Kejutan Hidup
Meydiana Isfandari
September 24, 2015
0 Comments
Dalam hidup kejutan selalu
terjadi *jadi inget OST-nya Kiraz Mevsimi a.k.a Cinta Musim Cherry, hohoho ...
Ya, akan ada masa dimana kita
dibuat sangat terkejut.
Jika boleh memilih aku ingin
hidup pada masa smp atau smk.
Kehidupan dimana aku masih
seorang anak-anak seutuhnya.
Pada masa itu rasa-rasanya
hidupku damai sejahtera sehat sentosa.
Tidak ada hal-hal yang
memberatkan pikiranku.
Sekolah, belajar, bermain,
tugas sekolah, serta hal-hal wajar lainnya.
Tapi aku sadar bahwa hidup
terus bergerak maju.
Suka tidak suka, mau tidak mau
kita pasti akan melaluinya.
Dinamis, bergerak mengikuti
perkembangan zaman.
Hingga akhirnya hidup membawaku
pada titik dimana aku berada saat ini.
Seolah baru kemarin aku
mengikuti MOS di SMP.
Gadis kecil dengan rambut yang
dikuncir dua, mengenakan atribut MOS yang riweuh.
Aku masih ingat bagaimana kakak
osis membawaku ke ruang guru untuk membacakan sebuah puisi yang kubuat.
Membacanya di depan para dewan
guru.
Aih, saking malunya aku sampai
menangis.
Hahaha, jika dipikir-pikir lucu
juga, kenapa pula aku harus menangis?
Padahal aku tidak dimarahi
ataupun dipermalukan.
Hanya diberi mandat oleh kakak
osis *yang aku sudah lupa nama dan wajahnya, kecuali tubuhnya, bongsor sekalii soalnya* untuk sekedar
membaca puisi.
Pun, seolah baru kemarin aku
memasuki gerbang SMK dengan tergopoh.
Datang terlambat di hari
pertama MOS.
Topi yang ketinggalan hingga
akhirnya malaikat tak bersayap *Ibuku* tiba-tiba muncul di pintu gerbang membawakan
topiku.
Segala tetek bengek yang akhirnya membuatku membenci MOS semacam itu.
Rasanya baru kemarin aku dibuat
pusing oleh UKK yang seramnya sama seperti uji nyali.
Rasanya baru kemarin aku
bersenang-senang bersama teman-temanku dengan liburan ke Malang setelah Ujian
Nasional berakhir.
Ah, masa-masa indah yang
rasanya baru kemarin aku jalani.
Dan sekarang ...
Aku sangat merindukan masa-masa
itu.
Aku rindu pada setiap celotehan
teman sekelas *yang notabene Hawa semua*
Pada perbedaan pendapat yang
tidak jarang menimbulkan perselisihan di antara kami.
Pada setiap hal yang membuat
kami bertingkah seperti anak kecil.
Semua tentang mereka, aku
rindu.
Begitu banyak tingkah laku
teman-teman yang membuatku selalu ingat.
Aku ingat bagaimana Laras yang memintaku
untuk bersedia dikenalkan dengan temannya yang bersekolah di STM *walaupun pada
akhirnya ajang perkenalan itu kandas di tengah jalan, wkkk maaf Ras ...
Aku heran, bagaimana bisa dia
memiliki banyak kenalan di sekolah tetangga itu?
Aku ingat bagaimana Inda yang
sering sekali dispen karena urusannya di Osis.
Bagaimana Intan yang dalam
hidupnya selalu dipenuhi imajinasi-imajinasi tentang Korea.
Hingga dia terjangkit yang
namanya Korea Fever.
Bagaimana Ima yang selalu
menjadi tempatku mengadu perihal pelajaran-pelajaran akuntansi yang waktu itu
membuatku berpikir “sepertinya aku salah
jurusan”.
Ada Maria, seorang sahabat
Kristiani yang menjadikan pertemanan kami begitu indah.
Lalu ada Holip yang membuatku
selalu terinspirasi.
Semua yang ada padanya, aku
suka. *Eh, ambigu ya? Maksudnya suka dengan kepribadiannya.
Pada masa itu banyak kejadian
yang tersaji untukku.
Tentang seorang teman yang
menyukai lawan jenis yang berbeda keyakinan.
Seorang teman yang berpacaran
dengan kawan satu sekolah *yang kalo pas ketemu di kantin Bu Slamet selalu nggak bertegur sapa, hahaha malu kali
yee ...
Seorang teman yang sedang
pedekate dengan kakak kelas.
Hingga seorang teman yang
berpacaran dengan adik kelas alias brondong.
Semuanya sudah diperlihatkan
padaku.
Aku sendiri pernah mengagumi
seorang kawan lain jurusan.
Sek sebentar, ingat itu aku jadi pingin ngakak :-D
Masa-masa yang masih sangat
anak-anak, menurutku.
Aku tidak terganggu dengan
perasaan orang lain tehadapku.
Aku tidak terganggu dengan apa
yang orang bilang tentangku.
Karena memang aku tidak
mendapat gangguan-gangguan itu.
Aku menjalani hidupku dengan
biasa saja, normal.
Saat ini, semuanya berbeda.
Saat kuliah rasanya pintu
gerbang kebebasan terbuka lebar.
Apa yang ingin kamu lakukan,
lakukan saja.
Kita tidak terikat dengan
aturan-aturan ketat seperti yang ada pada saat sekolah.
Kehidupan kampus memberiku
banyak kejutan.
Dari yang tidak pernah keluar
malam, justru saat ini aku bersahabat dengan malam.
Awalnya canggung ketika harus
keluar rumah sore hari dan pulang malam hari.
Tentu semuanya berproses,
perlahan namun pasti.
Dari yang tidak pernah
berorganisasi, tiba-tiba aku sudah pernah adu mulut dengan Abah perihal
organisasi yang aku ikuti.
Aku sendiri heran pernah
bertengkar hebat dengan orang tua karena masalah itu.
Tapi kembali lagi, itulah
proses yang sedang kujalani.
Hingga akhirnya, pada titik ini
aku dihadapkan pada sebuah gangguan yang dulu tidak pernah aku dapatkan saat
masih sekolah.
Aku harus terganggu dengan
perasaan orang lain terhadapku.
Sebenarnya bukan terganggu,
tapi lebih kepada tidak tahu bagaimana harus menyikapi.
Jika menggunakan istilah yang
pernah dia ucapkan, pada masa ini muncul bibit-bibit yang justru membuatku
bingung.
Harus dibagaimanakan bibit ini?
Harus diapakan?
Tidak mungkin aku semai, karena
bukan bibit itu yang ingin aku tanam.
Akhirnya aku hanya bisa
membiarkannya begitu saja.
Jahatkah?
Aku rasa tidak.
Aku menghargai bibit itu dengan
membiarkannya ada di tanah.
Jika aku memupuknya sama saja
dengan memberikan sebuah harapan.
Untuk apa jika pada akhirnya
bibit itu akan bertunas lalu mati tercabut?
Urusan ini membuatku sedikit
tidak tenang.
Ingin menghindar tentu tidak
bisa.
Karena satu kampus, walaupun
tidak setiap hari bertemu.
Akhirnya aku bersyukur,
setidaknya aku tak perlu khawatir tentang urusan jodoh di kemudian hari,
ternyata laku hahahaaaa *halah -____-
Tapi, jika ujung-ujungnya orang
seperti dia yang menyukaiku, aku terkadang berharap menjadi perempuan
biasaaaaaa saja yang tidak menarik perhatiannya.
Aku tidak membutuhkan setiap
hal yang kau banggakan padaku.
Karena aku tidak butuh itu,
sungguh.
Kau belum mengenalku. Aku tidak
menyukai pria yang selalu “membangga-banggakan” dirinya sendiri tanpa diminta.
Seharusnya kau bisa membaca
setiap respon yang kuberikan.
Itu pun jika kau mampu
membacanya.
Tapi sepertinya tidak .....



