Minggu, 27 Desember 2020
Saus Tiram Reunian
Selasa, 01 Desember 2020
Satu Desember
Senin, 30 November 2020
Please Don't Date Him
Sabtu, 21 November 2020
Been There, Done That
Salah satu adegan dalam drama Start Up mengingatkanku pada sebuah pengalaman diremehkan. Dialog yang diucapkan oleh fisrt lead male, Nam Do San, otomatis membuatku mengingat kejadian di masa lalu.
Adegan ketika Chul San dan Yong San meragukan Seo Dal Mi untuk presentasi pada pekan retas di Sandbox (episode 5). Seperti yang diketahui bahwa latar belakang pendidikan Dal Mi hanya SMA, bagaimana mungkin bisa menjelaskan apa itu kecerdasan buatan? Kemudian Do San berkata “Kenapa meremehkan orang lain padahal tahu rasanya diremehkan?”. Sejak Seo Dal Mi terpilih menjadi CEO saja dua shabat Do San itu sebenarnya sudah meragukan Seo Dal Mi.
Di masa lalu, aku pernah sampai
pada kejadian yang akan selalu teringat sebagai sebuah pelajaran. Awal-awal
siaran aku mendapat tugas memandu talkshow seorang profesor dari salah satu
kampus yang ada di Banyuwangi. Seperti biasa aku merasa gugup berhari-hari
membayangkan akan bertatap muka dengan seorang profesor, ngobrol pula.
Aku menepis rasa gugup dengan
mempelajari materi yang sudah diberikan. Membaca dan menyusun poin-poin
pertanyaan yang akan aku tanyakan. Sampai hari H tiba aku akhirnya berhadapan
dengan beliau.
Beberapa menit sebelum on air kami
ngobrol. Aku yang senang bergurau ini agak terkejut ketika mendapat respon
kurang menyenangkan ketika melempar jokes.
Makin gugup aku dibuatnya. First
impression sudah membuatku tidak enak hati. Aku membayangkan akan jadi apa
obrolan kami nanti.
Sampai kemudian beliau memintaku
untuk latihan terlebih dahulu, katakanlah simulasi. Aku menuruti permintaan
beliau. Kami melakukan simulasi sedari awal opening hingga masuk ke poin
pertanyaan pertama. Dari sana beliau menginterupsiku dan mengatakan untuk tidak
perlu menanyakan hal tersebut. Terlalu basa-basi, katanya.
Aku terhenyak. Setelah
menasihatiku panjang lebar, beliau berkata “Jadi gimana? Siap nggak talkshow
hari ini? Apa mau ditunda dulu?” kurang lebih demikian kata-kata yang beliau
keluarkan.
Aku memahami mengapa beliau
bersikap demikian. Aku, anak kemarin sore, yang terlihat sangat tidak
meyakinkan, akan memandu talkshow soal kampusnya yang ada di Banyuwangi.
Sebagai seorang klien tentu beliau ragu pada kemampuanku. Bagaimana jika nanti
aku gugup? Bagaimana jika nanti aku melupakan poin-poin penting yang harusnya
disampaikan? Beliau sudah bayar, tentu beliau ingin hasil yang memuaskan. Aku
memahami hal tersebut.
Mendekati on air aku masuk ke
ruang combo dengan perasaan campur aduk. Ruangan yang sedingin kulkas itu jadi
tidak ada apa-apanya bagiku. Sungguh, diremehkan itu sedih sekali.
Ketika sudah on air aku
menghilangkan segala perasaan gugup dan sedih yang aku rasakan. Aku mulai fokus
pada profesor yang ada di depanku dan membiarkan semuanya mengalir. Satu per
satu pertanyaan beliau jawab. Hingga akhirnya segmen pertama usai.
Ketika jeda iklan, dengan ragu
aku menuju ruangan beliau (karena ruang siaran di Mandala terbagi dua antara
ruang penyiar dan ruang untuk narasumber talkshow) hendak menanyakan topik
untuk segmen selanjutnya.
Baru saja menutup pintu dan
menghadap beliau, beliau langsung mengacungkan dua jempolnya sambil berkata,
“Anda ternyata hebat.”
Aku otomatis lemas luar biasa.
Rasanya campur aduk. Antara ingin menangis tapi juga bahagia. Setelahnya entah
mendapat kekuatan dari mana, semua berjalan lancar hingga akhir acara.
Kejadian itu akan selalu aku
jadikan pengingat. Jangan pernah meremehkan orang lain dalam keadaan apapun.
Aku bisa saja alpa pada beberapa kejadian. Tentu aku pernah meremehkan orang
lain, hanya saja aku lupa kapan dan siapa yang aku remehkan. Kejadian-kejadian
yang luput dari ingatanku itu bisa jadi akan membekas pada ingatan orang lain.
Seperti profesor tersebut yang
bisa saja lupa atau katakanlah tidak sengaja telah bersikap demikian padaku,
tapi aku akan selalu ingat kejadian tersebut. Aku tidak marah atau dendam,
justru aku berterima kasih. Dari pengalaman tersebut sebisa mungkin aku tidak
akan meremehkan orang lain. Karena terkadang kita harus merasakan hal tersebut
lebih dahulu agar tahu apakah hal tersebut baik atau tidak.
Itulah sebabnya dialog dalam episode lima drama Start Up itu relate sekali denganku. Been there, done that.
Rabu, 04 November 2020
Berobat Bersama Bapak
Hari ini mumpung libur siaran aku mengatar bapak ke puskesmas untuk periksa penyakit kulitnya. Penyakit yang sudah lama itu semakin hari semakin menyiksa bapak. Berbulan-bulan kami berspekulasi yang aneh-aneh, kami bahkan sudah memantapkan hati apabila bapak menderita diabetes, melihat luka-luka beliau mirip luka yang timbul karena diabetes.
Bahkan sebelum pergi ke puskesmas bapak berniat pergi ke kiai karena mengira penyakitnya dibuat oleh manusia. Hhhhh, what a nonsense, batinku. Beruntung, setiap bapak mengunjungi kiai, selalu zonk alias enggak pernah bertemu dengan sang kiai. Bukan aku tidak percaya pada hal-hal diluar nalar, tapi sepengetahuanku bapak tidak pernah bermasalah dengan orang. Bapak bukan pengusaha top atau sosok luar biasa sehingga berpeluang memunculkan musuh. Jadi, ya, aku sama sekali tak mendukung rencana bapak pergi ke orang pintar.
Semua berjalan dengan lancar
sampai akhirnya kami sampai di puskesmas. Bahkan saat ambil nomor antrian pun
kami dimudahkan oleh Allah melaui seorang ibu-ibu. Awalnya nomor antrian kami
adalah 45, lalu tiba-tiba seorang ibu berbaju kuning yang duduk tak jauh dari
tempatku berdiri memberikan nomor antrian yang lebih kecil padaku, nomor 34.
Berkali-kali aku mengucapkan terima kasih karena bisa lebih cepat sampai ke
ruang pemeriksaan.
![]() |
| Terima kasih, Ibu baju kuning baik hati. |
Setelah mendaftarkan bapak ke loket, kami menunggu beberapa saat di deretan tempat duduk di depan ruang pelayanan umum. Puskesmas sedang ramai, ada banyak manusia yang datang dengan segala masalah mereka. Ada rasa haru menelusup dadaku ketika melihat seorang bapak tua tertatih sendirian masuk ke dalam ruang pelayanan. Tak tega aku melihat para orang tua harus datang sendiri untuk berobat tanpa ada yang mendampingi.
Setelah beberapa lama nomor
antrian bapak dipanggil. Aku masuk terlebih dahulu diikuti oleh bapak. Sampai
di ruangan yang lumayan besar itu terdapat meja-meja untuk kurang lebih lima
dokter. Bapak ditangani oleh dokter Wulan. Setelah memeriksa tekanan darah
bapak, dokter Wulan melihat luka-luka di tangan dan kaki bapak, kemudian beliau
mendiagnosa sebuah penyakit yang aku tak paham apa namanya.
Aku menceritakan pada beliau soal
kebiasaan bapak yang suka membersihkan luka-lukanya dengan revanol dan minyak
tawon yang justru sebenarnya tak boleh dilakukan karena akan membuat kulit
bapak semakin kering. Dokter Wulan menyarankan menggunkan baby oil atau olive
oil untuk membuat kulit bapak lembab. Beliau perlu kulit bapak mendapat
kelembabannya kembali dan mengevaluasi lagi perkembangan dari kulit bapak.
Setelah dari dokter Wulan kami
pergi ke lab yang ada di sebelah ruang pelayanan umum untuk memeriksa gula
darah bapak. Seperti yang aku katakan di awal, kami sudah menyiapkan mental
kalau-kalau hasil lab bapak positif diabetes.
Di luar dugaan, gula darah bapak
baik sekali. Tak ada masalah dari hasilnya. Aku seperti sedang lewat depan SMPN
1 Srono di siang yang terik, alias adeeem. Tidak menyangka hasilnya akan
demikian melegakan. Aku juga bisa melihat bapak sedikit lega, paling tidak
bapak bisa tahu kepastian kesehatannya.
Kami kembali menemui dokter
Wulan. Sembari beliau menuliskan resep obat aku bertanya apa-apa saja yang
sebaiknya tidak bapak konsumsi. Lagi-lagi diluar dugaan ternyata bapak boleh
makan apa saja, hanya untuk ayam potong dan kacang-kacangan agak dikurangi,
tapi bukan berarti tidak boleh.
Lagi-lagi aku merasa seperti
dipermainkan, hahaha. Karena selama ini aku cerewet sekali soal makanan yang
dikonsusmi bapak. Sebelum periksa, aku dan ibu di rumah membatasi bapak makan
ini makan itu. Ternyata malah tidak ada pantangan bagi bapak.
Well, akhirnya kami pulang dengan keadaan lega karena sudah
mengetahui hasil pemeriksaan. Aku lega karena bapak tak lagi ngeyel soal
penyakit yang dibuat manusia, dan juga lega karena ternyata kesehatan bapak
tidak seburuk yang kami pikirkan. Minggu depan kami harus kembali lagi untuk
pemeriksaan lanjutan. Doakan lancar, ya. Semoga kita semua selalu dalam keadaan
sehat.
Salam sayang.
![]() |
| Semangat, Inspektur Vijay! |
Jumat, 16 Oktober 2020
Tulisan Acak
Kamis, 15 Oktober 2020
Iya, amin.
Semalam kami merayakan pernikahan putra direktur kami dengan tumpengan. Putra Pak Fafan menikah di Merauke dan bapak tidak bisa menghadiri acara pernikahan tersebut. Sebagai gantinya bapak dan ibu merayakannya bersama kami, keluarga besar Radio Mandala Banyuwangi.
Makan bersama dengan seluruh kru dan penyiar selalu jadi momen yang membahagiakan. Karena di momen-momen seperti inilah kami selalu bisa berkumpul dalam formasi yang lengkap. Sebelum sesi makan bersama dimulai bapak melakukan potong tumpeng.
Kami memberikan doa-doa terbaik kami buat Mas Ade dan Mbak Katerine yang sudah sah menjadi pasangan suami istri. Aku enggak tahu bagaimana perasaan Mas Ade harus menikah tanpa dihadiri orang tuanya. Tatap muka hanya via Zoom. :(
Surprisingly, bapak memberikan potongan tumpeng pertamanya buatku. Dengan serangkaian harapan-harapan yang bapak lontarkan agar aku cepat menyusul dan diaminkan seantero ruangan. Ya sudah jelas maksudnya adalah menyusul menikah.
Aku selalu mengaminkan doa baik orang-orang. Doa yang dilontarkan saat menyalami pengantin saat kondangan maupun doa yang dilontarkan pada momen-momen seperti saat bersama bapak dan ibu semalam.
"Semoga cepat nyusul, ya?"
Padahal aku juga enggak mau cepat-cepat. Tapi, selalu kujawab "Iya, amin" agar topik menikah itu segera berakhir.
Selasa, 13 Oktober 2020
Menyambut Keluarga Baru
Dua ribu dua puluh tinggal dua bulan lagi. Aku rasa di penghujung tahun nanti, ketika orang-orang biasanya menuliskan harapan mereka di tahun yang baru, harapan kami semua sama. Semoga pandemi segera berakhir.
Siapa
yang akan menyangka bahwa di tahun dua ribu dua puluh ini hidup jadi teramat
berat? Yang susah semakin susah karena apa-apa enggak boleh. Banyak orang
dirumahkan, tanpa kejelasan sampai kapan. Itu juga yang terjadi pada salah satu
pelamar yang mencoba peruntungan sebagai penyiar di radio tempatku bekerja.
Awal
Agustus lalu Radio Mandala membuka lowongan pekerjaan sebagai penyiar dan
editor. Lamaran yang masuk banyak sekali sehingga kami harus membagi sesi interview menjadi enam sesi. Mereka yang
datang untuk interview berasal dari
latar belakang yang beragam.
Ada
yang pengusaha ikan mas, cabin crew
Garuda Indonesia, station announcer, rapper dan sebagainya. Nah, yang cabin crew itulah yang saat ini sedang
dirumahkan dan entah sampai kapan. Aku membayangkan bagaimana sumpeknya
orang-orang yang biasanya bekerja, dengan rutinitas yang sama, tiba-tiba
menjadi diam saja di rumah.
Maka,
bersyukurlah kita yang selama pandemi ini masih bisa bekerja, meski dengan income yang tidak penuh atau durasi
kerja yang dikurangi. Paling tidak kita masih mendapatkan penghasilan walau tak
sebesar biasanya. Mau bagaimana lagi.
Seorang
cabin crew ini bercerita bahwa
dirinya senang berbicara. Terlihat jelas saat sesi interview, dia begitu luwes menceritakan pengalamannya, menceritkan
perjalanan hidupnya. Sebab itulah dia ingin mencoba melamar menjadi seorang
penyiar di Radio Mandala.
Ada
banyak kisah para pelamar yang membuatku benar-benar melihat dunia baru lagi.
Salah satunya adalah seorang station
announcer yang juga ikut melamar sebagai penyiar. Ingatanku terlempar pada
masa dimana aku rela datang ke Jember seorang diri untuk mengikuti interview sebagai station announcer.
Ya,
saat itu aku yang jobless melamar
menjadi seorang penyiar di stasiun kereta api. Kenapa? Cause I love announcing. Aku yang saat itu berpikir bahwa ini bisa
jadi jalan karir sebagai penyiar ternyata harus berbesar hati karena memang
belum rezeki. Aku pulang dengan perasaan yang susah dijelaskan. Sampai bertahun
kemudian, entah bagaimana kerja Tuhan, aku benar-benar menjadi seorang penyiar.
Penyiar radio, profesi yang aku idam-idamkan.
Ada
juga kisah kuli panggul sayur yang juga melamar menjadi penyiar radio. Bukan
sembarang kuli panggul sayur. Dia punya bakat luar biasa yang membuat interviewer takjub, ngerap. Kombinasi yang sungguh kontras,
bukan? Saat dia datang untuk interview,
malam sebelumnya istrinya baru saja melahirkan anak pertama mereka. Interview berlangsung Minggu, anaknya
lahir Sabtu.
Aku
kagum dengan pengalaman hidupnya yang akhirnya membentuk dia jadi sedemikian
rupa. Jujur saja first impression
sebenarnya tidak terlalu menarik. Tapi, memang benar bahwa kita tidak bisa
menilai manusia hanya dari luarnya saja. Personality-nya
luar biasa.
Sampai
aku menulis catatan ini aku masih belum tahu siapa-siapa saja yang akan lolos
dan berkesempatan untuk magang. Yang jelas, mereka yang nantinya lolos adalah
orang-orang terpilih yang akan memberi warna baru bagi Radio Mandala.
Senin, 28 September 2020
Orang Baik Menikah
Hari ini kondangan ke salah satu kawan baik saat SMK, Lutfi Syarfiya. Manusia baik nan jenaka yang menjadi bagian dari kebahagiaan kami pada saat sekolah dulu. Manusia yang selalu tertawa dan selalu memancarkan aura positif.
Hari ini Fiya menikah. Melanjutkan perjalanan hidup dengan
teman yang ternyata dekat dengan dia, membenarkan definisi bahwa jodoh itu
dekat. Aku datang dan melihat Fiya cantik sekali di pelaminan. Pagi tadi grup
alumni sekolah memang sudah ramai saat foto wajah Fiya tersebar. Dan malam ini
aku melihatnya secara langsung.
Manusia jenaka satu itu memang istimewa. Dia benar-benar
“cantik”. Ada rasa haru dan bahagia saat memeluk Fiya. Perasaan bahagia yang
terbawa hingga perjalanan pulang, aku senyum-senyum sendirian.
Selamat melanjutkan perjalanan hidup, Fi. Semoga Andi bisa menjadi partner jalan-jalan yang seru dan menyenangkan, ya. Teruslah jadi terang bagi sekeliling. Doa-doa baik akan selalu mengalir pada orang baik. We love you.
![]() |
| Pas kondangan gak bawa hape, jadi gak bisa selfie. Ini poto pas akad yang tersebar di grup kelas. |
Sabtu, 29 Agustus 2020
Be Kind to Your Mind
Apa, sih, satu hal yang selalu bisa membuat mood kalian kembali lagi? Hal yang selalu works saat kalian sedang sedih, bad mood, atau nggak semangat. Aku kira masing-masing dari kalian punya satu hal yang kalau kalian lakukan akan mengembalikan gairah hidup.
Bisa nonton film favorit, mancing, karaokean, masak, beres-beres rumah, traveling, atau menyendiri aja untuk sementara waktu.
Kenapa aku bahas soal ini? Karena aku jadi ingat dua tahun lalu saat masih kerja kantoran. Waktu itu aku menerima tawaran untuk menggantikan seorang teman yang akan resign. Seorang teman ini akan pulang ke kampung halamnnya sehingga jabatan dia tentu akan kosong.
Posisiku
yang saat itu jobeless dan merasa
harus memiliki aktivitas ekonomi yang tetap, maka aku terima tawarannya. Yang
ada di kepalaku waktu itu hanya aku harus bekerja dan menabung untuk bisa
memenuhi kebutuhan pribadiku sendiri dan membantu kebutuhan keluarga di rumah.
Mungkin
karena sedari awal aku terlalu meyakinkan diriku sendiri bahwa suatu saat nanti
aku akan betah dan menikmati pekerjaan ini, akhirnya aku menyerah di bulan
ketiga. Sebuah perjuangan yang sangat singkat dan cenderung hopeless. Tiga bulan itu benar-benar aku
jalani dengan tidak semangat dan apa adanya.
Aku
ingat masa-masa tertekan karena pekerjaan di kantor. Aku ingat masa-masa aku
berangkat ke kantor dengan tidak semangat dan selalu menghitung waktu. Aku
ingat masa dimana aku berpura-pura mendengarkan dan berpura-pura antusias saat
atasan memaparkan rencana-rencana perusahaan ke depan. Semua itu membuatku
ingin menghentikan waktu sehingga tidak perlu ada hari esok.
Tapi,
Tuhan memang adil. Di masa sulit itu aku menemukan hal-hal yang membuatku masih
bertahan walau tiga bulan. Aku bertemu rekan kerja yang unik. Rekan kerja yang
bisa membuat hari-hariku di kantor lebih ceria. Rekan kerja yang meski agak freak but honestly he was a very kindhearted
person. Semua lelucon yang keluar dari mulutnya selalu bisa membuatku
tertawa. Dan tentu hal itu bisa sejenak membuatku lupa pada tugas-tugas yang
menumpuk.
Jika
suatu hari dia tidak datang ke ruanganku, aku yang akan datang ke ruangannya
dan melemparkan jokes sekadar untuk menghibur diriku sendiri. Sebegitu
tertekannya aku.
Hal
lain yang membuatku bisa bertahan meski hanya tiga bulan adalah radio. How come? Jika ada salah satu dari
kalian yang merupakan penikmat OZ Morning Show zaman Coki Muslim, mari kita
bergandengan tangan.
Jadi,
(benerin posisi duduk) dulu waktu mereka masih siaran pagi di OZ Radio aku
selalu mendengarkan mereka. Karena aku memang penikmat karya-karya Majelis Lucu
Indonesia, jauh sebelum akhirnya mereka kena kasus. Kasus masak babi itu aja
aku nonton saat sedang makan siang di kantor dan tentu saja terbahak-bahak, eh
besok-besoknya malah viral.
Nah,
setiap hari sebelum bekerja aku selalu sarapan di kantor sambil menikmati
streaming OZ Morning Show. Acara yang dipandu Coki Muslim itu mengudara dari
jam enam sampai jam sepuluh pagi. Demi apapun, aku merasa lega dan baik-baik
saja saat mendengarkan mereka siaran. Semua beban yang ada di pundak rasanya
berpindah entah kemana sehingga aku merasa lebih ringan.
Aku
tidak pernah menyangka dampak dari siaran bisa begitu rupa. Coki dan Muslim memang
tidak tahu jika di belahan bumi Indonesia ada seseorang yang hidupnya lebih
ringan berkat celotehan mereka di radio, dan buatku mereka adalah penolong.
Satu pagi aku pernah merasa bahagia sampai nggak tahu harus bagaimana. Saat
akun twitter OZ Radio melempar sebuah pertanyaan untuk topik siaran.
Waktu
itu aku rajin membalas twit-twit mereka dengan pengalaman pribadiku yang tentu relate dengan topik siarannya. Ada satu
momen ketika Coki membalas twitku and it
goes viral. Terlebih ketika twitku itu diudarakan dengan sangat jenaka oleh
mereka. Itu adalah perasaan yang sulit aku jelaskan karena memang bahagianya
susah dijelaskan oleh kata-kata.
Aku
tahu ini agak berlebihan, tapi aku mengatakan kebenaran. Mungkin saat ini kita
merasa hidup kita nggak berguna, tapi percayalah ada seseorang yang menghargai
kehadiranmu di dunia ini. Ada orang-orang yang hidupnya tertolong berkat karya
kalian, kita hanya nggak tahu siapa orang itu.
Setiap
hari aku merasa senang meski hanya beberapa jam. Setiap hari aku selalu
bersemangat mengerjakan deadline
meski hanya sampai jam sepuluh. Saat OZ Morning Show selesai, aku kembali sadar
pada realitas dan yaaa beban di pundakku datang lagi.
Oleh
sebab itu, one day, kalau aku berkesempatan
untuk bertemu dengan duo ckuakzzz itu aku akan menyampaikan rasa terima kasihku
yang teramat besar atas peran mereka dalam perjalanan hidupku. Bagaimana mereka
bisa menjadi penawar stres yang aku rasakan saat aku menjadi pegawai kantoran
dulu.
Hal
lain yang selalu bisa membuatku baik-baik saja adalah Running Man. Ya, Running
Man yang variety show Korea itu. Aku
lupa kapan tepatnya aku berkenalan dengan variety
show yang satu ini. Yang jelas dulu Veni yang mengenalkanku pada mereka.
Sampai
hari ini aku menulis catatan ini, mereka sudah mengudara sebanyak 517 episode
dari tahun 2010. Tayang setiap Minggu malam di Korea mereka benar-benar
memberikan banyak tawa pada penikmatnya. Running Man tidak pernah gagal
membuatku tertawa atau bahkan menangis.
Sepuluh
tahun lamanya mereka menghibur dan berlari sekuat tenaga untuk memberikan yang
terbaik. Dari program ini kita bisa melihat makhluk yang sepanjang episodenya
selalu konsisten pada image
pengkhianatan dan kecurangan, dialah Lee Kwang Soo. Atau Yeo Jae Seok yang
benar-benar ruh dari Running Man. Aku nggak paham lagi bagaimana bisa Tuhan
menciptakan manusia dengan bakat menghibur yang luar biasa seperti dia.
Nggak
heran kalau Coki Muslim punya tempat tersendiri di hatiku, karena mereka yang
benar-benar menghiburku disaat sulit dulu. Running Man, meski Gary sudah tidak
lagi bergabung dan diganti oleh dua anggota baru, akan selalu jadi andalan
sampai kapanpun.
Kesehatan mental itu bukan sesuatu yang sepele. Jadi, mari lakukan hal-hal yang bisa membuatmu senang, bahagia, demi kesehatan mental yang terjaga.
Senin, 17 Agustus 2020
Psikopat Tapi Keren Banget!
Aku memulai lagi aktivitas menonton beragam jenis film. Setelah awal-awal covid-19 dulu aku menamatkan beberapa film lama seperti The Hidden Figures, The Help, Queen of Katwe, dan lain sebagainya aku sempat hiatus dari aktivitas nonton film beberapa bulan. Selain karena aktivitas yang lumayan juga karena faktor M alias ya males aja kudu online berjam-jam buat nonton film.
Nah,
dulu pas barter film sama Mbak Yiyi, aku diberi beberapa film yang belum
semuanya aku tonton. Salah satunya adalah Gone Girl. Film tahun 2014 yang
dibintangi sama aduh siapa ya aku lupa (padahal bisa browsing dulu) ini
menceritakan tentang seorang istri yang pergi dari rumah saat hari jadi
pernikahan mereka yang kelima.
Kebayang
gak sih nggak ada angin apalagi hujan terus tiba-tiba istri kita ngilang gitu
aja dari rumah pas anniversary. Dan hilangnya juga meninggalkan clue-clue udah
kayak lagi main detektif-detektifan.
Aku
mengakui bahwa terlambat banget menyadari ada film sekeren ini dan baru nonton
di tahun 2020. It was really such an
amazing movie! Sepanjang film aku nggak bisa untuk nggak bertanya-tanya dan
mikir “wah gila ini perempuan piskopat tapi keren banget”.
Empat
kata aneh yang harus aku keluarkan, psikopat tapi keren banget. Kan aneh, ya.
Psikopat, tapi keren, keren banget malah.
Kalau
kalian ketik di google dengan keyword rekomendasi film bertema psikopat maka
kalian akan menemukan Gone Girl diantara sekian banyak film yang
direkomendasikan.
Worth to watch, nggak? Worth
banget menurutku. Tapi sekali lagi ada juga orang-orang yang nggak bisa nonton
film dengan genre seperti ini, apalagi di Gone Girl juga ada beberapa adegan
yang bikin kita nggak nyaman.
Dah
ya, gaes. Kalau belum nonton sila ditonton. Bagus, dan ya meski nanti bakal
bertanya-tanya sama endingnya kok bisa begitu nggak mau ada sekuelnya, nih?
Sabtu, 15 Agustus 2020
Jadi Baik Buat Diri Sendiri
Habis gelap terbitlah terang. Badai pasti berlalu.
Tapi, siapa yang bakal menjamin
kalau kita tetap hidup saat badai sudah berlalu atau saat gelap sudah berubah
terang. Bisa jadi kita mati saat badai terjadi atau saat terperangkap gelap.
Maka, hiduplah dengan
sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Jangan jahat sama orang lain kalau nggak
mau dijahatin orang. Nggak usah hidup muluk-muluk kalau hanya membuat kita
terseok-seok mencukupi segala hal. Baik sama orang meski balasannya nggak
selalu sama seperti yang kita berikan.
Nggak usah mikirin apa kata orang
biar nggak capek mikirin perasaan orang lain. Apa yang baik menurut kita belum
tentu baik menurut orang lain, itu sudah jelas. Tugas kita cuma harus
mengendalikan hal-hal yang bisa kita kendalikan biar hidup lebih ringan.
Misal, memilih apa yang mau kita
baca, memilih apa yang mau kita ikuti di sosial media, memilih apa yang mau
kita jadikan tontonan, mengendalikan pikiran positif kita, banyak lagi.
Nggak perlu berandai-andai apa
yang akan terjadi di masa depan atau memikirkan kenapa ada orang yang jahat
sama orang lain, karena itu adalah hal-hal yang nggak bisa kita kendalikan.
Ngomong mah gampang, ngejalaninnya susah. Nggak susah kalau kita serius mau coba. Nggak susah kalau kita serius mau berubah jadi lebih baik. Berubah jadi lebih baik bukan buat orang lain, tapi buat diri kita sendiri.
Selasa, 21 Juli 2020
Kleponku Sayang Kleponku Malang
![]() |
| Sumber: twitter |
Selasa, 30 Juni 2020
MENGATASI MASALAH TANPA MASALAH
Minggu, 21 Juni 2020
Premenstrual Syndrome (PMS)
Dari yang aku baca di alodokter.com munculnya gejala yang melanda fisik dan mental ini belum bisa dipastikan apa penyebabnya. Tapi, diperkirakan karena adanya perubahan hormon selama masa menstruasi, yaitu estrogen dan progesteron.
Gejalanya apa aja? Banyak, gaes. Mulai dari sakit kepala, tumbuh jerawat, kram perut, nyeri otot, sedih tanpa alasan yang jelas, cemas, mudah tersinggung. Biasanya tiap perempuan berbeda-beda gejalanya. No worries, karena gejala-gejala itu tadi akan hilang begitu haid tiba atau selesai.
Nah, kemarin (20/06) aku pergi takziah ke Sempu bareng kru Mandala. Menghindari mabuk darat dan serangan stroke lagi, aku motoran dengan Mega dan Pak Kuncoro. Nyetir jauh sudah bukan hal baru, jadi ya oke saja.
Seharian keliling. Mampir ke tiga tempat, dan di tiga tempat itu kami selalu makan. Sungguh weteng karet. Benar-benar pulang ke rumah sekitar jam empat sore, dengan sisa energi yang tidak banyak. Setelah sampai rumah itulah aku merasa capek luar biasa.
Dan, satu yang aku pelajari saat tubuh kita lelah adalah kita jadi mudah marah-marah. Diajak ngobrol nggak mood, ngobrol tapi yang diajak ngobrol jawab "ha?", marah. Pokoknya semua serba salah dan bikin kita jadi marah-marah.
Nah, saat sedang bludrek itulah aku ingat empat hari lagi haid (kalau tidak meleset). Berarti ini masuk masa pra haid. Aku menyadari satu hal, bahwa kombinasi capek dan PMS adalah kombinasi yang sungguh berbahaya.
Sekarang aku deg-degan menunggu haid tiba. Karena biasanya akan disertai dengan sakit-sakit seluruh badan yang luar biasa. Semoga gejala-gejala PMS ini juga selesai saat haid tiba. Karena kalau berlangsung sampai haid aku nggak tahu akan berapa banyak orang lagi yang aku jutekin atau aku semprot karena mereka nggak ngapa-ngapain aja tetap salah di mataku.
![]() |
| Gambarnya kiyowo, ya. Ngedit sendiri di Canva :) |
Dipijat Mbah Nah
![]() |
| Mbah Nah tampak samping. |
Sabtu, 06 Juni 2020
ILYSM, Twitter
Untuk teman-teman yang sering berada pada posisi seperti ini pasti relate sekali. Seharian kita pasang ekspresi seakan semuanya bisa kita lalui. Semua tekanan, semua beban, semua pekerjaan, seakan tidak membuat kita lelah, seolah kita akan baik-baik saja dengan semua keadaan tersebut.
Selasa, 26 Mei 2020
Syawal 2020
Jumat, 22 Mei 2020
Ai yang Mirip Park Saeroyi
![]() |
| Sumber gambar: https://www.allkpop.com/article/2020/04/park-seo-joon-excited-to-finally-grow-out-his-hair-after-itaewon-class-ending |















