuk internal mereka. Aku mengiyakan dan dia minta bertemu untuk menjelaskan konsep yang ada di kepalanya.

Akhirnya aku bertemu Jingga di sekretariat mereka. Kurang lebih tiga puluh menit ngobrol dan aku sudah tahu apa saja nanti tujuan yang ingin dicapai. Mirip-mirip lah dengan sasaran tujuan rekan-rekan PC IPNU tempo hari.

Pulang ke rumah sekitar jam 5 sore dan masih sempat beres-beres hingga kemudian aku sampai lagi di Yasmin. Aku sampai jam 6 lewat sedikit. Aku sudah panik karena takut terlambat. Ssetelah drama salah ruangan yang membuat ngos-ngosan akhirnya aku duduk di depan ruangan poli radiologi (yang ternyata letaknya di belakang ruangan dr. Radhi).

Aku was-was apakah pasien yang ada di dalam ruangan itu sudah lewat dari nomor urutku. Ketika pasien tersebut keluar aku langsung bertanya beliau nomor berapa. Legaaa, ternyata beliau nomor urut pertama. Semakin lama tempat duduk di depan poli kandungan dan radiologi ini semakin ramai. Rata-rata pasien yang datang adalah ibu hamil.

Sepanjang menunggu nomor urutku dipanggil aku hanya bisa berdoa agar pemeriksaan nanti berjalan dengan lancar dan diagnosa benjolan di lenganku ini tidak berbahaya. Tadi siang sih dr. Radhi bilang kalau kemungkinan benjolan itu adalah tumor jinak. Meski jinak kan tetep ya namanya tumor, lumayan nambahin pikiran, wkwkwk.

Tapi, dari kejadian ini aku jadi bertekad untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat. Sumpah deh ya Allah aku masih mau hidup lama dengan keluarga. Aku nggak mau mati muda dulu ini kayak Mbak Zakia. Masih mau berbagi ilmu sama banyak orang. Masih mau siaran radio sampai tua. Masih mau memandu banyak acara. Masih mau membahagiakan bapak dan ibu. Masih mau lihat Fahri lulus sekolah terus jadi anak remaja yang tampan (seperti yang sering dia ucapkan ketika melihat dirinya sendiri di cermin).

Selama ini kalau ada yang bilang aku kurus, aku nggak pernah ambil pusing karena memang kenyataannya begitu. Ya terus mau gimana? Sekarang aku sadar kalau ikhtiar menjadi berisi ini bukan sekadar terganggu sama ucapan orang, tapi murni untuk kesehatan tubuhku sendiri. Semoga dilancarkan segala ikhtiar ini ya, guise.

Buat semua yang sedang berikhtiar untuk menjadi lebih baik, semangat. Kalian hebat sudah bertahan sejauh ini. Minggu depan aku bertemu lagi dengan dr. Radhi. Doakan semoga lancar.

Eh, aku belum cerita bagian masuk ke poli radiologi, ya? Ya udah, nggak jadi pamit dulu, wkwkwk.

Akhirnya suster memanggil nomor urut lima, which is mine. Aku masuk dan menemukan dr. Nizam yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaan milik pasien sebelumku. Suster mempersilakan aku untuk berbaring di tempat tidur. Aku lumayan tegang, karena ini pertama kalinya USG. Pertama kali USG bukan USG kehamilan malah benjolan, hahaha.

Setelah dr. Nizam melihat-lihat benjolan di kedua lengan, kemudian beliau memeriksa benjolan dengan alat yang entah apa namanya. Lamaaaa sekali sampai beliau benar-benar menyelesaikan pekerjaannya. Sepanjang memeriksa beliau juga menanyakan beberapa hal standar soal benjolanku itu. Aku juga bisa merasakan aku mulai berbicara hal-hal yang entah apa saja yang sebetulnya tidak ditanyakan oleh dr. Nizam. Yah mau bagaimana lagi, namanya juga deg-degan.

Selesai USG aku dipersilakan untuk menunggu hasilnya di luar. Aku keluar ruangan dan duduk bersama dengan pasien yang lain. Tidak lama kemudian hasilnya keluar dan aku akan datang lagi minggu depan. Sampai rumah aku membaca hasil USG yang sama sekali tidak aku mengerti artinya karena aneh banget ya bahasa kedokteran, nih.

Apapun itu, aku optimis sehat kembali. Aku optimis benjolan di lengan kanan dan kiri akan hilang. Sampai ketemu lagi di catatan khusus ini minggu depan.


Minggu, 21 Maret 2021

#MeetUpKawanPuan3: Toxic Relationship

Maret 21, 2021 0 Comments
Seperti biasa di minggu ketiga setiap bulannya kami kembali melaksanakan meet up kawan puan. Hari ini meet up ketiga yang kami lakukan dan masih terus dibersamai oleh Bu Nina.

Saya bersyukur atas banyak hal yang terjadi dalam hidup saya, meski banyak juga yang saya sambati. Salah satunya adalah saya bersyukur bisa diberikan sirkel yang luar biasa memberi banyak ilmu dan pengalaman. Saya bisa berkawan dengan mereka yang akhirnya satu pemikiran ingin membentuk sebuah lingkaran.

Hari ini yang kami bahas adalah relasi beracun atau toxic relationship. Orang kadang nggak sadar dia keracunan sampai dia muntah dan masuk rumah sakit. Itu kata Bu Nina ketika muncul pernyataan "kadang kita sendiri nggak tahu kita berada pada hubungan yang toksik atau enggak."

Saat alaram dalam tubuh kita sudah berbunyi yang menandakan bahwa kita berada di sebuah relasi yang tidak sehat, tidak jarang kita pencet snooze dan mengabaikan alaram itu. Kita berkutat mencari pembenaran, kita sibuk memberi pemakluman, sehingga abai pada kesehatan, mental terutama.

Meet up kali ini berjalan gayeng. Meski tidak semua perempuan mau bercerita paling tidak hari ini saya dapat lagi banyak pelajaran. Gila, ternyata orang sakit jiwa itu beneran ada. Selama ini cuma nonton psikopat di drama doang soalnya.

Membuat catatan ini dalam keadaan nguap terus yang itu tandanya ngantuk banget. Padahal pingin banget nulis panjang lebar soal meet up hari ini. Apa daya, tenaga tak ada.

IYA ATAU ENGGAK, BILANG. JANGAN HILANG.

Maret 21, 2021 0 Comments

Beberapa waktu yang lalu media sosial heboh dengan kasus Kaesang si anak pisang yang diduga melakukan ghosting pada Felicia. Aku tidak akan berusaha menjelaskan panjang lebar kasusnya, karena aku nggak paham. Biarlah jadi urusan muda-mudi itu. Kali ini aku nggak belajar apa-apa dari Kaesang, karena nggak paham.

Kalau dulu aku bisa mengambil pelajaran dari kasus Nia Ramadhani karena aku merasa relate sekali dengan profesi sebagai master of ceremony. Nanti lah akan aku tulis sendiri. Sekarang aku sedang tidak membahas Kaesang ataupun Nia Ramadhani.

Dari semua reaksi netizen yang timbul atas kasus ghosting anak presiden itu, ada satu reaksi yang aku cuit ulang karena sependapat dengannya. Cuitan milik Cania Cittairlanie. Dia bilang demikian:

Aku sangat setuju. Berkaca pada kasusku, tentu saja. Menulis catatan ini dalam kondisi menghitung hari melihat orang, yang harus kuakui aku harapkan untuk menjadi teman hidup, menikah dengan orang lain. Ya, aku kembali dihadapkan pada persoalan ditinggal menikah.

Kasus kedua ini, entah bagaimana aku harus bilang, terbilang cukup mudah aku atasi. Meski awalnya terasa sesak luar biasa. Bisa jadi karena waktu yang mendewasakan, aku berani berterus terang meski tidak mengubah keadaan.

Dengan terkuaknya misteri pengirim boneka hijau pada ulang tahunku yang entah keberapa, aku juga mengutarakan semua hal pada si pengirim. Aku tidak menyangka sama sekali bahwa dia yang mengirim hadiah itu, sama sekali. Setelah sekian lama kami tidak lagi berkomunikasi usai pertemuan waktu itu, aku menjadikan kesempatan itu untuk berterus terang.

Tentu aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama pada pria di masa lalu yang sempat aku idamkan untuk menghabiskan masa tua dengannya. Aku tidak mau kembali menjadi manusia jahat dengan tidak memberikan kepastian apapun.

Boleh jadi aku cakap berbicara di atas panggung. Tapi, untuk urusan yang satu ini, lidahku seperti kelu. Aku tak mau bertemu dengannya meski dia meminta. Aku merasa semua cukup dibicarakan lewat pesan teks. Mungkin karena aku menyukainya, jadi tak berani aku menatap matanya dan berbicara panjang lebar.

Akhirnya kami menyelesaikan semua urusan dan meluruskan keadaan. Aku, seperti yang dicuitkan Cania, memberikan kepastian kepada orang yang kuanggap spesial itu dan kemudian merelakan dia. Kali ini, semuanya terasa ringan. Kepastian itu tidak hanya meringankan langkahku, tapi juga dia.

Komunikasi antara kami, meski hanya lewat pesan teks, setidaknya memberikan kejelasan. Apa yang aku mau, apa yang aku harapkan dan apa yang aku rasakan. Aku menyadari dengan mengungkapkan semua perasaanku, tidak akan mengubah kenyataan bahwa dia telah memantapkan hati dengan orang lain.

Aku menyesali kejadian di masa lalu dimana aku tak sempat mengutarakan bagaimana perasaanku, apa yang aku inginkan, apa yang sebenarnya masih mengganjal di hatiku dan apa yang akhirnya membuatku enggan berumah tangga dengannya waktu itu.

Jika diingat kembali aku merasa bodoh. Aku bisa saja membuat alasan dengan mengatakan bahwa waktu itu aku masih sangat muda. Baru saja menamatkan diri dari kuliah sudah diajak nikah. Atau, aku tak tahu harus bagaimana karena aku tak punya pengalaman untuk berkomunikasi dan menjelaskan padanya bahwa aku belum siap. Tapi, aku tak mau mencari-cari alasan untuk sebuah pembenaran atas apa yang sudah aku lakukan.

Aku sudah mengakui perasaanku padanya, tapi kenapa dia masih memilih orang lain? Perlu diingat bahwa dunia ini tidak melulu tentang kita. Jadi, mari belajar untuk memperbaiki komunikasi. Belajar untuk mau memberi sebuah kepastian. Bisa belum tentu mau. Iya atau enggak, bilang. Jangan hilang.

Sabtu, 06 Februari 2021

Semangat, Mbak Nia.

Februari 06, 2021 0 Comments

Ketika hidup di zaman serba cepat, teknologi semakin di depan (yamaha kali ah), dunia terasa semakin jauh, dan pandemi nggak selesai-selesai, dunia maya kita selalu penuh dengan huru-hara. Setiap hari tidak ada kejadian yang luput dari sorotan. Ada saja hal-hal yang viral.

Seperti waktu itu yang dialami Nia Ramadhani. Potongan video dia ketika memandu Tik-tok Awards mendapat banyak sorotan, karena dianggap tidak profesional. Aku tidak berkomentar sebelum melihat sendiri versi penuh videonya. Jadi, aku putuskan untuk melihatnya sendiri di youtube.

Setelah selesai nonton baru aku berani memberikan pendapat. Aku mencuitkan pendapatku dan mendapat banyak respon dari netizen.

Jadi begini, menjadi master of ceremony itu sesuatu yang bisa dilatih. Kemampuan memandu acara tidak datang secara tiba-tiba. Lahir procot bisa cuap-cuap, enggak. Nangis mungkin iya. Dari Nia Ramadhani kita belajar bahwa menjadi MC itu tidak mudah.

Kecerdasan bicara kadang tidak dianggap sebagai sesuatu yang sudah sepatutnya mendapat value yang lebih. Aku menyadari hal ini ketika diminta untuk memandu acara sekaligus menjadi moderator di sebuah acara. Honorku lumayan besar pada waktu itu.

Aku sempat bertanya pada salah satu panitia yang kebetulan memang kawan sendiri. Dia bilang, yang akan terus aku kenang, bahwa kecerdasan bicara itu sudah sepatutnya dinilai lebih. Nggak bisa hanya dinilai dengan terima kasih. Tentu konteks acara yang kita bahas adalah acara besar. Kalau aku di hire secara profesional ya honornya juga harus profesional.

Kembali ke Nia Ramadhani. Ada banyak sekali yang bisa kita diskusikan soal kenapa Nia Ramadhani bisa seperti itu di atas panggung. Bahkan ada pengamat yang menilai apa yang dialami Nia itu adalah sebuah kecemasan. It’s natural. Siapa yang nggak nerveous ada di sebuah panggung besar dan ditonton seluruh Indonesia. Siapa yang nggak deg-degan memandu sebuah acara yang disiarkan langsung di tv nasional.

Ini bukan soal merendahkan sesama perempuan. Aku benar-benar mengambil pelajaran dari kejadian itu. Bahwa menjadi MC itu enggak mudah. Dan meski tidak mudah tapi masih banyak yang tidak benar-benar menganggapnya sebagai kemampuan yang layak mendapat apresiasi lebih.

Aku sadar semua butuh yang namanya proses. Pertama kali ngemc juga aku tidak langsung tampil memukau. Pertama kali ngemc juga aku tidak langsung mendapat imbalan atas apa yang sudah aku lakukan. Ada banyak sekali panggung yang aku lalui sebagai ajang aktualisasi diri. Menaklukan banyak panggung untuk mendapat pengalaman dan mematangkan kemampuan.

Percayalah, tidak mudah menjadi seorang pembawa acara. Tidak mudah membuat acara menjadi hidup dan memberikan kesan mendalam pada audience. Tidak mudah menjadi sorotan di atas panggung. Tidak mudah memikul tanggung jawab “berhasil atau tidaknya acara bergantung pada MC-nya.”

Dah begitu kalian tetep minta MC gratisan dengan dalih “konco dewe”. Kalau ngaku konco tuh mbok ya berkontribusi terhadap keberlangsungan hidup konconya. Kapan lagi kamu berkontribusi terhadap hidup temanmu? Bukan begitu?

Semangat terus, Mbak Nia Ramadhani. Jangan biarkan cocote netizen membuatmu berhenti belajar.

Senin, 04 Januari 2021

Catatan Menjelang Subuh

Januari 04, 2021 0 Comments
Menulis catatan ini sesaat setelah menyelesaikan makan mi kuah soto sambil mendengarkan GJLS. Tiga jenaka yang selalu menghiburku akhir-akhir ini.

Per satu Januari 2021 kami dapat jadwal siaran baru. Aku tidak lagi mendapat jatah siaran Senin pagi, tapi geser ke sore. Fiuh, akhirnya bisa merasakan bangun siang di awal pekan.

Karena perubahan jadwal itu pula akhirnya aku memulai lagi kebiasaan buruk yang seharusnya perlahan harus ditinggalkan, maraton nonton drama. Sampai aku menulis catatan ini aku belum tidur sama sekali. Ya sudahlah, sekalian subuhan.

Selamat menyambut Senin dengan bahagia, ya. Semoga kita diberikan kekuatan untuk melalui segala hal yang akan terjadi hari ini. Semangat Senin, semuanya!

Jumat, 01 Januari 2021

Mimpi Indah Awal Tahun

Januari 01, 2021 0 Comments

Mengawali 2021 dengan mimpi indah yang Tuhan selipkan dalam tidurku. Bangun dengan perasaan bahagia yang membuatku sadar, bahwa hal sesederhana mimpi saja mampu membuat manusia bahagia luar biasa.

Aku bermimpi keliling Belitong bersama orang-orang terkasih. Bapak, Ibu, Ardi dan Fahri. Kami keliling Belitong menggunakan mobil trailer seperti dalam Lovestruck in the City. Dalam mimpi itu aku bisa merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Datang ke tempat yang selama ini hanya bisa aku baca dalam novel Pak Cik.

Hasrat untuk pergi ke Belitong sama besarnya dengan hasrat ingin sampai ke Turki. Maka, pada tiap-tiap kesempatan menghadap Tuhan, aku selalu meratap pada-Nya agar dimampukan sampai ke dua tempat tersebut.

Kembali pada mimpi indah awal tahun tadi. Mobil trailer yang kami tumpangi meliuk-liuk melewati jalanan yang dikelilingi semak. Rasa-rasanya dalam mimpi itu kami sudah hampir tiba di SD Muhammadiyah, sekolah yang menyimpan cerita luar biasa. Tapi, Tuhan memilih untuk membangunkan aku.

Sungguh mimpi yang membuatku bangun dalam keadaan ingin menangis saking senangnya. Berawal dari mimpi, semoga itu jadi awal dari datangnya hal-hal baik di 2021. Tidak banyak yang aku harapkan, semoga kami sekeluarga sehat dan baik-baik saja itu sudah cukup.

Pandemi yang melanda dunia memang membuat susah siapa saja. Entah berapa banyak jiwa yang pergi meninggalkan kita. Masuk tahun baru tidak serta-merta membuat corona hilang. Berharap tahun ini kita bisa hidup sehat dan tidak terpapar corona saja sepertinya sudah cukup.


Sumber: instagram (at)museumkataandreahirata