Tentang Kami Yang Berbeda
Meydiana Isfandari
Desember 23, 2014
0 Comments
Malam ini aku kembali teringat padamu.
Kembali harus memutar kenangan saat kamu menyambutku dengan tawa khasmu ketika aku datang.
Wajahmu begitu teduh.
Wajahmu begitu tenang.
Dan tawamu yang memperlihatkan sebuah gigi emas di ujung kiri atas itu, selalu menyenangkan.
Kakung, aku rindu padamu.
Aku rindu saat aku berlari ke pangkuanmu ketika aku berkunjung kerumahmu di Kepundungan.
Aku rindu saat Kakung mengusap punggungku sambil berkata, "Wes mangan opo urung, ndang mangan disek."
Aku rindu saat aku menginjak punggungmu ketika Kakung lelah.
Kakung adalah orang yang teramat baik.
Aku tidak pernah melihat Kakung marah.
Aku tidak pernah mendengar Kakung berkata keras dan kasar.
Aku bersyukur sekali Kung, Allah telah memilih Ibu sebagai anak yang kau angkat sebagai anakmu,
Dengan begitu, aku bisa menjadi cucumu walaupun hanya cucu angkat.
Aku tidak pernah merasa terganggu dengan itu semua.
Dengan statusku yang bukan cucu kandung, sungguh aku tak keberatan.
Kaulah satu-satunya Kakek yang kupunya.
Aku merasakan kasih sayang seorang Kakek hanya denganmu.
Aku rasa, Ibu juga adalah orang yang paling beruntung memiliki orang tua angkat seperti Kakung dan Emak.
Orang tua yang sangat menyayangi Ibu sepenuh hati.
Orang tua yang memberi teladan yang baik untuk Ibu.
Kalian mengajarkan pada Ibu apa itu keikhlasan, kesabaran, dan kerendah hatian.
Ibu harus ikhlas tinggal seruma dengan kalian yang non-muslim.
Ibu harus bersabar menerima semuanya.
Ibu juga tumbuh menjadi wanita yang sangat rendah hati.
Kalian, adalah dua orang tua yang sangat baik. Terlampau baik bahkan.
Aku terharu mendengar cerita Ibu, kalian membiarkan Ibu mengaji.
Kalian selalu mengingatkan Ibu untuk menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai muslimah.
Apalagi Emak pernah membuatkan sehelai mukena yang hanya dikaitkan peniti dibawah dagu.
Ibu sangat tersentuh dengan hal itu.
Kakung dan Emak juga selalu meninggalkan Ibu dirumah di hari Minggu.
Hari dimana kalian berdua pergi ke Gereja untuk beribadah.
Bagaimana kalian yang non-muslim bisa begitu memperhatikan Ibu dalam ibadahnya?
Aku bangga dengan Kakung dan Emak.
Aku belajar tentang indahnya toleransi dari kalian berdua.
Kung, dulu saat aku masih kecil aku sering terheran-heran dengan gambar seorang laki-laki berambut gondrong yang kau pajang di ruang tamu.
Dan gambar seorang Kakek yang sudah tua dengan peci warna putih.
Aku hanya berfikir, "Darimana orang-orang ini? Kenapa wajah mereka tidak sama dengan kita? Kenapa dia putih sekali? Dan laki-laki berambut gondrong ini, dia tampan."
Kakung tidak pernah menjelaskan karena aku memang tidak pernah bertanya.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa dengan simbol-simbol di setiap sudut rumahmu.
Aku mulai memahami bahwa kita berbeda. Tidak sama.
Kakung bersanding dengan orang-orang muslim disekitarnya.
Kakung dan mereka hidup rukun tanpa saling mendiskriminasi.
Kakung adalah satu-satunya yang non-muslim.
Tapi lihatlah, Kakung selalu datang pada acara pengajian yang diadakan oleh keluarga muslim.
Kakung selalu membantu menggali kubur seorang tetangga muslim yang meninggal.
Kakung sama sekali tidak merasa terganggu dengan suara adzan yang menggema dari Musholla disebelah rumah Kakung
Kadang aku berfikir, kenapa Kakung bisa begitu baik dibanding dengan saudaraku sendiri?
Tak henti-hentinya kekaguman dan kebanggaanku padamu.
Dulu, Kakung pernah memberikan padaku sebuah sajadah yang Kakung dapat dari pengajian tetangga. Sajadah biru tua.
Kakung juga pernah menyimpan sebuah buku Yaasin untuk diberikan padaku.
Itu juga hasil dari Kakung memenuhi undangan tahlilan tetangga.
"Nduk, kuwe opo iso moco Qur'an? Iki lho buku Yaasin gawenen ngaji."
Lalu dengan bangganya aku membaca beberapa bait huruf-huruf Arab itu didepanmu.
Kemudian Kakung tersenyum sambil mengusap-usap kepalaku.
"Seng sregep ngaji yo, kudu pinter moco Qur'an."
Kung, mungkin dulu kalimat-kalimat yang kau ucapkan itu tidak begitu kuperhatikan.
Tapi sekarang, setelah aku dewasa dan kau sudah tiada,kalimat itu menjadi sangat menyayat ulu hati.
Betapa aku menyayangimu, Kung.
Sekarang Kakung sudah damai disisi-Nya.
Kakung pergi meniggalkan aku untuk selama-lamanya.
Aku belum bisa membahagiakanmu.
Aku belum bisa melakukan yang terbaik untukmu.
Terima kasih Kung sudah menjadi Kakek yang sangat baik.
Walaupun kita berbeda, kasih sayangmu tak akan pernah kulupa.
Walaupun kita berbeda, perbedaan itu menjadi indah karenamu.
Terima kasih sudah mengajarkan padaku indahnya bertoleransi.
Ya Allah, ampunilah segala kesalahannya.
Ampunilah segala dosa-dosanya.


.jpg)
.jpg)
.jpg)



























