Senin, 28 Februari 2022

BABEBO AKA THRIFT SHOP

Februari 28, 2022 0 Comments

Sudah berminggu-minggu, tiap aku mengantar mbah pulang ke Jurangjero, perhatianku selalu tersita ke arah babebo yang ada di depan RS Fatimah. Tulisan obral 30.000 itu yang mencuri perhatianku. Aku baru menyadari jika di tempat itu ada babebo, istilah kerennya thrift shop.

Akhirnya, tadi pagi aku sempatkan untuk mampir, mumpung siaranku agak siang. Benar adanya bahwa thrift shopping itu untung-untungan. Lucky me, aku mendapat dua outer yang masih sangat bagus sekali. Yang satu di bagian dua puluh ribuan, yang satu di bagian tiga puluh ribuan. Dua outer itu aku tebus dengan harga gocap saja. Yang dua puluh ribu itu bahkan tempatnya di pojokan. Tempat yang jarang terjamah karena memang penataan bajunya agak sempit.

Rasanya seperti menang lotre (wait, aku enggak pernah menang lotre, enggak tahu rasanya gimana). Rasanya seperti beasiswa yang kamu apply ke universitas impianmu keterima (hmmm, enggak pernah ngerasain juga). Dahlah, pokoknya rasanya senaaang. Pusing bener mikir rasanya-rasanya.

Dari rumah aku cek lagi dan memang benar lucky me, outer yang satu masih bagus banget. Kancing cadangannya masih lengkap, ada dua. Warnanya juga masih cakep. Dan ukurannya juga pas banget di badanku yang kurus ini. Minus ada noda sedikit di bagian punggung, but cincai lah itu. Over all, kayaknya dulu emang jarang dipakai, jadi masih bagus.

Sejak dulu, entah kenapa, aku jarang sekali belanja baju baru. Baju-bajuku selama ini lebih banyak pemberian. Entah pemberian tante, pemberian sepupu, pemberian Ardi, yang paling epik adalah pemberian ibu (lebih tepatnya sih ngerampok punya ibu, wkwk). Belanja baju baru paling-paling setahun dua kali, atau entah berapa kali aku lupa.

Aku selalu merasa baju di rumah terlalu banyak sehingga seringkali aku duduk di depan lemari dan melihat baju mana saja yang bisa aku berikan kepada orang lain. Pernah satu waktu, aku berhasil mengumpulkan satu tas besar baju-bajuku yang masih layak untuk kuberikan ke tetangga. Tapi, setelahnya, selang beberapa minggu kemudian aku dapat kiriman pakaian satu tas besar dari tanteku. Rasanya kayak, buset dah, keluar satu kompi datang satu kompi yang lain.

Minggu, 27 Februari 2022

I'VE GOT MY BOOSTER

Februari 27, 2022 0 Comments

Setelah akhirnya mendapat dua dosis vaksin pada tahun lalu, tahun ini aku dan teman-teman mendapat vaksin booster. Pernah curi dengar dari Pak Wabup Sugirah soal vaksin booster yang katanya bikin meriang. Dan itu benar adanya, entah berlaku juga untuk yang lain atau enggak. Karena setiap orang reaksi terhadap vaksinnya berbeda-beda.

Aku vaksin hari Kamis (24/02) di Puskesmas Singotrunan. Kenapa di Puskesmas Singotrunan? Ya karena waktu itu Mbak Febri yang mengakomodir kami untuk booster. Dan sepertinya dia dapat informasi booster dari temannya yang bekerja di Puskesmas Singotrunan. Ancen Mbak Febri iki koncone sak kabupaten, dimana saja ada.

Kamis pagi kami menuju puskesmas, setelah mendapat nomor antrian, setelah pengecekan berat badan, tinggi badan dan pengecekan darah, akhirnya kami mendapat booster. Kami di sini adalah aku, Mbak Febri, Reno dan Nandot. Kamis itu jadwalku siaran pagi, jadi aku sarapan di radio.

Pulang dari booster masih baik-baik saja. Linu-linu sedikit adalah hal biasa ketika selesai vaksin. Dari rumah aku putuskan untuk makan (lagi) dan minum banyak air putih, kemudian istirahat. Sampai siang hari ketika akan berangkat siaran lagi badan masih oke. Hangat sedikit dan tentu saja masih nyeri di bagian lengan.

Baru ketika malamnya badan lumayan semakin hangat. Aku masih mengira bahwa nanti juga bakal enakan dengan sendirinya. Si paling optimis emang. Malam itu jam sembilan aku sudah ngantuk, dan akhirnya terlelap.

Sampai akhirnya kebangun jam 00.07 (kalau enggak salah ingat) dengan keadaan panas tinggi. Pusing di kepala dan nyeri di lengan ini sungguh menyiksa. Dua vaksin sebelumnya efeknya enggak separah ini. Vaksin pertama justru baik-baik saja, napsu makan bertambah malah. Vaksin kedua lumayan meriang tapi enggak parah banget kayak booster.

Turun dari kasur benar-benar seperti adegan sakit kayak di tipi-tipi. Tangan meraba apapun yang bisa dipegang biar enggak jatuh. Jalan pelan-pelan menuju kamar mandi untuk buang air kecil. Kemudian ambil segelas air putih karena tenggorokan benar-benar kering. Kemudian dengan keadaan tangan gemetar ambil kotak obat dan ambil parasetamol. Setelah menenggak parasetamol aku kembali ke kamar.

Tentu saja tidak bisa langsung terlelap karena nyeri sekujur tubuh, plus masih panas. Aku sudah was-was jangan-jangan enggak bisa siaran besoknya. Karena Jumat (25/02) adalah jadwalku siaran pagi. Entah pukul berapa akhirnya aku tertidur. Dan, tralalaaaa..... bangun dalam keadaan baik-baik saja. Sudah enggak panas, enggak pusing, tapi nyeri masih ada dikit-dikit.

Aku lega karena tidak perlu merepotkan rekan penyiar lain untuk menggantikan jadwalku siaran. Akhirnya Jumat pagi itu aku bisa siaran pagi seperti biasa. Senangnya.