Minggu, 27 Desember 2020

Kung, met Natal.

Desember 27, 2020 0 Comments
Natal tahun ini dunia dilanda pandemi covid-19. Aku membuat catatan ini sebagai pengingat bagi tahun-tahun mendatang. Bahwa tahun 2020 seluruh umat tak bisa merayakan Natal semeriah biasanya. Bahwa dalam kejadian tersebut ada banyak pelajaran yang bisa umat ambil.

Hari ini aku mengunjungi salah satu manusia favoritku, Antonius Sunaryo. Orang yang telah merawat ibuku sejak usia tiga tahun dengan penuh kasih dan sayang. Ia berikan semua yang dimiliki pada ibuku. Ia penuhi hak-hak ibuku dengan baik, termasuk hak beragama.

Ia yang aku panggil Kakung tak memaksa ibuku harus meyakini apa yang ia yakini. Justeru Kakung memasukkan ibuku ke MI dan membiarkan ibuku belajar mengaji di langgar.

Aku mengunjungi tempat peristirahatan terakhirnya dalam perjalanan menuju rumah Veni. Betapa berat sekali rindu pada orang yang sudah mati. Tidak ada yang bisa dilakukan selain berdoa dalam hati.

Jadi, sudah cerita apa saja hari ini dengan Bapa di surga? Ceritakan soal aku yang kini sudah menjadi penyiar di radio favoritmu semasa hidup, ya. Kadang, aku selalu ingin tahu bagaimana reaksimu ketika tahu bahwa aku sekarang adalah seorang penyiar di Radio Mandala.

Kakung, ingatkah saat kau bertanya padaku apakah aku bisa mengaji? Waktu itu kujawab aku sudah pandai membaca Al-Qur'an. Lantas kau masuk ke dalam kamarmu dan keluar dengan membawa sajadah. Kau hadiahkan sajadah itu untukku, kau bilang itu pemberian tetangga yang baru saja pulang dari Mekah.

Kakung, ingatkah saat aku menemanimu duduk di teras rumah sambil memandang jalan raya? Waktu itu kesehatanmu sudah mulai menurun. Tatapan matamu pun sudah tak seperti biasanya. Kau diam saja, tak banyak bicara. Aku pun tidak berani mengajak bicara, hanya diam saja.

Jika aku tahu bahwa waktu itu adalah kebersamaan terakhir kita, sumpah demi Tuhan aku akan bercerita banyak hal tanpa harus kau jawab. Aku tak peduli kau mendengarkan aku atau tidak. Jika aku tahu waktu itu adalah kebersamaan terakhir kita, maka aku ingin minta pada Tuhan agar tak lekas. Mengapa terburu-buru?

Selamat Natal, Antonius Sunaryo. Sampaikan salamku pada Bapa agar terus menjagamu di surga. Selamat Natal, Kakungku tercinta.

Aku menulis catatan ini dengan berderai-derai air mata mengenang almarhum. Betapa aku sangat merindukan beliau.

Saus Tiram Reunian

Desember 27, 2020 0 Comments
Hari ini aku dan Lia pergi ke rumah Veni. Veni baru pulang ke Banyuwangi setelah kerja kerja kerja di Bali sana. Setelah janjian via grup whatsapp jadilah aku dan Lia berangkat satu jam lebih dari yang disepakati di awal. Harusnya berangkat jam delapan, kami malah berangkat jam sembilan.

Terakhir kami main ke tempat Veni ya tahun lalu. Persis bulan Desember tahun lalu kami ke Balokan. Karena Veni hanya bisa pulang ke Banyuwangi saat musim liburan sekolah seperti ini.

Akhirnya kami bisa bertemu lagi bertiga. Makan, cerita, ketawa lalu pulang lagi dengan keadaan yang sama seperti tahun lalu. Karena ini Desember maka setiap selepas dhuhur langit Genteng selalu mendung. Persis seperti tahun lalu.

Kami pun terjebak di Lontang-lantung Genteng. Hujan deras yang mengguyur Genteng membuat kami malas pulang. Selain hujan yang masih sangat deras, tentu saja.

Aku senang masih bisa bertemu mereka meski tak setiap hari. Justeru, aku pikir beginilah cara terbaik untuk merawat pertemanan. Terima kasih untuk hari ini, Saus Tiram. Sampai jumpa dalam sesi poto esok.

Selasa, 01 Desember 2020

Satu Desember

Desember 01, 2020 0 Comments
Menulis catatan satu Desember ini dengan keadaan badan bersih dan segar setelah mandi. Mandi yang sangat terlambat setelah menonton Ikatan Cinta bersama ibu di bale depan. Sekira jam sembilan malam aku baru mandi setelah sebelumnya memakai masker kopi dan beras.

Tidak terasa sudah masuk ke bulan terakhir di tahun dua ribu dua puluh. Dimana harapan orang-orang sepertinya sama, pagebluk segera berakhir. I'm so sick of this pandemic.

Tidak banyak harapan yang aku semogakan. Keadaan menjadi pulih dan semakin membaik saja sudah sangat bersyukur. Pekerjaan lancar, kesehatan baik, itu dulu cukup.

Pagi tadi aku mengawali siaran pagi di satu Desember dengan lancar. Sarapan mi gelas sebelum Mandala Aktualita. Edit berita untuk Suara Surabaya. Semuanya lancar dan berjalan seperti biasanya.

Pulang ke rumah dan menikmati tidur siang yang cukup nyenyak. Melewatkan kesempatan untuk bertemu tanaman dan senam seperti kemarin sore di halaman. Tapi, tak apa. Besok aku libur siaran dan akan berada di rumah seharian. Sehingga bisa melunasi semua hal yang tidak bisa aku lakukan hari ini.

Tetap waras di tengah situasi yang tidak menentu ini tentu sebuah kemewahan. Saat berita semakin tidak jelas, kelakuan beberapa orang yang sungguh membuat malu, kejadian-kejadian ekstrim yang membuatku mau pindah saja ke Timbuktu, semuanya membuatku merasa dunia semakin jauh. Jauh dari ramah, jauh dari aman, jauh dari harapan.
                    Mi gelas satu Desember

Senin, 30 November 2020

Please Don't Date Him

November 30, 2020 0 Comments
Aku mulai jatuh hati pada Song Ha Yoon ketika pertama kali melihat dia dalam drama Fight for My Way. Di drama itu ia berperan sebagai second lead female, yang bersahabat dengan Kim Ji Won, Park Seo Joon dan Ahn Jae Hong.

Song Ha Yoon bermain dengan apik sekali. Dialog-dialognya ringan tapi kuat. Ada satu adegan yang masih lekat di ingatanku. Adegan saat Ha Yoon dan Ji Won duduk bersama dan bicara soal mimpi.

Ha Yoon bertanya apakah salah punya mimpi yang sederhana, sesederhana ingin menjadi ibu rumah tangga? Kalian harus melihat sendiri adegan itu sehingga bisa merasakan peran yang dimainkan oleh Ha Yoon.

Tidak hanya itu, adegan ketika Ha Yoon menangis juga adalah bagian favoritku. Ingat ketika dia mendapati sang pacar, Ahn Jae Hong, tertidur di rumah perempuan lain? It broke my heart so much. Menangyyys aku dibuatnya.

Nah, sekarang ini Song Ha Yoon kembali bermain dalam sebuah drama yang ditayangkan MBC, Please Don't Date Him. Aku baru nonton sampai episode dua. Tapi, di episode dua ini aku melihat kembali Ha Yoon dengan kemampuan aktingnya yang luar biasa. Akting seperti dalam Fight for My Way, tapi bahkan lebih bagus.

Adegan ketika dia marah dan frustasi pada teknologi yang ia buat sendiri. Pasalnya, teknologi (kulkas) tersebut justru memberikan informasi soal calon suaminya. Karena informasi itulah akhirnya dia tahu betapa brengseknya calon suaminya tersebut.

Di sini Ha Yoon berperan sebagai Seo Ji Sung, seorang wanita yang berprofesi sebagai programmer. Ia merupakan bagian dari tim pengembang AI di sebuah perusahaan. Nah, ketika Ji Sung ini sedang mengerjakan proyek lemari es, bukannya menciptakan program yang bisa mengukur tingkat kesegaran sayur, lemari es itu justru bisa menilai seseorang.

Dari lemari es itu pula Ji Sung tahu bahwa calon suami yang ia cintai, Bang Jung Han, ternyata bukan pria yang baik. Sejauh ini, buatku Please Don't Date Him boleh banget buat ditonton. Ceritanya ringan, karakter-karakter perempuannya juga kuat dan unik.

Kalau dilihat dari cover dramanya, bisa dipastikan kisah tiga perempuan yang ada di cover tersebut akan dapat spotlight, semacam Search:WWW. Dan, tentu saja satu pria yang berada dibelakang mereka adalah first lead male-nya, yang belakangan aku tahu bahwa dia kelahiran 1997. OMG.

Sabtu, 21 November 2020

Been There, Done That

November 21, 2020 0 Comments

Salah satu adegan dalam drama Start Up mengingatkanku pada sebuah pengalaman diremehkan. Dialog yang diucapkan oleh fisrt lead male, Nam Do San, otomatis membuatku mengingat kejadian di masa lalu.

Adegan ketika Chul San dan Yong San meragukan Seo Dal Mi untuk presentasi pada pekan retas di Sandbox (episode 5). Seperti yang diketahui bahwa latar belakang pendidikan Dal Mi hanya SMA, bagaimana mungkin bisa menjelaskan apa itu kecerdasan buatan? Kemudian Do San berkata “Kenapa meremehkan orang lain padahal tahu rasanya diremehkan?”. Sejak Seo Dal Mi terpilih menjadi CEO saja dua shabat Do San itu sebenarnya sudah meragukan Seo Dal Mi.

Di masa lalu, aku pernah sampai pada kejadian yang akan selalu teringat sebagai sebuah pelajaran. Awal-awal siaran aku mendapat tugas memandu talkshow seorang profesor dari salah satu kampus yang ada di Banyuwangi. Seperti biasa aku merasa gugup berhari-hari membayangkan akan bertatap muka dengan seorang profesor, ngobrol pula.

Aku menepis rasa gugup dengan mempelajari materi yang sudah diberikan. Membaca dan menyusun poin-poin pertanyaan yang akan aku tanyakan. Sampai hari H tiba aku akhirnya berhadapan dengan beliau.

Beberapa menit sebelum on air kami ngobrol. Aku yang senang bergurau ini agak terkejut ketika mendapat respon kurang menyenangkan ketika melempar jokes. Makin gugup aku dibuatnya. First impression sudah membuatku tidak enak hati. Aku membayangkan akan jadi apa obrolan kami nanti.

Sampai kemudian beliau memintaku untuk latihan terlebih dahulu, katakanlah simulasi. Aku menuruti permintaan beliau. Kami melakukan simulasi sedari awal opening hingga masuk ke poin pertanyaan pertama. Dari sana beliau menginterupsiku dan mengatakan untuk tidak perlu menanyakan hal tersebut. Terlalu basa-basi, katanya.

Aku terhenyak. Setelah menasihatiku panjang lebar, beliau berkata “Jadi gimana? Siap nggak talkshow hari ini? Apa mau ditunda dulu?” kurang lebih demikian kata-kata yang beliau keluarkan.

Aku memahami mengapa beliau bersikap demikian. Aku, anak kemarin sore, yang terlihat sangat tidak meyakinkan, akan memandu talkshow soal kampusnya yang ada di Banyuwangi. Sebagai seorang klien tentu beliau ragu pada kemampuanku. Bagaimana jika nanti aku gugup? Bagaimana jika nanti aku melupakan poin-poin penting yang harusnya disampaikan? Beliau sudah bayar, tentu beliau ingin hasil yang memuaskan. Aku memahami hal tersebut.

Mendekati on air aku masuk ke ruang combo dengan perasaan campur aduk. Ruangan yang sedingin kulkas itu jadi tidak ada apa-apanya bagiku. Sungguh, diremehkan itu sedih sekali.

Ketika sudah on air aku menghilangkan segala perasaan gugup dan sedih yang aku rasakan. Aku mulai fokus pada profesor yang ada di depanku dan membiarkan semuanya mengalir. Satu per satu pertanyaan beliau jawab. Hingga akhirnya segmen pertama usai.

Ketika jeda iklan, dengan ragu aku menuju ruangan beliau (karena ruang siaran di Mandala terbagi dua antara ruang penyiar dan ruang untuk narasumber talkshow) hendak menanyakan topik untuk segmen selanjutnya.

Baru saja menutup pintu dan menghadap beliau, beliau langsung mengacungkan dua jempolnya sambil berkata, “Anda ternyata hebat.”

Aku otomatis lemas luar biasa. Rasanya campur aduk. Antara ingin menangis tapi juga bahagia. Setelahnya entah mendapat kekuatan dari mana, semua berjalan lancar hingga akhir acara.

Kejadian itu akan selalu aku jadikan pengingat. Jangan pernah meremehkan orang lain dalam keadaan apapun. Aku bisa saja alpa pada beberapa kejadian. Tentu aku pernah meremehkan orang lain, hanya saja aku lupa kapan dan siapa yang aku remehkan. Kejadian-kejadian yang luput dari ingatanku itu bisa jadi akan membekas pada ingatan orang lain.

Seperti profesor tersebut yang bisa saja lupa atau katakanlah tidak sengaja telah bersikap demikian padaku, tapi aku akan selalu ingat kejadian tersebut. Aku tidak marah atau dendam, justru aku berterima kasih. Dari pengalaman tersebut sebisa mungkin aku tidak akan meremehkan orang lain. Karena terkadang kita harus merasakan hal tersebut lebih dahulu agar tahu apakah hal tersebut baik atau tidak.

Itulah sebabnya dialog dalam episode lima drama Start Up itu relate sekali denganku. Been there, done that.

Rabu, 04 November 2020

Berobat Bersama Bapak

November 04, 2020 0 Comments

Hari ini mumpung libur siaran aku mengatar bapak ke puskesmas untuk periksa penyakit kulitnya. Penyakit yang sudah lama itu semakin hari semakin menyiksa bapak. Berbulan-bulan kami berspekulasi yang aneh-aneh, kami bahkan sudah memantapkan hati apabila bapak menderita diabetes, melihat luka-luka beliau mirip luka yang timbul karena diabetes.

Bahkan sebelum pergi ke puskesmas bapak berniat pergi ke kiai karena mengira penyakitnya dibuat oleh manusia. Hhhhh, what a nonsense, batinku. Beruntung, setiap bapak mengunjungi kiai, selalu zonk alias enggak pernah bertemu dengan sang kiai. Bukan aku tidak percaya pada hal-hal diluar nalar, tapi sepengetahuanku bapak tidak pernah bermasalah dengan orang. Bapak bukan pengusaha top atau sosok luar biasa sehingga berpeluang memunculkan musuh. Jadi, ya, aku sama sekali tak mendukung rencana bapak pergi ke orang pintar.

Semua berjalan dengan lancar sampai akhirnya kami sampai di puskesmas. Bahkan saat ambil nomor antrian pun kami dimudahkan oleh Allah melaui seorang ibu-ibu. Awalnya nomor antrian kami adalah 45, lalu tiba-tiba seorang ibu berbaju kuning yang duduk tak jauh dari tempatku berdiri memberikan nomor antrian yang lebih kecil padaku, nomor 34. Berkali-kali aku mengucapkan terima kasih karena bisa lebih cepat sampai ke ruang pemeriksaan.

Terima kasih, Ibu baju kuning baik hati.

Setelah mendaftarkan bapak ke loket, kami menunggu beberapa saat di deretan tempat duduk di depan ruang pelayanan umum. Puskesmas sedang ramai, ada banyak manusia yang datang dengan segala masalah mereka. Ada rasa haru menelusup dadaku ketika melihat seorang bapak tua tertatih sendirian masuk ke dalam ruang pelayanan. Tak tega aku melihat para orang tua harus datang sendiri untuk berobat tanpa ada yang mendampingi.

Setelah beberapa lama nomor antrian bapak dipanggil. Aku masuk terlebih dahulu diikuti oleh bapak. Sampai di ruangan yang lumayan besar itu terdapat meja-meja untuk kurang lebih lima dokter. Bapak ditangani oleh dokter Wulan. Setelah memeriksa tekanan darah bapak, dokter Wulan melihat luka-luka di tangan dan kaki bapak, kemudian beliau mendiagnosa sebuah penyakit yang aku tak paham apa namanya.

Aku menceritakan pada beliau soal kebiasaan bapak yang suka membersihkan luka-lukanya dengan revanol dan minyak tawon yang justru sebenarnya tak boleh dilakukan karena akan membuat kulit bapak semakin kering. Dokter Wulan menyarankan menggunkan baby oil atau olive oil untuk membuat kulit bapak lembab. Beliau perlu kulit bapak mendapat kelembabannya kembali dan mengevaluasi lagi perkembangan dari kulit bapak.

Setelah dari dokter Wulan kami pergi ke lab yang ada di sebelah ruang pelayanan umum untuk memeriksa gula darah bapak. Seperti yang aku katakan di awal, kami sudah menyiapkan mental kalau-kalau hasil lab bapak positif diabetes.

Di luar dugaan, gula darah bapak baik sekali. Tak ada masalah dari hasilnya. Aku seperti sedang lewat depan SMPN 1 Srono di siang yang terik, alias adeeem. Tidak menyangka hasilnya akan demikian melegakan. Aku juga bisa melihat bapak sedikit lega, paling tidak bapak bisa tahu kepastian kesehatannya.

Kami kembali menemui dokter Wulan. Sembari beliau menuliskan resep obat aku bertanya apa-apa saja yang sebaiknya tidak bapak konsumsi. Lagi-lagi diluar dugaan ternyata bapak boleh makan apa saja, hanya untuk ayam potong dan kacang-kacangan agak dikurangi, tapi bukan berarti tidak boleh.

Lagi-lagi aku merasa seperti dipermainkan, hahaha. Karena selama ini aku cerewet sekali soal makanan yang dikonsusmi bapak. Sebelum periksa, aku dan ibu di rumah membatasi bapak makan ini makan itu. Ternyata malah tidak ada pantangan bagi bapak.

Well, akhirnya kami pulang dengan keadaan lega karena sudah mengetahui hasil pemeriksaan. Aku lega karena bapak tak lagi ngeyel soal penyakit yang dibuat manusia, dan juga lega karena ternyata kesehatan bapak tidak seburuk yang kami pikirkan. Minggu depan kami harus kembali lagi untuk pemeriksaan lanjutan. Doakan lancar, ya. Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat.

Salam sayang.

Semangat, Inspektur Vijay!

Jumat, 16 Oktober 2020

Tulisan Acak

Oktober 16, 2020 0 Comments
Malam ini aku menginap di rumah mbah. Seperti biasa aku menempati kamar depan yang lampunya entah dari kapan belum diganti, alias aku selalu tidur dalam keadaan lampu mati. Sebenarnya tidak masalah, toh aku memang tidak suka tidur dalam keadaan terang benderang.

Hanya saja aku tidak bisa melakukan beberapa pekerjaan (yang mengharuskan pakai laptop) sambil rebahan di kamar. Di sini aku tidak punya meja kerja sendiri, berbeda dengan di rumah. Memang benar, seenak-enaknya rumah orang lebih enak rumah sendiri.

Aku baru saja menghabiskan semangkuk mi rebus. Sambil nonton Malam Malam aku menunggu beberapa saat sebelum beranjak tidur. Kata orang tua pamali langsung tidur setelah makan. Emang iya? Tapi sepertinya aku pernah mendengar alasan medis dari hal tersebut. Aku lupa.

Kamis, 15 Oktober 2020

Iya, amin.

Oktober 15, 2020 0 Comments

Semalam kami merayakan pernikahan putra direktur kami dengan tumpengan. Putra Pak Fafan menikah di Merauke dan bapak tidak bisa menghadiri acara pernikahan tersebut. Sebagai gantinya bapak dan ibu merayakannya bersama kami, keluarga besar Radio Mandala Banyuwangi.

Makan bersama dengan seluruh kru dan penyiar selalu jadi momen yang membahagiakan. Karena di momen-momen seperti inilah kami selalu bisa berkumpul dalam formasi yang lengkap. Sebelum sesi makan bersama dimulai bapak melakukan potong tumpeng.

Kami memberikan doa-doa terbaik kami buat Mas Ade dan Mbak Katerine yang sudah sah menjadi pasangan suami istri. Aku enggak tahu bagaimana perasaan Mas Ade harus menikah tanpa dihadiri orang tuanya. Tatap muka hanya via Zoom. :(

Surprisingly, bapak memberikan potongan tumpeng pertamanya buatku. Dengan serangkaian harapan-harapan yang bapak lontarkan agar aku cepat menyusul dan diaminkan seantero ruangan. Ya sudah jelas maksudnya adalah menyusul menikah.

Aku selalu mengaminkan doa baik orang-orang. Doa yang dilontarkan saat menyalami pengantin saat kondangan maupun doa yang dilontarkan pada momen-momen seperti saat bersama bapak dan ibu semalam.

"Semoga cepat nyusul, ya?"

Padahal aku juga enggak mau cepat-cepat. Tapi, selalu kujawab "Iya, amin" agar topik menikah itu segera berakhir.

Selasa, 13 Oktober 2020

Menyambut Keluarga Baru

Oktober 13, 2020 0 Comments

Dua ribu dua puluh tinggal dua bulan lagi. Aku rasa di penghujung tahun nanti, ketika orang-orang biasanya menuliskan harapan mereka di tahun yang baru, harapan kami semua sama. Semoga pandemi segera berakhir.

Siapa yang akan menyangka bahwa di tahun dua ribu dua puluh ini hidup jadi teramat berat? Yang susah semakin susah karena apa-apa enggak boleh. Banyak orang dirumahkan, tanpa kejelasan sampai kapan. Itu juga yang terjadi pada salah satu pelamar yang mencoba peruntungan sebagai penyiar di radio tempatku bekerja.

Awal Agustus lalu Radio Mandala membuka lowongan pekerjaan sebagai penyiar dan editor. Lamaran yang masuk banyak sekali sehingga kami harus membagi sesi interview menjadi enam sesi. Mereka yang datang untuk interview berasal dari latar belakang yang beragam.

Ada yang pengusaha ikan mas, cabin crew Garuda Indonesia, station announcer, rapper dan sebagainya. Nah, yang cabin crew itulah yang saat ini sedang dirumahkan dan entah sampai kapan. Aku membayangkan bagaimana sumpeknya orang-orang yang biasanya bekerja, dengan rutinitas yang sama, tiba-tiba menjadi diam saja di rumah.

Maka, bersyukurlah kita yang selama pandemi ini masih bisa bekerja, meski dengan income yang tidak penuh atau durasi kerja yang dikurangi. Paling tidak kita masih mendapatkan penghasilan walau tak sebesar biasanya. Mau bagaimana lagi.

Seorang cabin crew ini bercerita bahwa dirinya senang berbicara. Terlihat jelas saat sesi interview, dia begitu luwes menceritakan pengalamannya, menceritkan perjalanan hidupnya. Sebab itulah dia ingin mencoba melamar menjadi seorang penyiar di Radio Mandala.

Ada banyak kisah para pelamar yang membuatku benar-benar melihat dunia baru lagi. Salah satunya adalah seorang station announcer yang juga ikut melamar sebagai penyiar. Ingatanku terlempar pada masa dimana aku rela datang ke Jember seorang diri untuk mengikuti interview sebagai station announcer.

Ya, saat itu aku yang jobless melamar menjadi seorang penyiar di stasiun kereta api. Kenapa? Cause I love announcing. Aku yang saat itu berpikir bahwa ini bisa jadi jalan karir sebagai penyiar ternyata harus berbesar hati karena memang belum rezeki. Aku pulang dengan perasaan yang susah dijelaskan. Sampai bertahun kemudian, entah bagaimana kerja Tuhan, aku benar-benar menjadi seorang penyiar. Penyiar radio, profesi yang aku idam-idamkan.

Ada juga kisah kuli panggul sayur yang juga melamar menjadi penyiar radio. Bukan sembarang kuli panggul sayur. Dia punya bakat luar biasa yang membuat interviewer takjub, ngerap. Kombinasi yang sungguh kontras, bukan? Saat dia datang untuk interview, malam sebelumnya istrinya baru saja melahirkan anak pertama mereka. Interview berlangsung Minggu, anaknya lahir Sabtu.

Aku kagum dengan pengalaman hidupnya yang akhirnya membentuk dia jadi sedemikian rupa. Jujur saja first impression sebenarnya tidak terlalu menarik. Tapi, memang benar bahwa kita tidak bisa menilai manusia hanya dari luarnya saja. Personality-nya luar biasa.

Sampai aku menulis catatan ini aku masih belum tahu siapa-siapa saja yang akan lolos dan berkesempatan untuk magang. Yang jelas, mereka yang nantinya lolos adalah orang-orang terpilih yang akan memberi warna baru bagi Radio Mandala.

Senin, 28 September 2020

Orang Baik Menikah

September 28, 2020 0 Comments

Hari ini kondangan ke salah satu kawan baik saat SMK, Lutfi Syarfiya. Manusia baik nan jenaka yang menjadi bagian dari kebahagiaan kami pada saat sekolah dulu. Manusia yang selalu tertawa dan selalu memancarkan aura positif.

Hari ini Fiya menikah. Melanjutkan perjalanan hidup dengan teman yang ternyata dekat dengan dia, membenarkan definisi bahwa jodoh itu dekat. Aku datang dan melihat Fiya cantik sekali di pelaminan. Pagi tadi grup alumni sekolah memang sudah ramai saat foto wajah Fiya tersebar. Dan malam ini aku melihatnya secara langsung.

Manusia jenaka satu itu memang istimewa. Dia benar-benar “cantik”. Ada rasa haru dan bahagia saat memeluk Fiya. Perasaan bahagia yang terbawa hingga perjalanan pulang, aku senyum-senyum sendirian.

Selamat melanjutkan perjalanan hidup, Fi. Semoga Andi bisa menjadi partner jalan-jalan yang seru dan menyenangkan, ya. Teruslah jadi terang bagi sekeliling. Doa-doa baik akan selalu mengalir pada orang baik. We love you.

Pas kondangan gak bawa hape, jadi gak bisa selfie. Ini poto pas akad yang tersebar di grup kelas.

Sabtu, 29 Agustus 2020

Be Kind to Your Mind

Agustus 29, 2020 0 Comments

Apa, sih, satu hal yang selalu bisa membuat mood kalian kembali lagi? Hal yang selalu works saat kalian sedang sedih, bad mood, atau nggak semangat. Aku kira masing-masing dari kalian punya satu hal yang kalau kalian lakukan akan mengembalikan gairah hidup.

Bisa nonton film favorit, mancing, karaokean, masak, beres-beres rumah, traveling, atau menyendiri aja untuk sementara waktu.

Kenapa aku bahas soal ini? Karena aku jadi ingat dua tahun lalu saat masih kerja kantoran. Waktu itu aku menerima tawaran untuk menggantikan seorang teman yang akan resign. Seorang teman ini akan pulang ke kampung halamnnya sehingga jabatan dia tentu akan kosong.

Posisiku yang saat itu jobeless dan merasa harus memiliki aktivitas ekonomi yang tetap, maka aku terima tawarannya. Yang ada di kepalaku waktu itu hanya aku harus bekerja dan menabung untuk bisa memenuhi kebutuhan pribadiku sendiri dan membantu kebutuhan keluarga di rumah.

Mungkin karena sedari awal aku terlalu meyakinkan diriku sendiri bahwa suatu saat nanti aku akan betah dan menikmati pekerjaan ini, akhirnya aku menyerah di bulan ketiga. Sebuah perjuangan yang sangat singkat dan cenderung hopeless. Tiga bulan itu benar-benar aku jalani dengan tidak semangat dan apa adanya.

Aku ingat masa-masa tertekan karena pekerjaan di kantor. Aku ingat masa-masa aku berangkat ke kantor dengan tidak semangat dan selalu menghitung waktu. Aku ingat masa dimana aku berpura-pura mendengarkan dan berpura-pura antusias saat atasan memaparkan rencana-rencana perusahaan ke depan. Semua itu membuatku ingin menghentikan waktu sehingga tidak perlu ada hari esok.

Tapi, Tuhan memang adil. Di masa sulit itu aku menemukan hal-hal yang membuatku masih bertahan walau tiga bulan. Aku bertemu rekan kerja yang unik. Rekan kerja yang bisa membuat hari-hariku di kantor lebih ceria. Rekan kerja yang meski agak freak but honestly he was a very kindhearted person. Semua lelucon yang keluar dari mulutnya selalu bisa membuatku tertawa. Dan tentu hal itu bisa sejenak membuatku lupa pada tugas-tugas yang menumpuk.

Jika suatu hari dia tidak datang ke ruanganku, aku yang akan datang ke ruangannya dan melemparkan jokes sekadar untuk menghibur diriku sendiri. Sebegitu tertekannya aku.

Hal lain yang membuatku bisa bertahan meski hanya tiga bulan adalah radio. How come? Jika ada salah satu dari kalian yang merupakan penikmat OZ Morning Show zaman Coki Muslim, mari kita bergandengan tangan.

Jadi, (benerin posisi duduk) dulu waktu mereka masih siaran pagi di OZ Radio aku selalu mendengarkan mereka. Karena aku memang penikmat karya-karya Majelis Lucu Indonesia, jauh sebelum akhirnya mereka kena kasus. Kasus masak babi itu aja aku nonton saat sedang makan siang di kantor dan tentu saja terbahak-bahak, eh besok-besoknya malah viral.

Nah, setiap hari sebelum bekerja aku selalu sarapan di kantor sambil menikmati streaming OZ Morning Show. Acara yang dipandu Coki Muslim itu mengudara dari jam enam sampai jam sepuluh pagi. Demi apapun, aku merasa lega dan baik-baik saja saat mendengarkan mereka siaran. Semua beban yang ada di pundak rasanya berpindah entah kemana sehingga aku merasa lebih ringan.

Aku tidak pernah menyangka dampak dari siaran bisa begitu rupa. Coki dan Muslim memang tidak tahu jika di belahan bumi Indonesia ada seseorang yang hidupnya lebih ringan berkat celotehan mereka di radio, dan buatku mereka adalah penolong. Satu pagi aku pernah merasa bahagia sampai nggak tahu harus bagaimana. Saat akun twitter OZ Radio melempar sebuah pertanyaan untuk topik siaran.

Waktu itu aku rajin membalas twit-twit mereka dengan pengalaman pribadiku yang tentu relate dengan topik siarannya. Ada satu momen ketika Coki membalas twitku and it goes viral. Terlebih ketika twitku itu diudarakan dengan sangat jenaka oleh mereka. Itu adalah perasaan yang sulit aku jelaskan karena memang bahagianya susah dijelaskan oleh kata-kata.

Aku tahu ini agak berlebihan, tapi aku mengatakan kebenaran. Mungkin saat ini kita merasa hidup kita nggak berguna, tapi percayalah ada seseorang yang menghargai kehadiranmu di dunia ini. Ada orang-orang yang hidupnya tertolong berkat karya kalian, kita hanya nggak tahu siapa orang itu.

Setiap hari aku merasa senang meski hanya beberapa jam. Setiap hari aku selalu bersemangat mengerjakan deadline meski hanya sampai jam sepuluh. Saat OZ Morning Show selesai, aku kembali sadar pada realitas dan yaaa beban di pundakku datang lagi.

Oleh sebab itu, one day, kalau aku berkesempatan untuk bertemu dengan duo ckuakzzz itu aku akan menyampaikan rasa terima kasihku yang teramat besar atas peran mereka dalam perjalanan hidupku. Bagaimana mereka bisa menjadi penawar stres yang aku rasakan saat aku menjadi pegawai kantoran dulu.

Hal lain yang selalu bisa membuatku baik-baik saja adalah Running Man. Ya, Running Man yang variety show Korea itu. Aku lupa kapan tepatnya aku berkenalan dengan variety show yang satu ini. Yang jelas dulu Veni yang mengenalkanku pada mereka.

Sampai hari ini aku menulis catatan ini, mereka sudah mengudara sebanyak 517 episode dari tahun 2010. Tayang setiap Minggu malam di Korea mereka benar-benar memberikan banyak tawa pada penikmatnya. Running Man tidak pernah gagal membuatku tertawa atau bahkan menangis.

Sepuluh tahun lamanya mereka menghibur dan berlari sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik. Dari program ini kita bisa melihat makhluk yang sepanjang episodenya selalu konsisten pada image pengkhianatan dan kecurangan, dialah Lee Kwang Soo. Atau Yeo Jae Seok yang benar-benar ruh dari Running Man. Aku nggak paham lagi bagaimana bisa Tuhan menciptakan manusia dengan bakat menghibur yang luar biasa seperti dia.

Nggak heran kalau Coki Muslim punya tempat tersendiri di hatiku, karena mereka yang benar-benar menghiburku disaat sulit dulu. Running Man, meski Gary sudah tidak lagi bergabung dan diganti oleh dua anggota baru, akan selalu jadi andalan sampai kapanpun.

Kesehatan mental itu bukan sesuatu yang sepele. Jadi, mari lakukan hal-hal yang bisa membuatmu senang, bahagia, demi kesehatan mental yang terjaga.

Senin, 17 Agustus 2020

Psikopat Tapi Keren Banget!

Agustus 17, 2020 0 Comments

Aku memulai lagi aktivitas menonton beragam jenis film. Setelah awal-awal covid-19 dulu aku menamatkan beberapa film lama seperti The Hidden Figures, The Help, Queen of Katwe, dan lain sebagainya aku sempat hiatus dari aktivitas nonton film beberapa bulan. Selain karena aktivitas yang lumayan juga karena faktor M alias ya males aja kudu online berjam-jam buat nonton film.

Nah, dulu pas barter film sama Mbak Yiyi, aku diberi beberapa film yang belum semuanya aku tonton. Salah satunya adalah Gone Girl. Film tahun 2014 yang dibintangi sama ­aduh siapa ya aku lupa (padahal bisa browsing dulu) ini menceritakan tentang seorang istri yang pergi dari rumah saat hari jadi pernikahan mereka yang kelima.

Kebayang gak sih nggak ada angin apalagi hujan terus tiba-tiba istri kita ngilang gitu aja dari rumah pas anniversary. Dan hilangnya juga meninggalkan clue-clue udah kayak lagi main detektif-detektifan.

Aku mengakui bahwa terlambat banget menyadari ada film sekeren ini dan baru nonton di tahun 2020. It was really such an amazing movie! Sepanjang film aku nggak bisa untuk nggak bertanya-tanya dan mikir “wah gila ini perempuan piskopat tapi keren banget”.

Empat kata aneh yang harus aku keluarkan, psikopat tapi keren banget. Kan aneh, ya. Psikopat, tapi keren, keren banget malah.

Kalau kalian ketik di google dengan keyword rekomendasi film bertema psikopat maka kalian akan menemukan Gone Girl diantara sekian banyak film yang direkomendasikan.

Worth to watch, nggak? Worth banget menurutku. Tapi sekali lagi ada juga orang-orang yang nggak bisa nonton film dengan genre seperti ini, apalagi di Gone Girl juga ada beberapa adegan yang bikin kita nggak nyaman.

Dah ya, gaes. Kalau belum nonton sila ditonton. Bagus, dan ya meski nanti bakal bertanya-tanya sama endingnya kok bisa begitu nggak mau ada sekuelnya, nih?

Sabtu, 15 Agustus 2020

Jadi Baik Buat Diri Sendiri

Agustus 15, 2020 0 Comments

Habis gelap terbitlah terang. Badai pasti berlalu.

Tapi, siapa yang bakal menjamin kalau kita tetap hidup saat badai sudah berlalu atau saat gelap sudah berubah terang. Bisa jadi kita mati saat badai terjadi atau saat terperangkap gelap.

Maka, hiduplah dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Jangan jahat sama orang lain kalau nggak mau dijahatin orang. Nggak usah hidup muluk-muluk kalau hanya membuat kita terseok-seok mencukupi segala hal. Baik sama orang meski balasannya nggak selalu sama seperti yang kita berikan.

Nggak usah mikirin apa kata orang biar nggak capek mikirin perasaan orang lain. Apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain, itu sudah jelas. Tugas kita cuma harus mengendalikan hal-hal yang bisa kita kendalikan biar hidup lebih ringan.

Misal, memilih apa yang mau kita baca, memilih apa yang mau kita ikuti di sosial media, memilih apa yang mau kita jadikan tontonan, mengendalikan pikiran positif kita, banyak lagi.

Nggak perlu berandai-andai apa yang akan terjadi di masa depan atau memikirkan kenapa ada orang yang jahat sama orang lain, karena itu adalah hal-hal yang nggak bisa kita kendalikan.

Ngomong mah gampang, ngejalaninnya susah. Nggak susah kalau kita serius mau coba. Nggak susah kalau kita serius mau berubah jadi lebih baik. Berubah jadi lebih baik bukan buat orang lain, tapi buat diri kita sendiri.

Selasa, 21 Juli 2020

Kleponku Sayang Kleponku Malang

Juli 21, 2020 0 Comments
Semakin kemari manusia semakin ajaib tingkah polahnya. Tadi siang aku menemukan satu twit yang sungguh mengocok usus dua belas jari kita. Maksudnya lucu banget gitu, gaes.

Jadi, ada satu gambar tentang jajanan pasar bulat warna ijo yang kalau digigit muncrat. Ya betuuuul, the one and only Klepon!

Nih, gambarnya:

Sumber: twitter

Gimana? Pening tak awak dibuatnya?

Ya ampun segala Klepon dikatain nggak islami tuh cara mikirnya gimana, ya? Kok bisa kepikiran mengkafirkan Klepon gitu, loh. Nggak cukup mengkafirkan manusia, sekarang lari ke kuliner. Ck ck ck.

Sebagai anggota dari Front Pembela Klepon tentu aku takjub dan bertanya-tanya ada apakah gerangan dengan si pembuat meme?

Kalau dia bilang beralih saja ke jajanan sunnah yang mengandung Kurma, kenapa nggak dia modifikasi Kleponnya. Klepon isi Kurma, misalnya. Bukankah wow daebak? Bingung bingung dah lu. Luarnya kafir dalemnya islami.

Maksudku, kok segitunya banget orang jualan. Bisnis ya bisnis aja, tonjolkan kelebihan produknya, bukan malah jatuhin kuliner lain yang nggak salah apa-apa. Aku curiga jangan-jangan yang punya pemikiran kalau Klepon itu nggak islami sebenarnya dia nggak pernah cobain Klepon yang muncrat di mulut. Padahal itu sensasinya susah dijelaskan kata-kata.

Dahlah ak capek.

Selasa, 30 Juni 2020

MENGATASI MASALAH TANPA MASALAH

Juni 30, 2020 0 Comments

Kalian pernah nggak salah panggil orang karena nggak tahu jenis kelamin mereka apa? Misal, lagi chat sama orang tapi profil pict-nya bukan poto mereka, terus sotoy aja panggil Pak atau Bu. Pernah? Atau enggak?

Terlepas dari pernah atau enggak, aku mau cerita soal salah panggil ini. Belum cerita aku dah ketawa dulu nih gimana. Hahahaha.

Jadi, tanggal 29 Juni ada nomor baru yang whatsapp. Klien dari pegadaian yang koordinasi soal talkshow tanggal 7 Juli 2020. Nama klien ini Sukma. Refleks aku panggil beliau Bu. Iya dong, orang yang nggak tahu pasti langsung panggil bu, karena nama Sukma identik dengan anaknya Bung Karno, eh maksudnya identik dengan perempuan.

Setelah bla bla bla ngomongin soal teknis talkshow kemudian beliau minta potoku untuk dibuatkan flayer. Nah, kemarin beliau kirim flayer yang menampilkan poto dua orang pembicara laki-laki, salah satunya bernama Sukma Juni.

Deg. Aku menyadari satu hal. Sebelumnya aku pastikan dulu bahwa yang whatsapp aku soal talkshow itu adalah Sukma Juni. Dan, benar sodara-sodara. Aku langsung minta maaf karena salah panggil. Ternyata yang selama ini aku panggil bu di chat whatsapp itu adalah laki-laki. Lucu, tapi sedih juga masa laki-laki aku panggil bu. Habisnya profil pict Pak Sukma ini emas batangan, gaes. Namanya Sukma pula, dahlah aku nggak kepikiran blas kalo beliau adalah laki-laki.

Pak Sukma easy going banget orangnya, beliau dah biasa dipanggil bu. Aku orang keseribu katanya yang begitu. Kebayang, nggak? Betapa capeknya beliau harus meralat 999 orang sebelumnya? Hahaha.

Terlepas dari insiden salah sebut itu, aku punya kenangan yang lekat diingatan soal pegadaian.

Jauh sebelum Pak Sukma whatsapp, iklan dari pegadaian ini sudah masuk. Kami para penyiar juga sudah rutin membacakan adlibs pegadaian. Sejak pertama kali iklan pegadaian masuk aku langsung teringat momen saat SMP. Momen yang tadi aku sebut, lekat diingatan.

Jadi dulu ketika pelajaran apa ya aku lupa, IPS kalo nggak salah, ada satu soal yang menanyakan apa motto pegadaian? Sebentar, gaes. Aku lupa ini pas SD atau SMP, ya?

Kehidupan keluargaku itu nggak jauh-jauh dari pegadaian. Akrab gitu lah kami ini, sahabatan. Karena bapak adalah tipikal yang nggak mau jual harta benda ke orang lain, maunya ke pegadaian aja. Kakak bapakku yang notabene adalah budeku juga merupakan nasabah teladan pegadaian. Kalau beliau butuh uang, beliau akan mengutus bapakku untuk menggadaikan emasnya ke pegadaian.

Prinsipnya adalah beliau nggak bakal kehilangan perhiasan itu, jadi kalau digadaikan ke pegadaian masih bisa beliau tebus lagi nanti. Begitu.

Akhirnya karena aktivitas gadai menggadaikan itu, aku lantas akrab dengan motto pegadaian. Siapa sih yang nggak tahu motto pegadaian yang legendaris itu? Yang mengatasi masalah tanpa masalah itu lhooo~

Nah, berbekal itulah aku bisa menjawab soal yang tadi ditanyakan, yang mana jawaban dari pertanyaan itu nggak ada di materinya. Sedap bener, kan? Aku jadi ingat Slumdog Millionaire, dimana Jamal menjawab semua pertanyaan kuis berdasarkan pengalaman hidupnya.

Dan yang bisa jawab soal itu seingatku hanya aku, itu sebabnya aku masih ingat hingga hari ini. Begitulah kemudian aku merasa akrab dan dekat dengan PT. Pegadaian. Dekat doang, gaes, jadian mah enggaaak.

Minggu, 21 Juni 2020

Premenstrual Syndrome (PMS)

Juni 21, 2020 0 Comments
"Sayang, kamu kenapa, sih? Marah-marah mulu. Lagi PMS?"
"Emang kamu tahu PMS itu apa?"
"Haid, kan?"

Kalau pacar kalian begitu lempar aja ke kandang Buaya, ya, girls~

Nggak, ding. Kalau pacar kalian masih mengira PMS itu adalah haid, kasih tahu bahwa itu salah. PMS bukan haid seperti yang mereka pikir selama ini. Premenstrual Syndrome (PMS) adalah kombinasi dari gejala fisik dan emosi yang dirasakan oleh wanita seminggu atau dua minggu sebelum haid.

Dari yang aku baca di alodokter.com munculnya gejala yang melanda fisik dan mental ini belum bisa dipastikan apa penyebabnya. Tapi, diperkirakan karena adanya perubahan hormon selama masa menstruasi, yaitu estrogen dan progesteron.

Gejalanya apa aja? Banyak, gaes. Mulai dari sakit kepala, tumbuh jerawat, kram perut, nyeri otot, sedih tanpa alasan yang jelas, cemas, mudah tersinggung. Biasanya tiap perempuan berbeda-beda gejalanya. No worries, karena gejala-gejala itu tadi akan hilang begitu haid tiba atau selesai.

Nah, kemarin (20/06) aku pergi takziah ke Sempu bareng kru Mandala. Menghindari mabuk darat dan serangan stroke lagi, aku motoran dengan Mega dan Pak Kuncoro. Nyetir jauh sudah bukan hal baru, jadi ya oke saja.

Seharian keliling. Mampir ke tiga tempat, dan di tiga tempat itu kami selalu makan. Sungguh weteng karet. Benar-benar pulang ke rumah sekitar jam empat sore, dengan sisa energi yang tidak banyak. Setelah sampai rumah itulah aku merasa capek luar biasa.

Dan, satu yang aku pelajari saat tubuh kita lelah adalah kita jadi mudah marah-marah. Diajak ngobrol nggak mood, ngobrol tapi yang diajak ngobrol jawab "ha?", marah. Pokoknya semua serba salah dan bikin kita jadi marah-marah.

Nah, saat sedang bludrek itulah aku ingat empat hari lagi haid (kalau tidak meleset). Berarti ini masuk masa pra haid. Aku menyadari satu hal, bahwa kombinasi capek dan PMS adalah kombinasi yang sungguh berbahaya.

Sekarang aku deg-degan menunggu haid tiba. Karena biasanya akan disertai dengan sakit-sakit seluruh badan yang luar biasa. Semoga gejala-gejala PMS ini juga selesai saat haid tiba. Karena kalau berlangsung sampai haid aku nggak tahu akan berapa banyak orang lagi yang aku jutekin atau aku semprot karena mereka nggak ngapa-ngapain aja tetap salah di mataku.

Gambarnya kiyowo, ya. Ngedit sendiri di Canva :)

Dipijat Mbah Nah

Juni 21, 2020 0 Comments
Aku tidak punya banyak kenangan dengan Mbah Nah selain dulu pernah mengantar ibu untuk memijatkan Ai saat masih bayi. Siang tadi aku, ibu dan Ai datang ke rumah beliau lagi untuk pijat. Kali ini aku yang dipijat.

Terakhir aku dipijat saat SMP, ketika tanganku terkilir saat main-main dengan temanku yang atlet pencak silat. Pijat itu pun gara-gara terkilir. Coba kalau enggak, siang tadi akan menjadi pengalaman pertamaku dipijat.

Masuk ke kamar aku disuruh melepas semua pakaian (kecuali pakaian bagian bawah). Setelah itu aku tengkurap di kasur beralaskan sewek. Mbah Nah tipe perempuan yang suka cerita. Saat dipijat beliau banyak ngobrol dengan ibu yang ikut masuk ke kamar menemani aku. (sumpah ya aku nggak pernah nyuruh ibu buat nemenin, itu inisiatif beliau sendiri)

Menit-menit awal, sih, aman. Lama-lama beliau seperti tahu mana saja titik-titik yang tidak beres dan harus dibereskan. Aku mulai membuat gerakan-gerakan sebagai tanda kalau bagian yang beliau pijat itu sakit. Ya tapi beliau bodo amat aja sambil terus ngobrol sama ibu. Aku bertahan dengan tangan terkepal seperti akan memekikkan salam nasionalis dan mata merem melek seperti makan jeruk nipis.

"Lare abang (maksudnya bayi) bain hing nangis ndane siro nangis?" kata beliau. Yang artinya anak kecil aja nggak nangis masa lu nangis? Begitulah. Sungguh beliau ini pandai sekali mengintervensi. Akhirnya aku hanya bisa bertahan sampai akhir, sambil aduh-aduh sedikit.

Aku menulis ini sambil ditemani My Love-nya Gummy. Di luar sedang hujan dan aku merasakan sekujur tubuhku njarem. Mungkin efek segar setelah pijat akan terasa di hari kedua atau ketiga, ya? Mungkin.

Mbah Nah tampak samping.

Sabtu, 06 Juni 2020

ILYSM, Twitter

Juni 06, 2020 0 Comments
Beberapa waktu yang lalu ada satu akun yang mengunggah sebuah komik dari miliknya Sundae Kids. Begini penampakan komik tersebut:


Untuk teman-teman yang sering berada pada posisi seperti ini pasti relate sekali. Seharian kita pasang ekspresi seakan semuanya bisa kita lalui. Semua tekanan, semua beban, semua pekerjaan, seakan tidak membuat kita lelah, seolah kita akan baik-baik saja dengan semua keadaan tersebut.

Seharian kita sudah memikul beban sendirian dan selalu sok kuat, ketika sampai rumah kita ditanya oleh pasangan atau orang tua kita “are you okay?” rasanya lutut lemas. Kita berhambur ke pelukan mereka dan ingin menangis saja, menumpahkan segala keluh kesah.

Komik itu mewakili seluruh perasaan netizen twitter. Saya menelusuri balasan di kicauan tersebut. Saya berhenti pada sebuah balasan yang mengubah komik tersebut seperti ini:


Jika saya bisa kicau ulang seribu kali, pasti akan saya lakukan. Bagi saya pribadi twitter masih menjadi platform paling nyaman dari semua platform media sosial yang saya miliki. Saya mulai membuat akun twitter tahun 2012, waktu itu masih SMK. Lebih tepatnya saya dibuatkan akun oleh kawan baik saya, Intan. Karena waktu itu dia yang lebih dulu main twitter. Saya ingat betul waktu itu kami membuat akun twitter ini di bilik warnet. Nama akun twitter saya pun asal-usulnya agak norak. Bukan agak, tapi memang betul norak, hahaha.

Sejarah nama akun twitter dan instagram saya itu panjang, meski norak begitu saya tidak ada niatan untuk mengganti username. Saya hanya berdoa semoga tidak ada oknum yang dengan sengaja bertanya kenapa username saya meyyshaan, kalau pun ada saya nggak bakalan cerita. Hahaha.

Twitter adalah media sosial yang tidak pernah saya coba tinggalkan. Saya sudah pernah puasa instagram sekian lama, bahkan saya sudah tidak memasang aplikasinya di gawai saya. Facebook pun sekarang saya jarang sekali akses kecuali saat saya membuka laptop. Twitter seperti menjadi ruang saya untuk monolog. Berkeluh kesah atas segala keadaan, sambat istilahnya.

Dari awal saya membuat twitter saya ikuti semua akun-akun twitter kakak kelas saya. Tetap setia dengan twitter kendati pengikut saya sedikit sekali. Tapi memang niat saya dari awal membuat twitter bukan untuk koleksi pengikut, saya mengikuti trend. Tahun dimana saya membuat akun twitter adalah waktu dimana sedang hype yang namanya facebook dan twitter. Semua orang berbondong-bondong membuat twitter tapi lantas nggak tahu buat apa karena merasa tidak seriuh facebook, hingga akhirnya twitter mereka usang dan ditinggalkan.

Bagi sebagian orang bermain twitter memang membosankan. Tidak ada interaksi seramai di facebook atau platform media sosial lainnya. Kalau kita bukan selebtwit ya udah, sepi. Berbeda dengan jika kita bermain facebook. Justeru hal tersebut yang saya suka dari twitter, nggak berisik.

Pengikut saya di twitter bisa saya pastikan sebagian besar bukan orang-orang yang saya kenal di dunia nyata. Sampai saat saya menulis cerita ini pengikut saya sudah seribu lebih. Butuh delapan tahun hingga sampai pada angka itu. Tapi, sekali lagi itu hanya angka. Saya saling mengikuti dengan sejumlah tokoh yang saya kagumi di twitter. Saya bisa berhubungan baik dengan penulis kesenangan saya juga karena twitter.

Beberapa kali akun saya ramai gara-gara disamber oleh akun @NUGarisLucu, akun favorit warga nahdliyyin itu memang jan mbuh. Dulu ketika saya difollback oleh NU garis lucu, saya bungah setengah modyar. Dan, hamdalah saya belum termasuk dari followers2 yang di unfoll oleh mereka.

Dari twitter saya belajar banyak hal. Sekarang banyak utas bagus yang bisa menambah pengetahuan kita. Saya juga bisa mendapat bahan siaran yang tentunya menarik bagi pendengar. Sebenarnya masih banyak hal yang membuat saya begitu menyukai twitter, tapi saya nggak bisa jelaskan panjang lebar. Alias males nulis jadi sampai di sini dulu, ya.

Selasa, 26 Mei 2020

Syawal 2020

Mei 26, 2020 0 Comments
Beberapa pesan whatsapp yang masuk sejak satu syawal belum sempat aku balas. Ada yang tidak sempat dan ada yang kuputuskan untuk tidak dibalas. Karena memang pesan-pesan itu tidak butuh balasan.

Sepertinya sejauh ini lebaran 2020 adalah lebaran paling nggak ribet. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, setelah salat Id langsung keliling salam-salaman dan keliling lagi ke kerabat-kerabat. Pagebluk yang sedang melanda dunia agaknya menggeser beberapa kebiasaan yang kerap kita lakukan saat lebaran. Dan, mau tidak mau kita mesti berlapang dada merelakan untuk tidak melakukan.

Satu syawalku berjalan dengan luar biasa. Jam tiga pagi aku terbangun setelah ingatan terakhirku semalam aku berbaring di sebelah ibu usai memijat punggung beliau. Aku terbangun dengan rasa sakit luar biasa di bagian perut. Tidak hanya itu, aku mendapati darah di seprai kasur yang tidak lain dan tidak bukan adalah darah haid.

Aku buru-buru ke kamar mandi dan membereskan tubuh dan pakaianku. Sungguh satu syawal yang berdarah-darah.

Setelah itu aku kembali ke kamar berniat melanjutkan tidur. Tapi, yang terjadi selanjutnya adalah pergulatan batin dan fisik yang sungguh menyiksa. Nyeri haid hebat kembali menyerangku setelah terakhir aku merasakan hal yang sama seperti ini beberapa tahun yang lalu.

Aku menungging, tengkurap, melingkar memeluk lutut, telentang, nggak berefek apapun. Entah berapa lama aku merasakan nyeri haid yang membuatku bolak-balik kamar mandi. Setelah lelah, aku tertidur dengan sendirinya. Nyeri haid berangsur membaik setelahnya.

Pagi harinya kami sekeluarga hanya berdiam diri di rumah sambil menyambut tetangga yang memutuskan untuk tetap berkeliling datang ke rumah. Mereka paham bahwa kondisi sedang tidak baik-baik saja, tapi tetap nggak bisa untuk menahan diri berdiam di rumah.

Satu syawal kemarin aku habiskan dengan fisik yang lelah. Harus datang ke beberapa rumah dengan kondisi haid hari pertama yang sungguh tidak mudah. Satu-satunya penawar lelahku hanya The King: Eternal Monarch.

Berbeda dengan dua syawal. Aku habiskan dengan benar-benar di rumah saja. Bahkan aku masih bisa tidur siang dengan durasi yang lumayan. Nikmat mana lagi yang aku dustakan?

Dua syawal saat pagebluk ini pun terasa seperti hari-hari biasa saja. Aku masih menerima pesan singkat dari beberapa teman yang mengirim ucapan. Dua syawal ini nyeri haid sudah tidak sehebat kemarin, sehingga aku sudah mulai cuci baju, sudah mulai jajan rujak soto, rujak kecut dan aku sudah membunuh satu ekor tawon 🥺

Dua syawal juga mengingatkanku bahwa besoknya, tiga syawal, aku sudah harus bangun pagi dan memulai tugas menyapa lewat udara, alias sudah harus siaran.

Bagaimana syawalmu tahun ini?

Jumat, 22 Mei 2020

Ai yang Mirip Park Saeroyi

Mei 22, 2020 0 Comments
Semalam aku pulang dari radio sudah lumayan malam. Sampai rumah, lebih tepatnya ketika masuk kamar aku melihat ibu dan Ai tidur di sana. Ada yang beda dari Ai, dia sudah cukur rambut. “Duuuh gantenge rek” kataku sambil melihat Ai dari dekat. Ibu bangun, beliau cerita kalau seharian ini Ai nangis.

Ternyata model cukurannya nggak sesuai sama ekspektasi Ai. Aku bisa bayangkan bagaimana ekspresi wajahnya dari perjalanan tempat tukang cukur sampai ke rumah. Pasti mukanya nggak enak banget dilihat, kayak muka pacar kamu.

Ibu menceritakan semuanya dengan detail yang justru membuatku tertawa. Setelah membayar ongkos cukur dan bersiap pulang, Ai bilang ke ibu, “Salah”.

Deg. Dari sana ibu sudah nggak enak hati. Pasti bakal perang uhud lagi, pikir beliau. Perang Uhud di sini maksudnya Ai bakal marah-marah nggak jelas yang bikin semua orang jadi kesel. Benar saja. Ai jadi uring-uringan. Dia marah karena cukurannya terlalu pendek. Dia juga menyalahkan ibu, menuding ibu sudah mengatakan yang enggak-enggak ke tukang cukurnya, “Ibuk e bilang apa se ke tukange?” kata ibu menirukan ucapan Ai.

Insecurenya parah banget sampai dia terus-terusan narik rambut bagian depannya. Mungkin dia kira itu rambut bakal langsung tumbuh panjang kali pas ditarik-tarik begitu. Dia juga bilang nggak mau keluar rumah, nggak mau kemana-mana, nggak mau ke rumah mak e, pokoknya mau di rumah aja. Ya bagus, kan emang lagi corona, mending di ruma aja, batinku.

Sampai ada suara pagar rumah bunyi dikit aja dia langsung ngumpet, dia pikir yang datang adalah teman-temannya mau ngajak main. Pokoknya sampai tadi pagi dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa rambutnya jadi cepak begitu. Seakan-akan rambut cepak adalah aib keluarga yang harus ditutupi. Kalau aku dan ibu sih senang aja dengan gaya rambutnya yang baru.

Nah, pertemuanku dengan Ai baru terjadi tadi pagi saat aku pulang siaran. Dan, ya, moodnya masih berantakan. Akhirnya aku singgung juga cukurannya yang ciamik itu. Dia mulai lagi, hampir menolak kenyataan dengan mulai mimbik-mimbik.

Aku bilang kalau dia mirip artis Korea. Tentu saja dia tidak percaya. Sampai akhirnya aku tunjukkan foto Park Saeroyi yang aku dapat dari google. “Kok kan mirip artis Korea.”

“Ini cukurannya Park Saeroyi lagi ngetrend.” Kok ternyata ada artikel yang mengulas tentang gaya rambut Park Saeroyi di Itaewon Class. Ya udah sekalian aja aku tunjukkan ke Ai. Dia udah bisa baca ini.

Akhirnya dia mulai senyam senyum lagi. Mulai cerah ceria lagi. Malah kerjaannya dikit-dikit ngaca sambil bilang “park saeroyi”. Terus juga random banget lari-larian sambil teriak “park saeroyi”. Sesekali dia juga mulai pede dengan bilang “aku tampan lagi”.

Senin, 18 Mei 2020

Kebetulan.

Mei 18, 2020 0 Comments

Hari Minggu (17/5) barang yang kubeli dari shopee datang. Waktu itu aku sedang di rumah mbah. Sebuah pesan masuk ke whatsapp jam 13.15. Dan baru aku buka sekitar satu jam kemudian. Aku balas pesan kurir yang terlambat aku ketahui itu. Ternyata paket sudah diterima bapak di rumah. Aku mengucapkan terima kasih pada kurir karena sudah menyampaikan paket meski hari itu Minggu.

Tidak lama si kurir bilang kalau pernah melihatku. Aku tanya dimana? Dia jawab di kantor PCNU saat sedang bedah buku. Aku tersenyum. Banyuwangi bisa begitu sempit. Tapi juga bisa begitu luas sehingga aku tidak pernah sekalipun bertemu dengan teman masa kecilku yang namanya pernah aku tulis di sebuah kertas menjadi nama yang paling ingin bisa aku temui kembali. Di Banyuwangi kah dia? Masih hidupkah dia? Bagaimana bisa aku tidak menemukannya di media sosial manapun?

Aku yakin kalian juga pernah mengalami kejadian-kejadian kebetulan semacam yang kualami dengan petugas pengantar paket itu.

Mey, nggak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah diatur Tuhan.

Minggu, 17 Mei 2020

Bu Nyai: Women's Agency in Pesantren

Mei 17, 2020 0 Comments
Semalam saya mewakili Komunitas Pegon mengadakan diskusi online dengan Nihayatul Wafiroh. Kalau teman-teman belum familiar dengan namanya, sila ketik di google. Bagi yang sudah familiar tentu mengenal siapa dan bagaimana kiprah beliau.

Topik diskusi kali ini terinspirasi juga dari disertasi beliau yang membahas tentang kultur perjodohan di pesantren. Sebagai perempuan non pesantren ada banyak rasa penasaran yang saya alami terhadap perempuan pesantren atau perempuan dari keluarga pesantren. Terutama bagaimana perempuan-perempuan ini mengambil keputusan dalam hidup mereka.

Sejak dulu, jika bicara soal perempuan narasi yang ditampilkan adalah sebatas teman di belakang (konco wingking). Perempuan sebatas manusia yang mengerjakan urusan-urusan domestik. Tidak ada peran atau aktivitas lain yang sifatnya menambah kemampuan diri perempuan.

Begitu juga saya memandang perempuan di pesantren. Mereka sami'na wa atho'na pada Kiai. Menurut apa saja yang menjadi keputusan dari sang Kiai.

Jika bicara soal bagaimana peran perempuan di pesantren saya ambil contoh KH. Mukhtar Syafa'at Abdul Ghofur, pendiri Pondok Pesantren Darussalam Blokagung. Beliau tidak akan bisa berkonsentrasi mengajar dan membesarkan pesantren jika urusan keluarga belum beres. Kemudian siapa yang membereskan? Adalah istri beliau, Nyai Maryam dan Nyai Musyarofah. Beliau berdua adalah Srikandi yang memerankan diri untuk menyelesaikan persoalan-persoalan domestik.

Semalam Ning Nik bercerita lebih konkrit mengenai peran Nyai Maryam dalam mengurus rumah tangga. Bagaimana beliau tetap memiliki aktivitas ekonomi dan memiliki peran strategis di dalamnya. Nyai Maryam berdagang, beliau sering membawakan santri-santrinya barang dagangan untuk kemudian mereka jual. Begitulah roda ekonomi berputar dibawah pengawasan Nyai Maryam.

Kekuatan perempuan pesantren ada di sana. Mereka tidak pernah meminta uang. Karena mereka punya cara sendiri untuk bisa menghasilkan uang. Terbukti bahwa manusia berjenis kelamin perempuan ini memang diciptakan dengan satu bakat: multitasking.

Jadi, kalau ditanya apakah peran perempuan pesantren terbatas hanya sampai konco wingking saja, tentu tidak. Mereka punya peran strategis yang tidak bisa disepelekan. Bagi para Kiai, Bu Nyai adalah aktor penting dibalik layar kesuksesan mereka dalam berdakwah dan berjuang. Bahkan, ada juga yang mengambil peran mengasuh pesantren puteri atau bahkan menjadi mubaligh yang tampil di hadapan publik. Nyai Azizah Sri Wedari, misalnya.

Lantas, bagaimana dengan kehidupan pernikahan perempuan pesantren? Bagaimana peran yang bisa diambil Bu Nyai dalam hal ini?

Ning Nik menjelaskan bahwa tradisi perjodohan di pesantren itu bukan sesuatu yang baru. Tradisi itu sudah berlangsung sejak lama. Dalam perkembangannya tradisi perjodohan di pesantren menjadi dua jenis. Ada yang tradisional dan ada yang modern. Bagian ini juga saya penasaran setengah mati. Kok bisa ada orang yang menikah dengan cara dijodohkan.

Story began... Perjodohan tradisional adalah pernikahan yang terjadi antara dua orang tanpa bertemu sebelumnya. They met each other only in akad. Can you guys imagine that? Kalau dulu mungkin fine-fine saja. Tapi hari ini? Jadi, mereka benar-benar bertemu satu sama lain hanya ketika prosesi ijab qabul. Keluarga Darussalam sempat mengalami perjodohan tradisional semacam ini, tapi dulu sekali, kata Ning.

Berbeda dengan perjodohan modern. Dalam perjodohan model ini perempuan pesantren biasanya sudah mulai memiliki bergaining position. Mereka mau dijodohkan asal syarat yang mereka ajukan diterima. Pada perjodohan modern ini biasanya perempuan pesantren sudah memiliki tingkat pendidikan yang tinggi atau kualitas diri mereka sudah meningkat. Contoh syarat yang diajukan perempuan pesantren biasanya apa?

Salah satu contohnya adalah, saya mau menikah asal setelah menikah masih diperbolekan untuk sekolah. Hal-hal demikian menjadi penting bagi perempuan pesantren apakah perjodohan lanjut atau tidak. Ya, kalau si calon tidak setuju itu berarti konsensus tidak terjadi. Maka pernikahan juga tidak terjadi.

Lantas di sebelah mana kita bisa melihat peran Bu Nyai dalam hal perjodohan?

Sebelum saya ngobrol bersama Ning Nik semalam, saya masih mengira bahwa keputusan seorang Ning atau Gus menikah dengan orang pilihan keluarga pesantren adalah mutlak di tangan Kiai. Ternyata tidak demikian.

Selama ini Bu Nyai, Ning, dianggap tidak memiliki peran apapun di pesantren, karena yang lebih banyak berperan adalah Kiai. Dalam sebuah perjodohan yang aktif mencarikan jodoh itu biasanya Kiai. Tapi, yang melakukan riyadhoh itu Bu Nyai. Bu Nyai yang melakukan semacam kontemplasi, wirid, puasa dan apabila dari serangkaian proses yang telah dilalui itu Bu Nyai berkata tidak, maka Kiai juga biasanya akan berkata tidak.

Hal ini menjadi pembantah bahwa perempuan tidak berperan dalam urusan perjodohan. Justru perempuan pesantren ini sebenarnya adalah agen yang aktif. Mereka memainkan agensinya dengan berbagai cara. Bahkan, Bu Nyai juga melakukan advokasi kepada anaknya untuk bisa menentukan pilihannya dan mengungkapkan keinginannya.

Cuma Gitu Doang

Mei 17, 2020 0 Comments
Seperti yang Tansen lakukan, aku juga ingin konsisten mengisi blog yang sudah lama aku buat ini. Isi dengan apa pun cerita hari ini, apa pun.

Malam ini aku menulis sambil mendengarkan I'tirof yang dicover oleh Putih Abu-abu. Disebelahku ada Ai yang sudah terlelap dan beberapa waktu yang lalu aku ciumi, karena saat dia terjaga mana mungkin mau dicium-cium. Di depan tivi Tante Siti dan Raisya juga sudah tidur sambil ditonton oleh tivi.

Di kamar tengah Rara masih terjaga sedang nonton idol k-pop kesayangannya. Di kamar sebelah kamar tengah, Lintang sudah tidur bahkan sebelum aku datang. Di dapur, ibuku dan mbah sedang sibuk membuat kue kuping gajah. Malam ini aku menginap di rumah mbah. Tante Siti dan ketiga anaknya juga di sini, Rara, Lintang dan Raisya.

Selama pandemi aku tidak dapat jadwal siaran Minggu pagi. Itu berarti aku bisa dengan bebas malam mingguan (baca: begadang doing nothing) tanpa harus cepat-cepat tidur karena harus berangkat pagi.

Hari ini entah kenapa aku merasa bahagia. Bertemu Bibeh, ngobrol dengan Ning Nik, ditraktir minum Pak Bos dan berkumpul bersama keluarga. Sederhana, ya? Ya karena memang ada banyak kebahagiaan dibalik sesuatu yang "cuma gitu doang". Kita aja kadang yang nggak sadar.

Minggu, 19 April 2020

Olah Rasa Ujung Timur Jawa

April 19, 2020 0 Comments
Selama pandemi covid-19 ada dua buku yang sudah saya baca tuntas. Karya Wiwin Indiarti dan Nunuk Nurchayati yang Olah Rasa Ujung Timur Jawa dan karya Pak Cik Andis yang Cinta Dalam Gelas. Dua buku yang sangat menarik dengan genre yang sangat berbeda. Semua karya pak cik menarik bagi saya, tidak ada yang tidak saya baca dengan tuntas. Buku yang lainnya juga sangat menarik karena mengulas makanan ritual dalam kebudayaan Using.


Kenapa menarik? Karena buku ini adalah buku pertama yang mengulas mengenai hidangan ritual dalam kebudayaan Using. Seperti kata tim penulis, hidangan ritual bagi masyarakat Using terkait erat dengan upacara adat atau ritual tradisi yang telah berlangsung dalam kurun waktu lama. Pengetahuan tentang makanan yang menjadi sajian dalam ritual tradisi, diwariskan secara turun temurun, tidak saja dalam bentuk kasar wujud makanan, tetapi juga mengenai makna dan perlambang yang terkandung di dalamnya.

Jika selama ini ketika mengikuti ritual/adat (tumpeng sewu, misalnya) kita hanya tahu bab makannya saja, di buku ini akan dijelaskan mengenai bagaimana hidangan yang kita santap itu diolah, bagaimana makna yang terkandung dari hidangan yang kita santap tersebut, apa saja aturan-aturan yang harus dijalankan selama proses mengolah hidangan yang kita santap tersebut, apa saja bahan baku hidangan yang kita santap tersebut yang sudah jarang kita temukan di Banyuwangi, sehingga dari itu semua kita tidak hanya sekadar makan, kita bisa lebih menghargai setiap suapan yang masuk ke dalam raga kita.

Sebagai manusia yang lahir di bumi Banyuwangi saya bersyukur bisa membaca tulisan dari masyarakat Banyuwangi sendiri. Tulisan yang berarti karena berhasil mendokumentasikan bagaimana pentingnya melestarikan adat, melestarikan kebudayaan. Membaca buku ini saya seakan diajak bertualang dari satu dusun ke dusun lainnya. Diajak untuk melihat bagaimana suasana ritual Tumpeng Songo di Andong atau Amin Pikin di Cungking.

Sudah. Saya tidak akan berpanjang lebar bercerita isi buku ini. Sila dibaca dan rasakan sendiri ilmu pengetahuan baru yang masuk ke memory kita.

Nah, gaes, hari ini saya berkesempatan untuk datang ke rumah Bu Wiwin, penulis buku Olah Rasa Ujung Timur Jawa. Dari obrolan yang off the record saya mendapatkan lebih banyak lagi informasi mengenai ritual-ritual yang sudah mulai jarang dilakukan, tentu karena beberapa keadaan. Cara Bu Wiwin bercerita membuat saya ingin melihat langsung bagaimana ritual-ritual tersebut berjalan. Yang paling konyol, saya jadi ingin berdoa pada Tuhan agar ritual/adat tersebut tetap lestari bagaimanapun caranya saya nggak mau tahu. Gila, kan? Ngelakuin ritualnya enggak, malah ngelunjak.

Saya datang bukan tanpa maksud dan tujuan. Kami mengambil video pendek yang mengulas sedikit tentang buku bagus tersebut. Sebagai pemuja talkshow radio, saya selalu grogi setiap Cholid yang sudah stand by memegang kamera teriak “satu...dua...tiga...”, itu berarti saya juga harus menyiapkan dialog untuk mulai ngoceh di depan kamera.

Saya sebal betul sebenarnya dengan kegiatan seperti ini, karena pasti banyak cut-nya. Berbeda dengan radio, gaes. Saya merasa selalu siap (meskipun nggak mood) untuk memulai sebuah diskusi. Dan juga kalau talkshow di radio, ruangan host sama ruangan narasumbernya ini terpisah, jadi saya merasa nyaman nggak satu ruangan sama narasumbernya, nggak grogi-grogi banget, lah.

Beda dengan ngobrol bareng narasumber yang berhadap-hadapan, banyakan groginya. Intinya, ngonten buat youtube sama ngonten buat radio itu sensasinya beda. Dan favorit saya tetap talkshow di radio. Satu lagi bukti bahwa talkshow di radio itu lebih baik adalah kita jadi nggak perlu capek-capek macak dulu atau nambah beban pekerjaan kameramen dengan bilang “mbuh pie carane pokok e aku kudu ketok kurus.” Ha gimana, wong nggak ada kamera, hahaha.