Selasa, 17 April 2018

Mimpi Masa Depan

April 17, 2018 0 Comments
Sebuah tulisan yang akan menjelaskan bagaimana mimpi-mimpiku kelak saat membina sebuah hubungan bernama rumah tangga.

Oke. Pertama akan aku jelaskan mengapa aku menuliskan hal ini. Agar kelak, jika seseorang –entah siapa– mengutarakan niat baiknya untuk beribadah bersamaku, aku bisa berikan tautan link tulisan ini. Secara, aku bukan tipe orang yang akan duduk berlama-lama berdua dan menjelaskan visi misiku dalam berumah tangga. Am so bisi yunow ~

(Visi misi? Mo nyaleg kali aaah...)

Kedua, tulisan ini adalah hasil curhat-curhatan kesekian yang aku lakukan bersama seorang guru. Jadi mumpung masih lekat di ingatan, harus di abadikan.

Ketiga, tulisan ini adalah selingan dari project #OldbutGold yang sedang kubuat. Karena deadline project itu suka suka aku, jadi ya santai aja dulu.

Keempat. Ah, sudahlah, tiga aja, gak perlu banyak-banyak.

Gaes, pembaca ismafawwaz yang baik hatinya dimana pun kalian berada. Apa kabar? Semoga kebaikan selalu menyertai kalian semuanya. Aamiin.

Aku akan memulai tulisan ini dengan sebuah kisah tentang cita-cita mulia gadis bernama Meydiana Isfandari. Ya, gaes, tidak lain dan tidak bukan adalah aku sendiri. Beberapa tahun silam gadis bernama Meydiana atau yang biasa dipanggil Mey oleh kawan-kawannya itu memiliki cita-cita untuk menikah di usia sebelum 25 tahun.

Tahu kenapa? Karena saat itu gadis bernama Mey masih belum terpapar radiasi kerasnya kehidupan. Dia masih polos saat itu. Masih usia SMK. Masih lugu-lugunya. Masih pemalu. Malu jalan sendirian lewat gerombolan laki-laki di kantin. Malu naik angkot kalo isi angkotnya laki semua. Malu lewat depan mesjid sekolah yang selalu ramai oleh para ikhwan solehah, eh, soleh. Pokoknya malu dalam segala hal yang berbau public area.

Gadis bernama Mey itu bercita-cita menikah di usia sebelum 25 tahun. Tahu kenapa? Karena dia gadis yang memegang teguh nasihat BKKBN, bahwa usia ideal bagi seorang perempuan untuk menikah adalah 21-25 tahun. Kondisi psikisnya sudah matang, secara fisik –kondisi rahim, I mean– juga sangat baik untuk mengandung. Pokoknya kita bisa mewujudkan keluarga yang sehat dan bahagia jika kita mengikuti himbauan BKKBN, pikir gadis bernama Mey itu.

Gadis bernama Mey itu bercita-cita menikah di usia sebelum 25 tahun. Tahu kenapa? Dia berpikir, pasti seru jika kelak ia memiliki anak yang ketika telah dewasa, masih seumuran dengan dirinya. Dia melihat ke dirinya sendiri. Dia, gadis bernama Mey itu memiliki seorang Ibu yang masih tampak muda, karena memang Ibunya menikah di usia muda. Usia muda, gaes, bukan usia anak, tolong ini dicatat.

Dia dan Ibunya selalu terlihat seperti kakak beradik jika berjalan bersama. Karena orang-orang menilainya demikian. Jadi, gadis bernama Mey itu selalu membayangkan serunya jika ia berjalan bersama anaknya kelak, dan orang-orang mengira mereka adalah kakak-beradik. Gadis bernama Mey itu juga berpikir, ia tidak akan tertinggal jauh oleh pergaulan anak-anaknya kelak. Ia masih bisa mengikuti perkembangan zaman anaknya.

Tapi itu dulu, dulu sekali. Ketika ia belum bertemu banyak orang. Ketika ia belum tertimpa nestapa kehidupan. Ketika ia belum banyak menerima pelajaran hidup dari sekitar. Ya, dulu sekali.

Setelah menerima banyak sekali kejadian-kejadian, cita-cita nan mulia itu mulai berserakan. Bukan ia tidak ingin menikah, bukan. Hanya saja angka 25 sudah tidak lagi ia pusingkan. Ia tak pernah sekali pun berpikir untuk menikah dalam waktu dekat ini. Kalian pasti tahu, gaes, ada orang-orang yang sedang ia prioritaskan.

Dari peristiwa-peristiwa yang telah ia hadapi, ia paham, masih banyak mimpi yang ingin ia lunasi sendirian. Mungkin jika ia bisa memilih, ia ingin tinggal saja di luar kota, luar pulau, luar negeri asal tidak luar planet, dimana tidak ada satu pun orang yang mengenali dirinya dan keluarganya, dan hidup baik-baik saja berlima. Ia dan adik laki-lakinya yang telah tamat sekolah akan bekerja. Membuatkan rumah untuk orang tua mereka di pinggiran kota. Rumah dengan pekarangan yang luas, dimana Bapak dan Ibu mereka bisa menghabiskan masa tua mereka dengan tenang bersama. Pekarangan yang luas agar Bapak bisa memelihara ayam, kelinci, ikan dan Ibu bisa menanam beragam tanaman obat keluarga, beragam jenis sayur dan beberapa jenis rempah. Pekarangan yang luas agar Ai bisa bermain sepeda sepuasnya.

Gadis bernama Mey itu masih ingin melihat adik pertamanya melanjutkan pendidikan strata satu. Ia pun sama, ingin melanjutkan pendidikan magister, jika ada kesempatan. Mimpi-mimpi sederhana seperti itu yang membuat ia berpikir untuk tidak tergesa membina rumah tangga. Ia akan kesal jika hari ini datang seorang laki-laki yang berniat baik mengajaknya menikah. Ia akan kesal karena lagi-lagi ia harus menolak niat baik dari seseorang. Meskipun niat itu datang dari laki-laki yang mungkin ia sukai, gadis bernama Mey itu pasti menolak.

Ia paham bahwa hatinya hampir saja mati rasa, atau mungkin sudah. Patah hati itu kejam, gaes. Ia mampu mematikan hati seseorang. Meski ia tahu, seperti kata Banda Neira, bahwa yang patah akan tumbuh, yang hilang akan berganti, yang hancur lebur akan terobati, yang pernah jatuh akan berdiri lagi. Dan fase tumbuh, berganti, terobati, serta berdiri lagi, tengah ia hadapi saat ini. Ia menikmati masa-masa itu. Masa dimana ia tumbuh, terobati, hingga kemudian berdiri lagi dan menatap dunia dengan kepala tegak.

Gadis bernama Mey itu, saat ini tengah fokus dengan hobi dan kesukaannya. Ia tengah beristirahat setelah hiruk pikuk pendidikannya tempo hari. Namun begitu, ia tak bisa istirahat terlalu lama. Ia harus segera bekerja agar mimpi-mimpi sederhana tadi dapat terwujud.

Gadis bernama Mey itu, ah, janganlah sekali-kali kau singgung ia dengan pertanyaan-pertanyaan tentang menikah. Kalian tahu? Ia pandai sekali menyembunyikan perasaannya. Jika saat ini kalian melihatnya dengan pribadi yang ceria, humoris, bahagia, itu tidak selalu menampakkan ia yang sebenarnya. Ia telah menyimpan banyak hal sendirian selama hidupnya. Ada hal-hal yang tak ingin ia tunjukkan, bahkan kepada orang terdekatnya sekalipun. Jika selama ini kau mengenal ia sebagai gadis yang mudah baper, itu semata hanya kamuflase. Hatinya tidak selemah itu.

Gadis bernama Mey itu memiliki keluarga yang pasti kalian akan iri jika melihat kebersamaan mereka. Meski ia telah berusia 22 tahun, namun kedua orang tuanya tetap melihat ia sebagai gadis kecil yang harus dijaga 24 jam. Ia memiliki Bapak yang galak, tapi lucu. Bapak adalah orang yang akan selalu ia andalkan dalam situasi apapun. Bapak adalah penjaganya selama ia hidup hingga hari ini. Kalian tahu apa yang unik dari Bapaknya? Bapaknya tidak pernah sekalipun memaksa dirinya untuk berada di dapur. Membantu Ibunya memasak, atau belajar memasak agar kelak ia menjadi istri yang bisa diandalkan. Selama ini, jika mereka dalam kondisi –enaknya makan apa, nih?– Bapak selalu menjadi garda terdepan untuk membuatkan mereka sekeluarga nasi goreng. Dan ia berani bertaruh bahwa nasi goreng buatan Bapaknya jauh lebih enak dibanding buatan Ibunya, apalagi buatannya.

Bapak juga tidak pernah sekali pun membahas masalah cucu. Padahal usianya genap enam puluh tahun September ini. Ia sadar bahwa kehadiran Ai dirumah mereka adalah salah satu sebab mengapa Bapak tak pernah membahas cucu. Ai hadir menjadi pelipur duka bagi keluarga mereka. Mereka semua berbahagia atas kehadiran anak laki-laki bernama Fahriza Zulfikar itu.
 
Bapak tetaplah Bapak. Yang ingin menikahkan anak gadisnya dengan raganya sendiri, tidak diwakilkan oleh siapapun. Gadis bernama Mey itu sadar, sesadar-sadarnya bahwa Bapak tak lagi muda. Raganya semakin menua. Segala semoga selalu ia rapal ke hadapan Yang Maha. Agar kelak Bapak dapat melepas dirinya dari tanggung jawabnya dan membina rumah tangga.

Begitulah sosok Bapak yang teramat ia sayangi.

Kalian juga harus tahu bahwa gadis bernama Mey itu memiliki Ibu yang luar biasa menyenangkan. Ibunya tak pernah rewel dengan problematika hidup. Itulah yang selalu ia kagumi dari sosok Ibunya. Ibu adalah panutan. Ibu adalah poros kehidupannya. Sedari kecil, Ibu telah mengajarkan hal-hal baik. Ada sebuah pelajaran berharga yang ia terima saat masih kecil, saat belum duduk di bangku sekolah, yakni toleransi. Yang menjadikannya tumbuh sebagai gadis yang mampu menerima hal-hal berbeda dari kebiasaan. Ibunya dibesarkan oleh keluarga nasrani yang taat. Namun ibunya juga tumbuh menjadi muslimah yang taat. Tak berpindah keyakinan Ibunya meski ia hidup dalam lingkungan dengan keyakinan yang berbeda. Gadis bernama Mey itu selalu bangga memiliki Ibu yang dibesarkan oleh kakek neneknya yang nasrani. Sebuah kebanggaan yang terus mengalir hinga hari ini.

Keinginan untuk ‘masih ingin tetap bersama keluarga’ merupakan sikap yang ia tiru dari sosok Ibunya. Semasa muda Ibunya menghabiskan waktu untuk bekerja, membaktikan diri untuk Ibu dan saudara-saudaranya. Hingga kemudian pada usia 21 beliau menikah. Keputusan untuk menikah itu bukan keputusan yang tergesa-gesa. Pada waktu itu usia 21 merupakan usia yang matang untuk menikah. Banyak kawan-kawan Ibu yang menikah di bawah usia 20 tahun.

Begitulah segelintir kisah dari gadis yang bernama Mey itu. Setidaknya kau harus tahu jika ingin mengenal bagaimana wataknya.

Kembali ke aku. Sekarang aku akan mencoba menuliskan mimpi-mimpi hidupku saat membina rumah tangga bersama teman yang akan menemaniku seumur hidup.

Sek, sek, kenapa sekarang malah bingung mau nulis apa. :’(

Yang jelas, wahai calon teman hidupku, aku adalah perempuan yang menyukai kebebasan. Sudah selama ini aku hidup dengan aturan-aturan yang diberlakukan oleh Bapakku. Mungkin nanti aku tak bisa menjadi istri yang baik karena bakalan sering nggak manut. Aku bukan tipe perempuan penurut seperti mereka, wahai calon teman hidupku. Aku harap kamu mengerti, karena itulah aku.

Dan kelak, seperti prinsip yang dianut oleh Bapakku. Jangan sampai setelah menikah kita tinggal di rumah orang tua. Aku tak mau. Tersebab itu lah kau harus giat bekerja agar kita bisa memiliki rumah kita sendiri. Tenang saja, aku memiliki banyak kawan yang bekerja sebagai developer perumahan, cincai lah itu. Tapi, jika bisa, aku tak terlalu suka tinggal di perumahan. Ini juga turunan dari Bapak. Bapakku tak suka tinggal di kompleks perumahan. Urusan tempat tinggal bisa lah kita atur nanti di belakang. Asal tidak tinggal dengan orang tua, itu saja. Tapi ya nggak kemudian kita tidur di kolong jembatan, ya, wahai calon teman hidupku.

Tidak ada istilah perempuan matre. Yang ada hanya laki-lakinya yang kere. Aku tidak menuntut kelak kita harus hidup bergelimang harta seperti Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie. Karena aku sadar, hidup tidak selalu menyenangkan. Namun, kau tahu, kan, finansial yang baik juga akan berpengaruh terhadap keutuhan rumah tangga? Cinta saja tidak bisa membuat kita bertahan hidup, wahai calon teman hidupku. Jika memang begitu, mungkin dah lama aku mendarat di Istanbul, poto-poto kemudian upload ke Instagram, hanya dengan modal cinta. Beli tiket pesawat pakai cinta, urus paspor dan visa pake cinta, beli cemilan di Istanbul pake cinta. Cinta, kamu mata uang baru, ya?

Aku seorang perempuan yang realistis. Di masa depan akan ada banyak hal yang kita butuhkan. Manusia itu tercipta dengan sifat hedon. Takarannya aja yang beda-beda. Ada yang hedon banget, ada yang hedon aja (gak pake banget), ada yang kadang-kadang hedon, dan kadang-kadang hedon banget. Ya wis ngono kuwi, lah, wahai calon teman hidupku. Dan, insyaallah, semoga, aku adalah tipe istri yang hedon aja (gak pake banget). Itupun dalam satu kebutuhan tertentu. Buku, gincu dan gamis lucu-lucu, misalnya. Tiga hal itu sering membuatku lupa bahwa uang di dompet tinggal selembar-lembarnya. Aku realistis, tapi ya logis. Nggak mungkin aku beli gamis lucu-lucu tapi harganya bisa buat beli buku “Atlas Walisongo”nya Agus Sunyoto lima buah. Ya kecuali kalo kamu yang bayarin dengan sadar diri dan sukarela, wahai calon teman hidupku. Aku juga nggak mungkin, lah, beli gincu yang harganya nggak masuk akal, padahal fungsinya juga sama aja, biar bibir berwarna dan kita terlihat lebih segar dan cantik sehingga mendulang pahala karena menyenangkan hati suami. Yaaa, sekali lagi, kecuali jika memang kamu yang berniat memanjakan istrimu ini. Masa ditolak? Nanti aku di cap istri durhaka.

Aku juga bukan tipe istri yang duduk diam di rumah menunggu suami pulang kerja, wahai calon teman hidupku. Karena aku tak bisa berpangku tangan menunggu nafkah darimu. Aku bukan tipe perempuan seperti itu :’(

Aku ingin bisa beli ini itu dengan jerih payahku sendiri. Karena tahu sendiri perempuan suka tidak jelas. Pergi ke pasar niatnya hanya beli A, yang dibawa pulang A tapi beserta B, C, D sampai Z. Kan gak jelas itu namanya. Lho, kamu tadi bilangnya adalah tipe istri yang hedon aja, Mey? Ya tapi jika aku berdiam diri di rumah, gak ngapa-ngapain pasti berubah jadi hedon banget, lah. Onlenan terus di rumah sambil ngelihatin barang lucu-lucu di online shop. Aku mbatin doang? Ya ndoweh, wahai calon teman hidupku.

Maka, alangkah senangnya hatiku jika kelak masih bisa bekerja walau sudah menikah. Bukan begitu? Namun, jika memang kau tak menghendaki aku bekerja, ya tak masalah. Asal kau memiliki penghasilan yang tetap. Setiap bulan menerima gaji. Itu berarti calon teman hidupku nanti haruslah memiliki pekerjaan yang jelas. Yang apabila kelak anak kita ditanyai oleh Bu Gurunya, “Apa pekerjaan ayahmu, Nak?” dia bisa menjawab dengan lancar. Guru, Bu. Dokter, Bu. Pilot, Bu. Polisi, Bu (eh, jangan, aku tak mau dapat suami polisi). Jika ternyata kau itu adalah seorang pengusaha, maka biarkan aku bekerja. Kenapa? Jika aku jelaskan alasannya dalam tulisan ini, bisa sampai tujuh lembar kertas A4. Please, ini bukan latar belakang skripsi.

Kelak saat kita memiliki rumah sendiri, aku ingin memiliki sudut favoritku. Tempat dimana aku akan menghabiskan waktu untuk membaca, untuk mengisi blog, untuk foto-foto, untuk nonton cover-cover sholawatan di yutub, dan untuk nonton Drama Korea. Membayangkan diriku duduk-duduk santai dengan perut yang membuncit, ah, sungguh menggelikan. Halaman depan rumah juga akan aku tanami beragam tanaman hias serta beberapa pohon. Setiap sore, aku akan berdiri sambil bersiul-siul ringan saat menyirami mereka. Eh, gak jadi, aku gak bisa bersiul-siul. Barusan aku coba, ternyata fals.

Kemudian halaman belakang rumah akan aku sulap menjadi tempat nongkrong kita yang romantis. Satu set meja dan kursi kecil. Sebuah kursi ayun warna putih yang muat untuk dua orang akan aku letakkan di halaman belakang rumah. Bisa kita gunakan untuk bersantai di Minggu pagi atau sore setelah kau sibuk bekerja selama enam hari dalam seminggu. Kita akan bercengkerama sambil ngeteh tipis-tipis lalu mencelupkan biskuit roma kelapa yang gurih itu ke dalam teh. Tapi jangan lama-lama, nanti biskuitnya mblenyek kemudian mblaur ke tehnya. Jadinya kita gak minum teh, tapi minum bubur, wahai calon teman hidupku.

Oh, ya, kamu bisa mengerjakan urusan-urusan rumah tangga, kan? Seperti mencuci, memasak, menyetrika, mengganti genting yang bocor, memasang engsel pintu, memperbaiki kabel yang putus, memperbaiki kran air yang bocor, menguras kulkas, menguras bak kamar mandi, menguras sumur, memasang kabel tabung gas, tawar-menawar harga di pasar, dan lain-lain. Jika tidak bisa, ya tidak masalah, karena aku juga tidak ahli dalam semua hal yang ku sebutkan tadi. Yang penting kau tak lupa sholat lima waktu, walaupun di akhir waktu.

Aku tidak terlalu jago dalam urusan-urusan rumah tangga. Kau harus tahu ini, agar setelah menikah kau tak kaget dengan kemampuanku yang terbilang apa adanya ini. Karena faktanya, sampai dewasa ini pun aku tak pernah berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar sendirian. Andalanku adalah Ibu. Aku tak pandai menawar harga. Sampai dewasa ini pun aku tak pernah dipermasalahkan oleh Bapak karena tak jago masak. Sambal yang kubuat sering sekali keasinan, enaknya hanya kadang-kadang, kalo pas bejo. Mencuci, menyetrika, aku juga sering malas mengerjakan hal-hal ini, oleh sebab itu pakaian kotorku bisa satu bak menggunung, itu baju kotor seminggu lebih. Jika stok pakaian bersih dan bagus di lemari telah mendekati sakaratul, barulah aku mencuci pakaian-pakaian kotor tadi. Yaaa, beginilah aku, wahai calon teman hidupku.

Kelak, saat kita telah hidup bersama, aku berkeinginan untuk memiliki ‘me time’ kita sendiri. Kita keluar rumah, jalan-jalan, jajan ini jajan itu, duduk bersama, bercerita sambil ngemil, lalu pulang ke rumah dengan berbahagia. Atau bisa juga ‘me time’ dengan tidur saja seharian di rumah. Atau kita karaokean di rumah berdua juga bisa, menyanyikan lagu-lagu Dewa, Armada, Banda Neira, Kahitna, Nike Ardilla, Raisa, Isyana atau Nella Kharisma.

Aku juga memimpikan kita bisa rekreasi bersama keluarga besar kita. Kita ajak orang tua kita masing-masing untuk pergi piknik. Atau bisa juga pekan ini kita pergi bersama kedua orang tuaku, dan pekan depan kita pergi dengan orang tuamu. Aduuuh mama sayangeee, indah betul.

Satu lagi mimpiku yang harus kau tahu, wahai calon teman hidupku. Kelak jika kita memiliki anak, aku berkeinginan untuk memasukkan dia ke pondok pesantren. Untuk mimpiku yang satu ini, semoga kau juga sepaham denganku. Dan juga, tolong, kita punya dua anak saja, ya? Dengarkanlah himbauan BKKBN itu. Lihatlah data-data kependudukan Indonesia. Kau akan tercengang dengan fakta-fakta yang ada. Oleh sebab itu, dua anak adalah pilihan yang tepat. Ya oke, lah, jika ingin tambah. Tapi satu saja! Tiga adalah angka maksimal. Karena aku juga tiga bersaudara.

Wahai calon teman hidupku. Kau tahu, kan, aku menyukai sekali Istanbul? Negara dua benua yang sangat ingin aku pijak tanahnya, aku hirup udaranya, aku telusuri bangunan-bangunan bersejarahnya. Jika sampai pada hari pernikahan kita aku tak berkesempatan kesana sendiri, maka setelah menikah keinginanku itu juga menjadi bagian yang selayaknya kau tunaikan. Menyenangkan hati istri sungguh besar pahalanya, wahai calon teman hidupku, asal kau tahu.

Oh, ya, satu lagi. Aku menginginkan mahar pernikahanku kelak adalah novel-novel karya Andrea Hirata. Kau sudah tahu hal ini? Dulu aku pernah menuliskannya di blog. Novel-novel karya Andrea Hirata yang belum aku miliki tentunya. Jika tidak mampu, maka bawa saja aku ke Edensor. Ehehehe.

Mey, bukankah sebaik-baik perempuan adalah yang maharnya tidak memberatkan? Tiket Edensor kuwi larang, tjoy.
Halaaaaah, kere! :(

Demikianlah, mimpi-mimpiku di masa depan yang harus kau tahu.

Mey, apakah calon teman hidupmu itu harus orang NU?

Sak karepe Gusti Allah, lah. Sing penting ki kowe tahlilan, yasinan, muludan, sholawatan, ziarah kubur. Wis, ngono wae. Luwih apik neh lek NU. Heuheuheu ...

Instagram: @turkey_home