Selasa, 23 Desember 2014

Tentang Kami Yang Berbeda

Desember 23, 2014 0 Comments
Malam ini aku kembali teringat padamu.
Kembali harus memutar kenangan saat kamu menyambutku dengan tawa khasmu ketika aku datang.
Wajahmu begitu teduh.
Wajahmu begitu tenang.
Dan tawamu yang memperlihatkan sebuah gigi emas di ujung kiri atas itu, selalu menyenangkan.

Kakung, aku rindu padamu.

Aku rindu saat aku berlari ke pangkuanmu ketika aku berkunjung kerumahmu di Kepundungan.
Aku rindu saat Kakung mengusap punggungku sambil berkata, "Wes mangan opo urung, ndang mangan disek."
Aku rindu saat aku menginjak punggungmu ketika Kakung lelah.

Kakung adalah orang yang teramat baik.
Aku tidak pernah melihat Kakung marah.
Aku tidak pernah mendengar Kakung berkata keras dan kasar.

Aku bersyukur sekali Kung, Allah telah memilih Ibu sebagai anak yang kau angkat sebagai anakmu,
Dengan begitu, aku bisa menjadi cucumu walaupun hanya cucu angkat.
Aku tidak pernah merasa terganggu dengan itu semua.
Dengan statusku yang bukan cucu kandung, sungguh aku tak keberatan.
Kaulah satu-satunya Kakek yang kupunya.
Aku merasakan kasih sayang seorang Kakek hanya denganmu.

Aku rasa, Ibu juga adalah orang yang paling beruntung memiliki orang tua angkat seperti Kakung dan Emak.
Orang tua yang sangat menyayangi Ibu sepenuh hati.
Orang tua yang memberi teladan yang baik untuk Ibu.
Kalian mengajarkan pada Ibu apa itu keikhlasan, kesabaran, dan kerendah hatian.
Ibu harus ikhlas tinggal seruma dengan kalian yang non-muslim.
Ibu harus bersabar menerima semuanya.
Ibu juga tumbuh menjadi wanita yang sangat rendah hati.
Kalian, adalah dua orang tua yang sangat baik. Terlampau baik bahkan.

Aku terharu mendengar cerita Ibu, kalian membiarkan Ibu mengaji.
Kalian selalu mengingatkan Ibu untuk menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai muslimah.
Apalagi Emak pernah membuatkan sehelai mukena yang hanya dikaitkan peniti dibawah dagu.
Ibu sangat tersentuh dengan hal itu.
Kakung dan Emak juga selalu meninggalkan Ibu dirumah di hari Minggu.
Hari dimana kalian berdua pergi ke Gereja untuk beribadah.
Bagaimana kalian yang non-muslim bisa begitu memperhatikan Ibu dalam ibadahnya?
Aku bangga dengan Kakung dan Emak.
Aku belajar tentang indahnya toleransi dari kalian berdua.

Kung, dulu saat aku masih kecil aku sering terheran-heran dengan gambar seorang laki-laki berambut gondrong yang kau pajang di ruang tamu.
Dan gambar seorang Kakek yang sudah tua dengan peci warna putih.
Aku hanya berfikir, "Darimana orang-orang ini? Kenapa wajah mereka tidak sama dengan kita? Kenapa dia putih sekali? Dan laki-laki berambut gondrong ini, dia tampan."
Kakung tidak pernah menjelaskan karena aku memang tidak pernah bertanya.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa dengan simbol-simbol di setiap sudut rumahmu.
Aku mulai memahami bahwa kita berbeda. Tidak sama.

Kakung bersanding dengan orang-orang muslim disekitarnya.
Kakung dan mereka hidup rukun tanpa saling mendiskriminasi.
Kakung adalah satu-satunya yang non-muslim.

Tapi lihatlah, Kakung selalu datang pada acara pengajian yang diadakan oleh keluarga muslim.
Kakung selalu membantu menggali kubur seorang tetangga muslim yang meninggal.
Kakung sama sekali tidak merasa terganggu dengan suara adzan yang menggema dari Musholla disebelah rumah Kakung
Kadang aku berfikir, kenapa Kakung bisa begitu baik dibanding dengan saudaraku sendiri?

Tak henti-hentinya kekaguman dan kebanggaanku padamu.
Dulu, Kakung pernah memberikan padaku sebuah sajadah yang Kakung dapat dari pengajian tetangga. Sajadah biru tua.
Kakung juga pernah menyimpan sebuah buku Yaasin untuk diberikan padaku.
Itu juga hasil dari Kakung memenuhi undangan tahlilan tetangga.
"Nduk, kuwe opo iso moco Qur'an? Iki lho buku Yaasin gawenen ngaji."
Lalu dengan bangganya aku membaca beberapa bait huruf-huruf Arab itu didepanmu.
Kemudian Kakung tersenyum sambil mengusap-usap kepalaku.
"Seng sregep ngaji yo, kudu pinter moco Qur'an."

Kung, mungkin dulu kalimat-kalimat yang kau ucapkan itu tidak begitu kuperhatikan.
Tapi sekarang, setelah aku dewasa dan kau sudah tiada,kalimat itu menjadi sangat menyayat ulu hati.
Betapa aku menyayangimu, Kung.

Sekarang Kakung sudah damai disisi-Nya.
Kakung pergi meniggalkan aku untuk selama-lamanya.
Aku belum bisa membahagiakanmu.
Aku belum bisa melakukan yang terbaik untukmu.

Terima kasih Kung sudah menjadi Kakek yang sangat baik.
Walaupun kita berbeda, kasih sayangmu tak akan pernah kulupa.
Walaupun kita berbeda, perbedaan itu menjadi indah karenamu.
Terima kasih sudah mengajarkan padaku indahnya bertoleransi.

Ya Allah, ampunilah segala kesalahannya.
Ampunilah segala dosa-dosanya.
Maafkan keadaannya ketika menutup mata ...






Sabtu, 20 Desember 2014

Ibu

Desember 20, 2014 0 Comments
Wanita hebat yang kukenal sebagai Ibu.
Wanita sederhana yang selalu menginspirasiku.
Wanita tangguh yang selalu mengajariku untuk kuat menjalani kehidupan.
Pendidik terbaik yang paling baik.

Isro'iyah.

Sesederhana namanya.
Dia juga wanita yang sangat sederhana.
Tak perlu aku melihat dia dengan make up yang tebal untuk melihat kecantikannya.
Ketika bangun tidur, aku melihatnya dengan kecantikan alami yang memancar.
Tak perlu aku melihat keanggunannya dengan gaun yang mewah dan mahal.
Cukuplah pakaian rapi dan sopan yang membuatnya terlihat mempesona.

Hai Ibu, bagaimana kabarmu hari ini?

Aku selalu senang saat mendengar cerita tentang masa kecilmu dulu.
Masa kecil yang selalu aku inginkan.
Masa kecil yang jauh dari hingar bingar perkotaan.
Masa kecil yang sesungguhnya.

Ibu bercerita tentang teman-teman kecil Ibu yang sangat suka bermain dibawah pohon bambu dibelakang rumah di Kepundungan.
Ibu dan teman-teman lantas mencari ranting-ranting yang berjatuhan hanya untuk sekedar diberikan pada Emak untuk dijadikan kayu bakar.
Ibu membiarkan aku berfantasi dengan imajinasiku.
Aku menerka-nerka bagaimana riuhnya suasana saat itu.
Ibu juga pernah bercerita tentang guru ngaji Ibu yang pernah memberikan hadiah pada Ibu sepasang mukena.
Karena Ibu adalah murid yang paling rajin datang ke Musholla untuk sekedar menyapu sebelum ngaji dimulai.
Betapa senang Ibu waktu itu dengan hadiah pemberian Pak Ustadz.
Itulah mukena terbaik yang pernah Ibu miliki.

Ibu, aku juga tidak akan pernah lupa tentang bagaimana kau harus berjuang dengan keadaan keluarga.
Ibu yang digempur habis-habisan oleh lika-liku kehidupan.
Hingga Ibu menjadi seperti sekarang, wanita dengan segala kehebatannya.

Tentang Ibu yang harus bersyukur karena hanya bisa mengenyam bangku Madrasah Ibtida'iyah.
Ibu adalah cermin kehidupanku.
Bagaimana aku harus senantiasa bersyukur dengan hidup yang sekarang ini.
Ibu memang bukan wanita dengan pendidikan tinggi.
Tapi Ibu selalu terlihat berpendidikan tinggi dimataku.
Ibu gunakan masa muda Ibu dengan segala kegiatan kursus hingga jauh ke Bali.

Ibu, kau tahu?
Aku selalu bangga dengan baju ngaji yang dulu kau jahitkan khusus untukku.
Walaupun kain brokat yang dulu kau gunakan sebagai bahan utamanya selalu membuatku tidak nyaman karena gatal.
Ya, gaun panjang berwarna hijau itu selalu aku tatap dengan penuh takjub.
Aku yang saat itu masih kecil hanya bisa berpikir "Bagaimana Ibu bisa membuat gaun secantik ini?"

Ibu ...
Aku juga selalu merasa aman ketika harus tampil saat Maulid Nabi di TPQ Nurul Qomar dulu.
Aku tahu ada Ibu yang selalu pandai memoles wajahku dengan sangat apik.
Hanya Ibu yang aku percaya untuk merias wajahku.
Ibu yang waktu itu bekerja sebagai koki di Anugerah akan menyempatkan waktu dan bilang ke Mbak Rena "Mbak, aku ijin pulang dulu ya, anakku mau tampil."
Aku menunggu Ibu pulang.
Aku menunggumu untuk meriasku.

Ibu juga adalah koki terhebat yang pernah kami miliki.
Bagaimanapun lezatnya masakan di restoran, masakan Ibulah yang nomor satu.
Abah dan Ibu adalah dua insan manusia yang berkolaborasi sangat indah dalam urusan memasak.
Kalian berdualah andalan kami saat perut kami meronta minta diisi.

Ibu, maafkan aku ...
Maafkan aku yang mungkin pernah membuatmu tak sengaja menitikkan air mata.
Maafkan aku yang seringkali tak mengindahkan perintahmu.
Maafkan aku dengan segala tingkah laku dan perbuatan yang kerap kali mengecewakanmu.

Aku minta maaf jika aku tak sabaran untuk mengajari Ibu mengoperasikan Handphone.
Padahal Ibu tak pernah gusar saat mengajariku berbicara atau membaca.
Ibu tak pernah lelah mengajariku menyanyi dan berhitung.
Ibu tak pernah bosan mengajariku doa-doa dan gerakan sholat.
Ibu tak pernah lupa mengajariku banyak hal.

Ibu pernah bercerita tentang kawan-kawan Ibu yang dulu berusaha untuk menarik perhatian Ibu.
Dan mungkin Ibu tak pernah tahu bagaimana kesalnya aku karena sudah pasti mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Abah.
Aku tidak suka Ibu bercerita tentang masalalu-masalalu Ibu.

Tapi itu dulu, Bu ...
Aku masih kecil.
Karena sekarang aku sadar apa yang Ibu lakukan adalah untuk memancingku agar terbuka dengan urusan perasaan.
Ibu ingin aku bercerita pada Ibu. Tentang laki-laki.
Dari dulu aku selalu bercerita pada Ibu tentang bagaimana sekolahku, bagaimana teman-temanku, bagaimana pelajaranku.
Tapi, bercerita tentang laki-laki, belum pernah.

Aku ingat waktu itu saat kita sedang makan berdua, aku memberanikan diri untuk bercerita.
Aku bercerita tentang laki-laki yang menyukaiku di awal tahun kuliah.
Ibu senang aku mau berbagi urusan hati.
Sejak itulah aku selalu bercerita pada Ibu tentang siapa saja yang menurutku layak untuk kita diskusikan.

Aku juga akan ingat selalu bagaimana perjuangan Ibu mengayuh sepeda dari rumah hingga ke sekolah hanya untuk mengantarkan topi pot sialan itu.
Topi pot yang aku gunakan saat MOS di SMK.
Pagi itu aku melihat wajah Ibu yang kelelahan diluar pagar sekolah.
Ibu memanggilku dan memberikan topi itu.
Ibuuu, aku menyayangimu.

Aku adalah satu dari sekian banyak anak yang patut sekali bersyukur.
Bagaimana tidak? 
Aku di usia yang beranjak dewasa ini masih memilikimu, Ibu.
Aku yang sudah tidak kecil lagi ini masih terbuka lebar kesempatan untuk membahagiakanmu.
Aku yang semakin tumbuh besar ini masih bisa mencium tanganmu setiap akan berangkat kemanapun.

Ibu, terimakasih atas segalanya.
Terimakasih atas kasih sayang yang sangat berlimpah.
Terimakasih atas perhatian yang selalu tercurah.
Terimakasih sudah menjadi Ibuku yang sangat hebat.




Selasa, 16 Desember 2014

Pagelaran Banyuwangi Festival

Desember 16, 2014 0 Comments
Saat ini Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sedang giat memperkenalkan Banyuwangi ke dunia. Berbagai festival yang dikemas dalam Pagelaran bertajuk Banyuwangi Festival adalah salah satunya. Banyuwangi Festival atau bisa disingkat dengan B-Fest adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada rentang waktu Oktober hingga Desember setiap tahunnya. Acara ini diselenggarakan untuk memperingati hari jadi Kabupaten Banyuwangi yang jatuh pada tanggal 18 Desember. Acara ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2012 pada masa pemerintahan Bupati Abdullah Azwar Anas.

Hal ini menunjukkan keseriusan Bupati kita untuk mengembangkan potensi Banyuwangi. Lewat cara ini secara perlahan Banyuwangi semakin melebarkan sayapnya. Banyuwangi semakin dikenal oleh masyarakat luas. Image negatif yang dulu sempat melekat mulai hilang secara perlahan.

Banyuwangi Festival juga diproyeksikan sebagai sarana publikasi dan memperkenalkan Kabupaten Banyuwangi di kancah Nasional, Regional hingga Internasional. Sebagian besar kegiatan B-Fest pun melibatkan potensi budaya yang ada di masyarakat lokal, sekaligus sebagai upaya menjaga dan menumbuhkan budaya asli Suku Using.

Mantan Presiden RI Megawato Soekarnoputri saja memberikan apresiasi tinggi pada Pemkab Banyuwangi yang berani mengangkat potensi budaya lokal untuk menjadi daya tarik wisata.

Kini, pada bulan-bulan dimana diadakan pagelaran B-Fest banyak masyarakat dari luar kota yang berbondong-bondong datang ke Banyuwangi. Hotel-hotel dan tempat penginapan menjadi penuh oleh wisatawan lokal dan asing. Depot, warung-warung dan rumah makan juga tak kalah kebanjiran pengunjung.

Dalam kesempatan ini kita juga bisa melihat banyaknya pelaku industri kreatif yang juga mengambil kesempatan besar, mereka bisa mengenalkan produk-produk mereka pada wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi. Dengan cara ini tentu pelaku industri kreatif akan bersemangat untuk terus memperbaiki kualitas produk yang mereka jual.

Apalagi jika rangkaian B-Fest ini sudah ditetapkan bulannya oleh Pemerintah. Jadi wisatawan asing maupun domestik sudah tahu kapan jadwal mereka akan berkunjung ke Banyuwangi.

Seperti mengutip kata-kata Presiden Asosiasi Selancar Indonesia Jero Made Supatra Karang saat berkunjung ke Pulau Merah, “Saya sudah berkeliling dunia dan melihat pantai di banyak negara, tetapi belum pernah melihat pantai yang seindah Pulau Merah. Pertama kali berkunjung ke sini, saya langsung takjub. Keindahannya tidak kalah dari pantai yang ada di Brazil,”

Yang kita perlukan saat ini adalah konsistensi untuk menjadikan potensi alam sebagai kawasan wisata andalan sekaligus penopang ekonomi daerah. Tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, semua itu memerlukan waktu yang cukup panjang dan dukungan kita sebagai masyarakat Banyuwangi.

Sudah sepatutnya kita sebagai masyarakat Banyuwangi mendukung gerakan Pemkab untuk mewujudkan Banyuwangi yang mendunia. Kritis harus, tapi tetap dengan tidak menjegal langkah-langkah baik yang sedang dijalankan. Kritis namun juga solutif, itu yang harus kita lakukan. Jangan hanya terus mencela tapi kita tidak berbuat apa-apa.


Senin, 15 Desember 2014

Malaikat Kecil

Desember 15, 2014 0 Comments
Selamat malam.
Bagaimana kabar hari ini?
Semoga menyenangkan dan baik-baik saja.

Bagaimana kabarmu bayi ajaib?
Sehatkah kamu disana?
Bagaimana orang-orang disekelilingmu? Menyenangkankah?

Hai malaikat kecil ...
Jangan takut sayang, mereka pasti akan melindungimu, percayalah.
Tidak akan ada lagi yang akan membuangmu seperti Ibu dan Ayahmu.

Malaikat kecil, siapakah gerangan namamu?
Siapapun namamu, kelak jadilah anak yang membanggakan.
Jadilah anak yang berbakti pada kedua orang tuamu.
Jadilah anak yang berguna dan bermanfaat bagi sekelilingmu.
Jadilah anak yang baik, sayang.

Berhentilah menangis, Ibumu tak ada disisimu.
Kamu belum bisa menikmati ASI nya.
Ibumu harus pergi sebentar, sebentar saja.
Percaya padaku, ia tak akan lagi meninggalkanmu.

Hai malaikat kecil ...
Kau tahu? Diluar sana ada banyak sekali orang-orang baik yang peduli padamu.
Banyak sekali kakak-kakak yang menyayangimu.
Mereka, bergerak untuk menyuarakan keadilan bagimu.
Mungkin kamu belum tahu bagaimana malunya Ibumu waktu itu.
Ibumu yang tidak menginginkan kamu ada.
Ayahmu yang juga tidak menginginkanmu terlahir di dunia ...

Hai malaikat kecil ...
Disini kami mendoakan keluargamu.
Semoga segalanya baik-baik saja.
Ayahmu, Ibumu ...
Semoga mereka baik-baik saja.
Aku hanya tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi di masa mendatang

Minggu, 07 Desember 2014

Girl Talk

Desember 07, 2014 0 Comments
Wanita periang yang jika tersenyum matanya selalu habis :D Sipit nian dirimu Mel, hehehe ...
Ternyata Melinda tipe orang yang jika disentil sedikit saja sudah akan meluber kemana-mana.
Ah, Melinda.

Iseng saja, aku bertanya tentang jumlah mantannya.
Sebenarnya hanya itu pertanyaanku, tapi memang dasar wanita, ditanya sesendok jawabnya seember.

"Me, sebenere aku itu dulu males pacaran. Lek nggak dipaksa temen-temen aku nggak kira pacaran. Awal pacaran itu aku sek SMP sama pas smea. Dua itu tok wes mantanku."

Aku hanya mendengarkan dia dengan seksama dan sesingkat-singkatnya.

"Gini aja wes Me, lek aku orange mah santai. Dia kembali baik, enggak juga nggak papa, aku sekarang nggak mau pusing masalah ginian. Aku nyadarai umur segini, bukan anak sekolah lagi, nggak waktunya buat guyonan, wes duduk waktune gae pacaran wes, mending aku fokus sama kuliah, kerjaan, sama hobi-hobiku."

Sip Mel, aku sepakat sama yang terakhir. Bukan waktunya untuk main-main.
Oke Mel, lanjutkan ceritanya ...

"Terus lek kamu Me?"

Ha?
Balik nanya nih ceritanya?
Aku hanya menggeleng.

Melinda. Dia sebenarnya sudah tahu aku manusia yang seperti apa.

"Opo'o Me kok nggak pacaran?"

Oke, ini mulai serius.
Aku membenarkan posisi dudukku.

Aku menceritakan apa yang Melinda tanyakan.
Dia juga mendengarkan aku dengan seksama.

"Sekarang yang penting kita dulu Mel memantaskan diri. Siapkan sebaik-baiknya kita untuk orang yang besok berani dengan gentle datang kerumahmu dan melamarmu."

Aku mengakhiri celotehanku dengan kalimat itu.
Melinda tersenyum, aku juga.

Melinda. Semoga kelak akan datang padamu laki-laki hebat yang siap menerima apa adanya kamu. Laki-laki pemberani yang siap melindungi kamu dari apapun. Laki-laki kuat yang jika kau sandari dia tidak ikut roboh karenamu. Laki-laki bertanggung jawab yang siap menjadi ayah untuk anak-anakmu.
Dengan itu, semoga almarhum ayahmu akan senang dengan menantunya. Dia akan tersenyum ketika kau mendapatkan laki-laki yang tepat.

Aamiin ...

Jumat, 05 Desember 2014

Yudisium FISIP 2014

Desember 05, 2014 0 Comments
Selasa, 02 Desember 2014.

Hari ini Yudisium FISIP angkatan 2010/2011.
Kami (Aku, Suryanto, Dwi, Melinda) dimintai tolong oleh fakultas untuk menjadi panitia.

Hhh, senang rasanya melihat wajah-wajah bahagia itu.
Senang rasanya melihat keluarga mereka berkumpul melihat anak, suami/istri mereka berhasil menyandang gelar Sarjana.
Senang rasanya aku berada diantara mereka yang berbahagia.
Ada perasaan haru ketika salah satu wakil Yudisiawan memberikan sambutan terakhirnya.
Sambutan yang berisi rasa terimakasih pada Universitas, pada Dekan, Dosen dan seluruh civitas akademik Untag Banyuwangi.
Atau mungkin aku saja yang terharu?
Ah sudahlah.

Ada satu pemandangan lain yang menarik perhatianku.
Aku melihat dia seorang diri.
Dia yang selalu menjadi panutanku.
Dia yang malam ini tampil berbeda.
Dia yang mengenakan setelan jas hitam.

Dia. Seorang aktivis sejati.

Sejak geladi resik Yudisium Senin lalu, dia sudah bilang bahwa keluarganya tidak di Banyuwangi.
Dia berkelakar, meminta aku dan Suryanto saja yang menjadi wakil keluarganya.
Kami pun tertawa. Ada-ada saja.

Kau tahu teman, aku semakin salut padanya setiap hari.
Dia, terutama ketika malam Yudisium itu telah mengingatkan aku pada seseorang.
Setelan jas yang dia pakai.
Sangat mirip dengannya.

Dia mengingatkanku pada almarhum kakung.
Perawakannya sangat mirip.
Tingginya, kurusnya, kulit hitamnya.

Aku jadi sangat merindukan beliau.
Merindukan pelukannya.
Merindukan tawanya.

Hari ini, kekagumanku bertambah.
Didekatnya, aku merasa menjadi seorang adik yang sangat dia lindungi.
Terlebih dia juga memiliki adik perempuan yang seumuran denganku.
Aku hanya seperti menemukan oase di tengah gurun pasir.
Aku memiliki senior, kakak, teman, sehebat dia.
Dan kini, aku menjadi saksi hidup dia di Yudisium.

Selamat dan sukses.
Semoga apa yang telah kau raih selama ini adalah hadiah termanis untuk setiap pengorbananmu.
Semoga gelar yang sudah kau sandang itu bermanfaat tidak hanya untuk dirimu tapi juga untuk sekitarmu.
Sekali lagi selamat.
Terima kasih sudah menjadi senior yang memotivasi.
Terima kasih sudah menjadi kakak yang baik.
Terima kasih atas pertemanan kita selama ini.

Selamat melanjutkan perjalanan. Banggakan orang tua. Raih cita-cita.
Jangan lupakan kami, adik-adikmu ...






Jokowi dan Ahok :D




Minggu, 30 November 2014

Hari Aids Sedunia

November 30, 2014 0 Comments
Minggu, 30 November 2014.

Aku turun jalan untuk yang kedua kalinya.
Memperingati hari aids sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember.
Ini berarti sudah memasuki tahun kedua aku mengikuti KMPA di Untag.
Kelompok Mahasiswa Peduli Aids.

Kelompok yang dirintis oleh Mas Aris ini Alhamdulillah menjadi pelopor berdirinya KMPA-KMPA di kampus lain di Banyuwangi.
Sudah jadi tradisi, mekar di awal kuncup kebelakang.
Dulu, semangat teman-teman lainnya sangat membara.
Sekali dua kali pelatihan, mereka hadir selalu.

Namun, lama-kelamaan jumlah kami semakin menyusut.
Yang datang selalu itu-itu saja.
Mereka meninggalkan ladang ilmu ini.
Ladang ilmu dan pengetahuan yang disediakan dengan gratis tanpa tarif.
Kita bisa memanen sebanyak-banyaknya tanpa khawatir kantong jebol.

Selalu seperti ini. Ketika aksi peringatan tiba-tiba saja banyak orang-orang baru.
Wajah-wajah baru. Mereka berkumpul tanpa tahu harus berbuat apa.
Mereka hanya memenuhi jalan untuk membagi-bagikan brosur HIV.
Dan ketika mereka ditanya oleh pengendara tentang HIV, mereka hanya saling berpandangan tak mengerti.
Aku senang dengan keramaian kami saat turun jalan pagi ini.
Tapi, besok tidak lagi tampak keriuhan para anggotanya.
Semuanya hilang satu per satu.

Lupakan saja.

Hari ini seluruh elemen masyarakat turun ke jalan untuk berpartisipasi.
Mulai dari Dinas Kesehatan, Lapas Banyuwangi, IWABA (Ikatan Waria Banyuwangi), Pendidik, Jurnalis, Pelajar SMP, SMA, Mahasiswa, dan lainnya.

Kami start di kantor Komisi Penanggulangan Aids (KPA) dan finish di Taman Makam Pahlawan Sayuwiwit.
Disana sudah ada panggung yang menampilkan teatrikal, puisi, orasi, deklarasi, hiburan dan nyanyian yang dipandu oleh salah satu Waria dan kelompok KKBS.

Saat teatrikal yang dimainkan oleh Uniba, aku melihat sosok wanita yang sedang menggelepar di tengah panggung. Dia menggeliat-geliat kesana kemari.
Hebat sekali, sangat menghayati, pikirku.
Rambutnya yang panjang menutupi seluruh wajahnya.
Dia berteriak, menangis, tertawa.
Kami diam memperhatikannya. Aku hanya memperhatikannya dari jauh.

Wanita itu bangkit dari posisi duduknya.
Aku mendelikkan mata tak percaya.
Dia?
Aku sekarang dapat melihat dengan jelas wajahnya dibalik sisa-sisa rambutnya yang panjang.
Aku mendekat ke beberapa teman.
"Iku Ririn kan?"
Tak ada yang bersuara, mungkin karena mereka tidak mengenal dia.
Tiba-tiba Siti melihatku dan bicara, "Iyo mbak, seng pacare Pak Wo kok."

Exactly.
Dia benar-benar Ririn.
Hebat. Dia memainkan perannya dengan sangat apik.
Aku terus memperhatikannya saat turun dari panggung hingga dia berkumpul bersama teman-temannya di sisi panggung.

Dia.
Aku teringat padamu Mr. Annoying.
Ingin aku memberitahumu saat itu.
Ah, tapi untuk apa.

Ada perasaan aneh menyelinap.

Aku memutar konsentrasiku pada pertunjukan selanjutnya.
Teatrikal yang dibawakan Untag. Aku bertepuk tangan meriah bersama pasukan Merah lainnya.
Di panggung sudah ada Dwi, Mbak Desi, dan satu lagi yang aku tidak tahu namanya.

Mbak Desi.

Hari ini aku menjumpainya tanpa jilbab.
Allah. Kenapa lagi ini?
Dia berliuk-liuk menggoda di atas panggung dengan rambutnya yang hitam legam terurai.
Aku tak berminat menontonnya. Pandanganku hanya tertuju pada keramaian manusia disekitarku.

Tuhan, hari ini aku kembali melihat saudariku tumbang.
Ampuni dan lindungi dia selalu.
Tuhan, berkahilah Banyuwangiku dengan pemuda-pemuda berkualitas.
Pemuda-pemuda yang sehat. Pemuda-pemuda cerdas. Pemuda yang menjadi generasi masa mendatang.
Kuatkan hati para ODHA, Tuhan.



Rabu, 26 November 2014

Unpredictable Feeling

November 26, 2014 0 Comments
Dia kembali.
Dengan suasana berbeda.
Ya. Setelah sekian lama.
Setelah segalanya jelas.
Dia kembali.

Memang sudah tidak seperti dulu.
Ada jarak yang membentang.
Jelas sekali.

Kenapa kau tidak juga paham dengan maksudku?
Kenapa kau malah terkesan menyerah?
Atau memang dia sudah menyerah?
Sampai disitu saja?

Ah, payah.

Kau membuatku bimbang.
Perkataanmu seolah menyuruhku untuk pergi saja.
Seolah tidak ada lagi celah.

Tapi kenapa aku memilih untuk tetap bertahan disini?
Aku bisa saja pergi.
Aku bisa saja merubah arah tujuanku.
Tapi kenapa sulit sekali Tuhan?

Sedangkan dia mudah saja melakukannya.
Dia bisa melenggang semaunya.
Inikah?
Inikah yang orang bilang bahwa wanita selalu lemah dalam perasaannya?
Laki-laki bisa sangat mudah berpaling.
Wanita?
Dia mungkin tidak bisa menyembunyikan rasa cemburu.
Tapi menyembunyikan cinta? Dia bisa hingga 40 tahun lamanya.
Apa iya wanita harus menderita selama itu?

Untukmu yang saat ini aku tidak tahu lagi bagaimana arah tujuanmu.

Sabtu, 22 November 2014

Bertahan Sendiri

November 22, 2014 0 Comments
Satu per satu perasaan kesal itu muncul.
Muncul perlahan. Hingga tidak dapat lagi terbendung.
Aku kesal pada keadaan ini.
Perasaan kesal itu seakan menutup diriku pada apa yang ada di depan mata.
Pada kenyataan.
Pada sekitar.

Salahku?
Iya. Semua salahku. Aku yang salah.
Dia salah menerima maksudku, mungkin.
Dia tidak salah.
Ya. Dia selalu benar, kok.

Perasaan ini semakin hari hanya semakin mengekangku.
Aku sudah mencoba menyibukkan diri dengan segala macam kegiatan.
Aku sudah berusaha untuk baik-baik saja.
Tanpa perasaan kesal.
Tanpa perasaan jengkel.
Tanpa perasaan was-was.

Sia-sia.

Aku tetap disini. Bertahan semampuku.
Aku tetap disini. Melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku tetap disini. Untuk membuktikan kalimat-kalimatnya.

Sampai kapan?
Aku juga tidak tahu.

Sekarang biarkan dulu.
Biarkan dia sibuk dengan perhatian yang dia inginkan.
Biarkan semuanya mengalir.

Kembali ketika aku harus melihat kenyataan.
Kenyataan bahwa segalanya sudah berubah.
Tidak ada apapun di dunia ini yang abadi.

Saat ini mungkin aku gagal.
Dia yang lebih bisa membuatmu nyaman.
Pasti bukan gadis biasa.

Aku disini saja. Berjuang untuk menahan diri.
Tapi sepertinya hanya aku sendiri yang berjuang, ya?
Benar kah?

Ya sudah.
Wajahku sudah mulai panas.
Aku tidak mau ada anak sungai lagi.

Rabu, 12 November 2014

Nickname

November 12, 2014 0 Comments
Meydiana Isfandari.

Indah bukan main. Nama itu sumbangan dari berbagai pihak. Hehehe, iyaa sumbangan.
Budeku adalah orang yang selalu ingin memberikan idenya untuk dijadikan nama pada setiap bayi yang lahir pada garis keturunan Fachrudin.

Tidak terkecuali aku dan adikku, Fahri.

Mey. Sesuai dengan bulan kelahiranku.
Diana. Nama ini diberikan Bude Tin padaku. Entahlah, mungkin beliau terinspirasi oleh Lady Diana, mungkin. :D
Isfandari. Aku tidak terlalu tahu asal-usul nama ini. Tapi yang jelas aku menyukainya.

Sejak taman kanak-kanak aku dipanggil Diana oleh teman-teman. Dirumah pun orang tua, saudara, para tetangga juga memanggilku Diana.
Hingga saat SD beberapa teman yang dulu juga teman TK mulai merubah-rubah panggilanku. Jadilah aku dipanggil Mey hingga sekarang ini.
Namun ada juga beberapa teman SD yang masih memanggilku Diana hingga sekarang. #Tengkyuu :D

Panggilanku bagi beberapa teman pun berbeda.

Rani. Teman SMPku ini memanggilku Acot. Yaah you knows lah -_-
Dan karena aku memanggilnya "Cut" akhirnya sekarang dia memanggilku dengan tiga huruf dibelakang saja, "Cot". Duuh nggak enak banget -_-

Ka.

Nama ini mereka sematkan padaku sejak kelas satu SMK. Karena dialog Bahasa Inggris dulu akhirnya aku dipanggil "Ka" oleh teman-teman, walaupun tidak semua.
Ka. Tidak berhenti disitu saja. Ka itu ada lanjutannya.

Yaitu, Kairo. Aku yakin ini pasti faktor wajah. Pasti.

Dikampus aku menemui beragam lagi nama-nama yang mendarat padaku.
Ada Pak Wo (Ruri si ketua teater) yang selalu memanggilku Diana. Walaupun dia tahu bahwa teman-teman selalu memanggilku Mey. Yo wis lah Pak Wo sak bahagiamu.

Om (Adi) yang selalu memanggilku Kunti entah karena apa hingga sekarang. Dia bilang itu panggilan kesayangan. Ouuuhh, sweet sekali om gede ini :D

Ada juga Mas Aziz yang memanggilku Meyrab. Hhh apa lagi ini??? -_-
Atau Mas Puguh yang dengan bangganya memanggilku Pakistan.
Okee, terserah.

Mas Bondan yang selalu memanggilku "Nduk". Ademnyaa dipanggil nduk. Terlepas dari keinginanku memiliki Abang. Beliau selalu menjadi guru yang baik untukku. Selalu menjadi inspirasi. Cerita-ceritanya yang selalu membuatku menangis. Cerita masa lalunya. Ah, Mas Bondan.

Melinda bahkan pernah memanggilku toa masjid. Semenggelegar itukah suaraku Mel??? -_-

Oh yaa.
MeyIs. Ah panggilan ini. Apa kabar?

Senin, 10 November 2014

Mencari Yang Sempurna

November 10, 2014 0 Comments
Pagi ini aku membuka Dasbor Blogger. Di daftar bacaan aku melihat tulisan baru dari Blog Peyempuan. Tulisan yang diposting dua hari lalu itu sangat keren.

"Mencari yang sempurna tak akan ada punahnya,
Karenanya aku berakhir pada hatimu.
Mencari yang sempurna tak akan ada habisnya,
Karenanya aku berhenti pada cintamu.

Ada peyempuan yang begitu rupawan,
Kau pilih, namun ia tak bisa menyajikan cinta pada meja makan
Lalu kau pergi untuk itu.

Ada peyempuan yang sangat jelita, juga pandai meracik masakan
Kau pilih, namun ia tak bisa kau ajak bertukar pikiran
Lalu kau pergi untuk itu.

Ada peyempuan yang begitu menawan, lihai membuat panganan dan asik berbagi wawasan
Kau pilih, namun ia tak memilihmu, kasihan.
Lalu kau terdiam karena itu.

Jelas, ia menawan, pandai meracik masakan dan asik bertukar pikiran
Namun kau tak terlihat tampan, tak cukup mapan dan tak romantis menaklukan perasaan.

Seperti itulah lingkaran kesempurnaan,
Tak pernah berakhir sampai kau putuskan untuk berhenti pada satu hati dan cinta
Bukan tak ingin kesempurnaan,
Tapi aku tahu, mencarinya telah membuat banyak hati menjadi perih dan patah."

Semangat Senin. Semoga berkah^^



Hari Pahlawan

November 10, 2014 0 Comments
Mengutip pesan Bung Karno, Bapak Proklamator kita, “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah” atau yang disingkat dengan Jassmerah dan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya” tentu ada makna yang tersirat dalam fase perjuangan bangsa kita. Bangsa Indonesia tidak akan lepas dari peristiwa 10 November 1945, peristiwa pertempuran yang dilakukan oleh arek-arek Suroboyo dalam masa perjuangan demi mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebagai bangsa yang besar, tentu tidak sedikit perjuanganan para pahlawan yang telah bersedia mengorbankan jiwa dan raganya demi menjaga kedaulatan bangsa. Sampai pada saatnya, tepat tanggal 10 November 1945 menjadi momentum yang bersejarah bagaimana semangat juang veteran kita yang dikomando oleh Bung Tomo saat itu dengan semboyannya yang khas “Merdeka atau Mati” mampu membakar semangat nasionalisme rakyat Surabaya untuk mempertahankan harkat dan martabat bangsa Indonesia yang telah merdeka dari penjajah. Peristiwa yang disebut-sebut sebagai peristiwa perang terbesar setelah Perang Dunia II. Sampai akhirnya, tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Namun, semangat juang pemuda pada saat ini semakin surut dari tahun ke tahun. Pemuda saat ini hanya melakukan peringatan yang cenderung bersifat seremonial. Setelah itu sudah, tidak ada lagi implementasi semangat nasionalisme yang membara seperti yang pernah dilakukan oleh pejuang muda kita di masa kemerdekaan.

Melihat perkembangan global yang sangat maju dan pesat ini, kita hidup pada era keterbukaan dan kompetitif. Bukan lagi berperang dengan menggunakan senjata seperti saat pertempuran yang dipimpin oleh Bung Tomo dan menewaskan Jendral Mallaby dari pihak koloni melainkan bagaiaman kita bisa memiliki pemimpin-pemimpin baru yang mampu mengelola kekayaan sumber daya alam dan manusia yang dimiliki oleh Republik ini.

Era pasca kemerdekaan, tentu tugas kita bukan lagi berpanas-panasan merasakan teriknya matahari yang turut membakar semangat arek-arek Suroboyo. Kita tidak perlu lagi bberlarian menghindari deru senjata tentara Inggris, kita tidak perlu bersusah payah mengatur strategi perang dan hal-hal lain yang berkaitan dengan armada senjata.

Lantas bagaimana peran kita dalam mengisi Hari Pahlawan yang jatuh setiap tanggal 10 November itu? Bagaimana peran pemuda dan mahasiswa yang disebut-sebut sebagai agen of change, agent of control, dan istilah-istilah perubahan lainnya?

Pahlawan dalam bahasa Sanskerta adalah phala-wan yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama, adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.

Selama ini jika kita berbicara tentang pahlawan yang selalu muncul dalam benak kita adalah sosok seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Pangeran Antasari, Cut Nyak Dien, Ahmad Dahlan, dan pahlawan kemerdekaan lainnya.

Bagaimana dengan sosok perobek bendera Belanda di hotel Yamato? Atau Frans Mendur yang mengambil gambar Proklamasi 17 Agustus 1945 dengan pelat filmnya yang hanya tersisa tiga lembar?

Kita tidak pernah tahu dengan pasti siapa yang dengan heroiknya berani merobek bendera Belanda itu. Kita juga sering terlupa dengan alasan mengapa dokumentasi peristiwa bersejarah Proklamasi hanya ada tiga? Bisa dibayangkan jika tidak ada Frans Mendur waktu itu? Kita generasi bangsa tidak akan pernah tahu bukti nyata dari Proklamasi. Mungkin itulah pesan singkat yang disampaikan oleh Proklamator kita, betapa berartinya jasa pahlawan terlepas dari siapapun latar belakang pahlawan itu.

Saat ini, bangsa Indonesia membutuhkan banyak pahlawan di segala bidang kehidupan. Pahlawan yang dapat membawa bangsa ini menjadi bangsa yang lebih demokratis, bangsa yang damai, dan bangsa yang adil yang mampu menjembatani setiap warga Negara Indonesia menjadi bangsa yang cerdas dan memiliki semangat nasionalisme yang tinggi.

Hari Pahlawan bukanlah semata-mata sekedar sebuah peringatan seremonial saja. Kita gunakan momen ini sebagai bentuk refleksi dari apa yang sudah diperjuangkan oleh pejuang revolusioner kita. Selaras dengan semangat pemerintahan yang baru, jadikan momen ini sebagai pembangkit diri kita sebagai pribadi yang unggul dan dapat terus berinovasi serta lebih mendahulukan kepentingan persatuan dan kesatuan bangsa.

Tahun 2015 mendatang, Indonesia akan terlibat dalam kelompok masyarakat ekonomi ASEAN (MEA 2015) tentu butuh kesiapan yang matang agar tidak lagi kita sebagai tuan rumah hanya dijadikan sebagai penonton saja. Sudahkah masyarakat kita sanggup untuk berkompetisi dengan bangsa lainnya? Maka dari itu, pentingnya arti kemerdekaan bukan saja sekedar sebagai seremonial semata. Tapi, dukungan oleh semua pihak untuk mengimplementasikan dan bersinergi lebih kuat sehingga bangsa kita menjadi bangsa yang berdaulat dan mandiri.


Sehingga, dalam mengisi kemerdekaan ini kita semua bangsa Indonesia dapat lebih mencintai tanah air dan membawa perubahan yang lebih bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selamat Hari Pahlawan! Terima kasih atas segala pengorbanan jiwa dan raga mu…

Minggu, 09 November 2014

Unknown Number

November 09, 2014 0 Comments
Aku pernah akan bercerita tentang unknown number yang menghubungiku tempo hari.
Waktu itu aku sedang di lobby kampus bersama bang dado.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku lihat screen HP. Nomor baru. Tidak terdaftar dalam phonebook ku.
Bang dado melihatnya. Melihat juga keherananku.

"Sini aku aja yang angkat"

Aku menurut saja dan memberikan ponselku pada bang dado.
Aku juga sedang malas menerima telpon dari nomor tak dikenal.
Bang dado mulai berbicara dengan orang yang ada di seberang.
Sayup-sayup aku mendengar bahwa yang menelpon adalah laki-laki.
Aku terus memperhatikan bang dado.

Lucu sekali.

Dia berbicara dengan logat yang dibuat-buat agar terlihat serius.
Aku pikir lawan bicaranya itu akan keder menghdapi bang dado yang entah dia mengira siapaku.
Abahku. Abangku. Mungkin juga mengira pacarku.
Bang dado juga mulai sok menginterogasi si penelpon. Dia menanyakan hal-hal yang bersifat protected.

"Kamu siapanya Mey?"
"Ada perlu apa?"

Hahaha ...
Ah bang dadoo.

Setelah adegan mengerjai itu, akhirnya bang dado menyerahkan ponselku kembali.
Ternyata yang menelpon Mas Anang.
Iyaa ... Mas Anang bem-u.

"Minta tolong ya Mey, komunikasikan sama teman-teman PMAD untuk ikut rapat kepanitiaan."

Setelah aku menutup telepon aku melihat bang dado disebelahku.

"Anang siapa Mey?"
"Mas Anang bem-u."

Kami pun tertawa.

Aku jadi membayangkan betapa menyenangkannya memiliki seorang abang.

Okee. This is the last holiday.
Selamat kuliah kembali Mey^^

Rabu, 05 November 2014

My Wednesday

November 05, 2014 0 Comments
Rabu pertama Bulan November.

Gusti, sudah stadium berapa sebenarnya?
Stadium berapa penyakit lupaku ini?

Pagi ini aku lagi-lagi membuat kegaduhan dirumah.
Aku kehilangan proposalku.
Proposal kegiatan seminar yang sebantar lagi akan dilakukan.
Where are you?
Seingatku, semalam setelah ketua panitia menandatangani proposal itu aku memasukkannya ke dalam tasku. Ya, aku sudah memasukkannya, lalu pulang kerumah.

Aku mencoba mengingat-ingat semua kegiatan yang aku lakukan setelah sampai dirumah.
Seingatku juga aku tidak mengeluarkan apapun dari tas ranselku itu selain dompet.
Jadilah aku pagi ini panik luar biasa. Membongkar tumpukan diktat yang menurutku tidak mungkin ada disana. Mengeluarkan segala isi tas dan memeriksa map transparan secara teliti.

Duh, saat seperti ini tidak mungkin lagi aku bisa teliti dan hati-hati.
Hanya panik dan panik yang terus menyerangku.
Ditambah handphone yang selalu bergetar tanda sms masuk.
Temanku sudah menungguku di kampus.
Ayolah proposal, kamu dimana?

Ibuku yang sedari tadi aku jejal dengan pertanyaan tentang tahu tidaknya beliau perihal proposal itu, hanya melihatku dengan prihatin.
Mungkin beliau sudah lelah dengan sifat cerobohku ini.

Saat panik seperti ini aku teringat kata-kata mentorku di MKMB.
Aku mencoba mempraktikannya.
Aku duduk di bibir ranjang dan menghela nafas panjang.
Mencoba menetralkan emosi yang sedang dipuncak.
Aku diam sejenak.

Sudah payah aku mencarinya kemana-mana.

Lalu mataku tertuju pada sebuah laci dihadapanku.

Disanakah?
Perasaan aku tidak memasukkannya ke laci itu.

Aku berdiri dan membuka laci itu perlahan.

Benar saja.
Proposal bersampul biru muda itu tergolek santai di dalam.
Gustiii, kan aku sendiri semalam yang meletakkanya disana untuk menghindari kelungsetan.
Kenapa aku jadi pelupa seperti ini?

Ketika awal saja semua berantakan seperti ini. Pasti akan terus menular pada kejadian-kejadian selanjutnya.
Setelah proposal itu kumasukkan dalam tas aku segera berangkat ke kampus.
Ketika motor sudah hampir sampai gerbang rumah, aku merasakan kepalaku ringan sekali.

Astaghfirullah. My helmet.
Aku buru-buru masuk lagi kedalam rumah dan mengambil helm-ku.
Sebelum kejadian proposal hilang itu pun aku sudah mengalami kejadian annoying lainnya.
Pagi tadi, tanganku ketumpahan air panas ketika akan menyeduh susu coklat.
Huaaaa sakitnya itu dimana-mana. Dan akhirnya jemari kecilku ini memerah.

Oh God, thanks for the wonderful Wednesday.


Selasa, 04 November 2014

Try Before You Die

November 04, 2014 0 Comments
Mey, judulnya spooky banget.
Iyaa, kalimat super yang aku dapat dari mentorku.

Benar memang. Lakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan sebelum kamu mati.
Iya kan? Lakukan saja, daripada menyesal tidak pernah melakukan?

Aku sedang belajar melakukannya.
Ini semacam keluar dari zona nyaman. Keluar dari zona aman.
Zona yang selama ini selalu aku lalui.

Yaa biarlah aku melakukan hal-hal yang selama ini belum pernah aku lakukan.
Dengan tetap tidak melanggar segala prinsip.

Hhhh tiba-tiba rasa malas untuk menulis datang menyerang.
Ini saja dulu. Inspirasi sedang ngambek.

Oh yaa, besok entah kapan aku akan menuliskan tentang unknown number yang menghubungiku tadi.

Gusti, besok hari yang indah kan?

Minggu, 02 November 2014

Kesempatan Kedua

November 02, 2014 0 Comments
Orang bilang sebuah kesempatan itu tidak akan datang untuk yang kedua kalinya.
Jika kedua kali, itu artinya anugerah.
Tapi kemudian ada lagi orang bilang bahwa setiap orang juga berhak atas kesempatan kedua.
Setelah itu? Apa dengan adanya kesempatan kedua lantas akan memungkinkan adanya kesempatan ketiga, keempat, kelima dan seterusnya?
Tentu tidak. Itu menandakan seseorang tidak benar-benar serius dalam memperbaiki kesalahannya.

Kesempatan kedua itu ada untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik lagi. 

Jumat kemarin aku tidak konsentrasi mengerjakan UTS Kepegawaian.
Pengawas ruanganku adalah Bu Yusmia, dosen Statistik kami.
Saat itu, saat sedang mengawas, Bu Yusmia membawa seluruh hasil UTS Statistik kami untuk dikoreksi. Jadi, didalam kelas itu -saat kami sedang mengerjakan kepegawaian- Bu Yusmia tengah asyik memeriksa hasil pekerjaan kami.
Kenapa aku tidak konsentrasi?
Aku adalah tipe anak yang tidak suka duduk dibelakang. Jadi saat di kelas, seminar, ataupun UTS aku selalu duduk di depan. Saat itu mejaku hampir berhadapan dengan meja pengawas. dari tempat dudukku ini aku bisa melihat jelas akivitas Bu Yusmia yang sedang mengkoreksi kertas ujian Statistik kami.
Suara spidol Bu Mia yang dengan ganasnya mencoret-coret kertas itu membuat konsentrasiku terganggu.
Sesekali aku melihat ekspresi wajah Bu Mia yang tidak jarang geleng-geleng sambil menarik nafas panjang. Aduh, pasti hasilnya buruk, pikirku.

Sepanjang waktu aku hanya berdoa semoga nilai Statistikku memuaskan.

Perlahan satu dua temanku sudah menyelesaikan soal Kepegawaian itu dan mengumpulkannya ke depan. Ke Bu Mia. Di depan sana teman-temanku disambut oleh kertas ujian Statistik mereka.
Aku memperhatikan ekspresi wajah mereka.
Ada yang tidak berani membuka kertasnya, dan ketika dibuka teman yang bersangkutan tertawa kecut melihat nilainya yang kecil.
Ada juga yang baru dibuka saat sudah keluar ruangan dan kemudian tertawa terbahak-bahak melihat nilainya sendiri. Hmm ... itu adalah Wahyu si badboy :D
Ada yang saat melihat nilainya seperti bebek (alias 2) dia hanya tersenyum bersahaja. Ini hanya permulaan, mungkin begitu pikirnya.

Aku masih duduk di tempatku sambil memperhatikan teman-temanku. Belum berniat mengumpulkan kertas ujian ke depan dan menerima kertas Statistik itu. Aku melihat Bu Mia. Beliau hanya tersenyum (sok) misterius. Ah, Bu Miaaa apa arti dibalik senyummu ituuu...

Akhirnya aku bangkit (bukan dari kubur) dari tempat duduk dan mengumpulkan kertas ujian.

NIMmu berapa Mey?

21.13.1290 buk. Kataku tegas.

Bu Mia menarik sebuah kertas folio dan memberinya padaku.
Dengan takjub aku menerimanya, bak seorang paski yang sedang menerima bendera dari Presiden saat upacara 17-an di Istana Negara.

Aku melangkah mundur dengan tetap senyam senyum pada dosenku yang satu ini. Aku berbalik dan mulai membuka lipatan folio itu. Disana tertera jelas sekali angka yang langsung membuatku berteriak dan melompat kecil.

Aku berbalik lagi melihat Bu Mia.
Bu Mia hanya mengerutkan kening sambil geleng-geleng.
Ah, sudahlah buk aku memang lebay :D
Aku senang. Nilai ini tidak pernah terbayang sebelumnya. Walaupun tidak sempurna tapi aku puas. Nilai ini lebih besar daripada tugas yang sempat beliau berikan beberapa bulan lalu.

Teman-temanku. Aku sedih ketika mereka tidak berhasil mencapai nilai minimum.
Sedih ketika harus melihat angka-angka pemicu "mengulangi" tertera di kertas mereka.
Aku jadi ingat semangat belajar mereka yang membara beberapa waktu lalu di TMP

Nilai kecil bukan semata-mata kita tidak pintar.
Nilai kecil itu aku harap membuat kalian lebih rajin belajar. Tidak meremehkan tugas. Tidak meremehkan dosen. Tidak meremehkan waktu. 
Percaya diri saja. Tidak perlu ribut saat ujian.

Nah, aku, kamu, kita, masih memiliki kesempatan kedua saat UAS nanti.
Kita masih bisa memperbaiki apa yang rusak. Kita masih bisa memperbaiki apa yang salah.
Kita gunakan kesempatan kedua kita ini sebaik mungkin gaes :-)


22 Oktober 2014
Belajar Bersama Statistik